Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Amanat dari Negeriku" Karya : Murniasih


Murniasih
Amanat dari Negeriku
Pengabdianku terasa sia-sia.Ya,itu yang kurasakan menjelang hari Pendidikan Nasional sebentar lagi. Namaku Fatimah, perempuan yang menjadi guru Sekolah Dasar Negeri 1 Brati, Kabupaten Grobogan. Sebuah pedesaan terpencil. Banyak anak yang harus kudidik, sedangkan mendidik diriku saja aku belum mampu.
Negara memberiku amanat, bahwa aku harus mencerdaskan bangsaku. Kenyataan yang terjadi, banyak anak yang tak mau sekolah karena mereka menganggap sekolah tidak bisa menjamin kehidupan mereka bisa sukses. Sekolah memang bukan  segalanya,tapi awal dari segalanya ialah sekolah.
Hari Senin, pukul 07.00tepat, kucoba memperkenalkan diriku. Banyak diantara mereka yang tak menghiraukanku. Entah kenapa?Aku seperti patung berdiri. Hanya beberapa gelintir dari mereka yang mau mendengarkan.
Keesokan hari, hanya beberapa murid saja yang mau berangkat sekolah. Ku bertanya pada Wulan, murid yang duduk di depanku.
“Wulan, kemanakah teman-temanmu yang lain?”tanyaku.
Ia tak menjawab apa-apa. Mungkin karena takut padaku. Raut wajahnya seolah memberikan jawaban, kalau anak-anak disini tak dibolehkan sekolah oleh orang tua mereka.
Pikiranku bertambah, seakan beban di dada semakin berat. Hatiku menangis. Dalam hati aku berkata, aku belum bisa mengemban amanat dari negeriku.
Kemudian aku menanyai seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling pojok sudut kelas ini.
“Arif,mengapa kau duduk disini?”tanyaku.
Dia menjawab,”Aku takut Bu, kata Bapak kalau aku duduk di bangku depan bisa dimarahin Ibu, karena aku jarang mengerjakan tugas sekolah.”
“Apakah Bapakmu tak mengajarimu belajar?”tanyaku lagi.
“Bapakku tak bisa membaca dan menulis, Bu!itulah jawaban anak yang mungil itu.
Oh, sungguh terkejut aku mendengar cerita Arif. Di sisi lain memberiku kesadaran kalau penduduk di Desa Brati ini masih buta huruf, sehingga mereka juga mengajarkan anaknya untuk bekerja keras seperti mereka. Namun, orang tua Arif memberikan kepercayaan baru untukku. Meskipun mereka buta huruf, tapi mereka tak ingin melihat Arif seperti mereka yang hidup dalam kesusahan karena buta huruf.
Kemudian aku bertanya kepada Arif, “Arif, apakah Ibu boleh bertemu dengan orang tuamu?”
Arif tertegun mendengar pertanyaanku, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya walau matanya tak berani memandangku.
Siang hari sekitar pukul 13.00, kudatangi rumah Arif di kawasan Dusun Brati. Amat jauh dari sekolah, tempatku mengajar. Jalan yang kutempuh memang tak mudah harus menyeberangi sungai. Apabila musim penghujan datang, sungai ini tak bisa diseberangi dan harus berputar arah sejauh dua kilo meter, yang memerlukan waktu telah lama.
Dari kejauhan tampak orang tua Arif, Pak Kasimin dan Bu Kasimin sudah menanti kedatanganku. Tampak rumah yang sederhana. Beralaskan tanah dengan ruang tamu yang sempit serta kursi kayu tua. Mereka tersenyum mesra, membalas senyumanku. Mereka sangat antusias menerima kedatanganku.
“Bapak, kedatangan saya ke sini ingin silaturahmi dengan keluarga Bapak, dan juga ingin bertanya tentang  penduduk sini tentang masalah pendidikan, kataku.
Pak Kasimin menjawab,“Kami sangat senang sekali atas kedatangan Ibu ke gubuk kami yang jelek ini. Kami merasa menerima tamu kehormatan, karena Ibu mau singgah ke sini. Oh,ya Bu! Kalau masalah pendidikan penduduk disini memang sangat rendah. Sebagian penduduk disini berpendidikan rendah bahkan ada yang tak tamat lulus SD. Hal itu yang menyebabkan anak-anak mereka juga tak mau sekolah,sambung Pak Kasimin.
“Apakah keinginan Bapak terhadap Arif?” tanyaku.
“Saya, sebagai orang tua, ingin anak saya menjadi orang yang tak buta huruf Bu. Memang saya buta huruf, namun saya ingin anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang layak,jawab Pak Kasimin sambil menangis.
“Saya sungguh terkesan mendengar jawaban bapak, Bapak memang orang tua yang hebat, kataku.
Kemudian terdengar langkah Ibu Kasimin sedang membawa minuman untukku.
“Ibu, silahkan diminum!” begitu kata Bu Kasimin sambil tersenyum mengambang seolah ingin ikut duduk di sebelahku.
Ya,Bu. Terima Kasih, saya malah merepotkan Bapak dan  Ibu sekeluarga,kataku.
“Tidak apa-apa Bu. Kami mohon maaf karena  hanya bisa menyajikan air putih saja, Bujawab Ibu Kasimin.
Dalam hatiku akupun merasa beruntung karena aku bisa mengenal mereka dan  merasakan kehangatan dalam keluarga ini, sangat mulia dalam menerima tamu dan mau berpikir maju tentang pendidikan.
“Bapak dan Ibu, saya mohon kerja samanya, saya membutuhkan Bapak dan Ibu untuk membantu saya agar anak-anak disini mau bersekolah!”
“Wah,tugas itu sangat berat. Apalagi kami hanya orang kecil, Bu!
“Saya membutuhkan dukungan dari Bapak dan Ibu, juga bantuan karena saya tidak tahu Bu, harus bagaimana lagi, ini amanat yang harus saya emban,kataku dengan rasa sedih.
“Apa strategi yang akan Ibu lakukan?” tanya Pak Kasimin yang seolah-olah membuat kaget karena tak pernah terlintas di benakku kalau Pak Kasimin akan bertanya seperti itu.
“Saya ingin membawa seorang teman saya untuk memberikan bukti bahwa anak desa itu jauh lebih berhasil walaupaun tinggal di daerah pedesaan terpencil. Namanya Andriana. Dia anak petani miskin di Daerah Rowo,tapi ia berpikiran kritis tentang pendidikan. Bahwa pendidikan itu nomor satu, karena maju tidaknya suatu bangsa bergantung dari pendidikan.”
“Hal itu yang menginspirasi saya menjadi seorang guru seperti ini, Pak,jawabku dengan rasa bangga.
“Wah, kalau begitu Ibu termasuk orang yang hebat. Ibu mau mencerdaskan bangsa,kata Pak Kasimin.
“Insyaallah, Pak!jawabku dengan rasa terharu karena dipuji oleh Pak Kasimin.
“Ibu, kalau boleh saya mita izin agar Bapak besok menghantarkan saya ke rumah Pak Camat.”
“Ohboleh, Bu.Bahkan saya juga siap membantu Ibu!jawab Ibu Kasimin.
“Bapak, kita harus membantu Ibu Fatimah. Ibu tak ingin kita dihina lagi karena kita berkeinginan menyekolahkan Arif setinggi mungkin. Ibu hanya ingin Arif bisa baca tulis. Tidak seperti Ibu,kata Ibu Kasimin sambil membasuh air mata di pipinya.
Kumandang asarpun berkumandang tepat pukul 15.00. Kemudian aku pamit pulang. Pikiranku terasa ringan dan beban dipundak terasa berkurang karena aku sudah menemukan jalanku untuk mencerdaskan bangsaku.
Keesokan harinya, aku pergi dengan Bapak Kasimin  menuju ke kantor kecamatan di Kota Purwodadi.
Tampak oleh kami, Bapak Camat, Bapak Tomo tersenyum manis melihat kedatangan kami.
“ Selamat Pagi Bapak Kasimin dan Ibu Fatimah, ada yang bisa saya bantu?” tanya Bapak Camat dengan tersenyum manis kepada kami.
“Sebelumnya kami mohon maaf, apabila kedatangan kami hanya mengganggu Bapak, kataku sambil menjabat tangan Pak Camat.
“Tak apa-apa, Bu Fatimah,jawab Pak Camat sambil berwajah manis.
Pak camat memang tidak suka dengan orang yang mengganggu aktifitas beliau, namun sebagai camat yang baik beliau berusaha menerima kedatangan kami dengan raut wajah semanis mungkin.
“Apakah Bapak bersedia membuat peraturan tentang pendidikan agar anak-anak seusia SD harus diwajibkan sekolah? karena seusia mereka harus dididik tanpa harus dipaksa kerja!kataku dengan nada memohon kepada Beliau.
Mendengar hal tersebut, tiba-tiba wajah Pak Camat naik pitam, Beliau menjawab, “Memang Ibu siapa? Berani menyuruh saya membuat peraturan seperti itu?”
“Mengapa Bapak marah-marah? Bukankah Bapak seharusnya memikirkan rakyat. Apalagi Bapak sebagai Kepala Kecamatan harus mengemban amanat rakyat!kataku dengan nada keras.
“Sudahlah pergi saja, ini rakyat-rakyat saya.Tak usah mengatur saya, lebih baik kalian pergi daripada saya semakin marah dengan Ibu!katanya sambil mengusir kami.
Kami melangkah pergi seperti barang yang ingin dibuang jauh-jauh dari kehidupan Pak Camat.
Kami tertegun, Bapak Kasimin seakan tak bisa menjawab apa-apa. Kemudian Bapak Kasimin  mulai bercerita padaku.
“Bu, seharusnya Ibu harus mengetahui dulu seperti apa, tabiat Pak Camat itu!”
Aku kaget dan bingung, “Memang ada apa,Pak?”
“Begini Bu, sebenarnya Pak Camat itu tak suka melihat penduduknya pintar dalam pendidikan. Beliau akan merasa tersaingi dengan rakyat, masak  anak desa yang bodoh mampu menyaingi Saya. Saya lulusan S2 sedangkan mereka baca huruf aja tidak bisa!begitu kata Pak Camat kepada warga sini.
“ Beliau juga melakukan korupsi sehingga mampu kuliah sampai S2, padahal penduduk di sini hanya makan nasi dengan garam saja. Bagaimana kalau Ibu, pergi ke walikota. Di sana bapak walikota lebih mau mendengar aspirasi rakyat kecil seperti kita, Bu!kata Pak Kasimin dengan nada semangat membangkitkan harapanku lagi.
“Ide bagus, Pak!” kataku dengan nada senang.
              Haripun telah siang menunjukkan pukul 12.00. Saat kami tengah perjalanan pulang, kami dihadang oleh segerombolan preman. Mereka bertato, bertubuh kekar, dan hendak menerkam kami. Kami lari tunggang langgang, tapi aku tak kuasa, aku terjatuh di jalan dan Pak Kasimin ingin menolongku, tapi malah beliau tertabrak motor yang dikendarai preman-preman tadi.
Aku menjerit minta bantuan ke penduduk sekitar,tapi sayang nyawa Pak Kasimin tak tertolong.
Hal ini membuatku semakin bingung, padahal Pak Kasimin, orang yang telah berjasa bagiku. Beliau seperti pahlawan bagiku, membangkitkan semangatku saat aku hampir putus asa. Kini ia telah tiada. Sedih hatiku melihat yang kini telah terbujur lemah di tanah.
Semenjak kejadian tersebut, Ibu Kasimin melarangku bertemu lagi dengan keluarga Beliau, dan sekolah tempatku mengajar, menjadi amukan para warga. Mereka hendak membakar sekolah itu, karena menganggapku sebagai sumber masalah ini.
Berita ini sampai masuk kota. Pak Kasmo selaku walikota Purwodadi segera mendapat laporan terkait kematian Pak Kasmin. Beliaupun segera turun tangan atas masalah ini.
Pagi-pagi sekitarpukul 08.00, beliau segera menuju ke kantor kecamatan. Kantor kecamatan masih terlihat sepi. Pak Kasmopun bertanya dengan seorang petugas kecamatan, Bu Wati.
“Selamat Pagi, Pak! Ada yang bisa kami bantu?” tanya Bu Wati.
“Saya ingin bertemu Pak Camat. Apakah beliau sudah datang?” jawab Pak Walikota.
“Belum datang, Pak! Mungkin sebentar lagi!” jawab Bu Wati.
Terdengar kendaraan suara mobil Pak Tomo yang mengalun pelan menuju parkiran. Pak Walikota segera menghampirinya.
“Pagi benar anda datang?” sindir Pak Walikota.
“Oh, ada yang salah Pak? Bukankah ini kantor saya sendiri? Jadi saya berhak mau melakukan apa saja!” jawab Pak Lurah dengan santai.
“Lancang sekali Anda bicara! Anda ini sebagai wakil rakyat. Kalau rakyat butuh Anda, apakah Anda bisa diminta membantu mereka setiap saat?” tanya Pak Walikota dengan nada menyindir.
“Saya selalu siap, Pak!” jawab Pak Lurah dengan remeh.
“Termasuk Anda siap mempertanggungjawabkan perbuatan Anda karena kelicikan Anda sendiri?” tanya Pak Walikota dengan nada marah karena sikap Pak Camat yang acuh tak acuh.
“Apa maksud, Anda? Saya tidak pernah berbuat licik!” tanya Pak Camat.
“Sudahlah tak usah berbohong!” Pak Polisi tolong tangkap pejabat tak bermoral ini!” perintah Pak Walikota. Pak Camatpun hendak melarikan diri menghindari  polisi.
Terdengar suara senapan polisi hingga membuat warga resah. Wargapun berbondong-bondong mengejar pak camat. Pak camatpun menyerah setelah terkena tembakan peluru di kakinya. Beliaupun dibawa ke kantor polisi Brati.
“Tolong, Pak! Hukum pejabat tak bermoral ini sesuai perbuatannya!” perintah Pak Walikota kepada Pak Agus, Kepala kepolisian Brati.
“Baik, Pak!Terimakasih atas laporan Bapak dan warga semua sehingga kami bisa menangkap Pak Camat!” jawab Pak Agus.
Siang hari yang begitu panas, tak mengehentikan semangat Pak Walikota untuk pergi ke Brati. Pak Walikota bersama warga segera ke sana dengan warga  berbondong-bondong berjalan kaki ke sana.
Sampai di sana terlihat warga yang menghakimi bu Fatimah karena ulah pak camat. Ini tak bisa dibiarkan. Terdengar suara Pak RT, Pak Somad yang memaki-maki Bu Fatimah.
Pak Somad segera mengusirku secara paksa.“Ibu,cepat pergi dari sini! Kami tak sudi lagi mengenal Ibu. Ibu sudah menjadi malapetaka bagi penduduk sini.” kata Pak Somad dengan suara lantang laksana halilintar nan menyambar.
“Setuju!” teriak para warga. Mereka beramai-ramai menggiringku keluar dari kampung itu.
Saat Aku terjatuh karena didorong oleh seorang warga, aku terjatuh dihadapan seorang lelaki yang berpakaian rapi dengan mengenakan jas. Para warga terkejut melihatnya. Beliau ialah pejabat tinggi di daerah itu. Beliau adalah Pak Kasmo, Walikota.
Aku tertegun mendengar perkataan warga kemudian Bapak Walikota  berusaha membangkitkan aku.
“Ibu,tak apa-apa? tanya Pak Kasmo sambil membangkitkan tubuhku yang telah rapuh ini.
“Aku tidak apa-apa, Pak!” jawabku dengan nada sedih.
“Apakah kalian tahu siapa sebenarnya ibu guru yang bernama Fatimah, ini?”tanya Pak Walikota dengan suara lantang sambil menunjukkan jemari ke dirku.
“Kami tahu dia ialah penyebab malapetaka di desa kami, Pak!” jawab Pak RT.
“Apa katamu?” seolah Pak Walikota ingin menampar pipi Pak RT.
Aku menghentikan tangan Pak Walikota yang hendak menampar Pak RT. Kedua bola mata beliau memerah seraya ingin menangis mendengar jawaban itu.
“Bapak,perlu Anda ketahui bahwa ibu guru yang bernama Fatimah, ini telah membuat suami saya meninggal, kata Bu Kasmin sambil menangis di tengah kerumunan warga.
“Apa yang Ibu ketahui tentang Bu Fatimah?”tanya Pak Walikota dengan nada penasaran.
“Saya tahu, Ibu Fatimah hanyalah pembawa petaka bagi keluarga saya,” jawab Bu Kasimin.
“Tutup mulut Ibu!jawab Pak Walikota tegas.
Kemudian Pak walikota hendak bercerita kepada warga tentang Bu Fatimah.
“Saudara-saudara semua, perlu kalian ketahui siapakah Ibu Fatimah ini, dan perlu Anda ketahui siapa yang telah membunuh Bapak Kasimin!” kata Pak Walikota dengan suara lantang.
“Bukankah Ibu Fatimah pembunuhnya?” tanya warga serentak.
“Bukan!jawab Pak Walikota dengan tegas.
“Pembunuh Pak Kasimin kini telah mendekam di penjara karena akibat ulahnya. Beliau ialah Pak Tomo, Kepala Kecamatan. Beliau sengaja melakukan ini untuk mengagalkan rencana baik Bu Fatimah untuk memajukan pendidikan di desa kalian,kata Pak Walikota yang seolah membelaku diriku yang malang ini.
“Apa buktinya, Bapak bicara seperti itu?” tanya Pak RT dengan rasa tak percaya.
“Pak RT, sebagai seorang Walikota, saya lebih mementingkan rakyat saya daripada harus memikirkan pribadi. Saya mempunyai seorang mata-mata untuk Ibu Fatimah dan ini bukti rekaman. Bapak camat yang menyuruh segerombolan preman untuk menghadang Bu Fatimah dan Pak Kasimin saat hendak pulang ke rumah. Jadi jelaskan? Siapa orang yang berhati baik.”
“Terus Bu Fatimah,  siapa Anda Pak? Mengapa Bapak begitu membelanya?” kata Pak RT. Warga bingung karena sikap Pak Walikota yang begitu melindungi Bu Fatimah.
Pak Walikota menjawab, “Perlu saudara-saudara ketahui bahwa Bu Fatimah ialah anak saya. Saya yang menyuruhnya untuk menjadi guru di desa ini. Saya tahu kondisi ini amat menyedihkan baik dari segi pendidikan maupun ekonomi. Saya berharap penduduk sini bisa menjadi orang sukses setelah menganyam pendidikan walaupun hanya SD. Namun saya salah menilai kalian semua. Kenyataannya seperti ini. Hal ini sangat menyakiti anak saya sampai masuk koran, Kalian membuat Saya menangis,kata Pak Walikota dengan rasa sedih.
“Apa?” para warga kaget mengetahui hal itu.
Pak Walikota menegaskan kembali,“Saya ingin melihat penduduk di sini sadar akan pendidikan. Selama ini kalian dibodohi camat kalian. Camat kalian telah mengingkari amanat yang telah saya embankan untuk Kalian. Hal ini yang membuat Saya, meminta Fatimah untuk menolong kalian dari kebodohan. Saya hanya ingin anak-anak Kalian benar-benar mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lain tak hanya untuk anak camat maupun anak pejabat.”
Kemudian Pak RT bertekuk lutut kepada Pak Walikota.
“Pak, saya mewakili warga memohon maaf atas sikap kami ini, Kami telah salah menilai putri Bapak. Maafkanlah kami ini, Pak! kami juga ingin anak-anak kami mendapat pendidikan yang maju. Agar mereka tak sebodoh kami,kata Pak RT dengan nada menyesal disertai tangisan para warga yang mengharukan.
“Baik, saya maafkan kalian semua. Asal kalian semua  mau sekolahkan anak-anak kalian. Jangan perbudak anak kalian untuk bekerja. Mereka butuh pendidikan terutama dari kalian sebagai orang tua.”
“ Pak, Perkenankanlah Bu Fatimah untuk mengajar di sini kembali, kami para warga janji tak menyakiti hati lagi beliau, dan kami akan mencintainya seperti kami mencintai anak-anak kami.” Kata Pak RT dengan nada memohon.
“Kalau masalah itu, saya serahkan pada putri saya,jawab Pak Walikota.
“Baik. Saya akan mengajar anak-anak di sini asal para warga mau menyekolahkan anak-anak mereka!” kataku dengan perasaan terharu.
“Baik Bu,  Kami bersedia menyekolahkan anak-anak kami,jawab Pak RT.
Wargapun segera mengerumuniku untuk meminta maaf.
Ketika warga masih berkumpul, Pak RT segera berorasi di hadapan warga.
“Warga Dusun Brati, yang saya cintai. Menurut Anda semua apakah yang seharusnya kita lakukan untuk anak-anak kita agar mereka bisa sekolah. Sebab gedung sekolah telah kita hancurkan?” tanya Pak RT kepada warganya dengan nada menyesal.
“Bagaimana kalau kita membuatkan tenda darurat saja, Pak!” kata seorang warga.
“Apa usulan ini bisa diterima?” tanya Pak RT Kepada semua warga.
“Alangkah baiknya musholla kita gunakan untuk tempat belajar anak-anak. Sebab saaat pagi hari sampai siang hari, musholla tidak digunakan untuk ibadah,” kata seorang warga lainnya.
“Bagaimana para warga semua sepakat?” tanya Pak RT.
“Sepakat, Pak!” jawab semua warga.
“Alhamdulillah, kalau begitu mulai besok kita bergotong royong. Bapak-bapak membangun gedung sekolah, dan ibu-ibu tolong menyiapkan makanan dan minuman. Serta sampaikan kepada anak-anak kalian untuk belajar di Musholla sebab gedung sekolah baru dibangun. Untuk biaya pembangunan, Pak Walikota sudah memberikan sumbangan kepada kita agar segera membangun sekolah baru,” kata Pak RT dengan nada semangat.
“Alhamdulillah!” Jawab warga serentak. Warga segera pulang ke rumah masing-masing karena sudah malam. Bu Fatimah pun pulang bersama orang tuanya, Pak Walikota menuju ke rumahnya di kawasan alun-alun Kota Purwodadi.
               Walaupun fajar masih menyising, Tak menyurutkan semangat Pak RT untuk pergi ke rumah Bu Fatimah.
“Asalamualaikum,” kata Pak RT.
“Walaikumsalam,” jawabku dari dalam menuju ke pintu sambil mempersilahkan Pak RT untuk duduk di dalam.
“Maaf, Bu! Pagi-pagi saya menganggu. Saya mau bilang sama Ibu, tempat ibu mengajar untuk sementara saya pindah ke mushola. Mungkin dua minggu gedung sekolah baru bisa ditempati, Bu!” kata Pak RT dengan ragu-ragu.
“Terima kasih, Pak! Terpenting bagi saya ialah anak-anak mau belajar. Masalah tempat bisa dimana saja, Pak!” kataku dengan wajah tersenyum.
“Alhamdulilah! Saya sudah mengira kalau Ibu tidak mempersalahkan tempat mengajar,” kata Pak RT sambil bernapas lega. Kemudian Pak RT pamit.
Aku berangkat mengajar ke mushola seperti biasa. Walaupun hanya beralaskan tikar, dan meja kecil yang sederhana tak menyurtkan semangat anak-anak didikku tuk belajar. Mereka bercanda tawa denganku setiap hari.
Dua minggu  berlalu. Alhamdulilah sekolah kami berdiri amat kokoh. Acara peresmian dihadiri oleh Pak Walikota. Beliau berpesan agar esok hari anak-anak semangat belajar. 
“Semangat menggapai mimpi kalian anak-anak!” itulah pesan yang semakin memotivasi anak-anak yang tak sabar ingin segera ke sekolah. Selesai acara peresmian gedung  sekolah baru,  mereka mengajakku ke sana. Tak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku.
Tiba-tiba terdengar nyanyian bersama-sama dari anak-anak didikku “Selamat datang di sekolah kami, Bu!” kata mereka serentak.
 Mereka bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu selamat datang untukku dengan membawa kue ulang tahun apa adanya. Perasaanku terharu, Kupeluk erat mereka semua. “Terimakasih banyak Adik-Adik. Ibu  senang karena kalian sudah mau sekolah!” kataku dengan perasaan terharu.
Keesokan harinya, kulihat anak-anak yang semangat pergi ke sekolah dengan wajah senang, aku pun ikut semangat untuk mengajar. Alhamdulilah Allah memudahkan jalanku mengemban amanat dari negeriku.

No comments:

Post a Comment