Sailirrohmah
Asa
Terik matahari telah memuncak. Siang
ini hujan tidak turun, tak seperti biasanya yang tak pernah absen untuk
membasahi bumi. Aku berjalan sendiri melewati rimbunan pohon jati ditengah
hutan yang cukup lebat. Langkah kaki begitu kunikmati, jalanan yang sepi ini
seperti milik sendiri. Memang jalanan menuju kampungku belum beraspal, saat
musim kemarau debu akan mengepul ketika ada kendaraan yang lewat. Kali ini aku
aku melewati jalur yang berbeda, jalur setapak yang berliku, suara burung
emprit menemani perjalananku sehabis sekolah kali ini. Hamparan ladang
terhampar begitu luas di depan mataku, dengan tanah yang becek sisa hujan
semalam aku tetap berjalan dengan santai. Kulepaskan sepatuku dan kubiarkan
kakiku menikmati tanah yang lembek ini. Perjalanku terhenti kala seorang warga
kampungku memanggilku.
“Pulang sendirian, Nduk?” sapa mbah Tini, seorang petani
yang sedang menggarap kebunnya.
“Iya, mbah. Asa pulang sendiri.
Sedang menanam apa ini mbah?” jawabku.
“Mau nanam jagung Nduk. Nah temanmu yang lain pada kemana,
belum pulang?”
Desaku sedang musim tanam. Hujan
yang sering mengguyur membuat para petani bersemangat untuk bercocok tanam.
Para petani menanam palawija untuk kebunnya. Dengan modal yang tidak terlalu
banyak mereka menanami palawija seadanya. Sistem barter masih berlaku di
desaku, hal ini akan memudahkan untuk saling tukar menukar benih.
“Oh jagung mbah, bagus ya mbah ditanam dimusim hujan seperti ini. Kalau
kebunku bapakku itu mau ditanami kacang tanah katanya.” sahutku.
“Kacang juga bagus ditanami dimusim
seperti ini, lahan kebun warga kita kan ya tanamannya ya itu-itu saja kalau
tidak jagung, paling kacang tanah, banyak juga yang singkong. Hahaha….” Sahut
mbah Tini sambil tertawa.
“Oh iya Nduk, kamu belum jawab pertanyaan mbah tadi tho, kenapa pulang sendiri, temanmu pada kemana?”
“Anu mbah, temanku yang lain sudah
pada pulang. Tadi saya mampir ke kantor kecamatan dulu, mengirim surat untuk
formulir pendaftaran lomba.”
“Wah, mau ikut lomba apa Nduk?”
“Ehmmm… Lomba lari maraton mbah.”
Jawabku dengan malu-malu.
“Wah, wah, bagus, bagus… Sini ikut
duduk, istirahat di kebun mbah dulu sini. Ini simbah bawa jajan.”
“Tidak usah mbah, saya langsung
pulang saja, nanti dicari simbok kalau saya tidak pulang-pulang. Saya langsung
pulang saja ya mbah.”
“Wah sayang sekali, ya sudah kalau
begitu. Hati-hati Nduk.”
Akupun kembali melanjutkan
perjalanan pulangku yang kurang lebih masih 10 menitlagi. Kulangkahkan kakiku
semakin cepat, sudah tak sabar lagi ingin sampai rumah dan segera merebahkan
tubuhku yang cukup lelah. Di tengah perjalanku kulihat mobil pick up yang melaju kencang. Ku hanya
memandandanginya dengan tertegun keheranan.
***
Rumah tampak
sepi, tapi pintu rumah terbuka.Kupanggili bapak dan simbok. Tidak ada yang
menyahut sama sekali. Ku sibak kelambu kamar bapak, tidak ada orang. Deg.
Jatungku tiba-tiba berdetak tak menentu.Ada rasa khawatir yang menyelinap
batinku. Segera kuberlari keluar dan menanyakan kepada tetanggaku kemana bapak
dan simbokku pergi. Baru sampai di luar
rumah, tiba-tiba pamanku datang dengan tergesa, menyuruhku segera berganti baju
dan ikut pergi bersamanya. Tanpa memberi alasan yang pasti. Dengan motor
buntutnya, paman langsung membawaku ke tempat yang tak aku mengerti kemana.
Hati
semakin tak karuan, ketika aku bertanya aku akan dibawa kemana pamanku, beliau
hanya diam membisu. Aku semakin geram, bingung dengan apa yang sebenarnya
terjadi. Begitu kagetnya aku kala paman memberhentikan motornnya di depan rumah
sakit.
Dengan
tergesa aku lari mengikuti gerak paman. Kakinya terhenti pada sebuah ruangan
yang membuatku lemas tak berdaya.
Tidak!
Aku
tidak percaya.Sesosok orang yang aku sayangi terbaring lemah di sebuah ranjang
sederhana, berbalut selimut kumal menemani tidur lelapnya. Wajahnya tampak
pasi, matanya masih tertutup. Kudekati pelan-pelan, memastikan kebenaran yang
aku lihat. Bapak. Aku hanya bisa terdiam, memandangi dengan rasa tak percaya.
Air matapun menetes tanpa disuruh.Tadi pagi bapak masih tampak sehat, masih
mampu pergi ke kebun. Tapi kini, semua raganya tampak lemah tak bertenaga.
“Apa
yang sebenarnya terjadi mbok?”Dengan terisak aku bertanya pada simbokku.
Simbok
tidak menjawab. Dia hanya terdiam, dengan mata yang lesu ia hanya memandangi
keadaan bapak yang tak bangun dari tidurnya. Lama aku ingin mendengar simbok
menjawab pertanyaanku, tapi nyatanya simbok hanya diam.
“Anu
nok, tadi bapakmu dapat kerjaan
memetik kelapa. Tapi, karena pohon
kelapa licin, jadi setelah sampai atas beliau terpeleset ke bawah. Dan akhirnya
tulang belakangnya retak.” Jawab singkat bibiku.
Kembali
aku terdiam.Tak ada kata yang mampu terucap. Seperti simbok aku tertegun
melihat keadaan bapakku.
***
Pikiranku
semakin kacau. Terpecah belah. Bapakku sakit. Formulir lomba lari telah aku kirimkan.
Itu tandanya seminggu lagi aku harus siap bertading melawan ratusan peserta.
Aku sama sekali tidak ada yakin akan menang. Semangatku ada pada orang yang
sedang terbaring emas diranjang itu. Asa yang kumiliki seperti namaku ini telah
sirna, terbuang di dalam rumah sakit itu.
Masih kuingat dengan jelas ketika
dulu aku mengikuti lomba lari pertama kali. Begitu antusias bapak
menyemangatiku. Meskipun aku gagal, bapak tetap meNdukungku untuk terus maju ke
arena lari jika ada perlombaan. Pernah suatu ketika, ada lomba lari tingkat
kecamatan yang merebutkan kambing. Waktu itu aku masih SD kelas 6. Karena
beliau ingin sekali memiliki kambing, beliau langsung mendaftarkanku untuk
mengikutinya. Disitu aku menjadi peserta termuda. Sebenarnya aku tak mau, tapi
karena bujukannya akhirnya aku mau juga. Aku menjadi peserta wanita termuda
disitu, banyak ejekan yang aku terima.
“Anak
unyil ikut lomba lari nglawan kita?Masih SD ternyata. Hahahaha…..” Salah
seorang peserta mengejek.
“Udah
nyerah dulu aja, paling sampai tengah jalan udah kempis. Hahahaha…” Lanjut
peserta lain.
Aku
hanya diam, selalu ku ingat nasehat bapakku Man Jadda wa Jada. Dengan semangat
yang diberikan bapak kepadaku itu, aku menjadi tangguh dan bisa memenangkan
lomba lari yang merebutkan kambing itu. Sampai sekarang hasil kambing
perjuangan lomba lariku sudah beranak pinak.
Kembali
kupandangi wajah simbokku yang sejak siang tadi hanya termangu, tiada kata
sedikitpun yang terucap dari bibirnya. Matanya hanya tertuju pada seorang di
depan matanya, seseorang yang sangat dicintainya. Bapakku tercinta.Sudah 18
tahun mereka bersama, sampai usiaku menginjak 17 tahun ini, bapak jarang sekali
sakit.Kalaupun sakit, paling hanya pegal-pegal atau batuk flu saja. Kali ini
adalah sakit terparah bapak, sehinggasimbok tampak sangat khawatir.
***
Kebahagiaan
mulai terpancar dari wajah simbok, bapak sudah siuman dari sakitnya. Setelah
semalaman tidur, kini bapak sudah bangun.Badannya memang belum bisa digerakkan,
karena sakit punggung yang dialaminya. Meskipun demikian aku sangat bahagia
masih bisa melihat bapak tersenyum kembali.Semua keluargaku berkumpul menjadi
satu. Kehangatan sangat terasadisini, kala ada keluarganya yang terkena musibah
semua keluarga bahu membahu saling menolong. Ingin sekali aku menceritakan
bahwa aku akan mengikuti lomba lari, tapi semua itu harus aku pendam dulu
hingga kondisi bapak membaik lagi.
“Kamu
tidak sekolah Sa?” Tanya bibiku.
“Tidak
bi, aku meliburkan diri.Hari ini aku ingin menemani bapak saja.”
“Asa,
sini nak!” Tiba-tiba bapak memanggilku.
Dengan
haru aku peluk bapak dengan pelan, ingin sekali aku menangis dihadapannya.
Namun, semua itu harus aku bending agar bapak tidak ikut sedih.
“Anak
bapak yang baik, lain kali jangan membolos lagi ya. Bapak akan baik-baik saja,
tidak usah khawatir.Semua kita serahkan pada yang di atas saja.Jangan terlalu
pikirkan bapak nak.” Bapak tenangkan diriku.
Rasanya
aku tidak ingin lepas dari pelukannya, ada rasa ketidakrelaan dalam batinku.
Aku tidak ingin beliau meninggalkannku. Tidak ingin.
Malam
ini hanya ada aku dan pamanku yang menunggui bapak di rumah sakit. Semua pulang
untuk bergantian menjaga bapak besok pagi. Bapak tampak lelap tertidur, mataku
tak mau lepas untuk memandanginya. Kubandingkan sosok bapak ketika sebelum sakit, beliau tampak tegas,
berwibawa, kumis diwajahnya membuat banyak wanita terpana. Hidung yang mancung
dan sebah tahi lalat di atas bibirnya yang menjadi ciri khas dari bapak. Itu
yang sedang kubayangkan saat ini. Tanpa sadar akupun mulai terlelap. Di tengah
tidurku kudengar suara bapak seperti memanggilku.
Tidak!
Sekarat.
Bapakku seperti
sedang kesakitan, aku betul-betul panik. Kupanggil pamanku yang sedang terlelap
tidur di luar kamar. Kupanggil dokter, dan dengan segera bapakku diperiksa.
Hanya selang 10 menit dari kejadian itu, bapakku telah tiada. Mati. Dengan
terisak ku panggili namanya. Tiada jawaban. Ini seperti mimpi bagiku, sebuah
pisau tajam seakan menusukku. Ragaku seperti ikut mati karenanya.
***
Pagi
ini bapakku dimakamkan. Suasana haru menyelimuti keluargaku. Tangisan menjadi
pemandangan yang amat memilukan. Simbok tak berdaya melihat bapak yang terbujur
kaku, berkali-kali beliau pingsan takkuasa menerima takdir yang ada. Rumahku
berkabung. Ratusan orang datang ke rumahku untuk sekadar mengucapkan rasa bela
sungkawanya. Simbok tambah tak kuasa melihat banyaknya orang yang datang,
sempat mau mengamuk karena belum bisa menerima kenyataan ini.
Pemakamanpun
telah berlangsung. Setelah bapak disalatkan, langsung dibawa ke tempat
peristirahatannya yang terakhir. Sebuah lubang panjang siap menampung hidup
bapak, lubang yang lembab dan gelap disaat malam tiba. Aku tidak bisa
membayangkan seperti apa kehidupan disini. Bapak sendirian hanya bertemankan
tanah dan kegelapan. Aku hanya bisa mendoakan untuk kebaikannya. Jika aku
meriNdukannya, pemakaman ini yang harus aku temui.
***
Ini adalah hari
pertandinganku, siap tidak siap menang tidak menang aku harus tetap mengikuti
lomba ini. Lima hari ini aku berduka atas sepeninggalan bapakkku. Meski tak ada
semangat yang aku miliki, paling tidak aku punya kaki yang masih bisa aku ajak
berlari. Tiada pesiapan khusus yang kulakukan untuk mengkuti lomba ini. Aku
hanya bermodalkan nekat. Demi bapakku yang kemarin menjadi almarhum. Aku harus
siap menembus asa.
Tulisan start telah nampak di depan mataku.
Peserta telah berkumpul untuk segera mengurutkan diri sesuai nomor urut yang
telah disepakati. Tujuh. Itu nomor urutku, angka yang aku suka. Persiapan
sedang dimulai, para peserta menempatkan diri di garis lintasan sesuai dengan
nomor urutan masing-masing. Kuikuti semua perintah yang diumumkan, dan mencoba
fokus untuk melangkah.
“1,
2, 3. Mulai!”
Pelan
aku berlari. Telah banyak peserta yang menyalipku. Tiada gairah dalam diriku
untuk mengejar mereka. Aku tertinggal jauh. Dalam batinku aku hanya ingin bapak
disampingku. Menemaniku. Menyemangatiku. Di tengah perjalananku, aku seperti
mendapat wangsit. Emosiku telah memuncak. Aku salahkan diriku sendiri, aku
harus maju, tak oleh terpuruk. Dengan pelan, aku kembali menyemangati diriku
sendiri. Batas finish harus segera
aku raih. Piala yang tertancap di meja itu harus aku raih. Kutancapkan gas
dikakiku dan lari sekuat yang ku mampu. Alhasil batas finish segera kutapaki. Ada kekecewaan dalam batinku, karena aku
bukan orang pertama yang menembus jalur finish
kali ini. Aku menjadi orang kedua yang menaklukan jakur finish itu.
Meskipun
menjadi yang kedua, aku tetap bangga. Piala kejuaraan telah aku dapatkan dan
sedikit uang pesangon telah aku terima. Setelah lomba selesai, segera aku
putuskan untuk menemui bapak. Membagikan cerita lewat dua ruang yang berbeda.
Bercengkrama lewat hembusan angin yang seakan membalas omonganku. Kutaburkan
bunga di atas pusaran makam bapak. Semua yang hidup pasti akan mati. Itu yang
harus aku pahami.
“Bapak,
lewat do’a aku merindu. Kita pasti akan bertemu kembali. Bertemu dalam
kebahagiaan. Dan surgalah yang akan mempertemukan kita.”
No comments:
Post a Comment