PECUNDANG BAHAGIA
Karya: Ahmad Badrudin
Tidak ada usaha yang sia-sia.Itulah salah satu pelajaran berharga yang
dapat aku petik dalam pengembaraan kumenemukan jati diri. Bukan jati diri nama stadion di kota ini. Namun
jati diri dalam menjalani hidup yang terkadang membosankan dan kadang kala terasa sangat mengharukan. Seandainya dipikir secara nalar,
sekarang akulah yang
menjadi seorang pecundang dan selamanya akan tetap menjadi pecundang. Namun yang
pasti aku berharap akan menjadi pecundang yang selalu merasa bahagia meskipun hati ini kadangtersayat-sayat dan terasa perih.
Kenangan itu muncul lagimanakalasecarataksengajafotogadismanisituterpampangsecarajelasdilayarlaptop-kuketikaakusedangisengmembukafile-filelamakusaatmengerjakanskripsi
yang tak juga kunjungselesai.
Sakitmemang.Namunterasamenyenangkandapatmengenalcewekmoodyitu.
Wanita yang pernahmengguncangkanhatikuitu
kini telahpergimeninggalkanhirukpikukduniaperkuliahansetelahdinyatakan lulus
darisalahsatuuniversitasnegeri di kota Lawang Sewu ini. Setelahwisudatigatahun yang lalu, kabarterakhir
yang akudengariasekarangsudahberkeluargadandikaruniaiseorangperimungil nan amat cantik bernamaBevhy
Wulandari. Sekarangiajugatelahmenjadipegawainegeridanmengajar di salahsatu SMP
di kotakelahirannya. RidaOktaviani, namagadis
yang wangirambutnyamasihbiasaku rasakan jikaanginberhembus.
Tak terasa waktu berlalu
begitu cepatnya. Sekarang aku telah sampai pada batas akhir pengembaraanku di
kampus tersayang ini. Kembali kepada filosofi sederhana dunia perkuliahan. Aku
dikeluarkan secara tidak terhormat atau aku keluar sendiri dengan menyandang
gelar sarjana sastraku. Aku kembali menengok foto kedua orang tuaku yang penuh
harap agar aku segera lulus dan mencari penghidupan sendiri yang layak.
Kehidupan mandiri yang tidak menggantungkan diri pada orang tua lagi. Kini
saatnya aku mengambil pilihan menjadi dewasa. Ya, kini aku telah dewasa.
“Tit... tit.. tit... tit...
tiiittttt... tit... tit... tit...... tit... tit.. tit... tit... tiiittttt...
tit... tit... tit.” nada
jadul sms dari telepon genggam yang juga jadul milikku mengagetkan lamunanku.
“Bro, ayo ke kampus sekarang.
Kamu gak mau DO kan. Ayo kita songsong masa depan dengan gemilang, bro, hehe.
Langkah awal kita adalah konsultasi sama dosen pembimbing kita tercinta. Pak
Samsul. Cepet bro, aku tunggu di depan B1.” begitu bunyi SMS yang terpampang di layar telepon genggamku yang kadang redup danmati sendiri.
Itulah bentuk keunikan dari isi hati dan pikiran sahabatku.
Tetapi hal itu yang selalu menginspirasiku. Dasar salah satu pecundang bahagia
yang selalu bermimpi tinggi. Sering juga disebut pemimpi kelas wahid. Olehkarenanyadiaseringmenghayaldalamdunia
yang diciptakannyasendiritanpamenghiraukandunianyata yang
tidakdapatdiajakkompromiuntukdiputarkembalikewaktulampau.Setalitigauang,
akutidakjauhberbedadaridirinya.
Setengah jam kemudianakusampai di tempatperjanjianantaraakudantemankuitu.
Pemandanganyang
tergambartentangkehidupankampussianginitidakjauhberbedadarihari-harisebelumnya. Suasana lingkungan kampusku ini begitu
asri. Banyakmahasiswahilirmudikdenganaktivitasmerekamasing-masing.Ada
mahasiswa yang sedangbergerombolmembicarakan agenda kegiatanmereka yang
menurutsebagiandarianggotagerombolantersebutkonyol.Ada pula mahasiswa yang
tengahmenggodatemannya yang sedangbelajar. Ada pula yang baruselesaikuliah.
Nampak pula wajahpenuhkemurungan yang entahapapermasalahan yang
sedangdihadapiolehnya.
“Duh, manasihtuh orang.Katanyanungguakudi depan B1.” keluhkusambilmengedarkanpandangankesegalapenjuru.
Akhirnyapencariankumembuahkanhasil ketikaaku melihatwujudmanusiajadi-jadian yang
sedangmenggodamahasiswi labil yang sedangduduk di
bawahpohonrindangdepankantorjurusan.
“Dasarmanusiaaneh, nggaknyadarumurtuhanak.Udah semester
tuaajamasihkegatelannggodainmahasiswi semester labil.” keluhku.
Sejuruskemudianakumenghampirisahabatkuitu.SidikDwiNugrohonamalengkapsahabatkaribkuitu.
Bisadisebutkaribkarenasejak semester awalsampaisekarangnasibkitaselalu selaras dan sinkron. Bisadibilangnasib yang
mempertemukankitadannasib pula yang membuatakudandiamengendapsepertiampas kopi
lelet di kampusini hampir
tujuhtahunlamanya.
Akan tetapi dibalik namaSidiqDwiNugroho itu tersimpan rahasia umum yang
sebenarnya penting dan tidak penting. Nama SidiqDwiNugrohotabuuntukdiucapkan
orang yang memilikitarafbiasadalam ukuran dia. Hanya dosen yang boleh menyebut
nama itu. Di kalangan mahasiswa dia biasa dipanggil Sidik Copra. Copra berarti
cowok pecinta rambutan. Ada satu lagi teman yang juga bernasib sama. Namanya
Juki Andar Prasongko. Namun dia sudah menghadap Yang Mahakuasa duluan karena
faktor obat alias over dosis.
“Bro, masih aja gak berubah kamu. Masih aja doyan nggodain mahasiswi yang
lagi galau.” celetukku yang serta-merta mengagetkan Sidik.
“Hehe… Itung-itung usaha, Dan. Gak kayak kamu dari masuk kuliah sampai
seusia dosen muda masih aja galau mikirin satu cewek. Sadar bro, cewek di dunia
ini masih banyak. Kamu tuh cowok yang baik. Terlalu baik malahan. Seharusnya
kamu bisa dapat cewek yang bisa menyayangi kamu apaa danya. Bukan ada apanya.
Dani… Dani. Dengan kamu terus-terusan stagnan dengan orang yang sama terus,
kamu gak bakalan bisa maju-maju. Gak akan bisa move on and always on.” ceramah Sidik kepadaku dengan gaya retorik
kelas wahidnya.
“Eh, emang mas-nya berdua semester berapa?” tanya cewek yang sedari tadi
ikut mendengarkan ceramah Ustad Sidik Copra.
“Dia udah semester limit, Mbak.” kataku.
“Alah, kayak kamumasih semester unyu-unyu aja.” balas Sidik.
“Jangan panggil Mbak donk, Mas. Khan aku masih semester awal. Mas berdua
angkatan berapa?” tanya mahasiswi labil itu lagi.
“Iya-iya. Kami angkatan dua ribu. Aku pergi dulu ya. Pengen nemuin Pak
Samsul.” sahutku lagi sambil beranjak mencari keberadaan dosen pembimbing
skripsiku.
“Udah dulu ya, Sinta. Eh… Santi. Sinta apa Santi tadi?” tanya Sidik
kepada gadis yang lumayan manis itu.
“Santi, Mas. Iya.. semangat ya nyelesein skripsinya. Moga bisa diwisuda
tahun ini.” jawabnya dengan senyuman tulus yang begitu manis.
“Amin. Kamu juga semangat kuliahnya. Jangan sering bolos.” balas Sidik.
“Yuhu.”
Sidik beranjak meninggalkan Santi dan menyusulku untuk menemui dosen
pembimbing skripsinya. Setelah mencari keberadaanku, dia menemukanku yang
sedang asyik konsultasi dengan Pak Samsul. Dia juga ikut nimbrung. Dengan sopan
ia menyalami Pak Samsul. Dan terjadi sedikit obrolan singkat tentang kegiatan
yang kami lakukan akhir-akhir ini. Selain itu kami juga asyik ngobrol tentang
harga BBM yang naik terus tiada henti. Satu jam penuh kami ngobrol bareng dosen
yang sangat ramah itu sambil konsultasi skripsi yang sudah hampir kelar.
Tinggal bab akhir saja. Sambil ngerevisi bab
sebelumnya. Akhirnya kami minta diri pada Pak Samsul.
“Akhirnya kelar juga ya Bro. Nggak kerasa skripsi kita hampir selesai
nih. Alhamdulillah.” kata Sidik kepadaku.
Sambil nyeruput kopi dihadapannya dia menyalakan rokok murahannya dan
menghisapnya dengan nikmat. Dia memang paling suka dengan rokok. Lebih-lebih
rokok yang dapat diajak kerjasama dengan kantongnya. Pernah suatu ketika dia
nyeletuk tentang perbedaan antara rokok dan cewek. Dalam kamusnya, cewek itu
nomor dua puluh tujuh. Nomor satu sampai dua puluh enamnya adalah rokok. Jadi,
rokok itu dua puluh enam kali lebih penting daripada cewek. Begitu gurauannya
dulu di kala senja ketika kami pulang bersama setelah mengikuti perkuliahan
sore.
“Iya, Alhamdulillah” jawabku atas perkataannya tadi.
Sebenarnya perhatianku tidak fokus terhadap rangkaian kata demi kata yang
diucapkan sahabatku itu. Perhatianku malahan dengan asyiknya teralihkan kepada
seorang cewek yang duduk sendiri di pojokkan kantin yang sedang asyik membaca
buku. Bukannya aku naksir atau apa. Namun ingatanku meluncur kepada memori
ketika masih semester empat dulu. Di tempat yang sama dan di saat momen yang
sama pula. Pada waktu itu saat dimana untuk pertama kalinya aku melihat Rida. Tiba-tiba saja gambaran suasana pada saat
pertama kali aku bertemu dengan Rida muncul kembali.
Dulu pada saat semerter dua sampai empat, aku dan Rida cukup dekat.
Memang benar aku ada rasa terhadap dirinya. Namun aku sadar dia sudah memiliki
seseorang yang dia harapkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Aku sendiri hanya
dianggap sebagai teman biasa. Bukan seseorang yang diharapkan olehnya. Alasan
dia sederhana. Aku lebih enak dijadikan teman. Namun tidak ada yang sia-sia.
Sedikit demi sedikit sebenarnya dia luluh juga terhadap perjuanganku untuk
mendapatkan cinta darinya. Semakin hari kami semakin dekat. Malahan teman-teman
yang lain menganggap kami pacaran. Namun entah apa yang dirasakan dia
sebenarnya. Semuanya terlihat aneh dan misterius. Entah aku hanya mendapat
harapan palsu. Atau aku saja yang terlalu percaya diri terus-terusan mengejarnya.
Sampai-sampai kata sahabatnya, aku hanya membuat Rida sebel karena orang yang
tidak suka dikejar-kejar namun terus saja dikejar ya pasti akan sebel juga.
Pernah suatu ketika saat aku berangkat kuliah Pendidikan Agama Islam di
Fakultas Ekonomi, aku melihat seseorang hendak bunuh diri. Dia berdiri di atas atap gedung serba guna. Tempat dimana tulisan besar universitas
kami tertulis. Sejurus
kemudian aku menghampirinya hendak menolong. Setelah menaiki lantai demi lantai
akhirnya aku sampai di lantai paling atas gedung tersebut. Aku kaget ternyata
Rida yang hendak bunuh diri. Dalam
sekejap tubuhku gemetaran. Bingung apa yang harus aku perbuat selanjutnya.
“apa yang sedang kamu lakukan, Rida?” tanyaku.
Awalnya dia kaget. Dia tidak menjawab. Hanya menangis tersedu. Bahkan
hendak meloncat turun. Aku
tambah bingung dengan kelakuan Rida pada saat itu. Rida yang dalam bayanganku
adalah sosok cewek yang selalu semangat dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Nyatanya juga mempunyai beban hidup yang aku sendiri pun tidak tahu.
“Masa depan kamu masih panjang, Rida. Apa yang kamu lakukan sekarang
adalah tindakan yang tidak diridhoi oleh Allah. Neraka, Rida. Neraka yang siap
menyambut kamu jika kamu bunuh diri. Apa kamu siap jika di akhirat nanti kamu
masuk di neraka dan dibenci oleh Allah karena tindakanmu yang zalim terhadap
diri kamu. Seandainya ada masalah, mungkin aku bisa membantu meringankan beban
masalah tersebut.” bujukku panjang lebar.
Rida Nampak agak tenang namun dia masih terlihat sesenggukan karena tangisnya.
Dalam diamnya, ia mulai beranjak dari pagar pembatas. Saat melihat kejadian itu
ada secercah kebahagiaan yang muncul dalam diriku. Saat itu juga aku memeluk
sahabatku yang hingga saat ini masih aku cintai tersebut dengan erat. Langit
yang sedari tadi mendung akhirnya mulai menumpahkan tangisnya. Tubuh kami
berdua basah kuyup karena guyuran air hujan. Dalam pelukanku itu, tangis Rida
semakin menjadi. Aku ikut sedih dengan apa yang ia rasakan pada saat itu. Walau
pun hingga saat ini aku tidak tahu beban apa yang ia pikul pada saat itu.
“Begitulah, Nak. Kadang kita tidak harus tahu untuk bisa merasakan.
Begitu pula cintaku pada dirinya. Nikmati saja masa mudamu dan jangan lupa
gunakan hatimu dalam menikmati hidupmu. Orang yang sukses adalah orang yang bisa
menikmati hidupnya. Tidak ada usaha yang sia-sia dalam hidup ini.” panjang
lebar aku bercerita kepada anakku tentang masa muda yang pernah aku alami.
No comments:
Post a Comment