Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Satu Jam dalam Senja" Karya : Siti Lestari Handayani

Siti Lestari Handayani
Satu Jam dalam Senja
Satu demi satu terurai sudah. Yang semula tak nampak, kini terlihat jelas. Bahkan sekarang aku mampu membaca raut wajahmu. Aku merasa lega, karena mungkin sekarang perahumu telah berlabuh di sebuah pulau. Seandainya angin sanggup mengantarkan pesanku padamu, aku pasti mendapatkan jawaban mengapa kau meninggalkanku. Namun sayang, bahkan angin pun tak mau mendengar bisikku. Dan dengan girangnya ia mengatakan bahwa kau telah sampai di sebuah pulau bersama seseorang yang singgah di perahumu. Setelah itu ia pergi tanpa meninggalkan ombak yang membawa pesan untukku. Terkadang ia datang hanya untuk menari-nari di atas ombak yang dibuatnya. Ia menertawakanku. Sementara aku, aku telah terjatuh ke dasar laut. Hanya kegelapan yang kulihat. Dingin yang mendekap, aku tak mampu bergerak.
Aku adalah wanita yang tidak beruntung. Aku selalu merasa kesulitan mendapatkan apa yang aku inginkan. Sementara orang lain begitu mudah memiliki apa yang sangat aku harapkan. Seperti senja ini, bahkan awan pun tak mengizinkanku melihat keindahan mentari yang mulai tenggelam. Kabut hitam dan kilatan petir seperti petanda bahwa saat ini langit tidak ingin bersahabat denganku. Gulungan ombak yang berutubi-tubi menghantam batu karang semakin memperjelas bagaimana buruk cuaca senja ini. Namun hal itu tidak mengurungkan niatku untuk tetap di sini. Kurentangkan kedua tanganku. Kuhirup udara senja ini dalam-dalam. Kubiarkan angin membelai tubuhku sepuasnya. Perlahan kupejamkan mata. Berusaha mengingat memori bersamamu. Bayangmu pun mulai muncul di pikiranku.
“Kau kenapa? Kau habis dipukuli ya? Wajahmu memar dan mengeluarkan darah,” kata seorang anak laki-laki yang menggunakan seragam SMP yang sama denganku.
“Kenapa kau diam saja? Piala itu milikmu? Kau tidak mencuri piala itu kan?” tambahnya.
“Aku tidak mencuri. Ini pialaku,” jawabku sambil menghapus airmata di pipiku.
“Lalu kenapa kau menangis? Wajahmu jelek sekali kalau menangis,” balasnya.
Itulah pertama kali aku bertemu dengan Adit. Di sebuah taman bermain anak-anak yang selalu menjadi pemberhentianku. Jika ibu memarahiku, aku akan berlari menuju tempat ini. Kali ini, ibu tidak hanya memarahiku, tetapi juga memukuliku. Tentu saja itu karena piala yang aku bawa. Aku tidak tahu mengapa ibu seperti itu kepadaku. Bukankah orangtua akan bangga jika anaknya mendapatkan juara? Tetapi mengapa ibuku tidak? Ia akan lebih marah daripada ketika aku tidak mencuci piring kotor yang menumpuk. Ia akan lebih marah daripada ketika aku mengeluarkan suara yang membangunkannya ketika ia sedang tidur. Ia akan memukuliku dan mengumpat bahwa ia menyesal telah melahirkanku. Ia selalu mengatakan bahwa memiliki seorang anak perempuan sepertiku adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tidak hanya itu, tetapi ibu juga akan membanting pialaku hingga hancur, merobek sertifikat kejuaraanku, lalu mengusirku. Aku hanya menjerit kesakitan ketika ibu memukuliku. Namun kali ini aku berhasil melindungi pialaku. Tidak seperti biasanya, aku membuang pialaku ke tong sampah di pinggir jalan menuju rumah. Kali ini aku merasa piala itu sangat berharga karena aku berhasil meraih juara satu lomba matematika tingkat nasional. Di taman itulah awal kisahku bersama Adit dimulai. Sejak saat itu Adit yang menyimpan piala-piala yang aku dapatkan. Bahkan ia membuatkan rekening untuk menyimpan uang yang aku hasilkan dari juara lomba. Ia selalu menghiburku di saat aku merasa sedih. Ia selalu ada untukku. Hingga kami sekolah di SMA yang sama, ia menjadi satu-satunya temanku. Wajar saja, aku bersekolah di sekolahan elit karena beasiswa, jadi tidak ada yang mau berteman denganku saat itu. Tetapi hal itu tidak membuatku sedih, karena Adit selalu menemaniku.
Aku menghela napas semakin dalam. Tanpa kusadari, airmata mulai membasahi pipiku. Kurasakan bayangan itu semakin tajam. Memori itu masih terlihat jelas di otakku. Bayangan dua orang menyusuri pantai langsung memenuhi pikiranku.
“Kau yakin ibumu tidak marah? Kau tidak bisa memasukkan piala sebesar itu ke dalam tasmu?” kata Adit kepadaku.
“Aku berani bertaruh. Kali ini ibu pasti tidak memarahiku,” balasku.
“Kau yakin? Kalau ternyata ibumu tahu bagaimana?” jawab Adit.
“Kau sungguh berharap aku di marahi ibu lagi?” jawabku cemberut.
“Hahaha...tentu saja tidak. Tetapi apakah tidak apa-apa kau pulang selarut ini? Bagaimana jika ibumu tahu?” jelasnya dengan raut muka yang khawatir.
“Aku sudah berusaha keras untuk mengalahkanmu. Untuk piala seberharga ini, aku tidak ingin kau menyimpannya,” balasku dengan tawa.
“Kau bangga sekali bisa mengalahkanku. Sepertinya aku harus kursus bahasa Inggris untuk mengalahkanmu,” jawab Adit menerima kekalahannya.
“Hahaha...aku akan menjadi pakar matematika terkenal di dunia. Jadi aku bisa keliling dunia semauku,” balasku dengan sombong.
“Percaya percaya. Lalu bagaimana caramu masuk rumah? Kalau ibumu tahu bagaimana?” tanya Adit masih mengkhawatirkanku.
“Kau tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku akan lewat pintu belakang. Aku sudah membawa kuncinya. Aku juga sudah mempersiapkan tempat untuk piala ini. Tenang saja, semua sudah beres,” jawabku meyakinkan.
“Baiklah kalau begitu. Jangan lupa matikan ponselmu,” Adit mengingatkanku.
“Yes, Sir,” jawabku dengan gerakan hormat layaknya prajurit yang sedang menghadap sang komandan.
Aditlah yang memberiku ponsel itu. Entah ia mendapatkannya dari mana. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus menerimanya agar ia lebih mudah menghubungiku. Meskipun aku sudah menolaknya, ia kekeh memberikan ponsel itu padaku. Aku terpaksa menerimanya.
Adit memang orang yang baik. Tidak hanya mau menjadi temanku, tetapi Adit juga sering memberiku barang atau makanan yang belum pernah aku coba sebelumnya. Ia juga  membimbingku mempelajari dunia teknologi, mengajariku bagaimana bersikap di depan orang-orang penting dan menyikapi mereka yang selalu mencemoohku. Ia pandai dalam segala hal. Tak jarang kami saling mengalahkan di berbagai lomba akademik. Meskipun kami telah mengenal lama satu sama lain, tetapi ada yang tidak aku ketahui tentang Adit, yaitu keluarganya. Awalnya aku berpikir bahwa Adit adalah anak orang kaya, tetapi melihat gaya hidupnya yang sederhana membuatku berpikiran lain. Adit juga tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Bahkan aku tidak pernah mendengar ia menyebut keluarganya, selain adiknya yang bernama Alfi. Entahlah, semua kebingunganku tentang keluarganya tidak membuatku ingin menjauh darinya. Aku merasa nyaman berada di sisinya. Bahkan hingga perasaan ini muncul begitu saja. Perasaan bukan untuk seorang teman, tetapi lebih dari itu. Aku akan memendam perasaan ini, menunggu Adit untuk memulainya lebih dulu.
“Naira, ketika kau tak sanggup menahan laju angin, aku akan datang menahanmu, agar kau tetap berdiri kokoh. Ketika langit mengeluarkan kabut hitam, aku akan menjadi bintang yang mampu menerangi langkahmu. Jangan takut dan jangan pernah menyerah, karena aku pasti ada untukmu,” kata Adit mengagetkanku.
Kata-katanya memecahkan keheningan di antara kami. Aku tak mengerti maksud dari kata-katanya itu. Ia lalu menepuk pundakku dan tersenyum. Aku tersenyum membalasnya.
Meskipun angin malam terus memperingatkan kami, tetapi kami tidak juga undur diri. Kami sangat menikmati malam itu. Kami berkejar-kejaran, lalu terjatuh, dan bangun mengejar lagi. Membuat istana pasir dengan saling menghancurkan milik satu sama lain. Canda dan tawa menghiasi malam itu. Aku benar-benar bahagia. Rasanya aku tidak ingin malam itu berakhir. Namun angin kembali menyadarkan kami. Suasana sudah semakin dingin dan Adit pun menawarkanku untuk pulang.
Aku mengendap-endap layaknya maling yang hendak mencuri di rumah sendiri. Aku pastikan tidak ada suara yang bisa membangunkan ibu dari tidurnya. Perlahan kumasukkan kunci ke lubangnya. Kuputar secara perlahan kunci itu, dan berhasil. Aku pun masuk dan tidak lupa mengunci pintu kembali. Aku menghela napas lega. Namun tiba-tiba lampu menyala. Aku terperanjat kaget. Jantungku berdegub kencang. Seseorang di belakangku langsung memukuliku. Aku hanya bisa menunduk berusaha melindungi kepalaku.
“Dasar anak sialan. Anak tidak tahu diri. Jam berapa sekarang anak perempuan baru pulang?” umpat ibu sambil terus memukuliku.
“Ampun Bu, ampun.”
Ibu mendorongku hingga ponsel di sakuku pun jatuh. Ibu kaget melihatnya. Ia langsung mengambil ponsel itu dan membantingnya. Ia memukuliku lebih keras lagi.
“Kamu dapat darimana barang seperti itu? Kau menjual tubuhmu, hah? Dasar pelacur kamu. Aku menyesal memiliki anak sepertimu. Dasar anak tidak tahu diuntung,” umpat ibu sambil terus memukuliku.
Aku menjerit kesakitan. Tetapi ibu tidak juga berhenti memukuliku. Aku sudah berulang-ulang meminta ampun, ia tetap saja tak berhenti memukuliku. Ia tak peduli darah telah mengucur dari keningku. Ia tak peduli dengan jerit kesakitanku. Ia tak peduli meski aku terkapar dan hanya mampu merintih kesakitan. Ia bahkan memukulku dengan piala yang aku bawa. Tidak hanya itu, ia memukul kaki kiriku dengan tongkat besi. Aku tak bisa merasakan tubuhku. Semuanya terasa kaku. Kulihat ibu mulai menghilang dari pandanganku.
Perlahan aku membuka mata. Aku telah terbaring di sebuah ruangan yang dipenuhi alat-alat kedokteran. Aku berusaha memanggil suster yang  sedang manaruh obat itu, tetapi tak bisa. Hanya rintihan yang keluar dari mulutku.
“Eeeeerhhh....”
“Kau sudah bangun? Syukurlah. Tunggu sebentar ya, saya panggil dokter dulu,” kata suster yang ternyata mendengar rintihanku.
Tak lama kemudian datanglah seorang dokter. Ia lalu memeriksa keadaanku.
“Kondisimu sudah membaik,” tuturnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhku. Aku tidak dapat merasakan kaki kiriku. Kulihat ke arah kakiku yang masih tertutupi selimut. Raut muka dokter dan suster tiba-tiba berubah. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi.
“Sabar ya, Naira. Kami terpaksa mengamputasi kaki kirimu. Ini demi kebaikanmu. Jika kami tidak segera mengambil tindakan, keadaanmu bisa lebih parah,” tutur dokter itu.
Apa? Kakiku diamputasi? Apakah ini mimpi? Tolong katakan bahwa ini mimpi. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa hidup seperti ini. Lebih baik aku mati daripada harus hidup dengan satu kaki. Tuhan, apa salahku sehingga Kau mengambil kakiku? Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan kakiku kembali? Aku tidak bisa hidup seperti ini, Tuhan. Aku sungguh tidak bisa. Tolong kembalikan kakiku, Tuhan. Aku menangis sejadi-jadinya.
Satu bulan aku dirawat di rumah sakit. Dokter yang merawatku selama inilah yang membiayai semua perawatanku. Sementara ibu, ia akan dikeluarkan dari penjara setelah aku meminta pihak kepolisian untuk mengeluarkannya. Meskipun aku kehilangan kakiku karena ibu, tetapi aku akan lebih sakit hidup tanpa ibu dengan kondisi seperti ini.
“Naira, maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu yang sudah membuatmu seperti ini. Ibu memang ibu yang jahat. Maafkan ibu sayang,” ibu menangis sambil bersujud di hadapanku.
Aku hanya bisa menangis, tak mampu membalas kata-katanya. Seandainya ibu tahu, bahwa aku tidak pernah sedikitpun membencinya. Seandainya ibu tahu betapa aku menghormatinya, betapa aku ingin membahagiakan hidupnya. Aku menangis dengan memalingkan wajahku. Aku tak sanggup menatap wajah ibu.
“Dulu, Ayahmu adalah seorang nomor satu di sekolah. Kecerdasan ayahmulah yang membuat ibu jatuh cinta padanya. Kami mejadi pasangan yang membuat orang lain iri kala itu. Kami sama-sama pintar, tapi ibu memilih tidak menjadi wanita karir untuk menghormati ayahmu sebagai kepala keluarga. Banyak yang iri dengan kecerdasan ayahmu. Hingga suatu saat ada yang tidak terima dengan keberhasilan ayahmu. Dia melakukan segala hal untuk menghancurkan ayahmu, bahkan ayahmu ditabrak di depan mata kepala ibu sendiri. Ibu depresi menerima kenyataan itu, padahal saat itu ibu sedang mengandungmu. Keyla, kakakmu, ibu serahkan ke saudara ibu untuk merawatnya. Ibu pikir ia akan menderita jika hidup bersama ibu yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kakakmu sama sepertimu. Ia cantik dan cerdas. Tapi lagi-lagi kecerdasan yang dimilikinya membawa orang yang ibu cintai berada dalam bahaya. Ia diperkosa oleh orang suruhan temannya yang tidak terima dengan keberhasilannya. Kakakmu memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Itulah sebabnya ibu tidak ingin kau mengejar cita-citamu. Tetaplah di sini bersama ibu. Tidak apa-apa kita hidup miskin, asalkan tidak ada yang mencelakaimu. Lebih baik ibu melihatmu dengan satu kaki, daripada ibu harus kehilangan orang yang ibu cintai untuk ketiga kalinya.”
Kami menangis sejadi-jadinya. Ibu memelukku erat. Aku tak tahu harus menjawab apa atas kenyataan yang baru aku ketahui ini.
Satu yang kutunggu setelah ibu, Adit. Kemana ia selama ini? Kenapa ia tidak muncul saat keadaanku seperti ini. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku bahwa dia akan selalu ada untukku, tapi apa? Ia tidak membuktikan kata-katanya. Ia tidak menepati janjinya. Tidak tahukan dia bahwa aku di sini membutuhkannya? Tidak tahukah dia bahwa aku merindukannya? Tidak tahukan dia bahwa sekarang aku hanya memiliki satu kaki? Kemana dia yang akan selalu ada untukku? Kemana dia yang akan menahan tubuhku jika angin menerpaku? Kemana dia yang akan menerangi langkahku ketika kegelapan langit menyelimutiku? Sekarang angin telah berhasil menerpaku. Aku tidak bisa menahan tubuhku. Aku telah terjatuh dan langit telah mengeluarkan kegelapannya. Dimana engkau Adit?
Aku benar-benar merasa sebagai wanita yang tidak beruntung. Aku kehilangan mimpiku. Menjadi seorang pakar matematika yang bisa keliling dunia, rasanya tidak mungkin lagi. Mimpi yang dulu terasa dekat, sekarang terasa begitu jauh. Aku tidak mempunyai harapan lagi. Hidup dengan satu kaki benar-benar membuatku merelakan impian itu. Aku juga telah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Adit, aku sudah tidak melihatnya selama lima tahun. Ia hanya mengabarkan lewat surat bahwa adiknya, Alfi, meninggal dunia. Ia juga mengirim rekening tabungan hasil juaraku selama ini. Yang membuat aku tercengang adalah ketika aku mendapat kabar bahwa dia telah menikah dengan wanita lain. Betapa terkejutnya aku setelah mendengar kabar itu. Aku tak ingin mempercayainya. Ini terasa seperti mimpi. Orang yang sangat aku rindukan kini telah menjadi laki-laki dari wanita lain? Aku tidak percaya itu. Apakah aku tidak memiliki nilai sedikitpun di matanya? Apakah kenangan bersamaku selama lima tahun sudah terhapus dalam hidupnya? Apakah ia benar-benar tidak memikirkanku lagi? Atau bahkan ia telah melupakanku? Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Aku bahkan baru mengetahui bahwa dia adalah putra dari seorang konglomerat setelah seorang teman memberitahuku. Sampai saat ini aku tidak tahu alasan mengapa ia melakukan ini padaku.
Kuhirup lagi udara malam ini. Pipiku terasa lengket karena airmata yang mengering. Senja kini berubah menjadi malam. Tak terasa satu jam aku berdiri di sini. Tubuhku rasanya tak mampu lagi menahan laju angin yang begitu kencang. Kuputuskan untuk mengakhiri kenangan di pantai itu. Belum sempat aku berbalik, aku mendengar seseorang menyapaku.
“Naira, ketika kau tak sanggup menahan laju angin, aku akan datang menahanmu, agar kau tetap berdiri kokoh. Ketika langit mengeluarkan kabut hitam, aku akan menjadi bintang yang mampu menerangi langkahmu. Jangan takut dan jangan pernah menyerah, karena aku pasti ada untukmu.”
Aku terkejut mendengar suara itu. Aku menoleh ke belakang. Seseorang yang kukenal. Seseorang yang sangat kurindukan, Adit. Bayangannya terlihat jelas di hadapanku.
“Aku telah terjatuh ke dalam lautan dan menjelma menjadi sebuah batu keras yang tak mampu bergerak. Dan engkau bagaikan permata di lautan, yang mengeluarkan cahaya keemasan dan mampu membuatku melihat keindahan laut ini. Tanpamu aku tak mampu merasakan apa yang terjadi di sekitarku. Tanpamu, jiwaku mati. Tetaplah di sisiku ketika aku tak mampu menahan laju angin. Jadilah penerangku di saat langit menyelimutiku dengan kegelapan. Dan jadikanlah aku seseorang yang memiliki tempat di hatimu. Karena aku tak mampu melihat tanpa kehadiranmu. Meski waktu berhasil memusnahkah ragaku, tetapi hatiku akan menunggu mutiara itu datang dan kembali menyinariku.”

No comments:

Post a Comment