Lembaran Baru
Cintaku
Oleh : TRISNA
Siang hari
ketika terik begitu menyengat persis diatas ubun-ubun, sepulang sekolah
dilihatnya seorang laki-laki tua duduk diteras belakang.
“Pak,beberapa
hari lagi aku ingin ikut UMPTN bersama teman-teman.” Ungkap vivi
“Kamu cukup
sampai di SMA saja, Vi . Bapak tidak sanggup lagi membiayai sekolahmu sampai
perguruan tinggi. sekarang bapak minta bukti baktimu pada orangtua. nak lukito
sudah tak sabar lagi untuk segera menikahimu.”
Wajah vivi yang
semula binar-binar penuh harapan,mendadak jadi pucat.
“Aku masih ingin
sekolah pak,aku ingin kuliah dan mendapat gelar sarjana.”
“Kamu itu
perempuan, Vi . Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau pada ahirnya kamu juga akan
menikah dengan nak lukito. nak lukito itu anak tunggal Pak lurah yang
kekayaanya sudah nyata. sawah luas,rumah megah,dan mobil mewah. dia juga
sarjana,bukankah itu jugga dapat mengangkat martabatmu serta keluarga kita?”
Jawab bapak.
“Tapi aku nggak mau dijodohkan dengan mas
lukito pak,vivi sudah punya pacar.” Jelas vivi .
“Apa?!!” Pak
najib tersentak kaget dengan ucapan anaknya. “Kamu jangan berbuat seenaknya,vi.
kamu harus tetap menerima nak lukito, jelas?!”
Merinding bulu
kuduk vivi, Ia seperti dianaktirikan,berbeda dengan kedua adiknya jamal dan
nugroho, mereka selalu diistimewakan. apa mungkin karena aku satu-satunya anak
perempuan yang ada dirumah. huh ! tidak bisa, aku tak mau jika dijadikan
tumbal. aku punya cita-cita yang harus aku capai. aku tak mau dipaksa-paksa
untuk menikah,apalagi bersuamikan lukito. lelaki hidung belang yang sangat
angkuh dan sombong..” Kata vivi dalam hati.”
Hari-hari
berikutnya sikap pak najib lebih menampakkan kekuasaan dan kehendaknya.
Pak najib lelaki
yang keras dan kokoh dalam prinsip hidupnya, seperti watak anak perempuanya,
vivi .
“Kamu sudah
berani mengambil jalan hidup sendiri vivi,” Kata bapaknya ketika vivi sedang
bersantai didepan tv. “Sebaiknya kamu
sudah bisa menentukan hidupmu setelah ini. bapak akan cuci tangan,ternyata kamu
lebih pintar dari bapakmu ini. buktikan bahwa kamu bisa menentukan masa depanmu
!”
“Bapak
mengusirku ?” vivi terpana.
“Terserah
penilaianmu. bukankah kamu merasa telah lebih pintar dari bapak?”
Vivi terus
memikirkan kata-kata bapaknya, ia sama sekali belum mengerti akan makdut
bapaknya. ia seperti tertantang untuk membuktikan bahwa berkorban demi
cita-cita itu sah-sah saja. tapi sebelum pergi,vivi mencari informasi pada
teman-temanya. dan ternyata jakarta-lah satu-satunya tempat tujuan yang tepat.
dikota besar itu harapan ia bisa terwujud,ia bisa bekerja sambil kuliah.
Dipertigaan
jalan ketika vivi hendak kepasar,ia melihat candra yang sedang berkunjung
dirumah salah satu kerabatnya. dipanggilah candra untuk menemuinya .
Candra terkejut
ketika vivi mengutarakan maksutnya. lelaki sebaya dan teman satu kelas waktu
SMA itu lalu berkata dengan perasaan gusar.
“Aku tak
mengerti mengapa kamu bertindak senekad itu,Vi . mestinya kamu tak harus pergi
dari rumah orang tuamu,apalagi harus pergi ke jakarta. kota itu jauh dari
sini.”
“Ke ujung
duniapun akan ku tempuh,can . apalagi hanya jakarta. banyuwangi-jakarta
tidaklah jauh sayang. masaih ada dipulau jawa,” Jawab vivi dengan tegar.
“Kenapa tidak
disurabaya saja? disurabaya kamu juga bisa mencari kerja dan kuliah.”
“Tanggung !”
potong vivi. “Disurabaya aku masih bisa dicari keluargaku, aku sudah mantap
untuk pergi kejakarta, dan aku tak akan pulang sebelum membawa bukti dengan
meraih gelar sarjana. ku harap kamu mau mendukung kemauanku ini can.” Vivi menoleh
pada kekasihnya.
“Kapan kamu pergi?” Tanya candra.
“Lusa.” jawab
vivi dengan ketus.
“Kamu akan
tinggal dengan siapa disana?”
“Kakaknya
yuli,aku sudah punya alamat lengkapnya, Dia juga berniat untuk meneruskan
kuliah dijakarta. dan kebetulan mbak yuyun kakaknya yuli ada dijakarta,ia belum
berkeluarga jadi bisa aku tumpangi sehari atau duahari.”
Candra hanya
tersenyum tipis . Vivi tau kekasihnya itu sedang dalam kegalauan. lalu katanya
sambil melendotkan pipinya dipundak candra.
“Apa yang aku
lakukan ini juga demi kamu candra, demi cinta kita. aku yakin kamu juga tak
akan rela jika aku menerima dinikahkan dengan mas lukito,bukan?”
“Ya,,aku
mencintaimu, vivi. tapi aku juga sangat menghawatirkanmu disana.”
Candra masih
diam,matanya menatap lurus kedepan,mengikuti arus gelombang laut yang
menggulung, saat itu mereka berada dii pantai selatan banyuwangi. Diapitnya
bahu vivi,lalu ditariknya ke dada.
“Kita memang
akan kesepian,tapi cinta juga perlu pengorbanan, can. kita boleh memiliki
cinta, tapi tak harus melupakan cita-cita kita, bukan?” Ungkap vivi.
Burung camar
terbang rendah diatas permukaan laut. pikiran candra masih terus mencari jalan
keluar untuk memecahkan masalah vivi. yang ia khawatirkan setelah dijakarta
nanti vivi akan terpengaruh pergaulan remaja-remaja disana. apalagi vivi gadis
cantik dan lugu,siapa yang tidak tertarik?
Hari
keberangkatanpun tiba, candra mengantarkan vivi ke stasiun wonokromo,surabaya .
mereka pergi kesurabaya dengan menggunakan bis antar kota Banyuwangi-Surabaya .
Vivi pergi tanpa
pamit dengan keluarganya, ia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk kedua
orangtua dan adik-adiknya. tidak dijelaskan kemana ia akan pergi. Vivi tau
pasti ibunya akan sedih, tapi biarlah, toh bapak sudah mengusirku seminggu yang
lalu, pikir vivi .
Ketika kereta
malam surabaya-jakarta bergerak meninggalkan stasiun wonokromo, vivi
melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca. candra pun membalas lambaian
tanganya.
Keadaan didalam
kereta malam hari itupun dipenuhi penumpangnya.
“Makanya jangan
pacaran dulu,,”cela yuli . “kita jadi nggak bebas bergerak. lihat aku,, bebas
merdeka kan?”
“Aku juga merasa
bebas,,”elak vivi . “candra memang pacarku, tapi dia tak boleh mengatur
kemauanku .”
Yuli yang memang
sangat lincah dan jail itu terus menggoda vivi , sekalipun vivi sudah sangat
lelah ,dan ingin tidur .
Sepasang burung
bangau melayang meniti angin,berputar-putar tinggi dilangit. suaranya
melengking seperti keluhan panjang. kedua unggas itu telas melayang
beratus-ratus kilometer mencari genangan air. kicauan burung-burung yang
hinggap diatas dahan sangat indah , gedung-gedung tinggi tertata disepanjang
jalan,bangunan rumah yang megah itupun ikut meramaikan kota jakarta.
Selama dua bulan
dijakarta vivi belum juga mendapat pekerjaan,begitu pula dengan yuli. kedua gadis
itu gagal memasuki perguruan tinggi negeri, sementara untuk kuliah di PTS
biayanya yak menunjang.
Sepertinya
kemarin arfan memberitau mbak tentang lowongan pekerjaan, bisa saja nanti kao
tanyakan sendiri padanya.” Ungkap yuyun.
“Bagaimana kita tanya dengan mas arfan mbak
kalau mas arfan sendiri orangnya sangat sibuk,” keluh yuli.
“Ya nanti ketika
arfan pulang, cepatlah kamu temui dirumahnya.” Jawab yuyun .
Seminggu telah
berlalu, vivi dan yuli sibuk dengan mempersiapkan lamaran pekerjaanya disebuah
perusahaan personalia. dua hari setelah lamaran itu ditujukan, yuli dan vivi
kembali datang kekentor tersebut. dan ternyata yuli diterima di perusahaan
tersebut.
“Mungkin ini
belum rezeki ku , yul. selamat ya kamu
uda diterima diperusahaan itu.”
“Jangan putus
asa begitu, Vi , siapa tau nanti nasibmu lebih mujur daripada aku.” Jawab yuli
dengan nada penuh perhatian .
Entahlah yang
jelas beberapa hari ini vivi selalau mengurungkan diri, ia merasa semakin
terpojokkan diri ketika sendirian didalam dikontrakan kecil, yuli dan mbak
yuyun sibuk bekerja, hanya ia yang tak bekerja.
Sementara
pikiranya sedang dipenuhi rasa kegalauan, vivi iseng pergi ke kota untuk
mencari info lowongan pekerjaan . ditemuilah sebuah lowongan pekerjaan ,namun
sebenarnya ia tak yakin akan mencobanya .
Sebuah lowongan
pekerjaan yang membutuhkan seorang pramugari , vivi pun mencoba untuk melamar
pekerjaan tersebut walau hatinya penuh ketidakpastian.
Mungkin ini
jalan menuju kesuksesan vivi, vivi ahirnya diterima menjadi pramugari disebuah
maskapai penerbangan. disana juga vivi menemukan teman barunya yang sangat baik
dan selalu membantu vivi, lisa namanya, gadis 26tahun itu tak lain adalah adik
kandung raimont, salah satu pilot pesawat yang juga sekaligus pemilik saham
maskapai penerbangan itu.
Waktu terus
membentang panjang, mengukir kisah kehidupan manusia. Sudah hampir 4tahun ia
berkiprah dalam dunia pramugari. ribuan jam ia telah terbang, dan ribuan kisah
telah ia selami dalam petualangan hidupnya.
Dua gadis yang
dulu ia tumpangai juga sudah berubah keadaanya, mbak yuyun sudah menikah dengan
seorang dokter bernama Tommy,sedangkan yuli sudah bertunangan dengan mas arfan lelaki yang mencarikan pekerjaan
itu sekaligus teman dari kakaknya, hanya vivi yang masih melajang.
Karir vivi
semakin melejit, walau ahirnya ia tidak berkesempatan untuk kuliah dan
cita-citanya gagal untuk meraih gelar sarjana, tapi predikatnya kini sebagai
pramugari senior. yang penghasilanya sudah tak bisa diragukan lagi,
Ada sesuatu yang
terpetik dalam hidupnya, ada pula yang harus terbuang. janji yang pernah
diikrarkan kepada orangtuanya, ya, Vivi tak bisa menepati dengan apa yang dulu
pernah ia katakan. belum lagi vivipun sangat terpukul saat sahabatnya yuli
menceritakan bahwa kini candra telah menikah dengan seorang gadis yang bernama
Lilian. gadis satu kampusnya di UNAIR telah dinikahi candra dalam keadaan
mengandung 6bulan. itu sebabnya candra terpaksa menikahinya dua bulan lalu.
Kini vivi telah
kehilangan cintanya,ia tak berani pulang ke kampung halamanya, ia merasa sangat
malu pada keluarganya. ia juga menjadi sangat benci dengan kota kelahiranya.
Lisa, sahabat
vivi selalu membuat vivi terhibur dengan candaan dan nasehatnya, lisa berusaha
sekuat mungkin agar mengubah kebencian vivi terhadap kota kelahiranya itu menjadi
terang.
“Keberhasilan
itu memang penuh pengorbanan, sekalipun cinta kita yang jadi korbanya, namun
kita tak boleh membenci semua yang telah terjadi. lusa kita punya cuti seminggu , sebaiknya
kamu gunakan waktu itu untuk mengunjungi keluargamu, hampir 6tahun kamu tak
pulang, temui orangtuamu, minta maaflah kepada mereka dan buktikan bahwa
sekarang ini kamu telah berhasil walau tak meraih gelar sarjana.”ungkap lisa .
“Ya, tiba-tiba
aku begitu merindukan orangtuaku dan Adik-adikku.”
Vivi segera
bergegas merapikan baju-baju yang akan dibawa pulang nanti,serta oleh-oleh
untuk keluarganya.
Pesawat DC 9
telah mengangkasa dari bandara soekarno-hatta menuju surabaya. vivi tak duduk
bersama penumpang lain,tapi ia berada diruangan khusus para pramugari bersama
siska,fani,adnan. teman-teman itu yang kebetulan sedang bertugas bersama, vivi
sendiri hanya sebagai penumpang.
Selama 4tahun
menjadi pramugari, ternyata vivi telah menjadi daya tarik seorang pria yang
bekerja menjadi dosen, pria yang selalu langganan memakai maskapai penerbangan
simpati itu ternyata sudah lama
memperhatikan vivi, dan sepertinya telah menaruh harapan kepada vivi.
“Vi, ada cowok
yang menanyakanmu dan ingin bertemu denganmu sekarang juga,” Kata fani.
“Sebal ! pasti
ini hanya leluconmu saja kan !” cetus vivi.
“Serius, vi. dia
sekarang ada dikelas VIP.” Fani cepat-cepat melihat daftar penumpang dilembar
kertas yang masih dikempitnya itu. dicari nama pria yang duduk di nomor tujuh
kelas VIP .
“Nah,, ini
namanya,” Fani menyodorkan daftar nama itu pada vivi. “Edwin bahar. kamu kenal
dia?”
Vivi yang
langsung terhentak itu hampir saja ia tak percaya, dulu ia sempat berkenalan
namun menghilang dan sekarang muncul kembali. edwin memang pria tampan,baik
lakunya juga sopan terhadap perempuan . vivi yang langsung menumui edwin dan
kemudian duduk disebelahnya.
“Aku heran
mengapa kita selalu bertemu diatas pesawat.” kata vivi yang tengah berdiri
didekat edwin.
Serentak edwin
kaget tapi bahagia . “Apa kabar,? silahkan duduk.”
“Baik-baik saja,
anda?”
“Tak ada bedanya
, sepertinya sedang tidak bertugas? perkenalkan aku Edwin.”
“Kebetulan saya
akan pulang kampung di banyuwangi, senang bertemu denganmu, vivi .”
Setelah satu
setengah jam mereka bercerita dan dan saling menceritakan perjalanan karirnya .
mereka begitu sangat terlihat sudah akrab . sesekalinya edwin mengajak vivi
bercanda namun ia juga menyelipkan niatan hatinya untuk menaruh harapan besar
padanya.
Saat itu vivi
hanya membalasnya dengan senyuman, ia tak berani menjawab kata-kata edwin.
Hampir menjelang
senja ketika vivi menginjakkan kakinya di terminal bis banyuwangi. kota yang
sudah lama ia tinggalkan, sejenak ia memandang dikejauhan, gunung merapi dan
gunung raung berdiri tegar bersisihan. vivi teringat dulu ia sering memandangi
kedua gunung itu ketika hendak berangkat sekolah,ketika itu ia membonceng
candra,kekasihnya.
Ah,candra kamu
hanya menciptakan kenangan dalam hidupku. kini kamu sudah milik wanita
lain,kamu suami Lilian !
Segera pulang
menuju rumahnya dengan menaiki becak, jarak dari terminal kerumahnya lumayan
jauh, Vivi tak sabar ingin segera bertemu dengan keluarganya.
Sampainya
didepan rumah,segera vivi mengetuk pintu yang tertutup rapat,dipanggilnya
Bapak-Ibu dari ambang pintu.
Segera pintu itu
dibuka oleh ibunya, Vivi langsung menubruk Ibunya,lalu mencium kakinya dengan
tangisan haru. begitu terharunya sampai vivi tak mampu berkata sepatahpun, ia
menciumi terus ibunya.
Perempuan tua
itu kini sudah tak punya siapa-siapa lagi, suaminya dan kedua anak laki-lakinya
telah tewas dalam bencana tsunami setahun yang lalu. tangis vivi semakin
menjadi-jadi ketika ibunya terus menceritakan tewasnya bapak serta kedua
adiknya itu, segunung sesal menampar hati. ia merasa telah menyakiti hati
bapaknya, kini baliau telah tiada sebelum vivi sempat meminta maaf padanya.
Esok harinya
vivi dan ibunya berziarah kemakam bapak,jamal dan nugroho. tak terbendung lagi
air mata vivi mengucur deras diatas pusara orang-orang yang sangat dikasihinya.
Sepulang dari
makam itu ternyata lukito,laki-laki yang dulu akan dijohkan dengan vivi sudah
berada didepan pintu rumah vivi. vivi
begitu terkejut melihat kehadiran lukito dirumahnya.
Kemudian vivi
menghampiri lukito, hampir satu jam mereka bincang-bincang . Lukito yang jelas
kedatanganya hanya untuk melamar vivi bahkan ingin menikahi vivi, namun vivi
masih saja ragu dengan ajakan lukito itu, vivi sama sekali tak mencintai
lukito,candra sekarang sudah milik wanita lain,yang ada dalam ingatanya
sekarang hanyalah edwin, namun hatinya
itu masih belum terlalu mengenal edwin. hatinya selalu ditekan terus untuk
menikah dengan lukito itu artinya vivi juga harus menentukan siapa pilihan
hatinya yang akan menjadi suaminya kelak.
Keesokan
harinya, tepatnya hari minggu sekitar pukul 3sore , ketika vivi pergi kepasar
memberi jamuan untuk tamu spesial yaitu edwin, tak diduga, tiba-tiba edwin
berada tepat didepanya. vivipun serentak kaget dan merasa tak percaya, ia
merasa berada dalam mimpi ketika edwin menghampirinya.
Segera mungkin
vivi mengajak edwin untuk pulang kerumahnya. setibanya dirumah vivi edwin
langsung diajak masug kedalam ruang tamu, lebih tak disangka lagi candra yang
sudah berada didepan rumah vivi, vivi heran dan terkejut akan maksut kedatangan
candra. perasaan gusarpun menyelimuti hatinya.
“Kok kamu disini
? ngapain ?” tanya edwin.
“Hanya main saja
mas, kebetulan vivi teman SMA ku, kok mas edwin bisa kenal vivi?” Jawab candra.
“Kalian saling
kenal?” Ucap vivi dengan sangat heran dan penuh pertanyaaan.
“Candra ini adik
iparku, Vi. suami dari lilian, Adik kandungku yang sempat ku ceritakan tempo
dulu.” Jawab edwin dengan santai
Serentak vivi
sangat kaget dan tak tentu perasaanya sangat kacau, antara yakin atau tidak,
pertemuan sore itu seperti mimpi saja. hatinya semakin teriris . ia semakin
ragu untuk memilih edwin . edwin adalah kakak kandung dari lilian, perempuan
yang sangat ku benci yang telah merebut kekasihnya itu, namun ia juga tak
mungkin memilih lukito, laki-laki yang sama sekali tak dicintainya itu.
Setelah mereka
bertiga berbincang-bincang cukup lama, candra yang mengerti posisinya saat itu
adalah orang ketiga,lalu segera candra pamit untuk pulang.
Didalam rumah
sederhana itu hanya ada vivi daan edwin, ini merupakan kesempatan edwin untuk
mengungkapkan perasaanya pada vivi,
segala perasaan ia utarakan pada vivi, termasuk harapanya ingin
memperistri vivi. ditengah percakapan mereka tertanya sudah cukup lama lukito
berdiri didepan pintu dan mendengar semua kata-kata edwin .
Dan ketika itu
pula vivi menyuruh lukito masuk dan duduk, vivi menjelaskan pada lukito mengapa
selama ini ia tak mau dinikahkan denganya karena vivi sudah punya pilihan lain,
yaitu vivi mencintai edwin.
Lukito tak
menerima alasan vivi, namun bagaimana lagi, lukito pun tak punya hak untuk
melarang vivi menikah dengan siapa. dan pada ahirnya lukito mengalah, ia segera
pamit pulang dengan harapan kosong.
No comments:
Post a Comment