Siti Lestari Handayani
Satu Jam dalam Senja
Satu demi satu terurai sudah. Yang semula
tak nampak, kini terlihat jelas. Bahkan sekarang aku mampu membaca raut
wajahmu. Aku merasa lega, karena mungkin sekarang perahumu telah berlabuh di
sebuah pulau. Seandainya angin sanggup mengantarkan pesanku padamu, aku pasti
mendapatkan jawaban mengapa kau meninggalkanku. Namun sayang, bahkan angin pun
tak mau mendengar bisikku. Dan dengan girangnya ia mengatakan bahwa kau telah
sampai di sebuah pulau bersama seseorang yang singgah di perahumu. Setelah itu
ia pergi tanpa meninggalkan ombak yang membawa pesan untukku. Terkadang ia
datang hanya untuk menari-nari di atas ombak yang dibuatnya. Ia menertawakanku.
Sementara aku, aku telah terjatuh ke dasar laut. Hanya kegelapan yang kulihat.
Dingin yang mendekap, aku tak mampu bergerak.
Aku
adalah wanita yang tidak beruntung. Aku selalu merasa kesulitan mendapatkan apa
yang aku inginkan. Sementara orang lain begitu mudah memiliki apa yang sangat
aku harapkan. Seperti senja ini, bahkan awan pun tak mengizinkanku melihat
keindahan mentari yang mulai tenggelam. Kabut hitam dan kilatan petir seperti
petanda bahwa saat ini langit tidak ingin bersahabat denganku. Gulungan ombak
yang berutubi-tubi menghantam batu karang semakin memperjelas bagaimana buruk
cuaca senja ini. Namun hal itu tidak mengurungkan niatku untuk tetap di sini.
Kurentangkan kedua tanganku. Kuhirup udara senja ini dalam-dalam. Kubiarkan
angin membelai tubuhku sepuasnya. Perlahan kupejamkan mata. Berusaha mengingat
memori bersamamu. Bayangmu pun mulai muncul di pikiranku.
“Kau
kenapa? Kau habis dipukuli ya? Wajahmu memar dan mengeluarkan darah,” kata
seorang anak laki-laki yang menggunakan seragam SMP yang sama denganku.
“Kenapa
kau diam saja? Piala itu milikmu? Kau tidak mencuri piala itu kan?” tambahnya.
“Aku
tidak mencuri. Ini pialaku,” jawabku sambil menghapus airmata di pipiku.
“Lalu
kenapa kau menangis? Wajahmu jelek sekali kalau menangis,” balasnya.
Itulah
pertama kali aku bertemu dengan Adit. Di sebuah taman bermain anak-anak yang
selalu menjadi pemberhentianku. Jika ibu memarahiku, aku akan berlari menuju
tempat ini. Kali ini, ibu tidak hanya memarahiku, tetapi juga memukuliku. Tentu
saja itu karena piala yang aku bawa. Aku tidak tahu mengapa ibu seperti itu
kepadaku. Bukankah orangtua akan bangga jika anaknya mendapatkan juara? Tetapi
mengapa ibuku tidak? Ia akan lebih marah daripada ketika aku tidak mencuci
piring kotor yang menumpuk. Ia akan lebih marah daripada ketika aku
mengeluarkan suara yang membangunkannya ketika ia sedang tidur. Ia akan
memukuliku dan mengumpat bahwa ia menyesal telah melahirkanku. Ia selalu
mengatakan bahwa memiliki seorang anak perempuan sepertiku adalah kesalahan
terbesar dalam hidupnya. Tidak hanya itu, tetapi ibu juga akan membanting
pialaku hingga hancur, merobek sertifikat kejuaraanku, lalu mengusirku. Aku
hanya menjerit kesakitan ketika ibu memukuliku. Namun kali ini aku berhasil
melindungi pialaku. Tidak seperti biasanya, aku membuang pialaku ke tong sampah
di pinggir jalan menuju rumah. Kali ini aku merasa piala itu sangat berharga
karena aku berhasil meraih juara satu lomba matematika tingkat nasional. Di
taman itulah awal kisahku bersama Adit dimulai. Sejak saat itu Adit yang
menyimpan piala-piala yang aku dapatkan. Bahkan ia membuatkan rekening untuk
menyimpan uang yang aku hasilkan dari juara lomba. Ia selalu menghiburku di
saat aku merasa sedih. Ia selalu ada untukku. Hingga kami sekolah di SMA yang
sama, ia menjadi satu-satunya temanku. Wajar saja, aku bersekolah di sekolahan
elit karena beasiswa, jadi tidak ada yang mau berteman denganku saat itu.
Tetapi hal itu tidak membuatku sedih, karena Adit selalu menemaniku.
Aku
menghela napas semakin dalam. Tanpa kusadari, airmata mulai membasahi pipiku.
Kurasakan bayangan itu semakin tajam. Memori itu masih terlihat jelas di
otakku. Bayangan dua orang menyusuri pantai langsung memenuhi pikiranku.
“Kau
yakin ibumu tidak marah? Kau tidak bisa memasukkan piala sebesar itu ke dalam
tasmu?” kata Adit kepadaku.
“Aku
berani bertaruh. Kali ini ibu pasti tidak memarahiku,” balasku.
“Kau
yakin? Kalau ternyata ibumu tahu bagaimana?” jawab Adit.
“Kau
sungguh berharap aku di marahi ibu lagi?” jawabku cemberut.
“Hahaha...tentu
saja tidak. Tetapi apakah tidak apa-apa kau pulang selarut ini? Bagaimana jika
ibumu tahu?” jelasnya dengan raut muka yang khawatir.
“Aku
sudah berusaha keras untuk mengalahkanmu. Untuk piala seberharga ini, aku tidak
ingin kau menyimpannya,” balasku dengan tawa.
“Kau
bangga sekali bisa mengalahkanku. Sepertinya aku harus kursus bahasa Inggris
untuk mengalahkanmu,” jawab Adit menerima kekalahannya.
“Hahaha...aku
akan menjadi pakar matematika terkenal di dunia. Jadi aku bisa keliling dunia
semauku,” balasku dengan sombong.
“Percaya
percaya. Lalu bagaimana caramu masuk rumah? Kalau ibumu tahu bagaimana?” tanya
Adit masih mengkhawatirkanku.
“Kau
tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku akan lewat pintu belakang. Aku
sudah membawa kuncinya. Aku juga sudah mempersiapkan tempat untuk piala ini.
Tenang saja, semua sudah beres,” jawabku meyakinkan.
“Baiklah
kalau begitu. Jangan lupa matikan ponselmu,” Adit mengingatkanku.
“Yes,
Sir,” jawabku dengan gerakan hormat layaknya prajurit yang sedang menghadap
sang komandan.
Aditlah
yang memberiku ponsel itu. Entah ia mendapatkannya dari mana. Ia hanya
mengatakan bahwa aku harus menerimanya agar ia lebih mudah menghubungiku.
Meskipun aku sudah menolaknya, ia kekeh memberikan ponsel itu padaku. Aku
terpaksa menerimanya.
Adit
memang orang yang baik. Tidak hanya mau menjadi temanku, tetapi Adit juga
sering memberiku barang atau makanan yang belum pernah aku coba sebelumnya. Ia
juga membimbingku mempelajari dunia
teknologi, mengajariku bagaimana bersikap di depan orang-orang penting dan
menyikapi mereka yang selalu mencemoohku. Ia pandai dalam segala hal. Tak
jarang kami saling mengalahkan di berbagai lomba akademik. Meskipun kami telah
mengenal lama satu sama lain, tetapi ada yang tidak aku ketahui tentang Adit,
yaitu keluarganya. Awalnya aku berpikir bahwa Adit adalah anak orang kaya,
tetapi melihat gaya hidupnya yang sederhana membuatku berpikiran lain. Adit
juga tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Bahkan aku tidak pernah mendengar ia
menyebut keluarganya, selain adiknya yang bernama Alfi. Entahlah, semua
kebingunganku tentang keluarganya tidak membuatku ingin menjauh darinya. Aku
merasa nyaman berada di sisinya. Bahkan hingga perasaan ini muncul begitu saja.
Perasaan bukan untuk seorang teman, tetapi lebih dari itu. Aku akan memendam
perasaan ini, menunggu Adit untuk memulainya lebih dulu.
“Naira,
ketika kau tak sanggup menahan laju angin, aku akan datang menahanmu, agar kau
tetap berdiri kokoh. Ketika langit mengeluarkan kabut hitam, aku akan menjadi
bintang yang mampu menerangi langkahmu. Jangan takut dan jangan pernah
menyerah, karena aku pasti ada untukmu,” kata Adit mengagetkanku.
Kata-katanya
memecahkan keheningan di antara kami. Aku tak mengerti maksud dari kata-katanya
itu. Ia lalu menepuk pundakku dan tersenyum. Aku tersenyum membalasnya.
Meskipun
angin malam terus memperingatkan kami, tetapi kami tidak juga undur diri. Kami
sangat menikmati malam itu. Kami berkejar-kejaran, lalu terjatuh, dan bangun
mengejar lagi. Membuat istana pasir dengan saling menghancurkan milik satu sama
lain. Canda dan tawa menghiasi malam itu. Aku benar-benar bahagia. Rasanya aku
tidak ingin malam itu berakhir. Namun angin kembali menyadarkan kami. Suasana
sudah semakin dingin dan Adit pun menawarkanku untuk pulang.
Aku
mengendap-endap layaknya maling yang hendak mencuri di rumah sendiri. Aku
pastikan tidak ada suara yang bisa membangunkan ibu dari tidurnya. Perlahan
kumasukkan kunci ke lubangnya. Kuputar secara perlahan kunci itu, dan berhasil.
Aku pun masuk dan tidak lupa mengunci pintu kembali. Aku menghela napas lega.
Namun tiba-tiba lampu menyala. Aku terperanjat kaget. Jantungku berdegub
kencang. Seseorang di belakangku langsung memukuliku. Aku hanya bisa menunduk
berusaha melindungi kepalaku.
“Dasar
anak sialan. Anak tidak tahu diri. Jam berapa sekarang anak perempuan baru
pulang?” umpat ibu sambil terus memukuliku.
“Ampun
Bu, ampun.”
Ibu
mendorongku hingga ponsel di sakuku pun jatuh. Ibu kaget melihatnya. Ia
langsung mengambil ponsel itu dan membantingnya. Ia memukuliku lebih keras
lagi.
“Kamu
dapat darimana barang seperti itu? Kau menjual tubuhmu, hah? Dasar pelacur
kamu. Aku menyesal memiliki anak sepertimu. Dasar anak tidak tahu diuntung,”
umpat ibu sambil terus memukuliku.
Aku
menjerit kesakitan. Tetapi ibu tidak juga berhenti memukuliku. Aku sudah
berulang-ulang meminta ampun, ia tetap saja tak berhenti memukuliku. Ia tak
peduli darah telah mengucur dari keningku. Ia tak peduli dengan jerit
kesakitanku. Ia tak peduli meski aku terkapar dan hanya mampu merintih
kesakitan. Ia bahkan memukulku dengan piala yang aku bawa. Tidak hanya itu, ia
memukul kaki kiriku dengan tongkat besi. Aku tak bisa merasakan tubuhku.
Semuanya terasa kaku. Kulihat ibu mulai menghilang dari pandanganku.
Perlahan
aku membuka mata. Aku telah terbaring di sebuah ruangan yang dipenuhi alat-alat
kedokteran. Aku berusaha memanggil suster yang
sedang manaruh obat itu, tetapi tak bisa. Hanya rintihan yang keluar
dari mulutku.
“Eeeeerhhh....”
“Kau
sudah bangun? Syukurlah. Tunggu sebentar ya, saya panggil dokter dulu,” kata
suster yang ternyata mendengar rintihanku.
Tak
lama kemudian datanglah seorang dokter. Ia lalu memeriksa keadaanku.
“Kondisimu
sudah membaik,” tuturnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku
merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhku. Aku tidak dapat merasakan kaki
kiriku. Kulihat ke arah kakiku yang masih tertutupi selimut. Raut muka dokter
dan suster tiba-tiba berubah. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi.
“Sabar
ya, Naira. Kami terpaksa mengamputasi kaki kirimu. Ini demi kebaikanmu. Jika
kami tidak segera mengambil tindakan, keadaanmu bisa lebih parah,” tutur dokter
itu.
Apa?
Kakiku diamputasi? Apakah ini mimpi? Tolong katakan bahwa ini mimpi. Aku tidak
bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa hidup seperti ini. Lebih baik aku
mati daripada harus hidup dengan satu kaki. Tuhan, apa salahku sehingga Kau
mengambil kakiku? Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan kakiku kembali?
Aku tidak bisa hidup seperti ini, Tuhan. Aku sungguh tidak bisa. Tolong
kembalikan kakiku, Tuhan. Aku menangis sejadi-jadinya.
Satu
bulan aku dirawat di rumah sakit. Dokter yang merawatku selama inilah yang
membiayai semua perawatanku. Sementara ibu, ia akan dikeluarkan dari penjara
setelah aku meminta pihak kepolisian untuk mengeluarkannya. Meskipun aku
kehilangan kakiku karena ibu, tetapi aku akan lebih sakit hidup tanpa ibu
dengan kondisi seperti ini.
“Naira,
maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu yang sudah membuatmu seperti ini. Ibu memang ibu
yang jahat. Maafkan ibu sayang,” ibu menangis sambil bersujud di hadapanku.
Aku
hanya bisa menangis, tak mampu membalas kata-katanya. Seandainya ibu tahu,
bahwa aku tidak pernah sedikitpun membencinya. Seandainya ibu tahu betapa aku
menghormatinya, betapa aku ingin membahagiakan hidupnya. Aku menangis dengan
memalingkan wajahku. Aku tak sanggup menatap wajah ibu.
“Dulu,
Ayahmu adalah seorang nomor satu di sekolah. Kecerdasan ayahmulah yang membuat
ibu jatuh cinta padanya. Kami mejadi pasangan yang membuat orang lain iri kala
itu. Kami sama-sama pintar, tapi ibu memilih tidak menjadi wanita karir untuk
menghormati ayahmu sebagai kepala keluarga. Banyak yang iri dengan kecerdasan
ayahmu. Hingga suatu saat ada yang tidak terima dengan keberhasilan ayahmu. Dia
melakukan segala hal untuk menghancurkan ayahmu, bahkan ayahmu ditabrak di
depan mata kepala ibu sendiri. Ibu depresi menerima kenyataan itu, padahal saat
itu ibu sedang mengandungmu. Keyla, kakakmu, ibu serahkan ke saudara ibu untuk
merawatnya. Ibu pikir ia akan menderita jika hidup bersama ibu yang sudah tidak
memiliki apa-apa lagi. Kakakmu sama sepertimu. Ia cantik dan cerdas. Tapi
lagi-lagi kecerdasan yang dimilikinya membawa orang yang ibu cintai berada
dalam bahaya. Ia diperkosa oleh orang suruhan temannya yang tidak terima dengan
keberhasilannya. Kakakmu memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Itulah sebabnya ibu tidak ingin kau mengejar cita-citamu. Tetaplah di sini
bersama ibu. Tidak apa-apa kita hidup miskin, asalkan tidak ada yang
mencelakaimu. Lebih baik ibu melihatmu dengan satu kaki, daripada ibu harus
kehilangan orang yang ibu cintai untuk ketiga kalinya.”
Kami
menangis sejadi-jadinya. Ibu memelukku erat. Aku tak tahu harus menjawab apa
atas kenyataan yang baru aku ketahui ini.
Satu
yang kutunggu setelah ibu, Adit. Kemana ia selama ini? Kenapa ia tidak muncul
saat keadaanku seperti ini. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku bahwa
dia akan selalu ada untukku, tapi apa? Ia tidak membuktikan kata-katanya. Ia
tidak menepati janjinya. Tidak tahukan dia bahwa aku di sini membutuhkannya? Tidak
tahukah dia bahwa aku merindukannya? Tidak tahukan dia bahwa sekarang aku hanya
memiliki satu kaki? Kemana dia yang akan selalu ada untukku? Kemana dia yang
akan menahan tubuhku jika angin menerpaku? Kemana dia yang akan menerangi
langkahku ketika kegelapan langit menyelimutiku? Sekarang angin telah berhasil
menerpaku. Aku tidak bisa menahan tubuhku. Aku telah terjatuh dan langit telah
mengeluarkan kegelapannya. Dimana engkau Adit?
Aku
benar-benar merasa sebagai wanita yang tidak beruntung. Aku kehilangan mimpiku.
Menjadi seorang pakar matematika yang bisa keliling dunia, rasanya tidak
mungkin lagi. Mimpi yang dulu terasa dekat, sekarang terasa begitu jauh. Aku
tidak mempunyai harapan lagi. Hidup dengan satu kaki benar-benar membuatku
merelakan impian itu. Aku juga telah kehilangan seseorang yang sangat aku
cintai. Adit, aku sudah tidak melihatnya selama lima tahun. Ia hanya
mengabarkan lewat surat bahwa adiknya, Alfi, meninggal dunia. Ia juga mengirim
rekening tabungan hasil juaraku selama ini. Yang membuat aku tercengang adalah
ketika aku mendapat kabar bahwa dia telah menikah dengan wanita lain. Betapa
terkejutnya aku setelah mendengar kabar itu. Aku tak ingin mempercayainya. Ini
terasa seperti mimpi. Orang yang sangat aku rindukan kini telah menjadi
laki-laki dari wanita lain? Aku tidak percaya itu. Apakah aku tidak memiliki
nilai sedikitpun di matanya? Apakah kenangan bersamaku selama lima tahun sudah
terhapus dalam hidupnya? Apakah ia benar-benar tidak memikirkanku lagi? Atau
bahkan ia telah melupakanku? Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Aku bahkan baru
mengetahui bahwa dia adalah putra dari seorang konglomerat setelah seorang
teman memberitahuku. Sampai saat ini aku tidak tahu alasan mengapa ia melakukan
ini padaku.
Kuhirup
lagi udara malam ini. Pipiku terasa lengket karena airmata yang mengering.
Senja kini berubah menjadi malam. Tak terasa satu jam aku berdiri di sini.
Tubuhku rasanya tak mampu lagi menahan laju angin yang begitu kencang.
Kuputuskan untuk mengakhiri kenangan di pantai itu. Belum sempat aku berbalik,
aku mendengar seseorang menyapaku.
“Naira,
ketika kau tak sanggup menahan laju angin, aku akan datang menahanmu, agar kau
tetap berdiri kokoh. Ketika langit mengeluarkan kabut hitam, aku akan menjadi
bintang yang mampu menerangi langkahmu. Jangan takut dan jangan pernah
menyerah, karena aku pasti ada untukmu.”
Aku
terkejut mendengar suara itu. Aku menoleh ke belakang. Seseorang yang kukenal.
Seseorang yang sangat kurindukan, Adit. Bayangannya terlihat jelas di
hadapanku.
“Aku telah terjatuh ke dalam lautan dan
menjelma menjadi sebuah batu keras yang tak mampu bergerak. Dan engkau bagaikan
permata di lautan, yang mengeluarkan cahaya keemasan dan mampu membuatku
melihat keindahan laut ini. Tanpamu aku tak mampu merasakan apa yang terjadi di
sekitarku. Tanpamu, jiwaku mati. Tetaplah di sisiku ketika aku tak mampu
menahan laju angin. Jadilah penerangku di saat langit menyelimutiku dengan
kegelapan. Dan jadikanlah aku seseorang yang memiliki tempat di hatimu. Karena
aku tak mampu melihat tanpa kehadiranmu. Meski waktu berhasil memusnahkah
ragaku, tetapi hatiku akan menunggu mutiara itu datang dan kembali
menyinariku.”
No comments:
Post a Comment