SANTIKA
Hidup
Seperti Roda Berputar
Keluargaku hidup
berkecukupan. Tapi semua itu berubah ketika ayah berhenti kerja dari kantor
lamanya karena ada masalah. Di kantor barunya yang sekarang penghasilan ayah
nggak sebesar dari kantornya yang dulu. Suatu hari ada orang dari pihak bank
menelpon ayah yang bilang kalau ayah punya tunggakan kartu kredit yang cukup
besar. Aku dan ibu sama kagetnya mendengar berita tersebut, karena kami merasa
selama ini tidak ada masalah apapun dalam keluargaku.
“Ayah melakukan
ini semua demi kalian agar tidak kekurangan,” jelas ayah.
“Tapi yah, ayah
tidak perlu melakukan kredit secara berlebihan sehingga begini kan resiko yang
kita terima,” sanggah ibu.
“Namun, ayah
ingin melihat kalian hidup bahagia bu,” sanggah ayah.
Ibu pun langsung lari kedalam kamar
dan mengunci pintunya. Setelah kejadian itu aku sering mendengar pertengkaran
ayah dan ibu. Mungkin ibu kaget mendengar kabar tersebut, belum bisa
mengerti kenapa ayah melakukan ini semua.
Ketika suatu hari akibat dari tunggakan itu, telpon rumahku pun di cabut
karena tidak sanggup untuk membayar utang ayah. Segala macam cara di lakukan
untuk menutup utang dan melanjutkan hidup. Barang-barang antik yang terdapat
didalam rumah di jual untuk keperluan kita sehari-hari.
Pagi ini ketika aku berangkat sekolah biasanya aku selalu memakai
kendaraan sendiri kesekolah, namun pagi ini aku berangkat ke sekolah
menggunakan angkot. Sekarang aku masih duduk di bangku kelas 12 SMA dan
sebentar lagi akan lulus. Aku tetap berkeinginan untuk melanjutkan kuliah di
Universitas yang aku inginkan. Maka dari itu biarpun keadaan keluargaku sedang kacau aku harus tetap bersemangat
sekolah meskipun aku harus rela naik angkot, karena motor yang ayah belikan
dulu dijual.
“Dilaaa,” sapa
temanku dari jauh.
“iyaa,” jawabku
sambil mencari arah suara yg memanggilku.
“Dila, aku ntar
siang pulangnya ikut kamu ya karena hari ini aku nggak bawa motor,” jelas Putri
temanku yang memanggilku tadi.
“Maaf Put, aku
juga nggak bawa motor hari ini, tadi aku kesini naik angkot,” jawabku
menjelaskan.
“Tumben kamu
Dil, nggak bawa motor ke sekolah, kenapa?”, tanya Putri kembali.
“Enggak
kenapa-kenapa kok Put, mungkin mulai sampai saat ini dan seterusnya aku
berangkat ke sekolah nggak pakai motor lagi Put,” jelasku
“eehh..emang
kenapa Dil,” tanyanya serius.
“teeeettttt,”
Belum sempat aku
menjelaskan bel tanda masuk berbunyi.
“Iya, Put ntar
aku jelaskan di kantin saat istirahat nanti,” ucapku sambil berjalan ke arah
kelasku.
Tak terasa tiga
jam pelajaran aku ikuti, bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku berjalan menemui
Putri ke kelasnya. Kita memang tidak sekelas Aku 12 IPA 1 dan dia kelas 12 IPS
3, dulu kita sekelas saat masih duduk di kelas 10, dia sahabatku, dia pun
sering bermain di rumahku, begitupun sebaliknya entah untuk mengerjakan tugas
atau hanya bermain menghilangkan kejenuhan saat pulang sekolah. Aku pun sering
curhat ke dia tentang masalah-masalahku, Putri pun juga sama sering curhat
masalah-masalah yang dia punya ke aku.
“Putri ayo ke
kantin,” ajaku
“Oke Dila ayok,
aku juga udah laper banget ini,” ucapnya.
Sesampai di
kantin aku dan Putri memesan makanan, sambil menunggu makanan datang kita
mengobrol. Banyak hal yang kita omongin, termasuk tentang kenapa aku hari ini
tidak membawa motor ke sekolah sendiri.
“Apa?” tanyanya
kaget.
“Iya Put,
motorku di jual sama ayah untuk membayar hutangnya,” jelasku lagi.
“Kamu tetap yang
sabar ya Dil, meskipun keadaan keluarga mu masih dalam kondisi seperti ini kamu
tetap bersemangat, raih cita-citamu Dil, sebentar lagi kita ujian nasional,
jangan patah semangat ya Dil,” jelas dia menyemangatiku.
“Makasih ya Put,
sudah kasih aku semangat dan saran, aku akan tetep bersemangat Dil, Aku akan
lulus lalu masuk ke kampus yang aku inginkan,”tambahku seraya tersenyum.
Putri memang
sahabatku yang baik, dia selalu mengerti kondisi dalam kondisi senang, sedih
atau apapun.
Pulang sekolah
aku dan Putri bersama menaiki angkot, rumah kita juga satu arah.
“Assalamualaikum,”
salamku dari luar rumah.
“Waalaikumsalam,”
sahut ibuku dari dalam.
“Dila, kamu udah
pulang,” tanya ibu.
“Udah bu,”
jawabku sambil masuk ke dalam kamar.
“Ayo makan siang
dulu, ibu sudah membikin lauk seadanya,” perintah ibu.
Diatas meja
makan aku lihat cuma ada terdapat lauk tempe, tahu goreng sambal dan sayur
asam. Aku pun memakannya, kondisi keluarga ku memang benar-benar berbeda dari
yang dahulu. Jarang sekali ibu memasak lauk seperti ini, bahkan mungkin tidak
pernah, kalau pun pernah pasti akan ada tambahan ikan gurame, atau ayam untuk
mencukupi giziku. Tapi aku tetap bersyukur sama Allah. keluargaku masih di beri
rezeki dan kami masih bisa untuk makan.
“Maaf ya nak, ibu
hanya bisa memberimu makan lauk seadanya gini,” ucap ibu tiba-tiba.
“Aku tidak
masalah kok bu, meskipun seperti ini kita masih tetap bisa makan,” jawabku
meringankan perasaan ibu.
“Kamu memang
anak baik dan penurut Dil, andai saja ayah dulu tak meminjam uang kredit
sebesar itu, keluarga kita masih bisa sama keluarga yang pada umumnya,” jelas
ibu menyesal.
“Kita tak perlu
menyesali apa yang sudah di takdirkan oleh Allah bu, ini semua mungkin jalan
dari Allah untuk kita,”
Ibu hanya bisa
meneteskan airmata, ibu mungkin merasa kasihan terhadapku.
“Ibu tak perlu
memikirkan aku, aku masih bersyukur ibu,” jelasku lagi.
Hari-hari
berlalu ayah juga belum bisa membayar tunggakan utangnya, gaji ayah belum bisa
untuk melunasi hanya bisa untuk membiayai sekolahku dan mencukupi kebutuhan
makan keluarganya. Jalan satu-satunya ayah menggadaikan rumah, tanpa
sepengetahuan aku dan ibu. Hingga suatu hari ada salah satu pegawai datang ke
rumah untuk menyita rumah kami dan barang-barang yang ada didalamnya.
Ibu dan aku sangat
kaget melihat kedatangan mereka.
“Bisa saya
bantu, ada keperluan apa bapak datang kerumah ini,” tanya ibu.
“Maaf bu, rumah
dan barang-barang yang ada dalam rumah ini kami sita, karena tidak dapat
membayar hutang,” jawab pegawai itu dengan nada tinggi.
Aku hanya bisa
pasrah melihat pegawai-pegawai itu mengangkati barang-barang yang tak seberapa
kami miliki diangkat oleh petugas ke dalam mobil pick-up.
“Pak, beri kami
waktu dua hari untuk tinggal sementara di rumah ini kami belum mempunyai tempat
tinggal selain rumah ini pak.” ucap ibu memelas.
Bapak itu
menyetujui permintaan ibu untuk masih bisa tinggal satu atau dua hari di rumah
ini. Aku lihat salah seorang dari mereka menempelkan kertas bertuliskan rumah
ini di sita.
Ibu kemudian masuk ke kamar dan aku
lihat air mata ibu jatuh begitu banyaknya. Aku merasa sangat kasihan melihat
ibu seperti itu.
Jam menunjukan
pukul setengah tujuh, ayah pulang dari kantornya kaget melihat seisi rumah
kosong tak ada barang-barang yang menghiasinya. Namun sebenarnya dia tahu apa
yang sudah terjadi sore tadi.
“Kenapa rumah kita kamu gadaikan
mas?” tanya ibu dengan nada tinggi.
“Aku bingung darimana lagi kita
membayar semua utangku ke bank, penghasilanku saja minus untuk
membayarnya,”bentak ayah.
“Tapi kan kamu perlu menceritakan
sama aku dan juga Dila,” jawab ibu dengan menggunakan nada yang tinggi.
“Alaahhh kamu ini bisanya cuma
protes nggak bisa memcahkan masalah,”ucap ayah kesal.
“Kerjaan kamu cuman masak, bersih-bersih rumah, aku juga bisa melakukan itu semua,”tambahnya.
“Kerjaan kamu cuman masak, bersih-bersih rumah, aku juga bisa melakukan itu semua,”tambahnya.
Ibu semakin menangis menjadi, hati
ibu sakit mendengar kata-kata yang dilontarkan ayah. Ayah meninggalkan ibu
masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamar.
Aku sebagai seorang anak sedih
melihat orang tuaku bertengkar hebat seperti itu.
Dua hari setelahnya kami tinggal di
rumah kontrakan yang tak seluas dari rumahku yang dulu. Ibu pun berencana untuk
membuka tempat facial dan potong rambut di rumah kontrakan itu untuk memberikan
pemasukan keluarga dan membantu ayah menutupi sisa utang. Meskipun ibu sekarang
hanya ibu rumah tangga, tetapi ibu dulu semasih jaman mudanya ibu sering
menghadiri ke acara seminar tentang salon dan hal- hal sejenis tersebut.
Maklumlah ibu dulunya juga lulusan dari SMK jurusan tata kecantikan, jadi Ibu
cukup mahir dalam salon-menyalon. Modal yang ibu dapat untuk membuka tempat
facial dan salon didapat dengan ibu meminjam adik ibu, tak terlalu besar ibu
meminjam uang untuk modal tersebut. Tidak hanya itu, ibu ku juga menjual baju
kepada tetangga-tetangga dengan sistem kredit. Ibu mendapatkan baju itu dari
teman akrabnya sewaktu bekerja. Ibu hanya menjualkan dan keuntungan dari
penjuakan tersebut hasilnya dibagi dua sama rata. Aku juga berusaha untuk
menjualkan es-es di warung-warung terdekat rumah tinggal kami.
Terlalu banyak
waktu yang ku sia-sia campakan. Hingga sampai pada akhirnya akan seperti ini.
Aku terlalu banyak menampik, aku terlalu banyak berkilah, terlalu banyak
menutup mata dan telinga. Aku hanya seorang anak yang manja yang hanya bisa
meminta ini itu, hingga saat semuanya akan terbalik. Aku tak sanggup berbuat
banyak hal.
Ujian nasional
pun sudah didepan mata. Aku selalu belajar untuk bisa lulus dan mendapatkan
nilai baik, walaupun keadaanku seperti ini. Selain itu pendaftaran untuk
melanjutkan ke universitas negeri sudah di buka. Dengan semangatnya aku dan
Putri mendaftar universitas yang kami ingingkan. Putri mendaftar ke Universitas
Diponegoro dan aku mendaftar ke Universitas Gadjah Mada. Dengan uang tabungan
ku yang masih aku membayar pendaftaran itu sendiri tanpa meminta ke orang tua.
“Dilla kamu
sudah selesai mendaftarnya,” tanya Putri.
“Bentar Put, ini lagi mengisi, kamu
udah,” tanyaku.
“Sudah dong,” jawab Putri sambil
senyum.
“Bantuin ngisi sini Put,” pintaku.
“Ngomong-ngomong kamu mau ngambil
universitas mana Dil,” tanya Putri lagi sambil duduk disebelahku.
“Aku sih kepinginnya di UGM, kalau
kamu sih?” ucapku
“Aku di Undip aja sih yang deket
biar bisa bolak-balik kerumah,” jawabnya sambil ketawa.
“ Yee dasar anak mami, nggak bisa
hidup mandiri hahaha,” ejekku.
“Yaa enggak kok ye, kamu kali,”
“Oh ya Dil, ntar aku pulangnya ke
rumahmu ya, aku minta tolong jelasin cara menjelasakn pelajaran Bahasa
Indonesia yang tadi di ajarkan pak Agus,” jelas Putri.
“Eh iya Put, tapi sekarang aku udah
nggak tinggal di rumah yang dulu ,”jawabku mengiyakan.
“Emang kenapa Dil? Sekarang kamu tinggal dimana ?” tanyanya
kaget.
“Rumah yang dulu di sita Put, buat
nutupin utang ayah, sekarang aku tinggal di rumah kontrakan,” jawabku
menjelasakann pertannyaan Putri.
“Ya Allah, yang sabar ya Dil, tetap
semangat Tuhan pasti punya rencana lain dari semua kejadian yang menimpa
kelaugamu saat ini.”kata Putri menyemangatiku dengan senyuman.
“Meskipun keadaanku berbeda jauh
dari yang dulu aku masih tetap bersyukur, apa pun keadaanya aku tetap
bersemangat,”sambil membalas senyuman Putri.
Aku pun selesai
mengisikan blangko pendaftaran ke perguruan tinggi, aku meninggalkan ruangan BP
dan menuju kelas.
Jam menunjukkan
setengah dua, aku keluar kelas dan menuju ke koridor depan kelas Putri,
sebelumnya dia sudah bilang untuk menunggunya di depan kelas. Tak lama aku
menunggu, aku dan Putri menuju ke halaman parkiran. Dalam hatiku aku rindu
seperti dulu saat masih menggunakan motor ke sekolah, ah tapi sudahlah aku juga
masih bisa berangkat dan pulang sekolah menggunakan angkot.
Sesampainya di rumah aku
mempersilahkan masuk Putri. Ibu menyambut kedatanganku dan Putri. Aku berjalan
ke arah belakang untuk membuatkan Putri minum.
“Hai Putri, kok Kamu baru kelihatan
kemana aja,” sapa ibuku.
“Iya tante, Putri baru sempat main
sekarang tante, Maaf ya tante, soalnya banyak tugas sekolah,” jawab Putri.
“Oh kaya gitu, bentar ya tante
buatin makanan untuk kalian,” kata ibu.
“Eh nggak usah repot-repot tante
Putri baru aja makan,” Putri mengelak.
Tapi ibu tetap beranjak kebelakang
untuk membuatkan makanan. Aku pun mempersilahkan Putri untuk meminum es sirup
yang sudah aku buatkan tadi.
“Dila, sekarang ibumu buka salon?”
tanya Putri.
“Iya Put, buat tambahan
penghasilan,” jawabku singkat.
“Kalo gitu kenapa kita nggak
promosiin aja salon ibu kamu ke teman-teman kita apalagi sebentar lagi kita kan
ada acara perpisahan kelas,”jelas Putri memberikan ide.
“Wah pintar juga kamu Put, iya deh
ntar kita promosin ke teman-teman, semoga aja meraka mau,” ucap Dila semangat.
Tak lama kemudian ibu datang membawa
makanan, kami pun menyatap hidangan ibu dengan lahapnya. Setelah itu kami
berdua belajar bareng di kamar kecilku dan ibu memulai aktivitasnya kembali di
salon. Alhamdulillah satu minggu salon yang ibu buka sudah ada beberapa
pelanggan yang datang. Tangan Ibu trampil untuk memotong rambut sesuai dengan
keinginan pelanggan. Pelanggan pun merasa puas dengan hasil potongan rambut
ibu.
Detik berganti
menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Tibalah saatnya Ujian Nasional
dimana hal ini adalah sebagai penentu masa depan kita dan hanya di tentukan
oleh 4 hari saja. Empat hari aku selalu berkutat dengan buku-buku yang berbau
ujian nasional. Penat jenuh memang yang ku rasakan. Tapi aku selalu ingat
dengan moivasiku aku harus semangat lulus dengan nilai baik dan bisa untuk
memasuki perguruan tinggi yang aku impikan. Selain itu aku harus bisa
membanggakan kedua orang tuaku, walau pun dengan keadaan jauh berbeda saat aku
mengikuti ujian nasional sewaktu aku masih SMP
Hari pengumuman
kelulusan tiba Alhamdulillah, aku lulus dengan nilaiku yang memusakan, dua hari
menjelang kelulusan pengumuman dari Universitas pun di buka. Alhamdulillah lagi
aku bisa ketrima di UGM di jurusan ilmu gizi.
“Alhamdulillah
Put aku ketrima di UGM”, kataku ke Putri sambil memeluk.
“ Aku ikut
senang Dil, kamu memang pintar, ucapnya seraya memelukku.
Dengan begitu aku harus selalu rajin
belajar untuk bisa mendapatkan beasiswa dan setidaknya aku membantu orang tuaku
dengan bekerja selama aku kuliah disana.
Orang tua ku bahagia mendengar kabar
tersebut. Utang ayahku juga semakin menipis karena bantuan ibu, salon yang ibu
buka laris di rumah kontrakan ku sekarang dan begitu juga baju-baju ibu yang
jualkan secara kredit bisa untuk memberikan kehidupan.
Maaf Tuhan, tak
sedikitpun aku menyesal karena keadaanku yang kurang berkecukupan. Aku tak pernah
berhenti memohon pada-Mu.
Bahwa suatu hari
Kau akan beri aku luang untuk berdamai dengan sang waktu.
Dan aku percaya itu. Sesulit keadaanya, kalau tidak ada yang mengeluh pasti akan terasa lebih ringan.
Dan aku percaya itu. Sesulit keadaanya, kalau tidak ada yang mengeluh pasti akan terasa lebih ringan.
No comments:
Post a Comment