Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " JUTEK" Karya : Cinda Rizki Aulia


Cinda Rizki Aulia
J U T E K
Hijau dedaunan terhampar diseluruh jalan beralaskan rumput nan rindang. Betapa bahagianya dia, gadis yang kini sedang menjalani proses dewasa awal ketika melihat sosok yang telah beradu dengan sebuah realita kematian. Tubuh mungil yang  dilahirkan setelah sebelas bulan dalam rahim wanita terbaik di dunia fana ini diberi nama Inda Rizkia Auli. Aneh memang mendengar kalimat demi kaliamat yang dirangkai oleh ibunya tentang kelahirannya yang jauh dari kewajaran, dan cukup susah logika manusia biasa untuk bermain petak umpet dengan sebuah kenyataan.
Kedua orangtua Inda selalu siap sedia jika dikaitkan dengan pendidikan anak- anaknya. Akan tetapi, tidak dengan kebutuhan sekunder. Tidak semua rengekan buah hati mereka dikabulkan, karena bagi pasangan yang dikaruniai tiga anak ini, ilmulah yang terpenting.
Jutek, sapaan teman- teman pada Inda. Penganugerahan predikat jutek sejak mengenakan putih biru. Semua orang yang berbincang dengannya hanyalah bebatuan yang dapat berbicara. Sebab, hanya respon singkat yang selalu ia keluarkan dari bibir eksotisnya.
Kedua kakaknya Nuga dan Bilsa. Nuga adalah sosok tegar yang penuh semangat. Kakak pertama Inda kini bekerja di sebuah pertambangan emas bagian kesehatan. Meski dulu pria perut buncit berbadan tegap ini harus jatuh bangun menjual barang- barang yang masih layak pakai, membuka perpustakaan mini di rumah peninggalan kakek kesayangan, membuka usaha rental komputer, bahkan harus mendorong gerobak es yang dibubuhi dengan huruf bertuliskan INDA di bagian atas gerobak es kelapa muda warna hijau tua. Betapa sayangnya ia pada adik perempuan kecilnya itu. Sehingga semua yang berkaitan dengan usaha yang ia jalani, ada jiwa INDA di dalamnya.
Sedangkan Bilsa, kakak perempuan Inda baru- baru ini dipinang oleh seseorang yang menyayanginya. Mereka membuka usaha kecil- kecilan. Tak mau kalah dengan Nuga, kakak tempat curhat Inda pun sering berkonsultasi mengenai usahanya pada Inda.
Inda kecil tak senasib dengan Inda dewasa. Kini, ia sudah memetik hasil dari sebuah pembelajaran yang diambil dari referensi kehidupan ayah dan ibunya. KEMANDIRIAN. Itulah kata yang selalu menghantui imajinasinya.
Ia harus menerima semua konsekuensi yang ada dalam referensi kehidupan tersebut. Sejak kecil, saat anak usia lima tahun harus diantarkan ke sekolah, pemandangan itu tak ubahnya sebuah sinetron yang tidak ia suka. Tak ada prosesi antar- jemput. Semua sendiri. Bahkan tatkala semua siswa bersorak- sorai atas keberhasilan mereka dengan peringkat dan nilai- nilai terbaiknya, tubuh mungil si kecil yang mandiri ini hanya menjadi patung hiasan kelas.
Pembelajaran ini terjadi hingga ia harus mencari sebuah ilmu kehidupan baru yang belum sempat diketahui. Salah satu lorong yang mau menopang kehidupan seorang anak peralihan putih abu- abu menjadi warna- warni. Universitas Buana. Di lorong inilah Jutek mendapatkan ilmu retorika, fonologi, psikologi pendidikan dan masih banyak ilmu kependidikan lain yang asing bagi indera pendengarnya. Ilmu kemandirian itulah yang masih melekat dalam diri Inda. Suatu ketika ia mulai menemukan titik kejenuhan akan sebuah makna kemandirian.
Saat penganugerahan siswa putih abu- abu dengan secarik kertas yang bertuliskan L U L U S atau T I D A K L U L U S, gadis berpipi bakpao ini pun harus menelan ludah. Kedua orangtuanya yang bekerja sebagai pengabdi Negara tak ada waktu senggang untuk mengambil hasil pengumuman Inda.
Riuh canda dan tawa seragam putih abu- abu itu semakin menciutkan nyali Jutek. Diam dalam sudut kelas, itulah yang dilakukannya. Tak ada seorangpun yang menghampirinya. Mereka seolah meraba hati Inda. Prestasi yang diraihnya tak bermakna kini. Ia mendapat peringkat satu paralel. Tetapi, hal tersebut tidak dapat merubah emosi Jutek. 
Ruang ganti. Itulah kata yang tertera pada label yang direkatkan di sebuah pintu. Seragam putih abu- abunya kini berubah menjadi warna- warni. Ia mengenakan jaket kulit, celana jeans,dan beralas kaki sandal jepit. Kostum yang pasti ia bawa di tas cokelat kesayangannya. Lalu, diambilnya motor yang sedari tadi bertengger di tempat parkir. Si Jutek pun meninggalkan sekolah. Ia melesat bak roket. Jalan Pahlawan, tujuan utamanya. Di tempat itulah ia mencari puzzle untuk dirangkai. Bentuk yang membawanya pada kisah sempurna.
“Hai Nda, lama nian kau tak mengunjungi surau kami,” sapa Si Batak, Roy.
“Iya, aku kan habis ujian bro,” jawabnya.
“Macam orang penting saja kau ini,” ledek Roy.
“Bagaimana kau ini Bung? Torang calon sarjana muda Bung,” timpal Inda mencoba menirukan gaya bicara Roy.
“Bah. . .” jawab Roy dengan sedikit tendangan.
Keduanya bercengkrama dengan beberapa jurus taekwondo yang sudah mereka pelajari.
“Aku pulang dulu ya? Salam untuk teman- teman semua,” Inda berpamitan.
Ia berpamitan. Hatinya sudah lebih baik kini. Tak ada lagi rasa kecewa. Semua berubah tatkala pertemuannya itu dengan teman Pahlawan. Inda sering menyebutnya demikian. Sebab, merekalah dokter yang selalu memberikan obat mujarab.
Dua hari usai prosesi kelulusan, kelas Inda mengadakan perpisahan. Mereka merayakan dengan sederhana. Aneka makanan dan beberapa petasan sudah mereka siapkan untuk memeriahkan acara tersebut. Jalan Pemuda. Itulah tempat yang sudah disepakati oleh semua anggota Okspat (Organisasi Kelas IPA Empat). Canda tawa keberhasilan, mereka luapkan dengan menyalakan beberapa petasan.
“Tunggu, jangan dinyalakan. Ini akan mengganggu semua orang. Ini jalan raya teman!” cegah Inda pada Rasya.
“Siapa bilang ini hutan Jutek?” sanggah Rasya.
“Hahaha. . .”
Semua teman- teman Inda menertawakan ucapannya.
     Tak ada lagi kalimat yang terlontar dari mulutnya. Diambilnya telepon genggam dan headset yang berada di saku celananya. Ia memutar beberapa lagu. Ia tak menghiraukan lingkungan sekitar. Sementara itu, teman- temannya menyalakan petasan dan berorak- sorai merayakan keberhasilan mereka.
     “Permisi Kakak. . .” sapa seorang pengamen.
     “Mau nngamen mas? Untuk malam ini gratis ya?” celoteh Rasya.
Pengamen tersebut terus mendendangkan lagu dengan gitarnya.
     “Denger nggak sih aku momong apa?” ucap Rasya kesal.
Pengamen itu terus memetik dawai gitarnnya.
     “Eh, situ tuli ya!”
     Kalimat tersebut membuat ia menghentikan lagunya.
     “Baiklah kakak- kakak yang cantik dan ganteng, maafkan saya. Ngapunten nggeh,” ucap pengemen dengan nada Batak.
Kemudian, ia menyodorkan tangannya untuk meminta maaf pada mereka terutama Rasya. Rasya pun menyodorkan tangan kanannya.
“Ya, lain kali jangan suka ganggu kesenangan orang, Bro!” kata Rasya.
“Nggeh Mas. Ngapunten nggeh,” jawab pengamen dengan nada Bataknya.
Pengamen pun meninggalkan mereka.
“Ada darah ditanganmu Sya,” ucap Inda sambil melepas headset.
Rasya tidak mengiyakan perkataan Inda. Namun, tangannya merasa kesakitan. Dilihatnya telapak tangan yang sudah bersimbah darah.
“Ini pasti ulah pengamen Batak itu!” Rasya menunjuk ke arah pengamen yang masih berjarak beberapa meter dari kerumunannya.
“Woy. . .”
Rasya memanggil dan menghampiri pengamen jalanan yang sedang duduk di bawah pohon. Ketua kelas Inda itu melayangkan kepalan tangannya ke wajah pengamen jalanan. Perkelahian antar mereka tak terelakkan lagi.
“Stop! Ini jalan bukan ring!” cegah Inda pada dua individu yang dikenalnya.
Tiba. . .tiba. . .
Pisau pengamen jalanan itu merobek perut Inda.
“Aduh. . .” rintih Inda
“Nggak usah bercanda deh Nda!” Rasya kesal.
Tubuh mungil Inda jatuh.                                        
“Inda?” sapa pengamen Batak.
“Roy,” jawabnya dengan terbata.
“Jangan sentuh dia! Ini Inda temanku, bukan temanmu!” Rasya semakin kesal.
“Aku memang pengamen jalanan, tapi Inda juga temanku!” bentak Roy.
“Ka. . .ka. . .kalian, jangan bertengkar lagi. Sakiiit. . .” rintih Inda.
Semua teman- teman Inda tidak peduli dengan darah yang mengucur dari perut Inda. Mereka acuh pada Inda, karena Inda juga selalu acuh pada mereka. Rasya pun kembali memukul Roy. Ia tidak terima dengan pengakuan Roy.
“Sudah Sya, kau boleh tak hargai aku, tapi hargailah Roy, dia  temanku,” ucap Inda sembari menahan rasa sakitnya.
“Dasar Jutek!” kesal Rasya.
“Enyah kau dari sini! Bawa semua temanmu itu!” perintah Roy.
“Oke, ngapain juga susah- susah bantun anak jutek kaya kamu Nda! Buang waktu!” Rasya meninggalkan tempat kejadian perkara.
Pengamen itu pun mengangkat tubuh mungil Inda dan meminta bantuan orang sekitar untuk membawanya ke rumah sakit terdekat, karena darah yang keluar dari perut Inda semakin banyak. Sedangkan Rasya dan teman- teman pulang dan tidak mengantarkan Inda.
Waktu terus berjalan, ilmu kehidupan itu pun terus berjalan mengikuti empat arah mata angin yang tertera pada kompas si penjelajah ruang waktu. Metamorfosis sempurna terjadi dalam sosok gadis dengan keacuhannya pada lingkungan sekitar. Namun, dengan detik jarum jam itulah ia mampu merubah dunia acuhnya menjadi dunia penuh bunga bibir. Dengan senang hati, Inda akan tersenyum pada siapa saja yang bertemu dengan badan mungilnya itu. Meski tak mengenal sekalipun. Otaknya selalu berputar pada pesan bapak Sandoro suatu malam.
“Inda. . .Inda. . .jadi anak kok cueknya minta ampun. Coba sekali- kali hargai mereka yang ada di depanmu”
Pesan ayah pada anak bungsunya sebelum ia memasuki lorong kehidupan barunya, sampai ketika tubuh mungilnya harus terbang melayang mengikuti burung dan segerombolan awan ke negeri kanguru untuk memperdalam makna kemandirian yang telah ia peroleh semasa raganya masih menyatu dengan ego dengan kapasitas lebih tinggi.
Kini ucapan selamat pagipun kerap kali menghiasi seisi rumah yang lebih layak menyandang gelar kos untuk mahasiswa.
“Selamat pagi kak Emi”
“Selamat pagi Amria”
“Selamat pagi Laura”
“Selamat pagi Resti”
Sapaan itu selalu mewarnai kos mereka. Tak lupa ia juga mengirim pesan singkat dengan ucapan Selamat Pagi serta ucapan pertanda menyemangati kepada Sandoro, Riri, Bilsa, Nuga, serta sahabat- sahabat terbaiknya, termasuk Roy, pengamen jalanan yang dulu mengenalnya.

No comments:

Post a Comment