Nur Indah Sholikhati
SENANDUNG NADA
CINTA
So I lay my head back down,
And I lift my hands and pray
To be only yours I pray, to be only
yours I know now, you’re my only hope
Sontak aku terkejut mendengar suara merdu yang sayup-sayup terbawa angin.
Aku yang duduk di bawah pohon rindang ini mencari sumber suara yang mengalunkan
lagu tadi. Aku berdiri mengecek sekeliling, berharap menemukan sumber suara
yang menyita perhatianku.
Sempat kutangkap sosok perempuan berkaos hitam dengan rambut yang diikat
ekor kuda dari kejauhan. Dia berjalan menuju kampus seni musik sambil
menyanyikan lagu Pupus. Aku hanya mampu menatapnya dari kejauhan. Entah apa
yang membuatku begitu tertarik dengan perempuan yang bahkan aku belum sempat bertemu
sebelumnya.
“Hey, Ga! Ngapain lo disini? Kesurupan tau rasa lo.” Panggil Dick
mengagetkanku. Dicky, salah satu temanku berambut gondrong yang suka muncul
tiba-tiba dan ngagetin.
“Nggak ngapa-ngapain. Eh lo tau nggak, tadi gue liat cewek lho.” Kataku.
“Cewek apaan? Sepi ini. Udah deh mendingan balik ke kelas aja, udah jam
satu lebih nih, nggak usah bikin cerita horor di siang bolong.” Kata Dicky
sambil menepuk bahuku.
Aku mengikutinya dan sesekali kutengok ke belakang berharap melihat cewek
tadi.
Sepulang kuliah aku langsung balik ke kos, mengambil sepasang sepatu roda
dan pergi lagi ke tempat main sepatu roda dengan teman-teman. Kupasang headset
mp3 sambil menikmati hembusan angin yang membelai wajahku saat aku melaju
dengan sepatu roda hitamku. Setelah beberapa kali putaran, aku kembali ke
berkumpul dengan teman-temanku.
“Tuh Ga, lo dilirik Mely mulu tuh.” goda Arman sambil nunjukin dimana
Mely berada.
“Ah ngelirik lo kali.” Jawabku simpel.
“Emang lo gak tertarik ama Mely? Dia cewek paling cantik and seksi di kampus kita. Banyak cowok
yang ditolak gara-gara dia naksir lo tuh.” Kata Arman lagi.
“Enggak.” Jawabku sambil senyum.
“Rega tuh naksirnya ama cewek penghuni belakang kampus kita.” Dicky
menimpali.
“Mbak kunti maksud lo?” tanya Feri disusul tawa teman-teman.
Sesaat aku ingat lagi dengan cewek yang kulihat tadi siang di belakang
kampus. Siapa ya dia? Tiba-tiba aku tersenyum mengingat suara nyanyiannya.
“Ngapain lo senyum-senyum? Tuh kan udah kesambet.”goda Dicky lagi.
“Udah ah, capek gue. Pulang yuk ah, udah mo malem nih.” Kataku sambil
berdiri.
“Oke, besok kuliah jam berapa, Guys?” tanya Feri.
“Kebiasaan deh lo, jam sembilan kayaknya. Gue balik dulu ya.” Kataku
meninggalkan markas pinggir jalan dengan diikuti Dicky, karena kami memang satu
kos.
Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aneh memang, tapi aku tak
mau ambil pusing. Setelah mandi aku cuma pakai kaos cokelat oblong dan jeans
hitam. Rambut kusisir gaya spikes seperti biasanya, lalu aku berangkat pada jam
yang menurutku masih pagi.
Di depan gerbang kampus aku bertabrakan dengan cewek sampai biola dan
kertas paranadanya terjatuh. Sekilas kuperhatikan wajahnya yang terlihat lugu
dan lembut dengan kacamata ber-frame putih. Rambut panjang yang masih
acak-acakan seolah menandakan kalau dia terburu-buru. Setelah kubantu mengumpulkan
kertas paranadanya, dia langsung mengucapkan terima kasih dan berlalu menuju
kampus seni musik.
Kelas desain masih setengah jam lagi. Aku menyetel musik di mp3 sambil
duduk di bawah pohon beringin di samping kampus menikmati suasana sepi ini.
Lalu aku mendengar nada ‘Only Hope’dari
gesekan biola dengan lembut. Aku melepaskan headset dari telingaku. Aku
berjalan ke belakang kampus dan kutemukan seorang cewek yang sedang memainkan
biolanya di bawah pohon beringin yang tidak terlalu lebat. Aku sangat menikmati
permainan biolanya.
Aku mengambil kertas gambar dan pensil dari tas dan mulai melukis cewek –
yang entah siapa namanya – itu dari kejauhan. Kugoreskan pensil pada kertas
polos putih itu sampai tergambar sesosok wanita yang anggun dengan biola di
pundak kirinya.
Setelah kuperhatikan lagi dengan teliti, aku seperti pernah melihat cewek
ini, dan ingatanku tertuju pada cewek yang tadi pagi menabrakku. Aku sudah
tidak bisa menahan diriku untuk mengenalnya lebih dekat. Aku berjalan pelan
mendekatinya.
“Hai, permainan biolamu bagus.” Pujiku sambil tersenyum.
Dia terlihat terkejut dan langsung menghentikan permainannya dan
menundukkan kepalanya. Diraihnya tas hitam dan dimasukkannya kertas paranada
yang tercecer di luar tas.
“Maaf, aku mengganggu kakak ya? Maaf.” Ucapnya sambil menundukkan
kepalanya.
“Oh enggak kok. Aku malah menikmati alunan permainan biola kamu.
Sungguh.”
“Maaf ya kak, aku pergi dulu kalau begitu.” Kata cewek itu dengan wajah
yang masih menunduk. Seolah dia ketakutan atau hanya malu.
“Mau kemana? Disini aja mainnya, kalau disini tak akan ada yang
mengganggu.”
“Emm.. tapi kak?” katanya lagi sambil menegakkan mukanya ke arahku.
Deg.. deg..
Jantungku langsung berdebar begitu melihat mukanya secara langsung dan
detail. Aku berusaha menyembunyikan kegugupanku yang tiba-tiba muncul ini.
“Oh emm.. boleh tau, namamu siapa ya? Kok aku baru liat kamu akhir-akhir
ini aja?” tanyaku mengalihkan topik.
“Nada, kak.” Jawabnya singkat sambil menundukkan kepalanya.
“Semester berapa? Anak musik ya? Kenalin gue Rega.” Salamku dengan
senyuman.
“Masih semester 3 kak.” Jawabnya sambil memasukkan biola ke dalam tas
biolanya.
“Terus, ngapain kamu disini jam segini? Nggak ada kuliah?” tanyaku lagi.
Aku terlalu bersemangat untuk mengenalnya.
“Aku terlambat tadi, Kak. Makanya aku nggak dibolehin masuk kelas. Ya
kesinilah aku kalau nggak ada kelas. Hehe.” Ujar Nada diikuti senyum lucunya.
“Oh lain kali sering-sering kesini aja, biar aku bisa sering dengerin
kamu main alat musik.” Kataku ramah.
“Iya Kak. Lha emangnya kakak ini nggak ada kelas?” tanyanya heran.
Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku. Sembilan lebih empat
belas menit!
“Hah? Aku juga dah telat nih! Aku pergi dulu ya Nad, salam kenal. Kapan –
kapan main bareng disini ya.” Kataku sambil setengah berlari dan tetap
melemparkan senyum termanis padanya. Dan hanya kulihat senyuman dari wajah Nada
dari kejauhan.
Setelah perkenalanku dengan Nada, aku jadi lebih bersemangat berangkat
kuliah pagi. Entah karena aku memang sudah rajin atau cuma ingin bertemu si
Nada. Dicky yang melihat kelakuan baruku ini jadi heran, karena biasanya dulu
aku selalu berangkat bareng dia mulu.
“Hai , Nada. Udah lama disini? Nggak ada kelas ya?” tanyaku sambil
meletakkan tas di bangku belakang kampus, tempat kita berdua biasa nongkrong.
“Eh Kak Rega, nggak ada kelas kok. Lha kakak nggak ada kelas?” tanyanya
sambil membenarkan kacamatanya.
“Ada, tapi entar jam sembilan. Lagi ngapain nih?” tanyaku sambil melihat
kertas paranada yang sedang dikerjakan Nada.
“Oh ini, aku sih cuma iseng-iseng mau ikutan lomba cipta lagu tingkat
kampus, ya syukur-syukur dapet duit buat beli sepeda. Hehehe.” jelas Nada
disusul tawa manisnya.
“Wah keren dong. Gue doain deh menang ya, kalo menang jangan lupa
traktirannya.” Dukungku dengan candaan.
“Siapp pak bos, tapi aku nggak mau terlalu banyak berharap, secara gitu
lawanku pasti sudah pada ahli.” Katanya seolah pesimis.
“Menang kalah sih sama aja, setidaknya kamu udah mau berusaha itu udah
hebat hlo. Semangat dong, jangan pesimis dulu.” Kataku sambil mengacak-acak
rambutnya.
“Iya deh, iya Kak. Udah ah aku mau bikin ini dulu, Kak Rega ngapain gih
sana. Hehe”
“Iya deh aku mau bikin sketsa aja, nggak mau ganggu bos kecil
berkarya.hahaha.” kataku lalu mengambil kertas gambar dan diam – diam
menggambar Nada yang sedang berpikir sambil mencoba mengepaskan nada-nada
biolanya.
Lalu kami pun sibuk dengan aktivitas masing-masing, aku dengan kertas
gambarku dan Nada sibuk dengan biolanya.
‘Kak, hsil cipta laguku udh kukirim
nih. Mhon doanya ya J’
Isi pesan singkat dari Nada, setelah aku berhasil minta nomer hp-nya dua
minggu lalu.
‘Iya, gue doain semoga lolos ya
Nad.’ Balesku.
Malam ini aku sedikit heran karena tumben Nada sms aku lebih dulu. Tapi
hal ini justru membuat aku tak bisa tidur semalam. Berusaha menerka-nerka
apakah Nada juga ada rasa padaku atau hanya sekadar merasa nyaman berteman
denganku.
Lima hari setelah Nada mengirimkan
karyanya untuk lomba, pagi inilah hari pengumuman hasil lomba tersebut. Aku
yang penasaran dengan hasil pengumumannya, buru-buru ingin menemui Nada, tiba-tiba
berhenti dan berjalan pelan mendekatinya yang sedang terduduk menunduk di
bangku biasa kita bertemu. Aku melihat Nada seperti bersedih dengan selembar
kertas yang di pegang erat di tangan kirinya.
“Nada?” sapaku pelan.
“Eh Kak Ega.” Jawabnya terkejut setelah menyadari aku sudah berdiri di
sampingnya.
Aku meraih kertas dari tangan Nada dan membacanya dengan sungguh-sungguh.
Aku baru menyadari bahwa pengumuman ini berisi pemberitahuan bahwa Nada lolos
ke dalam lima besar dan harus menampilkan karyanya untuk menentukan
pemenangnya.
“Nad, kamu lolos? Kamu lolos Nada! Puji Syukur! Kamu lolos ini Nad!
Selamat yaa!” ucapku yang tanpa sengaja memeluk Nada saking bahagianya. Tiba -
tiba aku menyadarinya dan melepaskan pelukanku sambil meminta maaf.
“Tapi Kak, aku belum siap tampil di depan umum, apalagi di depan para
juri. Seolah-olah mereka akan menghakimiku dengan sejuta komentarnya.
Sebelumnya aku tak pernah tampil di depan siapapun selain orang tuaku.” Akuinya
sambil menundukkan wajahnya lagi.
“Dan teman-temanmu? Tak pernahkah kau bermain di depan mereka?” tanyaku
heran.
“Hmm,, aku tak pernah mempunyai teman, setelah satu-satunya sahabat
terbaikku pergi dalam kecelakaan waktu perjalanan rekreasi kelas 2 SMP.”
“Maaf ya, aku malah membuka luka lamamu. Tapi sekarang, disini ada aku
sebagai temanmu. Mulai sekarang kamu berlatih ya, aku yang jadi jurinya.”
Sejak hari itu, aku selalu menemani Nada berlatih untuk mengikuti lomba
final tersebut. Dicky dan teman-temanku mulai merasa kalau aku semakin jauh
dari mereka. Terutama Mely yang kabarnya sering marah tidak jelas karena aku
jarang kumpul dengan teman-temanku.
Sampai pada suatu siang saat aku menemani Nada latihan di tempat biasa,
Dicky, Arman dan Mely tiba-tiba datang menemui kami.
“Hey, Ga!” sapa Arman sambil berjalan mendekati kami.
“Hey, bro! Tumben kalian pada kesini. Ada apa nih?” tanyaku heran.
Kejadian ini membuat Nada menghentikan latihannya. Dia memperhatikan kami
satu per satu karena mungkin merasa asing dengan wajah-wajah baru.
“Oh ini nih yang sudah bikin Rega jauh dari kami? Heh, junior! Lo nggak
usah belagu ya mau misahin Rega dari kami!” ucap Mely sinis.
“Apa-apaan sih Mel? Biasa aja deh. Nad, kenalin mereka temen-temen gue.
Ini Arman, yang gondrong itu Dicky, dan dia Mely.” Kataku mengenalkan
teman-temanku ke Nada.
“Aku Nada, salam kenal.” Ucapnya sambil menunduk.
“Cewek yang manis.” Puji Dicky.
“Manis? Manis dari mana? Itu mah cuma topeng doang kali!” kata Mely
sinis.
“Yang sopan dong Mel!” bentakku.
“Sopan? Emang gue lagi ngomong sama rektor? Gue ini lebih tua dari dia,
Ga!”
“Aku pulang dulu ya, Kak. Permisi, maaf.” Pamit Nada sambil setengah
berlari.
“Tapi Nad. Nadaa!” teriakku. “Maksud lo apa sih Mel, ngomong kaya gitu?”
sambungku.
“Lo tanya maksud gue? Lo tau kan, dari dulu gue suka sama elo, gue cinta
sama elo, tapi lo nggak pernah perhatiin gue kaya lo perhatian ke Nada. Gue
cemburu, Ga!” aku Mely.
“Maaf udah bikin lo cemburu. Tapi pernahkan gue bilang cinta juga ke elo?
Dari dulu lo juga tau kan, gue cuma bisa nganggep elo selayaknya teman biasa,
nggak lebih.” Jujurku.
“Iya, tapi gue kira elo bisa cinta sama gue seiring berjalannya waktu.
Dan tiba-tiba cewek itu dateng dan merebut semua perhatianmu.” Kata Mely dengan
mata berkaca-kaca.
“Sorry Mel, rasa ini tidak bisa
dipaksakan. Gue sudah jatuh hati sama dia, walaupun gue nggak tahu bagaimana
dengannya. Setidaknya aku masih bisa melihatnya tersenyum di dekatku. Aku
bahagia.” Kataku sambil memandang wajah manis Nada dari kejauhan.
“Elo benar-benar keterlaluan Ga.” Kata Mely sambil pergi meninggalkan
kami. Arman dan Dicky mengikuti Mely untuk menenangkannya.
Pagi harinya aku pergi ke tempat biasa, berharap menemui sosok manis Nada
yang selama ini mewarnai hidupku. Tapi aku tidak menemukannya di tempat biasa.
Aku mencoba mencarinya di kampusnya, berharap bisa melihat senyumnya. Aku
merasa bersalah padanya. Dicky yang dari tadi menemaniku mencari Nada, menepuk
pundakku supaya aku sabar.
“Sabar ya, Ga. Lo pasti bisa nemuin dia kok.” Kata Dicky.
“Iya Dick, gue bersalah banget gara-gara kejadian kemaren.” Sesalku.
“Bukannya dia pasti tampil di pertunjukan demonstrasi karyanya?” tanya
Dicky.
“Oh iya, besok! Besok dia bakalan tampil di Auditorium. Gue harus dateng
dan minta maaf padanya besok.” Kataku bersemangat lagi.
“Dan menyatakan perasaanmu kalau lo tak ingin kehilangannya lagi.”
Nasihat Dicky.
“Akan kuusahakan.” Jawabku mantab.
Hari ini adalah hari dimana Nada akan mempertunjukkan hasil kerja
kerasnya demi memenangkan lomba cipta lagu ini. Dari tadi malam aku tidak bisa
tidur karena tidak sabar ingin segera melihat penampilan Nada di atas panggung.
Aku sudah duduk di barisan nomor tiga dari depan di temani Dicky. Aku hanya menunggu penampilan Nada.
“Dan peserta yang ke empat adalah Nada Margaretha. Selamat menyaksikan!”
Kata MC disambut tepuk tangan meriah dari penonton.
Aku melihat Nada tampil dengan gaun hitam selutut dan biola hitamnya. Ada
yang berbeda dari penampilan Nada kali ini. Dia tampil tanpa kacamata dengan
rambut berponi dan diurai ke belakang dihiasi bandana warna perak bermotifkan
berlian.Dia terlihat sangat anggun dan cantik. Aku sudah terhipnotis dalam
mantra nada yang mengalun dari gesekan biola yang dimainkannya.
Suara tepuk tangan dari penonton membuyarkan lamunanku tentang Nada.
Setelah penampilannya, aku langsung pergi ke belakang panggung, berharap bisa
menemuinya. Aku melihat dia sedang berpelukan dengan dua orang yang aku pikir
mungkin itu orang tuanya.
Tanpa sengaja dia melihatku yang tengah berdiri memandanginya dari jauh.
Dan kami berjalan saling menghampiri. Kami bertemu pandang, terdiam dan
tersenyum bersama.
“Hai, Nada! Tadi penampilan yang sangat bagus. Selamat ya karena sudah
berhasil tampil dengan memukau.” Sapaku hangat sambil menjuluran tangan untuk
menyalaminya.
“Terima kasih Kak Ega. Ini semua juga berkat Kak Ega yang sudah bersedia
menemaniku selama latihan.” Ucap Nada, manis.
“Bukan, ini semua tentangmu. Tentang kemauanmu, usahamu, dan kerja
kerasmu selama ini. Dan tentang aku yang ingin selalu melihatmu berlatih, ingin
selalu bersamamu dan aku ingin meminta maaf padamu tentang kejadian waktu itu.”
“Sudahlah Kak, aku sudah tau semuanya kok. Kak Mely sudah bercerita
banyak padaku.” Kata Nada dengan senyum yang merekah.
“Benarkah? Apakah dia juga bercerita tentang perasaanku padamu?” tanyaku.
“Perasaan? Maksud kak Ega?” tanyanya balik.
“Nada, sejak awal aku sudah jatuh hati padamu saat aku mendengar suaramu.
Aku selalu berusaha menemukan pemilik suara itu, dan itu kamu. Aku mendengarmu
bernyanyi, melihatmu, menemanimu, semua itu karena aku telah jatuh hati padamu.
Aku mencintaimu. Aku nggak mau kehilanganmu lagi.” Jujurku sambil memegang
kedua tangannya.
“Tapi Kak...” ucapnya terputus.
“Apakah kamu sudah punya kekasih lain?” tanyaku ragu.
“Bukan, bukan begitu. Sejujurnya aku bahagia saat bermain denganmu karena
aku seperti menemukan diriku. Tapi maaf, aku sudah lancang diam–diam juga
mencintai kakak.”
Aku yang dari tadi sudah berusaha menerima penolakan cinta Nada, terkejut
dengan pernyataan terakhirnya. Aku tak sanggup berkata lagi dan langsung
memeluknya.
“Kamu serius? Nggak bercanda kan? Jadi maukah kau mengisi hari-hariku
untuk kedepannya dengan cinta kita berdua?” kataku menembaknya.
Dia mengiyakan pertanyaanku dengan senyuman lalu kupeluk dia erat dan
hangat.
Kami menunggu pengumuman pemenang dengan was-was. Aku berharap semoga
Nada masuk ke dalam tiga besar. Dan ternyata nama Nada Margaretha disebut pada
urutan juara kedua. Kami bersorak ria, tak perlu juara satu untuk menang, tapi
menurutku Nada sudah menjadi juara karena dia mau berusaha dan menunjukkan pada
dunia bahwa dia bisa. Aku berpelukan dengan Nada sebagai ucapan selamat setelah
dia berpelukan dengan orang tuanya. Aku begitu bahagia melihat dia tersenyum
dan tertawa dengan begitu lepas dan polosnya.
Nada, gadis yang telah mengalunkan nada-nada cintaku hingga menyentuh
palung hati. Nada, gadis lugu yang berhasil meluluhkanku. Nada, yang kuharap
selalu menciptakan nada-nada baru di dalam hidupku bersamanya.
END
No comments:
Post a Comment