LELA TRI WAHYUNINGTIAS
DIMANA PELABUHAN
TERAKHIRKU
Namaku
Amanda, ujarnya saat perkenalan setahun silam di sebuah taman dekat dengan
kompleks perumahan. Matanya nampak bersinar menggambarkan keceriaan di pagi
hari yang indah dan sejuk itu. Perkenalannya kala itu nampak asik membawa
suasana gembira karena dirinya telah mengenal sesosok lelaki berperawakan
tinggi, bertubuh kekar, berparas tampan, dan berkulit terang.
Seakan
melupakan semua penat tentang masalah kantor yang telah ada dipikaran, Amanda
terlihat asik bercanda gurau dengan Tio, lelaki yang baru saja dikenalnya.
Perkenalan itu nampaknya sangat berkesan bagi keduanya. Hingga beberapa bulan
kemudian, perkenalan mereka berlanjut pada hubungan pertemanan yang sangat
baik, maklum karena Amanda dan Tio adalah
seorang aktivis yang bekerja di bidang yang sama.
Sejak
perkenalan itu, banyak hal baru yang mulai diketahui oleh Amanda. Amanda sosok
wanita yang pekerja keras, ramah, dan berparas cantik itu rupanya telah memikat
hati Tio. Tio menilai bahwa Amanda seorang gadis yang dikenalinya setahun silam
itu, adalah seorang gadis yang sudah lama telah ia idamkan dalam hidupnya. Hari
demi hari mereka lalui bersama. Selepas pulang kerja, mereka mencoba membuat
janji untuk sekadar berjumpa dan makan bersama, karena memang mereka bekerja di
kantor yang berbeda. Tiba di hari valentine yang jatuh pada bulan Febuari, dan
kebanyakan orang menilai hari itu adalah hari kasih sayang, Tio memberanikan
diri mengajak Amanda untuk makan berdua di sebuah rumah makan dengan suasana
yang sangat romantis. Dengan wajah yang merah merona dan tersipu malu, Amanda
menerima sambutan dari Tio yang mempersilahkannya duduk di kursi yang telah Tio
sediakan, dan memperlakukannya bagaikan seorang putri.
Malam
itu sepertinya bulan ingin tersenyum lebar menemani sepasang anak manusia yang
telah asik bercakap-cakap. Tiba disaat yang telah direncanakan oleh Tio, Tio
memberikan sebuah kejutan pada Amanda
dengan cara memberikan sekuntum bunga mawar untuk Amanda, sambil mengungkapkan
isi hatinya.
“
Telah lama aku pendam perasaan ini, dan telah lama aku kumpulkan keberanianku
untuk mengungkapkan isi hatiku yang sesungguhnya. Sejak perkenalan setahun
silam, rasanya hidupku sangat berkesan dengan adanya kehadiranmu menjadi
temanku. Namun rasanya hati ini tak cukup puas hanya untuk menjadi teman
bercerita denganmu. Aku ingin kau menjadi teman hidup dalam hatiku yang mengisi
hari-hariku.” Ucapan manis Tio dengan suara yang meyakinkan.
“Sungguh
tak ku sangka kau berikan kejutan yang sangat indah di hari
spesial ini. Aku senang telah mengenalmu, karena kau mengajarkan begitu
banyak hal yang semula belum pernah aku
ketahui. Begitu banyak cerita yang telah kita ukir bersama dalam
indahnya pertemanan. Dan aku pun sadar, aku tak dapat memungkiri perasaan yang
tersembunyi ini, di lubuk hati yang paling dalam bahwa aku pun juga
mengagumimu.” Sambung Amanda dengan suara halus dan sedikit malu.”
“
Jadi, kau juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan sekarang?”
sambung Tio dengan suara yang menggambarkan rasa penasaran.
“Iya
begitulah, aku pun juga merasakan hal yang sama seperti yang telah kau
rasakan.”
“Apakah
itu artinya kau menerima tawaranku untuk mau menjadi pendamping hidupku?”
“Sulit
ku katakan rasa ini, namun aku tak dapat memungkiri perasaanku bahwa aku mau
menerima tawaranmu, untuk menjadi pendamping hidupmu. Tetapi alangkah baiknya
jika kita tidak tergesa-gesa untuk melangkah ke pelaminan, karena aku ingin
kita mengenal lebih dalam lagi sebelum benar-benar kita siap menuju pelabuhan
terakhir kita.”
“
Baiklah, aku setuju dengan pendapatmu, di malam ini aku ingin menjadikan momen
yang paling spesial dalam hidupmu, dan aku ingin kau terima cincin ini sebagai
tanda aku telah melamarmu.” Sambil melingkarkan cincin emas di jari manis
Amanda.
Malam
itu pun terukir kisah indah antara Tio dan Amanda. Akhirnya mereka resmi
menjadi sepasang kekasih yang terlihat sangat serasi. Percintaan diantara
keduanya semakin hari semakin mesra saja, maklum karena Amanda dinilai juga
sebagai seorang gadis yang agak manja dan Tio seorang lelaki yang sabar
melayani sang kekasih. Enam bulan sudah percintaan mereka berlangsung. Suasana
kemesraan diantara keduanya selalu terasa saat mereka bersama-sama. Seperti
biasanya Tio dan Amanda selalu membuat janji untuk makan bersama selepasnya
pulang dari kantor. Hari- hari Amanda terasa begitu indah karena telah ditemani
oleh seorang lelaki yang sangat baik, perhatian, dan sangat sayang kepadanya.
Setiap hari saat Amanda akan berangkat ke kantor, dengan senang hati Tio selalu
menghampirinya untuk menghantarkan Amanda pergi ke kantor, tanpa Amanda
memintanya. Tio dinilai lelaki yang sangat penyayang, sampai-sampai ia tak mau
dan khawatir apabila membiarkan sang kekasih berangkat sendiri dengan mengendarai mobil pribadinya. Amanda
sangat beruntung memiliki kekasih hati seperti Tio, karena memang sudah lama
Amanda haus akan kasih sayang.
Sejak
berusia 8 tahun, Amanda sudah terbiasa hidup mandiri tanpa kasih sayang dan
perhatian dari orang tuanya, karena
orang tua Amanda bekerja di salah satu perusahaan asing di luar negeri. Itu
alasannya mengapa Amanda seringkali terlihat murung saat melihat teman-temannya
dapat berkumpul dengan keluarga, sementara ia tidak pernah bisa berkumpul
dengan orang tuanya. Orang tua Amanda memang sudah sangat lama meninggalkan
Amanda, dan menitipkan Amanda kepada neneknya, karena dengan alasan untuk
mencari penghasilan di luar negeri. Amanda selalu menaruh harapan agar ia bisa
berkumpul bersama dengan kedua orang tuanya, sama seperti saat ia masih kecil
dahulu. Amanda selau mencoba bersabar untuk menghadapi jalan hidupnya. Ia
selalu berusaha berprasangka baik terhadap kedua orang tuanya yang telah lama
meninggalkannya. Semasa kecil dahulu, Amanda adalah anak yang sangat dimanjakan
oleh kedua orang tuannya. Permintaannya selalu dituruti, karena maklumlah
Amanda adalah anak tunggal. Namun, karena terhimpit masalah ekonomi, dan orang
tua Amanda memiliki banyak hutang, terpaksa orang tua Amanda meninggalkan
Amanda kecil yang sekarang sudah beranjak dewasa.
Dengan
kehadiran Tio dalam hidup Amanda, membuat hidup Amanda menjadi lebih berwarna
dan bisa menghibur kesedihan Amanda selama ini. Kisah cinta mereka selalu
dibayangkan dengan impian untuk bisa hidup bersama dalam sebuah keluarga yang
bahagia.
Suatu
hari kisah cinta mereka sedang diuji dengan adanya masalah yang sangat menguras
hati dan pikiran mereka. Memang kedua pasangan ini benar-benar saling mencintai
dan menyayangi, namun mereka tidak bisa menghindari takdir dan ujian yang
menimpa mereka.
Tiada di sangka orang tua Amanda pulang dari
luar negeri. Semestinya kabar tersebut sangat menggembirakan hati Amanda,
karena ia sangat rindu akan kedua orang tuanya. Semantara pada pagi itu Tio
nampak terburu-buru ingin segera berangkat ke kantor dan menyelesaikan semua
pekerjaan di kantornya agar dia bisa segera pulang dari tugas kantornya dan
bisa mempersiapkan acara makan malam bersama dengan kekasih tercintanya Amanda.
Perasaan yang tak enakpun tiba-tiba dirasakan oleh Tio. Tidak seperti biasanya
Tio menaruh rasa khawatir yang luar biasa terhadap kekasihnya. Ternyata
kenyataan berkata lain, justru kedatangan kedua orang tua Amanda membawa sebuah
kejutan yang sangat mengherankan. Bagi Amanda di hari yang bertepatan dengan
kedatangan kedua orang tuanya, seperti hari dimana ia harus mendapatkan
tamparan yang sangat hebat tanpa ia sangka apa kesalahannya. Ternyata yang
membuatnya terkejut dan seperti terkena tamparan yang sangat hebat adalah
ketika ia melihat kenyataan bahwa orang tuanya membawakan calon suami untuknya.
Amanda tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, mengapa orang tuanya membawakan
calon suami untuknya selepas kepulangan dari luar negeri, dan tanpa
sepengetahuannya. Padahal Amanda sudah memiliki kekasih hati yang sangat ia cintai,
dan ia selalu menaruh harapan indah bersama kekasihnya untuk dapat hidup
bersama sampai ajal memisahkan. Namun kejutan itu rasanya tidak adil bagi
Amanda, mengapa orang tua Amanda tidak memikirkan perasaannya. Hatinya sangat
terpukul mendengar penjelasan dari orang tuannya, tentang mengapa ia dibawakan
calon suami selepas orang tuanya bertahun-tahun meninggalkannya.
“Ayah,
ibu, aku senang sekali karena kalian telah datang kembali di hidupku, karena
selama ini kau meninggalkanku sendiri. Aku sangat merindukan kalian, aku selalu
mengharapkan kedatangan kalian. Mengapa kalian tega membiarkan aku hidup
sendiri dalam waktu belasan tahun, tanpa adanya kasih sayang dan perhatian yang
kalian berikan kepada anakmu ini? Apakah kalian pernah sedikit saja mau mengerti
kabar anakmu ini? Apakah sedikit saja kalian pernah mengerti bagaimana
perasaanku? Selama ini aku selalu berprasangka baik atas sepeninggalan kalian
untuk mencari nafkah diluar negeri. Padahal Amanda kecil dahulu selalu sedih
dan rindu akan kasih sayang dari kalian, tetapi di saat aku sudah beranjak
dewasa, dan aku yang telah membangun hidupku sendiri, tiba-tiba kalian datang
dan merusak impianku selama ini. Aku
selalu memimpikan untuk dapat hidup bahagia, namun sepertinya kebahagiaan dan
keadilan tidak pernah berpihak kepadaku. Mengapa tiba-tiba kalian datang dengan
seenaknya membawakan aku calon suami, tanpa kalian mau mengerti bagaimana
perasaanku?” keluhan dan tangisan Amanda saat bertemu dengan orang tuanya.
“Amanda
anakku sayang, maafkanlah ayah dan ibumu yang selama ini meninggalkanmu nak.
Ayah dan ibu sangat menyayangimu. Namun dahulu ayah dan ibu tak memiliki
pilihan lain selain meninggalkanmu untuk bekerja mencari nafkah di luar negeri
dan memang karena keluarga kita dahulu sangat terhimpit masalah ekonomi. Ayah
dahulu memiliki banyak hutang kepada salah seorang rentenir. Rumah kita yang
dahulu sudah disita oleh rentenir itu, Kita tidak punya apa-apa lagi. Sempat
rentenir itu meminta ayah dan ibu agar memberikanmu kepadanya, untuk dijadikan
calon istri di waktu kau besar. Namun ayah dan ibu menolak karena ayah dan ibu
sangat sayang kepadamu, ayah dan ibu berusaha sekuat tenaga untuk mencari
nafkah dan untuk membayar hutang agar kau tidak dirampas olehnya. Kemudian
dengan berat hati, terpaksa ayah dan ibu memutuskan meninggalkanmu untuk
mencari nafkah di luar negeri dan menitipkanmu kepada nenek. Itu semua memang
berat bagi kita. Maafkan lah bapak dan ibu nak. Namun selepas kesuksesan ayah
dan ibu disana, rentenir itu kembali membantai ayah dan ibu. Uang ayah
dirampas, dan yang lebih parahnya, dahulu ayah sengaja diserempet oleh rentenir
itu, hingga kaki ayah harus di amputasi sebelah. Selepas itu kemudian ayah
tidak dapat lagi bekerja, dengan keterbatasan yang ayah miliki. Lihatlah nak
kaki ayahmu ini sekarang cacat.” Ujar ayah sambil memperlihatkan kakinya kepada
anaknya.
“
Tapi mengapa kalian membawakan aku calon suami yang sama sekali tidak aku
kenali dan tidak aku inginkan itu? Aku sudah memiliki kekasih hati sebagai
calon pendamping hidupku atas pilihaanku sendiri. Ayah, ibu aku sangat
berterimakasih atas perjuangan kalian untukku, namun izinkan aku menentukan
pilihan hidupku sendiri karena memang aku sangat mencintai dan menyayangi
kekasihku. Aku telah banyak menaruh harapan dan impian untuk dapat hidup
bersama dengannya.”
“
Sekali lagi ayah dan ibu minta maaf nak, karena mungkin telah merusak
harapanmu. Ayah dan ibu tak ada maksud lain selain ingin membuatmu bahagia.
Calon suami yang ku bawa ini adalah calon suami yang sangat baik untukmu. Ia memiliki
pribadi yang baik, pekerja keras, mapan, tampan, dan memiliki ketulusan yang
sangat baik. Orang tuanya telah lama membantu ayah dan ibu dari keterpurukan
selama ini. Orang tuanya lah yang selama ini menyarankan ayah dan ibu untuk merantau mencari pekerjaan
di luar negeri. Kini ayah dan ibu memutuskan untuk kembali bekerja di sini saja
karena ayah sudah tidak bisa apa-apa lagi disana. Kini orang tuanya lah yang
memberikan kembali bantuan kepada ayah untuk bekerja sebagai pengawas di salah
satu rumah makan miliknya. Ayah dan ibu berharap kau mau menerima tawaran ayah
dan ibu untuk di jodohkan dengan lelaki pilihan kami yang sangat baik itu, dan
dari keluarga yang sangat baik. Ayah dan ibu sudah semakin tua dan kini saatnya
ayah dan ibu untuk melihat kebahagianmu nak.” Sambung ayah dengan suara yang
meyakinkan.
“Apakah
karena merasa berhutang budi dengannya lalu ayah dan ibu tega mempertaruhkan
perasaan dan kebahagiaan anakmu ini? Taukah kalian bahwa aku sangat mencintai
kekasihku, dialah yang selalu menemaniku dan mengerti aku. Aku tak mampu untuk
berpisah dengannya. Tolonglah ayah…ibu, mengertilah perasaan anakmu ini.’ Jawab
Amanda untuk meyakinkan orang tuanya.
“Amanda
sayang, sama sekali ayah dan ibu tak pernah berniat mempertaruhkan
kebahagiaanmu, kebahagianmulah yang kami usahakan. Kamu adalah satu-satunya
perhiasan kami. Hanya dengan cara inilah yang kami bisa wujudkan demi
kebahagiaanmu dimasa mendatang.”
Berulang kali Amanda sudah mencoba menolak apa
yang menjadi keinginan orang tuanya itu, namun apa daya ia tak mampu berseteru
dengan ayahnya yang sudah sangat tua dan sakit-sakitan itu.
Selepas
pulang kerja, Tio yang sudah tak sabar untuk segera mengajaknya makan bersama tiba menghampirinya. Namun Tio
merasakan ada yang aneh dengan Amanda, karena tak biasanya sang kekasih menolak
ajakan untuk makan bersama. Amanda memang menolak tawaran sang kekasih dengan
berat hati karena ia tak sanggup menyampaikan kabar yang tidak mengenakkan bagi
mereka dan Amanda juga tak sanggup untuk
menyembunyikan kabar yang tidak mengenakkan bagi mereka karena Amanda
takut sang kekasih hati akan terluka karena mendengar berita buruk yang ia
sampaikan. Akhirnya Tio pun memutuskan untuk pulang kerumah dan mencoba
mengerti apa keinginan sang kekasih.
Tiba
di suatu hari Tio menaruh curiga yang sangat besar terhadap sang kekasih
karena, belakangan ini ia sering tak mau untuk diajak keluar bersama, dan pada
saat yang tak disangka ketika Tio menyusul ke rumah Amanda, ia bertemu dengan
orang tua Amanda dan menceritakan kepada Tio kalau Amanda sudah di jodohkan
dengan calon suami pilihan orang tuanya. Hati Tio seakan hancur
berkeping-keping, mendengar kenyataan bahwa sang kekasih yang sangat ia cintai
tidak akan menjadi pendamping hidupnya seperti keinginannya. Saat Amanda mengetahui
kalau Tio datang kerumahnya, seketika Amanda tak mampu menahan tangis. Tio
sangat ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut Amanda, namun Amanda
terus menangis dan tanpa berkata-kata. Wajar saja kalau Amanda tak mampu untuk
menceritakan yang sesungguhnya kepada Tio karena ia sangat mencintai Tio dan ia
tak sanggup melihat sang kekasih sedih. Orang tua Amanda meminta Tio untuk
segera pulang dan membriarkan Amanda menenangkan dirinya sendiri.
Pagi
itu Amanda pun berangkat ke kantor, namun tidak seperti biasanya karena dia
berangkat sendiri tanpa diantarkan oleh sang kekasih. Selama seminggu lamanya
Amanda selalu menghindar dari Tio, namun tiba dihari itu Amanda tak dapat
menghindar dari hadapan Tio. Amanda kemudian diajak Tio untuk membicarakan kejadian
apa yang sebenarnya terjadi. Dengan berat hati, akhirnya Amanda berterus terang
kepada sang kekasih. Tio pun juga merasa tidak terima dengan keputusan orang
tua Amanda karena Tio sangat mencintai Amanda, dan ia pun sudah berjanji ingin
membahagiakan hidup Amanda. Setelah cukup tahu dengan penjelasan yang
sebenarnya terjadi, Tio pun segera mengantarkan sang kekasih pulang karena
Amanda nampak pucat dan lemas sekali, karena selama Amanda mendengar keputusan
yang tidak mengadilkan baginya Amanda tidak pernah mau makan dan selalu
mengurung diri dikamar. Cinta bagi Amanda adalah sebuah misteri yang sangat
aneh, karena ia merasa keadilan cintanya tidak bisa diduga dan tidak berpihak
kepada pilihan hatinya.
Tio
sangat penasaran dengan calon suami
pilihan orang tua Amanda. Ia berniat ingin mencari tahu siapa lelaki itu
sebenarnya. Ia akan melakukan apa saja yang terbaik untuk sang kekasih tercinta
walaupun ia harus merelakan sang kekasih tercinta dengan orang lain karena itu
demi kebahagiian Amanda. Namun Tio akan merasa sangat tidak terima apabila
orang yang akan bersanding dengan Amanda dan menggantikan posisinya adalah
orang yang tidak baik. Tio sangat tidak tega melihat kondisi kekasinya yang
semakin hari semakin memburuk.
Amanda
pun akhirnya masuk Rumah Sakit. Setelah diperiksa secara intensif, dokter
memutuskan kalau ternyata Amanda mengidap penyakit kanker paru-paru, dan sudah
sampai setadium lanjut. Selama ini Amanda selalu menyembunyikan apa yang
sebenarnya dirasakan. Keluhan yang dirasakan Amanda selalu disembunyikan dari
sang kekasih karena ia tak mau sang kekasih khawatir. Dokter memperkirakan
kalau hidup Amanda sudah tidak lama lagi. Mendengar sang buah hati mengidap
penyakit yang sangat memprihatinkan, kedua orang tua Amanda pun merasa bersalah
dengan Amanda karena memaksakan Amanda untuk menuruti semua keputusan mereka.
Hati Tio semakin hancur karena sang kekasih mengalami penderitaan yang sangat
berat. Setelah Amanda tersadarkan diri dari pingsannya selama 2 dua hari,
Amanda langsung mencari Tio karena hanya Tio lah yang ia inginkan untuk selalu
ada disampingnya. Selepas pulang dari
kantor, Tio selalu berusaha menjenguk sang kekasih tercinta di rumah sakit
untuk dapat menghibur dan memberikan semangat kepada Amanda. Melihat ketulusan
dari Tio untuk mencintai anaknya dan melihat begitu besarnya cinta anaknya
kepada sang kekasih, akhirnya hati kedua orang tua Amanda pun akhirnya luluh.
Kedua orang tua Amanda akhirnya memutuskan untuk membatalkan perjodohan yang
dahulu sudah direncanakan. Takut kalau keadaan Amanda semakin parah, akhirnya
hubungan Amanda dan Tio mendapat restu dari kedua orang tuanya. Ketulusan cinta
Tio lah yang akhirnya dapat meluluhkan hati kedua orang tua Amanda.
Mungkin
sedikit memilukan kisah cinta yang dialami Amanda dan Tio, karena cobaan yang
menimpa pada hubungan mereka begitu berat. Amanda hampir saja berpikiran untuk
bunuh diri. Ia sudah tidak tahu apa yang ia lakukan, dan ditambah penyakit yang
makin lama makin menggerogoti tubuhnya, sehingga membuat semangat hidupnya menjadi
berkurang. Ia merasa tak ada lagi kebahagiaan yang berpihak kepadanya. Baginya
sumber kebahagiaan dan semangat hidup hanyalah dari Tio, seorang lelaki yang
selama ini selalu setia mendampinginya. Namun karena Amanda mengingat janji
ketulusan dari Tio yang ingin berusaha membahagiakannya, akhirnya Amanda
mengurungkan niat buruknya. Semua ini ia lakukan semata-mata karena ia sangat
menyayangi kekasihnya dan kedua orang tuanya lebih dari apapun.
Itulah
cinta. Sesulit apapun cobaan yang menghadang tetap harus diperjuangkan. Sebesar
apapun godaan yang menghampiri harus tetap dipertahankan. Karena cinta sejati
tidak tumbuh atas perlakuan kesederhanaan cinta. Namun cinta sejati tumbuh pada
keistimewaan usaha untuk mempertaruhkan apa arti cinta yang sebenarnya.
No comments:
Post a Comment