Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Hidup Seperti Roda Berputar" Karya : Santika


SANTIKA
Hidup  Seperti Roda Berputar
Keluargaku hidup berkecukupan. Tapi semua itu berubah ketika ayah berhenti kerja dari kantor lamanya karena ada masalah. Di kantor barunya yang sekarang penghasilan ayah nggak sebesar dari kantornya yang dulu. Suatu hari ada orang dari pihak bank menelpon ayah yang bilang kalau ayah punya tunggakan kartu kredit yang cukup besar. Aku dan ibu sama kagetnya mendengar berita tersebut, karena kami merasa selama ini tidak ada masalah apapun dalam keluargaku.
“Ayah melakukan ini semua demi kalian agar tidak kekurangan,” jelas ayah.
“Tapi yah, ayah tidak perlu melakukan kredit secara berlebihan sehingga begini kan resiko yang kita terima,” sanggah ibu.
“Namun, ayah ingin melihat kalian hidup bahagia bu,” sanggah ayah.
Ibu pun langsung lari kedalam kamar  dan mengunci pintunya. Setelah kejadian itu aku sering mendengar pertengkaran ayah dan ibu.  Mungkin ibu  kaget mendengar kabar tersebut, belum bisa mengerti kenapa ayah melakukan ini semua.
Ketika suatu hari akibat dari tunggakan itu, telpon rumahku pun di cabut karena tidak sanggup untuk membayar utang ayah. Segala macam cara di lakukan untuk menutup utang dan melanjutkan hidup. Barang-barang antik yang terdapat didalam rumah di jual untuk keperluan kita sehari-hari.
Pagi ini ketika aku berangkat sekolah biasanya aku selalu memakai kendaraan sendiri kesekolah, namun pagi ini aku berangkat ke sekolah menggunakan angkot. Sekarang aku masih duduk di bangku kelas 12 SMA dan sebentar lagi akan lulus. Aku tetap berkeinginan untuk melanjutkan kuliah di Universitas yang aku inginkan. Maka dari itu biarpun keadaan keluargaku  sedang kacau aku harus tetap bersemangat sekolah meskipun aku harus rela naik angkot, karena motor yang ayah belikan dulu dijual.
“Dilaaa,” sapa temanku dari jauh.
“iyaa,” jawabku sambil mencari arah suara yg memanggilku.
“Dila, aku ntar siang pulangnya ikut kamu ya karena hari ini aku nggak bawa motor,” jelas Putri temanku yang memanggilku tadi.
“Maaf Put, aku juga nggak bawa motor hari ini, tadi aku kesini naik angkot,” jawabku menjelaskan.
“Tumben kamu Dil, nggak bawa motor ke sekolah, kenapa?”, tanya Putri kembali.
“Enggak kenapa-kenapa kok Put, mungkin mulai sampai saat ini dan seterusnya aku berangkat ke sekolah nggak pakai motor lagi Put,” jelasku
“eehh..emang kenapa Dil,” tanyanya serius.
“teeeettttt,”
Belum sempat aku menjelaskan bel tanda masuk berbunyi.
“Iya, Put ntar aku jelaskan di kantin saat istirahat nanti,” ucapku sambil berjalan ke arah kelasku.

Tak terasa tiga jam pelajaran aku ikuti, bel tanda istirahat pun berbunyi. Aku berjalan menemui Putri ke kelasnya. Kita memang tidak sekelas Aku 12 IPA 1 dan dia kelas 12 IPS 3, dulu kita sekelas saat masih duduk di kelas 10, dia sahabatku, dia pun sering bermain di rumahku, begitupun sebaliknya entah untuk mengerjakan tugas atau hanya bermain menghilangkan kejenuhan saat pulang sekolah. Aku pun sering curhat ke dia tentang masalah-masalahku, Putri pun juga sama sering curhat masalah-masalah yang dia punya ke aku.
“Putri ayo ke kantin,” ajaku
“Oke Dila ayok, aku juga udah laper banget ini,” ucapnya.
Sesampai di kantin aku dan Putri memesan makanan, sambil menunggu makanan datang kita mengobrol. Banyak hal yang kita omongin, termasuk tentang kenapa aku hari ini tidak membawa motor ke sekolah sendiri.
“Apa?” tanyanya kaget.
“Iya Put, motorku di jual sama ayah untuk membayar hutangnya,” jelasku lagi.
“Kamu tetap yang sabar ya Dil, meskipun keadaan keluarga mu masih dalam kondisi seperti ini kamu tetap bersemangat, raih cita-citamu Dil, sebentar lagi kita ujian nasional, jangan patah semangat ya Dil,” jelas dia menyemangatiku.
“Makasih ya Put, sudah kasih aku semangat dan saran, aku akan tetep bersemangat Dil, Aku akan lulus lalu masuk ke kampus yang aku inginkan,”tambahku seraya tersenyum.
Putri memang sahabatku yang baik, dia selalu mengerti kondisi dalam kondisi senang, sedih atau apapun.
Pulang sekolah aku dan Putri bersama menaiki angkot, rumah kita juga satu arah.
“Assalamualaikum,” salamku dari luar rumah.
“Waalaikumsalam,” sahut ibuku dari dalam.
“Dila, kamu udah pulang,” tanya ibu.
“Udah bu,” jawabku sambil masuk ke dalam kamar.
“Ayo makan siang dulu, ibu sudah membikin lauk seadanya,” perintah ibu.

Diatas meja makan aku lihat cuma ada terdapat lauk tempe, tahu goreng sambal dan sayur asam. Aku pun memakannya, kondisi keluarga ku memang benar-benar berbeda dari yang dahulu. Jarang sekali ibu memasak lauk seperti ini, bahkan mungkin tidak pernah, kalau pun pernah pasti akan ada tambahan ikan gurame, atau ayam untuk mencukupi giziku. Tapi aku tetap bersyukur sama Allah. keluargaku masih di beri rezeki dan kami masih bisa untuk makan.
“Maaf ya nak, ibu hanya bisa memberimu makan lauk seadanya gini,” ucap ibu tiba-tiba.
“Aku tidak masalah kok bu, meskipun seperti ini kita masih tetap bisa makan,” jawabku meringankan perasaan ibu.
“Kamu memang anak baik dan penurut Dil, andai saja ayah dulu tak meminjam uang kredit sebesar itu, keluarga kita masih bisa sama keluarga yang pada umumnya,” jelas ibu menyesal.
“Kita tak perlu menyesali apa yang sudah di takdirkan oleh Allah bu, ini semua mungkin jalan dari Allah untuk kita,”
Ibu hanya bisa meneteskan airmata, ibu mungkin merasa kasihan terhadapku.
“Ibu tak perlu memikirkan aku, aku masih bersyukur ibu,” jelasku lagi.

Hari-hari berlalu ayah juga belum bisa membayar tunggakan utangnya, gaji ayah belum bisa untuk melunasi hanya bisa untuk membiayai sekolahku dan mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Jalan satu-satunya ayah menggadaikan rumah, tanpa sepengetahuan aku dan ibu. Hingga suatu hari ada salah satu pegawai datang ke rumah untuk menyita rumah kami dan barang-barang yang ada didalamnya.
Ibu dan aku sangat kaget melihat kedatangan mereka.
“Bisa saya bantu, ada keperluan apa bapak datang kerumah ini,” tanya ibu.
“Maaf bu, rumah dan barang-barang yang ada dalam rumah ini kami sita, karena tidak dapat membayar hutang,” jawab pegawai itu dengan nada tinggi.
Aku hanya bisa pasrah melihat pegawai-pegawai itu mengangkati barang-barang yang tak seberapa kami miliki diangkat oleh petugas ke dalam mobil pick-up.
“Pak, beri kami waktu dua hari untuk tinggal sementara di rumah ini kami belum mempunyai tempat tinggal selain rumah ini pak.” ucap ibu memelas.
Bapak itu menyetujui permintaan ibu untuk masih bisa tinggal satu atau dua hari di rumah ini. Aku lihat salah seorang dari mereka menempelkan kertas bertuliskan rumah ini di sita.
            Ibu kemudian masuk ke kamar dan aku lihat air mata ibu jatuh begitu banyaknya. Aku merasa sangat kasihan melihat ibu seperti itu.
           
Jam menunjukan pukul setengah tujuh, ayah pulang dari kantornya kaget melihat seisi rumah kosong tak ada barang-barang yang menghiasinya. Namun sebenarnya dia tahu apa yang sudah terjadi sore tadi.
            “Kenapa rumah kita kamu gadaikan mas?” tanya ibu dengan nada tinggi.
            “Aku bingung darimana lagi kita membayar semua utangku ke bank, penghasilanku saja minus untuk membayarnya,”bentak ayah.
            “Tapi kan kamu perlu menceritakan sama aku dan juga Dila,” jawab ibu dengan menggunakan nada yang tinggi.
            “Alaahhh kamu ini bisanya cuma protes nggak bisa memcahkan masalah,”ucap ayah kesal.
            “Kerjaan kamu cuman masak, bersih-bersih rumah, aku juga bisa melakukan itu semua,”tambahnya.
            Ibu semakin menangis menjadi, hati ibu sakit mendengar kata-kata yang dilontarkan ayah. Ayah meninggalkan ibu masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamar.
            Aku sebagai seorang anak sedih melihat orang tuaku bertengkar hebat seperti itu.

            Dua hari setelahnya kami tinggal di rumah kontrakan yang tak seluas dari rumahku yang dulu. Ibu pun berencana untuk membuka tempat facial dan potong rambut di rumah kontrakan itu untuk memberikan pemasukan keluarga dan membantu ayah menutupi sisa utang. Meskipun ibu sekarang hanya ibu rumah tangga, tetapi ibu dulu semasih jaman mudanya ibu sering menghadiri ke acara seminar tentang salon dan hal- hal sejenis tersebut. Maklumlah ibu dulunya juga lulusan dari SMK jurusan tata kecantikan, jadi Ibu cukup mahir dalam salon-menyalon. Modal yang ibu dapat untuk membuka tempat facial dan salon didapat dengan ibu meminjam adik ibu, tak terlalu besar ibu meminjam uang untuk modal tersebut. Tidak hanya itu, ibu ku juga menjual baju kepada tetangga-tetangga dengan sistem kredit. Ibu mendapatkan baju itu dari teman akrabnya sewaktu bekerja. Ibu hanya menjualkan dan keuntungan dari penjuakan tersebut hasilnya dibagi dua sama rata. Aku juga berusaha untuk menjualkan es-es di warung-warung terdekat rumah tinggal kami.

Terlalu banyak waktu yang ku sia-sia campakan. Hingga sampai pada akhirnya akan seperti ini. Aku terlalu banyak menampik, aku terlalu banyak berkilah, terlalu banyak menutup mata dan telinga. Aku hanya seorang anak yang manja yang hanya bisa meminta ini itu, hingga saat semuanya akan terbalik. Aku tak sanggup berbuat banyak hal.

Ujian nasional pun sudah didepan mata. Aku selalu belajar untuk bisa lulus dan mendapatkan nilai baik, walaupun keadaanku seperti ini. Selain itu pendaftaran untuk melanjutkan ke universitas negeri sudah di buka. Dengan semangatnya aku dan Putri mendaftar universitas yang kami ingingkan. Putri mendaftar ke Universitas Diponegoro dan aku mendaftar ke Universitas Gadjah Mada. Dengan uang tabungan ku yang masih aku membayar pendaftaran itu sendiri tanpa meminta ke orang tua.
           
“Dilla kamu sudah selesai mendaftarnya,” tanya Putri.
            “Bentar Put, ini lagi mengisi, kamu udah,” tanyaku.
            “Sudah dong,” jawab Putri sambil senyum.
            “Bantuin ngisi sini Put,” pintaku.
            “Ngomong-ngomong kamu mau ngambil universitas mana Dil,” tanya Putri lagi sambil duduk disebelahku.
            “Aku sih kepinginnya di UGM, kalau kamu sih?” ucapku
            “Aku di Undip aja sih yang deket biar bisa bolak-balik kerumah,” jawabnya sambil ketawa.
            “ Yee dasar anak mami, nggak bisa hidup mandiri hahaha,” ejekku.
            “Yaa enggak kok ye, kamu kali,”
            “Oh ya Dil, ntar aku pulangnya ke rumahmu ya, aku minta tolong jelasin cara menjelasakn pelajaran Bahasa Indonesia yang tadi di ajarkan pak Agus,” jelas Putri.
            “Eh iya Put, tapi sekarang aku udah nggak tinggal di rumah yang dulu ,”jawabku mengiyakan.
            “Emang kenapa Dil?  Sekarang kamu tinggal dimana ?” tanyanya kaget.
            “Rumah yang dulu di sita Put, buat nutupin utang ayah, sekarang aku tinggal di rumah kontrakan,” jawabku menjelasakann pertannyaan Putri.
            “Ya Allah, yang sabar ya Dil, tetap semangat Tuhan pasti punya rencana lain dari semua kejadian yang menimpa kelaugamu saat ini.”kata Putri menyemangatiku dengan senyuman.
            “Meskipun keadaanku berbeda jauh dari yang dulu aku masih tetap bersyukur, apa pun keadaanya aku tetap bersemangat,”sambil membalas senyuman Putri.
Aku pun selesai mengisikan blangko pendaftaran ke perguruan tinggi, aku meninggalkan ruangan BP dan menuju kelas.

Jam menunjukkan setengah dua, aku keluar kelas dan menuju ke koridor depan kelas Putri, sebelumnya dia sudah bilang untuk menunggunya di depan kelas. Tak lama aku menunggu, aku dan Putri menuju ke halaman parkiran. Dalam hatiku aku rindu seperti dulu saat masih menggunakan motor ke sekolah, ah tapi sudahlah aku juga masih bisa berangkat dan pulang sekolah menggunakan angkot.

            Sesampainya di rumah aku mempersilahkan masuk Putri. Ibu menyambut kedatanganku dan Putri. Aku berjalan ke arah belakang untuk membuatkan Putri minum.
            “Hai Putri, kok Kamu baru kelihatan kemana aja,” sapa ibuku.
            “Iya tante, Putri baru sempat main sekarang tante, Maaf ya tante, soalnya banyak tugas sekolah,” jawab Putri.
            “Oh kaya gitu, bentar ya tante buatin makanan untuk kalian,” kata ibu.
            “Eh nggak usah repot-repot tante Putri baru aja makan,” Putri mengelak.
            Tapi ibu tetap beranjak kebelakang untuk membuatkan makanan. Aku pun mempersilahkan Putri untuk meminum es sirup yang sudah aku buatkan tadi.
            “Dila, sekarang ibumu buka salon?” tanya Putri.
            “Iya Put, buat tambahan penghasilan,” jawabku singkat.
            “Kalo gitu kenapa kita nggak promosiin aja salon ibu kamu ke teman-teman kita apalagi sebentar lagi kita kan ada acara perpisahan kelas,”jelas Putri memberikan ide.
            “Wah pintar juga kamu Put, iya deh ntar kita promosin ke teman-teman, semoga aja meraka mau,” ucap Dila semangat.
            Tak lama kemudian ibu datang membawa makanan, kami pun menyatap hidangan ibu dengan lahapnya. Setelah itu kami berdua belajar bareng di kamar kecilku dan ibu memulai aktivitasnya kembali di salon. Alhamdulillah satu minggu salon yang ibu buka sudah ada beberapa pelanggan yang datang. Tangan Ibu trampil untuk memotong rambut sesuai dengan keinginan pelanggan. Pelanggan pun merasa puas dengan hasil potongan rambut ibu.
           
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Tibalah saatnya Ujian Nasional dimana hal ini adalah sebagai penentu masa depan kita dan hanya di tentukan oleh 4 hari saja. Empat hari aku selalu berkutat dengan buku-buku yang berbau ujian nasional. Penat jenuh memang yang ku rasakan. Tapi aku selalu ingat dengan moivasiku aku harus semangat lulus dengan nilai baik dan bisa untuk memasuki perguruan tinggi yang aku impikan. Selain itu aku harus bisa membanggakan kedua orang tuaku, walau pun dengan keadaan jauh berbeda saat aku mengikuti ujian nasional sewaktu aku masih SMP

Hari pengumuman kelulusan tiba Alhamdulillah, aku lulus dengan nilaiku yang memusakan, dua hari menjelang kelulusan pengumuman dari Universitas pun di buka. Alhamdulillah lagi aku bisa ketrima di UGM di jurusan ilmu gizi.

“Alhamdulillah Put aku ketrima di UGM”, kataku ke Putri sambil memeluk.
“ Aku ikut senang Dil, kamu memang pintar, ucapnya seraya memelukku.

            Dengan begitu aku harus selalu rajin belajar untuk bisa mendapatkan beasiswa dan setidaknya aku membantu orang tuaku dengan bekerja selama aku kuliah disana.
            Orang tua ku bahagia mendengar kabar tersebut. Utang ayahku juga semakin menipis karena bantuan ibu, salon yang ibu buka laris di rumah kontrakan ku sekarang dan begitu juga baju-baju ibu yang jualkan secara kredit bisa untuk memberikan kehidupan.
Maaf Tuhan, tak sedikitpun aku menyesal karena keadaanku yang kurang berkecukupan. Aku tak pernah berhenti memohon pada-Mu.
Bahwa suatu hari Kau akan beri aku luang untuk berdamai dengan sang waktu.
Dan aku percaya itu. Sesulit keadaanya, kalau tidak ada yang mengeluh pasti akan terasa lebih ringan.

No comments:

Post a Comment