Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Hadiah Untuk Rafi"Karya : Dina Isnaini Saraswati


Dina Isnaini Saraswati
Hadiah untuk Rafi

Selamat ulang tahun sayang. Ayah selalu mendukungmu. 
Dia membuka kertas yang selalu berada di dompetnya. Berkali-kali dia pandangi tulisan itu, tulisan tangan ayahnya sendiri. Meskipun hanya sebuah kalimat singkat yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi baginya, itu adalah hadiah terbesar yang dia dapat empat tahun lalu. Ketika dia masih berumur 17 tahun. Sekarang, laki-laki yang biasa disapa Vino tidak tahu kemana ayahnya yang dulu. Sikap ayahnya terlalu dingin, sangat berbeda dengan yang dulu penuh canda tawa. Jika mereka bertemu setelah ayahnya pulang bekerja, mereka hanya saling menyapa. Sama sekali tidak pernah duduk bersama untuk sekadar minum teh ataupun ngobrol.
Empat tahun sudah Vino merasakan seperti ini. Dia merindukan saat-saat berkumpul dengan keluarga penuh kehangatan seperti dulu. Vino memandang foto keluarganya. Foto ayah, ibu, dia, dan adiknya yang bernama Kevin. Foto yang mereka ambil satu jam sebelum insiden itu terjadi. Teringat jelas senyum wanita yang membesarkannya, senyum yang bisa menenangkan disaat dia terpuruk, senyum yang selalu menyapa dia setiap pagi, dan senyum yang mendamaikan ketika dia bertengkar dengan Kevin. Semua selalu dia rindukan. Terlebih jika seperti ini. Dia tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan dengan kondisi yang menyedihkan. Terkadang, dia sangat ingin menyusul kedua orang yang disayanginya. Bagi Vino, menyusul mereka akan lebih bahagia. Tidak dengan keadaan yang justru membuatnya merasa asing di rumah sendiri. Ayahnya sudah tidak perduli sama sekali. Dia lebih memilih mengejar pekerjaannya daripada harus mengurus anaknya.
            Dia tidak sempat menggapai mimpinya. Ya, menjadi penyanyi sekarang jauh dari bayangannya. Selain dia lumpuh, pita suaranya juga tidak memungkinkan untuk menyanyi. Meski kadang dia benci dengan keadaan yang hanya bisa merepotkan orang seperti ini, dia juga bersyukur karena dia masih diberi kesempatan untuk hidup. Tak ada yang bisa disalahkan. Termasuk ayahnya yang ketika itu terburu-buru mengendarai mobil. Mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas taman. Masih dia ingat dengan jelas, sebenarnya tidak hanya Vino yang menjadi korban kelalaian ayahnya. Vino mencoba ikhlas dan menganggap ini memang sudah takdir Tuhan. Tetapi perasaan memang benar-benar susah untuk menerimanya. Sepeninggal ibu dan Kevin, rumah besar Vino terasa begitu sepi. Begitu besarnya, sehingga terlalu banyak angin di dalam yang membuat mata Vino selalu berair. Vino lebih memilih alasan itu daripada harus mengakui matanya berair karena selalu merasakan kesedihan.
            “Vino, jadi nyari buku gak, ini Ujang udah siap nganterin,” suara laki-laki paruh baya yang setia menemani Vino.
            Vino ingin menyegarkan pikiran dengan membaca komik. Dia memang lebih memilih melepaskan stresnya dengan membaca komik daripada berkumpul dengan orang-orang tidak jelas yang mungkin bisa menjerumuskan dirinya. Sesampainya di toko buku, dia berkeliling mencari komik favoritnya. Setelah mengambil tujuh komik sekaligus, dia meminta Ujang untuk menemani pergi ke taman. Dia tidak ingin membaca komik di rumah, karena pikirannya akan kembali berantakan dan tidak tahan dengan sikap dingin ayahnya.
            Pemandangan di taman sebenarnya membuat Vino  iri. Hampir semuanya tidak ada yang pergi sendirian. Tidak sedikit dari mereka yang pergi bersama pacar ataupun keluarga. Pikiran Vino menerawang jauh, rasanya ingin sekali ke masa itu. Masa-masa indah empat tahun lalu. Saat bergurau dengan keluarganya, ataupun saat jalan-jalan dengan Kevin di taman. Taman itu benar-benar penuh kenangan indah dengan keluarganya. Matanya masih sibuk berkeliling ke seluruh sudut taman, terlihat di bangku dekat kolam ikan ada laki-laki mengenakan kemeja coklat dengan perawakannya yang dia anggap mirip seperti Kevin. Laki-laki itu terlihat sedang menunggu seseorang, seringkali pandangannya melayang ke arah jalan raya. Meskipun dari kejauhan, laki-laki itu terlihat tampan dengan kacamata hitam. Vino tertarik dengan laki-laki itu, karena laki-laki itu mirip dengan Kevin.
            “Menunggu seseorang? Pacar? Teman?” Vino mencoba membuka pembicaraan.
            “Maaf, Anda siapa ya?”
Vino terkejut  ketika melihat laki-laki itu tidak memandang ke arahnya. Vino mencoba memanggilnya sekali lagi, tetapi dia tetap tidak memandang Vino.
“Maaf, penglihatanku kurang,” jelasnya saat mereka sudah duduk bersebalahan.
Vino mencoba bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Vino juga tahu apa yang laki-laki itu rasakan. Bahkan Vino tidak memberitahu bahwa yang ada di depannya hanyalah seseorang yang tidak bisa berjalan.
Perkenalan pagi itu membuat mereka menjadi teman. Rafi, nama laki-laki yang umurnya dua tahun lebih muda dari Vino. Vino seperti merasakan adiknya kembali. Meski dia tahu Rafi bukanlah Kevin. Tetapi bisa bercanda dengannya dan kebetulan umur mereka yang  tidak terpaut jauh membuat mereka semakin akrab. Dia menganggap bahwa Kevin hidup kembali. Setidaknya, sekarang ada orang yang menemaninya membaca komik atau sekadar jalan-jalan di taman.
Vino mampir ke rumah Rafi yang dekat dengan taman biasa mereka bertemu. Sambutan keluarganya begitu hangat. Tidak seperti keluarga Vino, lebih tepatnya tidak seperti ayah Vino yang selalu dingin dan tidak ada waktu untuk melihat keadaan anaknya. Vino benar-benar merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Rafi. Meskipun status ekonominya berbeda jauh, tetapi rasa kekeluargaan lebih Vino butuhkan.
Selesai makan siang, Vino berbincang-bincang dengan ibunya Rafi. Setelah basa basi berbicara tidak jelas. Akhirnya Vino memberanikan diri untuk menanyakan keadaan Rafi yang seperti ini. Ternyata Rafi tidak buta sejak lahir. Dia buta ketika berumur 15 tahun. Berdasarkan keterangan ibunya, Rafi buta karena menjadi korban tabrak lari. Dokter sempat menyebutkan nyawanya tidak akan tertolong lagi karena Rafi mengeluarkan banyak darah.
“Vino, aku bisa minta tolong?” Rafi mendekat ke tempat Vino.
Cara jalan Rafi sama sekali tidak seperti orang buta. Semuanya terlihat natural. Dia tidak menggunakan tongkat, dan pandangannya seperti orang normal. Mungkin karena dia memang sudah biasa dengan rute di rumahnya atau itulah anugerah yang diberikan Tuhan pada orang-orang yang memiliki kekurangan. Meskipun dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa mengetahui semuanya melewati hatinya.
Siang itu juga, Vino mengantar Rafi untuk mengikuti audisimenjadi pembawa acara. Itulah impian Rafi. Meskipun penglihatannya tidak sebaik yang lain, tetapi Rafi tidak pernah patah semangat untuk menggapai impiannya. Tidak seperti Vino, yang sekarang sudah menyerah dan merelakan impiannya pergi jauh. Sebenarnya ada kesamaan antara mereka. Sifat Rafi sama seperti dia dulu, selalu mencoba kesempatan yang ada. Tanpa memperdulikan bagaimana hasilnya.
Dua jam sudah berlalu, Vino menunggu Rafi di depan ruangan audisi. Perlahan, pintu keluar itu terbuka. Rafi berjalan tertunduk. Wajahnya menyiratkan kekecewaan. Kakinya terlihat tidak bisa menopang berat badannya sendiri. Dia bersandar di tembok. Penuh dengan kesedihan.
“Bagaimana hasilnya Fi?” Vino menggapai tangan sahabatnya.
Rafi hanya terdiam. Vino melihat air mata yang perlahan menetes. Rafi memeluk Vino dengan erat. Vino bisa merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya, tanpa dia harus mengatakan semuanya.
“Kita pergi ke taman saja yuk Fi,” Vino mencoba menenangkannya dengan mengajak ke tempat kesukaannya.
Ketika di mobil, Rafi mulai membuka pembicaraan. Kembali lagi dia meneteskan airmatanya.
“Apa orang yang tidak bisa melihat tidak boleh mempunyai mimpi? Apa orang yang tidak melihat tidak boleh memiliki pekerjaan? Dan apa orang yang tidak bisa melihat hanya bisa selamanya bersembunyi di balik layar? Apa itu juga salaaah….,” tangisnya semakin menjadi sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya.
Sebenarnya Vino kaget mendengarnya. Ternyata Rafi tidak diterima karena alasan keadaan fisiknya saja.
“Fi, kamu tidak boleh patah semangat sepertiku. Kalau kamu tahu, aku sudah kehilangan semua mimpi-mimpiku. Harapanku untuk menjadi penyanyi semuanya telah lenyap. Jika kamu bisa melihatku, keadaanku lebih menyedihkan darimu. Aku tidak bisa berjalan, aku lumpuh total karena kecelakaan dan pita suaraku juga rusak. Menyanyi yang dulu menjadi hobi dan impianku sekarang sama sekali tidak dapat ku gapai. Berbeda denganmu Fi.”
Tanpa terasa taman sudah terlihat, tinggal beberapa meter lagi untuk memasuki tempat parkir. Tetapi secara tiba-tiba dari arah barat, mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi dan menghantam mobil yang mereka tumpangi. Keduanya langsung tak sadarkan diri. Kontan saja orang-orang langsung membawa mereka ke rumah sakit. Mereka sama-sama masuk ruang gawat darurat.
 “Ayah..,” nama yang pertama Vino panggil ketika dia membuka mata.
“Maafkan ayah Vin, selama ini ayah tidak pernah memperhatikanmu, ayah terlalu egois, dan tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu.”
Vino memeluk erat ayahnya. Dia benar-benar merasakan kedamaian. Rasa yang empat tahun ini menghilang telah kembali. Tetapi dia langsung teringat pada Rafi. Dia menceritakan pada ayahnya bahwa Rafi adalah korban tabrak lari ketika insiden di taman empat tahun lalu. Insiden yang membawa Ibu dan Kevin pergi untuk selamanya.
“Ayah, tolong kabulkan permintaanku.”
Setelah mengurus beberapa persyaratan, Vino dan Rafi siap menjalani operasi. Vino membuat keputusan untuk menyumbangkan kornea matanya pada Rafi. Operasi berjalan sesuai dengan harapan. Ayah Vino terlihat cemas melihat keadaan Vino yang tidak sadarkan diri setelah operasi selesai. Bahkan keadaannya semakin memburuk.
“Bu, Vino dimana? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku sudah bisa melihat Bu?” Rafi terlihat sangat bersemangat untuk menemui sahabatnya.
 Belum sempat ibunya menjawab, ayah Vino masuk dan memberikan secarik kertas kepada Rafi.
Rafi, selamat ya kamu sudah bisa merasakan indahnya dunia lagi. Maafkan karena aku menjadi pengecut, tidak berani menemuimu. Aku takut kamu merasa sedih melihat keadaanku yang seperti ini.
Fi, sebenarnya akulah penyebab kekuranganmu. Insiden empat tahun lalu, pengecut yang tabrak lari, dan orang yang kamu benci adalah keluargaku. Kelumpuhanku dan hilangnya impianku juga karena keluargaku. Insiden yang juga membuatku kehilangan ibu dan Kevin.
Aku bahagia bisa menjadi teman dan kakakmu Fi, aku benar-benar merasakan bersama Kevin ketika aku menghabiskan waktu denganmu. Aku tahu aku tidak bisa membuatmu bahagia. Maka dari itu, hanya inilah yang bisa aku lakukan. Jalanmu masih panjang Fi, sekarang kamu bisa menjadi pembawa acara terkenal tanpa harus mendapat cacian. Kamu bisa keluar dari persembunyianmu di balik layar.
Maafkan aku Fi, hanya ini hadiah yang bisa aku berikan untukmu. Aku akan bahagia jika kamu terus berusaha dan berjanji tidak akan menyerah.
Cepatlah berlari dan kejar impianmu. Aku selalu menyayangimu.
                                                                                                                        Vino
     Tetesan airmata itu perlahan jatuh di kertas yang dia pegang. Dengan kepala tertunduk, Rafi masih memikirkan sahabat yang disayanginya.

No comments:

Post a Comment