Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Air Mata Senja " Karya : RIZKI


RIZKI
Air Mata Senja

Aku masih terpaku, merenung dalam kesendirian. Hari-hari yang kulalui begitu suram.
“Aku yang salah, aku yang membuat semua jadi seperti ini” Kata-kata itu selalu keluar setiap kali kukenang kenangan pahit itu.
“Ini rumit” Kupejamkan kedua mataku, membayangkan kenangan pahit yang telah berlalu.
“Anak semuda ini!” seseorang menepuk pundakku, aku tersentak kaget
 “Oh, Kakek”
“Apa yang kamu pikirkan? Bukankah besok kau bertambah tua?”
Aku tersenyum, Kakek tak pernah lupa dengan hari ulang tahunku.
 “Sudah lima tahun, Kek” Kakek mengangguk, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya seakan Kakek membiarkanku untuk terus bercerita, menceritakan semua kegundahanku, semua kenangan pahit yang selama ini menggangguku, membuatku tak pernah tidur dengan nyenyak.
“Ku rasa sudah waktunya, Kek” Kakek terlihat kaget, bukan sebuah cerita yang keluar dari mulutku melainkan sebuah pernyataan.
“Apa kau yakin?” aku hanya mengangguk.
Kakek berdiri, menepuk kembali pundakku dan berjalan keluar. “Kek?” Kakek berhenti di ambang pintu.
 “Apa Ayah masih membenciku?” Kakek kembali lagi, duduk di depanku dan menggenggam tanganku
“Orang tua mana yang membenci anaknya sendiri”
“Aku malu, Kek”
“Karena kesalahanmu?” aku mengangguk, tak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Aku benar-benar malu, bahkan untuk mendongakkan mukaku saja aku tak sanggup.
“Kau sudah menyadarinya, he he he” Kakek tertawa, suaranya begitu berat.
 “Benar-benar anak muda. Selalu saja membuat kesalahan konyol. Temuilah Ayahmu, dan katakan padanya kau sudah tidak bersama laki-laki itu, dan ceritakan juga tentang Yoga laki-laki yang dulu akan dijodohkan denganmu, Ayahmu pasti akan senang”
Aku terbaring di tempat tidur, mataku terpejam. Tapi aku masih bisa mendengar semuanya, masih banyak yang beraktivitas di sekelilingku. Tukang bangunan depan rumah yang masih asik dengan pekerjaannya, kurasa mereka tidak punya banyak waktu, Mang Ojo yang sedang menerima pelanggannya, mungkin dia melayani banyak pelanggan malam ini karena baru saja hujan berhenti dan banyak orang yang membutuhkan kehangatan, wedang ronde Mang Ojo sangat tepat untuk saat-saat seperti ini. Sayangnya aku sudah terlalu lelah, jadi aku tak sempat mencicipinya
“Mang, 1 mangkok ya” Kudengar kakek memesan
“Loh, biasanya 2 kek?”
 “Sudah tidur”
“Weleh-weleh, perempuan mana yang sudah tidur sesore ini? Bukannya ini malam minggu?”
“Mang Ojo... mang Ojo... cucuku tak perlu pergi keluar untuk mendapatkan lelaki, lagi pula pamali. Dia sudah diikat”
 “Maka dari itu, kenapa tak keluar dengan tunangannya?”
“Mereka sebentar lagi menikah, aku melarang mereka untuk sering bertemu. Pamali.”
Ingin rasanya aku berteriak menghentikan obrolan mereka.
 “Aku mendengar semuanya”, tapi sulit rasanya. Jadi aku hanya bisa tersenyum mendengar obrolan mereka yang masih terus berlanjut.
Jantungku berdetak cepat, mengingat kenangan itu lagi, kenangan dimana semua tragedi ini bermula saat umurku tepat menginjak 23 tahun.
“Selamat ulang tahun kami ucapkan... selamat panjang umur kita kan do’akan...” semua orang yang menghadiri pesta ulang tahunku menyanyikan lagu ulang tahun dengan gembira, aku bahagia sekali hari ini, semua keluarga dan temanku hadir, terlebih lagi, Rian kekasihku berjanji akan melamarku hari ini. Umurku 23 tahun dan kurasa aku sudah pantas untuk dipinang.
Setelah ritual potong kue, aku memberikan potongan kueku untuk Ayah terlebih dahulu setelah itu baru ku berikan potongan yang lain untuk Rian. Semua hadirin ramai bertepuk tangan, Ayahku terlihat sedikit kaget, tiba-tiba Ayah melangkah ke tengah dan meminta perhatian.
“Perhatian semuanya, ada yang ingin saya sampaikan. Yang pertama selamat ulang tahun untuk putriku tercinta Laina, dan selamat juga atas pertunangannya dengan Yoga”
Aku terbelalak, kaget setengah mati. Yoga adalah anak teman Ayah, aku tahu akan perjodohan ini. Tapi aku dan Yoga sepakat untuk tidak menerimanya, dan entah kenapa ini bisa terjadi, Yoga mengkhianatiku, dia menerimanya, menerima perjodohan ini.
“Nggak!!!” aku membantah omongan Ayah, dan semua mata tertuju padaku. Kutarik tangan Rian “ini tunangan saya, Rian namanya bukan Yoga.” Rian terlihat gugup.
Ayah menentang kami, lalu kami memutuskan untuk pergi. Setelah itu aku melangsungkan pernikahan, Kakekku tahu akan hal ini karena dia menjadi waliku. Dua tahun aku hidup bersama Rian, aku pikir aku akan bahagia hidup bersama pria yang kucintai. Pernikahanku dengannya membuatku seperti hidup dalam neraka, dia selalu saja menyalahkanku atas pernikahan ini. Katanya kalau saja aku tak mendesaknya untuk segera menikah, tentu hidupnya tak akan sengsara karena dia tak perlu menafkahiku.
Lalu aku memutuskan untuk pulang kerumah Kakek, perceraianku dan Rian berjalan alot. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Yoga, laki-laki yang ingin Ayah jodohkan denganku. Dia mau menjadi pengacaraku dan membantu mengurus perceraianku dengan Rian. Aku jadi semakin dekat dengan Yoga, dua tahun lamanya kami menjalin hubungan akhirnya dia melamarku. Aku menerimanya, dan kurasa ini akan membukakan jalan padaku untuk kembali kerumah dan berkumpul lagi bersama keluargaku.
Namun, sepertinya itu hanyalah sebuah harapan. Setelah kepergianku, hubungan Ayah dan Ayah Yoga memburuk. Yoga baru menceritakan padaku setelah dia melamarku. Ayahku memutuskan hubungannya dengan Ayah Yoga. Bahkan saat kematian Ayah yoga, Ayah tak pergi ke pemakamannya.
“Ini rumit, sangat rumit. Apa yang harus aku lakukan?” Yoga menggenggam tanganku.
“Kalaupun kita belum diberi kesempatan kali ini, kita akan terus mencobanya” senyum Yoga meluluhkan kebekuan hatiku. Awalnya aku berniat untuk membatalkan kunjunganku. Tapi aku percaya, aku akan kuat menghadapi semuanya bersama Yoga.
Sesampainya di rumah Ayah, jantungku berdegup hebat, napasku sesak. Rasanya seperti terhimpit gunung es, aku membeku di dalamnya. Yoga menggandeng tanganku, dan kita berjalan melewati halaman rumah. Semuanya masih sama, tak ada yang berubah bahkan setelah lima tahun, tak ada yang berubah di sini, ku rasa kehidupan penghuni rumah pun tak ada yang berubah, hanya aku yang berubah, hidupku yang berubah.
Yoga memencet bel, hatiku makin tak karuan. Aku melangkah mundur dan berbalik berniat untuk pergi dan melakukannya lain kali. Yoga menarik tanganku dan seseorang membukanya.
 “Ada yang bisa saya bantu, Mas?” suara Mbak Wayu, pembantu rumah kami. Mungkin dia tak mengenali Yoga, aku penasaran apa dia tak mengenaliku juga? Yoga membalikkan badanku, pelan-pelan kuangkat kepalaku dan ku tatap mata Mbak Wayu.
“Masya Allah........ Non Ina... ya Allah Non...”  Mbak Wayu memelukku. Aku tersenyum, ternyata dia masih mengenaliku. Yah, lima tahun bukan waktu yang lama. Dari dalam terlihat seorang perempuan yang mendorong kursi roda, Ya Allah, itu Aida adikku dan Ayah, Ayah duduk di kursi roda.
Aku kaget sekali, aku berlari ke dalam aku bersimpuh dan memeluk kaki Ayah dan aku terisak.
 “Ayah, maafin Laina, Yah, maafin Laina, Yah” Kaki Ayah berusaha bergerak menendangku. Dia ingin melepaskan diri dariku, kulihat wajahnya seakan dia ingin berkata.
“Pergi kau dari hadapanku” tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ayah terkena stroke. Aku sangat terpukul. Ayah masih membenciku, dia ingin sekali mengusirku, namun dia tak mampu berucap dan tak mampu menendangku keluar, melihat Ayah berusaha untuk mengusirku membuatku semakin terpukul.
Aku hanya bisa menangis, Yoga mengangkat tubuhku dan dia membawaku kelaur.
Ku pandangi halaman rumahku dari dalam mobil. Kini pintu sudah tertutup. Aku masih menangis. Yoga mengelus kepalaku.
 “Besok masih ada kesempatan”
Aku takut, aku takut tak akan ada lagi kesempatan. Aku yang menyebabkan Ayah menjadi seperti ini, andai saja aku tak melakukan kesalahan itu, sampai sekarang Ayah pasti masih sehat sama seperti kakek.
“Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?”
“Kalau tidak, kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan kita”
“Apa masih ada kesempatan untukku?”
“Akan selalu ada kesempatan untukmu”
Aku dan Yoga memutuskan untuk kembali lagi nanti setelah keadaan Ayah membaik, sebelum pergi aku sempat meminta nomor handphone Mbak Wayu dan kukatakan padanya untuk selalu mengirimkan pesan setiap hari dan mengatakan padaku bagaimanapun keadaan Ayah serta menghubungi segera jika terjadi sesuatu pada Ayah.
Esok harinya aku dan Yoga pergi ke butik untuk memesan baju pengantin, dari depan butik ku lihat Aida di seberang jalan baru saja keluar dari kafe, karena kemarin aku belum sempat berbicara sepatah kata pun dengannya kini kuputuskan untuk menghampiri dan menanyakan kabar Ayah.
“Aida, Kakak mau bicara sebentar”
“Bicara apa? Mau tanya kabar Ayah? Kemarin Kakak lihat sendirikan keadaan Ayah seperti apa? Kakak mau bilang kalau Kakak menyesal? Heh?” Aida tersenyum sinis.
“Da, gimanapun juga Ayah itu tetap orangtua Kakak. Iya, kamu benar, Kakak menyesal sekarang. Kakak ingin memperbaiki hubungan Kakak dengan Ayah, Da.”
“Tapi yang aku lihat Kakak nggak ingin memperbaiki hubungan Kakak dengan Ayah, yang Kakak inginkan justru agar Ayah cepat mati.”
“Kamu ngomong apa sih, Da? Mana mungkin Kakak punya niat buruk seperti itu!”
“Lihat laki-laki yang sedang menunggu Kakak di depan butik itu?” Aida melirik ke arah Yoga.
“Dia Yoga, tunangan Kakak. Dulu Ayah sempat menjodohkan Kakak dengan dia tapi Kakak menolaknya, dan sekarang Kakak sudah menerimanya meski Kakak tahu hubungan Ayah dan Ayah Yoga sudah tidak seperti dulu lagi.”
“Nah, itu Kakak tahu. Kalau udah tahu kenapa Kakak masih mau menikah sama dia?”
“Kakak pikir Ayah cuma punya masalah dengan Ayah Yoga bukan dengan Yoga jadi Kakak pikir, mungkin Ayah bisa nerima Yoga lagi pula Ayah Yoga sudah meninggal.”
“Kakak salah! Ayah bukan cuma benci sama Ayahnya tapi juga sama Anaknya yang sekarang jadi tunangan Kakak. Ayah Yoga berbuat curang dalam bisnis yang sekarang menyebabkan bisnis Ayah bangkrut dan Yoga itu memperlancar kecurangan Ayahnya dengan memanipulasi semua keadaan melalui jalur hukum. Kalau Kakak memang sayang sama Ayah, putusin hubungan Kakak sama dia.”
Aida kembali masuk ke dalam mobil, aku bingung dengan semua ini. Kulihat Yoga yang masih berdiri di depan butik, aku tidak percaya dengan semua ini. Kuhampiri Yoga dan kuminta penjelasan darinya. Pernyataan dari Yoga membuatku membeku dan seakan jantungku berhenti berdetak. Yoga membenarkan semua pernyataan yang telah terlontar dari mulut Aida, namun dia menyesali perbuatannya. Dulu dia melakukan hal itu karena dia dan ayahnya dendam padaku, mereka merasa dipermalukan akhirnya mereka berusaha untuk menghancurkan Ayah. Namun, setelah bertemu dan menjalin hubungan denganku Yoga menyesali semua perbuatannya.
Meski aku tahu Yoga benar-benar menyesal, aku belum bisa menerima semua perbuatannya pada Ayah. Sekilas senyum Ayah dan hangat peluknya terlintas dalam pikiranku. Air mata mengalir begitu saja membasahi pipiku. Aku tahu Ayah sangat menyayangiku, aku tahu Ayah selalu menginginkan yang terbaik untukku dan sekarang aku sangat menyesali perbuatanku selama ini.
Pintu kamarku berderit, Kakek masuk dan duduk di sebelahku. Dia mengelus rambutku dan tersenyum, namun dari sorot matanya ada kejanggalan sepertinya Kakek akan memberitahukan sesuatu.
“Ada apa, Kek?”
“Yang sabar yan, Nduk. Ayahmu sudah tenang di alam sana.”
Aku terbelalak, tak ada sepatah kata pun yang dapat ku keluarkan.
Senja ini aku pergi ke pemekaman Ayah. Gerimis mengiringi kepergian Ayah. Air mataku pun tak dapat ku tahan lagi.
“Ayah, aku menangis lagi. Seperti senja yang menangis lagi mengiringi kepergianmu. Aku menyayangimu, Yah. Aku menyesal tidak mengatakannya dari dulu bahwa aku sangat menyayangimu lebih dari apapun.” Gumamku dalam hati.
Air mata senja menjadi saksi kepergian Ayah, dan juga menjadi saksi bisu atas semua penyesalanku yang belum sempatku utarakan pada Ayah, kuharap kita akan dipertemukan kelak agar aku dapat menebus kesalahanku pada Ayah.

No comments:

Post a Comment