Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " BELL'S PALSY " Karya: Irsa Veta B


Irsa Veta Bayuningrum lahir di Brebes 20 tahun silam. Anak perempuan satu-satunya di keluarga ini memang sudah tertarik dengan dunia sastra dari kecil sastra yang dia sukai adalah berpuisi namun ia juga selalu mengembangkan bakatnya dibidang sastra lain, baik cerpen atau drama. Kesukaannya di sastra ini menjadikannya terpilih untuk mengikuti lomba tulis cerpen di Sekolah Menengah Pertamanya. Cerpen yang berjudul BELL’S PALSY ini adalah cerpen yang mengisahkan tentang suatu penyakit.


Irsa Veta B
BELL’S PALSY

Angin, akulah dewamu, yang mengaturmu, yang mengarahmu. Tapi, kenapa kau malah menentangku? Mengapa kau menggerogoti sebagian dari wajahku, sebagian dari senyumku, sebagian dari kebahagiaanku? Kau sudah mulai berani menentangku? Hey aku ini dewamu, dewa bayu harusnya aku yang murka kepadamu! Tapi mengapa kau yang penjarakan aku? Terkutuk lah kau.
Ku tulis buku harian pengantar malam di kamar gelap, dengan diiringi air mata dan lampu belajar, ku ungkapan rasa marah, kecewa dan sedih. Terlihat celah cahaya terpancar dari pintu yang sedikit terbuaka, lama kelamaan semakin besar saja cahaya itu. Dari balik cahaya kulihat sesosok bayang yang mendekat menampakkan wujudnya. Bayangan itu ternyata ibu yang  membawa segelas air putih dan beberapa pil obat. Ibu berjalan kearahku sambil menyalakan lampu kamar.
“Minum dulu obatnya, Nak” ucap Ibuku sambil menyodorkan obat dan air putih
“Tidak, Bu” jawabku seraya menepis gelas dan beberapa butir obat itu
“Kenapa? Bukankah kau ingin sembuh?”
“Untuk apa aku meminum obat ini, Bu? Apakah aku akan segera sembuh?”
“Tika, penyakit itu datangnya dari Allah, Allah menyayangimu jadi Ia memberimu penyakit agar kau senantiasa selalu mengingat-Nya dan memohon serta meminta kepada-Nya. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. inilah salah satu usaha kita Tik, minum obat.”
Aku terdiam sejenak ku seka air mata dan ku tarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan berlahan, aku melanjutkan pembicaraan.
            “Tapi sakit Bu, rasanya nyeri sekali dibagian belakang telinga, leher, dan pipi.”
            “Maka dari itu minumlah obat ini, Nak. Untuk mengurangi rasa nyerimu dan besok kita pergi ke rumah sakit untuk cek updan terapi yah.”
            “Sudahlah Bu, buat apa kau pedulikan anak keras kepala itu. Toh penyakit itupun karena kesalahannya sendiri. Buat apa kau kasihaninya, biar saja. Ayo keluar saja” ucap Ayahku dari balik pintu ternyata sudah dari tadi beliau berada disitu.
Ibu meninggalkan kamarku dan di bayangi oleh Ayah. Aku tak bicara apapun lagi, iya itu memang kesalahanku. Akhirnya kuteguk segelas air putih itu beserta obat yang ibu bawakan.
Penyesalan memang selalu datang terakhir, seperti perasaanku sekarang. Andai saja aku tak melakukannya waktu itu, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi.

Seorang pemuda mendatangiku dengan langkah pasti, entah siapa dia tapi aku yakin akulah yang ia tuju. Benar saja kini ia dihadapanku dan menyodorkan tangannya kepadaku, aku tak membalas sodoran tangannya. Dia paham dengan sikapku dan tangannya dikembalikan pada posisi semula.
“Aku Argo anak XI IPA 4, boleh aku tahu siapa namamu?” ujar Argo
“Aku Tika anak XI IPA 1” jawab Tika
“Ohh kau Cantika Anisa Putri Bayu itu anak ustaz Bayu ulama terkenal di kota ini?”
“Iya, memang kenapa?
“Tidak apa-apa pantas saja tertutup sekali penampilanmu tak ada sedikit kulitpun yang terlihat kecuali telapak tangan dan wajahmu.”
Aku tak membalas perkataannya hanya senyum yang kulontarkan, aku tak mau terlalu banyak bicara. Apalagi mengenai pekerjaan Ayahku yang memang sangat terkenal dan kondang, ahh andai saja aku bukan anak seorang ulama, sudah kucopot saja jilbab ini dan kupotong lengan serta rok seragamku. Panas rasanya memakai pakaian seperti ini, akupun ingin bebas seperti teman-temanku. Tak selalu diikat dengan aturan orang tuaku dan aturan agama.
“Tik, kamu tidak apa-apa kan?” suara Argo memecahkan lamunku
“Tidak apa-apa” jawabku singkat
“Tik, boleh kita berteman? Sudah lama aku sering memperhatikanmu. Karena diantara perempuan-perempuan yang lain, hanya kamu yang mencolok. Kamu yang paling cantik dan hanya kamu yang tertutup.”
“Maaf, tapi aku tidak terbiasa bersahabat dengan lelaki”
“Kenapa begitu, Tik? Jika dilihat dari dekat kau sangat cantik Tik. Andai saja kecantikan yang kau pancarkan ini tidak selalu ditutupi, pasti sangat jelas kecantikan itu.
“Ah kau ada-ada saja, sudahlah aku pergi dulu ya mau ke kelas.”
Tanpa menunggu jawaban dari Argo aku pergi, berlalu meninggalkannya. Mungkinkah benar apa yang Argo katakan tadi? Aku akan lebih cantik bila tak memakai jilbab dan tidak terlalu tertutup? Rasanya memang iya, saat aku selesai mandi dan bercermin, terpancar bentuk wajah yang sempurna hidungku mancung, mata yang agak sipit, kulit yang putih dan dua lesung pipi yang terbentuk jelas dikedua pipiku. Rasanya aku memang lebih cantik jika tidak berjilbab dengan rambut panjang dan tergerai hitam. Mungkin dengan tidak memakai jilbab kecantikanku akan lebih jelas. Aku tinggi, langsing, lalu apa kekuranganku? Sayang jika harus ditutupi terus seperti ini. Aku ingin menjadi model seperti cita-citaku. Ah tapi bagaimana dengan reaksi kedua orangtuaku mungkin mereka marah Atau bahkan mengusirku?.
Aku bingung tiap kali aku bercermin, aku selalu membayangkan betapa cantiknya aku bila tidak mengenakan jilbab dan baju yang tertutup. Aku ingin sekali menjadi seorang model terkenal yang bisa berlenggak lenggok di atas catwork, namun aku bingung apakah bisa terjadi segala cita-citaku ini jika aku memakai pakaian seperti ini. Aku ingin memamerkan baju desainer terkenal yang bagus-bagus dan tidak selalu tertutup seperti ini. Aku juga ingin menjadi sampul majalah-majalah ternama. Apakah aku harus benar-benar melepas jilbabku?
Entah mengapa, di sekolah aku menjadi sering bertemu dengan Argo. Argo selalu mendekatiku dan selalu mengajak aku untuk menjadi temannya, sering kali aku menolaknya namun dia teramat gigih dalam berusaha. Akupun merasa tak enak bila selalu menolaknya akhirnya kamipun berteman, toh hanya berteman pikirku. Setiap hari di sekolah kita selalu bertemu, entah itu ke perpustakaan bersama, makan bersama atau belajar bersama. Kami sering bertukar pengalaman, ada saja hal yang kami bicarakan saat bertemu. Lama kelamaan akupun merasa nyaman di dekatnya. Aku sering menceritakan pengalamanku kepadanya dan entah mengapa, dia menjadi orang yang aku percaya. Hingga pada suatu hari aku ceritakan rasa bosanku yang harus selalu bersikap solehah di depan banyak orang hanya karena aku adalah seorang anak ustad yang terkenal. Argopun menanggapinya dan ia memberikan saran kepadaku untuk melepas jilbabku jika memang aku merasa bosan dengan jilbab ini. Tapi aku takut, takut pada orang tuaku apabila nanti mereka tahu dan marah kepadaku. Argo hanya membalas senyuman dan berkata kepadaku untuk bertemu dengannya nanti malam di sebuah kafe untuk mendiskusikan sesuatu katanya.
Malam harinya aku meminta izin ayah ibuku untuk pergi, awalnya ayah melarangku tapi karena aku memberikan alasan untuk mengerjakan tugas bersama temanku Ayahpun memakluminya dan mengizinkanku. Aku bergegas pergi ke kafe yang Argo maksud, kafe itu berada di suatu mall besar kota ini.
“Hey Tik, di sini” sapa Argo dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Akupun berjalan menuju Argo.
“Oke, sekarang apa yang kita diskusikan?” sergahku seraya duduk di bangku samping Argo
“Jangan buru-buru, Tik pesan makanan dulu saja, kau mau pesan apa?”
“Apa sajalah lagi pula aku tidak terlalu lapar”
“Baiklah aku yang pesan.”
Sambil menunggu pesanan itu Argo duduk di sampingku matanya tajam memandangiku dari ujung atas sampai ujung bawah.
“Kenapa kau memandangiku begitu?” tanyaku
“Tidak apa-apa, katamu kamu bosan dengan jilbabmu? Kenapa kamu tidak melepasnya sekarang?”
“Hah sekarang? Di sini? Ah malu!”
“Tidak apa-apa, lagi pula tak ada yang mengenalmu selain aku, dan bila nanti kau tak memakai jilbab disini, pasti orang-orang tak akan mengetahui jika kau anak ustaz Bayu.”
Aku terdiam. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Keadaan ini membebani dan memberatkanku. Keadaan ini seakan menuntutku untuk menengok ke arah kanan dan kiri secara bersamaan. Entah mana yang aku pilih harus tetap menjaga amanat orangtuaku untuk memakai jilbab, atau mengikuti keinginan batinku yang ingin melepas jilbab dan menjadi model terkenal. Namun diantara kebimbanganku rasa inginku lebih besar dari rasa tanggungjawabku akhirnya kuputuskan untuk mencoba melepas jilbabku.
“Baiklah aku ke toilet dulu.” Kataku pada Argo dan berdiri meninggalkan Argo ke toilet
“Oh iya jangan lupa ganti bajumu dengan ini, tadi aku belikan di distro sebelah” cegat  Argo sembari memberikan kantong berisi baju itu.
Aku bangkit dari tempat dudukku beranjak meninggalkan Argo. Walaupun aku yakin untuk melepas jilbabku, namun aku masih merasa ragu untuk melakukannya. Tapi benar rasa inginku begitu besar kemudian aku beranikan untuk mengganti bajuku dan melepas jilbabku. Bolak balik aku bercermin di cermin toilet. Aku merasa malu dan risih dengan pakaian seperti ini walaupun baju ini terlihat sopan tapi rasanya risih juga karena terlalu ketat. Tapi disela rasa risih itu terselip rasa bangga di hatiku melihat bentuk tubuhku yang ramping dengan kulit mulus dan rambut panjang terurai. Akhirnya kuberanikan keluar toilet dan menuju Argo.
Kulihat Argo begitu terkesima melihat penampilanku. Tanpa berkedip Argo terus memandangku kemudian ia kembangkan senyumnya.
“Tika, betapa cantiknya dirimu dengan dandanan yang seperti ini.”
Aku tersipu malu hanya senyum dan rasa bangga yang kuberiakan kepadanya. Akhirnya kami berdua mulai makan makanan yang tadi di pesan Argo, setelah itu kita lanjutkan dengan berjalan-jalan berkeliling mall. Akupun lupa tujuan awalku bertemu Argo yang katanya ingin mendiskusikan sesuatu. Waktu hampir menunjukkan pukul 22.00 WIB aku segera meminta diantar pulang oleh Argo dan sebelum pulang ku mengganti pakaianku seperti semula karena takut diketahui orangtuaku. Di dalam mobil Argo memegang tanganku, sebenarnya aku mau menolak pegangan itu tapi apa daya lagi pula sudah terlambat akupun tidak enak jika menarik tanganku. Bukan hanya itu Argopun kemudian mengungkapkan isi hatinya kepadaku, ia memintaku untuk menjadi pacarnya. Entah mengapa aku begitu berbunga-bunga mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta? Akupun mengangguk mengisyaratkan kesetujuan.

Rasa bahagia selalu mengiring hari-hariku setelah aku berhubungan dengan Argo, setiap hari akupun keluar malam bersamanya. Aku masih menggunakan alasan yang sama kepada kedua orang tuaku, yakni mengerjakan tugas dan belajar bersama teman jika pergi dengan Argo. Setiap bertemu Argo aku pasti melepas jilbabku dan  menggunakan pakaian yang ketat. Aku sudah merasa nyaman dengan gayaku ini, aku berharap dapat menggapai cita-citaku sebagai model terkenal. Aku dan Argo sering pergi di tempat terbuka terutama pantai, aku sangat suka pantai. Pantai pada malam hari begitu nyaman bagiku. Kamipun sering menghabiskan waktu berdua di pantai itu hanya sekadar untuk menikmati angin malam dan saling bercerita.
Hingga pada suatu malam sesampainya di rumah aku kaget melihat kedua orang tuaku yang sudah menunggu di depan pintu. Aku mendekati kedua orangtuaku yang kelihatannya menyimpan rasa yang sudah berkecamuk dan ingin langsung mengungkapkannya.
“Tika, kemana saja kamu? Sudah larut begini baru pulang?” ucap ayahku dengan nada tinggi dan menyelidiki
“Kan tadi Tika sudah izin Ayah, Tika mau pergi untuk mengerjakan tugas bersama teman” ucapku lirih sambil menunduk
“Jangan bohong kamu, Ayah tak pernah mengajarimu untuk berbohong”
“Tapi Tika tidak bohong Ayah”
“Jangan berbohong Tika, setiap malam kau ke pantai kan dan kau tak pernah memakai jilbabmu saat keluar? Sudahlah, sudah malam pergi ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu!!!”
Aku hanya menunduk, Ibuku ikut terdiam tak bisa berkata apapun. Kubiarkan kakiku melangkah menuju kamar dengan diiringi sorotan mata tajam Ayah. Dari mana Ayah tahu?

Saat terbangun dari tidur aku kaget, entah mengapa pipi sebelah kananku menjadi kaku tak dapat bergerak. Langsung aku menuju meja rias memandang wajahku, ah kenapa aku ini? Wajah bagian kakanku seakan kaku, mata ini tak bisa berkedip, tak bisa tersenyum, kenapa aku ini? Apa yang terjadi?. Akupun tersedu dengan histeris aku kaget pada kejadian ini. Ayah dan ibuku terdengar berlari menuju kamarku.
“Ada apa, Nak?” teriak ibuku saat membuka pintu
“Aku tidak tahu, Bu..” jawabku dengan susah dan dengan logat yang tak jelas
“Kau kenapa, Tika? Kenapa mukamu seperti ini” tanya Ayahku sambil memegangi kepalaku dan menghadapkan mukaku padan Ayah.
Aku tak menjawab hanya menangis, aku takut terjadi sesuatu kepadaku. Tuhan ada apa ini? Setan apa yang menempel di wajahku hingga menjadikannya sebelah kaku.
Kemudian aku dibawa ke Rumah Sakit dan di periksa. Kata dokter ini adalah stroke ringan namanya bell’s palsy. Penyakit yang menyerang syaraf ke 7 syaraf yang tepat berada di belakang telinga. Penyakit ini timbul dikarenakan seringnya terkena angin malam dan di sebabkan oleh virus herpes yang membuat syaraf menjadi bengkak akibat infeksi.Bell’s palsy menyerang salah satu sisi wajah, penderitanya akan merasakan mati sebelah pada sisi yang terkena bell’s palsy. Mulai dari mata yang tak bisa dikedipkan, alis yang tak bisa diangkat tidak bisa tersenyum sebelah, pun tak bisa meniup dan pipi serta leher menjadi kaku. Penyakit ini bisa sembuh dengan bantuan obat dan fisioterapi. Aku kaget, shok, dan mengutuk diri sendiri. Mungkin karena aku melepas jilbabku aku menjadi seperti ini.
Akhirnya aku meminta izin untuk tidak bersekolah sampai aku sembuh total. Kucoba memberi tahu penyakitku ini pada Argo, berharap dia mau melihat keadaanku dan semakin memperhatikanku. Tapi nyatanya berbeda, Argo malah menghindar dariku bahkan ia tak pernah membalas sms atau mengangkat teleponku. Aku kecewa, aku marah, aku sedih. Karena dia aku begini, tapi tak sedikitpun peduli ia berikan padaku bahkan hanya untuk sekadar menjengukku. Ahhh betapa ingin aku memakinya, tapi apa daya aku tak bisa apa-apa jangankan untuk memaki, untuk berbicarapun aku tak kuasa.
Rasa sesal sangat dalam kurasakan. Ingin rasanya mati saja mengahadapi ini semua. Entah apa yang harus kupertahankan atas hidupku. Enggan rasanya hidup seperti ini. Sekarang hari-hariku suram, profesi sebagai model yang dulu aku idam-idamkan, kini hilang bahkan musnah begitu saja. Aku harus bagaimana? Ingin aku mengakhiri hidup ini. Aku malu semua orang tahu akan penyakitku. Bahkan mereka tahu sebab apa yang menjadikan penyakit ini bersarang di tubuhku. Bukan hanya aku yang malu, namun orangtuakupun ikut tercoreng namanya. Hingga Ayahnku kini sudah tidak lagi dipercaya untuk berceramah.
Penyakit ini semakin menyiksa batinku, semakin dalam pula rasa sesalku, tak ada perubahan dengan penyakit ini. Aku berjalan menuju kamar mandi. Ku nyalakan keran kamar mandi, aku berdiri dibawah aliran keran itu untuk mengguyur tubuhku. Aku menangis dengan sangat kerasnya di dalam kamar mandi. Menyesal dengan semua ini, aku ingin bunuh diri. Pisau sudah kuletakkan tepat di nadi tanganku. Dalam hitungan detik mungkin aku sudah tak bernyawa lagi, namun langkahku terhenti setelah dengan tiba-tiba Ayah mendobrak paksa pintu kamar mandi. Ayah langsung mengambil pisau yang hampir saja memutuskan urat nadiku itu.
“Tika, apa yang kau lakuka?” tanya Ayah padaku sambil mengambil pisau itu
“Lepas, Yah. Tika ingin mati saja. Tika sudah membuat malu keluarga. Tika bosan hidup dengan penyakit ini. Buat apa Tika hidup, hidup Tika tidak berguna.” Jawabku masih diiringi dengan tangisan dan emosi yang tak terkendali.
Ayah memelukku beliau ikut menangis. Baru kali ini aku melihat Ayah menangis. Akupun tak berhenti untuk menangis.
“Sudahlah Tika, tak perlu disesali. Apakah kau mau celaka untuk yang kedua kalinya? Bahkan celaka di akhirat? Bila kau bunuh diri hanya dosa yang kau bawa Tik!” ujar Ayahku masih dengan memelukku.
“Tapi Tika sudah membuat malu Ayah dan Ibu, Tika tidak berguna. Tika anak satu-satunya dalam keluarga ini, tapi malah Tika yang membuat coreng hitam di keluarga kita.” Jawabku.
“Sudahlah jangan kau sesali. Mulai sekarang, marilah kita tata kembali keluarga ini. Jangan sampai tercoreng lagi. Kita harus berusaha untuk mengembalikan nama baik keluarga kita jangan sampai kau putus asa.”
Aku tak menjawab perkataan Ayah. Hanya tangisan yang mampu menjawab. Akupun dibimbing Ayah menuju kamar. Aku disuruh menggati bajuku dan langsung tidur. Akhirnya aku berusaha memejamkan mataku. Berharap mimpi buruk ini, kan segera pergi.
Hari ini aku kembali ke rumah sakit untuk menjalani fisioterapiku, dokter menyarankanku untuk memakai penutup kepala yang rapat agar angin tak terlalu kuat menyerang wajahku, wajah yang dulu pernah kubanggakan. Sepertinya penutup yang tepat itu adalah jilbabku. Jilbab yang pernah ku tinggalkan karena nafsu dan hasutan ya, hasutan Argo. Tapi tak patut juga kusalahkan Argo, akupun salah yang mau mendengar hasutannya. Biarlah nanti Tuhan yang menyadarkannya. Angin inipun ikut saja, hanya membuat penyakit dan bersarang ditubuhku. Angin buatku ingin mati. Namun bell’s palsy menyadarkanku tentang kuasa Tuhan atas diriku.

No comments:

Post a Comment