Murniasih
Amanat dari
Negeriku
Pengabdianku
terasa sia-sia.Ya,itu yang kurasakan menjelang hari Pendidikan Nasional
sebentar lagi. Namaku Fatimah, perempuan yang menjadi guru Sekolah Dasar Negeri
1 Brati, Kabupaten Grobogan.
Sebuah pedesaan terpencil. Banyak anak yang harus kudidik, sedangkan mendidik
diriku saja aku belum mampu.
Negara
memberiku amanat, bahwa aku harus mencerdaskan bangsaku. Kenyataan yang
terjadi, banyak anak yang tak mau sekolah karena mereka menganggap sekolah
tidak bisa menjamin kehidupan mereka bisa sukses. Sekolah memang bukan segalanya,tapi awal dari segalanya ialah
sekolah.
Hari
Senin, pukul 07.00tepat, kucoba memperkenalkan diriku. Banyak diantara mereka
yang tak menghiraukanku. Entah kenapa?Aku seperti patung berdiri. Hanya
beberapa gelintir dari mereka yang mau mendengarkan.
Keesokan
hari, hanya beberapa murid saja yang mau berangkat sekolah. Ku bertanya pada
Wulan, murid yang duduk di depanku.
“Wulan,
kemanakah teman-temanmu yang lain?”tanyaku.
Ia
tak menjawab apa-apa. Mungkin karena takut padaku. Raut wajahnya seolah
memberikan jawaban, kalau anak-anak disini tak dibolehkan sekolah oleh orang
tua mereka.
Pikiranku
bertambah, seakan beban di dada semakin berat. Hatiku menangis. Dalam hati aku
berkata, aku belum bisa mengemban amanat dari negeriku.
Kemudian
aku menanyai seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling pojok sudut
kelas ini.
“Arif,mengapa
kau duduk disini?”tanyaku.
Dia
menjawab,”Aku takut Bu, kata Bapak kalau aku duduk di bangku depan bisa dimarahin Ibu, karena aku jarang mengerjakan tugas sekolah.”
“Apakah
Bapakmu tak mengajarimu belajar?”tanyaku lagi.
“Bapakku
tak bisa membaca dan menulis,
Bu!” itulah jawaban anak yang mungil itu.
Oh,
sungguh terkejut aku mendengar cerita Arif. Di sisi lain memberiku kesadaran
kalau penduduk di Desa Brati
ini masih buta huruf, sehingga mereka juga mengajarkan anaknya untuk bekerja
keras seperti mereka. Namun, orang
tua Arif memberikan kepercayaan baru untukku. Meskipun mereka buta huruf, tapi
mereka tak ingin melihat Arif seperti mereka yang hidup dalam kesusahan karena
buta huruf.
Kemudian
aku bertanya kepada Arif, “Arif, apakah Ibu boleh bertemu dengan orang tuamu?”
Arif
tertegun mendengar pertanyaanku, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya walau
matanya tak berani memandangku.
Siang
hari sekitar pukul 13.00, kudatangi
rumah Arif di kawasan Dusun
Brati. Amat jauh dari sekolah, tempatku mengajar. Jalan yang kutempuh memang
tak mudah harus menyeberangi sungai. Apabila musim penghujan datang, sungai ini
tak bisa diseberangi dan harus berputar arah sejauh dua kilo meter, yang
memerlukan waktu telah lama.
Dari
kejauhan tampak orang tua Arif, Pak Kasimin dan Bu Kasimin sudah menanti
kedatanganku. Tampak rumah yang sederhana. Beralaskan tanah dengan ruang tamu
yang sempit serta kursi kayu tua. Mereka tersenyum mesra, membalas senyumanku.
Mereka sangat antusias menerima kedatanganku.
“Bapak,
kedatangan saya ke sini ingin
silaturahmi dengan keluarga Bapak, dan juga ingin bertanya tentang penduduk sini tentang masalah pendidikan,” kataku.
Pak
Kasimin menjawab,“Kami sangat senang sekali atas kedatangan Ibu ke gubuk kami
yang jelek ini. Kami merasa menerima tamu kehormatan, karena Ibu mau singgah ke
sini. Oh,ya Bu! Kalau masalah pendidikan penduduk disini memang sangat rendah.
Sebagian penduduk disini berpendidikan rendah bahkan ada yang tak tamat lulus
SD. Hal itu yang menyebabkan anak-anak mereka juga tak mau sekolah,”sambung Pak Kasimin.
“Apakah
keinginan Bapak terhadap Arif?” tanyaku.
“Saya,
sebagai orang tua, ingin anak saya
menjadi orang yang tak buta huruf Bu. Memang saya buta huruf, namun saya
ingin anak-anak saya mendapatkan
pendidikan yang layak,” jawab Pak Kasimin sambil menangis.
“Saya
sungguh terkesan mendengar jawaban bapak, Bapak memang orang tua yang hebat,” kataku.
Kemudian
terdengar langkah Ibu Kasimin sedang membawa minuman untukku.
“Ibu, silahkan diminum!” begitu kata Bu Kasimin sambil tersenyum
mengambang seolah ingin ikut duduk di sebelahku.
“Ya,Bu. Terima Kasih, saya malah merepotkan Bapak dan Ibu sekeluarga,” kataku.
“Tidak
apa-apa Bu. Kami mohon maaf karena hanya bisa menyajikan air putih saja, Bu” jawab Ibu Kasimin.
Dalam
hatiku akupun merasa beruntung karena aku bisa mengenal mereka dan merasakan kehangatan dalam keluarga ini,
sangat mulia dalam menerima tamu dan mau berpikir maju tentang pendidikan.
“Bapak
dan Ibu, saya mohon kerja
samanya, saya membutuhkan Bapak dan Ibu untuk membantu saya agar anak-anak disini mau bersekolah!”
“Wah,tugas
itu sangat berat. Apalagi kami hanya orang kecil, Bu!”
“Saya
membutuhkan dukungan dari Bapak dan Ibu, juga bantuan karena saya tidak tahu
Bu, harus bagaimana lagi, ini amanat yang harus saya emban,” kataku dengan rasa sedih.
“Apa
strategi yang akan Ibu lakukan?” tanya
Pak Kasimin yang seolah-olah membuat kaget karena tak pernah terlintas di
benakku kalau Pak Kasimin akan bertanya seperti itu.
“Saya
ingin membawa seorang teman saya
untuk memberikan bukti bahwa anak desa itu jauh lebih berhasil walaupaun
tinggal di daerah pedesaan terpencil. Namanya Andriana. Dia anak petani miskin
di Daerah Rowo,tapi ia
berpikiran kritis tentang pendidikan. Bahwa pendidikan itu nomor satu, karena
maju tidaknya suatu bangsa bergantung dari pendidikan.”
“Hal
itu yang menginspirasi saya
menjadi seorang guru seperti ini, Pak,” jawabku dengan
rasa bangga.
“Wah,
kalau begitu Ibu termasuk orang yang hebat. Ibu mau mencerdaskan bangsa,” kata Pak Kasimin.
“Insyaallah,
Pak!” jawabku dengan rasa terharu karena dipuji
oleh Pak Kasimin.
“Ibu,
kalau boleh saya mita izin agar
Bapak besok menghantarkan saya
ke rumah Pak Camat.”
“Ohboleh, Bu.Bahkan saya juga
siap membantu Ibu!” jawab Ibu Kasimin.
“Bapak,
kita harus membantu Ibu Fatimah. Ibu tak ingin kita dihina lagi karena kita
berkeinginan menyekolahkan Arif setinggi mungkin. Ibu hanya ingin Arif bisa baca
tulis. Tidak seperti Ibu,” kata Ibu Kasimin sambil membasuh
air mata di pipinya.
Kumandang
asarpun berkumandang tepat pukul 15.00. Kemudian aku pamit pulang. Pikiranku
terasa ringan dan beban dipundak terasa berkurang karena aku sudah menemukan jalanku untuk
mencerdaskan bangsaku.
Keesokan
harinya, aku pergi dengan Bapak Kasimin menuju ke kantor kecamatan di Kota Purwodadi.
Tampak
oleh kami, Bapak Camat, Bapak Tomo tersenyum manis melihat kedatangan kami.
“
Selamat Pagi Bapak Kasimin dan Ibu Fatimah, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bapak Camat dengan tersenyum manis kepada kami.
“Sebelumnya
kami mohon maaf, apabila kedatangan kami hanya mengganggu Bapak,” kataku sambil menjabat tangan Pak Camat.
“Tak apa-apa, Bu Fatimah,” jawab
Pak Camat sambil berwajah manis.
Pak
camat memang tidak suka dengan orang yang mengganggu aktifitas beliau, namun
sebagai camat yang baik beliau berusaha menerima kedatangan kami dengan raut
wajah semanis mungkin.
“Apakah
Bapak bersedia membuat peraturan tentang pendidikan agar anak-anak seusia SD
harus diwajibkan sekolah? karena seusia mereka harus dididik tanpa harus
dipaksa kerja!” kataku dengan nada memohon kepada
Beliau.
Mendengar
hal tersebut, tiba-tiba wajah Pak Camat naik pitam, Beliau menjawab, “Memang Ibu siapa? Berani
menyuruh saya membuat
peraturan seperti itu?”
“Mengapa
Bapak marah-marah? Bukankah Bapak seharusnya memikirkan rakyat. Apalagi Bapak
sebagai Kepala Kecamatan harus mengemban amanat rakyat!” kataku dengan nada keras.
“Sudahlah
pergi saja, ini rakyat-rakyat saya.Tak
usah mengatur saya, lebih
baik kalian pergi daripada saya semakin marah dengan Ibu!” katanya sambil mengusir kami.
Kami
melangkah pergi seperti barang yang ingin dibuang jauh-jauh dari kehidupan Pak
Camat.
Kami
tertegun, Bapak Kasimin seakan tak bisa menjawab apa-apa. Kemudian Bapak
Kasimin mulai bercerita padaku.
“Bu,
seharusnya Ibu harus mengetahui dulu seperti apa, tabiat Pak Camat itu!”
Aku
kaget dan bingung, “Memang ada apa,Pak?”
“Begini
Bu, sebenarnya Pak Camat itu tak suka melihat penduduknya pintar dalam
pendidikan. Beliau akan merasa tersaingi dengan rakyat, masak anak desa yang bodoh mampu menyaingi Saya.
Saya lulusan S2 sedangkan mereka baca huruf aja tidak bisa!” begitu kata Pak Camat kepada warga sini.
“
Beliau juga melakukan korupsi sehingga mampu kuliah sampai S2, padahal penduduk
di sini hanya makan nasi dengan garam saja. Bagaimana kalau Ibu, pergi ke
walikota. Di sana bapak walikota lebih mau mendengar aspirasi rakyat kecil
seperti kita, Bu!” kata Pak Kasimin dengan nada
semangat membangkitkan harapanku lagi.
“Ide
bagus, Pak!” kataku dengan
nada senang.
Haripun telah siang menunjukkan
pukul 12.00. Saat kami tengah perjalanan pulang, kami dihadang oleh
segerombolan preman. Mereka bertato, bertubuh kekar, dan hendak menerkam kami.
Kami lari tunggang langgang, tapi aku tak kuasa, aku terjatuh di jalan dan Pak
Kasimin ingin menolongku, tapi malah beliau tertabrak motor yang dikendarai
preman-preman tadi.
Aku
menjerit minta bantuan ke penduduk sekitar,tapi sayang nyawa Pak Kasimin tak
tertolong.
Hal
ini membuatku semakin bingung, padahal Pak Kasimin, orang yang telah berjasa
bagiku. Beliau seperti pahlawan bagiku, membangkitkan semangatku saat aku
hampir putus asa. Kini ia telah tiada. Sedih hatiku melihat yang kini telah
terbujur lemah di tanah.
Semenjak
kejadian tersebut, Ibu Kasimin melarangku bertemu lagi dengan keluarga Beliau,
dan sekolah tempatku mengajar, menjadi amukan para warga. Mereka hendak
membakar sekolah itu, karena menganggapku sebagai sumber masalah ini.
Berita
ini sampai masuk kota. Pak Kasmo selaku walikota Purwodadi segera mendapat
laporan terkait kematian Pak Kasmin. Beliaupun segera turun tangan atas masalah
ini.
Pagi-pagi
sekitarpukul 08.00, beliau
segera menuju ke kantor kecamatan. Kantor kecamatan masih terlihat sepi. Pak
Kasmopun bertanya dengan seorang petugas kecamatan, Bu Wati.
“Selamat
Pagi, Pak! Ada yang bisa kami bantu?” tanya Bu Wati.
“Saya
ingin bertemu Pak Camat. Apakah beliau sudah datang?” jawab Pak Walikota.
“Belum
datang, Pak! Mungkin sebentar lagi!” jawab Bu Wati.
Terdengar
kendaraan suara mobil Pak Tomo yang mengalun pelan menuju parkiran. Pak
Walikota segera menghampirinya.
“Pagi
benar anda datang?” sindir Pak Walikota.
“Oh,
ada yang salah Pak? Bukankah ini kantor saya sendiri? Jadi saya berhak mau
melakukan apa saja!” jawab Pak Lurah dengan santai.
“Lancang
sekali Anda bicara! Anda ini sebagai wakil rakyat. Kalau rakyat butuh Anda, apakah Anda bisa diminta
membantu mereka setiap saat?” tanya Pak Walikota dengan nada menyindir.
“Saya
selalu siap, Pak!” jawab Pak
Lurah dengan remeh.
“Termasuk
Anda siap mempertanggungjawabkan perbuatan Anda karena kelicikan Anda sendiri?”
tanya Pak Walikota dengan
nada marah karena sikap Pak Camat yang acuh tak acuh.
“Apa
maksud, Anda? Saya tidak
pernah berbuat licik!” tanya
Pak Camat.
“Sudahlah
tak usah berbohong!” Pak Polisi tolong tangkap pejabat tak bermoral ini!” perintah Pak Walikota. Pak Camatpun
hendak melarikan diri menghindari
polisi.
Terdengar
suara senapan polisi hingga membuat warga resah. Wargapun berbondong-bondong
mengejar pak camat. Pak camatpun menyerah setelah terkena tembakan peluru di kakinya.
Beliaupun dibawa ke kantor polisi Brati.
“Tolong,
Pak! Hukum pejabat tak bermoral ini sesuai perbuatannya!” perintah Pak Walikota kepada Pak Agus,
Kepala kepolisian Brati.
“Baik,
Pak!Terimakasih atas laporan Bapak dan warga semua sehingga kami bisa menangkap
Pak Camat!” jawab Pak Agus.
Siang
hari yang begitu panas, tak mengehentikan semangat Pak Walikota untuk pergi ke
Brati. Pak Walikota bersama warga segera ke sana dengan warga berbondong-bondong berjalan kaki ke sana.
Sampai
di sana terlihat warga yang menghakimi bu Fatimah karena ulah pak camat. Ini tak bisa dibiarkan. Terdengar suara Pak RT, Pak Somad
yang memaki-maki Bu Fatimah.
Pak
Somad segera mengusirku secara paksa.“Ibu,cepat pergi dari sini! Kami tak sudi
lagi mengenal Ibu. Ibu sudah menjadi malapetaka bagi penduduk sini.” kata Pak Somad dengan suara lantang
laksana halilintar nan menyambar.
“Setuju!”
teriak para warga. Mereka
beramai-ramai menggiringku keluar dari kampung itu.
Saat
Aku terjatuh karena didorong oleh seorang warga, aku terjatuh dihadapan seorang
lelaki yang berpakaian rapi dengan mengenakan jas. Para warga terkejut
melihatnya. Beliau ialah pejabat tinggi di daerah itu. Beliau adalah Pak Kasmo,
Walikota.
Aku
tertegun mendengar perkataan warga kemudian Bapak Walikota berusaha membangkitkan aku.
“Ibu,tak
apa-apa?” tanya Pak Kasmo sambil membangkitkan
tubuhku yang telah rapuh ini.
“Aku
tidak apa-apa, Pak!” jawabku
dengan nada sedih.
“Apakah
kalian tahu siapa sebenarnya ibu
guru yang bernama Fatimah,
ini?”tanya Pak Walikota dengan suara lantang sambil menunjukkan jemari ke
dirku.
“Kami
tahu dia ialah penyebab malapetaka di desa kami, Pak!” jawab Pak RT.
“Apa
katamu?” seolah Pak Walikota
ingin menampar pipi Pak RT.
Aku
menghentikan tangan Pak Walikota yang hendak menampar Pak RT. Kedua bola mata
beliau memerah seraya ingin menangis mendengar jawaban itu.
“Bapak,perlu
Anda ketahui bahwa ibu guru yang bernama Fatimah, ini telah membuat suami saya meninggal, ” kata Bu Kasmin sambil menangis di tengah kerumunan warga.
“Apa
yang Ibu ketahui tentang Bu Fatimah?”tanya Pak Walikota dengan nada penasaran.
“Saya
tahu, Ibu Fatimah hanyalah pembawa petaka bagi keluarga saya,” jawab Bu Kasimin.
“Tutup
mulut Ibu!” jawab Pak Walikota tegas.
Kemudian
Pak walikota hendak bercerita kepada warga tentang Bu Fatimah.
“Saudara-saudara
semua, perlu kalian ketahui siapakah Ibu Fatimah ini, dan perlu Anda ketahui
siapa yang telah membunuh Bapak Kasimin!” kata Pak Walikota dengan suara lantang.
“Bukankah
Ibu Fatimah pembunuhnya?” tanya
warga serentak.
“Bukan!” jawab Pak Walikota dengan tegas.
“Pembunuh
Pak Kasimin kini telah mendekam di penjara karena akibat ulahnya. Beliau ialah
Pak Tomo, Kepala Kecamatan. Beliau sengaja melakukan ini untuk mengagalkan
rencana baik Bu Fatimah untuk memajukan pendidikan di desa kalian,” kata Pak Walikota yang seolah membelaku diriku yang malang ini.
“Apa
buktinya, Bapak bicara seperti itu?” tanya Pak RT dengan rasa tak percaya.
“Pak
RT, sebagai seorang Walikota, saya
lebih mementingkan rakyat saya
daripada harus memikirkan pribadi. Saya
mempunyai seorang mata-mata untuk Ibu Fatimah dan ini bukti rekaman. Bapak camat yang menyuruh segerombolan preman
untuk menghadang Bu Fatimah dan Pak Kasimin saat hendak pulang ke rumah. Jadi
jelaskan? Siapa orang yang berhati baik.”
“Terus
Bu Fatimah, siapa Anda Pak? Mengapa Bapak begitu membelanya?”
kata Pak RT. Warga bingung
karena sikap Pak Walikota yang begitu melindungi Bu Fatimah.
Pak
Walikota menjawab, “Perlu saudara-saudara ketahui bahwa Bu Fatimah ialah anak saya. Saya yang menyuruhnya untuk
menjadi guru di desa ini. Saya tahu kondisi ini amat menyedihkan baik dari segi
pendidikan maupun ekonomi. Saya berharap penduduk sini bisa menjadi orang
sukses setelah menganyam pendidikan walaupun hanya SD. Namun saya salah menilai kalian semua.
Kenyataannya seperti ini. Hal ini sangat menyakiti anak saya sampai masuk
koran, Kalian membuat Saya menangis,”
kata Pak Walikota dengan rasa
sedih.
“Apa?”
para warga kaget mengetahui
hal itu.
Pak Walikota
menegaskan kembali,“Saya ingin melihat penduduk di sini sadar akan pendidikan.
Selama ini kalian dibodohi camat kalian. Camat kalian telah mengingkari amanat
yang telah saya embankan untuk Kalian. Hal ini yang membuat Saya, meminta
Fatimah untuk menolong kalian dari kebodohan. Saya hanya ingin anak-anak Kalian
benar-benar mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lain tak hanya
untuk anak camat maupun anak pejabat.”
Kemudian
Pak RT bertekuk lutut kepada Pak Walikota.
“Pak,
saya mewakili warga memohon
maaf atas sikap kami ini, Kami telah salah menilai putri Bapak. Maafkanlah kami
ini, Pak! kami juga ingin
anak-anak kami mendapat
pendidikan yang maju. Agar mereka tak sebodoh kami,” kata Pak RT dengan nada menyesal disertai tangisan para warga yang
mengharukan.
“Baik,
saya maafkan kalian semua.
Asal kalian semua mau sekolahkan
anak-anak kalian. Jangan perbudak anak kalian untuk bekerja. Mereka butuh pendidikan terutama dari kalian
sebagai orang tua.”
“
Pak, Perkenankanlah Bu Fatimah untuk mengajar di sini kembali, kami para warga janji tak menyakiti hati
lagi beliau, dan kami akan mencintainya seperti kami mencintai anak-anak kami.”
Kata Pak RT dengan nada memohon.
“Kalau
masalah itu, saya serahkan
pada putri saya,” jawab Pak Walikota.
“Baik.
Saya akan mengajar anak-anak di sini asal para warga mau menyekolahkan
anak-anak mereka!” kataku
dengan perasaan terharu.
“Baik
Bu, Kami bersedia menyekolahkan
anak-anak kami,” jawab Pak RT.
Wargapun
segera mengerumuniku untuk meminta maaf.
Ketika warga masih berkumpul, Pak RT
segera berorasi di hadapan warga.
“Warga Dusun Brati, yang saya cintai.
Menurut Anda semua apakah yang seharusnya kita lakukan untuk anak-anak kita
agar mereka bisa sekolah. Sebab gedung sekolah telah kita hancurkan?” tanya Pak
RT kepada warganya dengan nada menyesal.
“Bagaimana kalau kita membuatkan tenda
darurat saja, Pak!” kata seorang warga.
“Apa usulan ini bisa diterima?” tanya Pak
RT Kepada semua warga.
“Alangkah baiknya musholla kita gunakan
untuk tempat belajar anak-anak. Sebab saaat pagi hari sampai siang hari,
musholla tidak digunakan untuk ibadah,” kata seorang warga lainnya.
“Bagaimana para warga semua sepakat?”
tanya Pak RT.
“Sepakat, Pak!” jawab semua warga.
“Alhamdulillah, kalau begitu mulai besok
kita bergotong royong. Bapak-bapak membangun gedung sekolah, dan ibu-ibu tolong
menyiapkan makanan dan minuman. Serta sampaikan kepada anak-anak kalian untuk
belajar di Musholla sebab gedung sekolah baru dibangun. Untuk biaya
pembangunan, Pak Walikota sudah memberikan sumbangan kepada kita agar segera
membangun sekolah baru,” kata Pak RT dengan nada semangat.
“Alhamdulillah!” Jawab warga serentak.
Warga segera pulang ke rumah masing-masing karena sudah malam. Bu Fatimah pun
pulang bersama orang tuanya, Pak Walikota menuju ke rumahnya di kawasan
alun-alun Kota Purwodadi.
Walaupun fajar masih menyising, Tak
menyurutkan semangat Pak RT untuk pergi ke rumah Bu Fatimah.
“Asalamualaikum,” kata Pak RT.
“Walaikumsalam,” jawabku dari dalam menuju
ke pintu sambil mempersilahkan Pak RT untuk duduk di dalam.
“Maaf, Bu! Pagi-pagi saya menganggu. Saya
mau bilang sama Ibu, tempat ibu mengajar untuk sementara saya pindah ke
mushola. Mungkin dua minggu gedung sekolah baru bisa ditempati, Bu!” kata Pak
RT dengan ragu-ragu.
“Terima kasih, Pak! Terpenting bagi saya
ialah anak-anak mau belajar. Masalah tempat bisa dimana saja, Pak!” kataku
dengan wajah tersenyum.
“Alhamdulilah! Saya sudah mengira kalau
Ibu tidak mempersalahkan tempat mengajar,” kata Pak RT sambil bernapas lega.
Kemudian Pak RT pamit.
Aku berangkat mengajar ke mushola seperti
biasa. Walaupun hanya beralaskan tikar, dan meja kecil yang sederhana tak
menyurtkan semangat anak-anak didikku tuk belajar. Mereka bercanda tawa
denganku setiap hari.
Dua minggu
berlalu. Alhamdulilah sekolah kami berdiri amat kokoh. Acara peresmian
dihadiri oleh Pak Walikota. Beliau berpesan agar esok hari anak-anak semangat
belajar.
“Semangat menggapai mimpi kalian
anak-anak!” itulah pesan yang semakin memotivasi anak-anak yang tak sabar ingin
segera ke sekolah. Selesai acara peresmian gedung sekolah baru,
mereka mengajakku ke sana. Tak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku.
Tiba-tiba terdengar nyanyian bersama-sama
dari anak-anak didikku “Selamat datang di sekolah kami, Bu!” kata mereka
serentak.
Mereka bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu
selamat datang untukku dengan membawa kue ulang tahun apa adanya. Perasaanku
terharu, Kupeluk erat mereka semua. “Terimakasih banyak Adik-Adik. Ibu senang karena kalian sudah mau sekolah!”
kataku dengan perasaan terharu.
Keesokan harinya, kulihat anak-anak yang
semangat pergi ke sekolah dengan wajah senang, aku pun ikut semangat untuk
mengajar. Alhamdulilah Allah memudahkan jalanku mengemban amanat dari negeriku.
No comments:
Post a Comment