Nur Afifah
Kisah Ulat Sebelum Menjadi Kupu-Kupu
Malam ini
langit penuh dengan bintang di sebuah desa kecil di Kota Kendal yang bernama
Desa Dawung. Hawa dingin menembus kulitku membawa aku larut dalam khayalan
tanpa ujung. Aku tak tahu akan ku bawa kemana masa depanku nanti. Apakah aku
harus memutus cita-citaku dan memenuhi permintaan ayah untuk hidup di
pesantren. Atau tetap teguh pendirian melanjutkan kuliah? Keresahan selalu
menemani setiap langkahku setelah menempuh ujian sekolah menengah atas beberapa
hari yang lalu. Terkadang aku berpikir untuk kembali lagi ke masa kecil. Menjadi
dewasa itu tidak enak, banyak pilihan yang harus segera ditentukan sendiri.
Aku
terlahir dari keluarga yang sederhana, sudah bisa makan sehari tiga kali saja
sudah sangat bersyukur. Apalagi bisa membayar uang sekolah tepat waktu,
walaupun sangat jarang terjadi. Kelima saudaraku tidak ada yang melanjutkan
kuliah, ada yang lulusan SMP, ada juga yang lulusan SMA. Semua saudaraku
setelah lulus sekolah langsung ke pondok pesantren. Tapi aku ingin menjadi
guru. Aku harus bisa kuliah, bagaimanapun caranya.
“Intan!”
sebuah suara datang membuyarkan lamunanku. Suara itu adalah suara Syarif, kakak
laki-lakiku. Dia memintaku untuk masuk rumah dan segera tidur. Aku memenuhi
panggilannya dan segera masuk kamar. Kamar yang sangat sederhana, sempit tapi
nyaman. Kelambu merah melindungiku dari segala gangguan. Tapi tetap saja aku
tak dapat memejamkan mata, aku melanjutkan lamunan yang sempat terputus. Namun,
tak lama kemudian aku larut dalam mimpi indahku.
Keesokan
harinya, dengan lesu aku paksa mataku untuk terbuka dan menyapa hari ini dengan
senyuman. Di ruang makan, orangtuaku sudah menunggu untuk sarapan bersama. Lama
sekali tak ada yang membuka pembicaraan. Setelah aku menyelesaikan sekolahku,
rumah terasa selalu sepi. Tiba-tiba bapakku angkat bicara,
“Nduk,
bapak putuskan untuk membebaskan kamu memilih masa depan yang ingin kau jalani.
Bapak tidak akan memaksamu untuk pergi dan hidup di pesantren. Tapi, harus kau
tahu bapak dan ibu sudah tidak sanggup untuk membiayaimu sekolah lagi.” jelas
bapak kepadaku.
Aku
hanya terdiam dan menganggukkan kepala sebagai respon dari perkataan bapak
tadi. Setelah itu aku izin ke kamar mandi, bukan hanya untuk mandi tapi juga
untuk menumpahkan air mata yang sudah tak terbendung. Aku bingung, apakah aku
harus bahagia karena telah diizinkan kuliah, ataukah harus sedih karena
mendengar ucapan terakhir bapak. Kata-kata tadi menambah kerisauan hatiku.
Setelah mandi aku bersiap-siap berangkat ke sekolah karena masih ada
pengumuman-penguman penting yang tidak boleh aku lewatkan.
Untungnya
aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu setia menemani dan menghiburku, mereka
adalan Anis, Ima, Kholidin, Asih, Latif dan Rahmat. Nasib kami tak jauh
berbeda, Anis ingin menjadi bidan, tapi tak mendapat restu dari orangtua. Ima
ingin menjadi pelaut, tapi saingannya berat-berat. Sedangkan Kholidin, Asih,
Latif dan Rahmat, sama sepertiku, ingin melanjutkan kuliah tapi tak ada biaya.
Kami semua mencoba mendaftar PTN yang kita inginkan melalui jalur undangan.
Saat ini kami sedang berada dalam penantian yang tak pasti, karena ketika
mendaftar pun kami tak punya keyakinan bisa lolos. Kalaupun lolos, kami tak
yakin bisa melanjutkan kuliah.
****
Malam
ini langit penuh dengan bintang dan bulan pun bersinar sangat terang. Aku
sedang menikmati suasana syahdu ini bersama bapak dan ibuku, tiba-tiba ada sms
masuk dari Rahmat.
Alhamdulillah,
aku diterima di Unnes jurusan Fisika, Tan.
Hatiku
berdebar ketika membaca pesan darinya, dalam pikiranku pengumuman pendaftaran
adalah besok pagi. Kenapa Rahmat sudah tahu? Karena rumahku jauh dari warnet,
akhirnya aku meminta bantuan Rahmat untuk membukakan pengumuman untukku. Dia
pun bersedia, tak lama setelah itu ada pesan masuk lagi dari Rahmat.
Selamat
Tan, kamu diterima di Unnes jurusan Bahasa Indonesia...
Hatiku
bahagia membaca pesan itu, namun tidak dengan orangtuaku. Mereka saling
menatap, aku tahu yang ada dalam pikiran mereka. Sejenak ruanagan sepi, semua
terdiam. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk masuk kamar dan beristirahat. Tak
terasa air mata leleh di pipku. Aku tak tahu apakah harus bahagia atau gelisah.
Aku bahagia karena diterima di PTN yang aku inginkan, tapi aku gelisah karena
belum pasti aku akan melanjutkan kuliah. Malam demi malam selalu aku lewati
dengan perasaan yang tak tenang.
****
Hari ini
aku dan teman-temanku pergi ke Semarang untuk mengikuti seleksi beasiswa yang
diselenggarakan oleh sebuah badan amal. Kami berada di Semarang selama tiga
hari dengan bekal seadanya. Bekal utama kami adalah niat dan restu dari orang
tua. Tiga hari ini kami rasakan begitu lama, serasa waktu mulai lelah untuk
berjalan dan membiarkan kami terkatung-katung dalam ketidakpastian. Jadi
teringat sebuah motto dari salah seorang temanku bahwa where is a way there
is a way, yang berarti di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Aku
yakin jika tidak lolos seleksi beasiswa ini, pasti Tuhan telah menyiapkan
sebuah rencana yang lebih indah untukku.
Badan
amal yang mengadakan program beasiswa berjanji akan menghubungi siapa saja yang
lolos seleksi ini. Kami pulang dengan tangan kosong. Kami kira setelah tiga
hari di sana, kami akan langsung mendapat hasil yang pasti. Tapi memang sesuatu
yang luar biasa membutuhkan waktu untuk berproses.
Setelah
beberapa hari terlewati, tiba-tiba Kholidin datang ke rumahku,
“Kamu
dikirimi pesan nggakTan?” tanyanya,
“Enggak.
Pesan apa?” kataku balik bertanya.
“Pesan
bahwa kamu lolos beasiswa.” jawabnya.
Ternyata
di antara kami hanya Kholidin yang lolos beasiswa itu. Dalam hatiku mendesah,
meski sedikit tidak terima dengan hasil yang telah ada tapi setidaknya satu di
antara kami sudah ada yang tenang. Aku dan teman-temanku mencoba lagi mendaftar
beasiswa lain. Beasiswa ini berpusat di Jakarta, tapi tidak mengharuskan kami
datang ke sana. Kami hanya diminta untuk mengirimkan berkas-berkas yang
dibutuhkan diantaranya adalah biografi diri, nilai hasil belajar selama sekolah
menengah dan surat keterangan tidak mampu serta masih banyak lagi. Dengan
mengayuh sepeda kesayanganku, sepeda yang selalu setia mengantarku ke manapun
aku mau.
Lama aku
terdampar dalam ketidakpastian, sudah banyak usaha yang aku lakukan namun belum
ada yang memberi kabar bahagia. Terngiang-ngiang kembali kata-kata bapak,
Nduk, bapak
putuskan untuk membebaskan kamu memilih masa depan yang ingin kau jalani. Bapak
tidak akan memaksamu untuk pergi dan hidup di pesantren. Tapi, harus kau tahu
bapak dan ibu sudah tidak sanggup untuk membiayaimu sekolah lagi. Air mata
terus mengalir dari kedua mataku. Tak sabar rasanya menantikan kabar bahagia
yang Tuhan janjikan untuk hambanya yang mau berusaha. Mencoba meyakinkan hati
bahwa di dunia ini tidak ada hal yang mudah, tapi tidak ada hal sulit yang
tidak memiliki jalan keluar. Hanya saja jalan keluar itu belum terlihat oleh
mata kita. Atau masih butuh waktu dan proses yang lama untuk dapat
menemukannya.
Dukungan
dari keluarga dan teman-teman terus mengalir, mencoba mengobarkan kembali
semangatku yang mulai meredup. Perjuangan masih aku lanjutkan dengan mengikuti
berbagai try out tes masuk PTN yang menjanjikan beasiswa. Selama proses aku
lakukan sendiri, jika yang lain diantar oleh orangtua atau saudara maka aku
berangkat sendiri. Dalam keyakinanku, ini adalah masa depanku. Aku tak mau
merepotkan siapapun. Melihat semangatku untuk bisa kualiah, orangtuaku merasa
tersentuh.
“Berapa
uang yang harus ibu sediakan untuk daftar ulang di Unnes?” tiba-tiba ibu
bertanya padaku,
“Tujuh
juta Bu,” tawabku tak yakin.
“Jika
ternyata nanti beasiswa yang kamu coba tidak ada yang lolos, ibu dan bapak
memutuskan untuk membiayaimu kuliah di Unness. Tenang saja, ibu kan masih punya
sawah dan kebun peninggalan kakekmu, pasti cukup.” kata ibu mencoba
menghiburku, padahal aku tahu bahwa kata-kata itu hanya untuk menghibur agar
aku bisa tenang.
****
Malam
ini seluruh anggota keluarga tidur lebih awal, kecuali aku. Dua hari lagi batas
waktu pembayaran daftar ulang. Ditambah aku harus menerima kenyataan bahwa aku
tidak lolos seleksi-seleksi beasiswa yang aku ikuti. Sayup-sayup aku mendengar
perbincangan bapak dan ibuku,
“Kita
akan meminjam uang siapa lagi? Dua hari lagi kita harus sudah punya uang tujuh
juta, dan sekarang baru terkumpul tiga juta?” tanya ibu kepada bapak.
“Entahlah,
kita berdoa saja. Jika sudah menjadi takdir Intan untuk melanjutkan kuliah,
pasti kita akan mendapatkan uang itu.” jawab bapakku kepada ibuku.
“Amin.”
lengkap Ibuku.
Kemudian
suasana hening, taka ada lagi yang bisa ku dengar. Aku tak dapat membendung air
mata yang tiba-tiba menyesak dadaku. Sudah aku kira sejak awal bahwa mereka
hanyalah menghiburku agar aku tidak putus asa. Begitu besar kasih sayang mereka
padaku, sehingga susah yang mereka rasakan sengaja tidak mereka perlihatkan
demi kebahagiaanku. Sempat terpikir olehku ku untuk mengibarkan bendera putih,
sebagai tanda kekalahanku dalam medan perang ini. Aku putuskan untuk tidak
mengambil kesempatanku kuliah di Unnes.
Keesokan
harinya aku mencoba menghilangkan tanda-tanda yang membekas akibat tangisanku
semalam dalam raut wajahku. Dengan langkah yang meyakinkan, aku menghampiri
ibuku dan berkata,
“Aku
tidak lagi ingin kuliah, setelah aku pikir-pikir lebih bermanfaat hidup di
pesantren. Karena manfaatnya akan aku bawa sampai kehidupan di akhirat nanti.”
jelasku, dengan terus mencoba tersenyum padahal sesak dada ini menahan tangis.
“Tidak,
kamu harus tetap kuliah. Kamu adalah anak bungsu, hanya kamu yang masih
memiliki kesempatan untuk kuliah. Ibu tak mau nasib semua anak ibu seperti ibu.
Jika nasib semua anak ibu sama seperti nasib ibu, lalu jika ibu tua nanti, ibu
akan ikut siapa? Hanya kamu satu-satunya harapan ibu dan bapak.” jelas ibuku.
Air mata
ini sudah tak dapat aku bendung lagi, sambil memeluk ibuku, aku keluarkan semua
air mataku. Ibu menenangkanku, ia berjanji akan segera mendapat uang untuk
biaya aku mendaftar PTN. Aku pun berjanji tidak akan membuatnya kecewa.
****
Selama
hidup di semarang, aku berusaha untuk hidup sehemat mungkin. Jika teman-teman
makan tiga kali dalam sehari dengan sayur sesuai dengan yang mereka inginkan,
aku makan dua kali sehari dengan lauk seadanya yang penting murah. Jika
teman-teman mengisi waktu luang dengan bermain, aku mengisi waktu luang dengan
mencari sesuatu yang dapat menghasilkan uang, walau usahaku sia-sia. Ketika
mereka beristirahat dengan nyenyak, aku memohon kepada Tuhan agar memudahkan
segala langkahku menuju ridlo-Nya.
Hari ini
adalah penutupan kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Aku bersama teman baruku,
namanya Mutiara berbaris di bawah terik matahari yang menyayat kulit. Mutiara
senasib denganku, sama-sama terbatasi oleh biaya. Ketika Rektor menyampaikan
sambutannya, ada pengumuman yang mebuat hati semua mahasiswa yang senasib
denganku berbunga-bunga yaitu bahwa dikti menambah kuota untuk beasiswa yang
membebaskan mahasiswa dari beban dana apapun bahkan memberi uang saku perbulan.
Mendengar pengumuman itu, seketika aku dan mutiara saling berpelukan. Setelah
upacara selesai aku langsung menghubungi ibu untuk memberitahukan kabar bahagia
ini. Semoga ini adalah rencana Tuhan yang telah dipersiapkan untukku.
Pulang
dari semarang aku langsung menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan, semua data
yang diminta oleh pusat sudah aku isi. Sekarang hanya tinggal menunggu
pengumuman dan berdoa. Walaupun kabar bahagia itu seakan masih sayup-sayup
terdengar, tapi kebahagiaan sudah terpancar di wajah seluruh anggota keluarga,
lebih-lebih ibu dan bapakku. Matahari seakan enggan untuk berputar, hari-hari
jadi terasa sangat lama. Merasakan kecemasan akan hasil seleksi beasiswa yang
diperebutkan oleh banyak mahasiswa ini.
****
Ketika
matahari menampakkan sinarnya di hari yang telah lama aku nanti, aku keluar
dengan mengayuh sepeda kesayanganku menuju warnet terdekat. Sayangnya walaupun
terdekat, ia tetap saja jauh. Mulai kumasukkan pinku, aku buka sedikit demi
sedikit. Aku tak mampu memandangnya lebih lama lagi. Di layar monitor tertulis
kata ‘SELAMAT ANDA LOLOS’. Jantungku berdebar tak menentu, aku keluarkan lagi
dan aku masukkan lagi pinku seakan tak percaya. Namun tulisan pada layar tetap
sama. Aku lakukan hal tersebut sampai berulang-ulang kali. Hampir aku menjerit
karena bahagia, seperti seorang anak kecil tersesat di dalam pasar yang bertemu
kembali dengan ibunya.
Sampai
di rumah aku sengaja memasang wajah datar, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
Padahal seluruh keluarga telah berkumpul menunggu kepulanganku dari warnet. Ibu
bertanya padaku,
“Bagaimana
hasilnya?” tanyanya dengan wajah penuh harap,
“Apakah
kamu lolos?” tambahnya tak sabar, karena aku tetap saja tanpa ekspresi.
Kemudian aku menganggukkan kepala.
“Benarkah?”
tanya ibuku ingin meyakinkan, sekali lagi aku hanya mengangguk sambil
tersenyum. Seketika ibu mendekapku. Keheningan yang beberapa saat lalu tercipta
kini telah pecah oleh tangis haru dari ibu dan bapakku. Aku ikut menangis
bahagia melihat ibu menangis. Bapakku sujud syukur dan seluruh anggota keluarga
yang pada saat itu berada di rumah juga ikut mengucapkan syukur.
Inilah saat-saat
yang selama ini aku tunggu. Perjalanan menuju keindahan ini tidaklah mudah dan
cepat. Semua butuh proses yang penuh dengan rintangan dan waktu yang tak
sebentar. Seperti kisah ulat sebelum menjadi kupu-kupu, ulat harus menjadi
kempompong dulu untuk berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Proses kepompong
menjadi kupu-kupu itupun butuh waktu yang sangat lama, harus penuh dengan
kesabaran. Sama saja dengan manusia, untuk mendapatkan sesuatu yang menakjupkan
harus melalui proses yang tidak udah dan harus sabar karena proses tersebut
akan membutuhkan waktu yang sangat banyak. Sekarang tugasku adalah belajar yang
giat dan rajin, membanggakan orang tua dan tidak mengecewakan pemerintah yang
telah memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa kuliah gratis.
Sepanjang
hari aku lewati dengan senyuman, walaupun aku tahu telah ada pengalaman dan
cobaan baru yang menanti untuk aku jalani. Berkat pengalaman ini aku yakin
bahwa di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan walau tak mudah kita
menemukan jalan itu. Serta semua hal di dunia ini itu mudah, tapi tidak ada hal
yang tak mudah yang tak memiliki jalan keluar. Jadi tidak ada alasan untuk
menyerah dan mundur, tataplah masa depan dengan yakin pasti bisa melewati
setiap tantangan yang ada. Tetap semangat!
No comments:
Post a Comment