Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " LASTRI " Karya: Uliyahwati


ULIYAHWATI
LASTRI
Ingar-bingar kehidupan jalan raya menambah panas cuaca saat matahari berada tepat di atas kepala Lastri. Tapi Lasti masih saja sibuk dengan mik di tangannya untuk menyanyikan lagu yang dialunkan oleh tape yang dia panggul sendiri. Dia masih belum merasa lelah dengan keringat yang menetes begitu derasnya, padahal dia baru saja keliling jalan dan beroperasi dari elep satu ke elep lain untuk mengharapkan beberapa koin dari mereka pengguna kendaraan setelah memberikan sedikit hiburan lagu tarling. Jalanan di siang hari memang sangat ramai, seperti saat ini yang membuat Lastri memanfaatkannya sebaik mungkin, dia tak mau ketinggalan dengan teman-teman satu komunitasnya yang juga mengamen. Dia ingat, dia punya satu lagi tempat langganan yang sudah biasa memintanya untuk menghibur, dia masih tetap semangat melewati keramaian lalu lintas untuk mendekati langganannya yang berada di tepi jalan seberang. Dia bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Lampu merah menyala, semua kendaraan berhenti, trik, mobil, dan motorpun berhenti. Mata Lastri menangkap satu potret.
Lastri masih terpaku dengan pemandangan di depan matanya. Dia masih melihat bagaimana kehangatan sebuah keluarga yang sedang menaiki motor hijau seperti motornya yang dia beli meski dengan sistem kredit, murni dari hasil keringatnya sendiri. Keringat yang terus menetes membasahi pipinya yang tebal oleh bedak. Pemandangan itu seakan membuat konsentrasi menyanyi Lastri menjadi buyar, lagu tarling yang biasa dia nyanyikan dengan sedikit goyangan itu menjadi tak jelas didengar oleh orang-orang proyek langganannya yang biasa dia hibur setelah mereka bekerja.
            Dia masih ingat betul pertama kali dia membeli motor itu, suaminya belum pandai menggunakan motor sehingga dialah yang lebih sering duduk di depan. Namun lama kelamaan, Sultoni suaminya bisa juga memboncenginya bersama dua orang anaknya yang masih kecil, Mawar dan Danu, buah cinta mereka yang masih duduk di Sekolah Dasar.
            Hati Lastri berkecambuk begitu hebatnya. Dia begitu merindukan Mawar dan Danu yang sebentar lagi akan masuk sekolah dari libur semester ganjil. Dia juga seorang ibu yang berhati nurani, meski dia telah pergi hampir tiga bulan lamanya. Kepergian Lastri bukan tanpa alasan. Sultoni, suaminyalah yang dia jadikan tersangka.
            Lastri sudah begitu muak dengan lelaki pengangguran itu. Sultoni tak pernah memberikan nafkah kepadanya sejak mereka menikah. Sultoni sudah sakit-sakitan, fisiknya lemah, dia mudah capek dan tidak diperbolehkan untuk bekerja berat. Dukun di desanya bilang, Sultoni dirasuki oleh jin perempuan yang menyukainya, sehingga jin itupun takkan rela jika Sultoni kelelahan. Tentu saja Lastri sudah tahu akan kelemahan fisik Sultoni yang mungkin berimbas pada masa depannya sebagai istri. Tapi Lastri takkan bisa lari dari kekasihnya kala itu. Hubungan mereka sudah ditentang oleh orang tua Lastri yang hendak menjodohkan Lastri dengan lelaki yang lebih baik dari Sultoni. Sayangnya, lelaki itu tak mau gadis yang sudah tak perawan lagi, karena Sultoni telah berhasil mendapatkan kesucian Lastri dengan cara yang begitu keji, dia merayu Lastri untuk melepaskan keperawanannya demi mendapatkan restu untuk menikah. Hingga sepuluh tahun telah berlalu, Lastri masih berandai : “Jika saja malam itu aku tak menginap di rumah Mas Sultoni.”.
            Sultoni begitu pencemburu. Dia selalu menanyakan pada Lastri akan kebenaran cerita orang-orang desa yang mengatakan bahwa Lastri telah jual diri. Tentu saja Lastri selalu menyangkalnya. Tapi Lastri adalah Lastri yang sudah terlalu bosan dengan pertanyaan Sultoni.
            Kekasih yang dulu dia bela-bela di depan keluarganya itu telah menjadi bajingan kakap. Sultoni bahkan tak pernah memberikannya uang sepeserpun. Sultoni hanya memberikannya uang sebesar dua puluh ribu rupiah, itupun sebagai mas kawin saat pernikahan mereka. Lastrilah yang selama ini menjadi seorang ibu dan ayah bagi keluarga kecilnya. Sebelumnya, Lastri bekerja sebagai tukang cuci di rumah ibu Retno, seseorang yang dipandang bijaksana di matanya, karena Ibu Retnolah yang selalu memberikan pekerjaan untuknya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya barang makan sehari-hari, namun lama kelamaan anak-anaknya membutuhkan biaya untuk sekolah sehingga Lastri harus mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan uangnya. Lastri hanyalah wanita desa yang tak punya keterampilan apapun, tapi dia punya suara emas saat mengaji bersama teman-temannya sewaktu kecil, dialah yang sering disuruh membaca al-Quran dengan nada yang indah saat ada acara pengajian di desanya. Tapi suara itu tak lagi mengumandangkan ayat suci. Suaranya sudah telaten dengan lagu-lagu tarling untuk menghibur orang di jalanan, dia telah menjadi pengamen dengan suara yang merdu dan wajah yang cantik yang membuatnya banyak mendapatkan saweran dibanding teman-teman satu komunitasnya. Awalnya Sultoni tak mengizinkan Lastri melakoni pekerjaannya itu, tapi lama kelamaan justru Sultonilah yang lebih menikmati hasil kerja keras Lastri.
Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin saat ini dia, suaminya, dan kedua anaknya masih tinggal di satu kamar dalam rumah orang tua Sultoni yang berisikan tiga keluarga kecil karena kedua kakak Sultoni yang sudah berkeluargapun masih tinggal di rumah orang tuanya. Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin Lastri akan terus bertengkar dengan kakak perempuan Sultoni karena tak pernah ikut iuran membeli beras untuk makan. Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin Lastri masih diintip oleh kakak laki-laki Sultoni saat mandi yang bila Lastri mengadu pada Sultoni, maka Sultoni akan menghajar habis-habisan kakak laki-lakinya itu dan keributan itu akan didengar oleh orang-orang di desanya. Kalau Lastri tak mengamen, mungkin dia masih terus dilihat dengan mata genit kakak laki-laki  ipar Sultoni yang hampir saja memperkosanya saat dia sedang tidur. Kemolekan Lastri begitu membawa keserakahan yang melihatnya.
            Tapi saat ini Lastri telah menjadi pengamen hebat di mata orang-orang. Dia sudah bisa membuat sepetak rumah dari sisa tanah milik orang tua Sultoni. Rumah itu hanya memiliki dinding depan dan belakang, karena dinding samping kanan sudah menempel dengan rumah orang tua Sultoni dan dinding samping kiri sudah menempel dengan rumah tetangganya yang lain. Rumah itu memiliki tiga sekat, sekat paling belakang untuk kamarnya dan suaminya, sekat berikutnya untuk kamar anak-anaknya, dan sekat depan untuk menaruh tv dan motor. Lastri memang belum bisa membuat dapur dan kamar mandi sendiri, dia masih menumpang di rumah orang tua Sultoni untuk urusan MCK. Tapi Lastri telah berhasil membangun kamar mandi yang ditutup oleh dinding mengganti bambu yang sudah bercelah, membeli pintu seng kemar mandi menggantikan kain penutup yang sudah robek, dan membeli kakus, sehingga tak perlu lagi ke sungai untuk buang air besar. Semuanya dia bangun di rumah orang tua Sultoni. Semuanya dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya. Kerja keras yang tak jauh dari bisikan-bisikan mulut para tukang gosip di desanya. Dia tak jarang menjadi bahan gunjingan orang-orang :”Hebat benergajihnya ngalahin PNS, masa jadi pengamen udah bisa buat rumah, beli motor, sama beli tipi ? Apa lagi kalau bukan karna jual diri ?”, “Tadi waktu saya lagi pergi ke kota buat blanja bulanan, saya lihat si Lastri ngamen depan banyak laki-laki di alun-alun. Goyangannya ituloh, waduuuuuh, ngalahin Trio Macan !”.
            Sehebat apapun Lastri dalam bekerja, nyatanya mulut orang-orang desa itu lebih hebat darinya. Kabar itu begitu santer berkembang di desa. Bahkan Mak Lastri yang tinggal di desa sebelah pernah bertandang ke rumah Lastri yang awalnya tak sudi untuk menemui Lastri sejak menikah dengan Sultoni. Dia menanyakan kebenaran berita itu, dan Lastri berhasil meyakinkan bahwa kabar itu hanya keluar dari mulut orang-orang yang iri terhadapnya. Dia juga berhasil membohongi ibunya bahwa keadannya baik-baik saja dalam tekanan batin yang dia rasakan.
            Saat ini Lastri telah tinggal di kontrakan kecil di kota seberang yang sebenarnya tak terlalu jauh dari kotanya itu, karena tempat itulah area Lastri menghibur orang-orang. Tapi Sultoni tak pernah tahu keberadaan Lastri, karena Sultoni hanya mengantar Lastri dengan motornya sampai perempatan saja, seterusnya dia menggunakan elep dan Sultoni tak tahu lagi ke mana arah Lastri pergi. Yang dia tahu, pukul lima sore dia menjemput kepulangan Lastri di perempatan dengan membawa banyak uang recehan yang nantinya akan ditukar dengan uang lembaran di warung Ibu Retno. Mulut-mulut orang desa memang begitu telaten dan lincah saat berbicara. Baru saja uang recehan itu dibawa Mawar untuk ditukar ke warung Ibu Retno, maka semua mata orang-orang desa yang sedang berbelanja di warung Ibu Retno akan memandang kaget dan dilanjutkan dengan pertanyaan selidik :”itu uang hasil ngamen Mak mu War ? Jumlahnya berapa ? Banyak bener ? Ngamennya di mana si ?”.
            Mawar sudah bukan anak kecil yang tak tahu apa-apa lagi, Mawar sudah cukup besar untuk tahu omongan orang-orang desa. Dia bahkan pernah memberanikan diri untuk melarang Maknya berangkat kerja. Namun tangan Mawar yang saat itu mengganduli kaki Lastri langsung ditendangnya sambil berkata :” kalau Mak gak kerja, kamu mau makan apa ? kamu gak akan sekolah kaya temen-temenmu War. Bapakmu juga tak kan pernah minum susu setiap hari. Kamukan tahu sendiri, sehabis sarapan saja harus minum susu tak mau minum air putih sekalipun seperti kita. Kalau kamu berani, silahkan ngomong sama Bapakmu yang bisanya cuma main dara terus sama temen-temennya itu, suruh kerja barang ke sawah cari rumput untuk dijual buat makan kambing. Jangan cuma ngabisin uang. Kamu pikir bapakmu itu orang yang bertanggungjawab ? Kalau menuduh yang bukan-bukan, bilangnya aku ini selingkuh, tapi justru dia yang tiap malam minta jatah di selangkangan tanpa peduli kalau aku ini pegel seharian manggul tip.”. Lastri bahkan tak perduli dengan siapa dia bicara.
            Sesekali Lastri menelpon Ibu Retno untuk menanyakan kabar anak-anaknya. Memang Ibu Retnolah yang dia anggap bisa menjaga rahasianya, dia selalu bercerita keluh kesah kehidupannya. Bahkan Ibu Retnolah satu-satunya orang yang dia pamiti saat akan minggat. Pagi itu, dia berdandan seperti biasanya. Cantik seperti biasanya, mengenakan kaos oblong, celana jeans, sepatu kets, dan tas pinggang tempat uang, juga tak lupa tape besar sebagai pengiring musik untuk menyanyinya. Dandananya yang tampak seperti biasanya itulah yang membuat Sultoni tak curiga, meskipun di waktu malam sebelumnya, Sultoni lagi-lagi membuat emosi Lastri naik dan terjadilah pertengkaran terhebat dari pertengkaran-pertengkaran sebelumnya.
            Pukul lima sore, Sultoni menjemput Lastri di perempatan. Dia tak juga melihat batang hidung Lastri hingga azan maghrib berkumandang. Dia menunggunya bahkan hingga pukul sembilan malam. Dia pulang dengan tanpa seorangpun diboncengannya. Malam itu kedua anaknya sudah tidur. Sultoni khawatir akan keadaan Lastri, dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan olehnya. Sudah puluhan kali dia menelpon istrinya dengan hp china yang dibelikan oleh Lastri, tapi nomor hp Lastri tak aktif. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Saat ini kekhawatirannya bercampur dengan rasa curiga seperti membenarkan omongan orang desa yang mengatakan bahwa Lastri punya selingkuhan orang kaya yang memberinya banyak uang, dan uang yang selama ini Lastri dapatkan adalah hasil jual diri bersama orang tersebut, atau Lastri nyasar, atau Lastri kecelakaan, atau Lastri bunuh diri. Berbagai macam pikiran buruk muncul dalam lamunan Sultoni hingga pagipun datang.
            Paginya Sultoni memberanikan diri untuk pergi ke kota mencari Lastri. Tapi Sultoni tak berhasil menemukan keberadaan Lastri, dia bahkan harus ditilang oleh polisi karena tak paham betul dengan rambu-rambu lalulintas, dia ditilang oleh polisi karena dia tak punya SIM. Polisi yang liar itu meminta uang pada Sultoni jika mau motornya tak disita sebagai tebusan kesalahannya. Sultoni tak bisa melakukan apapun, dia menjual hp satu-satunya yang dia punya untuk menghubungi Lastri untuk menebus pelanggarannya. Polisi itu benar-benar memanfaatkan keadaan Sultoni yang tak tahu apapun mengenai lalu lintas dengan menyuruhnya membayar uang sebesar tiga ratus ribu rupiah setara dengan harga hp yang dia jual.
            Tak tahan dengan kerinduan begitu mendalam yang dirasakan Lastri terhadap Mawar dan Danu, dia menghubungi Ibu Retno.
            “Bu, ini Lastri,” kata Lasti.
            “Iya Las, ada apa ?” jawab Ibu Retno di seberang sana.
            “Kabar anak-anak saya bagaimana Bu ?”
            “Anak-anakmu baik-baik saja Las, kamu kangen sama anakmu ? Anak-anakmu juga pasti kangen denganmu Las, sebentar lagi merekakan juga masuk sekolahnya. Oh ya, kemaren Mawar nanya tentang kamu. Kayaknya dia sudah tahu kalau kamu suka telpon saya Las,”
            “Tapi Ibu tak pernah bercerita dengan siapapunkan tentang saya Bu ?”
            “Insya Allah tak jaga rahasiamu Las. Tapi mungkin, Sultoni curiga karena saya suka kasih uang dan makanan ke Mawar sama Danu Las, mungkin Sultoni sudah mulai berpikir kalau uang itu adalah uang titipanmu buat Mawar sama Danu,”
            “Memangnya mas Sultoni nanya ke Ibu ?”
            “Sampai saat ini Sultoni sih gak nanya tentang kamu, tapi mungkin dia yang menyuruh Mawar untuk nanya ke saya, kamu suka telpon gak ke saya. Sultonikan sudah tahu kalau kamu suka cerita hal apapun sama saya,”
            “Lalu sekarang saya harus gimana Bu ? Jujur saya sangat rindu dengan anak-anak saya,”
            “Saya rasa kamu harus pulang Las, kasihan anak-anakmu itu. Mereka juga butuh kamu. Lagian uang persediaan di rumah kamu juga sepertinya sudah mulai habis, soalnya kalau Mawar beli apa-apa di sini, sudah pake uang ratusan ribu Las, pasti itu uang simpanan kan, dia gak pake uang recehan lagi,”
            “Iya Bu, terus terang saya juga pengen pulang, pengen ngajak anak-anak saya kumpul sama saya, tanpa mas Sultoni. Rasanya sudah tidak pengen lagi dekat-dekat dia. Nyatanya selama ini saya bisa cari uang. Jadi saya rasa saya tidak butuh dia Bu. Tapi...”
            “Tapi apa ? kamu masih cinta sama Sultoni ?”
            “Bukan bu, saya sudah benci sama dia. Saya cuma takut.”
            “Takut apa ?”
            “Akhir-akhir ini saya sering kecapean Bu, saya sering muntah-muntah, dan saya sudah tidak mens lagi Bu, sudah empat bulan tak mens Bu. Badan saya kurus, tapi perut saya besar.”
            “Apa ? kamu hamil ?”
            “Sepertinya begitu Bu, saya juga tidak mau anak saya lahir tanpa Bapak.”
            “Tapi Las, sebenarnya ada hal yang belum pernah saya ceritakan ke kamu. Tapi sekarang, sepertinya sudah saatnya kamu tahu,”
            “Apa Bu ?”
            “Semenjak kepergian kamu, anak-anakmu tak terurus Las, Sultoni sibuk cari-cari kamu. Habis itu dia ngelamun terus. Kamu tahukan anaknya Pak Samir juragan sapi itu?”
            “Rahma maksud Ibu ? dia itukan mantan pacarnya mas Sultoni.”
            “Iya Las, Rahma sering main ke rumahmu. Dia yang suka ngurusin anak-anakmu. Dia juga yang sering buatin sarapan dan bersihin rumahmu. Tetangga sudah pada ngegosipin Las. Katanya mereka berbuat zina. Habisnya, dari pagi sampe malem di rumahmu terus si Rahma. Pak Samir lama kelamaan juga gak tahan dengan kabar itu. Dia akhirnya meminta Sultoni benar-benar menikahinya Las. Sepertinya anak-anakmu yang sudah terlanjur dekat dengan Rahma juga kelihatan senang. Sebenarnya saya pengen ngasih tahu ini ke kamu dari dulu. Tapi saya bingung bagaimana cara mengatakannya. Dua hari lagi mereka mau ke KUA, dan gosipnya lagi, Sultonilah yang akan membantu Pak Samir buat ngurusin sapi-sapinya. Maaf Las, maafin saya,”
            Hati Lastri begitu hancur mendengar kabar itu. Sebesar apapun kebencian Lastri terhadap Sultoni, nyatanya masih ada setetes rasa yang dia harapkan dari aksi kepergiannya selama ini. Setidaknya dia berharap, Sultoni harus bisa yakin bahwa sebenarnya Lastri bisa minggat kapanpun yang Lastri mau, tapi dia baru melakukannya sekarang karena dia tak bisa meninggalkan Sultoni dalam kelemahannya, dan itu karena cinta.
            Matanya menerawang jauh kembali ke masa satu dekade sebelumya. Bagaimana dialah yang menjadi orang ketiga hubungan Sultoni dan Rahma, kecantikannyalah yang membuat Sultoni lebih memilih Lastri dibanding kekayaan keluarga Rahma. Bagaimana keduanya mengukuhkan hubungan hingga akhirnya sampai di gerbang penikahan. Bertahan dari sikap keluarga Sultoni yang tak menyukai Lastri yang telah menggagalkan pernikahan Sultoni dengan anak orang kaya seperti Rahma. Bertahan dari sikap keluarga Lastri yang tak menyukai laki-laki selemah Sultoni yang tak yakin bisa menjadi suami yang bertanggungjawab.
Dua hari kemudian....
            “Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Sularma binti Muhammad Samir dengan mas kawin uang sebesar Dua ratus ribu rupiah dibayar tunai”
            Kata sah begitu gegap gempita di kantor KUA. Senyum mengembang di bibir orang tua dan kakak-kakak Sultoni yang telah berhasil membohongi Mawar dan Danu bahwa maknya telah meninggal karena sudah tak ada kabar.
            Namun kebohongan itu sudah menjadi sebuah kebenaran saat kamar kontrakan Lastri sudah berbau busuk.
Setelah didobrak oleh orang-orang yang curiga karena penghuninyapun tak pernah keluar rumah, terlihatlah seorang tergantung dari atap kamar.  

No comments:

Post a Comment