Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Cinta Terbentur Restu " Karya: KUNI


KUNI
CINTA TERBENTUR RESTU

“Risqy” begitulah namaku yang sering dipanggil. Aku kuliah di salah satu kampus Jogja. Kakakku sudah bekerja umurnya sudah memasuki kepala 3 namanya Anis. Tetapi ia belum menikah juga. Dia sempat mempunyai pacar tapi karena pacarnya berbeda agama akhirnya terpaksa dia harus memutuskan hubungannya tersebut. Mungkin karena trauma dengan kisah cintanya yang dahulu yang tidak direstui karena perbedaan iman, akhirnya sampai saat ini kakakku tidak mau pacaran dahulu.
Abi memang selalu berpesan pada kita bertiga untuk memilih pacar yang seiman. Sebelum Abi tahu kalau kakak Anis punya pacar yang berbeda iman, kakak Anis memutuskan dahulu hubungannya, meskipun kakak Anis sangat sakit harus menerima kenyataannya.
Namun aku yang berkaca pada kisah cinta kakakku tentunya tidak mau harus sampai seperti itu. Makanya sebelum rasa cinta tumbuh aku selalu mencari tahu secara jelas terhadap laki-laki yang aku suka. Dan sekarang aku sedang merajut cinta dengan Kristian, teman sekampusku. Dia seiman denganku malahan dia selalu mengingatkanku solat bila azan tiba, dia calon iman yang baik untukku.
Tetapi dia orangnya sangat pendiam. Hanya ada satu orang yang tahu tentang segala kehidupannya. Namanya Arif. Dia sahabat dekat Kristian. Arif bilang, Kristian adalah orang yang sangat rajin beribadah. Akupun bercerita pada Abi tentang Kristian. Dan Abi mengundang Kristian ke rumah untuk makan malam bersama, Kristian pun tidak menolak. Dia datang dengan sopannya mengucapkan salam, Abi dan Umi cukup menyukai Kristian, katanya lampu hijau belum jalan tapi masih bisa jalan.
Aku sangat senang mendengarnya, tapi kebahagiaanku berubah menjadi iba saat aku melihat kakak Anis melamun. Mungkin kakak Anis sedih melihat restu Abi padaku. Aku jadi bingung, tapi semoga saja kakak Anis cepat mendapatkan pengganti pacarnya itu.
Sekarang aku kuliah dengan semangat karena restu dari Abi sudah aku kantongi. Aku sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dengan Kristian. Aku pun diajak ke kosan Kristian untuk bertemu keluarganya. Keluarga Kristian  tinggal di Semarang, mereka sangat jarang ke kosan Kristian di Jogja. Katanya karena mau ketemu aku jadi mereka mau ke Jogja. Aku senang, mereka mau meluangkan waktunya untuk bertemu denganku. Sebelum pergi aku pamit pada Umi dan Abi dan memasak sambal goreng kentang kesukaan Kristian.
Pukul 4 sore aku pergi ke kosan Kristian. Pada saat di kosan Kristian, aku merasa aneh, karena keluarganya tidak menyapa aku. Padahal aku rasa pakaianku sudah tertutup, dan kerudungku juga rapih, apa yang salah ya? Ya mungkin ini kesan pertama aja, semoga kalau bertemu lagi nanti tidak akan seperti ini. Pokoknya aku harus bisa membeli hati mereka. Aku terus berusaha membuka percakapan pada mereka, meskipun mereka hanya menjawab seperlunya tapi aku tetap dan terus bicara. Tidak terasa azan magrib berkumandang. Lalu aku izin ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, dan aku mencoba meminjam mukena pada Ibu dan Adik Kristian. Namun dengan asamnya mereka menjawab “tidak punya”. Lalu dengan kasarnya juga Kristian  mengajakku keluar untuk ke masjid, katanya mukena Ibu dan Adiknya tertinggal di Semarang. Lalu Ibunya membuang muka dari Kristian. Aku pun keluar untuk ke masjid sambil pamit pulang. Lalu aku mencoba untuk mencium tangan Ibunya tapi dengan kasarnya mereka pergi ke dapur. Aku sedih namun tak terlalu kumasukan dalam hati, mungkin semuanya butuh waktu.
Di saat kita berjalan menuju masjid, Kristian meminta maaf padaku atas semua sifat keluarganya. Aku hanya bisa menghela napas. Setelah kita solat magrib bersama di masjid terdekat, aku langsung pulang ke rumah.
Umi dan Abi juga bertanya tentang keluarga Kristian, dan aku menjawab mereka sangat baik. Dan tadi kita solat magrib jamaah di kosannya. Lalu aku masuk kamar, dan menceritakan semuanya pada kakak Anis. Kakak Anis sangat bertanya-tanya dengan yang aku ceritakan, dan kesimpulan kakak Anis, mungkin Kristian sudah dijodohkan dengan gadis lain sehingga keluarganya seperti itu padaku. Mudah-mudahan mereka hanya butuh waktu saja untuk menerima aku.
Malam berkisar seperti indahnya senyumanmu, bertajuk mimpi indah menghargai suatu kekurangan, manusia seperti pesona embun di pagi hari, basah, segar, dan alami, tapi keterangan tak menyejukkan hatiku, karena bagaimanapun aku sejuk di hatimu walaupun itu gelap.
Beberapa hari ini Kristian tak bisa dihubungi. Sudah beberapa hari juga Kristian tidak masuk kuliah dan aku mencoba bertanya pada sahabatnya Arif, dan Arif pun tidak tau. Tapi Arif mengajakku untuk ke kosan Kristian, siapa tau Kristian sakit. Namun saat sampai di kosan Kristian kamarnya sepi dan aku mencoba bertanya pada kamar sebelahnya, dan katanya Kristian pindah tidak tahu kemana. Aku berlari pulang ke rumah langsung masuk ke kamar, pertanyaan kakak Anis belum aku hiraukan karena hati masih sangat kesal dan kecewa.
Laksana gumpalan awan saat memanggil cinta, balasan hampa, seperti dermaga bisu, biru terharu, merah berani, dan hitam kekalahan. Sedangkan aku, hanya dapat terdiam berdiam diri memaksakan diri untuk menjadi batu karang, memaksakan telinga untuk selalu mendengar, memaksakan mata untuk selalu mendengar, memaksakan lidah untuk selalu bicara, namun semua itu bertolak belakang dengan adanya, satu persatu biru menjadi merah, merah menjadi darah, dan hitam menjadi putih, doa harapan menjadi kesia-siaan, batu karang menjadi lilin, sebuah mimipi menjadi kenyataan, susunan rencana menjadi berantakan.
Seminggu kemudian tiba-tiba Kristian datang ke rumahku bersama keluarganya katanya ingin silaturahim dengan keluargaku. Dan ternyata kemarin Kristian sakit di Semarang jadi tidak bisa pulang ke Jogja. Sedangkan telepon rusak. Dan sekarang Kristian kos di dekat kampus, kedua keluarga mengobrol dengan asiknya.
Setelah keluarga Kristian pulang, aku sangat bahagia dan tenang. Tidak ada lagi galau di hatiku. Namun saat pagi datang, Abi bicara padaku katanya beliau kurang nyaman pada keluarga Kristian tidak tahu kenapa. Mungkin karena keluarganya tidak memakai jilbab, tapi aku tegaskan pada Abi, jilbab bukan suatu untuk memperkuat segala iman didiri, siapa tahu mereka yang tidak berjilbab tapi ibadahnya lebih kuat dari kita, dan Abi pun diam berpikir.
Beberapa bulan aku berhubungan dengan Kristian, semua semakin terasa nyaman, hari minggu besok Abi mengajak Kristian untuk makan siang di rumah, tapi Kristian tidak bisa karena ada urusan keluarga katanya. Aneh kenapa Kristian paling tidak mau kalau diajak ketemuan hari minggu. Tapi aku tidak boleh berburuk sangka mungkin memang benar Kristian ada urusan keluarga. Setelah aku konfirmasi ke Abi dan Abi pun mengerti.
Hari minggu itu aku pergi ke pasar dengan kakak Anis. Aku melihat motor Kristian di tempat parkir gereja terdekat kampus. Aku dan kakak Anis kaget sedang apa Kristian di situ. Lalu aku menelpon Kristian. Tapi tidak diangkat setelah aku pulang ke rumah aku bingung dan terus mengobrolkannya dengan kakak Anis, dan obrolan berhenti karena Abi menghampiri kita. Sore sekitar pukul 4 Kristian menelpon dan meminta maaf karena telpon aku tidak diangkat karena sedang ada rapat keluarga di Semarang, dan aku menanyakan perihal motornya yang ada di tempat parkir gereja, dan dia bilang motornya dipinjam oleh Arif. Setelah penjelasan Kristian aku jadi tahu, Arif kan agama Kristen jadi dia setiap minggu berdoa ke gereja.
Kristian menghilang lagi. Sudah satu minggu ini Kristian menghilang lagi. Tapi barang- barangnya ada di kosannya. Aku mencoba mencari Arif untuk menanyakan soal Kristian, tapi tumben sekali Arif susah sekali ditemui. Tapi aku sangat merasa aneh pada Arif dia kayaknya menghindar dari aku. Arif pasti tahu seseuatu tentang Kristian yang aku gak boleh tahu.
Suatu hari aku menunggu di depan kelas Arif, aku bertekad untuk memaksa Arif, dan ketika Arif keluar dari kelasnya dia kaget melihatku. Dia mencoba berlari namun aku kejar dan dapat. Aku paksa Arif untuk mengatakan sesuatu tentang Kristian. Pertamanya Arif tidak mengaku apa-apa. Setelah aku paksa Arif, akhirnya Arif mengaku tahu keberadaan Kristian.
Lalu aku di antar ke Rumah Sakit Mardirahayu, diperjalanan menuju kamar aku tidak mau bertanya pada Arif. Yang aku rasakan hanya ingin cepat sampai ketujuannya. Setelah Arif membukakan pintu kamarnya, aku melihat Kristian tekulai lemah, letih, pucat, hidung dan tangannya penuh dengan alat-alat Dokter, dan ditemani adiknya.
Aku mendekati Kristian, namun cibiran dari mulut Adiknya terkena mukaku. Walaupun aku tidak tahu kenapa dia seperti itu, tapi untuk saat ini aku tidak peduli, yang ingin aku tahu adalah kenapa Kristian? Kristian bangun dan tersenyum manis padaku. Memberikan isyarat tangannya ingin digengam olehku. Akupun menggengamnya, dan berkata “kenapa?” Kristian menggelengkan kepala dan tersenyum manis, raut mukanya sangat terlihat kalau dia mencintaiku. Begitupun aku yang tidak ingin kehilangannya. Lalu keluarganya datang. Mereka menyuruhku keluar. Dan ketika itu di luar Ibunya bicara dengan nada sangat keras. Katanya Kristian punya penyakit kanker ganas, dan aku tidak boleh menggangu kehidupannya lagi. Karena aku adalah wanita yang merusak hidup Kristian. Kristian bisa parah seperti ini karena aku. Aku berjanji pada Ibunya untuk merawat Kristian saat Kristian sakit sampai kapanpun, tidak peduli beliau bilang aku keras kepala.
Lalu aku pamit pulang pada Kristian. Dan berjanji besok pagi akan kembali lagi. Aku pulang berjalan sendiri, karena Arif tadi sudah duluan pulang.
Satu sosok tidak tertampak didiri, namun selalu hadir dari hati. Kebiasaan diri menantinya tidak bisa dikekang lagi. Karena hati telah menunjukan arah padanya. Berbalas atau tidak aku tak peduli. Aku hanya ingin semua orang tahu, bila cintaku tidak bisa kurahasiakan lagi.
Setelah ku ceritakan tentang keadaan Kristian pada keluargaku, aku pamit untuk ke Rumah Sakit. Dan setelah sampai di rumah sakit, INALILAHI WAINAILAHI ROJIUN. Mereka menangisi Kristian yang sudah tertutup kain putih. Lalu aku dicaci dimaki oleh keluarganya. Namun yang sangat aku kagetkan keluarganya berkata Kristian bisa meninggal seperti ini karena aku. Dia bingung sudah mencintai kamu. Namun dia tidak bisa meninggalkan agamanya yang dia cintai. Apa maksudnya? Kita adalah keluarga yang beragama KRISTEN, Kristian hanya pura-pura beragama islam karena ingin menjadi pacar kamu. Kristian pura-pura salat itu karena kamu, padahal Kristian adalah anak yang sangat rajin beribadah ke gereja di hari Minggu.
Penjelasan yang sangat menyesakkanku lalu aku diusir secara kasar, dan mereka tidak mau aku ikut ke Semarang untuk pemakaman Kristian. Aku pulang sambil memandangi jenazah Kristian aku pulang menangis, menangis tidak peduli dengan orang yang memperhatikan aku. Arif mengantarkanku, dan saat aku sampai depan rumahku aku pingsan dan Arif membawaku ke rumah. Mungkin Arif menceritakan semuanya pada keluargaku.
Saat aku terbangun aku menjalankan salat subuh dan langsung pergi ke Semarang bersama Arif. Ketika aku pamit pada Abi, wajah Abi sangat marah padaku, dan mukanya memancarkan rasa sakit yang terhianati. Abi tidak mau bicara  tapi Umi mengijinkan ku, aku pergi.
Di saat aku sampai depan rumah Kristian, pintu rumahnya bergambar salib yang sangat besar. Sesampai aku masuk rumahnya Kristian di dalam peti, ia memakai jas sangat tampan aku menangis dan mencoba membacakan Alfatihah dalam hati. Namun belum selesai aku membacakan Alfatihah, aku diserang oleh Ibu dan Adikknya. Aku diusir, kerudungku dijambak, dan Arif mengantarku keluar dan aku akan mengikuti pamakaman Kristian dengan sembunyi-sembunyi.
Di saat mobil jenazahnya pergi aku mengikuti memakai taksi. Lalu tiba di tempat pemakan umum Kristen, aku berdiri sendiri di belakang pohon rindang yang sangat besar. Menatap kekasih yang aku cintai sedang di makamkan yang terperih aku memandanginya dari jauh, serta berjuta rahasia yang dia rahasiakan.
Setelah pemakaman itu selesai, mereka pergi pulang, yang tersisa hanya Arif. Aku berjalan menuju makam Kristian dengan langkah yang sangat berat dan hati yang sakit. Sakit bagai ditancap pisau, mungkin luka parah, lalu aku membuka tasku dan mengeluarkan kitab suci al-quran,
Yassin
Walquranilhakim
Innakalaminalmursalin
Alasirotimmustaqim
………………
………………

Aku pulang dengan tenang, karena telah menyampaikan ayat-ayat yang aku yakini pada Kristian. Ketika jiwa dirasuki rasa cinta, ketika hati berbalas kasih, di situlah kita merasa semua terasa indah. Tapi ketika semua pergi, sementara jiwa masih berharap abadi, maka perih dan hampa yang jadi bayangan hidup. Kau telah tanamkan rasa itu begitu dalam, sehingga aku tidak bisa lagi merasakan yang lain. Tapi hari ini kau telah ambil rasa itu. Rasa dimana kau lah yang terindah dalam hidupku. Kau yang mendidik aku agar aku tidak berpaling dalam melangkah. Aku sendiri tidak tahu, napasku sesak tanpa bisa apa-apa. Ketika kita berdua duduk di bus untuk pulang ke Semarang, Arif memberikan buku kecil padaku, katanya itu dari Kristian untukku, sebelum Kristian masuk rumah sakit.

Untuk Risqy yang kucinta.

Malam ini aku duduk sendiri. Menikmati sang rembulan, menanti pagi yang sebentar lagi akan datang. Mungkin karena tidak tahu apa esok akan menjadi tawa atau tangis untukku, tapi aku takkan menangis. Karena aku telah membuang semuanya atas kehadiranmu. Bila nanti kau berhenti mencintaiku, aku akan ambil lagi kesengsaraan yang telah ku buang. Aku akan tetap menunggu untuk sebuah harapan, yang mungkin akan hilang ditelan pagi. Harusnya kamu mengerti, betapa besar artimu untukku, yang kurasakan hanya tetes air mata demi seikat cinta. Tak akan aku tukar duka citaku demi kebahagiaan layak dan tak akan aku tumpahkan air mata, dari setiap bagian hidupkku tuk berubah menjadi dendam, tawaku ingin dirimu, tetaplah setetes air mata dan seulas senyuman, yang selalu mencintaiku.
Ada awan mendung tutupi pelangi. Namun pelangi kan janjikan mentari di balik mega hitam, adakah kau dengar sebaris puisi malam ini ? Bisukah rembulan malam. Ingin aku tampar setiap mimpi buruk yang menggigit kita. Biar kita terjaga saja dengan cinta kita berdua dalam gelapnya malam. Aku muak dengan setiap mimpi, meskipun itu mimpi indah. Aku ingin sebuah wujud, wujud nyata antara kau dan aku. Ingin kupeluk erat dirimu, agar kau tak jatuh dari negeri bumi mimpi yang tidak bertepi. Aku percaya akan cinta kita, tapi aku tak percaya dengan mimpi kita. Apakah cinta akan menjaga kita tetap berdua ? Aku tertatih setelah aku menjatuhkan diri disini. Coba bernapas setelah terhentak dengan apa yang belum pasti terjadi.
Malam ini kata siapa terang menderang? Hatiku gundah dan gelisah tak tentu. Karena aku sangat mencintaimu, aku hanya bisa pasrah dan berpesan padamu, “ renungkan semua keindahan yang kau miliki, nikmati dalam angan di hatimu. Bawalah dalam tidurmu, beri waktu tuk membenahi yang salah, semoga kau akan tetap bahagia selama-lamanya….” Kristian
Tak terasa bus yang aku naiki sudah sampai Jogja. Aku di antar sampai depan rumah oleh Arif. Lalu aku masuk ke rumah dengan keadaan hampa namun puas. Semua keluargaku memelukku, mereka menangis, dan akupun meminta maaf atas pengakuan bohong Kristian pada mereka semua, dan keluargaku sudah memaafkan semuanya. Lalu aku pergi ke kamar untuk tidur. Aku baringkan tubuhku, air mata tak bisa berhenti. Namun aku biarkan menetes sampai kapanpun ia menetes.
Aku marah, aku kecewa, aku merasa terhianati. Namun aku juga belum berhenti mencintainya. Semoga esok pagi aku terbangun dengan cerita yang berbeda dalam hidupku. Mengisi kertas yang putih kembali dengan coretan-coretan yang indah.

Bukan salah cinta telah mempertemukan kita
namun kitalah yang harus belajar ikhlas dari peristiwa ini
semoga ada hikmah yang dapat kita ambil
dari cinta kita yang terhalang dinding pemisah
bukan salah keyakinan kita yang tlah menciptakan jurang pemisah
namun mungkin ini sebuah ujian
agar kita lebih bayak berdo'a
semoga kelak ada cinta yang sejati untukmu dan juga untukku

                                                Selesai

No comments:

Post a Comment