Ema Septiani
Akhir Sebuah
Seleksi
“Gol!”
Malam itu Aga
menonton bola hingga dini hari. Ritual yang selalu dia kerjakan setiap malam.
Dia tak peduli jika nanti dia harus berangkat sekolah pukul tujuh. Yang
terpenting baginya adalah bisa menonton tim kesayangannya berlaga. Aga sangat
mengidolakan Real Madrid, tim sepak bola papan atas dari Spanyol. Pemain
favoritnya yaitu Christiano Ronaldo.
Aga mulai menyukai
Real Madrid semenjak dia duduk di bangku kelas III SD dan sekarang Aga sudah
kelas dua SMA. Kecintaannya kepada tim itu bukan hanya sekadar ngefans, tetapi sudah pada taraf
penggemar garis keras. Apabila Real Madrid kalah, moodnya akan berubah menjadi buruk. Atau ketika temannya menghina
tim kesayangannya itu, dia akan naik pitam bahkan sampai berujung pada
perkelahian. Memang sedikit berlebihan, tetapi begitulah Aga. Saking cintanya
terhadap Real Madrid, hampir semua bajunya merupakan jersey tim yang berjuluk El
Real itu. Begitu pula kamarnya. Tidak ada sejengkal tembok pun yang tidak
tertutup oleh poster para pemain Real Madrid.
“Ga, kamu sudah tahu
belum? Ada kabar baik untuk kamu.”
“Kabar baik apa,
Vi?” Aga penasaran.
“Real Madrid
mengadakan seleksi bagi sepuluh siswa SMA untuk menjadi wakil Indonesia dalam
acara Meet Real Madrid Stars di
Santiago Bernabeu markas Real Madrid.” Jelas Vian.
“Kau serius, Vi?”
tanya Aga setengah tak percaya.
“Iya. Kalau kau
tak percaya lihat saja di televisi. Beritanya sudah gempar, Ga.”
Perasaan Aga saat
itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia sangat bahagia. Dia
membayangkan betapa senangnya jika dia bisa bertemu para pemain Real Madrid.
Dia pun berencana untuk berlatih keras agar bisa terpilih dalam seleksi nanti.
Semenjak hari itu,
Aga jadi sering pulang larut malam. Dia sangat giat berlatih. Ayah Aga pun tak
keberatan. Dia tahu bahwa hal itu memang sudah lama menjadi impian Aga. Dengan
sekuat tenaga, ayah dan ibu Aga turut mendoakan anaknya itu agar dapat
menggapai mimpinya.
Hari ini adalah
hari yang ditunggu-tunggu oleh Aga, pasalnya hari ini dia akan berangkat untuk
mengikuti seleksi tahap pertama menuju Santiago
Bernabeu. Dia sangat yakin dengan berlatih keras, dia pasti akan lolos
tahap pertama. Dengan didampingi oleh ayahnya, Aga berangkat menuju Gelora Bung
Karno alias GBK. Mereka berangkat dari Yogyakarta pukul 05.00 pagi dan tiba di
Jakarta pukul lima sore. mereka pun mencari tempat penginapan yang dekat dengan
GBK.
Pagi hari pun
tiba. Ini saatnya Aga mengikuti seleksi. Aga dan juga 367 peserta lainnya
dikumpulkan di GBK untuk diberi pengarahan mengenai seleksi yang akan
berlangsung pada hari itu. Semua peserta terlihat antusias mengikuti pengarahan
dari asisten pelatih Jose Morinho itu. Meskipun kebanyakan peserta tidak
memahami penjelasannya karena menggunakan bahasa Inggris. Aga yang kebetulan jago
bahasa Inggris manggut-manggut
mendengar penjelasan Sang Asisten. Mereka pun mulai bersiap-siap. Ada yang
berlari-lari kecil untuk melemaskan otot, ada yang khusuk berdoa, dan ada pula
yang duduk-duduk saja sambil menenangkan diri. Sedangkan Aga, dia sibuk
membenarkan tali sepatunya. Ayahnya melambaikan tangan dari bangku penonton
tanda memberikan dukungan. Aga hanya melempar senyum kepada ayahnya.
Tiga puluh menit
waktu untuk bersiap-siap berlalu dengan cepat. Kini saatnya bertempur. Seleksi
tahap satu itu meliputi tes menggiring bola melewati rintangan, passing, tendangan penalti, keakuratan
tendangan, tes tendangan jarak jauh, lemparan ke dalam, sepak pojok, serta tes
mencetak gol sebanyak mungkin dalam waktu satu menit. Semua tes itu Aga lewati
dengan percaya diri. Hari itu dia benar-benar tampil mengesankan. Semua
tantangan dapat terselesaikan dengan sempurna.
Esok harinya
adalah pengumuman peserta yang lolos seleksi tahap pertama. Aga dan ayahnya dag dig dug menunggu pengumuman itu.
Peserta yang lolos hanya 70 orang. Waktu itu panitia sudah sampai pada peserta
kelima puluh delapan. Namun, nama Aga belum juga disebut. Ada selintas rasa
putus asa dalam benak bocah itu. Dia tak berhenti berdoa. Benar saja,
kekhawatirannya terjadi juga. Sampai pada peserta ketujuh puluh, namanya tetap
tidak disebut. Air mata tak terasa sudah membasahi pipinya. Ayahnya mencoba
menenangkan, tetapi tak berhasil. Aga tertunduk lesu di sebelah tiang gawang.
Dia tak menyangka bahwa dia tidak lolos. Padahal dia merasa bisa melewati semua
tes dengan baik.
Tiba-tiba
terdengar suara panitia di ujung microphone.
“Maaf, telah
terjadi kesalahan teknis. Ternyata tadi saya salah menyebut salah satu nama
peserta yang lolos. Peserta kelima belas yang lolos bukan saudara Angga
Budiarso, tetapi saudara Aga Airlangga.” Demikian pengumuman dari panitia.
Seketika Aga
melompat sambil berteriak girang. Ayahnya pun sama bahagianya. Mereka
berpelukan haru. Akhirnya Aga bisa tersenyum bahagia. Dia berjanji kepada
ayahnya akan berlatih lebih giat lagi agar bisa lolos tahap berikutnya.
Seleksi tahap
kedua akan dilaksanakan dua hari lagi. Aga tak menyia-nyiakan waktu untuk
latihan. Semangatnya semakin membara.
Tiga hari berlalu.
Hari ini seleksi tahap kedua. Seperti tahap sebelumnya, Aga sukses melewati
semua tes. Bahkan beberapa kru Real Madrid yang menjadi juri memuji kemampuan
Aga. Betapa senang hatinya. Kebahagiaan Aga bertambah ketika hasil pengumuman
tahap kedua diumumkan dan dia lolos lagi. Ayahnya memperingatkan agar tetap
waspada, karena masih ada seleksi tahap ketiga.
Hari masih terlalu
pagi ketika handphone ayah Aga
berdering keras. Ternyata Figo, adik Aga yang menelepon.
“Hallo. Ada apa,
Go?” Ayah Aga memulai percakapan.
“Ayah, ibu sakit
keras. Penyakit jantungnya kambuh. Sekarang kami di rumah sakit. Kalian harus
segera pulang. Aku takut terjadi apa-apa dengan ibu.” Jelas Figo sambil menahan
tangis.
Bagaikan petir
yang menyambar. Ayah Aga merasa bingung. Dia sangat ingin Aga dapat lolos
seleksi ini. Di sisi lain dia tak mungkin tega melihat isterinya yang sakit
parah berjuang sendiri melawan penyakitnya. Dengan berat dia memberitahukan
kabar ini kepada Aga. Aga pun sama hancurnya. Dia berada di tengah-tengah
situasi yang dilematis. Ibarat peribahasa bagai
makan buah simalakama. Dia tak henti-henti menangis. Berkali-kali dia
mencoba berpikir. Apakah dia harus pulang dan mengubur impiannya, ataukah dia
tetap melanjutkan kompetisi ini tetapi dia tidak bisa menunggui ibunya yang
sedang kritis. Berjam-jam dia berpikir. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang
dan mengubur impiannya. Keputusan ini adalah keputusan yang paling berat dalam
hidupnya.
Buru-buru mereka
menuju stasiun dan bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan itu mereka tak
saling bicara. Mereka sama-sama hanyut dalam kesedihan masing-masing.
Sesampainya di rumah, mereka kaget bukan kepalang. Ibunya sehat wal afiat dan
sedang memasak di dapur.
“Ibu sudah
sembuh?” tanya Aga dengan suara agak berat.
“Lho kalian kok
sudah pulang? Seleksinya sudah selesai to,
Ga? Bagaimana hasilnya? Kamu lolos?” Pertanyaan ibunya membuat Aga dan Sang
Ayah terheran-heran. Sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi.
“Bukannya penyakit
jantung ibu kambuh? Figo bilang ibu kritis di rumah sakit. Jadi kami pulang.”
Jawab Aga tak percaya.
“Ibu sehat-sehat
saja, kalian lihat sendiri kan?” Jawab ibu Aga sama bingungnya.
Badan Aga terasa
panas dipenuhi oleh emosi yang meluap-luap. Dia tidak percaya Figo telah
membohonginya. Dia benar-benar kalap.
“Di mana Figo,
Bu?” Tanya Aga sambil menahan emosi.
“Tahan dulu
emosimu. Kita tanyakan kepada Figo dengan baik-baik.” Ayahnya berusaha mencegah
Aga.
“Tidak bisa, Yah.
Ini sudah tidak bisa ditoleransi. Anak itu benar-benar kurang ajar.” Air mata
Aga keluar karena menahan emosi. Betapa tidak, adiknya telah membohonginya
sekaligusmenghancurkan impiannya. Padahal hari itu seharusnya Aga mengikuti
seleksi tahap tiga.
Tak lama
berselang, Figo pulang. Dengan emosi meluap-luap, Aga menghampirinya. Sebuah
pukulan mendarat di pipi kanan Figo. Disusul dengan pukulan-pukulan lain yang
membuat tubuh Figo memar. Figo yang masih duduk di kelas VI SD itu hanya pasrah
saja menerima pukulan demi pukulan yang dilancarkan kakaknya. Sementara ayah
dan ibu Aga tidak kuasa melerai mereka karena Aga bergerak sangat cepat.
Aga duduk di sofa
ruang tamu, sementara ayah dan ibunya mengobati luka Figo di kamar. Dengan
emosi yang masih menghinggap, Aga menghampiri adiknya itu.
“Kenapa kau
lakukan semua ini bodoh?” Suara Aga meninggi.
“Sudahlah Ga.
Jangan buat adikmu semakin ketakutan. Biarkan dia istirahat dahulu.” Pinta
ibunya.
“Cepat jawab aku!”
Aga tak menghiraukan perkataan ibunya.
“Aku, aku,
hanya...” Akhirnya Figo menangis
“Jangan menangis
brengsek!” kesabaran Aga mulai hilang.
“Aga! Siapa yang
mengajarkanmu bicara kasar pada adikmu! Jaga omonganmu itu!” Ayahnya tak tahan
mendengar perkataan Aga yang begitu kasar.
“Kenapa Ayah dan
Ibu membela dia! Padahal kalian jelas-jelas tahu Figo yang salah.” Tentang Aga.
“Kami bukannya
membela adikmu, hanya saja tidak seharusnya kau berbicara kasar begitu. Dia
masih anak kecil. Bukannya sudah cukup kau menghajarnya tadi?” Jawab ayahnya.
Aga sudah tak
mendengarkan perkataan ayahnya. Dia membanting pintu kamarnya dan mengunci
diri. Malam itu dia terlarut dalam emosi hingga dia terlelap dalam tidur.
Pagi harinya
ketika bangun, Aga tak menemui siapa-siapa di rumah. Ada secarik kertas di atas
meja makan yang tertulis:
Ga, adikmu sakit. Badannya panas sekali.
Ayah dan ibu membawanya ke rumah sakit daerah. Kami tidak berani membangunkanmu
karena kau masih tertidur lelap. Susul kami jika kau sudah bangun.
Aga masih bingung.
Dia berpikir haruskah dia menyusul ke rumah sakit? Perasaan campur aduk kembali
muncul. Berkali-kali dia berpikir. Kali ini emosinya yang menang. Aga
memutuskan untuk tidak pergi ke rumah sakit. Ayahnya berkali-kali menelepon.
Namun, Aga malas menjawabnya.
Tiba-tiba Aga
terperanjat ketika mendengar suara Ambulans memasuki pekarangan rumahnya.
Terdengar pula suara ramai tetangganya mengiringi kedatangan Ambulans itu.
Tubuhnya lemas
ketika melihat ayahnya menggendong Figo yang sudah berbalut kain kafan. Di samping
ayahnya, ibunya menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Figo. Aga
sungguh tak menyangka akan berakhir seperti ini.
“Adikmu mengalami
demam hebat karena ketakutan semalaman dan juga menyesal telah membohongimu.
Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi nyawanya tak tertolong.”
Penjelasan Sang Ayah bagaikan tamparan untuknya. Dia tidak tahu apakah harus
menangis atau menyesal.
“Sebelum
kepergiannya Figo mengatakan bahwa alasannya membohongimu adalah agar kau bisa
mendampinginya di saat-saat menjelang Ujian Nasional sebulan lagi. Dia takut
jika kau lolos seleksi maka kau akan berangkat ke Spanyol dan tidak bisa
menemaninya belajar. Untuk itulah dia berbohong.” Aga semakin terpuruk. Betapa
menyesalnya dia. Seharusnya kemarin dia menanyakan dulu alasan Figo berbohong
kepadanya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sesal Aga kini menggunung.
Seminggu berselang
setelah kematian Figo, Aga mendapatkan kabar dari panitia seleksi Meet Real Madrid Star, bahwa dia lolos
seleksi meskipun dia tidak mengikuti seleksi tahap ketiga. Panitia merasa bahwa
Aga pantas lolos karena skillnyabenar-benar
baik.
Hati Aga semakin
hancur berkeping-keping mendengar kabar itu. Betapa tidak, karena seleksi ini
adiknya meninggal. Dia menghakimi adiknya hingga berujung pada kematian.
Memaki-maki tanpa menghiraukan perasaan adiknya itu. Dan sekarang, ternyata dia
lolos. Dia menangis. Semua itu tidak lagi menjadi impiannya. Impiannya sekarang
adalah bisa menonton pertandingan Real Madrid di televisi bersama Figo.
Berteriak “Gol” bersama-sama ketika CR7 mencetak
gol dan melihat ekspresi Jose Morinho ketika anak asuhnya berhasil
mempecundangi musuh-musuhnya. Kenangan itu sungguh manis. Dia ingin adiknya
hidup kembali. Betapa dalam luka di hatinya. Dia tak bisa meraih impiannya
sekaligus harus kehilangan adiknya.
No comments:
Post a Comment