MELETAKKAN CINTA
Karya : Asma’ Hanifah
Sembari
menikmati hiruk pikuk kota Semarang, kalimat syukur tak sengaja terus terucap
lirih dari bibirku. Perjalanan mengendarai sepeda motor dari Kudus menuju
Semarang membuatku sedikit lelah. Akhirnya kusempatkan untuk merapatkan diri ke
masjid, mendirikan dua rakaat sunnah dan merehatkan diri sejenak. Ah, Semarang
panas sekali.. Namun perjalanan baru saja dimulai. Perjuangan mewujudkan mimpi
untuk menjadi seorang guru. Kembali kulanjutkan perjalanan menuju kos yang akan
kuhuni. Sebuah kos-kosan islami yang aku berpikir aku akan merasa nyaman ketika
menjadi bagian dari kos itu.
Sesampainya di depan sebuah kos
berbentuk rumah, halaman yang cukup luas dan nyaman membuatku merasa akan
tenang ketika menghuni kos ini. Kuparkirkan kuda besiku di depan teras kos.
Kuketuk pintu tersebut perlahan sambil tak lupa mengucapkan salam,
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warohmatullah.” seorang wanita anggun membukakan
pintu untukku.
“Ini benar kos Az-Zahra ya, Mbak?”
tanyaku perlahan.
“Iya, ada perlu apa ya, Dik?” Tanya
mbak tersebut dengan nada yang begitu lembut.
“Saya Annisa Farah, Mbak. Yang akan
ngekos di sini, dari Kudus.” Jawabku sedikit menjelaskan.
“Oh, masya Allah. Dik Farah ya, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
kan?” wanita anggun itu menyambut tanganku dengan jabatan yang lembut. “Pasti
lelah ya Dik dari rumah. Ke sini naik motor sendiri? Subhanallah.”
“Iya, Mbak.” aku bingung mau
mengatakan apa. Sepertinya aku tengah terhipnotis oleh perawakan wanita yang
anggun itu. Tutur katanya begitu santun dan ia Nampak begitu shalihah.
“Yuk, masuk.. Dik Farah nanti satu
kamar sama Mbak ya.” sambil membantu membawakan tasku, mbak nan anggun itu
mengantarkanku menuju kamar yang akan aku tempati.
“Ehm. iya, Mbak..” aku nampak sangat
kebingungan. Tapi aku sangat senang karena aku berada satu kamar dengan mbak
yang anggun ini. “O iya, mbak namanya siapa?”
“Oh iya, mbak sampai lupa memperkenalkan
diri. Nama mbak Raisya Amalia, panggil saja mbak Lia. Jurusan Bahasa Inggris,
semester tujuh. Sebentar ya, Dik.” Mbak Lia meninggalkanku sejenak. Tiba-tiba
ia kembali dengan membawa segelas air putih dan menyodorkannya padaku. “Ini,
Dik. Pasti kamu kehausan, kan? Diminum dulu.”
“Ya Allah, Mbak. Jadi nggak enak bikin repot, Mbak.” Aku
kembali tertegun dengan perangainya. Mbak Lia sosok yang luar biasa. Wajah yang
teduh itu selalu dihiasi dengan senyuman yang manis, matanya berbinar-binar.
“Biasa aja, Dik. Santai saja sama
mbak. Istirahat dulu aja, Dik. Mbak mau keluar sebentar ya.” mbak Lia
melemparkan senyuman manis padaku dan ia bergegas meninggalkanku.
“Iya, Mbak.” aku terdiam sejenak, ada perasaan senang
yang hinggap di lubuk hatiku. Kenyamanan mulai aku rasakan di tempat baruku
ini, semoga ini bukan perasaan sesaat. Namun perasaan yang memang akan
selamanya bersemi di dalam hatiku. Kubaringkan badanku di tempat tidur,
melepaskan rasa lelah yang menghinggapi tubuhku.
???
“Dik Farah, bangun yuk. Sudah subuh,
kita salat subuh berjamaah.” Mbak Lia membangunkanku dengan lembut. Kulirik jam
kecil di meja sudut kamar, menunjukkan pukul 04.12.
“Iya, Mbak.” aku segera bangkit dari
tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Selesai berwudhu ternyata seluruh
penghuni kos telah siap untuk mendirikan salat jamaah subuh di ruang keluarga.
Kami pun salat berjamaah, kali ini imamnya adalah mbak Lia. Mbak Lia meminta
kami untuk merapatkan shaff salat
sebelum salat subuh dimulai. Kekhusyukan perlahan kunikmati. Suasana subuh yang
nyaman membuatku merasa bersyukur akan limpahan karunia yang Allah berikan
padaku.
Seusai salat kami dikondisikan oleh
mbak Lia untuk berdzikir bersama sambil melingkar, megucap syukur atas nikmat
yang telah Allah berikan pada kami. Karena kos yang aku tempati ini merupakan
kos yang islami, maka seluruh kegiatan diarahkan untuk senantiasa mengingat
pada Allah. Lantunan dzikir terdengar merdu dan menyejukkan. Aku merasakan
getaran-getaran cinta yang merasuk ke kalbu, kebersamaan yang menghiasi majlis
ini membuatku tertegun. Kalau di rumah, jarang sekali aku bisa merasakan
momen-momen yang begitu indah seperti ini. Dzikir pun berakhir, tapi kesejukkan
itu belum berakhir.
“Selamat datang kepada seluruh
penghuni kos kami yang baru. Semoga kalian semua merasa nyaman dengan keluarga
baru di tempat yang baru yang jauh dari orang tua. Karena kita satu keluarga,
kalau ada yang ingin disampaikan, silakan disampaikan saja.” Senyuman manis
kembali menghiasi wajah mbak Lia. Ia memang yang paling tua usianya diantara
penghuni kos yang lain. Sehingga ia harus bertanggungjawab terhadap seisi kos.
Kami semua terdiam, karena merasa
belum saling mengenal kami hanya berpandang-pandangan. Tak ada satu kata pun
yang terucap dari penghuni kos ini.
“Baiklah, kalau tidak ada yang ingin
disampaikan mbak ucapkan semangat menyongsong hari baru di lingkungan baru.
Izinkan mbak mencintai kalian semua, karena Allah.” kalimat yang keluar dari
hati akan sampai ke hati. Seperti kalimat yang disampaikan mbak Lia baru saja,
benar-benar merasuk ke hati, begitu menyejukkan. Iya mbak, akan kuizinkan kau
mencintaiku karena Allah. Begitu pula denganku, izinkan aku mencintaimu karena
Allah.
???
Kususuri
jalanan kecil dari kos menuju kampus yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat
aku kuliah. Mendung yang menghiasi langit pagi ini tak menyurutkan langkahku
dalam menuntut ilmu. Menjadi mahasiswa semester awal seperti layaknya mahasiswa
baru lainnya, aku selalu bersemangat dalam menempuh perkuliahan. Euforia awal
perkuliahan yang masih dihiasi kesemangatan masih aku rasakan. Meski awalnya
ada rasa “ketidak terimaan” dengan jurusan yang sama sekali tidak aku inginkan
sebelumnya, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tapi aku mulai bisa
menikmatinya. Jatuh cinta dengan jurusan yang sama sekali tak pernah terlintas
untuk menjadikannya sebagai cita-cita atau bahkan sebatas impian pun sama
sekali tidak. Kesemangatan ini akan selalu bersemi dalam diriku, tekadku dalam
hati.
Tiba-tiba
sebuah SMS menghanpiri handphoneku.
Mas Yusuf
06.37
“Assalamu’alaikum. Apa kabar, Dik? Dik Farah
kuliah di Unnes ya sekarang?”
SMS
dari mas Yusuf, ketua rohisku semasa SMA. Rasanya aneh sekali tiba-tiba mas
Yusuf mengirimkan sebuah SMS seperti itu. Ia jarang sekali berinteraksi
denganku, tapi tiba-tiba ini menanyakan dimana aku kuliah sekarang. Setahuku
mas Yusuf juga kuliah di Unnes, namun di fakultas yang berbeda denganku. Ia
mahasiswa FMIPA.
Saya
06.39
“Wa’alaikumussalam. Iya, Mas.”
Mas Yusuf
06.40
“Wah, ternyata kita dipertemukan di universitas
yang sama ya. Ya sudah, semangat untuk kuliah hari pertama ya. Allah bersamamu.”
Sebuah balasan SMS yang sangat
asing, mas Yusuf tak pernah seperti ini padaku. Bahkan dulu ketika di SMA, ia
seperti tak mengenalku. Mungkin karena saat itu ia duduk di kelas XII sedangkan
aku masih duduk di kelas X.
Saya
06.41
“Iya, Mas. Insya Allah.”
Kubalas SMS itu dengan singkat.
Kembali kulanjutkan perjalananku menuju kampus.
Menikmati
udara kampus yang sangat sejuk membuatku semakin bersyukur. Kuliah hari pertama
harus menyenangkan. Tidak boleh ada guratan kesedihan, apa pun yang terjadi.
???
Mas Yusuf
17.13
“Bagaimana dengan kuliah hari pertama?”
SMS
mas Yusuf kembali menghampiri HP-ku. Aku jadi semakin bertanya-tanya. Bukankah
ia seorang laki-laki yang menjaga dirinya, bukankah ia jarang sekali menjalin
komunikasi dengan lawan jenis kalau memang itu tidak mendesak. Bukankah ia
seorang aktivis rohis yang begitu bersahaja. Banyak sekali prasangka-prasangka
yang muncul tentangnya.
Saya
17.18
“Alhamdulillah, menyenangkan.”
Aku
tak ingin menanggapi SMS dari mas Yusuf secara berlebihan. Takut menimbulkan
penyakit hati yang menggerogoti hatiku sendiri.
Mas Yusuf
17.19
“Alhamdulillah kalau begitu, semangat kuliah
ya! ^_^”
Sebuah ekspresi senyum ia cantumkan
di akhir SMS-nya. Namun, tak kujawab SMS terakhirnya itu. Aku semakin bertanya,
apakah mas Yusuf kini telah berubah?
???
Sesampainya
di kos aku menghampiri mbak Lia yang sedang asyik di depan laptopnya. “Mbak,
boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Iya
boleh, Dik. Ada apa?” mbak Lia langsung membalikkan badannya ke arahku. Ia
tersenyum manis menatapku.
“Mbak
kenal dengan mas Yusuf, FMIPA sekarang semester 5?”
“Oh
iya mbak tahu. Yang dari Kudus itu juga, kan?”
“Beliau
sekarang masih jadi aktivis kampus, Mbak?”
“Iya,
Dik. Beliau sekarang ketua BEM FMIPA. Dik Farah kenal beliau juga?”
“Iya,
Mbak. Mas Yusuf kakak kelas di SMA, dulu ia jadi ketua rohis di SMAku.” Aku
terdiam sejenak. Sedikit terkejut karena mas Yusuf ternyata sekarang adalah
ketua BEM FMIPA. Tak pernah menyangka sama sekali kalau mas Yusuf menjadi orang
sehebat itu sekarang.
“Ada
apa memangnya, Dik?” Tanya mbak Lia perlahan.
“Oh,
nggak ada apa-apa mbak. Cuma mau Tanya aja, terima kasih ya, Mbak.”
???
Mas Yusuf
05.03
“Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarmu imanmu
hari ini? Semoga ia senantiasa menghiasi amalan-amalan kita. Semangat pagi!!”
SMS
dari mas Yusuf mampir lagi ke handphoneku.
Tak kujawab SMS itu, karena kupikir itu hanya SMS penyemangat biasa yang memang
sering dikirim juga oleh teman-temanku yang lain.
Tak
lama kemudian SMS mas Yusuf datang lagi,
Mas Yusuf
05.21
“Cahaya rembulan menerangi jiwa yang temaram
remang-remang. Biarlah ia menjadi saksi atas perjuangan kita menuju ridho Sang
Rabb. Wahai Yang Maha Membolak-balikkan Hati, izinkan aku bersyukur atas
anugerah yang telah Engkau berikan kepadaku. Dik Farah, apa kabar?”
Aku sangat terkejut mendapat SMS
baru saja. Jujur saja, aku merasa terganggu dengan SMS-SMS yang dikirimkan mas
Yusuf di awal perkuliahan ini. Ia menjadi sangat puitis dan sering menanyakan
kabarku. Beberapa kali tak kujawab SMS itu.
Hingga
pada akhirnya sebuah SMS dari mas Yusuf yang membuatku sangat terkejut.
Mas Yusuf
07.37
“Allah
yang memberikan rasa ini dan Ia Maha Mengetahui. Bismillah... Izinkan aku untuk
memilihmu menjadi bidadariku di dunia dan akhirat. Maaf apabila kurang
berkenan. Bagaimana, Dik?”
Ya,
menyatakan lamaran secara jelas pada isi SMSnya. Aku menangis sejadi-jadinya
ketika mendapat SMS itu. Bukan menangis karena senang atau tidak suka. Tapi aku
menangis karena aku merasa bersalah, aku merasa tidak bisa menjaga diriku
dengan baik. Sebagai seorang wanita yang ingin menjaga dirinya, tentu aku sudah
berusaha untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengan lawan jenis yang itu
dapat mneimbulkan penyakit hati. Selain itu kelabilan emosiku masih sangat jauh
dari kata kesipan untuk menikah. Meski tak ingin pacaran, aku juga tak ingin
untuk menikah secepat ini.
“Mbak
Lia.” aku menangis di pelukan
mbak Lia.
“Ada
apa, Dik? Kok menangis?” Tanya mbak Lia sambil memelukku hangat dan
mengusap-usap punggungku lembut.
“Aku
baru saja dilamar, Mbak. Tapi caranya melamar aku nggak suka. Ia melamarku
melalui SMS dan aku yang membuat aku kecewa, aku merasa tidak bisa menjaga
diriku dengan baik.”
“Sama
siapa memang, Dik?”
“Mas
Yusuf.” aku menyodorkan SMS dari mas Yusuf.
“Yusuf?!”
mbak Lia sangat terkejut membaca SMS tersebut. “Tenang, Dik.” mbak Lia mencoba
menenangkanku.
“Aku
takut mbak, aku malu.”
“Tenang,
Dik. Mbak akan membantu dik Farah. Semua akan baik-baik saja. Jangan pernah
menggantungkan perasaan kepada manusia melebihi menggantungkan perasaan kita
kepada Allah.” Mbak Lia sedikit melegakan perasaanku.
No comments:
Post a Comment