Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Lembaran Baru Cintaku " Karya: TRISNA


Lembaran Baru Cintaku
Oleh : TRISNA

Siang hari ketika terik begitu menyengat persis diatas ubun-ubun, sepulang sekolah dilihatnya seorang laki-laki tua duduk diteras belakang.
“Pak,beberapa hari lagi aku ingin ikut UMPTN bersama teman-teman.” Ungkap vivi
“Kamu cukup sampai di SMA saja, Vi . Bapak tidak sanggup lagi membiayai sekolahmu sampai perguruan tinggi. sekarang bapak minta bukti baktimu pada orangtua. nak lukito sudah tak sabar lagi untuk segera menikahimu.”
Wajah vivi yang semula binar-binar penuh harapan,mendadak jadi pucat.
“Aku masih ingin sekolah pak,aku ingin kuliah dan mendapat gelar sarjana.”
“Kamu itu perempuan, Vi . Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau pada ahirnya kamu juga akan menikah dengan nak lukito. nak lukito itu anak tunggal Pak lurah yang kekayaanya sudah nyata. sawah luas,rumah megah,dan mobil mewah. dia juga sarjana,bukankah itu jugga dapat mengangkat martabatmu serta keluarga kita?” Jawab bapak.
 “Tapi aku nggak mau dijodohkan dengan mas lukito pak,vivi sudah punya pacar.” Jelas vivi .
“Apa?!!” Pak najib tersentak kaget dengan ucapan anaknya. “Kamu jangan berbuat seenaknya,vi. kamu harus tetap menerima nak lukito, jelas?!”
Merinding bulu kuduk vivi, Ia seperti dianaktirikan,berbeda dengan kedua adiknya jamal dan nugroho, mereka selalu diistimewakan. apa mungkin karena aku satu-satunya anak perempuan yang ada dirumah. huh ! tidak bisa, aku tak mau jika dijadikan tumbal. aku punya cita-cita yang harus aku capai. aku tak mau dipaksa-paksa untuk menikah,apalagi bersuamikan lukito. lelaki hidung belang yang sangat angkuh dan sombong..” Kata vivi dalam hati.”
Hari-hari berikutnya sikap pak najib lebih menampakkan kekuasaan dan kehendaknya.
Pak najib lelaki yang keras dan kokoh dalam prinsip hidupnya, seperti watak anak perempuanya, vivi .
“Kamu sudah berani mengambil jalan hidup sendiri vivi,” Kata bapaknya ketika vivi sedang bersantai didepan tv.  “Sebaiknya kamu sudah bisa menentukan hidupmu setelah ini. bapak akan cuci tangan,ternyata kamu lebih pintar dari bapakmu ini. buktikan bahwa kamu bisa menentukan masa depanmu !”
“Bapak mengusirku ?” vivi terpana.
“Terserah penilaianmu. bukankah kamu merasa telah lebih pintar dari bapak?”
Vivi terus memikirkan kata-kata bapaknya, ia sama sekali belum mengerti akan makdut bapaknya. ia seperti tertantang untuk membuktikan bahwa berkorban demi cita-cita itu sah-sah saja. tapi sebelum pergi,vivi mencari informasi pada teman-temanya. dan ternyata jakarta-lah satu-satunya tempat tujuan yang tepat. dikota besar itu harapan ia bisa terwujud,ia bisa bekerja sambil kuliah.
Dipertigaan jalan ketika vivi hendak kepasar,ia melihat candra yang sedang berkunjung dirumah salah satu kerabatnya. dipanggilah candra untuk menemuinya .
Candra terkejut ketika vivi mengutarakan maksutnya. lelaki sebaya dan teman satu kelas waktu SMA itu lalu berkata dengan perasaan gusar.
“Aku tak mengerti mengapa kamu bertindak senekad itu,Vi . mestinya kamu tak harus pergi dari rumah orang tuamu,apalagi harus pergi ke jakarta. kota itu jauh dari sini.”
“Ke ujung duniapun akan ku tempuh,can . apalagi hanya jakarta. banyuwangi-jakarta tidaklah jauh sayang. masaih ada dipulau jawa,” Jawab vivi dengan tegar.
“Kenapa tidak disurabaya saja? disurabaya kamu juga bisa mencari kerja dan kuliah.”
“Tanggung !” potong vivi. “Disurabaya aku masih bisa dicari keluargaku, aku sudah mantap untuk pergi kejakarta, dan aku tak akan pulang sebelum membawa bukti dengan meraih gelar sarjana. ku harap kamu mau mendukung kemauanku ini can.” Vivi menoleh pada kekasihnya.
 “Kapan kamu pergi?” Tanya candra.
“Lusa.” jawab vivi dengan ketus.
“Kamu akan tinggal dengan siapa disana?”
“Kakaknya yuli,aku sudah punya alamat lengkapnya, Dia juga berniat untuk meneruskan kuliah dijakarta. dan kebetulan mbak yuyun kakaknya yuli ada dijakarta,ia belum berkeluarga jadi bisa aku tumpangi sehari atau duahari.”
Candra hanya tersenyum tipis . Vivi tau kekasihnya itu sedang dalam kegalauan. lalu katanya sambil melendotkan pipinya dipundak candra.
“Apa yang aku lakukan ini juga demi kamu candra, demi cinta kita. aku yakin kamu juga tak akan rela jika aku menerima dinikahkan dengan mas lukito,bukan?”
“Ya,,aku mencintaimu, vivi. tapi aku juga sangat menghawatirkanmu disana.”
Candra masih diam,matanya menatap lurus kedepan,mengikuti arus gelombang laut yang menggulung, saat itu mereka berada dii pantai selatan banyuwangi. Diapitnya bahu vivi,lalu ditariknya ke dada.
“Kita memang akan kesepian,tapi cinta juga perlu pengorbanan, can. kita boleh memiliki cinta, tapi tak harus melupakan cita-cita kita, bukan?” Ungkap vivi.
Burung camar terbang rendah diatas permukaan laut. pikiran candra masih terus mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah vivi. yang ia khawatirkan setelah dijakarta nanti vivi akan terpengaruh pergaulan remaja-remaja disana. apalagi vivi gadis cantik dan lugu,siapa yang tidak tertarik?
Hari keberangkatanpun tiba, candra mengantarkan vivi ke stasiun wonokromo,surabaya . mereka pergi kesurabaya dengan menggunakan bis antar kota Banyuwangi-Surabaya .
Vivi pergi tanpa pamit dengan keluarganya, ia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk kedua orangtua dan adik-adiknya. tidak dijelaskan kemana ia akan pergi. Vivi tau pasti ibunya akan sedih, tapi biarlah, toh bapak sudah mengusirku seminggu yang lalu, pikir vivi .
Ketika kereta malam surabaya-jakarta bergerak meninggalkan stasiun wonokromo, vivi melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca. candra pun membalas lambaian tanganya.
Keadaan didalam kereta malam hari itupun dipenuhi penumpangnya.
“Makanya jangan pacaran dulu,,”cela yuli . “kita jadi nggak bebas bergerak. lihat aku,, bebas merdeka kan?”
“Aku juga merasa bebas,,”elak vivi . “candra memang pacarku, tapi dia tak boleh mengatur kemauanku .”
Yuli yang memang sangat lincah dan jail itu terus menggoda vivi , sekalipun vivi sudah sangat lelah ,dan ingin tidur .
Sepasang burung bangau melayang meniti angin,berputar-putar tinggi dilangit. suaranya melengking seperti keluhan panjang. kedua unggas itu telas melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. kicauan burung-burung yang hinggap diatas dahan sangat indah , gedung-gedung tinggi tertata disepanjang jalan,bangunan rumah yang megah itupun ikut meramaikan kota jakarta.
Selama dua bulan dijakarta vivi belum juga mendapat pekerjaan,begitu pula dengan yuli. kedua gadis itu gagal memasuki perguruan tinggi negeri, sementara untuk kuliah di PTS biayanya yak menunjang.
Sepertinya kemarin arfan memberitau mbak tentang lowongan pekerjaan, bisa saja nanti kao tanyakan sendiri padanya.” Ungkap yuyun.
 “Bagaimana kita tanya dengan mas arfan mbak kalau mas arfan sendiri orangnya sangat sibuk,” keluh yuli.
“Ya nanti ketika arfan pulang, cepatlah kamu temui dirumahnya.” Jawab yuyun .
Seminggu telah berlalu, vivi dan yuli sibuk dengan mempersiapkan lamaran pekerjaanya disebuah perusahaan personalia. dua hari setelah lamaran itu ditujukan, yuli dan vivi kembali datang kekentor tersebut. dan ternyata yuli diterima di perusahaan tersebut.
“Mungkin ini belum rezeki ku , yul.  selamat ya kamu uda diterima diperusahaan itu.”
“Jangan putus asa begitu, Vi , siapa tau nanti nasibmu lebih mujur daripada aku.” Jawab yuli dengan nada penuh perhatian .
Entahlah yang jelas beberapa hari ini vivi selalau mengurungkan diri, ia merasa semakin terpojokkan diri ketika sendirian didalam dikontrakan kecil, yuli dan mbak yuyun sibuk bekerja, hanya ia yang tak bekerja.
Sementara pikiranya sedang dipenuhi rasa kegalauan, vivi iseng pergi ke kota untuk mencari info lowongan pekerjaan . ditemuilah sebuah lowongan pekerjaan ,namun sebenarnya ia tak yakin akan mencobanya .
Sebuah lowongan pekerjaan yang membutuhkan seorang pramugari , vivi pun mencoba untuk melamar pekerjaan tersebut walau hatinya penuh ketidakpastian.
Mungkin ini jalan menuju kesuksesan vivi, vivi ahirnya diterima menjadi pramugari disebuah maskapai penerbangan. disana juga vivi menemukan teman barunya yang sangat baik dan selalu membantu vivi, lisa namanya, gadis 26tahun itu tak lain adalah adik kandung raimont, salah satu pilot pesawat yang juga sekaligus pemilik saham maskapai penerbangan itu.
Waktu terus membentang panjang, mengukir kisah kehidupan manusia. Sudah hampir 4tahun ia berkiprah dalam dunia pramugari. ribuan jam ia telah terbang, dan ribuan kisah telah ia selami dalam petualangan hidupnya.
Dua gadis yang dulu ia tumpangai juga sudah berubah keadaanya, mbak yuyun sudah menikah dengan seorang dokter bernama Tommy,sedangkan yuli sudah bertunangan dengan  mas arfan lelaki yang mencarikan pekerjaan itu sekaligus teman dari kakaknya, hanya vivi yang masih melajang.
Karir vivi semakin melejit, walau ahirnya ia tidak berkesempatan untuk kuliah dan cita-citanya gagal untuk meraih gelar sarjana, tapi predikatnya kini sebagai pramugari senior. yang penghasilanya sudah tak bisa diragukan lagi,
Ada sesuatu yang terpetik dalam hidupnya, ada pula yang harus terbuang. janji yang pernah diikrarkan kepada orangtuanya, ya, Vivi tak bisa menepati dengan apa yang dulu pernah ia katakan. belum lagi vivipun sangat terpukul saat sahabatnya yuli menceritakan bahwa kini candra telah menikah dengan seorang gadis yang bernama Lilian. gadis satu kampusnya di UNAIR telah dinikahi candra dalam keadaan mengandung 6bulan. itu sebabnya candra terpaksa menikahinya dua bulan lalu.
Kini vivi telah kehilangan cintanya,ia tak berani pulang ke kampung halamanya, ia merasa sangat malu pada keluarganya. ia juga menjadi sangat benci dengan kota kelahiranya.
Lisa, sahabat vivi selalu membuat vivi terhibur dengan candaan dan nasehatnya, lisa berusaha sekuat mungkin agar mengubah kebencian vivi terhadap kota kelahiranya itu menjadi terang.
“Keberhasilan itu memang penuh pengorbanan, sekalipun cinta kita yang jadi korbanya, namun kita tak boleh membenci semua yang telah terjadi.  lusa kita punya cuti seminggu , sebaiknya kamu gunakan waktu itu untuk mengunjungi keluargamu, hampir 6tahun kamu tak pulang, temui orangtuamu, minta maaflah kepada mereka dan buktikan bahwa sekarang ini kamu telah berhasil walau tak meraih gelar sarjana.”ungkap lisa .
“Ya, tiba-tiba aku begitu merindukan orangtuaku dan Adik-adikku.”
Vivi segera bergegas merapikan baju-baju yang akan dibawa pulang nanti,serta oleh-oleh untuk keluarganya.
Pesawat DC 9 telah mengangkasa dari bandara soekarno-hatta menuju surabaya. vivi tak duduk bersama penumpang lain,tapi ia berada diruangan khusus para pramugari bersama siska,fani,adnan. teman-teman itu yang kebetulan sedang bertugas bersama, vivi sendiri hanya sebagai penumpang.
Selama 4tahun menjadi pramugari, ternyata vivi telah menjadi daya tarik seorang pria yang bekerja menjadi dosen, pria yang selalu langganan memakai maskapai penerbangan simpati itu  ternyata sudah lama memperhatikan vivi, dan sepertinya telah menaruh harapan kepada vivi.
“Vi, ada cowok yang menanyakanmu dan ingin bertemu denganmu sekarang juga,” Kata fani.
“Sebal ! pasti ini hanya leluconmu saja kan !” cetus vivi.
“Serius, vi. dia sekarang ada dikelas VIP.” Fani cepat-cepat melihat daftar penumpang dilembar kertas yang masih dikempitnya itu. dicari nama pria yang duduk di nomor tujuh kelas VIP .
“Nah,, ini namanya,” Fani menyodorkan daftar nama itu pada vivi. “Edwin bahar. kamu kenal dia?”
Vivi yang langsung terhentak itu hampir saja ia tak percaya, dulu ia sempat berkenalan namun menghilang dan sekarang muncul kembali. edwin memang pria tampan,baik lakunya juga sopan terhadap perempuan . vivi yang langsung menumui edwin dan kemudian duduk disebelahnya.
“Aku heran mengapa kita selalu bertemu diatas pesawat.” kata vivi yang tengah berdiri didekat edwin.
Serentak edwin kaget tapi bahagia . “Apa kabar,? silahkan duduk.”
“Baik-baik saja, anda?”
“Tak ada bedanya , sepertinya sedang tidak bertugas? perkenalkan aku Edwin.”
“Kebetulan saya akan pulang kampung di banyuwangi, senang bertemu denganmu, vivi .”
Setelah satu setengah jam mereka bercerita dan dan saling menceritakan perjalanan karirnya . mereka begitu sangat terlihat sudah akrab . sesekalinya edwin mengajak vivi bercanda namun ia juga menyelipkan niatan hatinya untuk menaruh harapan besar padanya.
Saat itu vivi hanya membalasnya dengan senyuman, ia tak berani menjawab kata-kata edwin.
Hampir menjelang senja ketika vivi menginjakkan kakinya di terminal bis banyuwangi. kota yang sudah lama ia tinggalkan, sejenak ia memandang dikejauhan, gunung merapi dan gunung raung berdiri tegar bersisihan. vivi teringat dulu ia sering memandangi kedua gunung itu ketika hendak berangkat sekolah,ketika itu ia membonceng candra,kekasihnya.
Ah,candra kamu hanya menciptakan kenangan dalam hidupku. kini kamu sudah milik wanita lain,kamu suami Lilian !
Segera pulang menuju rumahnya dengan menaiki becak, jarak dari terminal kerumahnya lumayan jauh, Vivi tak sabar ingin segera bertemu dengan keluarganya.
Sampainya didepan rumah,segera vivi mengetuk pintu yang tertutup rapat,dipanggilnya Bapak-Ibu dari ambang pintu.
Segera pintu itu dibuka oleh ibunya, Vivi langsung menubruk Ibunya,lalu mencium kakinya dengan tangisan haru. begitu terharunya sampai vivi tak mampu berkata sepatahpun, ia menciumi terus ibunya.
Perempuan tua itu kini sudah tak punya siapa-siapa lagi, suaminya dan kedua anak laki-lakinya telah tewas dalam bencana tsunami setahun yang lalu. tangis vivi semakin menjadi-jadi ketika ibunya terus menceritakan tewasnya bapak serta kedua adiknya itu, segunung sesal menampar hati. ia merasa telah menyakiti hati bapaknya, kini baliau telah tiada sebelum vivi sempat meminta maaf padanya.
Esok harinya vivi dan ibunya berziarah kemakam bapak,jamal dan nugroho. tak terbendung lagi air mata vivi mengucur deras diatas pusara orang-orang yang sangat dikasihinya.
Sepulang dari makam itu ternyata lukito,laki-laki yang dulu akan dijohkan dengan vivi sudah berada didepan pintu rumah vivi.  vivi begitu terkejut melihat kehadiran lukito dirumahnya.
Kemudian vivi menghampiri lukito, hampir satu jam mereka bincang-bincang . Lukito yang jelas kedatanganya hanya untuk melamar vivi bahkan ingin menikahi vivi, namun vivi masih saja ragu dengan ajakan lukito itu, vivi sama sekali tak mencintai lukito,candra sekarang sudah milik wanita lain,yang ada dalam ingatanya sekarang hanyalah edwin,  namun hatinya itu masih belum terlalu mengenal edwin. hatinya selalu ditekan terus untuk menikah dengan lukito itu artinya vivi juga harus menentukan siapa pilihan hatinya yang akan menjadi suaminya kelak.
Keesokan harinya, tepatnya hari minggu sekitar pukul 3sore , ketika vivi pergi kepasar memberi jamuan untuk tamu spesial yaitu edwin, tak diduga, tiba-tiba edwin berada tepat didepanya. vivipun serentak kaget dan merasa tak percaya, ia merasa berada dalam mimpi ketika edwin menghampirinya.
Segera mungkin vivi mengajak edwin untuk pulang kerumahnya. setibanya dirumah vivi edwin langsung diajak masug kedalam ruang tamu, lebih tak disangka lagi candra yang sudah berada didepan rumah vivi, vivi heran dan terkejut akan maksut kedatangan candra. perasaan gusarpun menyelimuti hatinya.
“Kok kamu disini ? ngapain ?” tanya edwin.
“Hanya main saja mas, kebetulan vivi teman SMA ku, kok mas edwin bisa kenal vivi?” Jawab candra.
“Kalian saling kenal?” Ucap vivi dengan sangat heran dan penuh pertanyaaan.
“Candra ini adik iparku, Vi. suami dari lilian, Adik kandungku yang sempat ku ceritakan tempo dulu.” Jawab edwin dengan santai
Serentak vivi sangat kaget dan tak tentu perasaanya sangat kacau, antara yakin atau tidak, pertemuan sore itu seperti mimpi saja. hatinya semakin teriris . ia semakin ragu untuk memilih edwin . edwin adalah kakak kandung dari lilian, perempuan yang sangat ku benci yang telah merebut kekasihnya itu, namun ia juga tak mungkin memilih lukito, laki-laki yang sama sekali tak dicintainya itu.
Setelah mereka bertiga berbincang-bincang cukup lama, candra yang mengerti posisinya saat itu adalah orang ketiga,lalu segera candra pamit untuk pulang.
Didalam rumah sederhana itu hanya ada vivi daan edwin, ini merupakan kesempatan edwin untuk mengungkapkan perasaanya pada vivi,  segala perasaan ia utarakan pada vivi, termasuk harapanya ingin memperistri vivi. ditengah percakapan mereka tertanya sudah cukup lama lukito berdiri didepan pintu dan mendengar semua kata-kata edwin .
Dan ketika itu pula vivi menyuruh lukito masuk dan duduk, vivi menjelaskan pada lukito mengapa selama ini ia tak mau dinikahkan denganya karena vivi sudah punya pilihan lain, yaitu vivi mencintai edwin.
Lukito tak menerima alasan vivi, namun bagaimana lagi, lukito pun tak punya hak untuk melarang vivi menikah dengan siapa. dan pada ahirnya lukito mengalah, ia segera pamit pulang dengan harapan kosong.

No comments:

Post a Comment