Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Meletakkan Cinta" Karya : Asma' Hanifah


MELETAKKAN CINTA
Karya : Asma’ Hanifah
Sembari menikmati hiruk pikuk kota Semarang, kalimat syukur tak sengaja terus terucap lirih dari bibirku. Perjalanan mengendarai sepeda motor dari Kudus menuju Semarang membuatku sedikit lelah. Akhirnya kusempatkan untuk merapatkan diri ke masjid, mendirikan dua rakaat sunnah dan merehatkan diri sejenak. Ah, Semarang panas sekali.. Namun perjalanan baru saja dimulai. Perjuangan mewujudkan mimpi untuk menjadi seorang guru. Kembali kulanjutkan perjalanan menuju kos yang akan kuhuni. Sebuah kos-kosan islami yang aku berpikir aku akan merasa nyaman ketika menjadi bagian dari kos itu.
            Sesampainya di depan sebuah kos berbentuk rumah, halaman yang cukup luas dan nyaman membuatku merasa akan tenang ketika menghuni kos ini. Kuparkirkan kuda besiku di depan teras kos. Kuketuk pintu tersebut perlahan sambil tak lupa mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum.
            “Wa’alaikumussalam warohmatullah.” seorang wanita anggun membukakan pintu untukku.
            “Ini benar kos Az-Zahra ya, Mbak?” tanyaku perlahan.
            “Iya, ada perlu apa ya, Dik?” Tanya mbak tersebut dengan nada yang begitu lembut.
            “Saya Annisa Farah, Mbak. Yang akan ngekos di sini, dari Kudus.” Jawabku sedikit menjelaskan.
            “Oh, masya Allah. Dik Farah ya, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, kan?” wanita anggun itu menyambut tanganku dengan jabatan yang lembut. “Pasti lelah ya Dik dari rumah. Ke sini naik motor sendiri? Subhanallah.
            “Iya, Mbak.” aku bingung mau mengatakan apa. Sepertinya aku tengah terhipnotis oleh perawakan wanita yang anggun itu. Tutur katanya begitu santun dan ia Nampak begitu shalihah.
            “Yuk, masuk.. Dik Farah nanti satu kamar sama Mbak ya.” sambil membantu membawakan tasku, mbak nan anggun itu mengantarkanku menuju kamar yang akan aku tempati.
            “Ehm. iya, Mbak..” aku nampak sangat kebingungan. Tapi aku sangat senang karena aku berada satu kamar dengan mbak yang anggun ini. “O iya, mbak namanya siapa?”
            “Oh iya, mbak sampai lupa memperkenalkan diri. Nama mbak Raisya Amalia, panggil saja mbak Lia. Jurusan Bahasa Inggris, semester tujuh. Sebentar ya, Dik.” Mbak Lia meninggalkanku sejenak. Tiba-tiba ia kembali dengan membawa segelas air putih dan menyodorkannya padaku. “Ini, Dik. Pasti kamu kehausan, kan? Diminum dulu.
            “Ya Allah, Mbak. Jadi nggak enak bikin repot, Mbak.” Aku kembali tertegun dengan perangainya. Mbak Lia sosok yang luar biasa. Wajah yang teduh itu selalu dihiasi dengan senyuman yang manis, matanya berbinar-binar.
            “Biasa aja, Dik. Santai saja sama mbak. Istirahat dulu aja, Dik. Mbak mau keluar sebentar ya.” mbak Lia melemparkan senyuman manis padaku dan ia bergegas meninggalkanku.
            “Iya, Mbak.” aku terdiam sejenak, ada perasaan senang yang hinggap di lubuk hatiku. Kenyamanan mulai aku rasakan di tempat baruku ini, semoga ini bukan perasaan sesaat. Namun perasaan yang memang akan selamanya bersemi di dalam hatiku. Kubaringkan badanku di tempat tidur, melepaskan rasa lelah yang menghinggapi tubuhku.

???

            “Dik Farah, bangun yuk. Sudah subuh, kita salat subuh berjamaah.” Mbak Lia membangunkanku dengan lembut. Kulirik jam kecil di meja sudut kamar, menunjukkan pukul 04.12.
            “Iya, Mbak.” aku segera bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
            Selesai berwudhu ternyata seluruh penghuni kos telah siap untuk mendirikan salat jamaah subuh di ruang keluarga. Kami pun salat berjamaah, kali ini imamnya adalah mbak Lia. Mbak Lia meminta kami untuk merapatkan shaff salat sebelum salat subuh dimulai. Kekhusyukan perlahan kunikmati. Suasana subuh yang nyaman membuatku merasa bersyukur akan limpahan karunia yang Allah berikan padaku.
            Seusai salat kami dikondisikan oleh mbak Lia untuk berdzikir bersama sambil melingkar, megucap syukur atas nikmat yang telah Allah berikan pada kami. Karena kos yang aku tempati ini merupakan kos yang islami, maka seluruh kegiatan diarahkan untuk senantiasa mengingat pada Allah. Lantunan dzikir terdengar merdu dan menyejukkan. Aku merasakan getaran-getaran cinta yang merasuk ke kalbu, kebersamaan yang menghiasi majlis ini membuatku tertegun. Kalau di rumah, jarang sekali aku bisa merasakan momen-momen yang begitu indah seperti ini. Dzikir pun berakhir, tapi kesejukkan itu belum berakhir.
            “Selamat datang kepada seluruh penghuni kos kami yang baru. Semoga kalian semua merasa nyaman dengan keluarga baru di tempat yang baru yang jauh dari orang tua. Karena kita satu keluarga, kalau ada yang ingin disampaikan, silakan disampaikan saja.” Senyuman manis kembali menghiasi wajah mbak Lia. Ia memang yang paling tua usianya diantara penghuni kos yang lain. Sehingga ia harus bertanggungjawab terhadap seisi kos.
            Kami semua terdiam, karena merasa belum saling mengenal kami hanya berpandang-pandangan. Tak ada satu kata pun yang terucap dari penghuni kos ini.
            “Baiklah, kalau tidak ada yang ingin disampaikan mbak ucapkan semangat menyongsong hari baru di lingkungan baru. Izinkan mbak mencintai kalian semua, karena Allah.” kalimat yang keluar dari hati akan sampai ke hati. Seperti kalimat yang disampaikan mbak Lia baru saja, benar-benar merasuk ke hati, begitu menyejukkan. Iya mbak, akan kuizinkan kau mencintaiku karena Allah. Begitu pula denganku, izinkan aku mencintaimu karena Allah.

???

Kususuri jalanan kecil dari kos menuju kampus yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat aku kuliah. Mendung yang menghiasi langit pagi ini tak menyurutkan langkahku dalam menuntut ilmu. Menjadi mahasiswa semester awal seperti layaknya mahasiswa baru lainnya, aku selalu bersemangat dalam menempuh perkuliahan. Euforia awal perkuliahan yang masih dihiasi kesemangatan masih aku rasakan. Meski awalnya ada rasa “ketidak terimaan” dengan jurusan yang sama sekali tidak aku inginkan sebelumnya, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tapi aku mulai bisa menikmatinya. Jatuh cinta dengan jurusan yang sama sekali tak pernah terlintas untuk menjadikannya sebagai cita-cita atau bahkan sebatas impian pun sama sekali tidak. Kesemangatan ini akan selalu bersemi dalam diriku, tekadku dalam hati.
Tiba-tiba sebuah SMS menghanpiri handphoneku.

Mas Yusuf
06.37
Assalamu’alaikum. Apa kabar, Dik? Dik Farah kuliah di Unnes ya sekarang?

SMS dari mas Yusuf, ketua rohisku semasa SMA. Rasanya aneh sekali tiba-tiba mas Yusuf mengirimkan sebuah SMS seperti itu. Ia jarang sekali berinteraksi denganku, tapi tiba-tiba ini menanyakan dimana aku kuliah sekarang. Setahuku mas Yusuf juga kuliah di Unnes, namun di fakultas yang berbeda denganku. Ia mahasiswa FMIPA.

Saya
06.39
Wa’alaikumussalam. Iya, Mas.

Mas Yusuf
06.40
Wah, ternyata kita dipertemukan di universitas yang sama ya. Ya sudah, semangat untuk kuliah hari pertama ya. Allah bersamamu.

Sebuah balasan SMS yang sangat asing, mas Yusuf tak pernah seperti ini padaku. Bahkan dulu ketika di SMA, ia seperti tak mengenalku. Mungkin karena saat itu ia duduk di kelas XII sedangkan aku masih duduk di kelas X.

Saya
06.41
Iya, Mas. Insya Allah.

Kubalas SMS itu dengan singkat. Kembali kulanjutkan perjalananku menuju kampus.
Menikmati udara kampus yang sangat sejuk membuatku semakin bersyukur. Kuliah hari pertama harus menyenangkan. Tidak boleh ada guratan kesedihan, apa pun yang terjadi.

???

Mas Yusuf
17.13
Bagaimana dengan kuliah hari pertama?”

SMS mas Yusuf kembali menghampiri HP-ku. Aku jadi semakin bertanya-tanya. Bukankah ia seorang laki-laki yang menjaga dirinya, bukankah ia jarang sekali menjalin komunikasi dengan lawan jenis kalau memang itu tidak mendesak. Bukankah ia seorang aktivis rohis yang begitu bersahaja. Banyak sekali prasangka-prasangka yang muncul tentangnya.

Saya
17.18
Alhamdulillah, menyenangkan.”

Aku tak ingin menanggapi SMS dari mas Yusuf secara berlebihan. Takut menimbulkan penyakit hati yang menggerogoti hatiku sendiri.

Mas Yusuf
17.19
Alhamdulillah kalau begitu, semangat kuliah ya! ^_^”

Sebuah ekspresi senyum ia cantumkan di akhir SMS-nya. Namun, tak kujawab SMS terakhirnya itu. Aku semakin bertanya, apakah mas Yusuf kini telah berubah?

???

Sesampainya di kos aku menghampiri mbak Lia yang sedang asyik di depan laptopnya. “Mbak, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Iya boleh, Dik. Ada apa?” mbak Lia langsung membalikkan badannya ke arahku. Ia tersenyum manis menatapku.
“Mbak kenal dengan mas Yusuf, FMIPA sekarang semester 5?”
“Oh iya mbak tahu. Yang dari Kudus itu juga, kan?”
“Beliau sekarang masih jadi aktivis kampus, Mbak?”
“Iya, Dik. Beliau sekarang ketua BEM FMIPA. Dik Farah kenal beliau juga?”
“Iya, Mbak. Mas Yusuf kakak kelas di SMA, dulu ia jadi ketua rohis di SMAku.” Aku terdiam sejenak. Sedikit terkejut karena mas Yusuf ternyata sekarang adalah ketua BEM FMIPA. Tak pernah menyangka sama sekali kalau mas Yusuf menjadi orang sehebat itu sekarang.
“Ada apa memangnya, Dik?” Tanya mbak Lia perlahan.
“Oh, nggak ada apa-apa mbak. Cuma mau Tanya aja, terima kasih ya, Mbak.”

???

Mas Yusuf
05.03
Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarmu imanmu hari ini? Semoga ia senantiasa menghiasi amalan-amalan kita. Semangat pagi!!”

SMS dari mas Yusuf mampir lagi ke handphoneku. Tak kujawab SMS itu, karena kupikir itu hanya SMS penyemangat biasa yang memang sering dikirim juga oleh teman-temanku yang lain.
Tak lama kemudian SMS mas Yusuf datang lagi,

Mas Yusuf
05.21
Cahaya rembulan menerangi jiwa yang temaram remang-remang. Biarlah ia menjadi saksi atas perjuangan kita menuju ridho Sang Rabb. Wahai Yang Maha Membolak-balikkan Hati, izinkan aku bersyukur atas anugerah yang telah Engkau berikan kepadaku. Dik Farah, apa kabar?

Aku sangat terkejut mendapat SMS baru saja. Jujur saja, aku merasa terganggu dengan SMS-SMS yang dikirimkan mas Yusuf di awal perkuliahan ini. Ia menjadi sangat puitis dan sering menanyakan kabarku. Beberapa kali tak kujawab SMS itu.
Hingga pada akhirnya sebuah SMS dari mas Yusuf yang membuatku sangat terkejut.

Mas Yusuf
07.37
Allah yang memberikan rasa ini dan Ia Maha Mengetahui. Bismillah... Izinkan aku untuk memilihmu menjadi bidadariku di dunia dan akhirat. Maaf apabila kurang berkenan. Bagaimana, Dik?”

Ya, menyatakan lamaran secara jelas pada isi SMSnya. Aku menangis sejadi-jadinya ketika mendapat SMS itu. Bukan menangis karena senang atau tidak suka. Tapi aku menangis karena aku merasa bersalah, aku merasa tidak bisa menjaga diriku dengan baik. Sebagai seorang wanita yang ingin menjaga dirinya, tentu aku sudah berusaha untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengan lawan jenis yang itu dapat mneimbulkan penyakit hati. Selain itu kelabilan emosiku masih sangat jauh dari kata kesipan untuk menikah. Meski tak ingin pacaran, aku juga tak ingin untuk menikah secepat ini.
“Mbak Lia.” aku menangis di pelukan mbak Lia.
“Ada apa, Dik? Kok menangis?” Tanya mbak Lia sambil memelukku hangat dan mengusap-usap punggungku lembut.
“Aku baru saja dilamar, Mbak. Tapi caranya melamar aku nggak suka. Ia melamarku melalui SMS dan aku yang membuat aku kecewa, aku merasa tidak bisa menjaga diriku dengan baik.”
“Sama siapa memang, Dik?”
“Mas Yusuf.” aku menyodorkan SMS dari mas Yusuf.
“Yusuf?!” mbak Lia sangat terkejut membaca SMS tersebut. “Tenang, Dik.” mbak Lia mencoba menenangkanku.
“Aku takut mbak, aku malu.
“Tenang, Dik. Mbak akan membantu dik Farah. Semua akan baik-baik saja. Jangan pernah menggantungkan perasaan kepada manusia melebihi menggantungkan perasaan kita kepada Allah.” Mbak Lia sedikit melegakan perasaanku.

No comments:

Post a Comment