Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Restui Aku, Ayah!" Karya : Elisa Trisna Maulidianisa


Elisa Trisna Maulidianisa
RESTUI AKU, AYAH!

Aku menatap Yumiko, sudah tiga tahun wanita itu menjadi istriku dan semakin bertambah cantik saja. Di sudut ruang tamu terdapat sebuah patung gajah kesayangan ayah, dan membuatku teringat akan semua kejadian di masa lalu ketika menikahi Yumiko. Keluarga Yumiko sangat terpandang, ayahnya seorang pengusaha terbesar dikotanya.
Awal perkenalanku dengan Yumiko, ketika aku bekerja diperusahaan ayah Yumiko, Bapak Takigawa. Aku termasuk salah satu karyawan yang cerdas dalam mengatur perusahaan. Ayah Yumiko begitu segan padaku, pernah pula seusai bekerja dia bertanya-tanya tentang latar belakangku.Yumiko, gadis itu sempat memikat hatiku saat pertama kali aku menjadi mahasiswa baru.
Aku tak pernah punya nyali untuk bertindak lebih lanjut, hanya mengagumi dan mengagumi. Dan setelah percakapan dengan Pak Takigawa, dia mengajakku berkunjung kerumahnya. Pada akhirnya, Pak Takigawa memperkenalkanku dengan Yumiko. Aku tidak sempat mengetahui seberapa jauh perasaanku terhadapnya. Aku dan Yumiko menjalin hubungan, kurang lebih lima bulan, dan aku kembali ke Indonesia untuk meminta restu dari orangtuaku.
Tapi ternyata, ayahku menentang hubunganku dengan Yumiko. Ibu tidak dapat lagi mengingatkan ayah. Ayah begitu geram denganku, dan mengusirku dari rumah. Rasanya begitu pedih mendengar keputusan dari ayah. Sebelum aku meninggalkan rumah, ibu pun sempat berpesan padaku.
“Maafkan ayahmu, Nak. Pulanglah ke Jepang. Bila nanti ayahmu memberikan restu, ibu akan segera menghubungimu. Apapun yang terbaik untukmu, ibu merestuinya, Nak.”
“Tapi Bu, bila ayah tidak merestuinya, aku tak mengapa. Masih banyak jalan untuk mencari restu ayah.”
“Nak, ibu tidak dapat berbuat apa-apa. Ibu akan mencoba membujuk ayahmu.”
“Bu, jangan membujuk ayah. Ibu tahu bukan, ayah begitu keras kepala. Akulah yang seharusnya mengalah. Ibu, maafkan aku, sekarang menjadi anak yang begitu durhaka. Tapi apa boleh buat. Sekali lagi maafkan aku, Bu.” aku hanya dapat mengakhiri percakapanku dengan airmata.
Ibu dengan berat hati melepaskan kepergianku, menatapku dengan tatapan kosongnya. Aku merasa begitu berdosa kepada orangtuaku, hanya saja aku belum tahu apa yang menjadi penyebab ayah tidak merestui hubunganku dengan Yumiko.
Dua bulan pun berlalu, aku ingin hubunganku lebih serius. Aku kembali mendatangi orangtuaku bersama dengan Yumiko. Aku pikir dengan membawa Yumiko, semua akan berjalan lebih baik, ternyata dugaanku salah. Ayah semakin marah kepadaku, dan menamparku ketika aku tiba di depan rumah.
“Kau! Kenapa kau kembali kerumah ini? Aku menyuruhmu pergi, keparat!”
“Ayah, apa salahku? Sebesar apa salahku pada ayah? Aku datang kemari untuk meminta doa restu dari Ayah, hanya itu Ayah.” aku tertunduk lesu tanpa memandang ayah.
“Kau anak durhaka, pergilah! Aku tidak akan pernah lagi menganggapmu sebagai anak bila kamu masih saja bersama orang Jepang ini!” nada ayah semakin meninggi dan keras.
“Pak, anakmu ini hanya ingin meminta restu atas hubungannya. Dia ingin menikahi gadis ini, berilah restu padanya.” ibu turut bicara dengan ayah.
“Bu, aku tak sudi memberi restu padanya bila dia ingin menikahi bangsa penjajah seperti Jepang. Ayahmu ini perwira, seharusnya kamu sadar diri dengan tempatmu. Kau tak pantas bersanding dengan bangsa rendah seperti mereka!”
“Ayah, apa salah mereka pada ayah? Keluarga Yumiko pun sudah lama tinggal di Indonesia dan mengenal baik bagaimana Indonesia. Lalu dimana letak kesalahan mereka?” aku semakin heran dengan sikap ayah.
“Kau perlu tahu, kakekmu tak pernah sudi melihat penjajah seperti mereka. Kakekmu yang turut mengusir mereka dari tanah kita, lalu apakah pantas bila cucunya kini bersanding dengan mereka?” ayah memandangku dengan mata tajam.
“Ayah, mereka tidak seperti yang ayah duga, mereka baik. Ayah pun perlu tahu, ibu Yumiko juga bangsa Indonesia seperti kita, dan tidak ada perbedaan diantara mereka.” aku memperjelas latar belakang Yumiko.
“Sekali lagi ayah menegaskan bahwa ayah tidak akan pernah merestuimu. Kau bisa cari wanita dari bangsa kita, aku pikir banyak yang mau bersanding denganmu. Kau tampan, cerdas, sudah bekerja pula, wanita mana yang tak mau denganmu?” ayah semakin menantangku, dan pergi meninggalkanku.
Ibu hanya menatapku dan berjalan mengikuti ayah. Mungkin ibu ingin menasehati ayah. Entahlah, aku tak mampu lagi berbuat banyak. Yumiko hanya terdiam melihat pemandangan yang baru saja disaksikannya. Sepertinya dia tercengang melihat perdebatan antara anak dan ayah. Aku merasa semakin durhaka terhadap ayah. Ayah masih berpegang teguh pada kakek. Dan rasa penasaranku terhadap semua itu semakin dalam, aku bertekad untuk mencari tahu dan segera menyelesaikannya.
Aku mengantarkan Yumiko kembali kerumah kakaknya. Sepanjang perjalanan, Yumiko terdiam dan sesekali memandangku. Mungkin dia tahu bahwa aku begitu memperjuangkan hubungan yang serius ini. Aku mencintai gadis itu dengan tulus tanpa memandang latar belakangnya. Dan ayah pun harus tahu bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan hubungan serius ini.
“Yumiko, maafkan ayahku.” Aku membuka percakapan setelah lama kami terdiam.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku tahu suatu hari nanti ayahmu pasti merestui hubungan kita. Tidak ada niatan buruk yang akan kita lakukan.” dia tersenyum manis padaku, matanya begitu tulus menjawab permintaan maafku.
Aku mengantarkan dia sampai di depan pintu rumah kakaknya. Rasa bersalahku kepadanya, dan kepada ayahku semakin bertambah. Apa boleh buat, aku harus mencari tahu, sesuai dengan tekadku itu.
Sesampainya dirumah, ayah dan ibu sedang berbincang. Aku masuk dan mengucapkan salam. Tampaknya ayah masih marah padaku. Ibu menjawab salam dan tersenyum padaku.
“Satria, kemari sebentar.” panggil ayahku.
“Ada apa ayah?” aku bertanya penasaran.
“Kau ingin menikahi gadis itu?”
“Bila ayah merestui, aku akan menikahinya. Tapi bila ayah tidak merestui, apa boleh buat, aku belum dapat menikahinya sampai aku mengantongi restu dari ayah.” aku menjelaskan kepada ayah.
“Apakah keluarga dia merestuinya? Kau tak khawatir dengan masa depanmu nanti?” ayah semakin khawatir.
“Ayah, aku sudah mengenal baik keluarganya. Ayah Yumiko adalah pemilik perusahaan tempat aku bekerja. Kedua kakak Yumiko sudah akrab denganku, ibunya Yumiko juga begitu ramah, keluarga besarnya pun menyambutku dengan baik. Aku tak pernah berbuat macam-macam.”
“Satria, ibu pun mengkhawatirkanmu, Nak. Ibu khawatir akan kebahagiaanmu, kau ini anak satu-satunya yang ibu miliki. Bila kau tak bahagia, siapa lagi yang mampu membahagiakanmu selain anak dan istrimu kelak? Ayah dan ibumu ini tidak menjamin akan hidup lama, umur manusia tidak ada yang tahu.” Ibu menyambung pembicaraanku dengan ayah.
“Ibu, percayalah padaku. Aku mampu menjaga diriku dengan baik. Ada apa gerangan dibalik semua kekhawatiran ayah dan ibu?”
“Dulu, kakekmu beristrikan wanita Jepang. Setelah memiliki anak, kakekmu ditinggalkan begitu saja oleh nenekmu itu. Ibu tidak pernah tahu bagaimana rupa nenekmu, dan semakin kehilangan sosok seorang wanita yang melahirkan ibumu ini. Tetapi setelah ibu tahu seluk beluknya, ibu tidak pernah lagi mengharapkan kedatangan wanita itu.”
Aku terharu mendengar cerita ibu, dan aku mulai mengerti bagaimana keadaan ibu ketika dibesarkan. Aku pun mulai bertanya-tanya tentang ibu semasa kecil, dan ibu pun menjelaskan tanpa malu kepadaku.
“Nak, ayah tetap tidak merestuimu. Tidak akan pernah.” tiba-tiba ayah menyambung pembicaraanku dengan ibu, dan ayah semakin bersikap tegas padaku.
Aku sangat kecewa dengan jawaban ayah. Aku segera bangkit dan menuju kamar, ingin rasanya berteriak. Tapi apa daya, aku tak mampu lagi bergerak bebas. Menikahi gadis yang kucintai saja tak mampu. Aku tetap bersikeras agar dapat menikahinya.
Keesokan harinya, aku mendatangi rumah kakak Yumiko. Tapi ternyata Yumiko sudah kembali ke Jepang. Aku semakin kecewa. Dengan segera, aku memesan tiket agar dapat menyusul Yumiko. Aku sudah bertekad tetap menikahi gadis itu.
Setibanya di Jepang, aku segera menuju rumah Yumiko. Aku bertemu dengan gadis itu. Mata Yumiko berkunang-kunang melihat kedatanganku. Kami saling berpelukan, sama-sama meluapkan rasa kecewa.
“Kapan kamu menikahiku?” tanya Yumiko.
“Secepatnya aku menikahimu. Aku janji akan menikahimu.” aku mencoba meyakinkan gadis dihadapanku.
“Bukankah ayahmu tidak merestui hubungan kita? Apa yang akan kamu lakukan?” Yumiko terheran-heran dengan jawabanku.
“Ya. Aku tahu itu, kaupun juga tahu. Tapi dengan ijin ayahmu, aku akan menikahimu disini.” aku tersenyum menatap Yumiko.
“Kau yakin akan menikahiku tanpa restu dari ayahmu?” Yumiko semakin penasaran denganku.
“Aku sangat yakin, aku mencintaimu. Kau harus percaya padaku. Aku telah berjanji akan menikahimu. Bukankah ayahmu pun sudah merestui hubungan kita?” aku melemparkan senyum pada Yumiko.
Nampaknya, Yumiko semakin bahagia dengan jawaban yang kuberikan. Aku pun berharap, Yumiko yakin denganku. Apapun yang terjadi, aku akan segera menikahi gadis yang teramat aku cintai.
Sebulan kemudian, aku menemui Pak Takigawa untuk melamar anak gadisnya, Yumiko. Alhasil, lamaranku diterima dan direstui. Aku segera merencanakan pernikahanku dengan Yumiko secepatnya. Aku segera menghubungi ibu. Dan ibu mendoakanku agar pernikahanku berjalan dengan baik.
Seminggu sebelum pernikahanku, aku teringat kepada ayah. Ayahku tak pernah merestui hubunganku. Apakah ayah tahu aku akan menikah? Apakah ayah masih menganggapku sebagai anaknya? Apakah aku sekarang menjadi anak durhaka? Berbagai pertanyaan muncul dibenakku. Betapa beratnya dosa yang aku perbuat kepada laki-laki itu.
Saat itu juga aku mencoba untuk menghubungi ayah. Mungkin ayah sudah memaafkanku. Aku mencoba berpikir positif tentang ayah, entah jawaban apa yang ayah berikan, aku tidak peduli.
“Ayah?” tanyaku ketika ayah mengangkat teleponku.
“Ya, ada apa lagi kau menghubungiku?” ayah menjawab teleponku dengan nada menggertak.
“Ayah, aku minta restu untuk menikah…” tiba-tiba ayah memotong pembicaraanku.
“Minta saja restu pada orangtuamu. Aku ini sudah tak punya anak. Anakku sudah mati, kau siapa menghubungiku? Memangnya aku mengenalmu?” ayah semakin membentakku.
“Ayah, sekali lagi maafkan aku. Aku mencintai Yumiko. Tolong restui pernikahanku. Aku anakmu, Yah.” aku semakin berkaca-kaca dan berharap ayah segera merestuiku.
“Anak durhaka! Jangan hubungi aku lagi, keparat! Dan jangan pernah kembali kerumahku. Kalau kau sampai kembali, aku akan membunuhmu!” ayah semakin geram padaku, dan terselip kekecewaan dihatiku.
Setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi menghubungi ayah. Aku tahu, ayah sangat kecewa padaku. Dan aku pun tahu aku sudah melakukan dosa terbesar pada ayahku sendiri.


No comments:

Post a Comment