Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Asa " Karya: Sailirrohmah


Sailirrohmah
Asa
            Terik matahari telah memuncak. Siang ini hujan tidak turun, tak seperti biasanya yang tak pernah absen untuk membasahi bumi. Aku berjalan sendiri melewati rimbunan pohon jati ditengah hutan yang cukup lebat. Langkah kaki begitu kunikmati, jalanan yang sepi ini seperti milik sendiri. Memang jalanan menuju kampungku belum beraspal, saat musim kemarau debu akan mengepul ketika ada kendaraan yang lewat. Kali ini aku aku melewati jalur yang berbeda, jalur setapak yang berliku, suara burung emprit menemani perjalananku sehabis sekolah kali ini. Hamparan ladang terhampar begitu luas di depan mataku, dengan tanah yang becek sisa hujan semalam aku tetap berjalan dengan santai. Kulepaskan sepatuku dan kubiarkan kakiku menikmati tanah yang lembek ini. Perjalanku terhenti kala seorang warga kampungku memanggilku.
            “Pulang sendirian, Nduk?” sapa mbah Tini, seorang petani yang sedang menggarap kebunnya.
            “Iya, mbah. Asa pulang sendiri. Sedang menanam apa ini mbah?” jawabku.
            “Mau nanam jagung Nduk. Nah temanmu yang lain pada kemana, belum pulang?”
            Desaku sedang musim tanam. Hujan yang sering mengguyur membuat para petani bersemangat untuk bercocok tanam. Para petani menanam palawija untuk kebunnya. Dengan modal yang tidak terlalu banyak mereka menanami palawija seadanya. Sistem barter masih berlaku di desaku, hal ini akan memudahkan untuk saling tukar menukar benih.
            “Oh jagung mbah, bagus ya  mbah ditanam dimusim hujan seperti ini. Kalau kebunku bapakku itu mau ditanami kacang tanah katanya.” sahutku.
            “Kacang juga bagus ditanami dimusim seperti ini, lahan kebun warga kita kan ya tanamannya ya itu-itu saja kalau tidak jagung, paling kacang tanah, banyak juga yang singkong. Hahaha….” Sahut mbah Tini sambil tertawa.
            “Oh iya Nduk, kamu belum jawab pertanyaan mbah tadi tho, kenapa pulang sendiri, temanmu pada kemana?”
            “Anu mbah, temanku yang lain sudah pada pulang. Tadi saya mampir ke kantor kecamatan dulu, mengirim surat untuk formulir pendaftaran lomba.”
            “Wah, mau ikut lomba apa Nduk?”
            “Ehmmm… Lomba lari maraton mbah.” Jawabku dengan malu-malu.
            “Wah, wah, bagus, bagus… Sini ikut duduk, istirahat di kebun mbah dulu sini. Ini simbah bawa jajan.”
            “Tidak usah mbah, saya langsung pulang saja, nanti dicari simbok kalau saya tidak pulang-pulang. Saya langsung pulang saja ya mbah.”
            “Wah sayang sekali, ya sudah kalau begitu. Hati-hati Nduk.
            Akupun kembali melanjutkan perjalanan pulangku yang kurang lebih masih 10 menitlagi. Kulangkahkan kakiku semakin cepat, sudah tak sabar lagi ingin sampai rumah dan segera merebahkan tubuhku yang cukup lelah. Di tengah perjalanku kulihat mobil pick up yang melaju kencang. Ku hanya memandandanginya dengan tertegun keheranan.

***
           
Rumah tampak sepi, tapi pintu rumah terbuka.Kupanggili bapak dan simbok. Tidak ada yang menyahut sama sekali. Ku sibak kelambu kamar bapak, tidak ada orang. Deg. Jatungku tiba-tiba berdetak tak menentu.Ada rasa khawatir yang menyelinap batinku. Segera kuberlari keluar dan menanyakan kepada tetanggaku kemana bapak dan simbokku  pergi. Baru sampai di luar rumah, tiba-tiba pamanku datang dengan tergesa, menyuruhku segera berganti baju dan ikut pergi bersamanya. Tanpa memberi alasan yang pasti. Dengan motor buntutnya, paman langsung membawaku ke tempat yang tak aku mengerti kemana.
            Hati semakin tak karuan, ketika aku bertanya aku akan dibawa kemana pamanku, beliau hanya diam membisu. Aku semakin geram, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu kagetnya aku kala paman memberhentikan motornnya di depan rumah sakit.
            Dengan tergesa aku lari mengikuti gerak paman. Kakinya terhenti pada sebuah ruangan yang membuatku lemas tak berdaya.
            Tidak!
            Aku tidak percaya.Sesosok orang yang aku sayangi terbaring lemah di sebuah ranjang sederhana, berbalut selimut kumal menemani tidur lelapnya. Wajahnya tampak pasi, matanya masih tertutup. Kudekati pelan-pelan, memastikan kebenaran yang aku lihat. Bapak. Aku hanya bisa terdiam, memandangi dengan rasa tak percaya. Air matapun menetes tanpa disuruh.Tadi pagi bapak masih tampak sehat, masih mampu pergi ke kebun. Tapi kini, semua raganya tampak lemah tak bertenaga.
            “Apa yang sebenarnya terjadi mbok?”Dengan terisak aku bertanya pada simbokku.
            Simbok tidak menjawab. Dia hanya terdiam, dengan mata yang lesu ia hanya memandangi keadaan bapak yang tak bangun dari tidurnya. Lama aku ingin mendengar simbok menjawab pertanyaanku, tapi nyatanya simbok hanya diam.
            “Anu nok, tadi bapakmu dapat kerjaan memetik  kelapa. Tapi, karena pohon kelapa licin, jadi setelah sampai atas beliau terpeleset ke bawah. Dan akhirnya tulang belakangnya retak.” Jawab singkat bibiku.
            Kembali aku terdiam.Tak ada kata yang mampu terucap. Seperti simbok aku tertegun melihat keadaan bapakku.

***
           
Pikiranku semakin kacau. Terpecah belah. Bapakku sakit. Formulir lomba lari telah aku kirimkan. Itu tandanya seminggu lagi aku harus siap bertading melawan ratusan peserta. Aku sama sekali tidak ada yakin akan menang. Semangatku ada pada orang yang sedang terbaring emas diranjang itu. Asa yang kumiliki seperti namaku ini telah sirna, terbuang di dalam rumah sakit itu.
            Masih kuingat dengan jelas ketika dulu aku mengikuti lomba lari pertama kali. Begitu antusias bapak menyemangatiku. Meskipun aku gagal, bapak tetap meNdukungku untuk terus maju ke arena lari jika ada perlombaan. Pernah suatu ketika, ada lomba lari tingkat kecamatan yang merebutkan kambing. Waktu itu aku masih SD kelas 6. Karena beliau ingin sekali memiliki kambing, beliau langsung mendaftarkanku untuk mengikutinya. Disitu aku menjadi peserta termuda. Sebenarnya aku tak mau, tapi karena bujukannya akhirnya aku mau juga. Aku menjadi peserta wanita termuda disitu, banyak ejekan yang aku terima.
“Anak unyil ikut lomba lari nglawan kita?Masih SD ternyata. Hahahaha…..” Salah seorang peserta mengejek.
“Udah nyerah dulu aja, paling sampai tengah jalan udah kempis. Hahahaha…” Lanjut peserta lain.
Aku hanya diam, selalu ku ingat nasehat bapakku Man Jadda wa Jada. Dengan semangat yang diberikan bapak kepadaku itu, aku menjadi tangguh dan bisa memenangkan lomba lari yang merebutkan kambing itu. Sampai sekarang hasil kambing perjuangan lomba lariku sudah beranak pinak.
Kembali kupandangi wajah simbokku yang sejak siang tadi hanya termangu, tiada kata sedikitpun yang terucap dari bibirnya. Matanya hanya tertuju pada seorang di depan matanya, seseorang yang sangat dicintainya. Bapakku tercinta.Sudah 18 tahun mereka bersama, sampai usiaku menginjak 17 tahun ini, bapak jarang sekali sakit.Kalaupun sakit, paling hanya pegal-pegal atau batuk flu saja. Kali ini adalah sakit terparah bapak, sehinggasimbok tampak sangat khawatir.

***

            Kebahagiaan mulai terpancar dari wajah simbok, bapak sudah siuman dari sakitnya. Setelah semalaman tidur, kini bapak sudah bangun.Badannya memang belum bisa digerakkan, karena sakit punggung yang dialaminya. Meskipun demikian aku sangat bahagia masih bisa melihat bapak tersenyum kembali.Semua keluargaku berkumpul menjadi satu. Kehangatan sangat terasadisini, kala ada keluarganya yang terkena musibah semua keluarga bahu membahu saling menolong. Ingin sekali aku menceritakan bahwa aku akan mengikuti lomba lari, tapi semua itu harus aku pendam dulu hingga kondisi bapak membaik lagi.
            “Kamu tidak sekolah Sa?”  Tanya bibiku.
            “Tidak bi, aku meliburkan diri.Hari ini aku ingin menemani bapak saja.”
            “Asa, sini nak!” Tiba-tiba bapak memanggilku.
            Dengan haru aku peluk bapak dengan pelan, ingin sekali aku menangis dihadapannya. Namun, semua itu harus aku bending agar bapak tidak ikut sedih.
            “Anak bapak yang baik, lain kali jangan membolos lagi ya. Bapak akan baik-baik saja, tidak usah khawatir.Semua kita serahkan pada yang di atas saja.Jangan terlalu pikirkan bapak nak.” Bapak tenangkan diriku.
            Rasanya aku tidak ingin lepas dari pelukannya, ada rasa ketidakrelaan dalam batinku. Aku tidak ingin beliau meninggalkannku. Tidak ingin.
            Malam ini hanya ada aku dan pamanku yang menunggui bapak di rumah sakit. Semua pulang untuk bergantian menjaga bapak besok pagi. Bapak tampak lelap tertidur, mataku tak mau lepas untuk memandanginya. Kubandingkan sosok bapak  ketika sebelum sakit, beliau tampak tegas, berwibawa, kumis diwajahnya membuat banyak wanita terpana. Hidung yang mancung dan sebah tahi lalat di atas bibirnya yang menjadi ciri khas dari bapak. Itu yang sedang kubayangkan saat ini. Tanpa sadar akupun mulai terlelap. Di tengah tidurku kudengar suara bapak seperti memanggilku.
            Tidak!
            Sekarat.
Bapakku seperti sedang kesakitan, aku betul-betul panik. Kupanggil pamanku yang sedang terlelap tidur di luar kamar. Kupanggil dokter, dan dengan segera bapakku diperiksa. Hanya selang 10 menit dari kejadian itu, bapakku telah tiada. Mati. Dengan terisak ku panggili namanya. Tiada jawaban. Ini seperti mimpi bagiku, sebuah pisau tajam seakan menusukku. Ragaku seperti ikut mati karenanya.

***
           
            Pagi ini bapakku dimakamkan. Suasana haru menyelimuti keluargaku. Tangisan menjadi pemandangan yang amat memilukan. Simbok tak berdaya melihat bapak yang terbujur kaku, berkali-kali beliau pingsan takkuasa menerima takdir yang ada. Rumahku berkabung. Ratusan orang datang ke rumahku untuk sekadar mengucapkan rasa bela sungkawanya. Simbok tambah tak kuasa melihat banyaknya orang yang datang, sempat mau mengamuk karena belum bisa menerima kenyataan ini.
            Pemakamanpun telah berlangsung. Setelah bapak disalatkan, langsung dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebuah lubang panjang siap menampung hidup bapak, lubang yang lembab dan gelap disaat malam tiba. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupan disini. Bapak sendirian hanya bertemankan tanah dan kegelapan. Aku hanya bisa mendoakan untuk kebaikannya. Jika aku meriNdukannya, pemakaman ini yang harus aku temui.

***

Ini adalah hari pertandinganku, siap tidak siap menang tidak menang aku harus tetap mengikuti lomba ini. Lima hari ini aku berduka atas sepeninggalan bapakkku. Meski tak ada semangat yang aku miliki, paling tidak aku punya kaki yang masih bisa aku ajak berlari. Tiada pesiapan khusus yang kulakukan untuk mengkuti lomba ini. Aku hanya bermodalkan nekat. Demi bapakku yang kemarin menjadi almarhum. Aku harus siap menembus asa.
Tulisan start telah nampak di depan mataku. Peserta telah berkumpul untuk segera mengurutkan diri sesuai nomor urut yang telah disepakati. Tujuh. Itu nomor urutku, angka yang aku suka. Persiapan sedang dimulai, para peserta menempatkan diri di garis lintasan sesuai dengan nomor urutan masing-masing. Kuikuti semua perintah yang diumumkan, dan mencoba fokus untuk melangkah.
            “1, 2, 3. Mulai!”
            Pelan aku berlari. Telah banyak peserta yang menyalipku. Tiada gairah dalam diriku untuk mengejar mereka. Aku tertinggal jauh. Dalam batinku aku hanya ingin bapak disampingku. Menemaniku. Menyemangatiku. Di tengah perjalananku, aku seperti mendapat wangsit. Emosiku telah memuncak. Aku salahkan diriku sendiri, aku harus maju, tak oleh terpuruk. Dengan pelan, aku kembali menyemangati diriku sendiri. Batas finish harus segera aku raih. Piala yang tertancap di meja itu harus aku raih. Kutancapkan gas dikakiku dan lari sekuat yang ku mampu. Alhasil batas finish segera kutapaki. Ada kekecewaan dalam batinku, karena aku bukan orang pertama yang menembus jalur finish kali ini. Aku menjadi orang kedua yang menaklukan jakur finish itu. 
            Meskipun menjadi yang kedua, aku tetap bangga. Piala kejuaraan telah aku dapatkan dan sedikit uang pesangon telah aku terima. Setelah lomba selesai, segera aku putuskan untuk menemui bapak. Membagikan cerita lewat dua ruang yang berbeda. Bercengkrama lewat hembusan angin yang seakan membalas omonganku. Kutaburkan bunga di atas pusaran makam bapak. Semua yang hidup pasti akan mati. Itu yang harus aku pahami.
            “Bapak, lewat do’a aku merindu. Kita pasti akan bertemu kembali. Bertemu dalam kebahagiaan. Dan surgalah yang akan mempertemukan kita.”

No comments:

Post a Comment