Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Ketika Keberuntungan Tak Pernah Berpihak Kepadaku" Karya: FIKA


FIKA
Ketika Keberuntungan Tak Pernah Berpihak Kepadaku

Hujan mengguyur kota. Suasana semakin dingin akan kaheningan sang malam. Suryo, laki-laki yang bekerja sebagai pemulung itu biasa dipanggil orang-orang di sekitarnya sedang duduk di dekat jendela rumah kumuhnya.
“Kenapa engkau belum tidur Siti? Ini sudah larut malam” katanya kepada anak semata wayangnya yang barnama Siti.
“Iya yah, sebentar lagi. Ini masih tanggung sedang mengerjakan tugas” jawab gadis berambut panjang itu.
“Siti rindu Ibu” kata siti memecah kehaningan.
“Sudahlah, Ibumu sedang bekerja. Tahun depan pasti pulang. Sudah sana kamu tidur saja” kata Suryo untuk menenangkan anak perawannya itu.
“Umi Umi, kenapa kamu begitu kukuh dengan keyakinanmu? Memang menjadi TKW menghasilkan banyak uang, tetapi apa kabarmu sekarang? Sangat jarang kamu memberi kabar kepada keluargamu di rumah. Sehatkah kamu? Anakmu sangat merindukan kehadiranmu Umi. Kenapa kamu tidak memperbolehkan aku saja yang kerja? Apa karena aku ini cacat? Hanya mempunyai satu kaki? Cepatlah pulang Umi” kata Suryo dalam hati sambil memandangi foto istrinya itu.
“Siti, aku dengar kamu sedang cari pekerjaan tambahan? Tanteku sedang cari karyawan buat kerja di toko sembakonya. Kamu mau?” kata Maysaroh temannya.
“Boleh May, tapi aku hanya dapat bekerja siang sepulang sekolah hingga sore hari, karena aku harus sekolah. Lagipula ayahku juga tidak tahu kalo aku ingin kerja” jawab Siti.
“Ya sudaah, kita bertemu dengan tenteku dulu saja, nanti dapat dibicarain dulu sama tanteku. Nanti siang pulang sekolah kita ke toko tanteku ya” ajak Maysaroh, “iya, terima kasih ya May” kata Siti.
Sepulang sekolah mereka bertem dengan Ibu Narsiyah tante dari Maysaroh untuk membicarakan pekerjaan itu. Dan akhirnya Ibu Narsiyah menyetujui permintaan Siti, namun ada syaratnya, yaitu Siti harus bekerja dengan tekun. Setiap pagi dia pergi ke sekolah dan siangnya dia harus bekerja di toko  sembako itu.
“Memangnya kamu bekerja untuk apa Ti?” tanya Ibu Narsiyah.
“Saya ingin menyusul ibu saya yang berada di Arab, bu” jawab Siti. “Oh begitu, memnag ibu kamu ada di Arab sejak kapan?” Ibu Narsiyah terus bertanya untuk mengakrabkan  diri.
“Sejak saya masuk SMP bu, kira-kira sudah 4tahun yang lalu. Dan beliau jarang memberi kabar kepada keluarga, jadi saya ingin menyusul ibu saya setelah saya lulus SMA ini bu.”
“Oh ya sudah, kamu kerja yang tekun dan selalu berdoa kepada Alloh yah” nasihat ibu Narsiyah “baik bu, terima kasih bu.” Jawab Siti yang sedang membungkus gula dan terigu.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Siti baru pulang dari toko. Untung ayahnya belum pulang, karena jika ayahnya sudah pulang pasti Siti akan ditanya kenapa dia pulang malam. Hari-harinya sekarang hanya dihabiskan di sekolah dan di toko. Suatu hari di toko ada seorang laki-laki membeli 10kg telur untuk hajatan di rumahnya, namun karena terburu-buru setelah dia membayar dia menyuruh Siti untuk mengantarkan telur itu ke rumahnya. Siti menuju rumah yang tadi sudah ditunjukkan oleh laki-laki itu. Setibanya di rumah laki-laki itu, Siti bertemu dengan wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat menor. Lalu Siti memberikan telur itu dan pergi meninggalkan rumah itu.
Siti pulang dengan rasa penasaran, dia terus memikirkan tentang rumah itu. Di rumah itu, dia melihat wanita berdandan sangat tidak wajar. Bukan hanya di rumah itu, saat ia berjalan pulang, ia bertemu dengan banyak wanita-wanita yang berdandan tidak wajar menuju rumah itu.
“Tempat apa itu?” Siti bertanya dalam hatinya.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah Siti selalu membuat makanan untuk ayahnya.
“Kenapa wajahmu pucat Siti? Apa kamu sakit?” tanya Suryo yang melihat wajah anaknya yang pucat.
“Tidak apa-apa yah, mungkin hanya capai. Kan sekarang aku ada pelajaran tambahan” jawabnya sambil gugup. “Oh ya sudah, jangan lupa istirahat. Jangan terlalu capai” nasihat Suryo sambil mengambil tongkatnya.
“Ayah berangkat dulu ya” pamit Suryo.
“Iya yah, hati-hati” jawab Siti dengan lembut.
Terik matahari menyengat kulit Siti yang berjalan menyusuri trotoar jalan dekat tempatnya kerja. Hari ini toko hanya buka sampai jam 12.00 siang  saja. Karena ini hari minggu, Siti berangkat pagi hari dan pulang pada siang hari.
“Siti! Suryo! Lihat ini ada berita tentang TKW di Arab” teriak Suryati tetangganya.
“Ada apa?” jawab Suryo kaget sambil terburu-buru ke rumah tetanggganya itu.
“Ini, ada TKW di Arab bernama Umi tewas dibunuh oleh majikannya. Ciri-cirinya sama dengan istrimu” kata Suriyah.
“Innailahi wa innailaihi roji’un, itu Umi istriku? Yaa Alloh” teriak Suryo sambil tersungkur.
“Ibu, ibu!!!” teriak Siti sambil menangis dan tak sadarkan diri.
Duta besar Indonesia di Arab Sudi membenarkan bahwa TKW yang meninggal adalah Umi Kalsum warga Semarang. Dan itu adalah istri dan ibu yang selama ini ditunggu oleh keluarganya di Indonesia. Keluarga menunggu kedatangan jenazah, tetapi pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa jeazah Uni Kalsum sudah dimakamkan di sana. Keluarga tidak bisa berbuat apa-apa. Keluarga miskin seperti keluarga Suryo dapat melakukan apa? Hanya kesedihan yang ada.
Keluarga ini hidupnya semakin terpuruk. Siti yang setelah kepergian Ibuunya menjadi anak yang pemurung dan sering sakit. Suryo sebagai ayah berusaha bijak menghadapi kenyataan ini. Dia terus membanting tulang untuk anaknya tercinta. Selain memulung, dia juga bekerja sebagai tukang semir sepatu. Siti tidak tega melihat ayahnya yang membanting tulang sangat keras. Selain dia bekerja di toko milik ibu Narsiyah, dia juga menjadi buruh cuci di perumahan depan rumahnya. Sungguh miris kehidupan mereka. Santunan kematian yang diberikan oleh pemerintah, dirampas oleh oknum desa yang sarakah dan tidak bertanggung jawab.
Sebulan setelah kematian Umi, Suryo ikut menyusul Umi di alam baka. “Siti, Siti. Bapakmu meninggal tertabrak kereta api di dekat stasiun” kata Narjo seorang pemulung teman ayahnya yang menyusul Siti di sekolah. Tanpa bekata apa-apa, Siti langsung pingsan dan dibawa ke rumahnya oleh para  guru dan teman-temannya. Suasana haru dan sedih tercermin jelas di rumah Siti. Pemakaman  ayahnya dilakukan esok pagi, karena hari sudah malam. Batu nisan tertuliskan Abdul Suryo bin Muhammad Somad menjadi jarak antara alam nyata dan alam baka. Hidup Siti makin menderita setelah musibah yang dialaminya berturut-turut. Sepertinya Tuhan sedang menguji kesabaran Siti. Hari-hari Siti jalani dengan sedih dan menderita.
Ternyata Tuhan benar-benar sedang menguji kesabaran Siti, toko sembako milik Ibu Narsiyah mengalami kebakaran total yang mengakibatkan semua toko dan isinya menjadi abu. Siti makin sedih dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Sedangkan uang santunan dari sekolah Siti atas meninggalnya ayahnya mulai habis untuk kehidupan sehari-harinya. Suatu hari, Siti pulang sekolah melewati rumah yang dulu pernah dia datangi untuk mengantar telur. Tiba-tiba ada laki-laki yang menabraknya saat dia sedang berdiri di depan rumah itu.
“Oh, maaf, saya tidak sengaja” kata laki-laki itu yang ternyata laki-laki yang pernah membeli telur saat dia mesih bekerja di toko Ibu Narsiyah yang kini sudah menjadi abu.
“Tidak apa-apa kok” jawab Siti.
“Kamu sedang apa di sini?” kata laki-laki itu.
“Saya sedang mencari-cari pekerjaan, mungkin rumah bapak ini membutuhkan pembantu? Saya mau pekerjaan apa saja” kata Siti.
“Kamu cantik, kenapa tidak kerja menjadi ....”
“Menjadi apa pak? Saya mau” Siti menyerobot pembicaraa.
“Ayo kita masuk dulu” ajak laki-laki itu. Sesampainya di dalam Siti kaget, karena ternyata tempat itu adalah tempat prostitusi.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saya Prabowo. Saya yang mempunyai rumah ini. Dan mereka bekerja sebagai pemuas manusia. Di sini bukan hanya perempuan, namun banyak juga laki-lakinya” Pak Bowo menjelaskan. Entah setan apa yang sedang merasuki pikiran Siti, Siti meminta untuk menjadi salah satu dari mereka. Menjadi wanita tuna susila, yang bekerja untuk memuaskan nafsu birahi dari manusia-manusia yang haus akan kepuasan sex.
Siti semakin menjadi dengan pekerjaannya sebagai WTS atau yang masyarakat sekitar memanggil sebagai “lonte”. Bukannya Siti sadar, namun Siti semakin terbuai akan dunia yang sangat sesat itu. Dan sekarang Siti menjadi seorang “lonte” kelas atas yang sering menjadi simpanan dan pamuas nafsu para lelaki pecinta sex.
Sekarang Sitipun menjadi primadona diantara wanita penjual sex lainnya. Siti semakin terkanal di dunianya, siapapun mencari untuk memuskan nasfu dengan permainannya.

No comments:

Post a Comment