FIRASAT
Karya : Eri Wahyudi
Seperti
biasa, anak itu seakan berlomba dengan bunyi alarm yang sudah ia setting lima jam yang lalu. Retakan
dinding dengan cat yang sudah kusam mencoba mengintip dari balik figura dan
gantungan baju disudut kamar Zaid. Anak itu terkesan terlalu ngeyel dengan settingan alarmnya sendiri, ia bangun lebih dulu sebelum alarmnya
berbunyi, bahkan sebelum settingan
alarm Tuhan di kompleks itu berkokok pertanda fajar telah tiba.
Pukul
tiga pagi. Tapi tak seperti biasa, Hasan, kakaknya yang setahun lebih dulu
menempati kamar berukuran tiga kali dua meter itu belum jua bangun, sarung
batik dominasi warna coklat masih menutupi sebagian tubuhnya. Tersurat guratan
lelah diwajah kakak satu-satunya itu. Namun Zaid maklum dengannya karena
mungkin ia terlalu capek membersihkan masjid siang kemarin. Kalau sudah begini Zaid
merasa bersalah karena harusnya ia pulang lebih cepat dari rumah sehingga bisa
membantu kakaknya itu. Sebagai seorang Takmir masjid di salah satu Madrasah
Aliyah, kakak beradik itu hanya diperbolehkan pulang kerumah satu bulan sekali.
Dengan begitu mereka diberi kamar sendiri oleh pihak Madrasah, dibebaskan dari
biaya sekolah selama tiga tahun, dan tentunya dengan sederet tanggung jawab.Mereka
harus rajin membersihkan dan menjaga rumah Allah yang berada tepat disamping
kantor guru madrasah itu.
Tidak
mengulur-ulur waktu, Zaid beranjak dari kasur merah garis putih tanpa seprai
itu kemudian membuka pintu kamarnya. Pagi terasa dingin dan hening, hanya suara
dari klebatan-klebatan sarung Zaid dan decitan sendal yang mendesak lantai
lorong kelas antara IPA dan IPS. Diterangi lampu yang tak semuanya menyala,
sesekali ia tengok ruang kelas dimana ia menimba ilmu selama hampir dua tahun terakhir
ini. Sebelas IPA tiga. Zaid termasuk sosok panutan di kelas, sifatnya yang
pendiam, murah senyum, cerdas, pandai berbahasa Arab membuat teman-teman
sekelasnya kagum. Terlebih ia adalah seorang Qari, suaranya yang merdu membuat
merinding ketika melantunkan ayat-ayat Ilahi. Dengan keistimewaan yang
dimilikinya, tak jarang ia sering dipanggil untuk sekadar membacakan satu dua
ayat pada kegiatan akbar di Madrasah. Tak hanya itu, banyak juga guru yang
memanggil Zaid pada acara pengajian di rumah. Sedikit demi sedikit
amplop-amplop ikhlas yang diterimanya selalu ia sisihkan untuk ditabung dan ia
berikan untuk ibunya yang hidup sendiri di kampung sebagai tukang jahit. Hal
ini juga yang dulu membuatnya sedih ketika harus meninggalkan ibunya yang sudah
renta menjadi takmir di madrasahnya. Namun perkataan sederhana ibunya selalu
melegakan hati Zaid.
“Ibuk,
sudah ndak kuat lagi mbiayai sekolah kamu sama masmu. Ibuk seneng mas mu itu
jadi takmir di sekolah, sekarang kamu juga ikut jadi takmir, ibuk tambah seneng
Le, inget yo Le, Gusti Allah bakal mberi petunjuk sama anak muda yang mau
mengurus mesjid. Yaa kayak kamu ini...”, tutur
ibunya sembari menjahitkan sarung Zaid yang sudah bolong.
Ia terus melangkahkan kaki ke Masjid
hijau Madrasah Aliyah Negeri satu-satunya di salah satu kota di jogja.
Diambilnya air wudu yang terasa amat dingin kewajahnya. Ia gelar sajadah putih
yang setia menemaninya saat menghadap Yang Maha Kuasa. Tahajud, taubat, dan salat
hajad sampai pada sujud terakhir. Entah berapa ribu malaikat yang mendoakan
anak itu ketika air matanya meleleh dan jatuh membasahi sajadah putih pemberian
ibunya. Tepat pukul empat, ia menoleh kebelakang di saf pojok kedua dimana
Hasan biasanya masih bersimpuh memutar tasbih. Namun kali ini ia belum juga ke
masjid, ia makin merasa khawatir pada kakaknyayang sangat pendiam itu.
“Masih
ada lima belas menit” gumamnya dalam hati.
Jika
biasanya ia menyiapkan mikrofon, menata sajadah, kemudian dilanjut dengan
menggemakan azan subuh, kini ia curi limabelas menit untuk melihat keadaan
kakaknya yang belum terbangun, ia kembali menyusuri lorong menuju kamarnya,
ketika daun pintu kamar dibuka, ternyata Hasan masih saja berselimut sarung.
Tapi
kali ini berbeda, tubuhnya menggigil, bak baru selesai mandi air es. Sontak
Zaid memegang badan kakaknya itu dan terkejutlah ia merasakan suhu badan yang
panas tinggi. Pikiran anak itu mulai menembus memori-memori masa lalu, entah
ini sebuah anugerah atau musibah. Sakit Hasan tak seperti sakit orang-orang
pada umumnya. Seperti tepat lima tahun yang lalu ketika Hasan sakit seperti ini
kemudian selang seminggu kemudian ayahnya meninggal karena kecelakaan sepulang
dari Bandung. Atau setahun yang lalu ketika uang ibunya dijambret orang di
pasar saat menjual kalung terakhir untuk membiayai Zaid masuk Madrasah ini.
Banyak yang sudah menyadari tentang kepekaan firasat Hasan, termasuk Kakeknya
yang pertama kali memberitahu Zaid bahwa kakaknya memiliki kelebihan itu.
Kakeknya yang adalah seorang ulama dikampung memperingatkan Zaid agar jangan
takut jika Hasan sakit panas.
“beristighfarlah
yang banyak dan tegakkan salat kemudian berdoalah agar kakakmu cepet sembuh.
Semuanya akan baik-baik saja kok Le” tutur
kakeknya ketika lebaran tahun kemarin.
Akhirnya
ia papah kakaknya yang masih panas tinggi menuju masjid untuk salat berjamaah
bersama. Subuh yang biasanya dipimpin oleh Hasan, kini Zaidlah yang menjadi
imam. Diikuti Hasan, Santoso dan Istrinya. Mereka adalah satpam sekolah dan
istrinya sebagai pemilik kantin sekolah, Santoso dan istrinya sudah menganggap
Hasan dan Zaid sebagai anak sendiri, karena makan, dan keperluan sehari-hari,
Sansoto dan istrinyalah yang mengurus. Rasa kekeluargaan diantara mereka terasa
sangat hangat, Hasan dan Zaid sering bercanda dengan Santoso yang biasa mereka
panggil “Bapak”, dan mereka juga sering curhat dengan “Ibu” saat ada masalah.
“Assalamualaikum
warohmatullahiwabarokatuh,.....”
Tahiyat
akhir selesai dilanjut dengan dzikir, namun kali ini Zaid merasa tidak khusyuk
karena kakaknya yang sakit,
“Apa
yang akan terjadi pada keluarga hamba Gusti?” dalam hatinya.
Begitu
juga Santoso dan istrinya yang kemudian ikut membantu Hasan kembali kekamarnya,
sesaat kemudian bunyi telepon menyambut saat pintu kamar dibuka, dilihatnya
layar telepon itu oleh Zaid, tertulis disitu bahwa ibunya yang memanggil.
“Assalamualaikum?
Pripun Buk?” sapa Zaid.
“Kamu
kenapa to Le?” kata Ibunya, panik.
“Ndak
apa apa kok buk” jawab Hasan dengan hati-hati
pembicaraan
mereka menyisakan rasa khawatir dihati Zaid. Ibunya yang belum ia beri tahu saja
sudah punya firasat dan menelpon sepagi ini, Zaid mencoba menerka-nerka apa
yang akan terjadi, namun lamunan Zaid
terhenti oleh Istri Santoso dengan teh panas yang ia bawa untuk Hasan.
“Sudah
Le, kamu cepet mandi sana, siap-siap sekolah”
“
Iyabuk” jawab Zaid
Tepat pukul enam pagi, Hasan yang
biasanya membaca zikir dan Asmaul husna lewat speaker masjid bersama Hasan, pagi itu ia sendirian. Usai pembacaan
asmaul husna, Zaid kemudian masuk ruang kelas untuk menimba ilmu.
Hari itu dilewati dengan biasa oleh
Zaid, madrasah sudah mulai sepi, hanya beberapa anak-anak pengurus OSIS dan
Pramuka di ruang organisasi. Pukul setengah lima sore waktunya ia membersihkan
masjid, sedangkan Hasan yang sepertinya sudah membaik dilarangnya untuk
membantu. Pekerjaan mulia itu dimulai dari menggulung karpet masjid,
membersihkan kaca jendela, menyapu lantai dua, kemudian lantai satu. Tak ada
sedikitpun rasa malu atau minder ketika satu dua teman yang lewat melihat dan
menyapanya. Pekerjaan ini biasanya butuh waktu setengah jam jika dikerjakan
berdua dengan kakaknya, namun Zaid bukanlah orang yang suka mengeluh. Ia
bersihkan semua dengan cepat. Setelah selesai ia ternyata lupa membawa alat
pel. Semua alat-alat itu masih digudang dekat UKS. Dengan wajah sedikit
kelelahan ia pergi kekamar mengambil kunci gudang dan pergi mengambil alat-alat
tersebut.
Gudang sekolah terletak tepat
disamping UKS, berada disudut bangunan yang sempit.disepanjang jalan menuju
gudang tiba-tiba hp anak itu berbunyi, dilihatnya nomor pakdhe Imron yang
memanggil, dengan bertanya-tanya ia angkat panggilan itu.
“Assalamualaikum
Pakdhe?” sapanya,
“Waalaikumsalam.
Nak, kamu bisa pulang sekarang? Ibumu koma di rumahsakit.”
“Ibuk...ibuk
kenapa Pakdhe?” jawabnya dengan gugup,
“Ibumu
jantungnya kambuh, pakdhe tadi mendapat kabar dari tetanggamu yang melihat
ibumu sudah tergeletak di samping rumah. Kamu cepat ke sini, aku tunggu di
depan ruang ICU” jelasnya
Zaid
mengiyakan perintah pamannya itu, ia tak bisa bicara apa-apa, hatinya gugup, ia
belum tahu kalau ibunya punya penyakit jantung. Anak itu mulai lemas, dengan
gemetar ia menuju ke kamar untuk bersiap menuju ke rumah sakit. Sepanjang
perjalanan menuju kamar ia coba memasang wajah biasa agar kakaknya tidak
curiga. Alangkah takdir Tuhan membuat anak ini seperti jatuh dan tertimpa
tangga, ketika kamar dibuka, Hasan makin menjadi, tubuhnya semakin panas dan
mulai kejang-kejang. Hasan makin panik.
Samar-samar
lantunan Yasin terdengar oleh Zaid yang masih menikmati lamunannya malam itu,
kemudian ia tersadar dengan sentuhan lembut kepala sekolah yang diam-diam
memperhatikannya sedari tadi.
“Nak,
Bapak turut berduka atas kepergian Ibu dan kakakmu, sekarang kamu tinggal saja
dirumah bapak. Biar nanti biaya sekolahmu sampai sarjana bapak yang
menanggung.” Pinta Jalal, seorang kepala sekolah yang mengangkat Zaid sebagai
takmir.
“Ndak
Pak, Zaid masih mau mengabdi menjadi pengurus masjid. Zaid masih mau nurut sama
pesen ibuk kalau anak muda yang mau mengurus rumah Allah itu akan mendapat
petunjuk dan tidak akan disesatkan” jelasnya dengan nada datar.
“Subhanallah,....”
sontak ia peluk Zaid dengan linangan air mata haru Jalal.
No comments:
Post a Comment