Hesti S.
Sekeping Cinta yang Terpendam
Andaikan ku dapat
Mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan Seutuhnya
Rasa cintaku
Selamanya… selamanya…
Hidupku laksana karang yang tak tahu
kapan ombak akan menyapa dengan desirannya. Tapi tetap saja menunggu walau
lama-lama terkikis oleh apa yang ditunggu. Ini hanya sepenggal kisah dari
beribu kisah perasaan hati anak manusia yang tak hanya bahagia, tapi di
dalamnya juga terdapat luka dan perasaan-perasaan lain yang sulit untuk
digambarkan. Memang tidak setragis kisah cinta Qais dan Laila ataupun Romeo dan
Juliet. Tapi ini cinta yang tak dimengerti dan tak diketahui. Cinta yang
terungkap setelah waktu sudah tak mampu diputar.
Saat itu, aku duduk dibangku kelas
dua SMP. Bagi orang, itu adalah usia yang masih terlalu kecil untuk mengenal
rasa suka pada orang lain yang tak sama dengan kita. Tapi, apakah cinta datang
saat kita memintanya? Apakah kita mampu menolak anugerah yang Dia berikan pada
kita? Aku hanya perempuan biasa yang tak memiliki daya untuk menolak perasaan
itu. Kalau seandainya bisa, aku akan meminta agar Tuhan tak memberikan perasaan
ini padaku.
Dia begitu berbeda dari semua anak
laki-laki yang ku kenal. Dia sering memukulku, mengejekku, dingin padaku, tapi
aku tetap tak pergi darinya. Saat itu, aku tak sengaja melihat wajahnya yang
berada di dekat pintu kelas. Dia sedang menunduk. Ketika angin berhembus
menerpa wajahnya, aku merasakan desiran hebat dalam hatiku yang aku sendiri tak
mengerti apa itu. Tapi hatiku sejuk memandang wajahnya. Ah… perasaan ini
benar-benar menyiksa. Kulewati hari demi hari bersamanya. Walau kami sering
bertengkar dan dia sering marah padaku, tapi aku menerima semuanya dengan
senang. Karena aku tidak ingin dia mengetahui perasaanku.
Masuk kelas tiga, kami tak lagi
dikelas yang sama. Kami menjadi tetangga dalam tahun itu. Aku tidak ingin ini
terjadi, tapi aku harus menerimanya. Aku hanya takut dia berubah. Dia akan
melupakan aku yang bodoh ini. Tapi sepertinya aku salah, dia masih tetap
menganggapku temannya. Dia masih sering kerumahku untuk bermain. Walau tanpa
aku sadari, berita itu datang. Dia berpacaran dengan sahabat baikku, Via. Tanpa
sepengetahuanku. Hatiku terasa tercabik-cabik. Aku tak percaya ketika mendengar
berita itu. Aku ingin menangis tapi ku tahan semampuku. Aku benar-benar kecewa
padanya, karena hanya dia yang kuanggap mengetahui perasaanku, aku yang
mengenalkan Aldi padanya. Tapi dia tiba-tiba menikamku dengan cara seperti ini.
Ya Allah… apa salahku?
Hari demi hari berganti. Aku masih
bisa melihatnya, bahkan merasakan raganya. Kini dia berada di depanku. Dia
menyalurkan tangannya dengan membawa sebuah buku.
“Apa ini?, “ tanyaku tak mengerti.
“Ambillah, aku ingin memberikan ini
padamu”
Dia berkata
dengan senyum yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Apakah dia tahu aku
terluka karenanya? Apakah dia peduli pada perasaanku? Ah… begitu banyak
pertanyaan yang menyelimuti benakku. Pada akhirnya aku menerima buku itu. Buku
yang membuatku mendapat pukulan pertama kali dari seorang anak laki-laki, buku
yang membuatku bersusah payah mencari lagu ini dan itu, dan buku yang
membuatnya tersenyum saat melihat tingkah bodohku di depannya. Setelah dirumah,
kulihat di dalamnya ada sebuah DVD, pin, dan sesuatu yang mengagetkanku. Sebuah
surat! Dia memberiku sebuah surat. Kubuka pelan-pelan kertas itu.
Zia, aku titipkan buku ini
padamu. Aku harap kamu akan menjaganya. Jangan lupa diisi lagu-lagu yang aku
pesan. Sampai kamu nenek-nenek pun, aku akan selalu melihat buku ini. Awas
kalau rusak, aku gak bakal mau ngasih ini ke kamu lagi.
Aldi
Dia tak berubah,
tetap saja mengancam. Tapi aku begitu senang dia memberikan bukunya yang dia
bilang lebih berharga dari nyawaku itu kepadaku.
Waktu perlahan mengantarkan kami
pada saat-saat perpisahan. Aku ini menangis. Aku takut semua akan berubah. Aku
takut akan banyak perempuan lain dalam hidupnya. Aku benar-benar ingin memutar
waktu kembali. Tapi inilah hidup yang harus ku jalani. Pada akhirnya aku hanya
mampu mengantarkannya dengan sebuah senyuman. Karena setelah itu, kami
benar-benar dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh untukku.
Masa-masa SMA kulewati dengan
mencoba untuk mengikis dirinya dari hatiku. Tapi ketika dia datang lagi
kerumahku, aku teringat lagi oleh bayangannya. Bayangan masa itu selalu datang
mengingatkanku padanya dan selalu mampu meluluhkan air mata ini. Dia
benar-benar berubah, tapi perasaanku padanya tak pernah berubah. Dia sudah
miliki perempuan yang dia sayangi disampingnya. Walau hatiku sakit, tapi aku
bahagia untuknya. Aku tak ingin cintaku menjadi egois. Aku ingin dia bahagia
meski itu bukan denganku. Untuk apa dia bersamaku kalau dia tidak bahagia.
Aku mulai belajar untuk
melupakannya. Kini kami sama-sama memiliki seseorang yang selalu ada saat suka
dan duka. Dia dan kekasihnya, dan aku bersama Rizza, teman sekelasku yang
awalnya ku anggap biasa tapi kini mampu meluluhkan sedikit demi sedikit hatiku.
Kami lalui hari tanpa ku tahu kabarnya. Aku hanya dapat melihatnya melalui
sebuah kaca maya. Aku melihat wanita yang disampingnya begitu cantik dan aku
tersenyum untuk itu. Aku senang karena dia dapatkan seseorang yang sesuai
untuknya.
Ketika kami sama-sama lulus dari SMA
kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Kami berada di kota yang sama. Tapi
ku dengar dia masuk ke sebuah akademi militer. Aku tidak tahu kenapa dia suka
akan hal-hal seperti itu. Hal yang paling tidak aku sukai. Kami pun tidak
pernah bertemu hingga suatu hari dia datang kerumahku. Aku sempat kaget
sekaligus senang.
“Gimana kabarmu? Tambah subur aja,
“ejeknya padaku.
“Alhamdulillah baik, kamu?”
“Aku juga baik. Em… kamu udah punya
pacar?”
“Kenapa?”
“Cuma mau tanya, kalau belum, mau
gak jadi pacarku?, “tanyanya sambil cengengesan.
Aku begitu
terkejut mendengar perkataannya. Ku tahu bahwa dia sudah putus dengan
kekasihnya. Tapi aku memiliki Rizza yang tak mungkin ku tinggalkan. Ditambah
lagi, aku masih begitu ragu dengan hatinya. Aku takut dia hanya bermain-main
padaku. Dia begitu dingin. Sulit untuk semudah itu percaya padanya.
“Jangan bercanda. Aku gak pengen
jadi pacarmu.”
“Kenapa? Kamu udah punya pacar?”
“Em,
lagipula siapa yang mau pacaran sama raja iblis kayak kamu, “ kataku mencoba
menutupi perasaanku.
“Ya
sudah kalau gak mau. Jangan nyesel ya, ”katanya dengan raut muka mengancam.
“iya,
“balasku dengan senyum pahit.
Jujur aku masih belum mampu
melupakannya. Tapi aku takut untuk berhubungan dengannya. Aku takut dia tidak
akan menerima diriku apa adanya. Aku takut dia terus menerus membohongiku dan
dingin padaku. Ingin sekali kukatakan “Aku Mencintaimu” tapi aku tak dapat melakukannya.
Aku putuskan untuk mengakhiri
hubunganku dengan Rizza. Mungkin aku telah jahat padanya. Tapi aku tak mampu
membohongi perasaanku terus menerus. Sejak kedatangannya, aku selalu
mengingatnya. Tidak, selama ini aku memang selalu mengingatnya. Dia tak pernah
pergi dari hatiku. Tapi aku berusaha menepis semua rasaku. Mengubur dalam-dalam
ingatanku tentangnya.
Beberapa bulan kemudian, kulihat di
akun Facebooknya, dia sudah memiliki
kekasih. Hatiku remuk redam. Disaat seperti ini, Rizza selalu menemaniku walau
ku tahu hatinya sakit, Aku tetap mencurahkan perasaanku padanya. Aku menangis
di depannya. Aku bertekad tak akan lagi ada Aldi dan siapapun dalam hidupku.
Malam itu, aku
bermimpi yang begitu menakutkan. Aldi tiba-tiba berada di dekatku. Dia tersenyum
padaku dan memandangku dengan tatapan tulus yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Zia, aku…”
Tiba-tiba dia
menghilang. Aku bangun dan aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa hal seperti itu
tak pernah terwujud dalam dunia nyata. Kini dia telah bahagia dengan
pilihannya. Apalagi yang kuharapkan. Aku masih begitu penasaran dengan
kata-kata yang ingin dia ucapkan. Handphoneku
bergetar. Kulihat sebuah panggilan masuk dari temanku.
“Halo…”
“Halo, Zi, ini Azrul. Kamu masih menyimpan nomorku?”
“Iya Zrul, kenapa? Kok telpon
malam-malam?”
“Aldi Zi, Aldi…”
“Aldi kenapa Zrul?”
“Aldi, dia, dia meninggal”
Bagai kilat
menyambar tubuhku. Aku terdiam. Hp ku jatuh ke lantai. Aku tak dengarkan lagi
kata-kata Azrul. Aku benar-benar merasa dunia berputar dan berubah jadi gelap.
Aku ingin menangis. Tapi aku takut. Aku tak mau percaya dengan ini semua.
Pagi-pagi juga aku berangkat menuju
kotaku. Dengan begitu banyak perasaan dalam hatiku. Dengan membawa berjuta
kenangan bersamanya. Aku benar-benar melihat jelas kenangan itu terpampang
dihapadanku. Oh… aku tak tahan. Lambat laun, airmata ini mulai berjatuhan. Sebelum sampai dirumah, ku hapus airmataku.
Walaupun mataku tak dapat berbohong pada bapak dan ibu. Aku segera pamit daan
bergegas menuju rumahnya.
Kulihat begitu banyak orang disana.
Aku tak tahu harus bagaimana. Hingga Azrul menghampiriku.
“Zi…”
Aku hanya
melihatnya dengan tatapan hampa.
“Masuk Zi. Aku antar kamu lihat
dia.”
Aku menolak
ajakannya. Tapi hatiku ingin bertemu. Akhirnya ku ikuti Azrul masuk. Kulihat
ibunya disana. Ibu yang begitu ramah itu, kini tampak mati. Kulihat bekas
guratan airmata di wajahnya. Aku tak tega. Benar-benar tak tega. Ku dengar dia
meninggal saat menjalankan tugas. Azrul
membuka wajahnya, dan kulihat begitu jelas Aldi yang kini bahkan tak mau
memandangku. Airmataku tak tertahan lagi. Aku sudah tak memperhatikan
siapa-siapa yang ada didekatku. Aku ingin memanggilnya, tapi aku tak mampu. Aku
hanya teduduk lemas di sampingnya bersama dengan orang-orang yang mencintainya.
Upacara penghormatan pun
dilaksanakan. Jenazahnya mulai meninggalkan kami. Airmataku mengalir membahasi
pipi.
“Ya
Allah… mengapa Kau ambil dia? Mengapa Kau tak izinkan lagi aku bertemu
dengannya? Padahal Kau tahu aku mencintainya, “ jeritku dalam hati.
Hatiku begitu
pedih mendengar rintihan ibunya. Dunia kulihat semakin gelap, tak mampu lagi ku
topang badanku. Hanya lirih ku dengar orang-orang berteriak kearahku.
Aku terbangun dalam sebuah kamar
yang begitu asing. Tubuhku terasa begitu sakit. Tapi lebih sakit lagi hatiku.
Perlahan ku buka mata dan ku lihat ibunya berada disampingku.
“Tante…, “kataku lirih.
“Kamu sudah sadar?”
Aku ingat ketika
aku mengantar jenazahnya pergi. Sepertinya aku tak sadarkan diri.
“Saya dimana Tante?”
“Kamu dikamar Aldi, Zi…, “katanya
sambil mencoba tersenyum padaku.
Aku seperti tak
percaya bahwa aku ada dikamarnya.
“Tante
tahu kamu merasa kehilangan, tante lebih kehilangan lagi. Tante telah
merawatnya dan hidup dengannya selama dua puluh tahun lebih, “ katanya sambil
terisak.
“Maafkan
Zia Tante, Tante yang sabar ya, “kataku sambil menggenggam tangannya dalam
linangan air mata.
Tante menghapus
air matanya. Dia berjalan menuju lemari Aldi dan membawa sebuah buku kecil.
Sepertinya sebuah diary. Aku mencoba duduk saat itu juga. Tante duduk
disampingku dan memberikan diary itu padaku.
“Nak,
Aldi begitu sering membicarakanmu pada tante. Dari mulai kalian SMP sampai
sebelum dia meninggal, dia tetap membicarakanmu. Sepertinya terjadi sesuatu
dengan dirinya, dan tante baru mengerti setelah sebelum dia pergi tante membaca
diary nya. Bacalah agar kau juga mengerti.”
Ku terima buku
Aldi dan kubaca. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang sedang kuhadapi.
Aldi oh Aldi…
10 September 2005,
Dia
itu gadis yang menyebalkan. Walaupun sebenarnya cantik, tapi tetap saja
menyebalkan. Lain kali aku tak kan memberinya maaf. Hufft…
Aku tersenyum
saat membacanya.
8 Nopember 2005,
Diary,
kenapa ya hatiku jadi sering deg degan kalau melihatnya? Dia bahkan mengusikku
setiap saat? Apakah aku…? Akh tidak mungkin. …
Semua yang dia
tulis adalah tentangku. Tentang perasaannya yang tak pernah ku tahu. Bahwa
sebenarnya dia mencintaiku. Dia tidak mau berpacaran dengan Via, tapi dia
terpaksa karena tak tega melihat Via yang mencintainya. Ada sebuah tulisan yang
sepertinya ditulis beberapa bulan yang lalu..
Hatiku
gundah,
Aku
tak tahu harus bagaimana sekarang. Dia telah menolakku. Dia selalu menganggap
aku hanya bermain-main dengan perasaannya. Dia tak pernah percaya padaku. Apa
salahku? Ataukah memang aku salah karena begitu dingin padanya? Akh, seandainya
saja aku tak sepengecut ini dan tak menyimpan perasaanku hingga dia tak tahu
bahwa sebenarnya aku mencintainya. Zia, apakah kau juga mencintaiku? Aku
mencintaimu dari dulu. Beberapa tahun yang lalu. Aku ingin jadikan kau pacar
pertama dan terakhir dalam hidupku. Tapi aku terlalu bodoh saat itu. Kau tahu?
Hatiku begitu sakit saat aku tahu bahwa ada laki-laki lain disampingmu. Aku
terpaksa menjalani hari-hari seperti ini. Aku kesepian. Bantu aku melupakanmu
jika kau tak mencintaiku. Hatiku benar-benar sakit. L
Aku menangis tersedu-sedu membaca
apa yang dia tulis. Ku peluk erat diary itu. Tante dan aku juga berpelukan
dalam isak yang begitu dalam.
“Aldi, tunggulah aku disana. Aku
akan menemanimu agar kau tak kesepian. Tetaplah menjadi bintang yang bersinar
menerangi setiap malam kami. Aku mencintaimu…”
No comments:
Post a Comment