Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Kejutan Istimewa dari Ayah " Karya: Okvia Fera Prawesti


Okvia Fera Prawesti

Kejutan istimewa dari ayah
Hujan deras mengguyur desa jetis, Kabupaten Sragen. Kesunyian menyelimuti desa itu. Melihat kelayuan bunga-bunga di taman, tak ada kumbang yang menghisap madu. Bunga yang tengah berubah warna menjadi coklat kekuningan itu telah gugur dan beterbangan karena tiupan angin. Kemurungan telah menempel dalam raut wajah gadis itu. Bahkan rasa ketakutan itu mendenyutkan nadinya. Seolah darah itu beku, seluruh badan terasa kaku. Dia adalah seorang gadis yang terlahir dalam janin sang ibu, dari keluarga yang harmonis. Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, ia bernama Olivia Sanjaya usianya 18 tahun. Olivia telah menuntut ilmu di Universitas Indonesia. Olivia mengambil jurusan Pendidikan Akuntansi dan Ekonomi. Olivia mempuyai sahabat yang bernama Melani. Kehidupan yang terlihat, membuat hati teman-teman sebayanya iri. Masa kecil Olivia tak pernah lepas dari belaian orang tuanya. Kasih sayang itu sangatlah melekat dalam senyum manisnya. Keceriaan yang termiliki begitu natural. Itulah yang terlihat dalam kaca mata orang lain. Mereka melihat keindahan kehidupan dari apa yang ada saat itu.
Kebahagiaan itu adalah rasa ketika semua umat manusia bertanya pada sanubari mereka. Akan terasa dan terlihat begitu jelas. Canda tawa bukanlah bukti dari kebahagiaan. Tingkah laku, raut wajah, senyum dan tawa itu adalah sebuah kepalsuan. Semua umat manusia telah memiliki masing-masing cara dalam menghadapi karakter kehidupan. Hidup dapat dikatakan sebuah drama. Dari perilaku Olivia selama ini teman-teman, saudara, dan kekasihnya tak pernah tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Semua orang tak kan pernah menyangka dengan apa yang telah dihadapinya. Semua yang terlihat adalah kebohongan. Dia menggunakan topengnya untuk menyihir orang-orang yang mengenal dirinya. Ia tak ingin orang lain tahu yang sesungguhnya dengan keadaan yang telah menyudutkan Olivia pada keegoisan. Olivia bukanlah gadis yang manja, seperti gadis-gadis lain. Dia dapat berdiri sendiri, walau yang terasa sangatlah lemah dan rapuh. Olivia menguatkan hatinya hanya karena Sang Ibu. Tekanan dan kekangan dari sang ayah yang menyebabkan perubahan dalam keluarga kecil itu terasa.
Selain itu, mulai banyak masalah dalam keluarga yang membuat Olivia tak merasa nyaman. Keterpaksaanlah yang menyelimuti hati Olivia. Olivia selalu bercerita tentang masalah yang dihadapinya kepada Melani. Namun, Melani hanya dapat menenangkan hati Olivia. Semenjak kuliah Olivia hampir tidak pernah pulang ke rumah. Olivia lebih menyukai tinggal bersama teman-temannya. Olivia dapat lebih bebas mengembangkan bakatnya.
Sore hari sepulang kuliah, Olivia dan Melani pergi ke toko buku. Olivia dan Melani berbincang-bincang. Tak sengaja, Melani keceplosan menanyakan ayah Olivia. Raut wajah Olivia berubah memucat. Melani merasa sangat bersalah. Kemudian Melani mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya. Namun, Olivia memotong perkataan Melani.
“Mel, tak usah mencoba untuk mengalihkan pembicaraan itu.”
“Pembicaraan yang mungkin aku tak menyukainya” Kata Olivia.
“Maafkan aku Liv, aku keceplosan.”
“Aku tak ada maksud untuk membuatmu sedih, Liv”
“Apakah kamu sangat membenci Ayahmu?” tanya Melani kepada Olivia.
“Aku tidak membencinya.”
“Aku merasa tidak ada ketidakadilan pada Ibuku.”
“Ibuku adalah korban dari kekerasan ayahku.”
“Aku merasa tidak tega” jawab Olivia.
“Ya aku mengerti.”
“Kalau aku boleh tahu, kekerasan yang bagaimana?” tanya Melani.
“Kekerasan yang membuat aku muak melihatnya.”
“Bukan hanya kekerasan dari batin, yang sangat membuatku muram adalah kekerasan pada tubuh Ibuku.”
“Kekerasan itu tidak hanya satu dua kali dilakukan.”
“Ibuku dihajar hingga memar pada pipi dan matanya.”
“Apakah itu masih layak dikatakan seorang ayah untuk istri dan anak-anaknya”
“Aku tak menyangka kehidupan keluargaku menjadi seperti ini” Jawabku pada Melani.
“Liv, kehidupan itu seperti roda berputar.”
“kita tak tahu, entah sampai kapan roda itu berhenti.”
“Kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah pada Tuhan” Jawab Melani.
“Ya, Mel” Jawabku singkat.
“Liv, janganlah bersedih.”
“kasih sayang itu masih ada untukmu.”
“Sahabat dan orang-orang terdekatmu pasti menyayangimu.”
“Semua sayang kamu, Liv” Nasehat Melani untuk Olivia.
“Mel, aku sangat bangga punya sahabat sepertimu” jawab Olivia sambil memeluk Melani.
“hahahaha, ya Liv” Jawab singkat Melani.
“Mel, kadang aku ingin pergi dari dunia ini.”
“Ingin bebas melepaskan semua penat didada” Ungkap Olivia.
“Memang kenapa, Liv? Tanya Melani.
“Aku bosan seperti ini.”
“Aku ingin tidak pernah melihat apa yang aku lihat.”
“Sebisa mungkin untuk melupakan kepahitan yang ada dalam keluargaku” Jawab Olivia.
“Liv, jangan merasa seperti itu.”
“Sabar itu yang hanya bisa kita lakukan.”
“Liv, kenapa di toko buku kita malah berbincang-bincang masalah ini?”
“Ayo, kita baca buku!” Ajak Melani.
“oke” Jawabku singkat.
“Saat memilih buku, tiba-tiba Handphoneku berdering keras.”
“Ayahku meneleponku, dengan rasa panik aku mengangkatnya.”
“Hallo Ayah, ada apa?”
“Liv, kamu dimana!” dengan nada keras dan menghentak.
“Olivia baru ke toko buku, Ayah.”
“Oh, sampai kapan kamu berbohong terus menerus?” Tanya Ayah Olivia.
“Olivia tidak berbohong, Ayah” Jawab Olivia dengan rasa ketakutan.
“Kamu bersama siapa?” Tanya Ayah Olivia.
“Olivia bersama Melani, ayah” Jawab Olivia.
“Main saja terus, Liv.”
“Kamu mau ikut-ikutan ibumu?” Tanya Ayah
“Ayah, Olivia tidak mengerti apa yang ayah maksud.”
“Ayah hanya bisa menyalahkan ibu dan memukuli ibu.”
“Olivia kesal, Ayah” Jawab Olivia pada ayahnya.
“Kalau begitu, apa ayah cerai saja dengan ibumu?” Tanya Ayah Olivia.
“Oh, jadi itu yang diinginkan ayah?”
“Biar ayah bisa bebas dan mencari wanita lain?”
“Hanya ibu yang sabar, menerima aib yang ayah lakukan!” Jawab Olivia dengan marah.
“Dasar anak tak tahu diri” Jawab ayah Olivia dengan mematikan Handphonenya.
Percakapan itu membuat Olivia menangis dengan keras, ia merasakan sakitnya. Ia mengelus dada dan menggumam. Akhirnya Melani membawa Olivia keluar dari toko buku itu.
“Olivia, ayo kita keluar dulu” Ajak Melani.
“Liv, sabar.”
“Janganlah menangis seperti ini.” Nasehat Melani kepada Olivia.
“Aku tidak tahan, Mel.”
“Melihat perlakuan ayahku.”
“Ayahku tak pernah percaya dengan apa yang aku lakukan.”
“Semua yang aku lakukan selalu salah.” Ungkap Olivia.
“Ya aku tahu, Liv.”
“Tenanglah dahulu, inilah hidup.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu” Jawab Melani.
“ini hanya ujian untukmu, Liv.”
“Kamu adalah wanita yang kuat.”
“Ambillah hikmah dari masalah ini.”
Akhirnya aku dan Melani pulang. Tiba-tiba dimeja tempat belajarku ada kado. Aku sempat bingung, darimana asal bungkusan kotak ini. Ketika aku buka didalamnya ada gaun berwarna merah jambu yang  cantik untukku dan secarik surat. Surat itu berisi minta maaf. Tiba-tiba Handphone Olivia berdering kembali. Belum sembuh dari luka dan tangisan itu, ia harus mendapatkan telephone dari ayahnya kembali.
“Iya, Ayah kenapa?” Tanya Olivia kepada ayahnya.
“Nak, kadonya sudah sampaikah?” Tanya Ayah kepada Olivia.
“Maksudnya, Ayah?” Jawab Olivia dengan nada kebingungan.
“Ayah, mengirimkan gaun merah jambu untukmu dan secarik surat.” Jawab Ayahnya.
“Oh, ini dari ayah?”
“Makasih ayah” Jawab Olivia dengan nada tidak percaya.
“Ya, nak.”
“Maafkan ayah nak, sudah keterlaluan.”
“Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, tambah pintar, dan berbakti pada orang tua” Ungkap ayahnya.
“Ya ayah, ini adalah kado yang sangat istimewa” Jawab Olivia.
“Nak, hati-hati ya” pesan ayah Olivia.
“Ya ayah” Jawabku singkat.
Dari masalah ini, ternyata ini adalah hikmah yang aku dapatkan.  Aku mendapatkan kado yang istimewa dari ayah. Terima Kasih Tuhan.

No comments:

Post a Comment