KUNI
CINTA TERBENTUR RESTU
“Risqy” begitulah namaku yang sering dipanggil. Aku
kuliah di salah satu kampus Jogja. Kakakku sudah bekerja umurnya sudah memasuki
kepala 3 namanya Anis. Tetapi ia belum menikah juga. Dia sempat mempunyai pacar
tapi karena pacarnya berbeda agama akhirnya terpaksa dia harus memutuskan
hubungannya tersebut. Mungkin karena trauma dengan kisah cintanya yang dahulu
yang tidak direstui karena perbedaan iman, akhirnya sampai saat ini kakakku
tidak mau pacaran dahulu.
Abi memang selalu berpesan pada kita bertiga untuk
memilih pacar yang seiman. Sebelum Abi tahu kalau kakak Anis punya pacar yang
berbeda iman, kakak Anis memutuskan dahulu hubungannya, meskipun kakak Anis
sangat sakit harus menerima kenyataannya.
Namun aku yang berkaca pada kisah cinta kakakku
tentunya tidak mau harus sampai seperti itu. Makanya sebelum rasa cinta tumbuh
aku selalu mencari tahu secara jelas terhadap laki-laki yang aku suka. Dan
sekarang aku sedang merajut cinta dengan Kristian, teman sekampusku. Dia seiman
denganku malahan dia selalu mengingatkanku solat bila azan tiba, dia calon iman
yang baik untukku.
Tetapi dia orangnya sangat pendiam. Hanya ada satu
orang yang tahu tentang segala kehidupannya. Namanya Arif. Dia sahabat dekat Kristian.
Arif bilang, Kristian adalah orang yang sangat rajin beribadah. Akupun
bercerita pada Abi tentang Kristian. Dan Abi mengundang Kristian ke rumah untuk
makan malam bersama, Kristian pun tidak menolak. Dia datang dengan sopannya
mengucapkan salam, Abi dan Umi cukup menyukai Kristian, katanya lampu hijau
belum jalan tapi masih bisa jalan.
Aku sangat senang mendengarnya, tapi kebahagiaanku
berubah menjadi iba saat aku melihat kakak Anis melamun. Mungkin kakak Anis
sedih melihat restu Abi padaku. Aku jadi bingung, tapi semoga saja kakak Anis
cepat mendapatkan pengganti pacarnya itu.
Sekarang aku kuliah dengan semangat karena restu dari
Abi sudah aku kantongi. Aku sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dengan
Kristian. Aku pun diajak ke kosan Kristian untuk bertemu keluarganya. Keluarga
Kristian tinggal di Semarang, mereka
sangat jarang ke kosan Kristian di Jogja. Katanya karena mau ketemu aku jadi
mereka mau ke Jogja. Aku senang, mereka mau meluangkan waktunya untuk bertemu
denganku. Sebelum pergi aku pamit pada Umi dan Abi dan memasak sambal goreng
kentang kesukaan Kristian.
Pukul 4 sore aku pergi ke kosan Kristian. Pada saat di
kosan Kristian, aku merasa aneh, karena keluarganya tidak menyapa aku. Padahal
aku rasa pakaianku sudah tertutup, dan kerudungku juga rapih, apa yang salah
ya? Ya mungkin ini kesan pertama aja, semoga kalau bertemu lagi nanti tidak
akan seperti ini. Pokoknya aku harus bisa membeli hati mereka. Aku terus
berusaha membuka percakapan pada mereka, meskipun mereka hanya menjawab seperlunya
tapi aku tetap dan terus bicara. Tidak terasa azan magrib berkumandang. Lalu
aku izin ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, dan aku mencoba meminjam
mukena pada Ibu dan Adik Kristian. Namun dengan asamnya mereka menjawab “tidak
punya”. Lalu dengan kasarnya juga Kristian
mengajakku keluar untuk ke masjid, katanya mukena Ibu dan Adiknya
tertinggal di Semarang. Lalu Ibunya membuang muka dari Kristian. Aku pun keluar
untuk ke masjid sambil pamit pulang. Lalu aku mencoba untuk mencium tangan
Ibunya tapi dengan kasarnya mereka pergi ke dapur. Aku sedih namun tak terlalu
kumasukan dalam hati, mungkin semuanya butuh waktu.
Di saat kita berjalan menuju masjid, Kristian meminta
maaf padaku atas semua sifat keluarganya. Aku hanya bisa menghela napas.
Setelah kita solat magrib bersama di masjid terdekat, aku langsung pulang ke
rumah.
Umi dan Abi juga bertanya tentang keluarga Kristian,
dan aku menjawab mereka sangat baik. Dan tadi kita solat magrib jamaah di
kosannya. Lalu aku masuk kamar, dan menceritakan semuanya pada kakak Anis.
Kakak Anis sangat bertanya-tanya dengan yang aku ceritakan, dan kesimpulan
kakak Anis, mungkin Kristian sudah dijodohkan dengan gadis lain sehingga
keluarganya seperti itu padaku. Mudah-mudahan mereka hanya butuh waktu saja
untuk menerima aku.
Malam berkisar seperti indahnya senyumanmu, bertajuk
mimpi indah menghargai suatu kekurangan, manusia seperti pesona embun di pagi
hari, basah, segar, dan alami, tapi keterangan tak menyejukkan hatiku, karena
bagaimanapun aku sejuk di hatimu walaupun itu gelap.
Beberapa hari ini Kristian tak bisa dihubungi. Sudah
beberapa hari juga Kristian tidak masuk kuliah dan aku mencoba bertanya pada
sahabatnya Arif, dan Arif pun tidak tau. Tapi Arif mengajakku untuk ke kosan
Kristian, siapa tau Kristian sakit. Namun saat sampai di kosan Kristian
kamarnya sepi dan aku mencoba bertanya pada kamar sebelahnya, dan katanya
Kristian pindah tidak tahu kemana. Aku berlari pulang ke rumah langsung masuk
ke kamar, pertanyaan kakak Anis belum aku hiraukan karena hati masih sangat
kesal dan kecewa.
Laksana gumpalan awan saat memanggil cinta, balasan
hampa, seperti dermaga bisu, biru terharu, merah berani, dan hitam kekalahan.
Sedangkan aku, hanya dapat terdiam berdiam diri memaksakan diri untuk menjadi
batu karang, memaksakan telinga untuk selalu mendengar, memaksakan mata untuk
selalu mendengar, memaksakan lidah untuk selalu bicara, namun semua itu
bertolak belakang dengan adanya, satu persatu biru menjadi merah, merah menjadi
darah, dan hitam menjadi putih, doa harapan menjadi kesia-siaan, batu karang
menjadi lilin, sebuah mimipi menjadi kenyataan, susunan rencana menjadi
berantakan.
Seminggu kemudian tiba-tiba Kristian datang ke rumahku
bersama keluarganya katanya ingin silaturahim dengan keluargaku. Dan ternyata
kemarin Kristian sakit di Semarang jadi tidak bisa pulang ke Jogja. Sedangkan
telepon rusak. Dan sekarang Kristian kos di dekat kampus, kedua keluarga
mengobrol dengan asiknya.
Setelah keluarga Kristian pulang, aku sangat bahagia
dan tenang. Tidak ada lagi galau di hatiku. Namun saat pagi datang, Abi bicara
padaku katanya beliau kurang nyaman pada keluarga Kristian tidak tahu kenapa.
Mungkin karena keluarganya tidak memakai jilbab, tapi aku tegaskan pada Abi,
jilbab bukan suatu untuk memperkuat segala iman didiri, siapa tahu mereka yang
tidak berjilbab tapi ibadahnya lebih kuat dari kita, dan Abi pun diam berpikir.
Beberapa bulan aku berhubungan dengan Kristian, semua
semakin terasa nyaman, hari minggu besok Abi mengajak Kristian untuk makan
siang di rumah, tapi Kristian tidak bisa karena ada urusan keluarga katanya.
Aneh kenapa Kristian paling tidak mau kalau diajak ketemuan hari minggu. Tapi
aku tidak boleh berburuk sangka mungkin memang benar Kristian ada urusan
keluarga. Setelah aku konfirmasi ke Abi dan Abi pun mengerti.
Hari minggu itu aku pergi ke pasar dengan kakak Anis.
Aku melihat motor Kristian di tempat parkir gereja terdekat kampus. Aku dan
kakak Anis kaget sedang apa Kristian di situ. Lalu aku menelpon Kristian. Tapi
tidak diangkat setelah aku pulang ke rumah aku bingung dan terus
mengobrolkannya dengan kakak Anis, dan obrolan berhenti karena Abi menghampiri
kita. Sore sekitar pukul 4 Kristian menelpon dan meminta maaf karena telpon aku
tidak diangkat karena sedang ada rapat keluarga di Semarang, dan aku menanyakan
perihal motornya yang ada di tempat parkir gereja, dan dia bilang motornya
dipinjam oleh Arif. Setelah penjelasan Kristian aku jadi tahu, Arif kan agama
Kristen jadi dia setiap minggu berdoa ke gereja.
Kristian menghilang lagi. Sudah satu minggu ini
Kristian menghilang lagi. Tapi barang- barangnya ada di kosannya. Aku mencoba
mencari Arif untuk menanyakan soal Kristian, tapi tumben sekali Arif susah
sekali ditemui. Tapi aku sangat merasa aneh pada Arif dia kayaknya menghindar
dari aku. Arif pasti tahu seseuatu tentang Kristian yang aku gak boleh tahu.
Suatu hari aku menunggu di depan kelas Arif, aku
bertekad untuk memaksa Arif, dan ketika Arif keluar dari kelasnya dia kaget
melihatku. Dia mencoba berlari namun aku kejar dan dapat. Aku paksa Arif untuk
mengatakan sesuatu tentang Kristian. Pertamanya Arif tidak mengaku apa-apa.
Setelah aku paksa Arif, akhirnya Arif mengaku tahu keberadaan Kristian.
Lalu aku di antar ke Rumah Sakit Mardirahayu,
diperjalanan menuju kamar aku tidak mau bertanya pada Arif. Yang aku rasakan
hanya ingin cepat sampai ketujuannya. Setelah Arif membukakan pintu kamarnya,
aku melihat Kristian tekulai lemah, letih, pucat, hidung dan tangannya penuh
dengan alat-alat Dokter, dan ditemani adiknya.
Aku mendekati Kristian, namun cibiran dari mulut
Adiknya terkena mukaku. Walaupun aku tidak tahu kenapa dia seperti itu, tapi
untuk saat ini aku tidak peduli, yang ingin aku tahu adalah kenapa Kristian?
Kristian bangun dan tersenyum manis padaku. Memberikan isyarat tangannya ingin
digengam olehku. Akupun menggengamnya, dan berkata “kenapa?” Kristian
menggelengkan kepala dan tersenyum manis, raut mukanya sangat terlihat kalau
dia mencintaiku. Begitupun aku yang tidak ingin kehilangannya. Lalu keluarganya
datang. Mereka menyuruhku keluar. Dan ketika itu di luar Ibunya bicara dengan
nada sangat keras. Katanya Kristian punya penyakit kanker ganas, dan aku tidak
boleh menggangu kehidupannya lagi. Karena aku adalah wanita yang merusak hidup
Kristian. Kristian bisa parah seperti ini karena aku. Aku berjanji pada Ibunya
untuk merawat Kristian saat Kristian sakit sampai kapanpun, tidak peduli beliau
bilang aku keras kepala.
Lalu aku pamit pulang pada Kristian. Dan berjanji
besok pagi akan kembali lagi. Aku pulang berjalan sendiri, karena Arif tadi sudah
duluan pulang.
Satu sosok tidak tertampak didiri, namun selalu hadir
dari hati. Kebiasaan diri menantinya tidak bisa dikekang lagi. Karena hati
telah menunjukan arah padanya. Berbalas atau tidak aku tak peduli. Aku hanya
ingin semua orang tahu, bila cintaku tidak bisa kurahasiakan lagi.
Setelah ku ceritakan tentang keadaan Kristian pada
keluargaku, aku pamit untuk ke Rumah Sakit. Dan setelah sampai di rumah sakit,
INALILAHI WAINAILAHI ROJIUN. Mereka menangisi Kristian yang sudah tertutup kain
putih. Lalu aku dicaci dimaki oleh keluarganya. Namun yang sangat aku kagetkan
keluarganya berkata Kristian bisa meninggal seperti ini karena aku. Dia bingung
sudah mencintai kamu. Namun dia tidak bisa meninggalkan agamanya yang dia
cintai. Apa maksudnya? Kita adalah keluarga yang beragama KRISTEN, Kristian
hanya pura-pura beragama islam karena ingin menjadi pacar kamu. Kristian
pura-pura salat itu karena kamu, padahal Kristian adalah anak yang sangat rajin
beribadah ke gereja di hari Minggu.
Penjelasan yang sangat menyesakkanku lalu aku diusir
secara kasar, dan mereka tidak mau aku ikut ke Semarang untuk pemakaman
Kristian. Aku pulang sambil memandangi jenazah Kristian aku pulang menangis,
menangis tidak peduli dengan orang yang memperhatikan aku. Arif mengantarkanku,
dan saat aku sampai depan rumahku aku pingsan dan Arif membawaku ke rumah.
Mungkin Arif menceritakan semuanya pada keluargaku.
Saat aku terbangun aku menjalankan salat subuh dan
langsung pergi ke Semarang bersama Arif. Ketika aku pamit pada Abi, wajah Abi
sangat marah padaku, dan mukanya memancarkan rasa sakit yang terhianati. Abi
tidak mau bicara tapi Umi mengijinkan
ku, aku pergi.
Di saat aku sampai depan rumah Kristian, pintu
rumahnya bergambar salib yang sangat besar. Sesampai aku masuk rumahnya Kristian
di dalam peti, ia memakai jas sangat tampan aku menangis dan mencoba membacakan
Alfatihah dalam hati. Namun belum selesai aku membacakan Alfatihah, aku
diserang oleh Ibu dan Adikknya. Aku diusir, kerudungku dijambak, dan Arif
mengantarku keluar dan aku akan mengikuti pamakaman Kristian dengan
sembunyi-sembunyi.
Di saat mobil jenazahnya pergi aku mengikuti memakai
taksi. Lalu tiba di tempat pemakan umum Kristen, aku berdiri sendiri di
belakang pohon rindang yang sangat besar. Menatap kekasih yang aku cintai
sedang di makamkan yang terperih aku memandanginya dari jauh, serta berjuta
rahasia yang dia rahasiakan.
Setelah pemakaman itu selesai, mereka pergi pulang,
yang tersisa hanya Arif. Aku berjalan menuju makam Kristian dengan langkah yang
sangat berat dan hati yang sakit. Sakit bagai ditancap pisau, mungkin luka
parah, lalu aku membuka tasku dan mengeluarkan kitab suci al-quran,
Yassin
Walquranilhakim
Innakalaminalmursalin
Alasirotimmustaqim
………………
………………
Aku pulang dengan tenang, karena telah menyampaikan ayat-ayat yang aku yakini pada Kristian. Ketika jiwa dirasuki rasa cinta, ketika hati berbalas kasih, di situlah kita merasa semua terasa indah. Tapi ketika semua pergi, sementara jiwa masih berharap abadi, maka perih dan hampa yang jadi bayangan hidup. Kau telah tanamkan rasa itu begitu dalam, sehingga aku tidak bisa lagi merasakan yang lain. Tapi hari ini kau telah ambil rasa itu. Rasa dimana kau lah yang terindah dalam hidupku. Kau yang mendidik aku agar aku tidak berpaling dalam melangkah. Aku sendiri tidak tahu, napasku sesak tanpa bisa apa-apa. Ketika kita berdua duduk di bus untuk pulang ke Semarang, Arif memberikan buku kecil padaku, katanya itu dari Kristian untukku, sebelum Kristian masuk rumah sakit.
Walquranilhakim
Innakalaminalmursalin
Alasirotimmustaqim
………………
………………
Aku pulang dengan tenang, karena telah menyampaikan ayat-ayat yang aku yakini pada Kristian. Ketika jiwa dirasuki rasa cinta, ketika hati berbalas kasih, di situlah kita merasa semua terasa indah. Tapi ketika semua pergi, sementara jiwa masih berharap abadi, maka perih dan hampa yang jadi bayangan hidup. Kau telah tanamkan rasa itu begitu dalam, sehingga aku tidak bisa lagi merasakan yang lain. Tapi hari ini kau telah ambil rasa itu. Rasa dimana kau lah yang terindah dalam hidupku. Kau yang mendidik aku agar aku tidak berpaling dalam melangkah. Aku sendiri tidak tahu, napasku sesak tanpa bisa apa-apa. Ketika kita berdua duduk di bus untuk pulang ke Semarang, Arif memberikan buku kecil padaku, katanya itu dari Kristian untukku, sebelum Kristian masuk rumah sakit.
Untuk Risqy yang kucinta.
Malam ini aku duduk sendiri. Menikmati sang rembulan,
menanti pagi yang sebentar lagi akan datang. Mungkin karena tidak tahu apa esok
akan menjadi tawa atau tangis untukku, tapi aku takkan menangis. Karena aku
telah membuang semuanya atas kehadiranmu. Bila nanti kau berhenti mencintaiku,
aku akan ambil lagi kesengsaraan yang telah ku buang. Aku akan tetap menunggu
untuk sebuah harapan, yang mungkin akan hilang ditelan pagi. Harusnya kamu
mengerti, betapa besar artimu untukku, yang kurasakan hanya tetes air mata demi
seikat cinta. Tak akan aku tukar duka citaku demi kebahagiaan layak dan tak
akan aku tumpahkan air mata, dari setiap bagian hidupkku tuk berubah menjadi
dendam, tawaku ingin dirimu, tetaplah setetes air mata dan seulas senyuman,
yang selalu mencintaiku.
Ada awan mendung tutupi pelangi. Namun pelangi kan janjikan mentari di balik mega hitam, adakah kau dengar sebaris puisi malam ini ? Bisukah rembulan malam. Ingin aku tampar setiap mimpi buruk yang menggigit kita. Biar kita terjaga saja dengan cinta kita berdua dalam gelapnya malam. Aku muak dengan setiap mimpi, meskipun itu mimpi indah. Aku ingin sebuah wujud, wujud nyata antara kau dan aku. Ingin kupeluk erat dirimu, agar kau tak jatuh dari negeri bumi mimpi yang tidak bertepi. Aku percaya akan cinta kita, tapi aku tak percaya dengan mimpi kita. Apakah cinta akan menjaga kita tetap berdua ? Aku tertatih setelah aku menjatuhkan diri disini. Coba bernapas setelah terhentak dengan apa yang belum pasti terjadi.
Malam ini kata siapa terang menderang? Hatiku gundah dan gelisah tak tentu. Karena aku sangat mencintaimu, aku hanya bisa pasrah dan berpesan padamu, “ renungkan semua keindahan yang kau miliki, nikmati dalam angan di hatimu. Bawalah dalam tidurmu, beri waktu tuk membenahi yang salah, semoga kau akan tetap bahagia selama-lamanya….” Kristian
Ada awan mendung tutupi pelangi. Namun pelangi kan janjikan mentari di balik mega hitam, adakah kau dengar sebaris puisi malam ini ? Bisukah rembulan malam. Ingin aku tampar setiap mimpi buruk yang menggigit kita. Biar kita terjaga saja dengan cinta kita berdua dalam gelapnya malam. Aku muak dengan setiap mimpi, meskipun itu mimpi indah. Aku ingin sebuah wujud, wujud nyata antara kau dan aku. Ingin kupeluk erat dirimu, agar kau tak jatuh dari negeri bumi mimpi yang tidak bertepi. Aku percaya akan cinta kita, tapi aku tak percaya dengan mimpi kita. Apakah cinta akan menjaga kita tetap berdua ? Aku tertatih setelah aku menjatuhkan diri disini. Coba bernapas setelah terhentak dengan apa yang belum pasti terjadi.
Malam ini kata siapa terang menderang? Hatiku gundah dan gelisah tak tentu. Karena aku sangat mencintaimu, aku hanya bisa pasrah dan berpesan padamu, “ renungkan semua keindahan yang kau miliki, nikmati dalam angan di hatimu. Bawalah dalam tidurmu, beri waktu tuk membenahi yang salah, semoga kau akan tetap bahagia selama-lamanya….” Kristian
Tak terasa bus yang aku naiki sudah sampai Jogja. Aku
di antar sampai depan rumah oleh Arif. Lalu aku masuk ke rumah dengan keadaan
hampa namun puas. Semua keluargaku memelukku, mereka menangis, dan akupun
meminta maaf atas pengakuan bohong Kristian pada mereka semua, dan keluargaku
sudah memaafkan semuanya. Lalu aku pergi ke kamar untuk tidur. Aku baringkan
tubuhku, air mata tak bisa berhenti. Namun aku biarkan menetes sampai kapanpun
ia menetes.
Aku marah, aku kecewa, aku merasa terhianati. Namun
aku juga belum berhenti mencintainya. Semoga esok pagi aku terbangun dengan
cerita yang berbeda dalam hidupku. Mengisi kertas yang putih kembali dengan
coretan-coretan yang indah.
Bukan salah cinta telah mempertemukan kita
namun kitalah yang harus belajar ikhlas dari peristiwa
ini
semoga ada hikmah yang dapat kita ambil
dari cinta kita yang terhalang dinding pemisah
bukan salah keyakinan kita yang tlah menciptakan
jurang pemisah
namun mungkin ini sebuah ujian
agar kita lebih bayak berdo'a
semoga kelak ada cinta yang sejati untukmu dan juga
untukku
Selesai
No comments:
Post a Comment