Cinda Rizki Aulia
J U T E K
Hijau dedaunan terhampar diseluruh jalan beralaskan rumput nan rindang.
Betapa bahagianya dia, gadis yang kini sedang menjalani proses dewasa awal
ketika melihat sosok yang telah beradu dengan sebuah realita kematian. Tubuh
mungil yang dilahirkan setelah sebelas
bulan dalam rahim wanita terbaik di dunia fana ini diberi nama Inda Rizkia Auli.
Aneh memang mendengar kalimat demi kaliamat yang dirangkai oleh ibunya tentang
kelahirannya yang jauh dari kewajaran, dan cukup susah logika manusia biasa
untuk bermain petak umpet dengan sebuah kenyataan.
Kedua orangtua Inda selalu siap sedia jika dikaitkan dengan pendidikan
anak- anaknya. Akan tetapi, tidak dengan kebutuhan sekunder. Tidak semua
rengekan buah hati mereka dikabulkan, karena bagi pasangan yang dikaruniai tiga
anak ini, ilmulah yang terpenting.
Jutek, sapaan teman- teman
pada Inda. Penganugerahan predikat jutek sejak mengenakan putih biru. Semua orang yang berbincang
dengannya hanyalah bebatuan yang dapat berbicara. Sebab, hanya respon singkat yang selalu ia
keluarkan dari bibir eksotisnya.
Kedua kakaknya Nuga dan Bilsa. Nuga adalah sosok tegar yang penuh
semangat. Kakak pertama Inda kini bekerja di sebuah pertambangan emas bagian
kesehatan. Meski dulu pria perut buncit berbadan tegap ini harus jatuh bangun
menjual barang- barang yang masih layak pakai, membuka perpustakaan mini di
rumah peninggalan kakek kesayangan, membuka usaha rental komputer, bahkan harus mendorong gerobak es
yang dibubuhi dengan huruf bertuliskan INDA di bagian atas gerobak es kelapa
muda warna hijau tua. Betapa sayangnya ia pada adik perempuan kecilnya itu.
Sehingga semua yang berkaitan dengan usaha yang ia jalani, ada jiwa INDA di
dalamnya.
Sedangkan Bilsa, kakak perempuan Inda baru- baru ini dipinang oleh
seseorang yang menyayanginya. Mereka membuka usaha kecil- kecilan. Tak mau
kalah dengan Nuga, kakak tempat curhat Inda pun sering berkonsultasi mengenai
usahanya pada Inda.
Inda kecil tak senasib dengan Inda dewasa. Kini, ia sudah memetik hasil
dari sebuah pembelajaran yang diambil dari referensi kehidupan ayah dan ibunya. KEMANDIRIAN. Itulah kata
yang selalu menghantui imajinasinya.
Ia harus menerima semua konsekuensi yang ada dalam referensi kehidupan
tersebut. Sejak kecil, saat
anak usia lima tahun harus diantarkan ke sekolah, pemandangan itu tak ubahnya
sebuah sinetron yang tidak ia suka. Tak ada prosesi antar- jemput. Semua sendiri. Bahkan tatkala semua siswa bersorak-
sorai atas keberhasilan mereka dengan peringkat dan nilai- nilai terbaiknya,
tubuh mungil si kecil yang mandiri ini hanya menjadi patung hiasan kelas.
Pembelajaran ini terjadi hingga ia harus mencari sebuah ilmu kehidupan
baru yang belum sempat diketahui. Salah satu lorong yang mau menopang kehidupan
seorang anak peralihan putih abu- abu menjadi warna- warni. Universitas Buana. Di lorong inilah Jutek
mendapatkan ilmu retorika, fonologi, psikologi pendidikan dan masih banyak ilmu
kependidikan lain yang asing
bagi indera pendengarnya. Ilmu kemandirian itulah yang masih melekat dalam diri
Inda. Suatu ketika ia mulai menemukan titik kejenuhan akan sebuah makna
kemandirian.
Saat penganugerahan siswa putih abu- abu dengan secarik kertas yang
bertuliskan L U L U S atau T I D A K L U L U S, gadis berpipi bakpao ini pun
harus menelan ludah. Kedua orangtuanya yang bekerja sebagai pengabdi Negara tak ada waktu senggang untuk mengambil
hasil pengumuman Inda.
Riuh canda dan tawa seragam putih abu- abu itu semakin menciutkan nyali
Jutek. Diam dalam sudut kelas,
itulah yang dilakukannya. Tak ada seorangpun yang menghampirinya. Mereka seolah
meraba hati Inda. Prestasi yang diraihnya tak bermakna kini. Ia mendapat
peringkat satu paralel. Tetapi, hal tersebut tidak dapat merubah emosi
Jutek.
Ruang ganti. Itulah kata yang
tertera pada label yang direkatkan di sebuah pintu. Seragam putih abu- abunya
kini berubah menjadi warna- warni. Ia mengenakan jaket kulit, celana jeans,dan
beralas kaki sandal jepit. Kostum yang pasti ia bawa di tas cokelat
kesayangannya. Lalu, diambilnya motor yang sedari tadi bertengger di tempat
parkir. Si Jutek pun meninggalkan sekolah. Ia melesat bak roket. Jalan
Pahlawan, tujuan utamanya. Di tempat itulah ia mencari puzzle untuk dirangkai.
Bentuk yang membawanya pada kisah sempurna.
“Hai Nda, lama nian kau tak
mengunjungi surau kami,” sapa Si Batak, Roy.
“Iya, aku kan habis ujian
bro,” jawabnya.
“Macam orang penting saja kau
ini,” ledek Roy.
“Bagaimana kau ini Bung?
Torang calon sarjana muda Bung,” timpal Inda mencoba menirukan gaya bicara Roy.
“Bah. . .” jawab Roy dengan
sedikit tendangan.
Keduanya bercengkrama dengan
beberapa jurus taekwondo yang sudah mereka pelajari.
“Aku pulang dulu ya? Salam
untuk teman- teman semua,” Inda berpamitan.
Ia berpamitan. Hatinya sudah
lebih baik kini. Tak ada lagi rasa kecewa. Semua berubah tatkala pertemuannya
itu dengan teman Pahlawan. Inda sering menyebutnya demikian. Sebab, merekalah
dokter yang selalu memberikan obat mujarab.
Dua hari usai prosesi kelulusan,
kelas Inda mengadakan perpisahan. Mereka merayakan dengan sederhana. Aneka
makanan dan beberapa petasan sudah mereka siapkan untuk memeriahkan acara
tersebut. Jalan Pemuda. Itulah tempat yang sudah disepakati oleh semua anggota
Okspat (Organisasi Kelas IPA Empat). Canda tawa keberhasilan, mereka luapkan
dengan menyalakan beberapa petasan.
“Tunggu, jangan dinyalakan.
Ini akan mengganggu semua orang. Ini jalan raya teman!” cegah Inda pada Rasya.
“Siapa bilang ini hutan
Jutek?” sanggah Rasya.
“Hahaha. . .”
Semua teman- teman Inda
menertawakan ucapannya.
Tak ada lagi kalimat yang terlontar dari mulutnya. Diambilnya
telepon genggam dan headset yang berada di saku celananya. Ia memutar beberapa
lagu. Ia tak menghiraukan lingkungan sekitar. Sementara itu, teman- temannya
menyalakan petasan dan berorak- sorai merayakan keberhasilan mereka.
“Permisi Kakak. . .” sapa seorang pengamen.
“Mau nngamen mas? Untuk malam ini gratis ya?” celoteh Rasya.
Pengamen tersebut terus
mendendangkan lagu dengan gitarnya.
“Denger nggak sih aku momong apa?” ucap Rasya kesal.
Pengamen itu terus memetik
dawai gitarnnya.
“Eh, situ tuli ya!”
Kalimat tersebut membuat ia menghentikan lagunya.
“Baiklah kakak- kakak yang cantik dan ganteng, maafkan saya.
Ngapunten nggeh,” ucap pengemen dengan nada Batak.
Kemudian, ia menyodorkan
tangannya untuk meminta maaf pada mereka terutama Rasya. Rasya pun menyodorkan
tangan kanannya.
“Ya, lain kali jangan suka
ganggu kesenangan orang, Bro!” kata Rasya.
“Nggeh Mas. Ngapunten nggeh,”
jawab pengamen dengan nada Bataknya.
Pengamen pun meninggalkan
mereka.
“Ada darah ditanganmu Sya,”
ucap Inda sambil melepas headset.
Rasya tidak mengiyakan
perkataan Inda. Namun, tangannya merasa kesakitan. Dilihatnya telapak tangan
yang sudah bersimbah darah.
“Ini pasti ulah pengamen Batak
itu!” Rasya menunjuk ke arah pengamen yang masih berjarak beberapa meter dari
kerumunannya.
“Woy. . .”
Rasya memanggil dan
menghampiri pengamen jalanan yang sedang duduk di bawah pohon. Ketua kelas Inda
itu melayangkan kepalan tangannya ke wajah pengamen jalanan. Perkelahian antar
mereka tak terelakkan lagi.
“Stop! Ini jalan bukan ring!”
cegah Inda pada dua individu yang dikenalnya.
Tiba. . .tiba. . .
Pisau pengamen jalanan itu
merobek perut Inda.
“Aduh. . .” rintih Inda
“Nggak usah bercanda deh Nda!”
Rasya kesal.
Tubuh mungil
Inda jatuh.
“Inda?” sapa pengamen Batak.
“Roy,” jawabnya dengan
terbata.
“Jangan sentuh dia! Ini Inda
temanku, bukan temanmu!” Rasya semakin kesal.
“Aku memang pengamen jalanan,
tapi Inda juga temanku!” bentak Roy.
“Ka. . .ka. . .kalian, jangan
bertengkar lagi. Sakiiit. . .” rintih Inda.
Semua teman- teman Inda tidak
peduli dengan darah yang mengucur dari perut Inda. Mereka acuh pada Inda,
karena Inda juga selalu acuh pada mereka. Rasya pun kembali memukul Roy. Ia
tidak terima dengan pengakuan Roy.
“Sudah Sya, kau boleh tak
hargai aku, tapi hargailah Roy, dia
temanku,” ucap Inda sembari menahan rasa sakitnya.
“Dasar Jutek!” kesal Rasya.
“Enyah kau dari sini! Bawa
semua temanmu itu!” perintah Roy.
“Oke, ngapain juga susah-
susah bantun anak jutek kaya kamu Nda! Buang waktu!” Rasya meninggalkan tempat
kejadian perkara.
Pengamen itu pun mengangkat
tubuh mungil Inda dan meminta bantuan orang sekitar untuk membawanya ke rumah
sakit terdekat, karena darah yang keluar dari perut Inda semakin banyak.
Sedangkan Rasya dan teman- teman pulang dan tidak mengantarkan Inda.
Waktu terus berjalan, ilmu kehidupan itu pun terus berjalan mengikuti
empat arah mata angin yang tertera pada kompas si penjelajah ruang waktu.
Metamorfosis sempurna terjadi dalam sosok gadis dengan keacuhannya pada
lingkungan sekitar. Namun, dengan detik jarum jam itulah ia mampu merubah dunia
acuhnya menjadi dunia penuh bunga bibir. Dengan senang hati, Inda akan
tersenyum pada siapa saja yang bertemu dengan badan mungilnya itu. Meski tak
mengenal sekalipun. Otaknya selalu berputar pada pesan bapak Sandoro suatu
malam.
“Inda. . .Inda. . .jadi anak kok cueknya minta ampun. Coba sekali- kali
hargai mereka yang ada di depanmu”
Pesan ayah pada anak
bungsunya sebelum ia memasuki lorong kehidupan barunya, sampai ketika tubuh
mungilnya harus terbang melayang mengikuti burung dan segerombolan awan ke
negeri kanguru untuk memperdalam makna kemandirian yang telah ia peroleh semasa
raganya masih menyatu dengan ego dengan kapasitas lebih tinggi.
Kini ucapan selamat pagipun kerap kali menghiasi seisi rumah yang lebih
layak menyandang gelar kos untuk mahasiswa.
“Selamat pagi kak Emi”
“Selamat pagi Amria”
“Selamat pagi Laura”
“Selamat pagi Resti”
Sapaan itu selalu mewarnai kos mereka. Tak lupa ia juga mengirim pesan
singkat dengan ucapan Selamat Pagi serta ucapan pertanda menyemangati kepada
Sandoro, Riri, Bilsa, Nuga, serta sahabat- sahabat terbaiknya, termasuk Roy, pengamen jalanan yang dulu
mengenalnya.
No comments:
Post a Comment