Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Sekeping Cinta yang Terpendam" Karya : Hesti S


Hesti S.
Sekeping Cinta yang Terpendam
Andaikan ku dapat
Mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan Seutuhnya
Rasa cintaku
Selamanya… selamanya…
            Hidupku laksana karang yang tak tahu kapan ombak akan menyapa dengan desirannya. Tapi tetap saja menunggu walau lama-lama terkikis oleh apa yang ditunggu. Ini hanya sepenggal kisah dari beribu kisah perasaan hati anak manusia yang tak hanya bahagia, tapi di dalamnya juga terdapat luka dan perasaan-perasaan lain yang sulit untuk digambarkan. Memang tidak setragis kisah cinta Qais dan Laila ataupun Romeo dan Juliet. Tapi ini cinta yang tak dimengerti dan tak diketahui. Cinta yang terungkap setelah waktu sudah tak mampu diputar.
            Saat itu, aku duduk dibangku kelas dua SMP. Bagi orang, itu adalah usia yang masih terlalu kecil untuk mengenal rasa suka pada orang lain yang tak sama dengan kita. Tapi, apakah cinta datang saat kita memintanya? Apakah kita mampu menolak anugerah yang Dia berikan pada kita? Aku hanya perempuan biasa yang tak memiliki daya untuk menolak perasaan itu. Kalau seandainya bisa, aku akan meminta agar Tuhan tak memberikan perasaan ini padaku.
            Dia begitu berbeda dari semua anak laki-laki yang ku kenal. Dia sering memukulku, mengejekku, dingin padaku, tapi aku tetap tak pergi darinya. Saat itu, aku tak sengaja melihat wajahnya yang berada di dekat pintu kelas. Dia sedang menunduk. Ketika angin berhembus menerpa wajahnya, aku merasakan desiran hebat dalam hatiku yang aku sendiri tak mengerti apa itu. Tapi hatiku sejuk memandang wajahnya. Ah… perasaan ini benar-benar menyiksa. Kulewati hari demi hari bersamanya. Walau kami sering bertengkar dan dia sering marah padaku, tapi aku menerima semuanya dengan senang. Karena aku tidak ingin dia mengetahui perasaanku.
            Masuk kelas tiga, kami tak lagi dikelas yang sama. Kami menjadi tetangga dalam tahun itu. Aku tidak ingin ini terjadi, tapi aku harus menerimanya. Aku hanya takut dia berubah. Dia akan melupakan aku yang bodoh ini. Tapi sepertinya aku salah, dia masih tetap menganggapku temannya. Dia masih sering kerumahku untuk bermain. Walau tanpa aku sadari, berita itu datang. Dia berpacaran dengan sahabat baikku, Via. Tanpa sepengetahuanku. Hatiku terasa tercabik-cabik. Aku tak percaya ketika mendengar berita itu. Aku ingin menangis tapi ku tahan semampuku. Aku benar-benar kecewa padanya, karena hanya dia yang kuanggap mengetahui perasaanku, aku yang mengenalkan Aldi padanya. Tapi dia tiba-tiba menikamku dengan cara seperti ini. Ya Allah… apa salahku?
            Hari demi hari berganti. Aku masih bisa melihatnya, bahkan merasakan raganya. Kini dia berada di depanku. Dia menyalurkan tangannya dengan membawa sebuah buku.
            “Apa ini?, “ tanyaku tak mengerti.
            “Ambillah, aku ingin memberikan ini padamu”
Dia berkata dengan senyum yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Apakah dia tahu aku terluka karenanya? Apakah dia peduli pada perasaanku? Ah… begitu banyak pertanyaan yang menyelimuti benakku. Pada akhirnya aku menerima buku itu. Buku yang membuatku mendapat pukulan pertama kali dari seorang anak laki-laki, buku yang membuatku bersusah payah mencari lagu ini dan itu, dan buku yang membuatnya tersenyum saat melihat tingkah bodohku di depannya. Setelah dirumah, kulihat di dalamnya ada sebuah DVD, pin, dan sesuatu yang mengagetkanku. Sebuah surat! Dia memberiku sebuah surat. Kubuka pelan-pelan kertas itu.
            Zia, aku titipkan buku ini padamu. Aku harap kamu akan menjaganya. Jangan lupa diisi lagu-lagu yang aku pesan. Sampai kamu nenek-nenek pun, aku akan selalu melihat buku ini. Awas kalau rusak, aku gak bakal mau ngasih ini ke kamu lagi.
                                                                                                                                    Aldi  
Dia tak berubah, tetap saja mengancam. Tapi aku begitu senang dia memberikan bukunya yang dia bilang lebih berharga dari nyawaku itu kepadaku.
            Waktu perlahan mengantarkan kami pada saat-saat perpisahan. Aku ini menangis. Aku takut semua akan berubah. Aku takut akan banyak perempuan lain dalam hidupnya. Aku benar-benar ingin memutar waktu kembali. Tapi inilah hidup yang harus ku jalani. Pada akhirnya aku hanya mampu mengantarkannya dengan sebuah senyuman. Karena setelah itu, kami benar-benar dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh untukku.
            Masa-masa SMA kulewati dengan mencoba untuk mengikis dirinya dari hatiku. Tapi ketika dia datang lagi kerumahku, aku teringat lagi oleh bayangannya. Bayangan masa itu selalu datang mengingatkanku padanya dan selalu mampu meluluhkan air mata ini. Dia benar-benar berubah, tapi perasaanku padanya tak pernah berubah. Dia sudah miliki perempuan yang dia sayangi disampingnya. Walau hatiku sakit, tapi aku bahagia untuknya. Aku tak ingin cintaku menjadi egois. Aku ingin dia bahagia meski itu bukan denganku. Untuk apa dia bersamaku kalau dia tidak bahagia.
            Aku mulai belajar untuk melupakannya. Kini kami sama-sama memiliki seseorang yang selalu ada saat suka dan duka. Dia dan kekasihnya, dan aku bersama Rizza, teman sekelasku yang awalnya ku anggap biasa tapi kini mampu meluluhkan sedikit demi sedikit hatiku. Kami lalui hari tanpa ku tahu kabarnya. Aku hanya dapat melihatnya melalui sebuah kaca maya. Aku melihat wanita yang disampingnya begitu cantik dan aku tersenyum untuk itu. Aku senang karena dia dapatkan seseorang yang sesuai untuknya.
            Ketika kami sama-sama lulus dari SMA kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Kami berada di kota yang sama. Tapi ku dengar dia masuk ke sebuah akademi militer. Aku tidak tahu kenapa dia suka akan hal-hal seperti itu. Hal yang paling tidak aku sukai. Kami pun tidak pernah bertemu hingga suatu hari dia datang kerumahku. Aku sempat kaget sekaligus senang.
            “Gimana kabarmu? Tambah subur aja, “ejeknya padaku.
            “Alhamdulillah baik, kamu?”
            “Aku juga baik. Em… kamu udah punya pacar?”
            “Kenapa?”
            “Cuma mau tanya, kalau belum, mau gak jadi pacarku?, “tanyanya sambil cengengesan.
Aku begitu terkejut mendengar perkataannya. Ku tahu bahwa dia sudah putus dengan kekasihnya. Tapi aku memiliki Rizza yang tak mungkin ku tinggalkan. Ditambah lagi, aku masih begitu ragu dengan hatinya. Aku takut dia hanya bermain-main padaku. Dia begitu dingin. Sulit untuk semudah itu percaya padanya.
            “Jangan bercanda. Aku gak pengen jadi pacarmu.”
            “Kenapa? Kamu udah punya pacar?”
“Em, lagipula siapa yang mau pacaran sama raja iblis kayak kamu, “ kataku mencoba menutupi perasaanku.
“Ya sudah kalau gak mau. Jangan nyesel ya, ”katanya dengan raut muka mengancam.
“iya, “balasku dengan senyum pahit.
            Jujur aku masih belum mampu melupakannya. Tapi aku takut untuk berhubungan dengannya. Aku takut dia tidak akan menerima diriku apa adanya. Aku takut dia terus menerus membohongiku dan dingin padaku. Ingin sekali kukatakan “Aku Mencintaimu” tapi aku tak dapat melakukannya.
            Aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Rizza. Mungkin aku telah jahat padanya. Tapi aku tak mampu membohongi perasaanku terus menerus. Sejak kedatangannya, aku selalu mengingatnya. Tidak, selama ini aku memang selalu mengingatnya. Dia tak pernah pergi dari hatiku. Tapi aku berusaha menepis semua rasaku. Mengubur dalam-dalam ingatanku tentangnya.
            Beberapa bulan kemudian, kulihat di akun Facebooknya, dia sudah memiliki kekasih. Hatiku remuk redam. Disaat seperti ini, Rizza selalu menemaniku walau ku tahu hatinya sakit, Aku tetap mencurahkan perasaanku padanya. Aku menangis di depannya. Aku bertekad tak akan lagi ada Aldi dan siapapun dalam hidupku.
Malam itu, aku bermimpi yang begitu menakutkan. Aldi tiba-tiba berada di dekatku. Dia tersenyum padaku dan memandangku dengan tatapan tulus yang tak pernah kulihat sebelumnya.
            “Zia, aku…”
Tiba-tiba dia menghilang. Aku bangun dan aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa hal seperti itu tak pernah terwujud dalam dunia nyata. Kini dia telah bahagia dengan pilihannya. Apalagi yang kuharapkan. Aku masih begitu penasaran dengan kata-kata yang ingin dia ucapkan. Handphoneku bergetar. Kulihat sebuah panggilan masuk dari temanku.
            “Halo…”
            “Halo, Zi, ini  Azrul. Kamu masih menyimpan nomorku?”
            “Iya Zrul, kenapa? Kok telpon malam-malam?”
            “Aldi Zi, Aldi…”
            “Aldi kenapa Zrul?”
            “Aldi, dia, dia meninggal”
Bagai kilat menyambar tubuhku. Aku terdiam. Hp ku jatuh ke lantai. Aku tak dengarkan lagi kata-kata Azrul. Aku benar-benar merasa dunia berputar dan berubah jadi gelap. Aku ingin menangis. Tapi aku takut. Aku tak mau percaya dengan ini semua.
            Pagi-pagi juga aku berangkat menuju kotaku. Dengan begitu banyak perasaan dalam hatiku. Dengan membawa berjuta kenangan bersamanya. Aku benar-benar melihat jelas kenangan itu terpampang dihapadanku. Oh… aku tak tahan. Lambat laun, airmata ini mulai berjatuhan.  Sebelum sampai dirumah, ku hapus airmataku. Walaupun mataku tak dapat berbohong pada bapak dan ibu. Aku segera pamit daan bergegas menuju rumahnya.
            Kulihat begitu banyak orang disana. Aku tak tahu harus bagaimana. Hingga Azrul menghampiriku.
            “Zi…”
Aku hanya melihatnya dengan tatapan hampa.
            “Masuk Zi. Aku antar kamu lihat dia.”
Aku menolak ajakannya. Tapi hatiku ingin bertemu. Akhirnya ku ikuti Azrul masuk. Kulihat ibunya disana. Ibu yang begitu ramah itu, kini tampak mati. Kulihat bekas guratan airmata di wajahnya. Aku tak tega. Benar-benar tak tega. Ku dengar dia meninggal saat menjalankan tugas.  Azrul membuka wajahnya, dan kulihat begitu jelas Aldi yang kini bahkan tak mau memandangku. Airmataku tak tertahan lagi. Aku sudah tak memperhatikan siapa-siapa yang ada didekatku. Aku ingin memanggilnya, tapi aku tak mampu. Aku hanya teduduk lemas di sampingnya bersama dengan orang-orang yang mencintainya.
            Upacara penghormatan pun dilaksanakan. Jenazahnya mulai meninggalkan kami. Airmataku mengalir membahasi pipi.
“Ya Allah… mengapa Kau ambil dia? Mengapa Kau tak izinkan lagi aku bertemu dengannya? Padahal Kau tahu aku mencintainya, “ jeritku dalam hati.
Hatiku begitu pedih mendengar rintihan ibunya. Dunia kulihat semakin gelap, tak mampu lagi ku topang badanku. Hanya lirih ku dengar orang-orang berteriak kearahku.
            Aku terbangun dalam sebuah kamar yang begitu asing. Tubuhku terasa begitu sakit. Tapi lebih sakit lagi hatiku. Perlahan ku buka mata dan ku lihat ibunya berada disampingku.
            “Tante…, “kataku lirih.
            “Kamu sudah sadar?”
Aku ingat ketika aku mengantar jenazahnya pergi. Sepertinya aku tak sadarkan diri.
            “Saya dimana Tante?”
            “Kamu dikamar Aldi, Zi…, “katanya sambil mencoba tersenyum padaku.
Aku seperti tak percaya bahwa aku ada dikamarnya.
“Tante tahu kamu merasa kehilangan, tante lebih kehilangan lagi. Tante telah merawatnya dan hidup dengannya selama dua puluh tahun lebih, “ katanya sambil terisak.
“Maafkan Zia Tante, Tante yang sabar ya, “kataku sambil menggenggam tangannya dalam linangan air mata.
Tante menghapus air matanya. Dia berjalan menuju lemari Aldi dan membawa sebuah buku kecil. Sepertinya sebuah diary. Aku mencoba duduk saat itu juga. Tante duduk disampingku dan memberikan diary itu padaku.
“Nak, Aldi begitu sering membicarakanmu pada tante. Dari mulai kalian SMP sampai sebelum dia meninggal, dia tetap membicarakanmu. Sepertinya terjadi sesuatu dengan dirinya, dan tante baru mengerti setelah sebelum dia pergi tante membaca diary nya. Bacalah agar kau juga mengerti.”
Ku terima buku Aldi dan kubaca. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang sedang kuhadapi. Aldi oh Aldi…
10 September 2005,
            Dia itu gadis yang menyebalkan. Walaupun sebenarnya cantik, tapi tetap saja menyebalkan. Lain kali aku tak kan memberinya maaf. Hufft…
Aku tersenyum saat membacanya.
8 Nopember 2005,
            Diary, kenapa ya hatiku jadi sering deg degan kalau melihatnya? Dia bahkan mengusikku setiap saat? Apakah aku…? Akh tidak mungkin. …
Semua yang dia tulis adalah tentangku. Tentang perasaannya yang tak pernah ku tahu. Bahwa sebenarnya dia mencintaiku. Dia tidak mau berpacaran dengan Via, tapi dia terpaksa karena tak tega melihat Via yang mencintainya. Ada sebuah tulisan yang sepertinya ditulis beberapa bulan yang lalu..
            Hatiku gundah,
            Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Dia telah menolakku. Dia selalu menganggap aku hanya bermain-main dengan perasaannya. Dia tak pernah percaya padaku. Apa salahku? Ataukah memang aku salah karena begitu dingin padanya? Akh, seandainya saja aku tak sepengecut ini dan tak menyimpan perasaanku hingga dia tak tahu bahwa sebenarnya aku mencintainya. Zia, apakah kau juga mencintaiku? Aku mencintaimu dari dulu. Beberapa tahun yang lalu. Aku ingin jadikan kau pacar pertama dan terakhir dalam hidupku. Tapi aku terlalu bodoh saat itu. Kau tahu? Hatiku begitu sakit saat aku tahu bahwa ada laki-laki lain disampingmu. Aku terpaksa menjalani hari-hari seperti ini. Aku kesepian. Bantu aku melupakanmu jika kau tak mencintaiku. Hatiku benar-benar sakit. L
            Aku menangis tersedu-sedu membaca apa yang dia tulis. Ku peluk erat diary itu. Tante dan aku juga berpelukan dalam isak yang begitu dalam.
            “Aldi, tunggulah aku disana. Aku akan menemanimu agar kau tak kesepian. Tetaplah menjadi bintang yang bersinar menerangi setiap malam kami. Aku mencintaimu…”

No comments:

Post a Comment