Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Kutanggalkan Jilbabku Demi Ibuku" Karya : Suprihatin


Kutanggalkan Jilbabku demi Ibuku
Karya : Suprihatin
Awalnya aku ingin melanjutkan kuliah setelah lulus dari bangku sekolah, tetapi itu berbeda dari kenyataannya. Usiaku yang masih labil menjadikanku belum bisa konsisten dalam menentukan tujuan hidupku sendiri. Keinginanku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama harus aku buang jauh-jauh. Aku yang terbilang anak pandai di sekolah, merelakan nilai rapor selama tiga tahun silam tak kumanfaatkan sama sekali. Perubahan demi perubahan terjadi dalam hidupku, seiring berjalannya waktu semenjak kakak laki-lakiku menjadi seorang polisi. Kakakku meskipun tak pandai sepertiku, tapi kesempatan menjadi seorang polisi itu terbuka lebar. Orang tuapun bangga dengan hasil kerja keras kakakku, meskipun di sisi lain harus berani mengeluarkan uang tak sedikit jumlahnya untuk menjadi seorang polisi. Maklum, banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam setiap penyelenggaraan calon anggota kepolisian di negeri ini.
Lain cerita dengan aku, cewek tomboy dan mudah bergaul yang lebih suka terjun di dunia keilmiahan. Namun, semenjak kakakku menjadi seorang polisi, aku diharuskan oleh orang tuaku untuk mengikuti jejaknya. Rasa sakit pun ada, tapi bagaimana lagi demi orang tuaku, terutama Ibu yang mengharapkanku menjadi seorang Polwan. Akupun perlahan-lahan mencoba pola hidupku seperti seorang laki-laki, yang berlatih setiap hari untuk persiapan menjadi seorang Polwan. Setiap hari disarankan oleh pamanku untuk latihan fisik dan lari, sehingga pola hidupku berubah.
Kain yang menutupi kepalaku semenjak di bangku sekolah, kini mulai terabaikan. Keseharianku yang membutuhkan banyak tenaga menjadikanku lupa sosok diriku yang dulu, dimana aku yang lemah lembut, suka menasihati teman-teman untuk salat, bahkan mengajar anak-anak kecil mengaji, sekarang mulai takterpikirkan lagi rutinitas tersebut. Sekarang aku mulai menjauh dari dunia yang membentengi keimananku yang  membantuku dalam  setiap kesulitan yang ada.
Satu hari lagi, pendaftaran gelombang pertama untuk Polwan dibuka. Aku yang diserahkan orang tuaku ke, tempat pamanku yang memahami mekanisasi pendaftaran masuk Polwan mulai berlatih keras untuk menyongsong hari tersebut.Aku mencari informasi masuk Polwan, dan menjaga membentuk tubuhku sesuai ideal tubuh yang ditentukan. Tes tahap pertama adalah Tes Bakat Skolastik dan Tes Potensi Akademik.  Sebagai bekal sebelum tempur di medan perang, aku meminta bantuan keluargaku di rumah untuk mendoakan, seperti berpuasa pada waktu pelaksanaan tes berlangsung. Segala upaya mulai aku lakukan untuk berusaha agar tak mengecewakan orang tuaku yang menaruh harapan besar kepadaku.
Hari ini aku mempersiapkan dengan baik, kesehatanku stabil karena dari semalam nasihat paman, yang aku panggil Paman Munawir aku jalankan untuk tidak tidur larut malam. Pagi-pagi buta, aku bangun lalu salat sebagai kewajiban umat islam. Teringat kepada orang tua di kampung, lalu aku menelponnya. Percakapan di telepon diawali dengan tegur sapa, salam kangen orang tua dan anak. Lalu mencoba berbicara ke hal yang serius.
“Nak, bagaimana persiapan untuk hari ini? Siap untuk mengikuti tes kan? Bapak khawatir dengan keadaanmu, Nak. Selalu berusaha dan berdoa ya, jangan sampai dilupakan,” ujar bapakku dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat aku jawab ditimpali pertanyaan selanjutnya.
”Iya jangan terlalu khawatir, Pak. Dera yang ada di sini baik-baik saja, kok. Pak Munawir juga menasehati bekal apa saja yang diperlukan dalam masuk pendaftaran masuk Polwan, Bapak sekeluarga di rumah berdoa saja, nanti Dera mengikuti tes tahap pertama semoga lolos, Pak,” jawabku sedikit tersendat-sendat.
“Amin, Nak ini Ibu dan Bapak selalu mendoakan Dera kok, silahkan siap-siap, Nak,” suara ibuku menambah percakapan itu.
Aku tutup percakapan singkat di hanphone, lalu bergegas mandi dan bersiap-siap untuk meluncur ke tempat ujian.
Tes pertama dimulai. Selama dua jam waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal sebanyak 150 butir soal. Aku menatap sekilas soal lalu aku mengerjakan dengan serius. Mulai terisi satu persatu dengan jawabanku yang aku anggap yakin benar. Beberapa soal ada yang aku abaikan dengan taktik jawaban itu sudah bisa lolos untuk tahap ini. Dua jam telah berlalu. Waktu tespun habis. Di kerumunan banyak pendaftar merasa lega. Aku langsung saja menghampiri paman yang telah menungguku di mobil biru tuanya.
“Bagaimana,Der ujiannya?” tanya Paman membuka percakapan waktu itu.
“Insya’allah sukses, Paman banyak soal yang aku kuasai,” jawabnya dengan tegas.
“Tenang saja, Der banyak teman-teman Paman yang bekerja di sana. Tadi Paman  sudah minta bantuannya, kok,” sahut paman sambil berlalu menaiki mobilnya.
Aku hanya mampu tersenyum menanggapi perkataan paman. Memang aku merasakan keberadaan paman sangat mempengaruhi juga dalam pendaftaran Polwan ini. Sistem nepotisme tak bisa dilepaskan dalam dunia seeperti ini, apalagi kepolisian sudah menjadi budaya. Banyaknya uang akan memperlicin pendaftaran. Dulu kakakku saja menghabiskan uang ratusan juta, apalagi saya pasti mengalami perubahan yang signifikan. Aku berpikir keras bagaimana untuk mendapatkan uang sebanyak itu untuk kedua kalinya.
 “Der, kapan pengumumannya?” tanya pamanku yang sontak mengagetkan lamunanku.
“Iya, Paman tiga hari selanjutnya pengumuman tahap pertama sudah dapat diketahui,” jawabku sambil menggeser pantatku yang lama duduk terasa pegal-pegal.
“Ayo, kita mampir makan dulu di restoran ya! Ibu tadi katanya tidak masak untuk hari ini dan dia pesan makanan pada Paman.”
“Baik, Paman,” jawabku singkat.
Sampai di rumah, aku membaringkan tubuh, lalu menatap kalender yang berada di dekat meja belajar. Kutandailah hari Kamis itu dengan bolpoin warna merah. Sehari-hari aku berlatih untuk menyongsong tahap kedua, yaitu tes psikologis. Aku latihan fisik bersama paman dan kadangkala seorang diri berlari-lari kecil di halaman rumah.
Tiga hari berlalu, hari ini pengumuman tahap pertama. Aku tak sabar untuk segera mengetahui hasilnya. Di pagi buta dengan secepat kilat, kupasang modem di laptop dan membuka pengumuman. Kuketik nama dan nomor ujian. Betapa bahagianya namaku dinyatakan lolos dengan nilai yang tidak mengecewakan. Aku bersorak gembira di dalam kamar hingga membangunkan paman yang masih terlelap tidur di kamar sebelah.
“Bagaimana Der, hasil pengumumannya?”
“Syukur alhamdulillah lolos Paman, saya senang sekali dengan awal yang bagus seperti ini,” ucapku meluapkan kegembiraan itu.
“Iya sudah, ini masih malam, ayam saja belum berkokok, ayo dilanjut istirahatnya.”
“Iya, Paman, sebelumnya saya mau mengabari orang tua yang di kampung dulu ya.”
Paman menganggukkan kepala sembari menutup pintu kamar kembali. Lalu berpesan bahwa tahap kedua lebih sulit dibandingkan ini. Beliau menasihati supaya fisikku jangan sampai turun. Bilik kamar mungil tersebut menjadi saksi bisu kegembiraan. Pesan singkat kukirimkan ke orang tua. Jam beker menunjukkan pukul 04:00 WIB, pantas saja kalau SMS tidak langsung mendapat jawaban dari mereka.
Selang beberapa menit, handphone di samping tempat tidurku berdering, ternyata ada panggilan dari ibu. Cepat-cepat aku mengangkatnya, dan kebahagian itu pun diungkapkan, merasa bangga anaknya bisa lolos. Suara ibu membuatku lebih semangat untuk menggapai hal yang sebenarnya tak kuinginkan menjadi terwujud. Tak lain tak bukan karena itu keinginan ibu yang sekarang sakit-sakitan di rumah memikirkan masa depanku. Uang ratusan juta sudah terlanjur dikeluarkan demi keinginan beliau agar aku menjadi seorang Polwan.
“Alhamdulillah, Nak kalau diterima, semoga tahap selanjutnya bisa lolos juga,” ucap ibu dari suara kejauhan sedikit sengau.
“Iya, Bu. Dera juga senang kalau Ibu juga senang, doanya selalu Dera harapkan dari Ibu dan semua keluarga yang ada di kampung.”
“Iya, sudah. Ambil air wudhu Nak, sebentar lagi salat subuh nih.”
“Iya, Bu,” jawabku lalu menutup dengan salam perpisahan dan meletakkan handphone kembali di atas meja, meski sebenarnya berat untuk mengakhiri percakapan dengan Ibu.
Seusai salat, kumelanjutkan dengan sujud syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan telah lolos pada tahap pertama ini. Masih ada tiga tahap lagi yang yang harus dilalui dan masing-masing tahapan perlu mengeluarkan uang. Tak sabar menunggu hari selanjutnya untuk melakukan tes tahap kedua.
Selang dua hari, tes selanjutnya berlangsung. Aku sudah mempersiapkan tes psikologinya, seperti tes tahap pertama, tes kedua ini dia lalui dengan mulus. Berbeda dengan tes tahap ketiga mengenai uji ketahanan tubuh yaitu, tes lari dan berenang. Tahapan berenang inilah aku tak mampu, sebab semenjak di bangku sekolah aku tak menekuni renang dan tak menyadari ke depannya renang sangat bermanfaat. Bagaimana lagi, tes yang dilihat oleh semua orang tak bisa disuap dengan uang. Terpaksa aku gagal pada tahapan ini. Keluarga menangis begitu juga denganku, meski awalnya tak bercita-cita menjadi seorang Polwan, tapi mengalami hal yang berharga dalam ujian renang itu aku menyadari, bahwa ada hal besar yang ingin kuberikan kepada orang tua.
“Maaf Paman, Dera gagal untuk saat ini. Dera tak mampu berenang. Dera memang bodoh, tak mau berlatih giat dalam berenang,” celotehku seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi.
“Tidak apa-apa Der, masih ada kesempatan kedua. Tenang saja, Paman akan membantu Dera sampai Dera diterima menjadi Polwan.”
“Iya, Paman. Terima kasih banyak,” jawabku semakin tersedu-sedu.     
Keesokan harinya ayah dan ibu datang menemuiku di Semarang, dan bermaksud melihat keadaan anak perempuannya. Ibu yang mengidap kanker payudara bersikeras pergi serta memaksa ayah berangkat ke Semarang dengan naik bus antarkota. Penyakit ibuku yang semakin parah mencoba menutupi dariku, alasannya agar aku toidak khawatir dengan keadaannya.
“Pak Munawir, bagaimana langkah selanjutnya yang perlu dilakukan anakku Dera, Pak,” ucap ibu membuka pertanyaan yang sebelumnya hanya mengobrol hal-hal ringan saja.
“Tidak apa-apa kok, Bu. Ini baru gagal pertama, banyak yang gagal dua, tiga, sampai empat kali, tapi mereka tidak patah semangat. Biarkan Dera di sini dulu, enam bulan lagi ada pendaftaran Polwan lagi, biarkan Dera di sini untuk berlatih renang, Bu. Jangan khawatir, aku telah menganggap Dera seperti anakku sendiri, apalagi aku tak punya anak perempuan. Anakku semuanya laki-laki. Kedatangan Dera memberikan warna berbeda di keluarga ini, Bu,” nasihat Pak Munawir kepada ibu.
Sementara itu, di balik bilik kamar, aku menangis mendengar percakapan mereka dengan keluarga Pak Munawir. Aku semakin semangat untuk mencoba lagi. Kini tekad menjadi seorang Polwan sudah tertanam pada diriku. Keinginan kuliah sudah tak ada lagi. Terdengar lagi suara ibu dengan batuk-batuk kecil membahas hal selanjutnya.
“Bagaimana dengan uang untuk Dera, Pak. Perlu menambah berapa lagi? Uang yang ada hanya cukup untuk mendaftar sekali lagi itu juga harus minta bantuan-bantuan dari beberapa saudara di kampung,” keluh ibu.
“Iya, tidak apa-apa, Bu. Setengah dari uang awal dulu tidak masalah, sisanya bisa sejalan waktu nanti Dera mendaftar,” jawab Pak Munawir dengan tenang.
“Kalau begitu kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak, saya berharap hanya Tuhan yang nanti membalas atas kebaikan Bapak semuanya.”
Ayah dan ibu pamit pulang, setelah beberapa jam temukangen denganku. Kupeluk satu persatu mereka. Keadaan berubah menjadi tangis dan haru mengingat sudah lama aku tak bersama mereka.
Lama aku menanti pendaftaran Polwan berlangsung lagi. Waktu sehari-hari diisi dengan latihan dan latihan. Dari yang tidak bisa renang sampai bisa renang dengan latihan setiap seminggu sebanyak dua sampai tiga kali. Aku merasa tak bosan karena itu adalah kewajiban yang perlu diwujudkan agar orang tuaku, terutama ibu merasa bangga. 
Pendaftaran seperti enam bulan yang lalu aku lalui kembali. Tahapan-tahapan tes kulalui dengan mantap. Tahap pertama, lolos dengan mulus begitu pula tahapan yang kedua. Tahapan yang ketiga, mengenai tes fisik kini kulalui sedikit dengan mudah berkat latihan-latihan yang telah dipersiapkan. Cerita lain terjadi di kehidupanku, kurang dua tahap lagi aku akan lolos setelah melalui tahap kesehatan dan tahap pantaukir. Di tahapan kesehatan tersandung batu kerikil lagi, Aku dinyatakan tidak lolos, karena menderita daging tumbuh yang menonjol di kaki kiri dekat mata kaki. Terpaksa aku menunda keinginann lagi. Jilbab yang dulu kukenakan dengan anggunnya, sekarang bahkan hampir tak kusentuh. Aku sudah tak memperhatikan penampilan lagi. Latihan-latihan yang kujalani semakin membentuk tubuhku menjadi tegap. Demikian pula dengan potongan rambutku yang pendek. Dari kejauhan, pasti aku disangka laki-laki.
Semangatku benar-benar sulit untuk dibangkitkan lagi. Kekecewaan mendalam telah kualami, hingga orang di sekitar merasa bingung untuk menyapaku. Sementara itu, terdengar kabar bahwa kesehatan ibu mulai menurun. Aku bersikeras untuk pulang menemui keluarga di rumah. Aku meminta izin kepada paman dan berpamitan untuk sementara waktu menemui ayah dan ibu di kampung. Kegagalan berulang kali menjadikanku tak bergairah hidup dan merasa hidupku tak bermanfaaat lagi. Keinginan orang tua belum bisa kuwujudkan ditambah dengan kesehatan ibu yang semakin memburuk, sebab biaya untuk operasi pun digunakan untuk membiayaiku mendaftar Polwan. Perasaanku semakin terpukul, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. 
Dokter mendiagnosa tentang kesehatan ibu yang sudah memburuk dan perlu dioperasi. Tak ada jalan lain kecuali dengan operasi apabila ingin memperpanjang umur beliau. Semua usaha dilakukan, hingga hutang pun menumpuk dari biaya pendaftaranku untuk menjadi Polwan sampai uang untuk jatah operasi ibuku.
“Nak, jangan khawatirkan Ibu, tetaplah berusaha sampai umurmu tak memenuhi syarat lagi. Ibu ingin melihat anak-anak Ibu bisa menjadi pegawai yang sukses. Ibu ingin Dera menjadi seperti Kak Arif yang sekarang mampu sedikit membiayai ekonomi keluarga,” nasihat ibu yang terkulai lemah di pembaringan rumah sakit.
“Iya, Bu. Dera akan berusaha sekuat tenaga demi permintaan Ibu. Dera janji pada Ibu akan menjadi seperti Kak Arif,” janjiku kepada ibu.
Aku keluar ruangan, lalu menatap langit yang mulai gelap karena awan hitam yang bergelantungan mulai beraksi dengan garangnya. Kilatan-kilatan halilitar menyambut, sebelum hujan berlangsung. Aku menangis tersedu-sedu sepuasnya, membayangkan bagaimana lagi usaha yang perlu dilakukan agar diterima menjadi anggota kepolisian, Aparat Negara yang mengayomi masyarakat. Berulang kali mendaftar dan berulang kali gagal. Bila dihitung, sudah empat kali mendaftar, dari yang gagal saat tahap fisik berupa renang, tahap ketiga yang berupa kesehatan kakinya yang tumbuh tumor jinak, selesai dioperasi menghabiskan uang sekitar 500 ratus ribu, aku mendaftar lagi dan tak lolos di Pantaukir. Keempat kalinya, aku tak lolos di kesehatan lagi, sebab kesehatanku yang memang tak fit. Uang sudah lenyap untuk membiayai. Kesempatan tinggal satu kali lagi sebelum usiaku menginjak 22 tahun. Keinginan ibu, menjadi semangat utamaku untuk mendaftar Polwan lagi, meski biaya sudah tak ada lagi.
Tak disangka, memang pendaftaran terakhir di detik-detik penghabisan umur sebagai syarat utamanya. Aku lolos menjadi Polwan, meski banyak batu-batu kerikil kulalui sampai tahap akhir, yaitu pantaukir di Jakarta kulalui dengan mulus. Kegembiraan yang menggebu-gebu kini kuluapkan berbeda dengan setahun yang lalu.
Di sisi lain, terdengar kabar ibu yang sudah lama terbaring di rumah sakit dalam keadaan kritis. Kanker yang dideritanya sudah memasuki stadium akhir, apabila diangkat kankernya pun akan mempengaruhi organ lain dan diagnosa dokter  akan menjadi lebih parah. Aku yang masih berada di Jakarta, membeli tiket pesawat menuju ke Bandara Ahmad Yani-Semarang. Namun, sebelum kabar gembira aku ucapkan sebelumnya sudah kukabarkan melalui telepon seluler kepada ayah dan ibu. Ibu merasa senang kalau aku mampu mewujudkan keinginan terakhirnya, meski beliau menyadari bahwa uang itu dari pacarku yang berbeda agama. Jauh hari ibu bertemu dengan Jonathan, dan bercerita semua yang kualami. Ibu hanya berpesan supaya mampu membahagiakanku, karena ibu menyadari bahwa selama ini aku merasa tertekan akibat kemauan beliau.
“Nak Jonathan, aku titip Dera ya, Nak. Bahagiakan Dera, jangan sampai melukai perasaannya. Ibu tahu Dera sekarang mulai kehilangan arahnya, semoga bersama kamu bersama-sama mampu memilih yang seharusnya dipilih,”
“Iya, Ibu. Jonathan paham maksud Ibu.”
Ibu dimakamkan di pemakaman umum, sehari sebelum kepulanganku. Aku sama sekali tak mengetahui kematian ibu. Saat sampai di Semarang, aku dijemput oleh Jonathan dengan mobil BMW-nya langsung menuju ke pemakaman umum. Aku kaget setengah mati mendengar cerita dari Jona, rasa tak percaya membelenggu hati dan ragaku, ingin secepat kilat menemui pusara ibu dan meletakkan bunga kehormatan simbol kelolosan masuk dunia kepolisian sebagai kado kepada beliau. Bibirku kelu dan menangis sejadi-jadinya di atas batu nisan. Jona yang ada di sampingku sesekali menghapus air mataku. Ayah dan Kak Arif mendampingi di belakang kami. Rasanya belum puas aku menangis, dan menganggap perjuanganku terasa sia-sia hingga menanggalkan jilbabku selama ini. Sementara itu, nampak mobil BMW berwarna silver berhenti di pemakaman umum tempat ibu dikebumikan. Ternyata, yang turun dari mobil mewah itu adalah orang tua Jona. Papa dan Mama Jona mendekati kami.



No comments:

Post a Comment