Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Sajak Cinta Seorang Akhwat" Karya : Dhaifina

Dhaifina
Sajak Cinta Seorang Akhwat

Angin berdesir lembut, menyapa jilbab Nisa yang tergerai panjang. Wajahnya teduh mempesona. Gamis biru longgar yang dikenakannya, menjuntai anggun menutupi tubuh  jenjangnya. Di senja yang cerah itu, dia larut dalam buku yang dibacanya. Beranda belakang rumahnya yang asri, memang selalu menjadi tempat favoritnya menikmati senja.
Saat keheningan mulai menyergap suasana, seorang bocah kecil berumur 2 tahun, mengagetkan Nisa dari arah belakang.
“Ante Nisaaaa…!” tangan mungil bocah kecil itu, merangkul punggung Nisa erat. Nisa membalikkan badan. Dia terkejut ketika tahu bahwa bocah kecil yang merangkulnya itu adalah keponakannya.
”Syifa!” Nisa lalu memeluk keponakannya. Pipinya yang tembem disun-sun gemas. Matanya yang sipit tambah sipit ketika tersenyum manis.
”Assalamu’alaikum, Nisa...” tiba-tiba terdengar suara yang mengalihkan perhatian Nisa pada Syifa. Suara yang tak asing lagi bagi Nisa.
”Wa’alaikumsalam. Waaah... Mba Risna, Mas Yahya!” seru Nisa girang. Matanya berbinar melihat mereka datang. Syifa yang tadinya melendoti Nisa, kini berlari menghambur ke orang tuanya, lalu diikuti Nisa yang juga tak tahan untuk tidak menghambur ke orang-orang yang dirindukannya.
”Wah, kebiasaan deh, kalau sore-sore gini, pasti duduk sendiri di beranda!” ledek Risna.
”Iya nih, mentang-mentang penulis, jadi kerjaannya nyari inspirasi terus.” timpal Yahya, kakak ipar Nisa.
”Oya, udah ada calon belum? Kata Mama, kamu lagi taarufan ya?” Risna terus saja meledek.
Nisa tersenyum malu, sambil garuk-garuk jilbab. ”Ah, kalian nih, dari dulu kebiasaannya ngledekin Nisa mulu, deh!”
Risna dan Yahya tertawa geli. Nisa manyun, sebel.
”Udah-udah, jangan ngledekin Nisa mulu! Kita masuk ke dalem aja yuk? Kumpul sama Papa dan Mama di ruang keluarga, melepas kangen kita. Udah 3 bulan kan nggak ketemu?!” Nisa mengalihkan pembicaraan, dia lalu mengajak mereka ke dalam rumah.
Suasana rumah kala itu, lain dari biasanya. Ada tawa dan canda yang menggema, menghiasi Sabtu sore yang cerah. Keluarga Nisa berkumpul menjadi satu di ruang keluarga. Ada papa, mama, Risna, Yahya, dan keponakannya, Syifa. Hari itu memang bukan hari lebaran atau hari raya lainnya, tapi mereka sengaja berkumpul bersama untuk melepas rindu. Suasana seperti itu jarang ditemukan, apalagi bagi Risna dan Yahya, setelah menikah, mereka tinggal di luar kota. Selain itu, Nisa juga sibuk menuntut ilmu di sebuah universitas ternama di kotanya.
Melihat kebersamaan mereka, hati Nisa jadi terharu. Dia teringat kejadian 3 tahun yang lalu. Kejadian yang hampir membuat Risna dan Yahya tidak jadi menikah, gara-gara sajak cinta yang dibuat Nisa untuk Yahya. Sajak cinta yang menjelma silet dan melukai hati pembaca dan penyairnya sendiri.
Satu per satu, ingatan itu muncul di pikiran Nisa. Dia dibawa ke sebuah lorong waktu, di mana Nisa masih sangat belia, untuk mengenal yang namanya cinta.

ada pertemuan sederhana
di antara dinding-dinding kampus dan acara rohis
ada senyum yang terselip pada sela waktuku
ada wajah yang terjebak mataku
ada letupan rindu yang jahil menyapaku
ada rona merah yang ditangkap angkasa
ada sajak yang tak sengaja ditorehkan tinta
ada kita dan kidung merah merindu

: sepasang mata ini telah menjadi cahaya, kak…

Malam ini bulan terlihat sendu, tak ada bintang yang menghiasi langit. Kebimbangan pun sedang melanda hati Nisa. Ini menjadi malam yang terasa sangat lama untuk Nisa. Ia bimbang, gundah,  bingung, takut, malu, dan harap-harap cemas.
Percakapannya dengan  Risna sore tadi, terngiang lagi di telinga Nisa. Percakapan singkat yang membuat hati Nisa serasa jatuh ke tanah atau seperti sebuah tamparan yang mendarat di pipi Nisa.

Nis, sebenernya puisi ‘Merah Merindu’ tentang apa dan siapa? Apa benar puisi itu tentang Mas Yahya?” ada kebingungan murni di dalam pertanyaan Risna. Nisa terkejut, air mukanya pucat disertai keringat dingin. Dia merasa seperti maling yang tertangkap basah.
“Kenapa Mba Risna bisa menebak seperti itu?”
“Ya, Mba kan cuma mengira saja, Dik. Soalnya pas Mba baca pertama kali itu, ada beberapa kalimat yang nggak asing, jalan ceritanya juga terasa nyata. Di beberapa bagian puisi, Mba juga  menangkap sebuah tanda dan isyarat untuk seseorang.”
Batin Nisa menjerit-njerit, rahasia mengenai perasaan cintanya itu telah diketahui oleh orang terdekatnya. Tubuhnya lemas dan bergetar, air matanya mengambang di pelupuk mata.
“Nis...” Risna menepuk dan memegang bahu Nisa lembut, mencoba menenangkan.
“Tenang, Nis, nggak usah takut gitu. Mba nggak marah kok, Mba cuma pengen tahu aja, soalnya salah satu puisimu itu sudah membuat beberapa orang bingung dan penasaran. Mba dan Mas Yahya salah satunya.” Risna menghela napas sejenak, lalu menatap lembut Nisa yang menunduk lemas. Dia tahu semua berawal dari dirinya. Dia yang dulu mengajak Nisa ikut dalam kelompok aktivis dakwah di kampusnya, dan dia yang memperkenalkan Yahya pada Nisa. Risna tidak pernah berpikir tentang hal-hal di luar urusan dakwahnya, tapi nyatanya dia harus mengetahui adiknya terjebak dalam perasaan rumit ketika mereka berdakwah bersama. Nisa dan Risna sangat berharap masalah ini segera berlalu. Ya, berlalu tanpa harus meninggalkan bekas luka.

Suara katak yang saling bersahutan, menyadarkan Nisa, dari ingatan tentang kejadian tadi sore. Dia lalu mengambil HP imut bercassing pink di meja belajarnya. Dengan perasaan yang campur aduk,mulailah Nisa merangkai sebuah pesan singkat yang akan dikirimkan untuk dia, Yahya.

Assalamu’alaikum, mas, maaf mengganggu. Mas sedang sibuk tidak??
Tapi, belum sempat dikirim, Nisa buru-buru menghapus pesan itu, mengurungkan niatnya menghubungi Yahya. Dia lalu mengacak-acak jilbab kainnya sambil menggerutu sendiri.
“Ah, tidak-tidak! Apa yang sedang aku lakukan?? Apa aku sudah gila?!”  
Keringat dingin keluar dari celah-celah kulitnya. Angin berhembus masuk melalui jendela kamarnya yang agak terbuka, lalu menyentuh hati dan jiwa Nisa yang sedang gundah.
“Ya Allah… aku harus bagaimana? Kenapa perasaan ini semakin menjadi, semakin tidak karuan??! Ingin rasanya mengunci rahasia ini rapat-rapat, tapi rasanya aku tidak akan sanggup!” dihembuskan nafasnya yang terasa berat dan sesak didada.
“Dia pasti bingung dan penasaran dengan puisiku itu! Jika aku berdiam diri saja, masalah ini pasti tidak akan selesai, Mas Yahya juga pasti akan jadi penasaran terus dan hatiku tidak akan pernah tenang. Lalu, apa aku harus memberitahukan rahasia ini padanya agar masalah ini selesai?!”
“Tidak-tidak! aku ini seorang akhwat dan dia seorang ikhwan, tidak sepantasnya aku mengatakan hal bodoh seperti itu. Belum saatnya Nisaa… belum saatnyaaaaaa!” hatinya kini berkecambuk. disatu sisi dia ingin mengatakan, tapi di sisi lainnya, dia tidak boleh mengatakannya. Dia sadar posisinya, dia juga tahu posisi Yahya. Dia terus menimbang-nimbang keputusan apa yang akan segera dia ambil.
Nisa kemudian duduk di meja belajarnya, lalu kepalanya diletakan di meja dengan lemas. Matanya ditutup paksa, berharap rasa pusing yang dideritanya sejak tadi sore hilang. Tapi tetap saja, pikiran-pikiran tentang masalah tadi sore itu, terus menghantui Nisa.
“Sepertinya aku memang harus jujur dan mengonfirmasi soal puisiku itu. Semoga tidak apa-apa ya Allah… Pegangi hatiku ini, aku tidak ingin rasa ini meluber tak terbendung. Semoga ini menjadi tindakan yang baik, untukku dan untuknya.” Nisa kemudian kembali mengirimkan pesan singkat pada seseorang yang telah menyentuh hatinya. Kali ini pesan itu harus jadi dikirim pada orang itu. Dia berharap, setelah ini, tidak ada lagi yang menjadi beban di hati Nisa.


Dua Minggu kemudian…
Di malam yang cerah itu, Nisa mengerjakan PR Bahasa Inggrisnya dengan serius, sungguh-sungguh dan hati yang damai. Tak ada lagi beban yang menyesakkan dada.
Tapi, baru beberapa menit larut dalam PRnya, pintu kamarnya diketuk dan dibuka. Lalu masuklah Risna sambil membawa buku kuliahnya, kemudian duduk manis di atas tempat tidur Nisa yang berseprai pink. Ya, kamar Nisa memang dipenuhi dengan barang-barang yang berwarna pink. Karena, Nisa menyukai warna merah muda itu.
Nisa menatapRisna heran, “Ada apa, Mba??”
Risna membuka bukunya, membaca sebentar lalu menatap Nisa lembut. “Ehm… ada yang mau Mba omongin dan sampein ke kamu, Dik.” kataRisna serius. Dahi Nisa berkerut.
“Oya? Apa Mba? Kok kayaknya serius banget??” Nisa merubah posisi duduknya menghadap Risna.
“Iya, ini soal Mas Yahya, Nis.” ucapnya hati-hati. Nisa terkejut mendengar nama itu lagi.
"E-emangnya dia kenapa, Mba??”
Risna menghembuskan nafasnya sejenak. "Sebenernya Mba pengin ngasih tahu ini dari dulu-dulu. Tapi…"
"Tapi apa Mba?? Mba mau ngasih tahu apa??" tanya Nisa penasaran, dia lalu mendekati Risna dan duduk disampingnya.
"Maaf ya Dik, Mba baru ngasih tahu sekarang, karena Mba pikir, sekarang inilah waktu yang tepat."
"Cerita aja Mba, nggak apa-apa…"
Risna menunduk sejenak, lalu mencari kata-kata yang pas untuk dikatakan.
“Saat ini, Mas Yahyasedang menjalani proses taaruf dengan seorang akhwat, Nis. Maafin Mba ya, nggak ngasih tahu dari dulu.”
Nisa terkejut, namun sedetik kemudian, dia tersenyum. “Oya Mba?? sejak kapan dan siapakah akhwat yang beruntung itu, Mba?”
Risna memegang bahu Nisa dan menatapnya lekat. “Mungkin Nisa akan terkejut setelah mengetahuinya.”
Nisa menggeleng, “Kenapa harus terkejut Mba? Mba Risna lucu deh.” Nisa tersenyum geli. Risna ikut tersenyum, dia jadi salah tingkah.
“Ehm, tapi beneran ya nggak bakal terkejut?” Risna kembali serius lagi, tapi santai.
“Iya, Mba, emangnya siapa sih?? Jangan bikin penasaran dong Mbaaa…” rengek Nisa.
Risna menunduk, “Bismillah, semoga ini tidak akan mengejutkanmu, Dik. Akhwat itu adalah orang yang paling dekat dengan Nisa. Namanya, Risna Anandya Putri.” ucap Risna terbata-bata.
Nisa terkejut bagai disambar petir. Mulutnya menganga, tak percaya. Dia diam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah boneka Teddy Bearnya.
“Maaf Nis, Mba baru cerita sekarang. Sebenernya Mba ingin memberitahu hal ini sama Nisa sejak awal, tapi ternyata waktunya belum tepat. Dulu, waktu puisimu terbit, Mba Risna dan Mas Yahya sedang proses taaruf tahap kedua. Lalu, ketika kami membaca puisimu, kami terkejut. Ternyata ada salah satu puisimu yang mengatakan bahwa kamu memiliki rasa pada Mas Yahya. Akhirnya Mba memberanikan diri bertanya pada Nisa, ternyata memang benar. Semenjak itu, proses taaruf kami menggantung. Mba masih bimbang, antara melanjutkan atau tidak. di satu sisi, adik kesayangan Mba, diam-diam mencintainya. Tapi di sisi lain, ada Yahya yang menunggu kelanjutan proses kami.”
Nisa mendongakkan kepalanya, lalu menatap Risna pilu. “Masyaallah, jadi begitu, Mba? Kenapa Mba nggak cerita dari awal? Kenapa Mba malah diam saja dan membiarkan Nisa mencintainya?! Itu artinya, Mba Risna merusak sendiri proses taaruf yang sedang Mba jalani kan??”  Nisa kecewa pada dirinya sendiri.
Satu tetes air mata jatuh, mengalir di pipi Risna.
“Nisa bodoh! Nisa nggak peka! Demi Allah, jika saja Nisa tahu dari awal Mba Risna dan Mas Yahya sedang menjalani proses taaruf, Nisa pasti nggak akan pernah membuat puisi itu. Nisa akan sadar diri, Nisa akan lebih tahu diri. Nggak seharusnya, seorang adik macam Nisa ini, menggagalkan proses taaruf orang yang Nisa sayangi. Ya Allah, Maaf Mba, selama ini Nisa nggak peka. Ternyata, sajak cinta karya Nisa telah menjadi silet, yang melukai pembacanya.” Isak Nisa. Air matanya ikut meleleh, seperti air mata milik Risna. Keduanya terlarut dalam rasa sedih dan luka yang mendalam.
Risna menggeleng-nggelengkan kepalanya, sesenggukan. “Enggak Nisa, tidak ada yang salah. Semua ini sudah menjadi skenario Allah, sebuah alur tak terduga.”
“Mba Risna benar, Mungkin Mas Yahya bukan yang terbaik untuk Nisa, meskipun Nisa sempat menginginkan jodoh sepertinya. Tapi mungkin Mas Yahya adalah yang terbaik untuk Mba Risna, meski beberapa kejadian rumit dan masalah pelik sempat menghampiri. Iya kan Mba?”
Mereka saling menatap sendu, Nisa mengusap air mata Risna, begitupun sebaliknya. Risna menyeka air mata Nisa dengan penuh cinta.
“Kita ini seperti sedang bermain film saja, film cinta segitiga!” Nisa mencoba melawak, mencairkan suasana. Dia mengusap pipi Risna lembut.
“Nisa nggak akan membiarkan Mba Risna terluka atau terbebani dengan masalah Nisa. Mba Risna harus bahagia dengan orang yang Mba Risna cintai. Nisa akan perjuangkan apapun demi kebahagiaan Mba Risna tersayang. Jadi, teruskan proses taaruf ini sampai menuju ke pelaminan. Oke?”
Risna tersenyum geli, lalu menggelengkan kepalanya lagi. “Enggak Nisa, Mba sudah bertekad untuk menghentikan proses taaruf ini. Mba tidak akan tega membiarkan adik Mba ini patah hati! Lagipula, Mba Risna ini sejak dulu hanya menganggap Mas Yahya sebagai saudara seperjuangan, sedakwah. Belum ada perasaan apa-apa. Belakangan ini malah Mba berpikir, setelah Nisa lulus nanti, Mba akan menjadi makcomblang untuk Nisa dan Mas Yahya. Jadi, nggak menunggu lama lagi, Nisa akan menuju ke pelaminan.”
Mata Nisa berkaca-kaca lagi.
“Mba ini ngomong apa tho? Kok masih sempet-sempetnya nawarin Mas Yahya ke Nisa?! Perasaan Nisa ke Mas Yahya itu sebenernya cuma perasaan sesaat. Cinta monyet lebih tepatnya! Lagipula, Nisa ini masih SMA, belum lulus pula, emosi masih naik turun, masih labil. Mas Yahya juga sepertinya lebih cocok jadi Kakak ipar daripada jadi suami Nisa. Hehehe… Sudah Mba, jangan mengelak lagi, Nisa tahu kok apa yang Mba Risna rasain.” bujuk Nisa, memaksa. Dia tertawa renyah.
Risna tersenyum haru. Dia tidak menyangka jika adiknya akan bersikap seperti itu, merelakan cinta pertamanya untuk kebahagiaan Risna dan Yahya dengan tulus. Dia pikir, adiknya itu akan marah dan membencinya, tapi ternyata tidak. Mata mereka basah. Nisa memeluk Risna erat, begitupun sebaliknya.  Tak ada sajak serumit ini, tak ada sajak sesulit ini. Tapi Nisa tahu, jalan cerita ini sudah menemui endingnya.

“Tanteeee… main rumah-rumahan yuk?” Rengekan Syifa membuyarkan lamunan Nisa.
“Oh, Syifa… iya yuk, sayang…” Nisa menuruti ajakan Syifa. Sambil tersenyum, dia bersyukur, meskipun akhirnya Nisa tidak bersatu dengan cinta pertamanya, yaitu Yahya, tapi Nisa bahagia karena sajak cintanya telah menemukan muaranya.

Semarang, 6 Mei 2013 (1:22 AM)
Dhaifina Cuuantik
Tentang Penulis
Gadis mungil bernama Dhaifina Fitri Hajidah, lahir di Banyumas, 20 Februari 1993. Seorang mahasiswi di Universitas Negeri Semarang bidang studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Masih menjadi Sekretaris Divisi Syiar di Rohis Kalimasada, sempat menjadi anggota Lab Teater Usmar Ismail. Sekarang ia menjadi Crew di Radio Ekspresi Mahasiswa Unnes dan Crew di Lab Film Usmar Ismail.
Selain itu, dia hanya orang biasa saja.

No comments:

Post a Comment