Okvia Fera Prawesti
Kejutan istimewa dari ayah
Hujan
deras mengguyur desa jetis, Kabupaten Sragen. Kesunyian menyelimuti desa itu.
Melihat kelayuan bunga-bunga di taman, tak ada kumbang yang menghisap madu.
Bunga yang tengah berubah warna menjadi coklat kekuningan itu telah gugur dan
beterbangan karena tiupan angin. Kemurungan telah menempel dalam raut wajah
gadis itu. Bahkan rasa ketakutan itu mendenyutkan nadinya. Seolah darah itu
beku, seluruh badan terasa kaku. Dia adalah seorang gadis yang terlahir dalam
janin sang ibu, dari keluarga yang harmonis. Dia adalah anak pertama dari tiga
bersaudara, ia bernama Olivia Sanjaya usianya 18 tahun. Olivia telah menuntut
ilmu di Universitas Indonesia. Olivia mengambil jurusan Pendidikan Akuntansi
dan Ekonomi. Olivia mempuyai sahabat yang bernama Melani. Kehidupan yang
terlihat, membuat hati teman-teman sebayanya iri. Masa kecil Olivia tak pernah
lepas dari belaian orang tuanya. Kasih sayang itu sangatlah melekat dalam
senyum manisnya. Keceriaan yang termiliki begitu natural. Itulah yang terlihat
dalam kaca mata orang lain. Mereka melihat keindahan kehidupan dari apa yang
ada saat itu.
Kebahagiaan
itu adalah rasa ketika semua umat manusia bertanya pada sanubari mereka. Akan
terasa dan terlihat begitu jelas. Canda tawa bukanlah bukti dari kebahagiaan.
Tingkah laku, raut wajah, senyum dan tawa itu adalah sebuah kepalsuan. Semua
umat manusia telah memiliki masing-masing cara dalam menghadapi karakter
kehidupan. Hidup dapat dikatakan sebuah drama. Dari perilaku Olivia selama ini teman-teman,
saudara, dan kekasihnya tak pernah tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi.
Semua orang tak kan pernah menyangka dengan apa yang telah dihadapinya. Semua
yang terlihat adalah kebohongan. Dia menggunakan topengnya untuk menyihir
orang-orang yang mengenal dirinya. Ia tak ingin orang lain tahu yang
sesungguhnya dengan keadaan yang telah menyudutkan Olivia pada keegoisan.
Olivia bukanlah gadis yang manja, seperti gadis-gadis lain. Dia dapat berdiri
sendiri, walau yang terasa sangatlah lemah dan rapuh. Olivia menguatkan hatinya
hanya karena Sang Ibu. Tekanan dan kekangan dari sang ayah yang menyebabkan
perubahan dalam keluarga kecil itu terasa.
Selain
itu, mulai banyak masalah dalam keluarga yang membuat Olivia tak merasa nyaman.
Keterpaksaanlah yang menyelimuti hati Olivia. Olivia selalu bercerita tentang
masalah yang dihadapinya kepada Melani. Namun, Melani hanya dapat menenangkan
hati Olivia. Semenjak kuliah Olivia hampir tidak pernah pulang ke rumah. Olivia
lebih menyukai tinggal bersama teman-temannya. Olivia dapat lebih bebas
mengembangkan bakatnya.
Sore
hari sepulang kuliah, Olivia dan Melani pergi ke toko buku. Olivia dan Melani
berbincang-bincang. Tak sengaja, Melani keceplosan menanyakan ayah Olivia. Raut
wajah Olivia berubah memucat. Melani merasa sangat bersalah. Kemudian Melani
mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya. Namun, Olivia memotong perkataan
Melani.
“Mel,
tak usah mencoba untuk mengalihkan pembicaraan itu.”
“Pembicaraan
yang mungkin aku tak menyukainya” Kata Olivia.
“Maafkan
aku Liv, aku keceplosan.”
“Aku
tak ada maksud untuk membuatmu sedih, Liv”
“Apakah
kamu sangat membenci Ayahmu?” tanya Melani kepada Olivia.
“Aku
tidak membencinya.”
“Aku
merasa tidak ada ketidakadilan pada Ibuku.”
“Ibuku
adalah korban dari kekerasan ayahku.”
“Aku
merasa tidak tega” jawab Olivia.
“Ya
aku mengerti.”
“Kalau
aku boleh tahu, kekerasan yang bagaimana?” tanya Melani.
“Kekerasan
yang membuat aku muak melihatnya.”
“Bukan
hanya kekerasan dari batin, yang sangat membuatku muram adalah kekerasan pada
tubuh Ibuku.”
“Kekerasan
itu tidak hanya satu dua kali dilakukan.”
“Ibuku
dihajar hingga memar pada pipi dan matanya.”
“Apakah
itu masih layak dikatakan seorang ayah untuk istri dan anak-anaknya”
“Aku
tak menyangka kehidupan keluargaku menjadi seperti ini” Jawabku pada Melani.
“Liv,
kehidupan itu seperti roda berputar.”
“kita
tak tahu, entah sampai kapan roda itu berhenti.”
“Kita
sebagai manusia hanya bisa berpasrah pada Tuhan” Jawab Melani.
“Ya,
Mel” Jawabku singkat.
“Liv,
janganlah bersedih.”
“kasih
sayang itu masih ada untukmu.”
“Sahabat
dan orang-orang terdekatmu pasti menyayangimu.”
“Semua
sayang kamu, Liv” Nasehat Melani untuk Olivia.
“Mel,
aku sangat bangga punya sahabat sepertimu” jawab Olivia sambil memeluk Melani.
“hahahaha,
ya Liv” Jawab singkat Melani.
“Mel,
kadang aku ingin pergi dari dunia ini.”
“Ingin
bebas melepaskan semua penat didada” Ungkap Olivia.
“Memang
kenapa, Liv? Tanya Melani.
“Aku
bosan seperti ini.”
“Aku
ingin tidak pernah melihat apa yang aku lihat.”
“Sebisa
mungkin untuk melupakan kepahitan yang ada dalam keluargaku” Jawab Olivia.
“Liv,
jangan merasa seperti itu.”
“Sabar
itu yang hanya bisa kita lakukan.”
“Liv,
kenapa di toko buku kita malah berbincang-bincang masalah ini?”
“Ayo,
kita baca buku!” Ajak Melani.
“oke”
Jawabku singkat.
“Saat
memilih buku, tiba-tiba Handphoneku berdering keras.”
“Ayahku
meneleponku, dengan rasa panik aku mengangkatnya.”
“Hallo
Ayah, ada apa?”
“Liv,
kamu dimana!” dengan nada keras dan menghentak.
“Olivia
baru ke toko buku, Ayah.”
“Oh,
sampai kapan kamu berbohong terus menerus?” Tanya Ayah Olivia.
“Olivia
tidak berbohong, Ayah” Jawab Olivia dengan rasa ketakutan.
“Kamu
bersama siapa?” Tanya Ayah Olivia.
“Olivia
bersama Melani, ayah” Jawab Olivia.
“Main
saja terus, Liv.”
“Kamu
mau ikut-ikutan ibumu?” Tanya Ayah
“Ayah,
Olivia tidak mengerti apa yang ayah maksud.”
“Ayah
hanya bisa menyalahkan ibu dan memukuli ibu.”
“Olivia
kesal, Ayah” Jawab Olivia pada ayahnya.
“Kalau
begitu, apa ayah cerai saja dengan ibumu?” Tanya Ayah Olivia.
“Oh,
jadi itu yang diinginkan ayah?”
“Biar
ayah bisa bebas dan mencari wanita lain?”
“Hanya
ibu yang sabar, menerima aib yang ayah lakukan!” Jawab Olivia dengan marah.
“Dasar
anak tak tahu diri” Jawab ayah Olivia dengan mematikan Handphonenya.
Percakapan
itu membuat Olivia menangis dengan keras, ia merasakan sakitnya. Ia mengelus
dada dan menggumam. Akhirnya Melani membawa Olivia keluar dari toko buku itu.
“Olivia,
ayo kita keluar dulu” Ajak Melani.
“Liv,
sabar.”
“Janganlah
menangis seperti ini.” Nasehat Melani kepada Olivia.
“Aku
tidak tahan, Mel.”
“Melihat
perlakuan ayahku.”
“Ayahku
tak pernah percaya dengan apa yang aku lakukan.”
“Semua
yang aku lakukan selalu salah.” Ungkap Olivia.
“Ya
aku tahu, Liv.”
“Tenanglah
dahulu, inilah hidup.”
“Aku
tidak akan meninggalkanmu” Jawab Melani.
“ini
hanya ujian untukmu, Liv.”
“Kamu
adalah wanita yang kuat.”
“Ambillah
hikmah dari masalah ini.”
Akhirnya
aku dan Melani pulang. Tiba-tiba dimeja tempat belajarku ada kado. Aku sempat
bingung, darimana asal bungkusan kotak ini. Ketika aku buka didalamnya ada gaun
berwarna merah jambu yang cantik untukku
dan secarik surat. Surat itu berisi minta maaf. Tiba-tiba Handphone Olivia
berdering kembali. Belum sembuh dari luka dan tangisan itu, ia harus mendapatkan
telephone dari ayahnya kembali.
“Iya,
Ayah kenapa?” Tanya Olivia kepada ayahnya.
“Nak,
kadonya sudah sampaikah?” Tanya Ayah kepada Olivia.
“Maksudnya,
Ayah?” Jawab Olivia dengan nada kebingungan.
“Ayah,
mengirimkan gaun merah jambu untukmu dan secarik surat.” Jawab Ayahnya.
“Oh,
ini dari ayah?”
“Makasih
ayah” Jawab Olivia dengan nada tidak percaya.
“Ya,
nak.”
“Maafkan
ayah nak, sudah keterlaluan.”
“Selamat
ulang tahun, semoga panjang umur, tambah pintar, dan berbakti pada orang tua”
Ungkap ayahnya.
“Ya
ayah, ini adalah kado yang sangat istimewa” Jawab Olivia.
“Nak,
hati-hati ya” pesan ayah Olivia.
“Ya
ayah” Jawabku singkat.
Dari
masalah ini, ternyata ini adalah hikmah yang aku dapatkan. Aku mendapatkan kado yang istimewa dari ayah.
Terima Kasih Tuhan.
No comments:
Post a Comment