Laeli Nur Latifah
Cintaku
Menggenggam Air
Aku duduk terdiam di samping jendela kamar sambil menikmati cerahnya hari
yang ku lalui saat ini. Aku membiarkan angan-anganku menari bebas menembus hari, minggu,
bulan, dan tahun. Ia berkeliaran dengan bebas namun terarah pada satu tujuan.
Sesosok pria yang kini mengisi angan-anganku dan kebekuan dalam hatiku. Teduh,
bersinar, dan memesona, bayangnya tak pernah pudar dari ingatanku
Masih tampak jelas pertemuan
pertama itu, tak sengaja jari-jariku memegang erat lengan seorang pria ketika supir bis tiba-tiba mempercepat laju bisnya. Dia
terlihat kikuk dan risih saat aku tak juga melepaskan jari-jariku dari
lengannya. Bukannya permintaan maaf atau ucapan terimakasih yang harusnya aku
ucapkan setelah beberapa saat aku melepaskan peganganku, tapi malah aku menarik
lengannya hingga tubuhnya bergeser dari tempat semula dia berdiri tegak. Aku
benar-benar merasa dongkol dengan apa yang supir itu lakukan, dengan tidak memedulikan
penumpangnya, supir itu malah mempercepat laju bisnya tanpa memberitahu
penumpang.
Setelah sadar dengan apa yang aku lakukan, aku merasa
malu dan tak enak hati pada pria itu, aku mengutuki diriku sendiri “ Kenapa harus lengan itu ! Bukankah masih banyak
benda disekitarmu yang bisa kau jadikan pegangan Arni !!” Rasa maluku terasa bersembunyi begitu jauh, karena
hanya kalimat,
“ Maaf Mas
maaf.” Berulang-ulang kalimat itu terlontar
dari bibirku Bukan karena dia tak juga memaafkanku, namun karena
berulang-ulang pula aku melakukan tindakan yang sama. Bukan hanya tas punggung bahkan kemeja yang dia
kenakan aku tarik-tarik agar aku tidak terjatuh menindihi
tumpukan kardus. Entah mengapa tanganku begitu akrab dengan pria dan semua
benda yang pria itu gunakan. Untunglah supir bis itu telah sadar bahwa bukan
hanya dirinya yang ada dalam bis itu, tapi ada aku, pria di depanku, dan
penumpang lainnya disana, sehingga dia menormalkan kembali laju bisnya.
Akhirnya aku bisa merasakan nyamannya duduk setelah
berdiri lama. Walaupun aku merasa sedikit kesal, aku harus menunggu lama
untuk memutuskan duduk diatas kursi yang telah ditinggalkan penumpangnya. Aku
merasa heran dengan pria di depanku, tidak bisakah di berkata “Silahkan duduk Mba, kursi itu kosong” atau “Silahkan
duduk Mba,
Anda
kan perempuan, kursi itu lebih baik jika Anda yang menduduki.”
Tetapi pria itu hanya diam.Aku
jadi merasa sungkan untuk duduk dikursi itu, jangan-jangan dia juga ingin duduk
disana, atau dia marah padaku karena aku telah mengganggu kenyamanannya
sehingga dia membiarkanku menunggu. Aku segera mendorong
pikiran-pikiran itu untuk pergi, dan kududuki kursi kosong itu tanpa izin dari
pria didepanku.
Aku menarik pelan napasku dan aku biarkan hembusan
angin yang masuk melewati celah jendela menyeka keringatku yang keluar karena
udara panas kota Semarang. Aku duduk didekat jendela, karena memang kursi
itulah yang kosong. Ini adalah kesekian kalinya aku melihat pria itu berada
dalam bis yang sama denganku.
“Ilham, bisakah kau bergeser kekanan.”
Seorang temannya menyuruh dia bergeser.Senyum terkembang dari bibirnya, dengan cepat dia pun
bergeser dari tempat semula dia duduk. Kini aku sering memperhatikan pria itu.Semua itu bermula ketika dia memberikan seutas senyum dan
sapaan ramah padaku saat aku memasuki bis, dan dia duduk tepat didekat pintu. “Silahkan duduk Mba” hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya.Namun rasa aneh menyelimuti hatiku. Aku membalas dengan
senyuman, dan aku duduk disebelahnya.Aku merasa gugup,
banyak kalimat aneh yang ku ucapkan dalam hati “Rapikah kerudungku? Anehkah pakaian yang aku kenakan?” Aku
merasa tidak nyaman dengan tingkahku sendiri.Aku
duduk dengan berganti-ganti posisi. Jantungku seakan melompat dari tempat
semula ia terdiam saat aku dengar dia bertanya padaku,
“Maaf Mba, kamu kuliah atau
bekerja? Aku sering melihatmu menaiki bis ini, tapi baru kali ini aku
memberanikan diri untuk bertanya padamu.”
Aku mencerna kalimat yang
dia ucapkan, “Baru kali ini aku memberanikan
diri untuk bertanya padamu?”Apakah dia sudah lama
ingin menyapaku? Aku mengucapkan kalimat itu dalam hati, aku kembali mengutuki
diriku sendiri “Arni..!! Apa yang kamu
pikirkan! Buang
jauh-jauh pikiran itu! Sekarang atur Napasmu dan jawablah pertanyaannya.” Aku mulai menjawab
dengan seutas senyum.
“Aku kuliah, kamu sendiri? Aku melihatmu selalu turun didekat
pabrik.Apakah kamu bekerja disana?”
“Aku juga kuliah, tapi sekarang aku sedang PKL disana, oh
ya aku Ilham, kamu?” jawabnya pelan.
“Oh… Aku Arni”
Kembali ku kembangkan senyumku dan tanpa berjabat tangan
kami berkenalan. Sepertinya dia memang memiliki prinsip agama yang baik, tak sengaja aku melihat buku-buku yang dia bawa, semuanya
bertemakan tentang Islam. Sungguh sangat berbeda denganku, aku hanya seorang
perempuan yang mencoba untuk lebih baik dalam memaknai hidup berdasar pada
agamaku. “Sepertinya dia calon imam yang kelak akan membawa jodohnya dalam
balutan indahnya surga.”Bisikku
lirih. Kami pun kembali terdiam, tapi setelah sampai ditempat tujuan pria itu,
dia kembali tersenyum dan berpamitan denganku.
“Duluan ya Mba,
eh maksudnya Arni”
Aku hanya menganggukan kepala sembari tersenyum. Tanpa
sadar mataku mengikuti langkah kepergiannya, rasa yang aneh kembali menyapa
hatiku. Ilham, aku ingin cepat bertemu dengannya esok hari.
Aku berpikir setelah esok rasa ini akan sirna.Namun semakin hari rasa ini semakin berbeda, aku merasa
tak kecewa jika tidak melihatnya “Ya Allah, jangan biarkan rasa ini mendominasi rasa cintaku padaMu.Biarkan rasa ini
tumbuh wajar jika memang Engkau meridhoinya.”Ucapku lirih, dan aku mulai memejamkan
mata untuk tidur. Aku tidak tahu bagaimana cara mengendalikan rasa ini, dia
datang begitu saja dengan sikap yang berbeda.Aku
merasa cintaku telah jatuh pada sikapnya yang berbeda, pada merdu suaranya saat
dia berbicara, dan terlebih pada cintanya yang dia beri untuk Tuhannya, dan apa
dayaku jika hati ini telah berbicara.
Hari ini aku menaiki bis dengan perasaan tak bersemangat,
sepertinya hari ini akan berjalan kurang lancar. Saat aku mencari kursi yang
kosong, tiba-tiba Ilham berdiri dari kursinya dan tersenyum sembari berkata
padaku.
“Arni, sayang kamu tidak dapat tempat duduk, silahkan
duduk disini, kamu kan perempuan, kursi ini lebih baik jika kamu yang menduduki.”
Tanpa berpikir lama, akupun duduk dikursi itu dengan
tersenyum.
“MaturnuwunMas.”
“Pagi ini kamu terlihat tidak bersemangat
Ar.”
Lagi-lagi aku hanya tersenyum, dan kutarik Napas pelan
kemudian menjawab,
“Aku hanya kurang enak hati, aku merasa cemas, tak
bersemangat, dan malah ingin tidur.”
“Cobalah kamu beristighfar dan meminta kekuatan pada Allah,
Dia itu Maha Segala-galanya”
Walaupun dengan berdiri disampingku, karena dia telah
merelakan tempat duduknya untukku, tapi dia tetap merasa nyaman, padahal laju
bisnya tidak beraturan. Aku kembali tersenyum dan ku coba melakukan saran yang
dia berikan.
Hal aneh terjadi padaku pagi ini, aku menggunakan pakaian
dan kerudung warna biru, warna yang kusuka.Akupun
duduk didepan cermin lebih lama dari biasanya pagi ini. Aku merasa lebih baik
dan bersemangat.Setelah rapi segera aku melangkah
ketempat biasa aku menunggu bis, lalu aku duduk dan ku rapikan kembali kerudung
yang ku kenakan “Sepertinya memang sudah rapi” bisikku
lirih. Hatiku mulai berdesir ketika bis yang aku tunggu
berhenti di depanku “Ya Allah, lancarkanlah semua kegiatanku hari ini.” Aku menuju kursi yang berada tepat didepan Ilham, karena memang hanya kursi itu yang kosong. Sebelum aku
duduk, aku tersenyum padanya kemudian menunduk.Aku
merasa aneh dengan penampilanku hari ini.
Aku merasa heran kenapa Ilham tidak turun ditempat biasa
dia turun, tapi aku sungkan untuk bertanya padanya. Perjalanan berlalu sangat
cepat, sekarang aku sampai di pinggiran pasar yang menjual
banyak buku. Hari ini aku tidak kuliah, tapi aku akan membeli beberapa
buku di pasar ini. Aku kaget ketika aku berjalan menyusuri pasar, ada suara
pria yang memanggilku.
“Arni!Tunggu!”
“Kamu mau mencari buku juga?” dia melanjutkan perkataannya.
Belum percaya apakah dia itu Ilham, untuk itulah aku
terdiam. Kenapa dia bisa ada disini. Dia berjalan dengan seorang wanita
yang cantik dengan kerudung ungu muda. Siapa wanita itu?
“Iya.” Jawabku singkat.
“Kalau begitu, mari kita cari bersama.Aku juga mau beli beberapa buku.”
Untuk pertama kalinya aku dan Ilham melangkah bersama,
bukan lagi di bis tapi dijalan umum.Namun rasa cemburu terasa melingkupi hatiku. “Siapa wanita di sebelahnya? Kenapa dia
mengenalkannya padaku? Apakah mungkin dia itu..” Seolah Ilham tahu dengan
apa yang aku pikirkan. Dia memotong kalimat yang sedang aku rangkai dalam
pikiranku.
“Oh iya, kenalkan ini teman
satu tempatku di pabrik. Namanya Ayu, dia juga satu universitas denganku.
Orangnya baik, dia juga mudah berteman dengan siapa saja.” Dia menjelaskan
dengan begitu akrab, seolah-olah dia dan wanita yang memang ayu itu sudah berteman lama. Entah
mengapa aku benar-benar cemburu.
“Aku Arni.” Senyum
berkembang dari bibirku. Kami berjabat tangan seperti lazimnyamorang yang
berkenalan. Aku mengakui bahwa senyumnya benar-benar ayu. Kami berjalan dengan selingan percakapan yang umum. Aku merasa sangat dilindungi oleh Ilham, mungkin Ayu juga merasakan
hal yang sama. Aku merasa seperti pengganggu ketika mereka
berbincang mengenai sesuatu yang mereja lakukan di pabrik. Mereka berdua
seperti pasangan yang sedang menikmati hari
libur, sungguh menyenangkan. Sedangkan aku seperti orang yang kehilangan teman. “Arniiii..! Apa yang kamu
pikirkan!!” Teriaku
dalam hati.
Kami berkeliling mencari buku yang kami butuhkan, selain
manis, ternyata Ilham juga pandai menawar harga, mungkin
karena gaya bicaranya yang hangat sehingga dia bisa meluluhkan hati penjual buku, dan termasuk hatiku. Kota Semarang yang biasanya panas, hari ini terasa berbeda.Ayu mengagetkanku yang sedang
berkutat dengan pikiranku sendiri.
“Ilham, aku pulang duluan
yah. Nana sudah menunggu di depan mushala.”
“Oh, dia sudah sampai? Kamu
duluan saja tidak apa-apa. Jangan lupa besok bawa buku yang mau aku pinjam
yah.” Ilham menjawab dengan senyum berkembang.
“Oke. Arni, duluan yah.”
Ayu berlalu dengan senyum
dan lambaian tangan yang begitu sopan. Sekarang hanya tinggal aku dan Ilham. Awan mendung menyelimuti pasar ini.Benar
saja hujan deras mengguyur kota Semarang.
Aku dan Ilham berteduh didekat sebuah rumah makan.Aku berada disampingnya dengan jarak sekitar setengah
meter.
“Arni, mungkin besok kita tidak akan bertemu dibis itu
lagi, karena kemarin adalah hari terakhir aku PKL.”
Napasku terasa sesak mendengar perkataannya. Dia terus melanjutkan
perkataannya itu.
“Aku senang ternyata hari ini kita bisa membeli buku
bersama, kamu memiliki keindahan tersendiri, tapi entah mengapa hari ini kamu
terlihat lebih indah.Aku minta maaf jika perkataanku tidak
mengenakan hatimu”
Detak jantungku tak bisa kukendalikan.Ia berdetak begitu cepat, hatiku berdesir begitu kuat
mendengar perkataannya. Lagi-lagi aku hanya terdiam.Aku
tidak tahu harus berkata apa, wajahku pasti sangat panas
sekarang. Aku melihat tatapan matanya begitu terarah, dan suaranya begitu hangat. Kemudian dia menyodorkan sebuah buku berjudul
Bidadari Surga Cemburu Padamu.
“Ini untukmu, anggap saja pemberian dari seorang teman
baru yang kamu mintai tolong di bis waktu itu.”
Dia berkata sambil mengembangkan senyuman menyindir tapi
terlihat manis, aku menerimanya dengan senyuman yang kosong.
“Terimakasih.”
Hanya itu kalimat yang bisa akukeluarkan.
Hujan seperti mengalunkan nada-nada merdu dan mempesona.Rintiknya
seperti melodi yang sederhana tapi bermakna, hingga hatiku membeku dan tubuhku terasa tak mampu bergerak.
Kami berdiri lama menunggu hujan reda.Aku pun masih tetap dengan diamku. Aku
benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Ilham. Gemercik hujan yang mengalun
indah, tiba-tiba terdengar aneh. Aku melihat darah berlumuran ditubuh seorang
pria. Seorang kakek tua menangis dan meminta maaf pada pria yang
matanya kini terpejam. Seluruh tubuhku bergetar, kakiku terasa linu, tanpa aku
minta tiba-tiba airmataku terjatuh.Aku menangis dalam
diam.
“Apa yang terjadi, kenapa hal ini bisa terjadi..”
Aku berbicara dengan tatapan kosong, “Innalillahi..”
kalimat itu berulang-ulang terucap dalam hatiku. Aku melangkah gontai, kemudian berlari, berlari cepat seperti saat Ilham
menyelamatkan kakek tua itu ketika dia hendak tertabrak mobil. Aku tidak tahu
harus berbuat apa, darah menyatu dengan air mengalir menyusuri jalanan.Tangisku menyatu dengan rintikan air hujan. Tanpa sadar
aku membelai wajah Ilham dan kugenggam erat tangannya, terasa dingin, sangat
dingin, airmataku sungguh tak bisa kukendakikan.Ia
menetes tepat diwajah teduh seorang pria bernama Ilham. Ingin rasanya aku berteriak dan ku goyang-goyangkan
tubuhnya agar dia terbangun.Namun suaraku
tercekat dikerongkongan dan tanganku tak bisa ku gerakan.
“Ilham… Bisakah kamu membuka
matamu, bukalah.. bukalah… ku mohon bukalah…”Dengan
lirih aku keluarkan kalimat itu. Ingin sekali aku memeluknya yang
terbaring di jalanan dengan darah yang mengucur menyatu bersama air hujan.
“Ya Allah.. Selamatkanlah dia.Selamatkanlah dia”
Berulang-ulang aku memanjatkan doa.Aku
duduk didepan tempat Ilham dirawat. Napasku terasa sesak ketika aku mendengar
kalimat “Innalillahi wainnailaihiroji’un” dari orang-orang yang berada ditempat
yang sama denganku. Aku tertunduk dan tanpa sadar airmataku
kembali terjatuh. Lirih ku ucapkan kalimat yang sama dengan mereka.
Cintaku menggenggam air, Ilham seperti air yang tak bisa kugenggam.Ilham takkan pernah aku
genggam karena dia adalah air dalam kehidupanku. Namun aku selalu
membutuhkannya, sepertia air yang selalu aku butuhkan.
Untuk pertama kalinya aku merasakan cinta pada sesama
manusia.Aku berharap bahwa dia adalah jodohku dan akan ku miliki
sepenuhnya,tetapi Allah berkehendak lain. Aku tak mengerti dengan perasaan yang adalam hati Ilham.Namun, aku tahu pasti dia menyayangiku, menyimpan rasa yang sama
denganku, selalu ingin memberikan yang terbaik untukku.Itulah kenapa dia memberikan buku ini padaku. Bidadari Surga Cemburu Padamu, buku yang tak pernah aku tinggalkan
dimanapun aku berada.
Aku menganggap pertemuanku dengannya adalah perjalanan
hidupku kearah yang lebih baik dan diridhoi oleh-Nya.
Kini aku telah hidup dengan belahan jiwa yang telah ditentukan oleh
Allah.Maka aku akan mengabdikan hidupku padanya karena Allah.Memberikan seluruh jiwa dan ragaku sepenuhnya untuk
suamiku karena Allah.Aku akan menjadi perempuan yang
mencintai suamiku karena Allah pula, agar kelak bidadari-bidadari cemburu
padaku.
No comments:
Post a Comment