Dhaifina
Sajak Cinta Seorang Akhwat
Angin berdesir lembut, menyapa jilbab
Nisa yang tergerai panjang. Wajahnya teduh mempesona. Gamis biru longgar yang
dikenakannya, menjuntai anggun menutupi tubuh
jenjangnya. Di senja yang cerah itu, dia larut dalam buku yang
dibacanya. Beranda belakang rumahnya yang asri, memang selalu menjadi tempat
favoritnya menikmati senja.
Saat keheningan mulai menyergap
suasana, seorang bocah kecil berumur 2 tahun, mengagetkan Nisa dari arah
belakang.
“Ante Nisaaaa…!” tangan mungil
bocah kecil itu, merangkul punggung Nisa erat. Nisa membalikkan badan. Dia
terkejut ketika tahu bahwa bocah kecil yang merangkulnya itu adalah
keponakannya.
”Syifa!” Nisa lalu memeluk
keponakannya. Pipinya yang tembem disun-sun gemas. Matanya yang sipit tambah
sipit ketika tersenyum manis.
”Assalamu’alaikum, Nisa...” tiba-tiba
terdengar suara yang mengalihkan perhatian Nisa pada Syifa. Suara yang tak
asing lagi bagi Nisa.
”Wa’alaikumsalam. Waaah... Mba
Risna, Mas Yahya!” seru Nisa girang. Matanya berbinar melihat mereka datang.
Syifa yang tadinya melendoti Nisa, kini berlari menghambur ke orang tuanya,
lalu diikuti Nisa yang juga tak tahan untuk tidak menghambur ke orang-orang
yang dirindukannya.
”Wah, kebiasaan deh, kalau
sore-sore gini, pasti duduk sendiri di beranda!” ledek Risna.
”Iya nih, mentang-mentang
penulis, jadi kerjaannya nyari inspirasi terus.” timpal Yahya, kakak ipar Nisa.
”Oya, udah ada calon belum?
Kata Mama, kamu lagi taarufan ya?” Risna terus saja meledek.
Nisa tersenyum malu, sambil
garuk-garuk jilbab. ”Ah, kalian nih, dari dulu kebiasaannya ngledekin Nisa
mulu, deh!”
Risna dan Yahya tertawa geli.
Nisa manyun, sebel.
”Udah-udah, jangan ngledekin
Nisa mulu! Kita masuk ke dalem aja yuk? Kumpul sama Papa dan Mama di ruang
keluarga, melepas kangen kita. Udah 3 bulan kan nggak ketemu?!” Nisa
mengalihkan pembicaraan, dia lalu mengajak mereka ke dalam rumah.
Suasana rumah kala itu, lain
dari biasanya. Ada tawa dan canda yang menggema, menghiasi Sabtu sore yang
cerah. Keluarga Nisa berkumpul menjadi satu di ruang keluarga. Ada papa, mama,
Risna, Yahya, dan keponakannya, Syifa. Hari itu memang bukan hari lebaran atau
hari raya lainnya, tapi mereka sengaja berkumpul bersama untuk melepas rindu.
Suasana seperti itu jarang ditemukan, apalagi bagi Risna dan Yahya, setelah
menikah, mereka tinggal di luar kota. Selain itu, Nisa juga sibuk menuntut ilmu
di sebuah universitas ternama di kotanya.
Melihat kebersamaan mereka, hati Nisa jadi terharu.
Dia teringat kejadian 3 tahun yang lalu. Kejadian yang hampir membuat Risna dan
Yahya tidak jadi menikah, gara-gara sajak cinta yang dibuat Nisa untuk Yahya.
Sajak cinta yang menjelma silet dan melukai hati pembaca dan penyairnya
sendiri.
Satu per satu, ingatan itu muncul di pikiran Nisa.
Dia dibawa ke sebuah lorong waktu, di mana Nisa masih sangat belia, untuk
mengenal yang namanya cinta.
ada pertemuan sederhana
di antara dinding-dinding
kampus dan acara rohis
ada senyum yang terselip pada
sela waktuku
ada wajah yang terjebak mataku
ada letupan rindu yang jahil
menyapaku
ada rona merah yang
ditangkap angkasa
ada sajak yang tak sengaja
ditorehkan tinta
ada kita dan kidung merah
merindu
: sepasang mata ini telah menjadi
cahaya, kak…
Malam ini bulan terlihat sendu, tak ada bintang yang
menghiasi langit. Kebimbangan pun sedang melanda hati Nisa. Ini menjadi malam
yang terasa sangat lama untuk Nisa. Ia bimbang, gundah, bingung, takut, malu, dan harap-harap cemas.
Percakapannya
dengan Risna sore tadi, terngiang lagi
di telinga Nisa. Percakapan singkat yang membuat hati Nisa serasa jatuh ke
tanah atau seperti sebuah tamparan yang mendarat di pipi Nisa.
”Nis, sebenernya
puisi ‘Merah Merindu’ tentang apa dan siapa? Apa benar puisi itu tentang Mas
Yahya?” ada kebingungan murni di dalam pertanyaan Risna. Nisa terkejut, air
mukanya pucat disertai keringat dingin. Dia merasa seperti maling yang
tertangkap basah.
“Kenapa Mba Risna bisa menebak seperti itu?”
“Ya, Mba kan cuma mengira saja, Dik. Soalnya pas Mba baca
pertama kali itu, ada beberapa kalimat yang nggak asing, jalan ceritanya juga
terasa nyata. Di beberapa bagian puisi, Mba juga menangkap sebuah tanda dan isyarat untuk
seseorang.”
Batin Nisa menjerit-njerit, rahasia mengenai perasaan
cintanya itu telah diketahui oleh orang terdekatnya. Tubuhnya lemas dan
bergetar, air matanya mengambang di pelupuk mata.
“Nis...” Risna menepuk dan memegang bahu Nisa lembut, mencoba
menenangkan.
“Tenang, Nis, nggak usah takut gitu. Mba nggak marah kok, Mba
cuma pengen tahu aja, soalnya salah satu puisimu itu sudah membuat beberapa
orang bingung dan penasaran. Mba dan Mas Yahya salah satunya.” Risna menghela
napas sejenak, lalu menatap lembut Nisa yang menunduk lemas. Dia tahu semua
berawal dari dirinya. Dia yang dulu mengajak Nisa ikut dalam kelompok aktivis
dakwah di kampusnya, dan dia yang memperkenalkan Yahya pada Nisa. Risna tidak
pernah berpikir tentang hal-hal di luar urusan dakwahnya, tapi nyatanya dia
harus mengetahui adiknya terjebak dalam perasaan rumit ketika mereka berdakwah
bersama. Nisa dan Risna sangat berharap masalah ini segera berlalu. Ya, berlalu
tanpa harus meninggalkan bekas luka.
Suara katak yang saling bersahutan, menyadarkan Nisa, dari
ingatan tentang kejadian tadi sore. Dia lalu mengambil HP imut bercassing pink
di meja belajarnya. Dengan perasaan yang campur aduk,mulailah Nisa merangkai
sebuah pesan singkat yang akan dikirimkan untuk dia, Yahya.
Assalamu’alaikum, mas, maaf mengganggu. Mas sedang sibuk tidak??
Tapi, belum sempat
dikirim, Nisa buru-buru menghapus pesan itu, mengurungkan niatnya menghubungi
Yahya. Dia lalu mengacak-acak jilbab kainnya sambil menggerutu sendiri.
“Ah, tidak-tidak! Apa yang sedang aku lakukan?? Apa aku sudah
gila?!”
Keringat dingin keluar dari celah-celah kulitnya. Angin
berhembus masuk melalui jendela kamarnya yang agak terbuka, lalu menyentuh hati
dan jiwa Nisa yang sedang gundah.
“Ya Allah… aku harus bagaimana? Kenapa perasaan ini semakin
menjadi, semakin tidak karuan??! Ingin rasanya mengunci rahasia ini
rapat-rapat, tapi rasanya aku tidak akan sanggup!” dihembuskan nafasnya yang
terasa berat dan sesak didada.
“Dia pasti bingung dan penasaran dengan puisiku itu! Jika aku
berdiam diri saja, masalah ini pasti tidak akan selesai, Mas Yahya juga pasti
akan jadi penasaran terus dan hatiku tidak akan pernah tenang. Lalu, apa aku
harus memberitahukan rahasia ini padanya agar masalah ini selesai?!”
“Tidak-tidak! aku ini seorang akhwat dan dia seorang ikhwan,
tidak sepantasnya aku mengatakan hal bodoh seperti itu. Belum saatnya Nisaa…
belum saatnyaaaaaa!” hatinya kini berkecambuk. disatu sisi dia ingin
mengatakan, tapi di sisi lainnya, dia tidak boleh mengatakannya. Dia sadar
posisinya, dia juga tahu posisi Yahya. Dia terus menimbang-nimbang keputusan
apa yang akan segera dia ambil.
Nisa kemudian duduk di meja belajarnya, lalu kepalanya
diletakan di meja dengan lemas. Matanya ditutup paksa, berharap rasa pusing
yang dideritanya sejak tadi sore hilang. Tapi tetap saja, pikiran-pikiran
tentang masalah tadi sore itu, terus menghantui Nisa.
“Sepertinya aku memang harus jujur dan mengonfirmasi soal
puisiku itu. Semoga tidak apa-apa ya Allah… Pegangi hatiku ini, aku tidak ingin
rasa ini meluber tak terbendung. Semoga ini menjadi tindakan yang baik, untukku
dan untuknya.” Nisa kemudian kembali mengirimkan pesan singkat pada seseorang
yang telah menyentuh hatinya. Kali ini pesan itu harus jadi dikirim pada orang
itu. Dia berharap, setelah ini, tidak ada lagi yang menjadi beban di hati Nisa.
Dua Minggu kemudian…
Di malam yang cerah itu, Nisa mengerjakan PR Bahasa Inggrisnya
dengan serius, sungguh-sungguh dan hati yang damai. Tak ada lagi beban yang
menyesakkan dada.
Tapi, baru beberapa menit larut dalam PRnya, pintu kamarnya
diketuk dan dibuka. Lalu masuklah Risna sambil membawa buku kuliahnya, kemudian
duduk manis di atas tempat tidur Nisa yang berseprai pink. Ya, kamar Nisa
memang dipenuhi dengan barang-barang yang berwarna pink. Karena, Nisa menyukai
warna merah muda itu.
Nisa menatapRisna heran, “Ada apa, Mba??”
Risna membuka bukunya, membaca sebentar lalu menatap Nisa
lembut. “Ehm… ada yang mau Mba omongin dan sampein ke kamu, Dik.” kataRisna
serius. Dahi Nisa berkerut.
“Oya? Apa Mba? Kok kayaknya serius banget??” Nisa merubah
posisi duduknya menghadap Risna.
“Iya, ini soal Mas Yahya, Nis.” ucapnya hati-hati. Nisa terkejut
mendengar nama itu lagi.
"E-emangnya dia kenapa, Mba??”
Risna menghembuskan nafasnya sejenak. "Sebenernya Mba
pengin ngasih tahu ini dari dulu-dulu. Tapi…"
"Tapi apa Mba?? Mba mau ngasih tahu apa??" tanya
Nisa penasaran, dia lalu mendekati Risna dan duduk disampingnya.
"Maaf ya Dik, Mba baru ngasih tahu sekarang, karena Mba
pikir, sekarang inilah waktu yang tepat."
"Cerita aja Mba, nggak apa-apa…"
Risna menunduk sejenak, lalu mencari kata-kata yang pas untuk
dikatakan.
“Saat ini, Mas Yahyasedang menjalani proses taaruf dengan
seorang akhwat, Nis. Maafin Mba ya, nggak ngasih tahu dari dulu.”
Nisa terkejut, namun sedetik kemudian, dia tersenyum. “Oya Mba??
sejak kapan dan siapakah akhwat yang beruntung itu, Mba?”
Risna memegang bahu Nisa dan menatapnya lekat. “Mungkin Nisa
akan terkejut setelah mengetahuinya.”
Nisa menggeleng, “Kenapa harus terkejut Mba? Mba Risna lucu
deh.” Nisa tersenyum geli. Risna ikut tersenyum, dia jadi salah tingkah.
“Ehm, tapi beneran ya nggak bakal terkejut?” Risna kembali
serius lagi, tapi santai.
“Iya, Mba, emangnya siapa sih?? Jangan bikin penasaran dong
Mbaaa…” rengek Nisa.
Risna menunduk, “Bismillah, semoga ini tidak akan
mengejutkanmu, Dik. Akhwat itu adalah orang yang paling dekat dengan Nisa.
Namanya, Risna Anandya Putri.” ucap Risna terbata-bata.
Nisa terkejut bagai disambar petir. Mulutnya menganga, tak
percaya. Dia diam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah boneka Teddy Bearnya.
“Maaf Nis, Mba baru cerita sekarang. Sebenernya Mba ingin
memberitahu hal ini sama Nisa sejak awal, tapi ternyata waktunya belum tepat.
Dulu, waktu puisimu terbit, Mba Risna dan Mas Yahya sedang proses taaruf tahap
kedua. Lalu, ketika kami membaca puisimu, kami terkejut. Ternyata ada salah
satu puisimu yang mengatakan bahwa kamu memiliki rasa pada Mas Yahya. Akhirnya
Mba memberanikan diri bertanya pada Nisa, ternyata memang benar. Semenjak itu,
proses taaruf kami menggantung. Mba masih bimbang, antara melanjutkan atau
tidak. di satu sisi, adik kesayangan Mba, diam-diam mencintainya. Tapi di sisi
lain, ada Yahya yang menunggu kelanjutan proses kami.”
Nisa mendongakkan kepalanya, lalu menatap Risna pilu.
“Masyaallah, jadi begitu, Mba? Kenapa Mba nggak cerita dari awal? Kenapa Mba
malah diam saja dan membiarkan Nisa mencintainya?! Itu artinya, Mba Risna
merusak sendiri proses taaruf yang sedang Mba jalani kan??” Nisa kecewa pada dirinya sendiri.
Satu tetes air mata jatuh, mengalir di pipi Risna.
“Nisa bodoh! Nisa nggak peka! Demi Allah, jika saja Nisa tahu
dari awal Mba Risna dan Mas Yahya sedang menjalani proses taaruf, Nisa pasti
nggak akan pernah membuat puisi itu. Nisa akan sadar diri, Nisa akan lebih tahu
diri. Nggak seharusnya, seorang adik macam Nisa ini, menggagalkan proses taaruf
orang yang Nisa sayangi. Ya Allah, Maaf Mba, selama ini Nisa nggak peka.
Ternyata, sajak cinta karya Nisa telah menjadi silet, yang melukai pembacanya.”
Isak Nisa. Air matanya ikut meleleh, seperti air mata milik Risna. Keduanya
terlarut dalam rasa sedih dan luka yang mendalam.
Risna menggeleng-nggelengkan kepalanya, sesenggukan. “Enggak
Nisa, tidak ada yang salah. Semua ini sudah menjadi skenario Allah, sebuah alur
tak terduga.”
“Mba Risna benar, Mungkin Mas Yahya bukan yang terbaik untuk
Nisa, meskipun Nisa sempat menginginkan jodoh sepertinya. Tapi mungkin Mas
Yahya adalah yang terbaik untuk Mba Risna, meski beberapa kejadian rumit dan
masalah pelik sempat menghampiri. Iya kan Mba?”
Mereka saling menatap sendu, Nisa mengusap air mata Risna,
begitupun sebaliknya. Risna menyeka air mata Nisa dengan penuh cinta.
“Kita ini seperti sedang bermain film saja, film cinta
segitiga!” Nisa mencoba melawak, mencairkan suasana. Dia mengusap pipi Risna
lembut.
“Nisa nggak akan membiarkan Mba Risna terluka atau terbebani
dengan masalah Nisa. Mba Risna harus bahagia dengan orang yang Mba Risna
cintai. Nisa akan perjuangkan apapun demi kebahagiaan Mba Risna tersayang.
Jadi, teruskan proses taaruf ini sampai menuju ke pelaminan. Oke?”
Risna tersenyum geli, lalu menggelengkan kepalanya lagi.
“Enggak Nisa, Mba sudah bertekad untuk menghentikan proses taaruf ini. Mba
tidak akan tega membiarkan adik Mba ini patah hati! Lagipula, Mba Risna ini
sejak dulu hanya menganggap Mas Yahya sebagai saudara seperjuangan, sedakwah.
Belum ada perasaan apa-apa. Belakangan ini malah Mba berpikir, setelah Nisa
lulus nanti, Mba akan menjadi makcomblang untuk Nisa dan Mas Yahya. Jadi, nggak
menunggu lama lagi, Nisa akan menuju ke pelaminan.”
Mata Nisa berkaca-kaca lagi.
“Mba ini ngomong apa tho?
Kok masih sempet-sempetnya nawarin Mas Yahya ke Nisa?! Perasaan Nisa ke Mas
Yahya itu sebenernya cuma perasaan sesaat. Cinta monyet lebih tepatnya!
Lagipula, Nisa ini masih SMA, belum lulus pula, emosi masih naik turun, masih
labil. Mas Yahya juga sepertinya lebih cocok jadi Kakak ipar daripada jadi
suami Nisa. Hehehe… Sudah Mba, jangan mengelak lagi, Nisa tahu kok apa yang Mba
Risna rasain.” bujuk Nisa, memaksa. Dia tertawa renyah.
Risna tersenyum haru. Dia tidak menyangka jika adiknya akan
bersikap seperti itu, merelakan cinta pertamanya untuk kebahagiaan Risna dan
Yahya dengan tulus. Dia pikir, adiknya itu akan marah dan membencinya, tapi
ternyata tidak. Mata mereka basah. Nisa memeluk Risna erat, begitupun
sebaliknya. Tak ada sajak serumit ini,
tak ada sajak sesulit ini. Tapi Nisa tahu, jalan cerita ini sudah menemui
endingnya.
“Tanteeee… main rumah-rumahan yuk?” Rengekan Syifa
membuyarkan lamunan Nisa.
“Oh, Syifa… iya yuk, sayang…” Nisa menuruti ajakan Syifa.
Sambil tersenyum, dia bersyukur, meskipun akhirnya Nisa tidak bersatu dengan
cinta pertamanya, yaitu Yahya, tapi Nisa bahagia karena sajak cintanya telah
menemukan muaranya.
Semarang, 6 Mei 2013 (1:22 AM)
Dhaifina Cuuantik
Tentang
Penulis
Gadis
mungil bernama Dhaifina Fitri Hajidah, lahir di Banyumas, 20 Februari 1993. Seorang
mahasiswi di Universitas Negeri Semarang bidang studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Masih menjadi Sekretaris Divisi Syiar di Rohis Kalimasada,
sempat menjadi anggota Lab Teater Usmar Ismail. Sekarang ia menjadi Crew di
Radio Ekspresi Mahasiswa Unnes dan Crew di Lab Film Usmar Ismail.
Selain itu, dia hanya orang biasa saja.
No comments:
Post a Comment