Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Akhir Sebuah Seleksi" Karya : Ema Septiani


Ema Septiani
Akhir Sebuah Seleksi

 “Gol!”
Malam itu Aga menonton bola hingga dini hari. Ritual yang selalu dia kerjakan setiap malam. Dia tak peduli jika nanti dia harus berangkat sekolah pukul tujuh. Yang terpenting baginya adalah bisa menonton tim kesayangannya berlaga. Aga sangat mengidolakan Real Madrid, tim sepak bola papan atas dari Spanyol. Pemain favoritnya yaitu Christiano Ronaldo.
Aga mulai menyukai Real Madrid semenjak dia duduk di bangku kelas III SD dan sekarang Aga sudah kelas dua SMA. Kecintaannya kepada tim itu bukan hanya sekadar ngefans, tetapi sudah pada taraf penggemar garis keras. Apabila Real Madrid kalah, moodnya akan berubah menjadi buruk. Atau ketika temannya menghina tim kesayangannya itu, dia akan naik pitam bahkan sampai berujung pada perkelahian. Memang sedikit berlebihan, tetapi begitulah Aga. Saking cintanya terhadap Real Madrid, hampir semua bajunya merupakan jersey tim yang berjuluk El Real itu. Begitu pula kamarnya. Tidak ada sejengkal tembok pun yang tidak tertutup oleh poster para pemain Real Madrid.
“Ga, kamu sudah tahu belum? Ada kabar baik untuk kamu.”
“Kabar baik apa, Vi?” Aga penasaran.
“Real Madrid mengadakan seleksi bagi sepuluh siswa SMA untuk menjadi wakil Indonesia dalam acara Meet Real Madrid Stars di Santiago Bernabeu markas Real Madrid.” Jelas Vian.
“Kau serius, Vi?” tanya Aga setengah tak percaya.
“Iya. Kalau kau tak percaya lihat saja di televisi. Beritanya sudah gempar, Ga.”
Perasaan Aga saat itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia sangat bahagia. Dia membayangkan betapa senangnya jika dia bisa bertemu para pemain Real Madrid. Dia pun berencana untuk berlatih keras agar bisa terpilih dalam seleksi nanti.
Semenjak hari itu, Aga jadi sering pulang larut malam. Dia sangat giat berlatih. Ayah Aga pun tak keberatan. Dia tahu bahwa hal itu memang sudah lama menjadi impian Aga. Dengan sekuat tenaga, ayah dan ibu Aga turut mendoakan anaknya itu agar dapat menggapai mimpinya.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Aga, pasalnya hari ini dia akan berangkat untuk mengikuti seleksi tahap pertama menuju Santiago Bernabeu. Dia sangat yakin dengan berlatih keras, dia pasti akan lolos tahap pertama. Dengan didampingi oleh ayahnya, Aga berangkat menuju Gelora Bung Karno alias GBK. Mereka berangkat dari Yogyakarta pukul 05.00 pagi dan tiba di Jakarta pukul lima sore. mereka pun mencari tempat penginapan yang dekat dengan GBK.
Pagi hari pun tiba. Ini saatnya Aga mengikuti seleksi. Aga dan juga 367 peserta lainnya dikumpulkan di GBK untuk diberi pengarahan mengenai seleksi yang akan berlangsung pada hari itu. Semua peserta terlihat antusias mengikuti pengarahan dari asisten pelatih Jose Morinho itu. Meskipun kebanyakan peserta tidak memahami penjelasannya karena menggunakan bahasa Inggris. Aga yang kebetulan jago bahasa Inggris manggut-manggut mendengar penjelasan Sang Asisten. Mereka pun mulai bersiap-siap. Ada yang berlari-lari kecil untuk melemaskan otot, ada yang khusuk berdoa, dan ada pula yang duduk-duduk saja sambil menenangkan diri. Sedangkan Aga, dia sibuk membenarkan tali sepatunya. Ayahnya melambaikan tangan dari bangku penonton tanda memberikan dukungan. Aga hanya melempar senyum kepada ayahnya.
Tiga puluh menit waktu untuk bersiap-siap berlalu dengan cepat. Kini saatnya bertempur. Seleksi tahap satu itu meliputi tes menggiring bola melewati rintangan, passing, tendangan penalti, keakuratan tendangan, tes tendangan jarak jauh, lemparan ke dalam, sepak pojok, serta tes mencetak gol sebanyak mungkin dalam waktu satu menit. Semua tes itu Aga lewati dengan percaya diri. Hari itu dia benar-benar tampil mengesankan. Semua tantangan dapat terselesaikan dengan sempurna.
Esok harinya adalah pengumuman peserta yang lolos seleksi tahap pertama. Aga dan ayahnya dag dig dug menunggu pengumuman itu. Peserta yang lolos hanya 70 orang. Waktu itu panitia sudah sampai pada peserta kelima puluh delapan. Namun, nama Aga belum juga disebut. Ada selintas rasa putus asa dalam benak bocah itu. Dia tak berhenti berdoa. Benar saja, kekhawatirannya terjadi juga. Sampai pada peserta ketujuh puluh, namanya tetap tidak disebut. Air mata tak terasa sudah membasahi pipinya. Ayahnya mencoba menenangkan, tetapi tak berhasil. Aga tertunduk lesu di sebelah tiang gawang. Dia tak menyangka bahwa dia tidak lolos. Padahal dia merasa bisa melewati semua tes dengan baik.
Tiba-tiba terdengar suara panitia di ujung microphone.
“Maaf, telah terjadi kesalahan teknis. Ternyata tadi saya salah menyebut salah satu nama peserta yang lolos. Peserta kelima belas yang lolos bukan saudara Angga Budiarso, tetapi saudara Aga Airlangga.” Demikian pengumuman dari panitia.
Seketika Aga melompat sambil berteriak girang. Ayahnya pun sama bahagianya. Mereka berpelukan haru. Akhirnya Aga bisa tersenyum bahagia. Dia berjanji kepada ayahnya akan berlatih lebih giat lagi agar bisa lolos tahap berikutnya.
Seleksi tahap kedua akan dilaksanakan dua hari lagi. Aga tak menyia-nyiakan waktu untuk latihan. Semangatnya semakin membara.
Tiga hari berlalu. Hari ini seleksi tahap kedua. Seperti tahap sebelumnya, Aga sukses melewati semua tes. Bahkan beberapa kru Real Madrid yang menjadi juri memuji kemampuan Aga. Betapa senang hatinya. Kebahagiaan Aga bertambah ketika hasil pengumuman tahap kedua diumumkan dan dia lolos lagi. Ayahnya memperingatkan agar tetap waspada, karena masih ada seleksi tahap ketiga.
Hari masih terlalu pagi ketika handphone ayah Aga berdering keras. Ternyata Figo, adik Aga yang menelepon.
“Hallo. Ada apa, Go?” Ayah Aga memulai percakapan.
“Ayah, ibu sakit keras. Penyakit jantungnya kambuh. Sekarang kami di rumah sakit. Kalian harus segera pulang. Aku takut terjadi apa-apa dengan ibu.” Jelas Figo sambil menahan tangis.
Bagaikan petir yang menyambar. Ayah Aga merasa bingung. Dia sangat ingin Aga dapat lolos seleksi ini. Di sisi lain dia tak mungkin tega melihat isterinya yang sakit parah berjuang sendiri melawan penyakitnya. Dengan berat dia memberitahukan kabar ini kepada Aga. Aga pun sama hancurnya. Dia berada di tengah-tengah situasi yang dilematis. Ibarat peribahasa bagai makan buah simalakama. Dia tak henti-henti menangis. Berkali-kali dia mencoba berpikir. Apakah dia harus pulang dan mengubur impiannya, ataukah dia tetap melanjutkan kompetisi ini tetapi dia tidak bisa menunggui ibunya yang sedang kritis. Berjam-jam dia berpikir. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan mengubur impiannya. Keputusan ini adalah keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
Buru-buru mereka menuju stasiun dan bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan itu mereka tak saling bicara. Mereka sama-sama hanyut dalam kesedihan masing-masing. Sesampainya di rumah, mereka kaget bukan kepalang. Ibunya sehat wal afiat dan sedang memasak di dapur.
“Ibu sudah sembuh?” tanya Aga dengan suara agak berat.
“Lho kalian kok sudah pulang? Seleksinya sudah selesai to, Ga? Bagaimana hasilnya? Kamu lolos?” Pertanyaan ibunya membuat Aga dan Sang Ayah terheran-heran. Sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi. 
“Bukannya penyakit jantung ibu kambuh? Figo bilang ibu kritis di rumah sakit. Jadi kami pulang.” Jawab Aga tak percaya.
“Ibu sehat-sehat saja, kalian lihat sendiri kan?” Jawab ibu Aga sama bingungnya.
Badan Aga terasa panas dipenuhi oleh emosi yang meluap-luap. Dia tidak percaya Figo telah membohonginya. Dia benar-benar kalap.
“Di mana Figo, Bu?” Tanya Aga sambil menahan emosi.
“Tahan dulu emosimu. Kita tanyakan kepada Figo dengan baik-baik.” Ayahnya berusaha mencegah Aga.
“Tidak bisa, Yah. Ini sudah tidak bisa ditoleransi. Anak itu benar-benar kurang ajar.” Air mata Aga keluar karena menahan emosi. Betapa tidak, adiknya telah membohonginya sekaligusmenghancurkan impiannya. Padahal hari itu seharusnya Aga mengikuti seleksi tahap tiga.
Tak lama berselang, Figo pulang. Dengan emosi meluap-luap, Aga menghampirinya. Sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Figo. Disusul dengan pukulan-pukulan lain yang membuat tubuh Figo memar. Figo yang masih duduk di kelas VI SD itu hanya pasrah saja menerima pukulan demi pukulan yang dilancarkan kakaknya. Sementara ayah dan ibu Aga tidak kuasa melerai mereka karena Aga bergerak sangat cepat.
Aga duduk di sofa ruang tamu, sementara ayah dan ibunya mengobati luka Figo di kamar. Dengan emosi yang masih menghinggap, Aga menghampiri adiknya itu.
“Kenapa kau lakukan semua ini bodoh?” Suara Aga meninggi.
“Sudahlah Ga. Jangan buat adikmu semakin ketakutan. Biarkan dia istirahat dahulu.” Pinta ibunya.
“Cepat jawab aku!” Aga tak menghiraukan perkataan ibunya.
“Aku, aku, hanya...” Akhirnya Figo menangis
“Jangan menangis brengsek!” kesabaran Aga mulai hilang.
“Aga! Siapa yang mengajarkanmu bicara kasar pada adikmu! Jaga omonganmu itu!” Ayahnya tak tahan mendengar perkataan Aga yang begitu kasar.
“Kenapa Ayah dan Ibu membela dia! Padahal kalian jelas-jelas tahu Figo yang salah.” Tentang Aga.
“Kami bukannya membela adikmu, hanya saja tidak seharusnya kau berbicara kasar begitu. Dia masih anak kecil. Bukannya sudah cukup kau menghajarnya tadi?” Jawab ayahnya.
Aga sudah tak mendengarkan perkataan ayahnya. Dia membanting pintu kamarnya dan mengunci diri. Malam itu dia terlarut dalam emosi hingga dia terlelap dalam tidur.
Pagi harinya ketika bangun, Aga tak menemui siapa-siapa di rumah. Ada secarik kertas di atas meja makan yang tertulis:
Ga, adikmu sakit. Badannya panas sekali. Ayah dan ibu membawanya ke rumah sakit daerah. Kami tidak berani membangunkanmu karena kau masih tertidur lelap. Susul kami jika kau sudah bangun.
Aga masih bingung. Dia berpikir haruskah dia menyusul ke rumah sakit? Perasaan campur aduk kembali muncul. Berkali-kali dia berpikir. Kali ini emosinya yang menang. Aga memutuskan untuk tidak pergi ke rumah sakit. Ayahnya berkali-kali menelepon. Namun, Aga malas menjawabnya.
Tiba-tiba Aga terperanjat ketika mendengar suara Ambulans memasuki pekarangan rumahnya. Terdengar pula suara ramai tetangganya mengiringi kedatangan Ambulans itu.
Tubuhnya lemas ketika melihat ayahnya menggendong Figo yang sudah berbalut kain kafan. Di samping ayahnya, ibunya menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Figo. Aga sungguh tak menyangka akan berakhir seperti ini.
“Adikmu mengalami demam hebat karena ketakutan semalaman dan juga menyesal telah membohongimu. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi nyawanya tak tertolong.” Penjelasan Sang Ayah bagaikan tamparan untuknya. Dia tidak tahu apakah harus menangis atau menyesal.
“Sebelum kepergiannya Figo mengatakan bahwa alasannya membohongimu adalah agar kau bisa mendampinginya di saat-saat menjelang Ujian Nasional sebulan lagi. Dia takut jika kau lolos seleksi maka kau akan berangkat ke Spanyol dan tidak bisa menemaninya belajar. Untuk itulah dia berbohong.” Aga semakin terpuruk. Betapa menyesalnya dia. Seharusnya kemarin dia menanyakan dulu alasan Figo berbohong kepadanya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sesal Aga kini menggunung.
Seminggu berselang setelah kematian Figo, Aga mendapatkan kabar dari panitia seleksi Meet Real Madrid Star, bahwa dia lolos seleksi meskipun dia tidak mengikuti seleksi tahap ketiga. Panitia merasa bahwa Aga pantas lolos karena skillnyabenar-benar baik.
Hati Aga semakin hancur berkeping-keping mendengar kabar itu. Betapa tidak, karena seleksi ini adiknya meninggal. Dia menghakimi adiknya hingga berujung pada kematian. Memaki-maki tanpa menghiraukan perasaan adiknya itu. Dan sekarang, ternyata dia lolos. Dia menangis. Semua itu tidak lagi menjadi impiannya. Impiannya sekarang adalah bisa menonton pertandingan Real Madrid di televisi bersama Figo. Berteriak “Gol” bersama-sama ketika CR7 mencetak gol dan melihat ekspresi Jose Morinho ketika anak asuhnya berhasil mempecundangi musuh-musuhnya. Kenangan itu sungguh manis. Dia ingin adiknya hidup kembali. Betapa dalam luka di hatinya. Dia tak bisa meraih impiannya sekaligus harus kehilangan adiknya.

No comments:

Post a Comment