Irsa Veta
Bayuningrum lahir di Brebes 20 tahun silam. Anak perempuan satu-satunya di
keluarga ini memang sudah tertarik dengan dunia sastra dari kecil sastra yang
dia sukai adalah berpuisi namun ia juga selalu mengembangkan bakatnya dibidang
sastra lain, baik cerpen atau drama. Kesukaannya di sastra ini menjadikannya
terpilih untuk mengikuti lomba tulis cerpen di Sekolah Menengah Pertamanya.
Cerpen yang berjudul BELL’S PALSY ini adalah cerpen yang mengisahkan tentang
suatu penyakit.
Irsa Veta B
BELL’S PALSY
Angin,
akulah dewamu, yang mengaturmu, yang mengarahmu. Tapi, kenapa kau malah
menentangku? Mengapa kau menggerogoti sebagian dari wajahku, sebagian dari
senyumku, sebagian dari kebahagiaanku? Kau sudah mulai berani menentangku? Hey
aku ini dewamu, dewa bayu harusnya aku yang murka kepadamu! Tapi mengapa kau
yang penjarakan aku? Terkutuk lah kau.
Ku
tulis buku harian pengantar malam di kamar gelap, dengan diiringi air mata dan
lampu belajar, ku ungkapan rasa marah, kecewa dan sedih. Terlihat celah cahaya
terpancar dari pintu yang sedikit terbuaka, lama kelamaan semakin besar saja
cahaya itu. Dari balik cahaya kulihat sesosok bayang yang mendekat menampakkan
wujudnya. Bayangan itu ternyata ibu yang
membawa segelas air putih dan beberapa pil obat. Ibu berjalan kearahku
sambil menyalakan lampu kamar.
“Minum
dulu obatnya, Nak” ucap Ibuku sambil menyodorkan obat dan air putih
“Tidak,
Bu” jawabku seraya menepis gelas dan beberapa butir obat itu
“Kenapa?
Bukankah kau ingin sembuh?”
“Untuk
apa aku meminum obat ini, Bu? Apakah aku akan segera sembuh?”
“Tika,
penyakit itu datangnya dari Allah, Allah menyayangimu jadi Ia memberimu
penyakit agar kau senantiasa selalu mengingat-Nya dan memohon serta meminta
kepada-Nya. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. inilah salah satu usaha kita
Tik, minum obat.”
Aku terdiam
sejenak ku seka air mata dan ku tarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan
berlahan, aku melanjutkan pembicaraan.
“Tapi sakit Bu, rasanya nyeri sekali
dibagian belakang telinga, leher, dan pipi.”
“Maka dari itu minumlah obat ini,
Nak. Untuk mengurangi rasa nyerimu dan besok kita pergi ke rumah sakit untuk cek updan terapi yah.”
“Sudahlah Bu, buat apa kau pedulikan
anak keras kepala itu. Toh penyakit itupun karena kesalahannya sendiri. Buat
apa kau kasihaninya, biar saja. Ayo keluar saja” ucap Ayahku dari balik pintu
ternyata sudah dari tadi beliau berada disitu.
Ibu
meninggalkan kamarku dan di bayangi oleh Ayah. Aku tak bicara apapun lagi, iya
itu memang kesalahanku. Akhirnya kuteguk segelas air putih itu beserta obat
yang ibu bawakan.
Penyesalan
memang selalu datang terakhir, seperti perasaanku sekarang. Andai saja aku tak
melakukannya waktu itu, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi.
Seorang
pemuda mendatangiku dengan langkah pasti, entah siapa dia tapi aku yakin akulah
yang ia tuju. Benar saja kini ia dihadapanku dan menyodorkan tangannya
kepadaku, aku tak membalas sodoran tangannya. Dia paham dengan sikapku dan
tangannya dikembalikan pada posisi semula.
“Aku
Argo anak XI IPA 4, boleh aku tahu siapa namamu?” ujar Argo
“Aku
Tika anak XI IPA 1” jawab Tika
“Ohh
kau Cantika Anisa Putri Bayu itu anak ustaz Bayu ulama terkenal di kota ini?”
“Iya,
memang kenapa?
“Tidak
apa-apa pantas saja tertutup sekali penampilanmu tak ada sedikit kulitpun yang
terlihat kecuali telapak tangan dan wajahmu.”
Aku
tak membalas perkataannya hanya senyum yang kulontarkan, aku tak mau terlalu
banyak bicara. Apalagi mengenai pekerjaan Ayahku yang memang sangat terkenal
dan kondang, ahh andai saja aku bukan anak seorang ulama, sudah kucopot saja
jilbab ini dan kupotong lengan serta rok seragamku. Panas rasanya memakai
pakaian seperti ini, akupun ingin bebas seperti teman-temanku. Tak selalu
diikat dengan aturan orang tuaku dan aturan agama.
“Tik,
kamu tidak apa-apa kan?” suara Argo memecahkan lamunku
“Tidak
apa-apa” jawabku singkat
“Tik,
boleh kita berteman? Sudah lama aku sering memperhatikanmu. Karena diantara
perempuan-perempuan yang lain, hanya kamu yang mencolok. Kamu yang paling cantik
dan hanya kamu yang tertutup.”
“Maaf,
tapi aku tidak terbiasa bersahabat dengan lelaki”
“Kenapa
begitu, Tik? Jika dilihat dari dekat kau sangat cantik Tik. Andai saja
kecantikan yang kau pancarkan ini tidak selalu ditutupi, pasti sangat jelas
kecantikan itu.
“Ah
kau ada-ada saja, sudahlah aku pergi dulu ya mau ke kelas.”
Tanpa
menunggu jawaban dari Argo aku pergi, berlalu meninggalkannya. Mungkinkah benar
apa yang Argo katakan tadi? Aku akan lebih cantik bila tak memakai jilbab dan
tidak terlalu tertutup? Rasanya memang iya, saat aku selesai mandi dan
bercermin, terpancar bentuk wajah yang sempurna hidungku mancung, mata yang
agak sipit, kulit yang putih dan dua lesung pipi yang terbentuk jelas dikedua
pipiku. Rasanya aku memang lebih cantik jika tidak berjilbab dengan rambut
panjang dan tergerai hitam. Mungkin dengan tidak memakai jilbab kecantikanku
akan lebih jelas. Aku tinggi, langsing, lalu apa kekuranganku? Sayang jika
harus ditutupi terus seperti ini. Aku ingin menjadi model seperti cita-citaku.
Ah tapi bagaimana dengan reaksi kedua orangtuaku mungkin mereka marah Atau
bahkan mengusirku?.
Aku
bingung tiap kali aku bercermin, aku selalu membayangkan betapa cantiknya aku
bila tidak mengenakan jilbab dan baju yang tertutup. Aku ingin sekali menjadi
seorang model terkenal yang bisa berlenggak lenggok di atas catwork, namun aku bingung apakah bisa
terjadi segala cita-citaku ini jika aku memakai pakaian seperti ini. Aku ingin
memamerkan baju desainer terkenal yang bagus-bagus dan tidak selalu tertutup
seperti ini. Aku juga ingin menjadi sampul majalah-majalah ternama. Apakah aku
harus benar-benar melepas jilbabku?
Entah
mengapa, di sekolah aku menjadi sering bertemu dengan Argo. Argo selalu
mendekatiku dan selalu mengajak aku untuk menjadi temannya, sering kali aku
menolaknya namun dia teramat gigih dalam berusaha. Akupun merasa tak enak bila
selalu menolaknya akhirnya kamipun berteman, toh hanya berteman pikirku. Setiap
hari di sekolah kita selalu bertemu, entah itu ke perpustakaan bersama, makan
bersama atau belajar bersama. Kami sering bertukar pengalaman, ada saja hal
yang kami bicarakan saat bertemu. Lama kelamaan akupun merasa nyaman di
dekatnya. Aku sering menceritakan pengalamanku kepadanya dan entah mengapa, dia
menjadi orang yang aku percaya. Hingga pada suatu hari aku ceritakan rasa
bosanku yang harus selalu bersikap solehah di depan banyak orang hanya karena
aku adalah seorang anak ustad yang terkenal. Argopun menanggapinya dan ia
memberikan saran kepadaku untuk melepas jilbabku jika memang aku merasa bosan
dengan jilbab ini. Tapi aku takut, takut pada orang tuaku apabila nanti mereka
tahu dan marah kepadaku. Argo hanya membalas senyuman dan berkata kepadaku
untuk bertemu dengannya nanti malam di sebuah kafe untuk mendiskusikan sesuatu
katanya.
Malam
harinya aku meminta izin ayah ibuku untuk pergi, awalnya ayah melarangku tapi
karena aku memberikan alasan untuk mengerjakan tugas bersama temanku Ayahpun
memakluminya dan mengizinkanku. Aku bergegas pergi ke kafe yang Argo maksud,
kafe itu berada di suatu mall besar kota ini.
“Hey
Tik, di sini” sapa Argo dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Akupun
berjalan menuju Argo.
“Oke,
sekarang apa yang kita diskusikan?” sergahku seraya duduk di bangku samping
Argo
“Jangan
buru-buru, Tik pesan makanan dulu saja, kau mau pesan apa?”
“Apa
sajalah lagi pula aku tidak terlalu lapar”
“Baiklah
aku yang pesan.”
Sambil menunggu
pesanan itu Argo duduk di sampingku matanya tajam memandangiku dari ujung atas
sampai ujung bawah.
“Kenapa
kau memandangiku begitu?” tanyaku
“Tidak
apa-apa, katamu kamu bosan dengan jilbabmu? Kenapa kamu tidak melepasnya
sekarang?”
“Hah
sekarang? Di sini? Ah malu!”
“Tidak
apa-apa, lagi pula tak ada yang mengenalmu selain aku, dan bila nanti kau tak
memakai jilbab disini, pasti orang-orang tak akan mengetahui jika kau anak
ustaz Bayu.”
Aku
terdiam. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Keadaan ini membebani dan
memberatkanku. Keadaan ini seakan menuntutku untuk menengok ke arah kanan dan
kiri secara bersamaan. Entah mana yang aku pilih harus tetap menjaga amanat
orangtuaku untuk memakai jilbab, atau mengikuti keinginan batinku yang ingin
melepas jilbab dan menjadi model terkenal. Namun diantara kebimbanganku rasa
inginku lebih besar dari rasa tanggungjawabku akhirnya kuputuskan untuk mencoba
melepas jilbabku.
“Baiklah
aku ke toilet dulu.” Kataku pada Argo dan berdiri meninggalkan Argo ke toilet
“Oh
iya jangan lupa ganti bajumu dengan ini, tadi aku belikan di distro sebelah”
cegat Argo sembari memberikan kantong
berisi baju itu.
Aku
bangkit dari tempat dudukku beranjak meninggalkan Argo. Walaupun aku yakin
untuk melepas jilbabku, namun aku masih merasa ragu untuk melakukannya. Tapi
benar rasa inginku begitu besar kemudian aku beranikan untuk mengganti bajuku
dan melepas jilbabku. Bolak balik aku bercermin di cermin toilet. Aku merasa
malu dan risih dengan pakaian seperti ini walaupun baju ini terlihat sopan tapi
rasanya risih juga karena terlalu ketat. Tapi disela rasa risih itu terselip
rasa bangga di hatiku melihat bentuk tubuhku yang ramping dengan kulit mulus
dan rambut panjang terurai. Akhirnya kuberanikan keluar toilet dan menuju Argo.
Kulihat
Argo begitu terkesima melihat penampilanku. Tanpa berkedip Argo terus
memandangku kemudian ia kembangkan senyumnya.
“Tika,
betapa cantiknya dirimu dengan dandanan yang seperti ini.”
Aku
tersipu malu hanya senyum dan rasa bangga yang kuberiakan kepadanya. Akhirnya
kami berdua mulai makan makanan yang tadi di pesan Argo, setelah itu kita
lanjutkan dengan berjalan-jalan berkeliling mall. Akupun lupa tujuan awalku
bertemu Argo yang katanya ingin mendiskusikan sesuatu. Waktu hampir menunjukkan
pukul 22.00 WIB aku segera meminta diantar pulang oleh Argo dan sebelum pulang
ku mengganti pakaianku seperti semula karena takut diketahui orangtuaku. Di
dalam mobil Argo memegang tanganku, sebenarnya aku mau menolak pegangan itu
tapi apa daya lagi pula sudah terlambat akupun tidak enak jika menarik
tanganku. Bukan hanya itu Argopun kemudian mengungkapkan isi hatinya kepadaku,
ia memintaku untuk menjadi pacarnya. Entah mengapa aku begitu berbunga-bunga
mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta? Akupun mengangguk mengisyaratkan
kesetujuan.
Rasa
bahagia selalu mengiring hari-hariku setelah aku berhubungan dengan Argo,
setiap hari akupun keluar malam bersamanya. Aku masih menggunakan alasan yang
sama kepada kedua orang tuaku, yakni mengerjakan tugas dan belajar bersama
teman jika pergi dengan Argo. Setiap bertemu Argo aku pasti melepas jilbabku
dan menggunakan pakaian yang ketat. Aku sudah
merasa nyaman dengan gayaku ini, aku berharap dapat menggapai cita-citaku
sebagai model terkenal. Aku dan Argo sering pergi di tempat terbuka terutama
pantai, aku sangat suka pantai. Pantai pada malam hari begitu nyaman bagiku.
Kamipun sering menghabiskan waktu berdua di pantai itu hanya sekadar untuk
menikmati angin malam dan saling bercerita.
Hingga
pada suatu malam sesampainya di rumah aku kaget melihat kedua orang tuaku yang
sudah menunggu di depan pintu. Aku mendekati kedua orangtuaku yang kelihatannya
menyimpan rasa yang sudah berkecamuk dan ingin langsung mengungkapkannya.
“Tika,
kemana saja kamu? Sudah larut begini baru pulang?” ucap ayahku dengan nada
tinggi dan menyelidiki
“Kan
tadi Tika sudah izin Ayah, Tika mau pergi untuk mengerjakan tugas bersama
teman” ucapku lirih sambil menunduk
“Jangan
bohong kamu, Ayah tak pernah mengajarimu untuk berbohong”
“Tapi
Tika tidak bohong Ayah”
“Jangan
berbohong Tika, setiap malam kau ke pantai kan dan kau tak pernah memakai
jilbabmu saat keluar? Sudahlah, sudah malam pergi ke kamarmu dan renungkan
kesalahanmu!!!”
Aku
hanya menunduk, Ibuku ikut terdiam tak bisa berkata apapun. Kubiarkan kakiku
melangkah menuju kamar dengan diiringi sorotan mata tajam Ayah. Dari mana Ayah
tahu?
Saat
terbangun dari tidur aku kaget, entah mengapa pipi sebelah kananku menjadi kaku
tak dapat bergerak. Langsung aku menuju meja rias memandang wajahku, ah kenapa
aku ini? Wajah bagian kakanku seakan kaku, mata ini tak bisa berkedip, tak bisa
tersenyum, kenapa aku ini? Apa yang terjadi?. Akupun tersedu dengan histeris
aku kaget pada kejadian ini. Ayah dan ibuku terdengar berlari menuju kamarku.
“Ada
apa, Nak?” teriak ibuku saat membuka pintu
“Aku
tidak tahu, Bu..” jawabku dengan susah dan dengan logat yang tak jelas
“Kau
kenapa, Tika? Kenapa mukamu seperti ini” tanya Ayahku sambil memegangi kepalaku
dan menghadapkan mukaku padan Ayah.
Aku
tak menjawab hanya menangis, aku takut terjadi sesuatu kepadaku. Tuhan ada apa
ini? Setan apa yang menempel di wajahku hingga menjadikannya sebelah kaku.
Kemudian
aku dibawa ke Rumah Sakit dan di periksa. Kata dokter ini adalah stroke ringan
namanya bell’s palsy. Penyakit yang
menyerang syaraf ke 7 syaraf yang tepat berada di belakang telinga. Penyakit
ini timbul dikarenakan seringnya terkena angin malam dan di sebabkan oleh virus
herpes yang membuat syaraf menjadi bengkak akibat infeksi.Bell’s palsy menyerang salah satu sisi wajah, penderitanya akan
merasakan mati sebelah pada sisi yang terkena bell’s palsy. Mulai dari mata yang tak bisa dikedipkan, alis yang
tak bisa diangkat tidak bisa tersenyum sebelah, pun tak bisa meniup dan pipi
serta leher menjadi kaku. Penyakit ini bisa sembuh dengan bantuan obat dan
fisioterapi. Aku kaget, shok, dan mengutuk diri sendiri. Mungkin karena aku
melepas jilbabku aku menjadi seperti ini.
Akhirnya
aku meminta izin untuk tidak bersekolah sampai aku sembuh total. Kucoba memberi
tahu penyakitku ini pada Argo, berharap dia mau melihat keadaanku dan semakin
memperhatikanku. Tapi nyatanya berbeda, Argo malah menghindar dariku bahkan ia
tak pernah membalas sms atau mengangkat
teleponku. Aku kecewa, aku marah, aku sedih. Karena dia aku begini, tapi tak
sedikitpun peduli ia berikan padaku bahkan hanya untuk sekadar menjengukku.
Ahhh betapa ingin aku memakinya, tapi apa daya aku tak bisa apa-apa jangankan
untuk memaki, untuk berbicarapun aku tak kuasa.
Rasa
sesal sangat dalam kurasakan. Ingin rasanya mati saja mengahadapi ini semua.
Entah apa yang harus kupertahankan atas hidupku. Enggan rasanya hidup seperti
ini. Sekarang hari-hariku suram, profesi sebagai model yang dulu aku
idam-idamkan, kini hilang bahkan musnah begitu saja. Aku harus bagaimana? Ingin
aku mengakhiri hidup ini. Aku malu semua orang tahu akan penyakitku. Bahkan
mereka tahu sebab apa yang menjadikan penyakit ini bersarang di tubuhku. Bukan
hanya aku yang malu, namun orangtuakupun ikut tercoreng namanya. Hingga Ayahnku
kini sudah tidak lagi dipercaya untuk berceramah.
Penyakit
ini semakin menyiksa batinku, semakin dalam pula rasa sesalku, tak ada
perubahan dengan penyakit ini. Aku berjalan menuju kamar mandi. Ku nyalakan
keran kamar mandi, aku berdiri dibawah aliran keran itu untuk mengguyur
tubuhku. Aku menangis dengan sangat kerasnya di dalam kamar mandi. Menyesal
dengan semua ini, aku ingin bunuh diri. Pisau sudah kuletakkan tepat di nadi
tanganku. Dalam hitungan detik mungkin aku sudah tak bernyawa lagi, namun
langkahku terhenti setelah dengan tiba-tiba Ayah mendobrak paksa pintu kamar
mandi. Ayah langsung mengambil pisau yang hampir saja memutuskan urat nadiku
itu.
“Tika,
apa yang kau lakuka?” tanya Ayah padaku sambil mengambil pisau itu
“Lepas,
Yah. Tika ingin mati saja. Tika sudah membuat malu keluarga. Tika bosan hidup
dengan penyakit ini. Buat apa Tika hidup, hidup Tika tidak berguna.” Jawabku
masih diiringi dengan tangisan dan emosi yang tak terkendali.
Ayah
memelukku beliau ikut menangis. Baru kali ini aku melihat Ayah menangis. Akupun
tak berhenti untuk menangis.
“Sudahlah
Tika, tak perlu disesali. Apakah kau mau celaka untuk yang kedua kalinya?
Bahkan celaka di akhirat? Bila kau bunuh diri hanya dosa yang kau bawa Tik!”
ujar Ayahku masih dengan memelukku.
“Tapi
Tika sudah membuat malu Ayah dan Ibu, Tika tidak berguna. Tika anak
satu-satunya dalam keluarga ini, tapi malah Tika yang membuat coreng hitam di
keluarga kita.” Jawabku.
“Sudahlah
jangan kau sesali. Mulai sekarang, marilah kita tata kembali keluarga ini.
Jangan sampai tercoreng lagi. Kita harus berusaha untuk mengembalikan nama baik
keluarga kita jangan sampai kau putus asa.”
Aku
tak menjawab perkataan Ayah. Hanya tangisan yang mampu menjawab. Akupun
dibimbing Ayah menuju kamar. Aku disuruh menggati bajuku dan langsung tidur.
Akhirnya aku berusaha memejamkan mataku. Berharap mimpi buruk ini, kan segera
pergi.
Hari
ini aku kembali ke rumah sakit untuk menjalani fisioterapiku, dokter
menyarankanku untuk memakai penutup kepala yang rapat agar angin tak terlalu
kuat menyerang wajahku, wajah yang dulu pernah kubanggakan. Sepertinya penutup
yang tepat itu adalah jilbabku. Jilbab yang pernah ku tinggalkan karena nafsu
dan hasutan ya, hasutan Argo. Tapi tak patut juga kusalahkan Argo, akupun salah
yang mau mendengar hasutannya. Biarlah nanti Tuhan yang menyadarkannya. Angin
inipun ikut saja, hanya membuat penyakit dan bersarang ditubuhku. Angin buatku
ingin mati. Namun bell’s palsy menyadarkanku tentang kuasa Tuhan atas diriku.
No comments:
Post a Comment