Dina Isnaini Saraswati
Hadiah untuk Rafi
Selamat ulang tahun sayang. Ayah selalu
mendukungmu.
Dia
membuka kertas yang selalu berada di dompetnya. Berkali-kali dia pandangi
tulisan itu, tulisan tangan ayahnya sendiri. Meskipun hanya sebuah kalimat
singkat yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi baginya, itu
adalah hadiah terbesar yang dia dapat empat tahun lalu. Ketika dia masih
berumur 17 tahun. Sekarang, laki-laki yang biasa disapa Vino tidak tahu kemana
ayahnya yang dulu. Sikap ayahnya terlalu dingin, sangat berbeda dengan yang
dulu penuh canda tawa. Jika mereka bertemu setelah ayahnya pulang bekerja,
mereka hanya saling menyapa. Sama sekali tidak pernah duduk bersama untuk
sekadar minum teh ataupun ngobrol.
Empat
tahun sudah Vino merasakan seperti ini. Dia merindukan saat-saat berkumpul
dengan keluarga penuh kehangatan seperti dulu. Vino memandang foto keluarganya.
Foto ayah, ibu, dia, dan adiknya yang bernama Kevin. Foto yang mereka ambil
satu jam sebelum insiden itu terjadi. Teringat jelas senyum wanita yang membesarkannya,
senyum yang bisa menenangkan disaat dia terpuruk, senyum yang selalu menyapa
dia setiap pagi, dan senyum yang mendamaikan ketika dia bertengkar dengan
Kevin. Semua selalu dia rindukan. Terlebih jika seperti ini. Dia tidak tahu
sampai kapan dia bisa bertahan dengan kondisi yang menyedihkan. Terkadang, dia
sangat ingin menyusul kedua orang yang disayanginya. Bagi Vino, menyusul mereka
akan lebih bahagia. Tidak dengan keadaan yang justru membuatnya merasa asing di
rumah sendiri. Ayahnya sudah tidak perduli sama sekali. Dia lebih memilih mengejar
pekerjaannya daripada harus mengurus anaknya.
Dia tidak sempat menggapai mimpinya.
Ya, menjadi penyanyi sekarang jauh dari bayangannya. Selain dia lumpuh, pita
suaranya juga tidak memungkinkan untuk menyanyi. Meski kadang dia benci dengan
keadaan yang hanya bisa merepotkan orang seperti ini, dia juga bersyukur karena
dia masih diberi kesempatan untuk hidup. Tak ada yang bisa disalahkan. Termasuk
ayahnya yang ketika itu terburu-buru mengendarai mobil. Mobil yang mereka
tumpangi menabrak pembatas taman. Masih dia ingat dengan jelas, sebenarnya
tidak hanya Vino yang menjadi korban kelalaian ayahnya. Vino mencoba ikhlas dan
menganggap ini memang sudah takdir Tuhan. Tetapi perasaan memang benar-benar
susah untuk menerimanya. Sepeninggal ibu dan Kevin, rumah besar Vino terasa
begitu sepi. Begitu besarnya, sehingga terlalu banyak angin di dalam yang
membuat mata Vino selalu berair. Vino lebih memilih alasan itu daripada harus
mengakui matanya berair karena selalu merasakan kesedihan.
“Vino, jadi nyari buku gak, ini
Ujang udah siap nganterin,” suara laki-laki paruh baya yang setia menemani
Vino.
Vino ingin menyegarkan pikiran
dengan membaca komik. Dia memang lebih memilih melepaskan stresnya dengan
membaca komik daripada berkumpul dengan orang-orang tidak jelas yang mungkin
bisa menjerumuskan dirinya. Sesampainya di toko buku, dia berkeliling mencari
komik favoritnya. Setelah mengambil tujuh komik sekaligus, dia meminta Ujang
untuk menemani pergi ke taman. Dia tidak ingin membaca komik di rumah, karena
pikirannya akan kembali berantakan dan tidak tahan dengan sikap dingin ayahnya.
Pemandangan di taman sebenarnya
membuat Vino iri. Hampir semuanya tidak
ada yang pergi sendirian. Tidak sedikit dari mereka yang pergi bersama pacar
ataupun keluarga. Pikiran Vino menerawang jauh, rasanya ingin sekali ke masa
itu. Masa-masa indah empat tahun lalu. Saat bergurau dengan keluarganya,
ataupun saat jalan-jalan dengan Kevin di taman. Taman itu benar-benar penuh
kenangan indah dengan keluarganya. Matanya masih sibuk berkeliling ke seluruh
sudut taman, terlihat di bangku dekat kolam ikan ada laki-laki mengenakan
kemeja coklat dengan perawakannya yang dia anggap mirip seperti Kevin.
Laki-laki itu terlihat sedang menunggu seseorang, seringkali pandangannya
melayang ke arah jalan raya. Meskipun dari kejauhan, laki-laki itu terlihat
tampan dengan kacamata hitam. Vino tertarik dengan laki-laki itu, karena
laki-laki itu mirip dengan Kevin.
“Menunggu seseorang? Pacar? Teman?”
Vino mencoba membuka pembicaraan.
“Maaf, Anda siapa ya?”
Vino
terkejut ketika melihat laki-laki itu
tidak memandang ke arahnya. Vino mencoba memanggilnya sekali lagi, tetapi dia
tetap tidak memandang Vino.
“Maaf,
penglihatanku kurang,” jelasnya saat mereka sudah duduk bersebalahan.
Vino
mencoba bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Vino juga tahu apa yang
laki-laki itu rasakan. Bahkan Vino tidak memberitahu bahwa yang ada di depannya
hanyalah seseorang yang tidak bisa berjalan.
Perkenalan
pagi itu membuat mereka menjadi teman. Rafi, nama laki-laki yang umurnya dua
tahun lebih muda dari Vino. Vino seperti merasakan adiknya kembali. Meski dia
tahu Rafi bukanlah Kevin. Tetapi bisa bercanda dengannya dan kebetulan umur
mereka yang tidak terpaut jauh membuat
mereka semakin akrab. Dia menganggap bahwa Kevin hidup kembali. Setidaknya,
sekarang ada orang yang menemaninya membaca komik atau sekadar jalan-jalan di
taman.
Vino
mampir ke rumah Rafi yang dekat dengan taman biasa mereka bertemu. Sambutan
keluarganya begitu hangat. Tidak seperti keluarga Vino, lebih tepatnya tidak
seperti ayah Vino yang selalu dingin dan tidak ada waktu untuk melihat keadaan
anaknya. Vino benar-benar merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Rafi.
Meskipun status ekonominya berbeda jauh, tetapi rasa kekeluargaan lebih Vino
butuhkan.
Selesai
makan siang, Vino berbincang-bincang dengan ibunya Rafi. Setelah basa basi
berbicara tidak jelas. Akhirnya Vino memberanikan diri untuk menanyakan keadaan
Rafi yang seperti ini. Ternyata Rafi tidak buta sejak lahir. Dia buta ketika
berumur 15 tahun. Berdasarkan keterangan ibunya, Rafi buta karena menjadi
korban tabrak lari. Dokter sempat menyebutkan nyawanya tidak akan tertolong
lagi karena Rafi mengeluarkan banyak darah.
“Vino,
aku bisa minta tolong?” Rafi mendekat ke tempat Vino.
Cara
jalan Rafi sama sekali tidak seperti orang buta. Semuanya terlihat natural. Dia
tidak menggunakan tongkat, dan pandangannya seperti orang normal. Mungkin
karena dia memang sudah biasa dengan rute di rumahnya atau itulah anugerah yang
diberikan Tuhan pada orang-orang yang memiliki kekurangan. Meskipun dia tidak
bisa melihat, tapi dia bisa mengetahui semuanya melewati hatinya.
Siang
itu juga, Vino mengantar Rafi untuk mengikuti audisimenjadi pembawa acara.
Itulah impian Rafi. Meskipun penglihatannya tidak sebaik yang lain, tetapi Rafi
tidak pernah patah semangat untuk menggapai impiannya. Tidak seperti Vino, yang
sekarang sudah menyerah dan merelakan impiannya pergi jauh. Sebenarnya ada
kesamaan antara mereka. Sifat Rafi sama seperti dia dulu, selalu mencoba
kesempatan yang ada. Tanpa memperdulikan bagaimana hasilnya.
Dua
jam sudah berlalu, Vino menunggu Rafi di depan ruangan audisi. Perlahan, pintu
keluar itu terbuka. Rafi berjalan tertunduk. Wajahnya menyiratkan kekecewaan. Kakinya
terlihat tidak bisa menopang berat badannya sendiri. Dia bersandar di tembok.
Penuh dengan kesedihan.
“Bagaimana
hasilnya Fi?” Vino menggapai tangan sahabatnya.
Rafi
hanya terdiam. Vino melihat air mata yang perlahan menetes. Rafi memeluk Vino
dengan erat. Vino bisa merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya, tanpa dia
harus mengatakan semuanya.
“Kita
pergi ke taman saja yuk Fi,” Vino mencoba menenangkannya dengan mengajak ke
tempat kesukaannya.
Ketika
di mobil, Rafi mulai membuka pembicaraan. Kembali lagi dia meneteskan
airmatanya.
“Apa
orang yang tidak bisa melihat tidak boleh mempunyai mimpi? Apa orang yang tidak
melihat tidak boleh memiliki pekerjaan? Dan apa orang yang tidak bisa melihat
hanya bisa selamanya bersembunyi di balik layar? Apa itu juga salaaah….,”
tangisnya semakin menjadi sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya.
Sebenarnya
Vino kaget mendengarnya. Ternyata Rafi tidak diterima karena alasan keadaan
fisiknya saja.
“Fi,
kamu tidak boleh patah semangat sepertiku. Kalau kamu tahu, aku sudah
kehilangan semua mimpi-mimpiku. Harapanku untuk menjadi penyanyi semuanya telah
lenyap. Jika kamu bisa melihatku, keadaanku lebih menyedihkan darimu. Aku tidak
bisa berjalan, aku lumpuh total karena kecelakaan dan pita suaraku juga rusak.
Menyanyi yang dulu menjadi hobi dan impianku sekarang sama sekali tidak dapat
ku gapai. Berbeda denganmu Fi.”
Tanpa
terasa taman sudah terlihat, tinggal beberapa meter lagi untuk memasuki tempat
parkir. Tetapi secara tiba-tiba dari arah barat, mobil sedan melaju dengan
kecepatan tinggi dan menghantam mobil yang mereka tumpangi. Keduanya langsung
tak sadarkan diri. Kontan saja orang-orang langsung membawa mereka ke rumah
sakit. Mereka sama-sama masuk ruang gawat darurat.
“Ayah..,” nama yang pertama Vino panggil
ketika dia membuka mata.
“Maafkan
ayah Vin, selama ini ayah tidak pernah memperhatikanmu, ayah terlalu egois, dan
tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu.”
Vino
memeluk erat ayahnya. Dia benar-benar merasakan kedamaian. Rasa yang empat
tahun ini menghilang telah kembali. Tetapi dia langsung teringat pada Rafi. Dia
menceritakan pada ayahnya bahwa Rafi adalah korban tabrak lari ketika insiden
di taman empat tahun lalu. Insiden yang membawa Ibu dan Kevin pergi untuk
selamanya.
“Ayah,
tolong kabulkan permintaanku.”
Setelah
mengurus beberapa persyaratan, Vino dan Rafi siap menjalani operasi. Vino
membuat keputusan untuk menyumbangkan kornea matanya pada Rafi. Operasi
berjalan sesuai dengan harapan. Ayah Vino terlihat cemas melihat keadaan Vino
yang tidak sadarkan diri setelah operasi selesai. Bahkan keadaannya semakin
memburuk.
“Bu,
Vino dimana? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku
sudah bisa melihat Bu?” Rafi terlihat sangat bersemangat untuk menemui
sahabatnya.
Belum sempat ibunya menjawab, ayah Vino masuk
dan memberikan secarik kertas kepada Rafi.
Rafi, selamat ya kamu sudah bisa merasakan
indahnya dunia lagi. Maafkan karena aku menjadi pengecut, tidak berani
menemuimu. Aku takut kamu merasa sedih melihat keadaanku yang seperti ini.
Fi, sebenarnya akulah penyebab kekuranganmu.
Insiden empat tahun lalu, pengecut yang tabrak lari, dan orang yang kamu benci
adalah keluargaku. Kelumpuhanku dan hilangnya impianku juga karena keluargaku.
Insiden yang juga membuatku kehilangan ibu dan Kevin.
Aku bahagia bisa menjadi teman dan kakakmu
Fi, aku benar-benar merasakan bersama Kevin ketika aku menghabiskan waktu
denganmu. Aku tahu aku tidak bisa membuatmu bahagia. Maka dari itu, hanya
inilah yang bisa aku lakukan. Jalanmu masih panjang Fi, sekarang kamu bisa
menjadi pembawa acara terkenal tanpa harus mendapat cacian. Kamu bisa keluar
dari persembunyianmu di balik layar.
Maafkan aku Fi, hanya ini hadiah yang bisa
aku berikan untukmu. Aku akan bahagia jika kamu terus berusaha dan berjanji
tidak akan menyerah.
Cepatlah berlari dan kejar impianmu. Aku
selalu menyayangimu.
Vino
Tetesan airmata itu perlahan
jatuh di kertas yang dia pegang. Dengan kepala tertunduk, Rafi masih memikirkan
sahabat yang disayanginya.
No comments:
Post a Comment