Elisa Trisna Maulidianisa
RESTUI AKU, AYAH!
Aku
menatap Yumiko, sudah tiga tahun wanita itu menjadi istriku dan semakin
bertambah cantik saja. Di sudut ruang tamu terdapat sebuah patung gajah
kesayangan ayah, dan membuatku teringat akan semua kejadian di masa lalu ketika
menikahi Yumiko. Keluarga Yumiko sangat terpandang, ayahnya seorang pengusaha
terbesar dikotanya.
Awal
perkenalanku dengan Yumiko, ketika aku bekerja diperusahaan ayah Yumiko, Bapak
Takigawa. Aku termasuk salah satu karyawan yang cerdas dalam mengatur
perusahaan. Ayah Yumiko begitu segan padaku, pernah pula seusai bekerja dia
bertanya-tanya tentang latar belakangku.Yumiko, gadis itu sempat memikat hatiku
saat pertama kali aku menjadi mahasiswa baru.
Aku
tak pernah punya nyali untuk bertindak lebih lanjut, hanya mengagumi dan
mengagumi. Dan setelah percakapan dengan Pak Takigawa, dia mengajakku
berkunjung kerumahnya. Pada akhirnya, Pak Takigawa memperkenalkanku dengan
Yumiko. Aku tidak sempat mengetahui seberapa jauh perasaanku terhadapnya. Aku
dan Yumiko menjalin hubungan, kurang lebih lima bulan, dan aku kembali ke
Indonesia untuk meminta restu dari orangtuaku.
Tapi
ternyata, ayahku menentang hubunganku dengan Yumiko. Ibu tidak dapat lagi
mengingatkan ayah. Ayah begitu geram denganku, dan mengusirku dari rumah.
Rasanya begitu pedih mendengar keputusan dari ayah. Sebelum aku meninggalkan
rumah, ibu pun sempat berpesan padaku.
“Maafkan
ayahmu, Nak. Pulanglah ke Jepang. Bila nanti ayahmu memberikan restu, ibu akan
segera menghubungimu. Apapun yang terbaik untukmu, ibu merestuinya, Nak.”
“Tapi
Bu, bila ayah tidak merestuinya, aku tak mengapa. Masih banyak jalan untuk
mencari restu ayah.”
“Nak,
ibu tidak dapat berbuat apa-apa. Ibu akan mencoba membujuk ayahmu.”
“Bu,
jangan membujuk ayah. Ibu tahu bukan, ayah begitu keras kepala. Akulah yang
seharusnya mengalah. Ibu, maafkan aku, sekarang menjadi anak yang begitu
durhaka. Tapi apa boleh buat. Sekali lagi maafkan aku, Bu.” aku hanya dapat
mengakhiri percakapanku dengan airmata.
Ibu
dengan berat hati melepaskan kepergianku, menatapku dengan tatapan kosongnya.
Aku merasa begitu berdosa kepada orangtuaku, hanya saja aku belum tahu apa yang
menjadi penyebab ayah tidak merestui hubunganku dengan Yumiko.
Dua
bulan pun berlalu, aku ingin hubunganku lebih serius. Aku kembali mendatangi
orangtuaku bersama dengan Yumiko. Aku pikir dengan membawa Yumiko, semua akan
berjalan lebih baik, ternyata dugaanku salah. Ayah semakin marah kepadaku, dan
menamparku ketika aku tiba di depan rumah.
“Kau!
Kenapa kau kembali kerumah ini? Aku menyuruhmu pergi, keparat!”
“Ayah,
apa salahku? Sebesar apa salahku pada ayah? Aku datang kemari untuk meminta doa
restu dari Ayah, hanya itu Ayah.” aku tertunduk lesu tanpa memandang ayah.
“Kau
anak durhaka, pergilah! Aku tidak akan pernah lagi menganggapmu sebagai anak
bila kamu masih saja bersama orang Jepang ini!” nada ayah semakin meninggi dan
keras.
“Pak,
anakmu ini hanya ingin meminta restu atas hubungannya. Dia ingin menikahi gadis
ini, berilah restu padanya.” ibu turut bicara dengan ayah.
“Bu,
aku tak sudi memberi restu padanya bila dia ingin menikahi bangsa penjajah
seperti Jepang. Ayahmu ini perwira, seharusnya kamu sadar diri dengan tempatmu.
Kau tak pantas bersanding dengan bangsa rendah seperti mereka!”
“Ayah,
apa salah mereka pada ayah? Keluarga Yumiko pun sudah lama tinggal di Indonesia
dan mengenal baik bagaimana Indonesia. Lalu dimana letak kesalahan mereka?” aku
semakin heran dengan sikap ayah.
“Kau
perlu tahu, kakekmu tak pernah sudi melihat penjajah seperti mereka. Kakekmu
yang turut mengusir mereka dari tanah kita, lalu apakah pantas bila cucunya
kini bersanding dengan mereka?” ayah memandangku dengan mata tajam.
“Ayah,
mereka tidak seperti yang ayah duga, mereka baik. Ayah pun perlu tahu, ibu
Yumiko juga bangsa Indonesia seperti kita, dan tidak ada perbedaan diantara
mereka.” aku memperjelas latar belakang Yumiko.
“Sekali
lagi ayah menegaskan bahwa ayah tidak akan pernah merestuimu. Kau bisa cari
wanita dari bangsa kita, aku pikir banyak yang mau bersanding denganmu. Kau
tampan, cerdas, sudah bekerja pula, wanita mana yang tak mau denganmu?” ayah
semakin menantangku, dan pergi meninggalkanku.
Ibu
hanya menatapku dan berjalan mengikuti ayah. Mungkin ibu ingin menasehati ayah.
Entahlah, aku tak mampu lagi berbuat banyak. Yumiko hanya terdiam melihat
pemandangan yang baru saja disaksikannya. Sepertinya dia tercengang melihat
perdebatan antara anak dan ayah. Aku merasa semakin durhaka terhadap ayah. Ayah
masih berpegang teguh pada kakek. Dan rasa penasaranku terhadap semua itu
semakin dalam, aku bertekad untuk mencari tahu dan segera menyelesaikannya.
Aku
mengantarkan Yumiko kembali kerumah kakaknya. Sepanjang perjalanan, Yumiko
terdiam dan sesekali memandangku. Mungkin dia tahu bahwa aku begitu
memperjuangkan hubungan yang serius ini. Aku mencintai gadis itu dengan tulus
tanpa memandang latar belakangnya. Dan ayah pun harus tahu bagaimana aku harus
mempertanggungjawabkan hubungan serius ini.
“Yumiko,
maafkan ayahku.” Aku membuka percakapan setelah lama kami terdiam.
“Tidak
ada yang perlu dimaafkan. Aku tahu suatu hari nanti ayahmu pasti merestui
hubungan kita. Tidak ada niatan buruk yang akan kita lakukan.” dia tersenyum
manis padaku, matanya begitu tulus menjawab permintaan maafku.
Aku
mengantarkan dia sampai di depan pintu rumah kakaknya. Rasa bersalahku
kepadanya, dan kepada ayahku semakin bertambah. Apa boleh buat, aku harus
mencari tahu, sesuai dengan tekadku itu.
Sesampainya
dirumah, ayah dan ibu sedang berbincang. Aku masuk dan mengucapkan salam.
Tampaknya ayah masih marah padaku. Ibu menjawab salam dan tersenyum padaku.
“Satria,
kemari sebentar.” panggil ayahku.
“Ada
apa ayah?” aku bertanya penasaran.
“Kau
ingin menikahi gadis itu?”
“Bila
ayah merestui, aku akan menikahinya. Tapi bila ayah tidak merestui, apa boleh
buat, aku belum dapat menikahinya sampai aku mengantongi restu dari ayah.” aku
menjelaskan kepada ayah.
“Apakah
keluarga dia merestuinya? Kau tak khawatir dengan masa depanmu nanti?” ayah semakin
khawatir.
“Ayah,
aku sudah mengenal baik keluarganya. Ayah Yumiko adalah pemilik perusahaan
tempat aku bekerja. Kedua kakak Yumiko sudah akrab denganku, ibunya Yumiko juga
begitu ramah, keluarga besarnya pun menyambutku dengan baik. Aku tak pernah
berbuat macam-macam.”
“Satria,
ibu pun mengkhawatirkanmu, Nak. Ibu khawatir akan kebahagiaanmu, kau ini anak
satu-satunya yang ibu miliki. Bila kau tak bahagia, siapa lagi yang mampu
membahagiakanmu selain anak dan istrimu kelak? Ayah dan ibumu ini tidak
menjamin akan hidup lama, umur manusia tidak ada yang tahu.” Ibu menyambung
pembicaraanku dengan ayah.
“Ibu,
percayalah padaku. Aku mampu menjaga diriku dengan baik. Ada apa gerangan
dibalik semua kekhawatiran ayah dan ibu?”
“Dulu,
kakekmu beristrikan wanita Jepang. Setelah memiliki anak, kakekmu ditinggalkan
begitu saja oleh nenekmu itu. Ibu tidak pernah tahu bagaimana rupa nenekmu, dan
semakin kehilangan sosok seorang wanita yang melahirkan ibumu ini. Tetapi
setelah ibu tahu seluk beluknya, ibu tidak pernah lagi mengharapkan kedatangan
wanita itu.”
Aku
terharu mendengar cerita ibu, dan aku mulai mengerti bagaimana keadaan ibu
ketika dibesarkan. Aku pun mulai bertanya-tanya tentang ibu semasa kecil, dan
ibu pun menjelaskan tanpa malu kepadaku.
“Nak,
ayah tetap tidak merestuimu. Tidak akan pernah.” tiba-tiba ayah menyambung
pembicaraanku dengan ibu, dan ayah semakin bersikap tegas padaku.
Aku
sangat kecewa dengan jawaban ayah. Aku segera bangkit dan menuju kamar, ingin
rasanya berteriak. Tapi apa daya, aku tak mampu lagi bergerak bebas. Menikahi
gadis yang kucintai saja tak mampu. Aku tetap bersikeras agar dapat
menikahinya.
Keesokan
harinya, aku mendatangi rumah kakak Yumiko. Tapi ternyata Yumiko sudah kembali
ke Jepang. Aku semakin kecewa. Dengan segera, aku memesan tiket agar dapat
menyusul Yumiko. Aku sudah bertekad tetap menikahi gadis itu.
Setibanya
di Jepang, aku segera menuju rumah Yumiko. Aku bertemu dengan gadis itu. Mata
Yumiko berkunang-kunang melihat kedatanganku. Kami saling berpelukan, sama-sama
meluapkan rasa kecewa.
“Kapan
kamu menikahiku?” tanya Yumiko.
“Secepatnya
aku menikahimu. Aku janji akan menikahimu.” aku mencoba meyakinkan gadis
dihadapanku.
“Bukankah
ayahmu tidak merestui hubungan kita? Apa yang akan kamu lakukan?” Yumiko
terheran-heran dengan jawabanku.
“Ya.
Aku tahu itu, kaupun juga tahu. Tapi dengan ijin ayahmu, aku akan menikahimu
disini.” aku tersenyum menatap Yumiko.
“Kau
yakin akan menikahiku tanpa restu dari ayahmu?” Yumiko semakin penasaran
denganku.
“Aku
sangat yakin, aku mencintaimu. Kau harus percaya padaku. Aku telah berjanji
akan menikahimu. Bukankah ayahmu pun sudah merestui hubungan kita?” aku melemparkan
senyum pada Yumiko.
Nampaknya,
Yumiko semakin bahagia dengan jawaban yang kuberikan. Aku pun berharap, Yumiko
yakin denganku. Apapun yang terjadi, aku akan segera menikahi gadis yang
teramat aku cintai.
Sebulan
kemudian, aku menemui Pak Takigawa untuk melamar anak gadisnya, Yumiko.
Alhasil, lamaranku diterima dan direstui. Aku segera merencanakan pernikahanku
dengan Yumiko secepatnya. Aku segera menghubungi ibu. Dan ibu mendoakanku agar
pernikahanku berjalan dengan baik.
Seminggu
sebelum pernikahanku, aku teringat kepada ayah. Ayahku tak pernah merestui
hubunganku. Apakah ayah tahu aku akan menikah? Apakah ayah masih menganggapku
sebagai anaknya? Apakah aku sekarang menjadi anak durhaka? Berbagai pertanyaan
muncul dibenakku. Betapa beratnya dosa yang aku perbuat kepada laki-laki itu.
Saat
itu juga aku mencoba untuk menghubungi ayah. Mungkin ayah sudah memaafkanku.
Aku mencoba berpikir positif tentang ayah, entah jawaban apa yang ayah berikan,
aku tidak peduli.
“Ayah?”
tanyaku ketika ayah mengangkat teleponku.
“Ya,
ada apa lagi kau menghubungiku?” ayah menjawab teleponku dengan nada
menggertak.
“Ayah,
aku minta restu untuk menikah…” tiba-tiba ayah memotong pembicaraanku.
“Minta
saja restu pada orangtuamu. Aku ini sudah tak punya anak. Anakku sudah mati,
kau siapa menghubungiku? Memangnya aku mengenalmu?” ayah semakin membentakku.
“Ayah,
sekali lagi maafkan aku. Aku mencintai Yumiko. Tolong restui pernikahanku. Aku
anakmu, Yah.” aku semakin berkaca-kaca dan berharap ayah segera merestuiku.
“Anak
durhaka! Jangan hubungi aku lagi, keparat! Dan jangan pernah kembali kerumahku.
Kalau kau sampai kembali, aku akan membunuhmu!” ayah semakin geram padaku, dan
terselip kekecewaan dihatiku.
Setelah
kejadian itu, aku tidak pernah lagi menghubungi ayah. Aku tahu, ayah sangat
kecewa padaku. Dan aku pun tahu aku sudah melakukan dosa terbesar pada ayahku
sendiri.
No comments:
Post a Comment