Jihan Noor Fitriana
Sahabat Tiada Akhir
Bayangan
itu selalu menghantui Zaky, ia sering terlihat murung. Sore ini dia terlihat menyendiri di teras rumah yang
sederhana dengan menikmati hujan dan hawa dingin. Rumahnya tepat diujung desa.
Ditengah hujan yang deras Zaky hanya berteman secangkir kopi dan rokok lintingan
sendiri, pandangannya seakan melayang, kosong, tidak sepatah katapun keluar
dari mulutnya, bahkan ketika istri dan anaknya menegur atau menanyai sesuatu.
Jika tidak berdiam di teras, Zaky pasti terlihat sedang memandangi televisi 14
inc selama berjam-jam, namun juga dengan pandangan yang kosong, dia sama sekali
tidak memperhatikan seiaran televisi, mungkin karena dia pernah berkata
sebenarnya televisi tidak baik ditonton terus-terusan, cukup untuk hiburan saja
kalau perlu dihibur, apa lagi untuk anak-anak, dapat merusak moral
bangsa. Ketika dia bosan melihat televisi diputarlah lagu-lagu lewat radio
kesayangannya.
Ketika
dengan asyiknya mendengarkan tiba-tiba istrinya menghampirinya.
“Mas, sarapan dulu,
seadanya”. Istri Zaky, Rina menawarkan, dia sudah dibuat cemas dengan perubahan
sikapnya yang tiba-tiba semenjak menerima surat dari kantor yang dia tidak tahu
dari siapa. Berbagai cara sudah dilakukan agar suaminya mau memberi tahu
mengapa dia berubah, atau paling tidak dapat merubah sikapnya kembali seperti
Zaky dahulu, termasuk dengan mengajaknya berkumpul bersama anak-anaknya saat
makan, sambil memandanginya ia bergumam
dalam hati bahwa sangat kangen dengan keceriaan suaminya dulu.
“Nanti,
makan dulu saja sama anak-anak, aku tidak lapar” jawab Zaky.
“Tapi mas sudah dari kemarin tidak
makan, kalau magh mas kambuh bagai mana?. Jangan cuma minum kopi terus, bisa
merusak lambung apalagi tidak makan nasi”
“Nanti.
Nanti aku nyusul. Aku pergi dulu. Ada sesuatu yang mau aku urus”. Lalu Rina
memandanginya sepanjang Zaky pergi hingga lama-lama menghilang dari pandangnya.
Rina terpaku heran juga
khawatir dengan kemisteriusan suaminya yang tiba-tiba itu, dia takut kalau
suaminya depresi, atau sudah mulai gila. Dua anaknya yang masih kecil-kecil
belum siap kehilangan bapak yang waras, tetapi harus bagaimana juga dia tidak
tahu. Sempat dia bercerita dengan ibu mertuanya yang tinggal tidak jauh dari
rumah, tetapi jawab mertuanya itu sama sekali tidak membuatnya tenang.
Mertuanya hanya menyarankan agar Rina sabar menunggu berubahnya lagi sifat
suaminya itu, setiap manusia pasti ada masalah yang harus dihadapi, dan kalau
suaminya tidak mau memberi tahu, berarti menurunya masalah itu dapat
diselesaikan sendiri.
Zaky hanya melamun
sepanjang ia berjalan di jalan raya dan melewati jembatan yang menghubungkan
desanya dengan desa tetangga. Wajahnya penuh harap dan khawatir. Sepertinya dia
masih terus memikirkan surat minggu lalu dari kantor. Dan ternyata niatnya kali
ini tanpa sepengatuan istri dan anaknya Zaky ingin silaturahmi kepada kawan
lamanya yang memang sudah ia anggap sebagai sahabatnya yang ada di desa sebelah
sekaligus menceritakan mengenai suratnya tersebut.
Tiba-tiba langkah Darsono
terhenti, ada sesuatu yang menarik perhatianya, sebuah pamflet yang tertempel
ditiang listrik yang dilaluinya. Rupanya pamflet salah satu calon gubernur di
provinsinya.
“Membangun provinsi lebih
baik apanya?” kemudian dia berjalan kembali dengan senyum kecut di bibirnya dan
terus menggerutu. Wajar Zaky mungkin bosan dengan janji-janji pemerintah,
nyatanya dari lahir sampai sekarang nasibnya tidak ada perubahan. Hanya umurnya
yang berubah, ekonominya tidak. Karena itu juga Zaky gak pernah berpartisipasi
dengan hal-hal yang berbau politik, meskipun dia dijanjikan dibayar mahal,
menurutnya itu bukan uang halal, itu uang rakyat yang mereka rampas.
Sepanjang perjalanan Zaky
sering memegangi perutnya, wajar karena dia sudah dua hari tidak makan, bukan
karena tidak nafsu, tapi dia terlalu memikirkan anak-istrinya. Dia memiliki
harapan besar terhadap kedua anakanya agar kelak mereka memperbaiki keadaan
keluarga. Dia ingin menjadikan anak-anaknya cerdas, tidak seperti bapaknya yang
tamatan SD, sebisa mungkin Zaky coba memberikan makanan yang bergizi, meskipun
dia sendiri tidak ikut menikmati makananya karena hanya cukup untuk
anak-istrinya dan meskipun dia tidak tahu menahu tentang gizi. Zaky juga memiliki
harapan besar agar anaknya dapat bersekolah sampai tingkat tinggi, paling tidak
SMA. Namun ketika memikirkan hal-hal tersebutlah pikiran Zaky seketika dihantui
pikiran-pikirannya yang ngelantur. Masalahnya apa Zaky mampu mewujudkan
mimpinya barusan? Masalahnya hanyalah uang.
Akhirnya Zaky sampai di
depan rumah teman lamanya. Namun hanya berdiri di seberang jalan karena dia
melihat teman lamanya sedang menjamu tamu lain. Dia berniat menunggu sampai
tamunya pulang, Zaky tidak ingin niatnya yang akan menyusahkan tambah
menyusahkan teman lamanya.
Sembari menunggu tamu
temannya pulang, Zaky hanya bisa duduk dibawah pohon rindang yang ada tepat
didepan rumah kawannya tersebut, pikirnya tamu itu akan lama dan akan capek
kalau hanya berdiri. Dirabanya kantong celana, mengambil kaleng kecil berisi
tembakau dan kertas untuk dia melinting dan merokok, karena tidak kuat membeli
rokok bungkusan yang bermerk, dan biasanya kalau Zaky sudah mulai merokok
pikiranya akan melamun lagi, terbang terbawa mimpi-mimpinya.
“Hai, Kiii Mari..” begitu
sapaan akrab temannya kepada dirinya.
Belum juga habis satu
batang rokok, terdengar seorang memanggil. Seketika Zaky memandang ke seberang
jalan, ternyata teman lamanya melihat Zaky ketika sedang mengantar tamunya
pulang.
“Syakir, apa kabar?”
“Baik, sedang apa kau
duduk disana. mampir dulu”
“Memang niatnya aku
kemari, aku kira tamumu akan lama”
“Oh, masuk dulu, Ki.
Silakan duduk, aku buatkan minum” Zaky melangkah masuk ruang tamu, sambil
menatap rumahnya yang sudah mulai berubah sejak terakhir dia berkunjung disini.
Tidak lama Syakir keluar sambil membawa nampan berisi dua gelas kopi. Zaky
mulai gugup, dia sebenarnya tidak enak dengan niatnya ini dan bingung akan
memulai pembicaraaan dari mana.
“Ada apa kau kemari, Ki?
Kangen?” keduanya tertawa dengan basa-basi permulaan dialog mereka
“Barang kali iya. Kangen
melihat kau goda anak pak lurah seperti lima tahun lalu.” Zaky menimpali
“Oh iya, Ki. Aku dengar
istrimu cemas memikirkan kau. Katanya kau akhir-akhir ini sering melamun,
betul? Ada apa, Ki?”
“Kau tahu?”
“Kemarin adikmu kemari
mengirim jahitan seragam anakku, katanya istrimu bercerita dengan ibumu tentang
sikap kamu yang berubah, jadi pendiam katanya. Sebab itu kau kemari, Ki”
“Kau memang sahabat
paling mengerti aku, Syakir. Memang, minggu lalu aku dapat surat dari tempatku
kerja, katanya seluruh karyawan di kantor tempat saya bekerja di PHK tanpa
tunjangan akibat hutang kantor yang terlalu banyak, bangkrut. Dan kau tau
kaerjaku yang kemarin lumayan enak, aku takut aku tidak mendapatkan pekerjaan
yang seperti sebelumnya.”
“Tetapi apa tidak
sebaiknya kau bicarakan dengan istrimu?”
”Aku takut istriku tahu
dan ikut-ikutan bingung, rencananya aku beri tahu ketika aku sudah dapat
pekerjaan baru. Tidak ada maksud buat istriku cemas” mereka berdua semakin
hanyut dalam permasalahan Zaky. Arah pembicaraan merekapun semakin
serius.
“Dan katanya juga kau
sekaranga suka kopi pahit, ya? Padahal seingatku kau dulu seorang penggemar
manis kan?” tanya Syakir mencoba mencairkan pembicaraan
“Bukan, tapi uangku untuk
beli gula tidak ada. Untuk itulah aku kemari” jawab Zaky datar
“Untuk minta gula?
Silakan” seleneh Syakir sambir tertawa
“Kau masih suka bercanda
rupanya, Syakir” Zaky dibuatnya tersenyum
“Aku kemari untuk
meminjam uang, kalau-kalau aku dapat pekerjaan aku kembalikan. Sebenarnya aku
malu datang kesini, ke rumah sahabat lamaku hanya untuk pinjam uang. Tapi aku
tidak tahu lagi harus bagai mana. Aku sudah tidak punya uang sepeserpun,
sedangkan anak-istriku harus tetap aku beri makan. Tapi seandainya kau
keberatan tidak apa-apa, Syakir. Aku tidak ingin menyusahkan kau”
“Hah, kau ini ngomong
apa? Lantas apa gunanya sahabatmu ini? Bilang saja, kau butuh berapa? Satu
juta? Sepuluh juta?”
“Hahaha, tidak. Dua ratus
ribu saja untuk beli beras”
“Sebentar, aku ambilkan
dulu” Syakiy masuk kedalam kamarnya, sementara Zaky mulai sedikit lega karena
paling tidak dia punya persediaan untuk makan selama usahanya mencari pekerjaan
lain. Dia merasa harus berterimakasih banyak dengan teman lamanya itu.
“Ini, ki 200 ribu. Tidak
usah memikirkan tentang mengembalikanya. Aku ini sahabatmu, Ki. Pikirkan saja
anak-istri kamu dirumah, jangan buat mereka cemas lagi.”
“Baik, aku pulang dulu,
Kir. Mau beli beras buat makan nanti malam”
“Hati-hati dijalan”
Betapa bahagianya Zaky
kala itu, paling tidak dia tidak perlu memikirkan makan untuk besok. Tapi
pikirannya tidak sampai situ saja, Zaky mulai bingung harus dia apakan uang
tersebut, tidak boleh habis hanya untuk sekali belanja. Dia harus pandai-pandai
mengaturnya sampai dia mendapat kerja. Zaky harus cepat-cepat cari kerja atau
dia akan merepotkan teman lamanya lagi.
Zaky mempercepat langkah
pulangnya, ingin memperlihatkan bahwa dia tidak bersikap aneh lagi didepan
istrinya. Selama ini ternyata istrinya tidak mengetahui kalau ia sebenarnya
sudah dipecat dari pekerjaanya.
Dengan penuh harap Zaky
mendatangi satu persatu kantor untuk ia melamar pekerjaan disana, sudah mencoba
kesana-kemari mencari pekerjaan, mencari lowongan di koran-koran dan televisi,
tapi nihil. Puluhan kantor yang sudah ia datangi, namun banyak alasan yang
diberikan seperti tidak membuka lowongan pekerjaan, surat lamaran tidak sampai
kepada atasan, dan yang lebih menyakitkan lagi sering ia diusir satpam sebelum
ia mengutarakan maksud kedatangannya kesana, dikiranya orang peminta sumbangan.
Langkahnya sudah mulai
lelah, Zaky tak tau harus bagaimana, dan harus menceritakan keadaannya sekarang
kepada isterinya. Sesampainya dirumah, dengan berat hati ia menceritakan
keadaan yang sedang sialami kepada isterinya bahwa Zaky sekarang sudah dipecat
dari pekerjaannya sejak sebulan yang
lalu. Dan ia meminta maaf selama ini sudah berbohong ketika setiap pagi
berpamitan pergi bekerja, yang ternyata ia melamar pekerjaan.
Tidak disangka respon
isterinya itu sungguh tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan hati Zakky, Rina
mendesak dirinya agar cepat mendapatkan pekerjaan yang seperti dulu bahkan
kalau tidak mendapatkan pekerjaan dengan segera ia akan meminta cerai.
Setelah pertengkaran
malam itu Zaky semakin bingung dan putus asa, harus bagaimana lagi, dan apa
yang harus ia lakukan. Hampir satu setengah bulan ia menjadi penganngguran dan
pontang panting mencari pekerjaan.
Keesokan harinya
tiba-tiba Syakir memanggilnya,
“Zaky! Dengan nada yang
sepertinya penting.
“Ki, kemari sebentar” Tambahnya
sambil duduk didepan teras rumah Zaky.
Dengan penuh tanya Zaky
menghampirinya di depan teras rumah. Dalam benak Zaky berharap kawanya itu
tidak akan memberi kabar buruk baginya.
“Ada apa? Sepertinya ada
hal yang penting yang ingin kau bicarakan?”
“Memang benar, sebentar
duduklah dulu. Kemarin ada yang lupa. Sempat bosku dikantor bilang kalau kantor
sedang membutuhkan karyawan baru, memang bukan di posisi yang cukup bagus,
gajinya juga sedikit tidak sebanyak ketika kamu menjadi karyawan kantoran, tetapi
mungkin itu cukup untuk kau dan anak-istrimu, Ki. Sebagai Office Boy di
kantorku. Apa kau mau?”
Zaky bingung dengan
tawaran sahabatnya itu ia memang butuh pekerjaan, namun disisi lain pekerjaan
itu berat dan pasti istrinya akan tidak setuju. Dari kebiasaannya duduk di meja
dan memegang komputer, namun sekarang harus memegang sapu dan pel.
Seketika air mata Zaky
menetes, dan akhirnya ia menyetujuinya walaupun dengan berat hati. Dia tidak
menyangka teman lamanya yang selalu dia susahkan yang menyelamatkan nasibnya
kini. Zaky tidak dapat berkata, hanya dapat merangkul dan memeluk temanya
erat-erat sementara air mata bahagianya terus menetes deras. Betapa bagianya
ia.
No comments:
Post a Comment