Wednesday, 9 December 2015

Cerpen "Firasat" Karya : Eri Wahyudi


FIRASAT
Karya : Eri Wahyudi

           
Seperti biasa, anak itu seakan berlomba dengan bunyi alarm yang sudah ia setting lima jam yang lalu. Retakan dinding dengan cat yang sudah kusam mencoba mengintip dari balik figura dan gantungan baju disudut kamar Zaid. Anak itu terkesan terlalu ngeyel dengan settingan alarmnya sendiri, ia bangun lebih dulu sebelum alarmnya berbunyi, bahkan sebelum settingan alarm Tuhan di kompleks itu berkokok pertanda fajar telah tiba.
Pukul tiga pagi. Tapi tak seperti biasa, Hasan, kakaknya yang setahun lebih dulu menempati kamar berukuran tiga kali dua meter itu belum jua bangun, sarung batik dominasi warna coklat masih menutupi sebagian tubuhnya. Tersurat guratan lelah diwajah kakak satu-satunya itu. Namun Zaid maklum dengannya karena mungkin ia terlalu capek membersihkan masjid siang kemarin. Kalau sudah begini Zaid merasa bersalah karena harusnya ia pulang lebih cepat dari rumah sehingga bisa membantu kakaknya itu. Sebagai seorang Takmir masjid di salah satu Madrasah Aliyah, kakak beradik itu hanya diperbolehkan pulang kerumah satu bulan sekali. Dengan begitu mereka diberi kamar sendiri oleh pihak Madrasah, dibebaskan dari biaya sekolah selama tiga tahun, dan tentunya dengan sederet tanggung jawab.Mereka harus rajin membersihkan dan menjaga rumah Allah yang berada tepat disamping kantor guru madrasah itu.
           

Tidak mengulur-ulur waktu, Zaid beranjak dari kasur merah garis putih tanpa seprai itu kemudian membuka pintu kamarnya. Pagi terasa dingin dan hening, hanya suara dari klebatan-klebatan sarung Zaid dan decitan sendal yang mendesak lantai lorong kelas antara IPA dan IPS.  Diterangi lampu yang tak semuanya menyala, sesekali ia tengok ruang kelas dimana ia menimba ilmu selama hampir dua tahun terakhir ini. Sebelas IPA tiga. Zaid termasuk sosok panutan di kelas, sifatnya yang pendiam, murah senyum, cerdas, pandai berbahasa Arab membuat teman-teman sekelasnya kagum. Terlebih ia adalah seorang Qari, suaranya yang merdu membuat merinding ketika melantunkan ayat-ayat Ilahi. Dengan keistimewaan yang dimilikinya, tak jarang ia sering dipanggil untuk sekadar membacakan satu dua ayat pada kegiatan akbar di Madrasah. Tak hanya itu, banyak juga guru yang memanggil Zaid pada acara pengajian di rumah. Sedikit demi sedikit amplop-amplop ikhlas yang diterimanya selalu ia sisihkan untuk ditabung dan ia berikan untuk ibunya yang hidup sendiri di kampung sebagai tukang jahit. Hal ini juga yang dulu membuatnya sedih ketika harus meninggalkan ibunya yang sudah renta menjadi takmir di madrasahnya. Namun perkataan sederhana ibunya selalu melegakan hati Zaid.
“Ibuk, sudah ndak kuat lagi mbiayai sekolah kamu sama masmu. Ibuk seneng mas mu itu jadi takmir di sekolah, sekarang kamu juga ikut jadi takmir, ibuk tambah seneng Le, inget yo Le, Gusti Allah bakal mberi petunjuk sama anak muda yang mau mengurus mesjid. Yaa kayak kamu ini...”, tutur ibunya sembari menjahitkan sarung Zaid yang sudah bolong.
            Ia terus melangkahkan kaki ke Masjid hijau Madrasah Aliyah Negeri satu-satunya di salah satu kota di jogja. Diambilnya air wudu yang terasa amat dingin kewajahnya. Ia gelar sajadah putih yang setia menemaninya saat menghadap Yang Maha Kuasa. Tahajud, taubat, dan salat hajad sampai pada sujud terakhir. Entah berapa ribu malaikat yang mendoakan anak itu ketika air matanya meleleh dan jatuh membasahi sajadah putih pemberian ibunya. Tepat pukul empat, ia menoleh kebelakang di saf pojok kedua dimana Hasan biasanya masih bersimpuh memutar tasbih. Namun kali ini ia belum juga ke masjid, ia makin merasa khawatir pada kakaknyayang sangat pendiam itu.
“Masih ada lima belas menit” gumamnya dalam hati.
Jika biasanya ia menyiapkan mikrofon, menata sajadah, kemudian dilanjut dengan menggemakan azan subuh, kini ia curi limabelas menit untuk melihat keadaan kakaknya yang belum terbangun, ia kembali menyusuri lorong menuju kamarnya, ketika daun pintu kamar dibuka, ternyata Hasan masih saja berselimut sarung.
Tapi kali ini berbeda, tubuhnya menggigil, bak baru selesai mandi air es. Sontak Zaid memegang badan kakaknya itu dan terkejutlah ia merasakan suhu badan yang panas tinggi. Pikiran anak itu mulai menembus memori-memori masa lalu, entah ini sebuah anugerah atau musibah. Sakit Hasan tak seperti sakit orang-orang pada umumnya. Seperti tepat lima tahun yang lalu ketika Hasan sakit seperti ini kemudian selang seminggu kemudian ayahnya meninggal karena kecelakaan sepulang dari Bandung. Atau setahun yang lalu ketika uang ibunya dijambret orang di pasar saat menjual kalung terakhir untuk membiayai Zaid masuk Madrasah ini. Banyak yang sudah menyadari tentang kepekaan firasat Hasan, termasuk Kakeknya yang pertama kali memberitahu Zaid bahwa kakaknya memiliki kelebihan itu. Kakeknya yang adalah seorang ulama dikampung memperingatkan Zaid agar jangan takut jika Hasan sakit panas.
“beristighfarlah yang banyak dan tegakkan salat kemudian berdoalah agar kakakmu cepet sembuh. Semuanya akan baik-baik saja kok Letutur kakeknya ketika lebaran tahun kemarin.
Akhirnya ia papah kakaknya yang masih panas tinggi menuju masjid untuk salat berjamaah bersama. Subuh yang biasanya dipimpin oleh Hasan, kini Zaidlah yang menjadi imam. Diikuti Hasan, Santoso dan Istrinya. Mereka adalah satpam sekolah dan istrinya sebagai pemilik kantin sekolah, Santoso dan istrinya sudah menganggap Hasan dan Zaid sebagai anak sendiri, karena makan, dan keperluan sehari-hari, Sansoto dan istrinyalah yang mengurus. Rasa kekeluargaan diantara mereka terasa sangat hangat, Hasan dan Zaid sering bercanda dengan Santoso yang biasa mereka panggil “Bapak”, dan mereka juga sering curhat dengan “Ibu” saat ada masalah.
“Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh,.....”
Tahiyat akhir selesai dilanjut dengan dzikir, namun kali ini Zaid merasa tidak khusyuk karena kakaknya yang sakit,
“Apa yang akan terjadi pada keluarga hamba Gusti?” dalam hatinya.
Begitu juga Santoso dan istrinya yang kemudian ikut membantu Hasan kembali kekamarnya, sesaat kemudian bunyi telepon menyambut saat pintu kamar dibuka, dilihatnya layar telepon itu oleh Zaid, tertulis disitu bahwa ibunya yang memanggil.
“Assalamualaikum? Pripun Buk?” sapa Zaid.
“Kamu kenapa to Le?” kata Ibunya, panik.
“Ndak apa apa kok buk” jawab Hasan dengan hati-hati
pembicaraan mereka menyisakan rasa khawatir dihati Zaid. Ibunya yang belum ia beri tahu saja sudah punya firasat dan menelpon sepagi ini, Zaid mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi,  namun lamunan Zaid terhenti oleh Istri Santoso dengan teh panas yang ia bawa untuk Hasan.
“Sudah Le, kamu cepet mandi sana, siap-siap sekolah”
“ Iyabuk” jawab Zaid
            Tepat pukul enam pagi, Hasan yang biasanya membaca zikir dan Asmaul husna lewat speaker masjid bersama Hasan, pagi itu ia sendirian. Usai pembacaan asmaul husna, Zaid kemudian masuk ruang kelas untuk menimba ilmu.
            Hari itu dilewati dengan biasa oleh Zaid, madrasah sudah mulai sepi, hanya beberapa anak-anak pengurus OSIS dan Pramuka di ruang organisasi. Pukul setengah lima sore waktunya ia membersihkan masjid, sedangkan Hasan yang sepertinya sudah membaik dilarangnya untuk membantu. Pekerjaan mulia itu dimulai dari menggulung karpet masjid, membersihkan kaca jendela, menyapu lantai dua, kemudian lantai satu. Tak ada sedikitpun rasa malu atau minder ketika satu dua teman yang lewat melihat dan menyapanya. Pekerjaan ini biasanya butuh waktu setengah jam jika dikerjakan berdua dengan kakaknya, namun Zaid bukanlah orang yang suka mengeluh. Ia bersihkan semua dengan cepat. Setelah selesai ia ternyata lupa membawa alat pel. Semua alat-alat itu masih digudang dekat UKS. Dengan wajah sedikit kelelahan ia pergi kekamar mengambil kunci gudang dan pergi mengambil alat-alat tersebut.
            Gudang sekolah terletak tepat disamping UKS, berada disudut bangunan yang sempit.disepanjang jalan menuju gudang tiba-tiba hp anak itu berbunyi, dilihatnya nomor pakdhe Imron yang memanggil, dengan bertanya-tanya ia angkat panggilan itu.
“Assalamualaikum Pakdhe?” sapanya,
“Waalaikumsalam. Nak, kamu bisa pulang sekarang? Ibumu koma di rumahsakit.”
“Ibuk...ibuk kenapa Pakdhe?” jawabnya dengan gugup,
“Ibumu jantungnya kambuh, pakdhe tadi mendapat kabar dari tetanggamu yang melihat ibumu sudah tergeletak di samping rumah. Kamu cepat ke sini, aku tunggu di depan ruang ICU” jelasnya
Zaid mengiyakan perintah pamannya itu, ia tak bisa bicara apa-apa, hatinya gugup, ia belum tahu kalau ibunya punya penyakit jantung. Anak itu mulai lemas, dengan gemetar ia menuju ke kamar untuk bersiap menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju kamar ia coba memasang wajah biasa agar kakaknya tidak curiga. Alangkah takdir Tuhan membuat anak ini seperti jatuh dan tertimpa tangga, ketika kamar dibuka, Hasan makin menjadi, tubuhnya semakin panas dan mulai kejang-kejang. Hasan makin panik.
Samar-samar lantunan Yasin terdengar oleh Zaid yang masih menikmati lamunannya malam itu, kemudian ia tersadar dengan sentuhan lembut kepala sekolah yang diam-diam memperhatikannya sedari tadi.
“Nak, Bapak turut berduka atas kepergian Ibu dan kakakmu, sekarang kamu tinggal saja dirumah bapak. Biar nanti biaya sekolahmu sampai sarjana bapak yang menanggung.” Pinta Jalal, seorang kepala sekolah yang mengangkat Zaid sebagai takmir.
“Ndak Pak, Zaid masih mau mengabdi menjadi pengurus masjid. Zaid masih mau nurut sama pesen ibuk kalau anak muda yang mau mengurus rumah Allah itu akan mendapat petunjuk dan tidak akan disesatkan” jelasnya dengan nada datar.


“Subhanallah,....” sontak ia peluk Zaid dengan linangan air mata haru Jalal.

No comments:

Post a Comment