Kutanggalkan Jilbabku
demi Ibuku
Karya : Suprihatin
Awalnya
aku ingin melanjutkan kuliah setelah lulus dari bangku sekolah, tetapi itu
berbeda dari kenyataannya. Usiaku yang masih labil menjadikanku belum bisa
konsisten dalam menentukan tujuan hidupku sendiri. Keinginanku melanjutkan
kuliah di perguruan tinggi ternama harus aku buang jauh-jauh. Aku yang
terbilang anak pandai di sekolah, merelakan nilai rapor selama tiga tahun silam
tak kumanfaatkan sama sekali. Perubahan demi perubahan terjadi dalam hidupku,
seiring berjalannya waktu semenjak kakak laki-lakiku menjadi seorang polisi.
Kakakku meskipun tak pandai sepertiku, tapi kesempatan menjadi seorang polisi
itu terbuka lebar. Orang tuapun bangga dengan hasil kerja keras kakakku,
meskipun di sisi lain harus berani mengeluarkan uang tak sedikit jumlahnya
untuk menjadi seorang polisi. Maklum, banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung
jawab dalam setiap penyelenggaraan calon anggota kepolisian di negeri ini.
Lain
cerita dengan aku, cewek tomboy dan mudah bergaul yang lebih suka terjun di
dunia keilmiahan. Namun, semenjak kakakku menjadi seorang polisi, aku
diharuskan oleh orang tuaku untuk mengikuti jejaknya. Rasa sakit pun ada, tapi
bagaimana lagi demi orang tuaku, terutama Ibu yang mengharapkanku menjadi
seorang Polwan. Akupun perlahan-lahan mencoba pola hidupku seperti seorang
laki-laki, yang berlatih setiap hari untuk persiapan menjadi seorang Polwan.
Setiap hari disarankan oleh pamanku untuk latihan fisik dan lari, sehingga pola
hidupku berubah.
Kain
yang menutupi kepalaku semenjak di bangku sekolah, kini mulai terabaikan.
Keseharianku yang membutuhkan banyak tenaga menjadikanku lupa sosok diriku yang
dulu, dimana aku yang lemah lembut, suka menasihati teman-teman untuk salat,
bahkan mengajar anak-anak kecil mengaji, sekarang mulai takterpikirkan lagi
rutinitas tersebut. Sekarang aku mulai menjauh dari dunia yang membentengi keimananku
yang membantuku dalam setiap kesulitan yang ada.
Satu
hari lagi, pendaftaran gelombang pertama untuk Polwan dibuka. Aku yang diserahkan
orang tuaku ke, tempat pamanku yang memahami mekanisasi pendaftaran masuk
Polwan mulai berlatih keras untuk menyongsong hari tersebut.Aku mencari
informasi masuk Polwan, dan menjaga membentuk tubuhku sesuai ideal tubuh yang
ditentukan. Tes tahap pertama adalah Tes Bakat Skolastik dan Tes Potensi
Akademik. Sebagai bekal sebelum tempur di
medan perang, aku meminta bantuan keluargaku di rumah untuk mendoakan, seperti
berpuasa pada waktu pelaksanaan tes berlangsung. Segala upaya mulai aku lakukan
untuk berusaha agar tak mengecewakan orang tuaku yang menaruh harapan besar
kepadaku.
Hari
ini aku mempersiapkan dengan baik, kesehatanku stabil karena dari semalam nasihat
paman, yang aku panggil Paman Munawir aku jalankan untuk tidak tidur larut
malam. Pagi-pagi buta, aku bangun lalu salat sebagai kewajiban umat islam.
Teringat kepada orang tua di kampung, lalu aku menelponnya. Percakapan di
telepon diawali dengan tegur sapa, salam kangen orang tua dan anak. Lalu
mencoba berbicara ke hal yang serius.
“Nak,
bagaimana persiapan untuk hari ini? Siap untuk mengikuti tes kan? Bapak
khawatir dengan keadaanmu, Nak. Selalu berusaha dan berdoa ya, jangan sampai
dilupakan,” ujar bapakku dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat aku
jawab ditimpali pertanyaan selanjutnya.
”Iya
jangan terlalu khawatir, Pak. Dera yang ada di sini baik-baik saja, kok. Pak
Munawir juga menasehati bekal apa saja yang diperlukan dalam masuk pendaftaran
masuk Polwan, Bapak sekeluarga di rumah berdoa saja, nanti Dera mengikuti tes
tahap pertama semoga lolos, Pak,” jawabku sedikit tersendat-sendat.
“Amin,
Nak ini Ibu dan Bapak selalu mendoakan Dera kok, silahkan siap-siap, Nak,”
suara ibuku menambah percakapan itu.
Aku
tutup percakapan singkat di hanphone, lalu bergegas mandi dan bersiap-siap
untuk meluncur ke tempat ujian.
Tes
pertama dimulai. Selama dua jam waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal
sebanyak 150 butir soal. Aku menatap sekilas soal lalu aku mengerjakan dengan
serius. Mulai terisi satu persatu dengan jawabanku yang aku anggap yakin benar.
Beberapa soal ada yang aku abaikan dengan taktik jawaban itu sudah bisa lolos
untuk tahap ini. Dua jam telah berlalu. Waktu tespun habis. Di kerumunan banyak
pendaftar merasa lega. Aku langsung saja menghampiri paman yang telah
menungguku di mobil biru tuanya.
“Bagaimana,Der
ujiannya?” tanya Paman membuka percakapan waktu itu.
“Insya’allah
sukses, Paman banyak soal yang aku kuasai,” jawabnya dengan tegas.
“Tenang
saja, Der banyak teman-teman Paman yang bekerja di sana. Tadi Paman sudah minta bantuannya, kok,” sahut paman
sambil berlalu menaiki mobilnya.
Aku
hanya mampu tersenyum menanggapi perkataan paman. Memang aku merasakan
keberadaan paman sangat mempengaruhi juga dalam pendaftaran Polwan ini. Sistem
nepotisme tak bisa dilepaskan dalam dunia seeperti ini, apalagi kepolisian
sudah menjadi budaya. Banyaknya uang akan memperlicin pendaftaran. Dulu kakakku
saja menghabiskan uang ratusan juta, apalagi saya pasti mengalami perubahan
yang signifikan. Aku berpikir keras bagaimana untuk mendapatkan uang sebanyak
itu untuk kedua kalinya.
“Der, kapan pengumumannya?” tanya pamanku yang
sontak mengagetkan lamunanku.
“Iya,
Paman tiga hari selanjutnya pengumuman tahap pertama sudah dapat diketahui,”
jawabku sambil menggeser pantatku yang lama duduk terasa pegal-pegal.
“Ayo,
kita mampir makan dulu di restoran ya! Ibu tadi katanya tidak masak untuk hari
ini dan dia pesan makanan pada Paman.”
“Baik,
Paman,” jawabku singkat.
Sampai
di rumah, aku membaringkan tubuh, lalu menatap kalender yang berada di dekat
meja belajar. Kutandailah hari Kamis itu dengan bolpoin warna merah.
Sehari-hari aku berlatih untuk menyongsong tahap kedua, yaitu tes psikologis.
Aku latihan fisik bersama paman dan kadangkala seorang diri berlari-lari kecil
di halaman rumah.
Tiga
hari berlalu, hari ini pengumuman tahap pertama. Aku tak sabar untuk segera
mengetahui hasilnya. Di pagi buta dengan secepat kilat, kupasang modem di
laptop dan membuka pengumuman. Kuketik nama dan nomor ujian. Betapa bahagianya
namaku dinyatakan lolos dengan nilai yang tidak mengecewakan. Aku bersorak
gembira di dalam kamar hingga membangunkan paman yang masih terlelap tidur di
kamar sebelah.
“Bagaimana
Der, hasil pengumumannya?”
“Syukur
alhamdulillah lolos Paman, saya senang sekali dengan awal yang bagus seperti
ini,” ucapku meluapkan kegembiraan itu.
“Iya
sudah, ini masih malam, ayam saja belum berkokok, ayo dilanjut istirahatnya.”
“Iya,
Paman, sebelumnya saya mau mengabari orang tua yang di kampung dulu ya.”
Paman
menganggukkan kepala sembari menutup pintu kamar kembali. Lalu berpesan bahwa
tahap kedua lebih sulit dibandingkan ini. Beliau menasihati supaya fisikku
jangan sampai turun. Bilik kamar mungil tersebut menjadi saksi bisu
kegembiraan. Pesan singkat kukirimkan ke orang tua. Jam beker menunjukkan pukul
04:00 WIB, pantas saja kalau SMS tidak langsung mendapat jawaban dari mereka.
Selang
beberapa menit, handphone di samping tempat tidurku berdering, ternyata ada
panggilan dari ibu. Cepat-cepat aku mengangkatnya, dan kebahagian itu pun
diungkapkan, merasa bangga anaknya bisa lolos. Suara ibu membuatku lebih
semangat untuk menggapai hal yang sebenarnya tak kuinginkan menjadi terwujud.
Tak lain tak bukan karena itu keinginan ibu yang sekarang sakit-sakitan di
rumah memikirkan masa depanku. Uang ratusan juta sudah terlanjur dikeluarkan
demi keinginan beliau agar aku menjadi seorang Polwan.
“Alhamdulillah,
Nak kalau diterima, semoga tahap selanjutnya bisa lolos juga,” ucap ibu dari
suara kejauhan sedikit sengau.
“Iya,
Bu. Dera juga senang kalau Ibu juga senang, doanya selalu Dera harapkan dari
Ibu dan semua keluarga yang ada di kampung.”
“Iya,
sudah. Ambil air wudhu Nak, sebentar lagi salat subuh nih.”
“Iya,
Bu,” jawabku lalu menutup dengan salam perpisahan dan meletakkan handphone
kembali di atas meja, meski sebenarnya berat untuk mengakhiri percakapan dengan
Ibu.
Seusai
salat, kumelanjutkan dengan sujud syukur sebagai bentuk terima kasih kepada
Tuhan telah lolos pada tahap pertama ini. Masih ada tiga tahap lagi yang yang
harus dilalui dan masing-masing tahapan perlu mengeluarkan uang. Tak sabar
menunggu hari selanjutnya untuk melakukan tes tahap kedua.
Selang
dua hari, tes selanjutnya berlangsung. Aku sudah mempersiapkan tes
psikologinya, seperti tes tahap pertama, tes kedua ini dia lalui dengan mulus.
Berbeda dengan tes tahap ketiga mengenai uji ketahanan tubuh yaitu, tes lari
dan berenang. Tahapan berenang inilah aku tak mampu, sebab semenjak di bangku
sekolah aku tak menekuni renang dan tak menyadari ke depannya renang sangat
bermanfaat. Bagaimana lagi, tes yang dilihat oleh semua orang tak bisa disuap
dengan uang. Terpaksa aku gagal pada tahapan ini. Keluarga menangis begitu juga
denganku, meski awalnya tak bercita-cita menjadi seorang Polwan, tapi mengalami
hal yang berharga dalam ujian renang itu aku menyadari, bahwa ada hal besar
yang ingin kuberikan kepada orang tua.
“Maaf
Paman, Dera gagal untuk saat ini. Dera tak mampu berenang. Dera memang bodoh,
tak mau berlatih giat dalam berenang,” celotehku seraya mengusap air mata yang
mengalir di pipi.
“Tidak
apa-apa Der, masih ada kesempatan kedua. Tenang saja, Paman akan membantu Dera
sampai Dera diterima menjadi Polwan.”
“Iya,
Paman. Terima kasih banyak,” jawabku semakin tersedu-sedu.
Keesokan
harinya ayah dan ibu datang menemuiku di Semarang, dan bermaksud melihat
keadaan anak perempuannya. Ibu yang mengidap kanker payudara bersikeras pergi
serta memaksa ayah berangkat ke Semarang dengan naik bus antarkota. Penyakit
ibuku yang semakin parah mencoba menutupi dariku, alasannya agar aku toidak
khawatir dengan keadaannya.
“Pak
Munawir, bagaimana langkah selanjutnya yang perlu dilakukan anakku Dera, Pak,”
ucap ibu membuka pertanyaan yang sebelumnya hanya mengobrol hal-hal ringan
saja.
“Tidak
apa-apa kok, Bu. Ini baru gagal pertama, banyak yang gagal dua, tiga, sampai
empat kali, tapi mereka tidak patah semangat. Biarkan Dera di sini dulu, enam
bulan lagi ada pendaftaran Polwan lagi, biarkan Dera di sini untuk berlatih
renang, Bu. Jangan khawatir, aku telah menganggap Dera seperti anakku sendiri,
apalagi aku tak punya anak perempuan. Anakku semuanya laki-laki. Kedatangan
Dera memberikan warna berbeda di keluarga ini, Bu,” nasihat Pak Munawir kepada
ibu.
Sementara
itu, di balik bilik kamar, aku menangis mendengar percakapan mereka dengan
keluarga Pak Munawir. Aku semakin semangat untuk mencoba lagi. Kini tekad
menjadi seorang Polwan sudah tertanam pada diriku. Keinginan kuliah sudah tak
ada lagi. Terdengar lagi suara ibu dengan batuk-batuk kecil membahas hal
selanjutnya.
“Bagaimana
dengan uang untuk Dera, Pak. Perlu menambah berapa lagi? Uang yang ada hanya
cukup untuk mendaftar sekali lagi itu juga harus minta bantuan-bantuan dari
beberapa saudara di kampung,” keluh ibu.
“Iya,
tidak apa-apa, Bu. Setengah dari uang awal dulu tidak masalah, sisanya bisa
sejalan waktu nanti Dera mendaftar,” jawab Pak Munawir dengan tenang.
“Kalau
begitu kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak, saya berharap hanya
Tuhan yang nanti membalas atas kebaikan Bapak semuanya.”
Ayah
dan ibu pamit pulang, setelah beberapa jam temukangen denganku. Kupeluk satu
persatu mereka. Keadaan berubah menjadi tangis dan haru mengingat sudah lama
aku tak bersama mereka.
Lama
aku menanti pendaftaran Polwan berlangsung lagi. Waktu sehari-hari diisi dengan
latihan dan latihan. Dari yang tidak bisa renang sampai bisa renang dengan
latihan setiap seminggu sebanyak dua sampai tiga kali. Aku merasa tak bosan
karena itu adalah kewajiban yang perlu diwujudkan agar orang tuaku, terutama
ibu merasa bangga.
Pendaftaran
seperti enam bulan yang lalu aku lalui kembali. Tahapan-tahapan tes kulalui
dengan mantap. Tahap pertama, lolos dengan mulus begitu pula tahapan yang
kedua. Tahapan yang ketiga, mengenai tes fisik kini kulalui sedikit dengan
mudah berkat latihan-latihan yang telah dipersiapkan. Cerita lain terjadi di
kehidupanku, kurang dua tahap lagi aku akan lolos setelah melalui tahap kesehatan
dan tahap pantaukir. Di tahapan kesehatan tersandung batu kerikil lagi, Aku
dinyatakan tidak lolos, karena menderita daging tumbuh yang menonjol di kaki
kiri dekat mata kaki. Terpaksa aku menunda keinginann lagi. Jilbab yang dulu
kukenakan dengan anggunnya, sekarang bahkan hampir tak kusentuh. Aku sudah tak
memperhatikan penampilan lagi. Latihan-latihan yang kujalani semakin membentuk
tubuhku menjadi tegap. Demikian pula dengan potongan rambutku yang pendek. Dari
kejauhan, pasti aku disangka laki-laki.
Semangatku
benar-benar sulit untuk dibangkitkan lagi. Kekecewaan mendalam telah kualami,
hingga orang di sekitar merasa bingung untuk menyapaku. Sementara itu,
terdengar kabar bahwa kesehatan ibu mulai menurun. Aku bersikeras untuk pulang
menemui keluarga di rumah. Aku meminta izin kepada paman dan berpamitan untuk
sementara waktu menemui ayah dan ibu di kampung. Kegagalan berulang kali
menjadikanku tak bergairah hidup dan merasa hidupku tak bermanfaaat lagi.
Keinginan orang tua belum bisa kuwujudkan ditambah dengan kesehatan ibu yang
semakin memburuk, sebab biaya untuk operasi pun digunakan untuk membiayaiku
mendaftar Polwan. Perasaanku semakin terpukul, tak tahu lagi apa yang harus
kulakukan.
Dokter
mendiagnosa tentang kesehatan ibu yang sudah memburuk dan perlu dioperasi. Tak
ada jalan lain kecuali dengan operasi apabila ingin memperpanjang umur beliau.
Semua usaha dilakukan, hingga hutang pun menumpuk dari biaya pendaftaranku
untuk menjadi Polwan sampai uang untuk jatah operasi ibuku.
“Nak,
jangan khawatirkan Ibu, tetaplah berusaha sampai umurmu tak memenuhi syarat
lagi. Ibu ingin melihat anak-anak Ibu bisa menjadi pegawai yang sukses. Ibu
ingin Dera menjadi seperti Kak Arif yang sekarang mampu sedikit membiayai
ekonomi keluarga,” nasihat ibu yang terkulai lemah di pembaringan rumah sakit.
“Iya,
Bu. Dera akan berusaha sekuat tenaga demi permintaan Ibu. Dera janji pada Ibu
akan menjadi seperti Kak Arif,” janjiku kepada ibu.
Aku
keluar ruangan, lalu menatap langit yang mulai gelap karena awan hitam yang bergelantungan
mulai beraksi dengan garangnya. Kilatan-kilatan halilitar menyambut, sebelum
hujan berlangsung. Aku menangis tersedu-sedu sepuasnya, membayangkan bagaimana
lagi usaha yang perlu dilakukan agar diterima menjadi anggota kepolisian,
Aparat Negara yang mengayomi masyarakat. Berulang kali mendaftar dan berulang
kali gagal. Bila dihitung, sudah empat kali mendaftar, dari yang gagal saat
tahap fisik berupa renang, tahap ketiga yang berupa kesehatan kakinya yang
tumbuh tumor jinak, selesai dioperasi menghabiskan uang sekitar 500 ratus ribu,
aku mendaftar lagi dan tak lolos di Pantaukir. Keempat kalinya, aku tak lolos
di kesehatan lagi, sebab kesehatanku yang memang tak fit. Uang sudah lenyap
untuk membiayai. Kesempatan tinggal satu kali lagi sebelum usiaku menginjak 22
tahun. Keinginan ibu, menjadi semangat utamaku untuk mendaftar Polwan lagi,
meski biaya sudah tak ada lagi.
Tak
disangka, memang pendaftaran terakhir di detik-detik penghabisan umur sebagai
syarat utamanya. Aku lolos menjadi Polwan, meski banyak batu-batu kerikil
kulalui sampai tahap akhir, yaitu pantaukir di Jakarta kulalui dengan mulus.
Kegembiraan yang menggebu-gebu kini kuluapkan berbeda dengan setahun yang lalu.
Di
sisi lain, terdengar kabar ibu yang sudah lama terbaring di rumah sakit dalam
keadaan kritis. Kanker yang dideritanya sudah memasuki stadium akhir, apabila
diangkat kankernya pun akan mempengaruhi organ lain dan diagnosa dokter akan menjadi lebih parah. Aku yang masih
berada di Jakarta, membeli tiket pesawat menuju ke Bandara Ahmad Yani-Semarang.
Namun, sebelum kabar gembira aku ucapkan sebelumnya sudah kukabarkan melalui
telepon seluler kepada ayah dan ibu. Ibu merasa senang kalau aku mampu
mewujudkan keinginan terakhirnya, meski beliau menyadari bahwa uang itu dari
pacarku yang berbeda agama. Jauh hari ibu bertemu dengan Jonathan, dan
bercerita semua yang kualami. Ibu hanya berpesan supaya mampu membahagiakanku,
karena ibu menyadari bahwa selama ini aku merasa tertekan akibat kemauan
beliau.
“Nak
Jonathan, aku titip Dera ya, Nak. Bahagiakan Dera, jangan sampai melukai
perasaannya. Ibu tahu Dera sekarang mulai kehilangan arahnya, semoga bersama
kamu bersama-sama mampu memilih yang seharusnya dipilih,”
“Iya,
Ibu. Jonathan paham maksud Ibu.”
Ibu
dimakamkan di pemakaman umum, sehari sebelum kepulanganku. Aku sama sekali tak
mengetahui kematian ibu. Saat sampai di Semarang, aku dijemput oleh Jonathan
dengan mobil BMW-nya langsung menuju ke pemakaman umum. Aku kaget setengah mati
mendengar cerita dari Jona, rasa tak percaya membelenggu hati dan ragaku, ingin
secepat kilat menemui pusara ibu dan meletakkan bunga kehormatan simbol
kelolosan masuk dunia kepolisian sebagai kado kepada beliau. Bibirku kelu dan
menangis sejadi-jadinya di atas batu nisan. Jona yang ada di sampingku sesekali
menghapus air mataku. Ayah dan Kak Arif mendampingi di belakang kami. Rasanya
belum puas aku menangis, dan menganggap perjuanganku terasa sia-sia hingga
menanggalkan jilbabku selama ini. Sementara itu, nampak mobil BMW berwarna
silver berhenti di pemakaman umum tempat ibu dikebumikan. Ternyata, yang turun
dari mobil mewah itu adalah orang tua Jona. Papa dan Mama Jona mendekati kami.
No comments:
Post a Comment