Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Sahabat Tiada Akhir" Karya : Jihan Noor Fitriana


Jihan Noor Fitriana
Sahabat Tiada Akhir
Bayangan itu selalu menghantui Zaky, ia sering terlihat murung. Sore ini dia  terlihat menyendiri di teras rumah yang sederhana dengan menikmati hujan dan hawa dingin. Rumahnya tepat diujung desa. Ditengah hujan yang deras Zaky hanya berteman secangkir kopi dan rokok lintingan sendiri, pandangannya seakan melayang, kosong, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, bahkan ketika istri dan anaknya menegur atau menanyai sesuatu. Jika tidak berdiam di teras, Zaky pasti terlihat sedang memandangi televisi 14 inc selama berjam-jam, namun juga dengan pandangan yang kosong, dia sama sekali tidak memperhatikan seiaran televisi, mungkin karena dia pernah berkata sebenarnya televisi tidak baik ditonton terus-terusan, cukup untuk hiburan saja kalau perlu dihibur, apa lagi untuk anak-anak, dapat merusak moral bangsa. Ketika dia bosan melihat televisi diputarlah lagu-lagu lewat radio kesayangannya.
Ketika dengan asyiknya mendengarkan tiba-tiba istrinya menghampirinya.
“Mas, sarapan dulu, seadanya”. Istri Zaky, Rina menawarkan, dia sudah dibuat cemas dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba semenjak menerima surat dari kantor yang dia tidak tahu dari siapa. Berbagai cara sudah dilakukan agar suaminya mau memberi tahu mengapa dia berubah, atau paling tidak dapat merubah sikapnya kembali seperti Zaky dahulu, termasuk dengan mengajaknya berkumpul bersama anak-anaknya saat makan, sambil memandanginya  ia bergumam dalam hati bahwa sangat kangen dengan keceriaan suaminya dulu.
“Nanti, makan dulu saja sama anak-anak, aku tidak lapar” jawab Zaky.
            “Tapi mas sudah dari kemarin tidak makan, kalau magh mas kambuh bagai mana?. Jangan cuma minum kopi terus, bisa merusak lambung apalagi tidak makan nasi”
            “Nanti. Nanti aku nyusul. Aku pergi dulu. Ada sesuatu yang mau aku urus”. Lalu Rina memandanginya sepanjang Zaky pergi hingga lama-lama menghilang dari pandangnya.
Rina terpaku heran juga khawatir dengan kemisteriusan suaminya yang tiba-tiba itu, dia takut kalau suaminya depresi, atau sudah mulai gila. Dua anaknya yang masih kecil-kecil belum siap kehilangan bapak yang waras, tetapi harus bagaimana juga dia tidak tahu. Sempat dia bercerita dengan ibu mertuanya yang tinggal tidak jauh dari rumah, tetapi jawab mertuanya itu sama sekali tidak membuatnya tenang. Mertuanya hanya menyarankan agar Rina sabar menunggu berubahnya lagi sifat suaminya itu, setiap manusia pasti ada masalah yang harus dihadapi, dan kalau suaminya tidak mau memberi tahu, berarti menurunya masalah itu dapat diselesaikan sendiri.
Zaky hanya melamun sepanjang ia berjalan di jalan raya dan melewati jembatan yang menghubungkan desanya dengan desa tetangga. Wajahnya penuh harap dan khawatir. Sepertinya dia masih terus memikirkan surat minggu lalu dari kantor. Dan ternyata niatnya kali ini tanpa sepengatuan istri dan anaknya Zaky ingin silaturahmi kepada kawan lamanya yang memang sudah ia anggap sebagai sahabatnya yang ada di desa sebelah sekaligus menceritakan mengenai suratnya tersebut.
Tiba-tiba langkah Darsono terhenti, ada sesuatu yang menarik perhatianya, sebuah pamflet yang tertempel ditiang listrik yang dilaluinya. Rupanya pamflet salah satu calon gubernur di provinsinya.
“Membangun provinsi lebih baik apanya?” kemudian dia berjalan kembali dengan senyum kecut di bibirnya dan terus menggerutu. Wajar Zaky mungkin bosan dengan janji-janji pemerintah, nyatanya dari lahir sampai sekarang nasibnya tidak ada perubahan. Hanya umurnya yang berubah, ekonominya tidak. Karena itu juga Zaky gak pernah berpartisipasi dengan hal-hal yang berbau politik, meskipun dia dijanjikan dibayar mahal, menurutnya itu bukan uang halal, itu uang rakyat yang mereka rampas.
Sepanjang perjalanan Zaky sering memegangi perutnya, wajar karena dia sudah dua hari tidak makan, bukan karena tidak nafsu, tapi dia terlalu memikirkan anak-istrinya. Dia memiliki harapan besar terhadap kedua anakanya agar kelak mereka memperbaiki keadaan keluarga. Dia ingin menjadikan anak-anaknya cerdas, tidak seperti bapaknya yang tamatan SD, sebisa mungkin Zaky coba memberikan makanan yang bergizi, meskipun dia sendiri tidak ikut menikmati makananya karena hanya cukup untuk anak-istrinya dan meskipun dia tidak tahu menahu tentang gizi. Zaky juga memiliki harapan besar agar anaknya dapat bersekolah sampai tingkat tinggi, paling tidak SMA. Namun ketika memikirkan hal-hal tersebutlah pikiran Zaky seketika dihantui pikiran-pikirannya yang ngelantur. Masalahnya apa Zaky mampu mewujudkan mimpinya barusan? Masalahnya hanyalah uang.
Akhirnya Zaky sampai di depan rumah teman lamanya. Namun hanya berdiri di seberang jalan karena dia melihat teman lamanya sedang menjamu tamu lain. Dia berniat menunggu sampai tamunya pulang, Zaky tidak ingin niatnya yang akan menyusahkan tambah menyusahkan teman lamanya.
Sembari menunggu tamu temannya pulang, Zaky hanya bisa duduk dibawah pohon rindang yang ada tepat didepan rumah kawannya tersebut, pikirnya tamu itu akan lama dan akan capek kalau hanya berdiri. Dirabanya kantong celana, mengambil kaleng kecil berisi tembakau dan kertas untuk dia melinting dan merokok, karena tidak kuat membeli rokok bungkusan yang bermerk, dan biasanya kalau Zaky sudah mulai merokok pikiranya akan melamun lagi, terbang terbawa mimpi-mimpinya.
“Hai, Kiii Mari..” begitu sapaan akrab temannya kepada dirinya.
Belum juga habis satu batang rokok, terdengar seorang memanggil. Seketika Zaky memandang ke seberang jalan, ternyata teman lamanya melihat Zaky ketika sedang mengantar tamunya pulang.
“Syakir, apa kabar?”
“Baik, sedang apa kau duduk disana. mampir dulu”
“Memang niatnya aku kemari, aku kira tamumu akan lama”
“Oh, masuk dulu, Ki. Silakan duduk, aku buatkan minum” Zaky melangkah masuk ruang tamu, sambil menatap rumahnya yang sudah mulai berubah sejak terakhir dia berkunjung disini. Tidak lama Syakir keluar sambil membawa nampan berisi dua gelas kopi. Zaky mulai gugup, dia sebenarnya tidak enak dengan niatnya ini dan bingung akan memulai pembicaraaan dari mana.
“Ada apa kau kemari, Ki? Kangen?” keduanya tertawa dengan basa-basi permulaan dialog mereka
“Barang kali iya. Kangen melihat kau goda anak pak lurah seperti lima tahun lalu.” Zaky menimpali
“Oh iya, Ki. Aku dengar istrimu cemas memikirkan kau. Katanya kau akhir-akhir ini sering melamun, betul? Ada apa, Ki?”
“Kau tahu?”
“Kemarin adikmu kemari mengirim jahitan seragam anakku, katanya istrimu bercerita dengan ibumu tentang sikap kamu yang berubah, jadi pendiam katanya. Sebab itu kau kemari, Ki”
“Kau memang sahabat paling mengerti aku, Syakir. Memang, minggu lalu aku dapat surat dari tempatku kerja, katanya seluruh karyawan di kantor tempat saya bekerja di PHK tanpa tunjangan akibat hutang kantor yang terlalu banyak, bangkrut. Dan kau tau kaerjaku yang kemarin lumayan enak, aku takut aku tidak mendapatkan pekerjaan yang seperti sebelumnya.”
“Tetapi apa tidak sebaiknya kau bicarakan dengan istrimu?”
”Aku takut istriku tahu dan ikut-ikutan bingung, rencananya aku beri tahu ketika aku sudah dapat pekerjaan baru. Tidak ada maksud buat istriku cemas” mereka berdua semakin hanyut dalam permasalahan Zaky. Arah pembicaraan merekapun semakin serius. 
“Dan katanya juga kau sekaranga suka kopi pahit, ya? Padahal seingatku kau dulu seorang penggemar manis kan?” tanya Syakir mencoba mencairkan pembicaraan
“Bukan, tapi uangku untuk beli gula tidak ada. Untuk itulah aku kemari” jawab Zaky datar
“Untuk minta gula? Silakan” seleneh Syakir sambir tertawa
“Kau masih suka bercanda rupanya, Syakir” Zaky dibuatnya tersenyum
“Aku kemari untuk meminjam uang, kalau-kalau aku dapat pekerjaan aku kembalikan. Sebenarnya aku malu datang kesini, ke rumah sahabat lamaku hanya untuk pinjam uang. Tapi aku tidak tahu lagi harus bagai mana. Aku sudah tidak punya uang sepeserpun, sedangkan anak-istriku harus tetap aku beri makan. Tapi seandainya kau keberatan tidak apa-apa, Syakir. Aku tidak ingin menyusahkan kau”
“Hah, kau ini ngomong apa? Lantas apa gunanya sahabatmu ini? Bilang saja, kau butuh berapa? Satu juta? Sepuluh juta?”
“Hahaha, tidak. Dua ratus ribu saja untuk beli beras”
“Sebentar, aku ambilkan dulu” Syakiy masuk kedalam kamarnya, sementara Zaky mulai sedikit lega karena paling tidak dia punya persediaan untuk makan selama usahanya mencari pekerjaan lain. Dia merasa harus berterimakasih banyak dengan teman lamanya itu.
“Ini, ki 200 ribu. Tidak usah memikirkan tentang mengembalikanya. Aku ini sahabatmu, Ki. Pikirkan saja anak-istri kamu dirumah, jangan buat mereka cemas lagi.”
“Baik, aku pulang dulu, Kir. Mau beli beras buat makan nanti malam”
“Hati-hati dijalan”
Betapa bahagianya Zaky kala itu, paling tidak dia tidak perlu memikirkan makan untuk besok. Tapi pikirannya tidak sampai situ saja, Zaky mulai bingung harus dia apakan uang tersebut, tidak boleh habis hanya untuk sekali belanja. Dia harus pandai-pandai mengaturnya sampai dia mendapat kerja. Zaky harus cepat-cepat cari kerja atau dia akan merepotkan teman lamanya lagi.
Zaky mempercepat langkah pulangnya, ingin memperlihatkan bahwa dia tidak bersikap aneh lagi didepan istrinya. Selama ini ternyata istrinya tidak mengetahui kalau ia sebenarnya sudah dipecat dari pekerjaanya.
Dengan penuh harap Zaky mendatangi satu persatu kantor untuk ia melamar pekerjaan disana, sudah mencoba kesana-kemari mencari pekerjaan, mencari lowongan di koran-koran dan televisi, tapi nihil. Puluhan kantor yang sudah ia datangi, namun banyak alasan yang diberikan seperti tidak membuka lowongan pekerjaan, surat lamaran tidak sampai kepada atasan, dan yang lebih menyakitkan lagi sering ia diusir satpam sebelum ia mengutarakan maksud kedatangannya kesana, dikiranya orang peminta sumbangan.
Langkahnya sudah mulai lelah, Zaky tak tau harus bagaimana, dan harus menceritakan keadaannya sekarang kepada isterinya. Sesampainya dirumah, dengan berat hati ia menceritakan keadaan yang sedang sialami kepada isterinya bahwa Zaky sekarang sudah dipecat dari pekerjaannya sejak  sebulan yang lalu. Dan ia meminta maaf selama ini sudah berbohong ketika setiap pagi berpamitan pergi bekerja, yang ternyata ia melamar pekerjaan.
Tidak disangka respon isterinya itu sungguh tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan hati Zakky, Rina mendesak dirinya agar cepat mendapatkan pekerjaan yang seperti dulu bahkan kalau tidak mendapatkan pekerjaan dengan segera ia akan meminta cerai.
Setelah pertengkaran malam itu Zaky semakin bingung dan putus asa, harus bagaimana lagi, dan apa yang harus ia lakukan. Hampir satu setengah bulan ia menjadi penganngguran dan pontang panting mencari pekerjaan.
Keesokan harinya tiba-tiba Syakir memanggilnya,
“Zaky! Dengan nada yang sepertinya penting.
“Ki, kemari sebentar” Tambahnya sambil duduk didepan teras rumah Zaky.
Dengan penuh tanya Zaky menghampirinya di depan teras rumah. Dalam benak Zaky berharap kawanya itu tidak akan memberi kabar buruk baginya.
“Ada apa? Sepertinya ada hal yang penting yang ingin kau bicarakan?”
“Memang benar, sebentar duduklah dulu. Kemarin ada yang lupa. Sempat bosku dikantor bilang kalau kantor sedang membutuhkan karyawan baru, memang bukan di posisi yang cukup bagus, gajinya juga sedikit tidak sebanyak ketika kamu menjadi karyawan kantoran, tetapi mungkin itu cukup untuk kau dan anak-istrimu, Ki. Sebagai Office Boy di kantorku. Apa kau mau?”
Zaky bingung dengan tawaran sahabatnya itu ia memang butuh pekerjaan, namun disisi lain pekerjaan itu berat dan pasti istrinya akan tidak setuju. Dari kebiasaannya duduk di meja dan memegang komputer, namun sekarang harus memegang sapu dan pel.
Seketika air mata Zaky menetes, dan akhirnya ia menyetujuinya walaupun dengan berat hati. Dia tidak menyangka teman lamanya yang selalu dia susahkan yang menyelamatkan nasibnya kini. Zaky tidak dapat berkata, hanya dapat merangkul dan memeluk temanya erat-erat sementara air mata bahagianya terus menetes deras. Betapa bagianya ia.

No comments:

Post a Comment