RIZKI
Air Mata Senja
Aku
masih terpaku, merenung dalam kesendirian. Hari-hari yang kulalui begitu suram.
“Aku
yang salah, aku yang membuat semua jadi seperti ini” Kata-kata itu selalu
keluar setiap kali kukenang kenangan pahit itu.
“Ini
rumit” Kupejamkan kedua mataku, membayangkan kenangan pahit yang telah berlalu.
“Anak
semuda ini!” seseorang menepuk pundakku, aku tersentak kaget
“Oh, Kakek”
“Apa
yang kamu pikirkan? Bukankah besok kau bertambah tua?”
Aku
tersenyum, Kakek tak pernah lupa dengan hari ulang tahunku.
“Sudah lima tahun, Kek” Kakek mengangguk, tak
sepatah kata pun keluar dari mulutnya seakan Kakek membiarkanku untuk terus
bercerita, menceritakan semua kegundahanku, semua kenangan pahit yang selama
ini menggangguku, membuatku tak pernah tidur dengan nyenyak.
“Ku
rasa sudah waktunya, Kek” Kakek terlihat kaget, bukan sebuah cerita yang keluar
dari mulutku melainkan sebuah pernyataan.
“Apa
kau yakin?” aku hanya mengangguk.
Kakek
berdiri, menepuk kembali pundakku dan berjalan keluar. “Kek?” Kakek berhenti di
ambang pintu.
“Apa Ayah masih membenciku?” Kakek kembali
lagi, duduk di depanku dan menggenggam tanganku
“Orang
tua mana yang membenci anaknya sendiri”
“Aku
malu, Kek”
“Karena
kesalahanmu?” aku mengangguk, tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Aku
benar-benar malu, bahkan untuk mendongakkan mukaku saja aku tak sanggup.
“Kau
sudah menyadarinya, he he he” Kakek tertawa, suaranya begitu berat.
“Benar-benar anak muda. Selalu saja membuat
kesalahan konyol. Temuilah Ayahmu, dan katakan padanya kau sudah tidak bersama
laki-laki itu, dan ceritakan juga tentang Yoga laki-laki yang dulu akan
dijodohkan denganmu, Ayahmu pasti akan senang”
Aku
terbaring di tempat tidur, mataku terpejam. Tapi aku masih bisa mendengar
semuanya, masih banyak yang beraktivitas di sekelilingku. Tukang bangunan depan
rumah yang masih asik dengan pekerjaannya, kurasa mereka tidak punya banyak
waktu, Mang Ojo yang sedang menerima pelanggannya, mungkin dia melayani banyak
pelanggan malam ini karena baru saja hujan berhenti dan banyak orang yang
membutuhkan kehangatan, wedang ronde Mang Ojo sangat tepat untuk saat-saat
seperti ini. Sayangnya aku sudah terlalu lelah, jadi aku tak sempat
mencicipinya
“Mang,
1 mangkok ya” Kudengar kakek memesan
“Loh,
biasanya 2 kek?”
“Sudah tidur”
“Weleh-weleh,
perempuan mana yang sudah tidur sesore ini? Bukannya ini malam minggu?”
“Mang
Ojo... mang Ojo... cucuku tak perlu pergi keluar untuk mendapatkan lelaki, lagi
pula pamali. Dia sudah diikat”
“Maka dari itu, kenapa tak keluar dengan
tunangannya?”
“Mereka
sebentar lagi menikah, aku melarang mereka untuk sering bertemu. Pamali.”
Ingin
rasanya aku berteriak menghentikan obrolan mereka.
“Aku mendengar semuanya”, tapi sulit rasanya.
Jadi aku hanya bisa tersenyum mendengar obrolan mereka yang masih terus
berlanjut.
Jantungku
berdetak cepat, mengingat kenangan itu lagi, kenangan dimana semua tragedi ini
bermula saat umurku tepat menginjak 23 tahun.
“Selamat
ulang tahun kami ucapkan... selamat panjang umur kita kan do’akan...” semua
orang yang menghadiri pesta ulang tahunku menyanyikan lagu ulang tahun dengan
gembira, aku bahagia sekali hari ini, semua keluarga dan temanku hadir,
terlebih lagi, Rian kekasihku berjanji akan melamarku hari ini. Umurku 23 tahun
dan kurasa aku sudah pantas untuk dipinang.
Setelah
ritual potong kue, aku memberikan potongan kueku untuk Ayah terlebih dahulu
setelah itu baru ku berikan potongan yang lain untuk Rian. Semua hadirin ramai
bertepuk tangan, Ayahku terlihat sedikit kaget, tiba-tiba Ayah melangkah ke
tengah dan meminta perhatian.
“Perhatian
semuanya, ada yang ingin saya sampaikan. Yang pertama selamat ulang tahun untuk
putriku tercinta Laina, dan selamat juga atas pertunangannya dengan Yoga”
Aku
terbelalak, kaget setengah mati. Yoga adalah anak teman Ayah, aku tahu akan
perjodohan ini. Tapi aku dan Yoga sepakat untuk tidak menerimanya, dan entah
kenapa ini bisa terjadi, Yoga mengkhianatiku, dia menerimanya, menerima
perjodohan ini.
“Nggak!!!”
aku membantah omongan Ayah, dan semua mata tertuju padaku. Kutarik tangan Rian
“ini tunangan saya, Rian namanya bukan Yoga.” Rian terlihat gugup.
Ayah
menentang kami, lalu kami memutuskan untuk pergi. Setelah itu aku melangsungkan
pernikahan, Kakekku tahu akan hal ini karena dia menjadi waliku. Dua tahun aku
hidup bersama Rian, aku pikir aku akan bahagia hidup bersama pria yang
kucintai. Pernikahanku dengannya membuatku seperti hidup dalam neraka, dia
selalu saja menyalahkanku atas pernikahan ini. Katanya kalau saja aku tak
mendesaknya untuk segera menikah, tentu hidupnya tak akan sengsara karena dia
tak perlu menafkahiku.
Lalu
aku memutuskan untuk pulang kerumah Kakek, perceraianku dan Rian berjalan alot.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Yoga, laki-laki yang ingin Ayah jodohkan
denganku. Dia mau menjadi pengacaraku dan membantu mengurus perceraianku dengan
Rian. Aku jadi semakin dekat dengan Yoga, dua tahun lamanya kami menjalin
hubungan akhirnya dia melamarku. Aku menerimanya, dan kurasa ini akan
membukakan jalan padaku untuk kembali kerumah dan berkumpul lagi bersama
keluargaku.
Namun,
sepertinya itu hanyalah sebuah harapan. Setelah kepergianku, hubungan Ayah dan
Ayah Yoga memburuk. Yoga baru menceritakan padaku setelah dia melamarku. Ayahku
memutuskan hubungannya dengan Ayah Yoga. Bahkan saat kematian Ayah yoga, Ayah
tak pergi ke pemakamannya.
“Ini
rumit, sangat rumit. Apa yang harus aku lakukan?” Yoga menggenggam tanganku.
“Kalaupun
kita belum diberi kesempatan kali ini, kita akan terus mencobanya” senyum Yoga
meluluhkan kebekuan hatiku. Awalnya aku berniat untuk membatalkan kunjunganku.
Tapi aku percaya, aku akan kuat menghadapi semuanya bersama Yoga.
Sesampainya
di rumah Ayah, jantungku berdegup hebat, napasku sesak. Rasanya seperti
terhimpit gunung es, aku membeku di dalamnya. Yoga menggandeng tanganku, dan
kita berjalan melewati halaman rumah. Semuanya masih sama, tak ada yang berubah
bahkan setelah lima tahun, tak ada yang berubah di sini, ku rasa kehidupan
penghuni rumah pun tak ada yang berubah, hanya aku yang berubah, hidupku yang
berubah.
Yoga
memencet bel, hatiku makin tak karuan. Aku melangkah mundur dan berbalik
berniat untuk pergi dan melakukannya lain kali. Yoga menarik tanganku dan
seseorang membukanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” suara Mbak
Wayu, pembantu rumah kami. Mungkin dia tak mengenali Yoga, aku penasaran apa
dia tak mengenaliku juga? Yoga membalikkan badanku, pelan-pelan kuangkat
kepalaku dan ku tatap mata Mbak Wayu.
“Masya
Allah........ Non Ina... ya Allah Non...”
Mbak Wayu memelukku. Aku tersenyum, ternyata dia masih mengenaliku. Yah,
lima tahun bukan waktu yang lama. Dari dalam terlihat seorang perempuan yang
mendorong kursi roda, Ya Allah, itu Aida adikku dan Ayah, Ayah duduk di kursi
roda.
Aku
kaget sekali, aku berlari ke dalam aku bersimpuh dan memeluk kaki Ayah dan aku
terisak.
“Ayah, maafin Laina, Yah, maafin Laina, Yah”
Kaki Ayah berusaha bergerak menendangku. Dia ingin melepaskan diri dariku,
kulihat wajahnya seakan dia ingin berkata.
“Pergi
kau dari hadapanku” tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ayah terkena
stroke. Aku sangat terpukul. Ayah masih membenciku, dia ingin sekali
mengusirku, namun dia tak mampu berucap dan tak mampu menendangku keluar,
melihat Ayah berusaha untuk mengusirku membuatku semakin terpukul.
Aku
hanya bisa menangis, Yoga mengangkat tubuhku dan dia membawaku kelaur.
Ku
pandangi halaman rumahku dari dalam mobil. Kini pintu sudah tertutup. Aku masih
menangis. Yoga mengelus kepalaku.
“Besok masih ada kesempatan”
Aku
takut, aku takut tak akan ada lagi kesempatan. Aku yang menyebabkan Ayah
menjadi seperti ini, andai saja aku tak melakukan kesalahan itu, sampai
sekarang Ayah pasti masih sehat sama seperti kakek.
“Kenapa
penyesalan selalu datang terlambat?”
“Kalau
tidak, kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan kita”
“Apa
masih ada kesempatan untukku?”
“Akan
selalu ada kesempatan untukmu”
Aku
dan Yoga memutuskan untuk kembali lagi nanti setelah keadaan Ayah membaik,
sebelum pergi aku sempat meminta nomor handphone
Mbak Wayu dan kukatakan padanya untuk selalu mengirimkan pesan setiap hari
dan mengatakan padaku bagaimanapun keadaan Ayah serta menghubungi segera jika
terjadi sesuatu pada Ayah.
Esok
harinya aku dan Yoga pergi ke butik untuk memesan baju pengantin, dari depan
butik ku lihat Aida di seberang jalan baru saja keluar dari kafe, karena
kemarin aku belum sempat berbicara sepatah kata pun dengannya kini kuputuskan
untuk menghampiri dan menanyakan kabar Ayah.
“Aida,
Kakak mau bicara sebentar”
“Bicara
apa? Mau tanya kabar Ayah? Kemarin Kakak lihat sendirikan keadaan Ayah seperti
apa? Kakak mau bilang kalau Kakak menyesal? Heh?” Aida tersenyum sinis.
“Da,
gimanapun juga Ayah itu tetap orangtua Kakak. Iya, kamu benar, Kakak menyesal
sekarang. Kakak ingin memperbaiki hubungan Kakak dengan Ayah, Da.”
“Tapi
yang aku lihat Kakak nggak ingin memperbaiki hubungan Kakak dengan Ayah, yang
Kakak inginkan justru agar Ayah cepat mati.”
“Kamu
ngomong apa sih, Da? Mana mungkin Kakak punya niat buruk seperti itu!”
“Lihat
laki-laki yang sedang menunggu Kakak di depan butik itu?” Aida melirik ke arah
Yoga.
“Dia
Yoga, tunangan Kakak. Dulu Ayah sempat menjodohkan Kakak dengan dia tapi Kakak
menolaknya, dan sekarang Kakak sudah menerimanya meski Kakak tahu hubungan Ayah
dan Ayah Yoga sudah tidak seperti dulu lagi.”
“Nah,
itu Kakak tahu. Kalau udah tahu kenapa Kakak masih mau menikah sama dia?”
“Kakak
pikir Ayah cuma punya masalah dengan Ayah Yoga bukan dengan Yoga jadi Kakak
pikir, mungkin Ayah bisa nerima Yoga lagi pula Ayah Yoga sudah meninggal.”
“Kakak
salah! Ayah bukan cuma benci sama Ayahnya tapi juga sama Anaknya yang sekarang
jadi tunangan Kakak. Ayah Yoga berbuat curang dalam bisnis yang sekarang
menyebabkan bisnis Ayah bangkrut dan Yoga itu memperlancar kecurangan Ayahnya
dengan memanipulasi semua keadaan melalui jalur hukum. Kalau Kakak memang
sayang sama Ayah, putusin hubungan Kakak sama dia.”
Aida
kembali masuk ke dalam mobil, aku bingung dengan semua ini. Kulihat Yoga yang
masih berdiri di depan butik, aku tidak percaya dengan semua ini. Kuhampiri
Yoga dan kuminta penjelasan darinya. Pernyataan dari Yoga membuatku membeku dan
seakan jantungku berhenti berdetak. Yoga membenarkan semua pernyataan yang
telah terlontar dari mulut Aida, namun dia menyesali perbuatannya. Dulu dia
melakukan hal itu karena dia dan ayahnya dendam padaku, mereka merasa
dipermalukan akhirnya mereka berusaha untuk menghancurkan Ayah. Namun, setelah
bertemu dan menjalin hubungan denganku Yoga menyesali semua perbuatannya.
Meski
aku tahu Yoga benar-benar menyesal, aku belum bisa menerima semua perbuatannya
pada Ayah. Sekilas senyum Ayah dan hangat peluknya terlintas dalam pikiranku.
Air mata mengalir begitu saja membasahi pipiku. Aku tahu Ayah sangat
menyayangiku, aku tahu Ayah selalu menginginkan yang terbaik untukku dan
sekarang aku sangat menyesali perbuatanku selama ini.
Pintu
kamarku berderit, Kakek masuk dan duduk di sebelahku. Dia mengelus rambutku dan
tersenyum, namun dari sorot matanya ada kejanggalan sepertinya Kakek akan
memberitahukan sesuatu.
“Ada
apa, Kek?”
“Yang
sabar yan, Nduk. Ayahmu sudah tenang di alam sana.”
Aku
terbelalak, tak ada sepatah kata pun yang dapat ku keluarkan.
Senja
ini aku pergi ke pemekaman Ayah. Gerimis mengiringi kepergian Ayah. Air mataku
pun tak dapat ku tahan lagi.
“Ayah,
aku menangis lagi. Seperti senja yang menangis lagi mengiringi kepergianmu. Aku
menyayangimu, Yah. Aku menyesal tidak mengatakannya dari dulu bahwa aku sangat
menyayangimu lebih dari apapun.” Gumamku dalam hati.
Air
mata senja menjadi saksi kepergian Ayah, dan juga menjadi saksi bisu atas semua
penyesalanku yang belum sempatku utarakan pada Ayah, kuharap kita akan
dipertemukan kelak agar aku dapat menebus kesalahanku pada Ayah.
No comments:
Post a Comment