Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Kisah Ulat Sebelum Menjadi Kupu-Kupu " Karya: Nur Afifah


Nur Afifah
Kisah Ulat Sebelum Menjadi Kupu-Kupu
Malam ini langit penuh dengan bintang di sebuah desa kecil di Kota Kendal yang bernama Desa Dawung. Hawa dingin menembus kulitku membawa aku larut dalam khayalan tanpa ujung. Aku tak tahu akan ku bawa kemana masa depanku nanti. Apakah aku harus memutus cita-citaku dan memenuhi permintaan ayah untuk hidup di pesantren. Atau tetap teguh pendirian melanjutkan kuliah? Keresahan selalu menemani setiap langkahku setelah menempuh ujian sekolah menengah atas beberapa hari yang lalu. Terkadang aku berpikir untuk kembali lagi ke masa kecil. Menjadi dewasa itu tidak enak, banyak pilihan yang harus segera ditentukan sendiri.
Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, sudah bisa makan sehari tiga kali saja sudah sangat bersyukur. Apalagi bisa membayar uang sekolah tepat waktu, walaupun sangat jarang terjadi. Kelima saudaraku tidak ada yang melanjutkan kuliah, ada yang lulusan SMP, ada juga yang lulusan SMA. Semua saudaraku setelah lulus sekolah langsung ke pondok pesantren. Tapi aku ingin menjadi guru. Aku harus bisa kuliah, bagaimanapun caranya.
“Intan!” sebuah suara datang membuyarkan lamunanku. Suara itu adalah suara Syarif, kakak laki-lakiku. Dia memintaku untuk masuk rumah dan segera tidur. Aku memenuhi panggilannya dan segera masuk kamar. Kamar yang sangat sederhana, sempit tapi nyaman. Kelambu merah melindungiku dari segala gangguan. Tapi tetap saja aku tak dapat memejamkan mata, aku melanjutkan lamunan yang sempat terputus. Namun, tak lama kemudian aku larut dalam mimpi indahku.
Keesokan harinya, dengan lesu aku paksa mataku untuk terbuka dan menyapa hari ini dengan senyuman. Di ruang makan, orangtuaku sudah menunggu untuk sarapan bersama. Lama sekali tak ada yang membuka pembicaraan. Setelah aku menyelesaikan sekolahku, rumah terasa selalu sepi. Tiba-tiba bapakku angkat bicara,
Nduk, bapak putuskan untuk membebaskan kamu memilih masa depan yang ingin kau jalani. Bapak tidak akan memaksamu untuk pergi dan hidup di pesantren. Tapi, harus kau tahu bapak dan ibu sudah tidak sanggup untuk membiayaimu sekolah lagi.” jelas bapak kepadaku.
Aku hanya terdiam dan menganggukkan kepala sebagai respon dari perkataan bapak tadi. Setelah itu aku izin ke kamar mandi, bukan hanya untuk mandi tapi juga untuk menumpahkan air mata yang sudah tak terbendung. Aku bingung, apakah aku harus bahagia karena telah diizinkan kuliah, ataukah harus sedih karena mendengar ucapan terakhir bapak. Kata-kata tadi menambah kerisauan hatiku. Setelah mandi aku bersiap-siap berangkat ke sekolah karena masih ada pengumuman-penguman penting yang tidak boleh aku lewatkan.
Untungnya aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu setia menemani dan menghiburku, mereka adalan Anis, Ima, Kholidin, Asih, Latif dan Rahmat. Nasib kami tak jauh berbeda, Anis ingin menjadi bidan, tapi tak mendapat restu dari orangtua. Ima ingin menjadi pelaut, tapi saingannya berat-berat. Sedangkan Kholidin, Asih, Latif dan Rahmat, sama sepertiku, ingin melanjutkan kuliah tapi tak ada biaya. Kami semua mencoba mendaftar PTN yang kita inginkan melalui jalur undangan. Saat ini kami sedang berada dalam penantian yang tak pasti, karena ketika mendaftar pun kami tak punya keyakinan bisa lolos. Kalaupun lolos, kami tak yakin bisa melanjutkan kuliah.
****
Malam ini langit penuh dengan bintang dan bulan pun bersinar sangat terang. Aku sedang menikmati suasana syahdu ini bersama bapak dan ibuku, tiba-tiba ada sms masuk dari Rahmat.
Alhamdulillah, aku diterima di Unnes jurusan Fisika, Tan.
Hatiku berdebar ketika membaca pesan darinya, dalam pikiranku pengumuman pendaftaran adalah besok pagi. Kenapa Rahmat sudah tahu? Karena rumahku jauh dari warnet, akhirnya aku meminta bantuan Rahmat untuk membukakan pengumuman untukku. Dia pun bersedia, tak lama setelah itu ada pesan masuk lagi dari Rahmat.
Selamat Tan, kamu diterima di Unnes jurusan Bahasa Indonesia...
Hatiku bahagia membaca pesan itu, namun tidak dengan orangtuaku. Mereka saling menatap, aku tahu yang ada dalam pikiran mereka. Sejenak ruanagan sepi, semua terdiam. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk masuk kamar dan beristirahat. Tak terasa air mata leleh di pipku. Aku tak tahu apakah harus bahagia atau gelisah. Aku bahagia karena diterima di PTN yang aku inginkan, tapi aku gelisah karena belum pasti aku akan melanjutkan kuliah. Malam demi malam selalu aku lewati dengan perasaan yang tak tenang.
****
Hari ini aku dan teman-temanku pergi ke Semarang untuk mengikuti seleksi beasiswa yang diselenggarakan oleh sebuah badan amal. Kami berada di Semarang selama tiga hari dengan bekal seadanya. Bekal utama kami adalah niat dan restu dari orang tua. Tiga hari ini kami rasakan begitu lama, serasa waktu mulai lelah untuk berjalan dan membiarkan kami terkatung-katung dalam ketidakpastian. Jadi teringat sebuah motto dari salah seorang temanku bahwa where is a way there is a way, yang berarti di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Aku yakin jika tidak lolos seleksi beasiswa ini, pasti Tuhan telah menyiapkan sebuah rencana yang lebih indah untukku.
Badan amal yang mengadakan program beasiswa berjanji akan menghubungi siapa saja yang lolos seleksi ini. Kami pulang dengan tangan kosong. Kami kira setelah tiga hari di sana, kami akan langsung mendapat hasil yang pasti. Tapi memang sesuatu yang luar biasa membutuhkan waktu untuk berproses.
Setelah beberapa hari terlewati, tiba-tiba Kholidin datang ke rumahku,
“Kamu dikirimi pesan nggakTan?” tanyanya,
“Enggak. Pesan apa?” kataku balik bertanya.
“Pesan bahwa kamu lolos beasiswa.” jawabnya.
Ternyata di antara kami hanya Kholidin yang lolos beasiswa itu. Dalam hatiku mendesah, meski sedikit tidak terima dengan hasil yang telah ada tapi setidaknya satu di antara kami sudah ada yang tenang. Aku dan teman-temanku mencoba lagi mendaftar beasiswa lain. Beasiswa ini berpusat di Jakarta, tapi tidak mengharuskan kami datang ke sana. Kami hanya diminta untuk mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan diantaranya adalah biografi diri, nilai hasil belajar selama sekolah menengah dan surat keterangan tidak mampu serta masih banyak lagi. Dengan mengayuh sepeda kesayanganku, sepeda yang selalu setia mengantarku ke manapun aku mau.
Lama aku terdampar dalam ketidakpastian, sudah banyak usaha yang aku lakukan namun belum ada yang memberi kabar bahagia. Terngiang-ngiang kembali kata-kata bapak,
Nduk, bapak putuskan untuk membebaskan kamu memilih masa depan yang ingin kau jalani. Bapak tidak akan memaksamu untuk pergi dan hidup di pesantren. Tapi, harus kau tahu bapak dan ibu sudah tidak sanggup untuk membiayaimu sekolah lagi. Air mata terus mengalir dari kedua mataku. Tak sabar rasanya menantikan kabar bahagia yang Tuhan janjikan untuk hambanya yang mau berusaha. Mencoba meyakinkan hati bahwa di dunia ini tidak ada hal yang mudah, tapi tidak ada hal sulit yang tidak memiliki jalan keluar. Hanya saja jalan keluar itu belum terlihat oleh mata kita. Atau masih butuh waktu dan proses yang lama untuk dapat menemukannya.
Dukungan dari keluarga dan teman-teman terus mengalir, mencoba mengobarkan kembali semangatku yang mulai meredup. Perjuangan masih aku lanjutkan dengan mengikuti berbagai try out tes masuk PTN yang menjanjikan beasiswa. Selama proses aku lakukan sendiri, jika yang lain diantar oleh orangtua atau saudara maka aku berangkat sendiri. Dalam keyakinanku, ini adalah masa depanku. Aku tak mau merepotkan siapapun. Melihat semangatku untuk bisa kualiah, orangtuaku merasa tersentuh.
“Berapa uang yang harus ibu sediakan untuk daftar ulang di Unnes?” tiba-tiba ibu bertanya padaku,
“Tujuh juta Bu,” tawabku tak yakin.
“Jika ternyata nanti beasiswa yang kamu coba tidak ada yang lolos, ibu dan bapak memutuskan untuk membiayaimu kuliah di Unness. Tenang saja, ibu kan masih punya sawah dan kebun peninggalan kakekmu, pasti cukup.” kata ibu mencoba menghiburku, padahal aku tahu bahwa kata-kata itu hanya untuk menghibur agar aku bisa tenang.
****
Malam ini seluruh anggota keluarga tidur lebih awal, kecuali aku. Dua hari lagi batas waktu pembayaran daftar ulang. Ditambah aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak lolos seleksi-seleksi beasiswa yang aku ikuti. Sayup-sayup aku mendengar perbincangan bapak dan ibuku,
“Kita akan meminjam uang siapa lagi? Dua hari lagi kita harus sudah punya uang tujuh juta, dan sekarang baru terkumpul tiga juta?” tanya ibu kepada bapak.
“Entahlah, kita berdoa saja. Jika sudah menjadi takdir Intan untuk melanjutkan kuliah, pasti kita akan mendapatkan uang itu.” jawab bapakku kepada ibuku.
“Amin.” lengkap Ibuku.
Kemudian suasana hening, taka ada lagi yang bisa ku dengar. Aku tak dapat membendung air mata yang tiba-tiba menyesak dadaku. Sudah aku kira sejak awal bahwa mereka hanyalah menghiburku agar aku tidak putus asa. Begitu besar kasih sayang mereka padaku, sehingga susah yang mereka rasakan sengaja tidak mereka perlihatkan demi kebahagiaanku. Sempat terpikir olehku ku untuk mengibarkan bendera putih, sebagai tanda kekalahanku dalam medan perang ini. Aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatanku kuliah di Unnes.
Keesokan harinya aku mencoba menghilangkan tanda-tanda yang membekas akibat tangisanku semalam dalam raut wajahku. Dengan langkah yang meyakinkan, aku menghampiri ibuku dan berkata,
“Aku tidak lagi ingin kuliah, setelah aku pikir-pikir lebih bermanfaat hidup di pesantren. Karena manfaatnya akan aku bawa sampai kehidupan di akhirat nanti.” jelasku, dengan terus mencoba tersenyum padahal sesak dada ini menahan tangis.
“Tidak, kamu harus tetap kuliah. Kamu adalah anak bungsu, hanya kamu yang masih memiliki kesempatan untuk kuliah. Ibu tak mau nasib semua anak ibu seperti ibu. Jika nasib semua anak ibu sama seperti nasib ibu, lalu jika ibu tua nanti, ibu akan ikut siapa? Hanya kamu satu-satunya harapan ibu dan bapak.” jelas ibuku.
Air mata ini sudah tak dapat aku bendung lagi, sambil memeluk ibuku, aku keluarkan semua air mataku. Ibu menenangkanku, ia berjanji akan segera mendapat uang untuk biaya aku mendaftar PTN. Aku pun berjanji tidak akan membuatnya kecewa.
****
Selama hidup di semarang, aku berusaha untuk hidup sehemat mungkin. Jika teman-teman makan tiga kali dalam sehari dengan sayur sesuai dengan yang mereka inginkan, aku makan dua kali sehari dengan lauk seadanya yang penting murah. Jika teman-teman mengisi waktu luang dengan bermain, aku mengisi waktu luang dengan mencari sesuatu yang dapat menghasilkan uang, walau usahaku sia-sia. Ketika mereka beristirahat dengan nyenyak, aku memohon kepada Tuhan agar memudahkan segala langkahku menuju ridlo-Nya.
Hari ini adalah penutupan kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Aku bersama teman baruku, namanya Mutiara berbaris di bawah terik matahari yang menyayat kulit. Mutiara senasib denganku, sama-sama terbatasi oleh biaya. Ketika Rektor menyampaikan sambutannya, ada pengumuman yang mebuat hati semua mahasiswa yang senasib denganku berbunga-bunga yaitu bahwa dikti menambah kuota untuk beasiswa yang membebaskan mahasiswa dari beban dana apapun bahkan memberi uang saku perbulan. Mendengar pengumuman itu, seketika aku dan mutiara saling berpelukan. Setelah upacara selesai aku langsung menghubungi ibu untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Semoga ini adalah rencana Tuhan yang telah dipersiapkan untukku.
Pulang dari semarang aku langsung menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan, semua data yang diminta oleh pusat sudah aku isi. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman dan berdoa. Walaupun kabar bahagia itu seakan masih sayup-sayup terdengar, tapi kebahagiaan sudah terpancar di wajah seluruh anggota keluarga, lebih-lebih ibu dan bapakku. Matahari seakan enggan untuk berputar, hari-hari jadi terasa sangat lama. Merasakan kecemasan akan hasil seleksi beasiswa yang diperebutkan oleh banyak mahasiswa ini.
****
Ketika matahari menampakkan sinarnya di hari yang telah lama aku nanti, aku keluar dengan mengayuh sepeda kesayanganku menuju warnet terdekat. Sayangnya walaupun terdekat, ia tetap saja jauh. Mulai kumasukkan pinku, aku buka sedikit demi sedikit. Aku tak mampu memandangnya lebih lama lagi. Di layar monitor tertulis kata ‘SELAMAT ANDA LOLOS’. Jantungku berdebar tak menentu, aku keluarkan lagi dan aku masukkan lagi pinku seakan tak percaya. Namun tulisan pada layar tetap sama. Aku lakukan hal tersebut sampai berulang-ulang kali. Hampir aku menjerit karena bahagia, seperti seorang anak kecil tersesat di dalam pasar yang bertemu kembali dengan ibunya.
Sampai di rumah aku sengaja memasang wajah datar, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Padahal seluruh keluarga telah berkumpul menunggu kepulanganku dari warnet. Ibu bertanya padaku,
“Bagaimana hasilnya?” tanyanya dengan wajah penuh harap,
“Apakah kamu lolos?” tambahnya tak sabar, karena aku tetap saja tanpa ekspresi. Kemudian aku menganggukkan kepala.
“Benarkah?” tanya ibuku ingin meyakinkan, sekali lagi aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Seketika ibu mendekapku. Keheningan yang beberapa saat lalu tercipta kini telah pecah oleh tangis haru dari ibu dan bapakku. Aku ikut menangis bahagia melihat ibu menangis. Bapakku sujud syukur dan seluruh anggota keluarga yang pada saat itu berada di rumah juga ikut mengucapkan syukur.
Inilah saat-saat yang selama ini aku tunggu. Perjalanan menuju keindahan ini tidaklah mudah dan cepat. Semua butuh proses yang penuh dengan rintangan dan waktu yang tak sebentar. Seperti kisah ulat sebelum menjadi kupu-kupu, ulat harus menjadi kempompong dulu untuk berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Proses kepompong menjadi kupu-kupu itupun butuh waktu yang sangat lama, harus penuh dengan kesabaran. Sama saja dengan manusia, untuk mendapatkan sesuatu yang menakjupkan harus melalui proses yang tidak udah dan harus sabar karena proses tersebut akan membutuhkan waktu yang sangat banyak. Sekarang tugasku adalah belajar yang giat dan rajin, membanggakan orang tua dan tidak mengecewakan pemerintah yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa kuliah gratis.
Sepanjang hari aku lewati dengan senyuman, walaupun aku tahu telah ada pengalaman dan cobaan baru yang menanti untuk aku jalani. Berkat pengalaman ini aku yakin bahwa di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan walau tak mudah kita menemukan jalan itu. Serta semua hal di dunia ini itu mudah, tapi tidak ada hal yang tak mudah yang tak memiliki jalan keluar. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah dan mundur, tataplah masa depan dengan yakin pasti bisa melewati setiap tantangan yang ada. Tetap semangat!


No comments:

Post a Comment