FIKA
Ketika Keberuntungan Tak Pernah Berpihak Kepadaku
Hujan
mengguyur kota. Suasana semakin dingin akan kaheningan sang malam. Suryo,
laki-laki yang bekerja sebagai pemulung itu biasa dipanggil orang-orang di
sekitarnya sedang duduk di dekat jendela rumah kumuhnya.
“Kenapa
engkau belum tidur Siti? Ini sudah larut malam” katanya kepada anak semata
wayangnya yang barnama Siti.
“Iya
yah, sebentar lagi. Ini masih tanggung sedang mengerjakan tugas” jawab gadis
berambut panjang itu.
“Siti
rindu Ibu” kata siti memecah kehaningan.
“Sudahlah,
Ibumu sedang bekerja. Tahun depan pasti pulang. Sudah sana kamu tidur saja”
kata Suryo untuk menenangkan anak perawannya itu.
“Umi
Umi, kenapa kamu begitu kukuh dengan keyakinanmu? Memang menjadi TKW
menghasilkan banyak uang, tetapi apa kabarmu sekarang? Sangat jarang kamu
memberi kabar kepada keluargamu di rumah. Sehatkah kamu? Anakmu sangat
merindukan kehadiranmu Umi. Kenapa kamu tidak memperbolehkan aku saja yang kerja?
Apa karena aku ini cacat? Hanya mempunyai satu kaki? Cepatlah pulang Umi” kata
Suryo dalam hati sambil memandangi foto istrinya itu.
“Siti,
aku dengar kamu sedang cari pekerjaan tambahan? Tanteku sedang cari karyawan
buat kerja di toko sembakonya. Kamu mau?” kata Maysaroh temannya.
“Boleh
May, tapi aku hanya dapat bekerja siang sepulang sekolah hingga sore hari,
karena aku harus sekolah. Lagipula ayahku juga tidak tahu kalo aku ingin kerja”
jawab Siti.
“Ya
sudaah, kita bertemu dengan tenteku dulu saja, nanti dapat dibicarain dulu sama
tanteku. Nanti siang pulang sekolah kita ke toko tanteku ya” ajak Maysaroh,
“iya, terima kasih ya May” kata Siti.
Sepulang
sekolah mereka bertem dengan Ibu Narsiyah tante dari Maysaroh untuk
membicarakan pekerjaan itu. Dan akhirnya Ibu Narsiyah menyetujui permintaan
Siti, namun ada syaratnya, yaitu Siti harus bekerja dengan tekun. Setiap pagi
dia pergi ke sekolah dan siangnya dia harus bekerja di toko sembako itu.
“Memangnya
kamu bekerja untuk apa Ti?” tanya Ibu Narsiyah.
“Saya
ingin menyusul ibu saya yang berada di Arab, bu” jawab Siti. “Oh begitu, memnag
ibu kamu ada di Arab sejak kapan?” Ibu Narsiyah terus bertanya untuk
mengakrabkan diri.
“Sejak
saya masuk SMP bu, kira-kira sudah 4tahun yang lalu. Dan beliau jarang memberi
kabar kepada keluarga, jadi saya ingin menyusul ibu saya setelah saya lulus SMA
ini bu.”
“Oh
ya sudah, kamu kerja yang tekun dan selalu berdoa kepada Alloh yah” nasihat ibu
Narsiyah “baik bu, terima kasih bu.” Jawab Siti yang sedang membungkus gula dan
terigu.
Waktu
menunjukkan pukul tujuh malam, Siti baru pulang dari toko. Untung ayahnya belum
pulang, karena jika ayahnya sudah pulang pasti Siti akan ditanya kenapa dia
pulang malam. Hari-harinya sekarang hanya dihabiskan di sekolah dan di toko.
Suatu hari di toko ada seorang laki-laki membeli 10kg telur untuk hajatan di
rumahnya, namun karena terburu-buru setelah dia membayar dia menyuruh Siti
untuk mengantarkan telur itu ke rumahnya. Siti menuju rumah yang tadi sudah
ditunjukkan oleh laki-laki itu. Setibanya di rumah laki-laki itu, Siti bertemu
dengan wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat menor. Lalu Siti
memberikan telur itu dan pergi meninggalkan rumah itu.
Siti
pulang dengan rasa penasaran, dia terus memikirkan tentang rumah itu. Di rumah
itu, dia melihat wanita berdandan sangat tidak wajar. Bukan hanya di rumah itu,
saat ia berjalan pulang, ia bertemu dengan banyak wanita-wanita yang berdandan
tidak wajar menuju rumah itu.
“Tempat
apa itu?” Siti bertanya dalam hatinya.
Setiap
pagi, sebelum berangkat sekolah Siti selalu membuat makanan untuk ayahnya.
“Kenapa
wajahmu pucat Siti? Apa kamu sakit?” tanya Suryo yang melihat wajah anaknya
yang pucat.
“Tidak
apa-apa yah, mungkin hanya capai. Kan sekarang aku ada pelajaran tambahan”
jawabnya sambil gugup. “Oh ya sudah, jangan lupa istirahat. Jangan terlalu
capai” nasihat Suryo sambil mengambil tongkatnya.
“Ayah
berangkat dulu ya” pamit Suryo.
“Iya
yah, hati-hati” jawab Siti dengan lembut.
Terik
matahari menyengat kulit Siti yang berjalan menyusuri trotoar jalan dekat
tempatnya kerja. Hari ini toko hanya buka sampai jam 12.00 siang saja. Karena ini hari minggu, Siti berangkat
pagi hari dan pulang pada siang hari.
“Siti!
Suryo! Lihat ini ada berita tentang TKW di Arab” teriak Suryati tetangganya.
“Ada
apa?” jawab Suryo kaget sambil terburu-buru ke rumah tetanggganya itu.
“Ini,
ada TKW di Arab bernama Umi tewas dibunuh oleh majikannya. Ciri-cirinya sama
dengan istrimu” kata Suriyah.
“Innailahi
wa innailaihi roji’un, itu Umi istriku? Yaa Alloh” teriak Suryo sambil
tersungkur.
“Ibu,
ibu!!!” teriak Siti sambil menangis dan tak sadarkan diri.
Duta
besar Indonesia di Arab Sudi membenarkan bahwa TKW yang meninggal adalah Umi
Kalsum warga Semarang. Dan itu adalah istri dan ibu yang selama ini ditunggu
oleh keluarganya di Indonesia. Keluarga menunggu kedatangan jenazah, tetapi
pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa jeazah Uni Kalsum sudah dimakamkan di
sana. Keluarga tidak bisa berbuat apa-apa. Keluarga miskin seperti keluarga
Suryo dapat melakukan apa? Hanya kesedihan yang ada.
Keluarga
ini hidupnya semakin terpuruk. Siti yang setelah kepergian Ibuunya menjadi anak
yang pemurung dan sering sakit. Suryo sebagai ayah berusaha bijak menghadapi
kenyataan ini. Dia terus membanting tulang untuk anaknya tercinta. Selain
memulung, dia juga bekerja sebagai tukang semir sepatu. Siti tidak tega melihat
ayahnya yang membanting tulang sangat keras. Selain dia bekerja di toko milik
ibu Narsiyah, dia juga menjadi buruh cuci di perumahan depan rumahnya. Sungguh
miris kehidupan mereka. Santunan kematian yang diberikan oleh pemerintah,
dirampas oleh oknum desa yang sarakah dan tidak bertanggung jawab.
Sebulan
setelah kematian Umi, Suryo ikut menyusul Umi di alam baka. “Siti, Siti.
Bapakmu meninggal tertabrak kereta api di dekat stasiun” kata Narjo seorang
pemulung teman ayahnya yang menyusul Siti di sekolah. Tanpa bekata apa-apa,
Siti langsung pingsan dan dibawa ke rumahnya oleh para guru dan teman-temannya. Suasana haru dan
sedih tercermin jelas di rumah Siti. Pemakaman
ayahnya dilakukan esok pagi, karena hari sudah malam. Batu nisan
tertuliskan Abdul Suryo bin Muhammad Somad menjadi jarak antara alam nyata dan
alam baka. Hidup Siti makin menderita setelah musibah yang dialaminya
berturut-turut. Sepertinya Tuhan sedang menguji kesabaran Siti. Hari-hari Siti
jalani dengan sedih dan menderita.
Ternyata
Tuhan benar-benar sedang menguji kesabaran Siti, toko sembako milik Ibu
Narsiyah mengalami kebakaran total yang mengakibatkan semua toko dan isinya
menjadi abu. Siti makin sedih dan tak tahu apa yang harus dia lakukan.
Sedangkan uang santunan dari sekolah Siti atas meninggalnya ayahnya mulai habis
untuk kehidupan sehari-harinya. Suatu hari, Siti pulang sekolah melewati rumah
yang dulu pernah dia datangi untuk mengantar telur. Tiba-tiba ada laki-laki
yang menabraknya saat dia sedang berdiri di depan rumah itu.
“Oh,
maaf, saya tidak sengaja” kata laki-laki itu yang ternyata laki-laki yang
pernah membeli telur saat dia mesih bekerja di toko Ibu Narsiyah yang kini
sudah menjadi abu.
“Tidak
apa-apa kok” jawab Siti.
“Kamu
sedang apa di sini?” kata laki-laki itu.
“Saya
sedang mencari-cari pekerjaan, mungkin rumah bapak ini membutuhkan pembantu?
Saya mau pekerjaan apa saja” kata Siti.
“Kamu
cantik, kenapa tidak kerja menjadi ....”
“Menjadi
apa pak? Saya mau” Siti menyerobot pembicaraa.
“Ayo
kita masuk dulu” ajak laki-laki itu. Sesampainya di dalam Siti kaget, karena
ternyata tempat itu adalah tempat prostitusi.
“Sebelumnya,
perkenalkan nama saya Prabowo. Saya yang mempunyai rumah ini. Dan mereka
bekerja sebagai pemuas manusia. Di sini bukan hanya perempuan, namun banyak
juga laki-lakinya” Pak Bowo menjelaskan. Entah setan apa yang sedang merasuki
pikiran Siti, Siti meminta untuk menjadi salah satu dari mereka. Menjadi wanita
tuna susila, yang bekerja untuk memuaskan nafsu birahi dari manusia-manusia
yang haus akan kepuasan sex.
Siti
semakin menjadi dengan pekerjaannya sebagai WTS atau yang masyarakat sekitar
memanggil sebagai “lonte”. Bukannya Siti sadar, namun Siti semakin terbuai akan
dunia yang sangat sesat itu. Dan sekarang Siti menjadi seorang “lonte” kelas
atas yang sering menjadi simpanan dan pamuas nafsu para lelaki pecinta sex.
Sekarang
Sitipun menjadi primadona diantara wanita penjual sex lainnya. Siti semakin
terkanal di dunianya, siapapun mencari untuk memuskan nasfu dengan
permainannya.
No comments:
Post a Comment