Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " KENANGAN " Karya: Stilia Mubarokah Darojat


Stillia Mubarokah Darojat
KENANGAN
Napasku terasa sesak disaat aku berbaring di tempat tidur. Aku berusaha bangkit dan menghela napas meringankan beban yang terasa semakin menjadi ketika udara dingin semakin mengigit. Dengan tergopoh-gopoh aku mencari obat dan segera meminumnya. Sesaat kemudian napas lega sudah mulai aku rasakan dan aku merasa lebih baik. Udara di rumahku saat ini terasa dingin dengan udara berkabut di sekeliling rumah. Aku tidak memedulikan lagi udara dingin dan sesak di dadaku ini karena hari sudah semakin siang dan aku harus segera bangun untuk menikmati liburan semester ganjil kali ini.
Liburan semester kali ini aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama ibu. Semenjak aku kuliah di luar kota, bersama ibu adalah momen yang sangat langka. Dengan cekatan aku melipat selimut dan merapikan seprei. Baju-baju jemuran yang tadinya terlihat mirip sekali dengan gombal sekarang sudah rapi dan siap diletakan dalam lemari pakaian. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat pantulan semangat wajahku di kaca pintu lemari. Terasa begitu ringan jika semuanya ada di dekat ibu.
            Aku membuka lemari kayu dan segera meletakan tumpukan baju di tanganku. Aku diam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal pengelihatanku. Pojokan sebuah buku berwarna cokelat pastel. Mendadak dadaku terasa sesak. Entah apa yang terjadi, sepenggal masa sekolahku aku tulis dalam larik-larik kertas di buku cokelat itu. Aku mengatur napas mencoba menenangkan diri. Ragu-ragu aku menarik buku itu dan segera mendekapnya di dadaku. Buku yang pernah menjadi teman semasa aku sekolah, dan buku tempatku berbagi.
            Aku masih mendekapnya. Aku masih ragu untuk membacanya. Ada rasa kangen mengingat kelucuan-kelucuan masa sekolah, tapi ada juga rasa gelisah untuk kembali mengingat masa-masa ABG yang kalau dipikir hanya kekonyolan masa puber. Hmmm…aku mantapkan untuk membukanya. Membaca tiap lembar kejadian-kejadian lucu masa sekolah. Ternyata tidak ada salahnya aku membacanya. Lucu.
            Lembar demi lembar aku renungi dan tertawa geli. Mengingat kejadian ketika aku duduk di bangku kelas sebelas, aku nekat loncat jendela gara-gara malas ikut pelajaran matematika, dan kejadian di kelas sepuluh aku harus menuliskan surat pernyataan maaf pada selembar kertas folio penuh gara-gara aku membuat kegaduhan saat upacara. Ah sungguh masa sekolah yang sungguh indah, mengesankan, dan nakal. Aku tersenyum geli.
            Aku membuka lembar berikutnya. Deg. Dadaku terasa sesak lagi. Sebuah nama tertulis dengan huruf kapital. DENI. Napasku tiba-tiba terasa berat. Setahun terakhir dokter memvonisku terkena asma. Efek kelelahan dan daya tampung otakku yang terasa berat membuatku sesak napas. Aku semakin teringat ketika awal pertemuanku dengan Deni terjadi di pojok alun-alun kotaku. Pada waktu itu sedang berlangsung acara Book Fair yang dihadiri oleh masyarakat kotaku dari seluruh pelosok.
            Waktu itu aku datang ke acara tersebut bersama teman semasa SMPku, tanpa diduga Deni  ada di sana dan tiba-tiba menyapaku,
            “ Hai… kamu Mia kan? Kalau tidak salah kamu putrinya Ibu Irma yang jualan mie ayam di pasar dekat warung sembako Pak Ali? Benar tidak?,” dia menatapku dengan wajah penasaran.
            “ Emm, iya benar. Kok kamu bisa tahu?.” Aku mengerutkan kening keheranan.
            “ Ya jelas tahu lah, perkenalkan namaku Deni, aku putranya Pak Ali yang punya toko sembako dekat warung ibumu.” Dia menjabat tanganku sambil tersenyum dan mulai meyakinkan bahwa dia telah tahu banyak tentangku dan semua tentang riwayat sekolahku. Dia mengaku bahwa dia tahu banyak tentangku dari teman sekolahku di SMP yang tinggal satu desa dengannya. Awal perkenalan itu menjadikan kami semakin dekat dan saling mengenal pribadi masing-masing. Lambat laun aku mulai mengenal bagaimana karakternya dan sikapnya terhadap seorang perempuan.
            Entah karena apa, aku mulai mengagumi pribadinya yang cerdas dalam menangani semua masalah. Dia jauh lebih tua daripada usiaku, dan aku mulai merasa nyaman dengannya. Setelah lama saling mengenal, kami merasa saling tertarik. Hingga suatu saat dia membawaku ke rumahnya dan mengenalkanku kepada anggota keluarganya.
            “ Mia, bagaimana perasaanmu setelah mengenal keluargaku.” Dia menatapku dengan senyum khasnya.
            “ Emm, aku penasaran kenapa secepat ini kamu membawaku kepada keluargamu? Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu terhadapku?.” Aku mulai berbinar saat mengucapkan hal itu.
            “ Aku yakin akan hal itu, makannya aku membawamu kepada orang tua dan keluargaku. Mia, aku sayang kamu.” Saat itu Deni mengucapkan perasaannya dengan penuh keyakinan hingga membuatku tak bisa menolak ajakannya untuk menjadikanku sebagai kekasihnya. Aku memutuskan hal itu karena aku tertarik pada pribadinya yang pintar, cekatan, dan bersikap dewasa dalam menyikapi setiap masalah. Ya, benih-benih perasaan sayangpun akhirnya tumbuh dari lubuk hatiku.
            Dua tahun sudah aku menjalani masa pacaran ini sejak aku duduk di bangku SMA kelas X. Terlalu dini memang aku mempunyai perasaan ini kepada seorang lelaki. Tapi tidak dapat aku pungkiri bahwa memang perasaan tidak dapat dibohongi. Masa pacaran selama dua tahun tidaklah singkat, di usia yang cukup lama ini sudah mulai terjadi goncangan di dalam hubungan kami. Bumbu-bumbu cinta yang awalnya manis kini sudah bercampur dengan perasaan pahit dari sikap dan perlakuan Deni terhadapku.
            Hari-hariku saat itu merasa sangat kesepian dan sangat membutuhkan hadirnya seorang Deni untuk membantu meringankan beban pikiranku yang sudah sangat penat. Aku heran, kenapa akhir-akhir ini Deni mulai sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai seorang karyawan TU sebuah sekolah kecamatan di tempat tinggalnya. Setiap aku mengirim pesan dia selalu menjawab bahwa dia sedang sibuk mengurus administrasi di sekolah karena sebentar lagi ada UAS. Bahkan jika aku telepon sudah jarang dia hiraukan. Aku hanya berpikir bahwa dia memang sedang sibuk dan aku harus bersabar serta harus selalu berpikiran positif. 
            Suatu hari, ibuku menanyakan akan suatu hal tentang Deni,
            ‘” Mia, ibu sama bapak koksering melihat Deni membonceng seorang perempuan. Itu teman kantor atau siapa Mia?.” Aku tersentak mendengar pertanyaan ibu.
            “ Masa sihBu, mungkin dia teman kantornya. Paling Deni mengantarkan pulang temannya itu. Jangan berpikiran negatif Bu ah.” Aku berusaha meyakinkan ibu.
            “ Teman masa cara boncengannya ga enak banget dilihat mi, seperti sama pacarnya sendiri.” Aku semakin merasa penasaran dengan kalimat ibu. Aku terus berusaha untuk meyakinkan ibu tentang Deni.
            “ Ibu, sepertinya dia memang teman kantornya, Deni pernah cerita tentang teman kerjanya yang sering diantarkannya pulang. Temannya itu usiannya jauh di atas Deni kok Bu. Dia diminta jadi pacarnya juga tidak mau. “
            “ Ya, kalau begitu masalanya, kenapa Deni setiap hari mengantar perempuan itu pergi? Kalau tidak ada urusan perasaan kenapa juga Deni melakukan hal itu.” Ibuku terus-terusan kekeh dengan pendapatnya. Aku hanya terdiam dan hatiku mulai terjadi gejolak penasaran ada masalah apa sebenarnya dengan Deni. Hal apa yang membuatnya semakin menjauhiku.
            Rasa penasaran yang bergejolak dalam lubuk hatiku, membuatku memunyai sebuah pemikiran. Pada waktu itu selama lima hari aku sengaja untuk pergi ke sekolah dengan tidak mengendarai sepeda motorku, aku selalu meminta bapak mengantarku sekolah. Saat pulang sekolah tiba, aku mengirim pesan kepada Deni untuk menjemputku pulang dari sekolah seperti biasanya yang aku lakukan. Jawaban yang sama selama seminggu selalu keluar bahwa dia tidak bisa menjempuktu di sekolah karena  tugas di sekolahnya sangat banyak, sehingga tidak ada waktu luang untuk menjemputku. Sejak saat itu aku mulai timbul tanda tanya besar. Tidak seperti biasanya Deni menolak setiap ajakanku kepadanya. Entahlah, kenapa dia menjadi seperti sekarang, berubah dan jauh dengan yang awal kukenal.
            Malam itu, udara begitu dingin dan begitu menusuk tulang-tulang dalam tubuhku yang kurus ini. Aku dan adikku sedang makan malam di dalam rumah, tiba-tiba teleponku berbunyi dan kulihat sebuah pesan dari nomor baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Perlahan-lahan dan penuh penasaran, aku membuka isi pesan itu.
            “Aku sudah mengambil keputusan tentang hubungan kita. Apa kamu bersedia menerimanya?.” Melihat pesan tersebut, aku mulai berpikir bahwa pesan itu datang dari Deni. dengan sekejap, nafsu makanku seketika lenyap dan rasa laparku berubah menjadi penasaran dan mulai dirundung kesedihan. Jantungku berdegup kencang, dengan tangan gemetar aku mulai menuliskan pesan balasan untuk Deni.
            “ Keputusan tentang apa? Ada masalah apa kita, kenapa tiba-tiba kamu mengatakan hal itu?.” Air mataku perlahan mulai berjatuhan.
            “ Aku sudah mengambil keputusan yang telah aku pikirkan dengan baik. Mia, aku ingin sendiri dulu. Tersrah kamu mau menungguku atau kamu mau mencari seorang laki-laki yang lain. Aku benar-benar ingin meraskan kesendirianku terlebih dahulu.”
            “ Ada masalah apa sebenarnya?slama ini kitaa tidak pernah ada masalah? Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?.”
            “ Mia, mungkin kita memang harus berpisah dahulu. Orang tuaku menginginkanku untuk bekerja lebih giat lagi. Untuk masa depanku.”
            “ Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Aku akan berusaha untuk menerimanya.”
            Mendengar semua keputusan itu, aku tak kuasa untuk menahan air mataku yang terus mengalir. Aku berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa telah digantungkan perasaanku selama ini. Terlalu lama dia memendam semua masalah itu. Aku terus berusaha menyeka air mata ini dan memegang dadaku yang mulai terasa sesak. Sangat sulit untuk menenangkan gejolak sakit hati ini. Kata-katanya terus teringat dalam pikiranku, AKU INGIN SENDIRI.
            Haru campur sakit masih sangat terasa dalam perasaanku sejak dua munggu yang lalu Deni mengatakan keputusan itu. Aku masih menyayanginya, sulit untuk aku lupakan karena dia cinta pertamaku. Aku sudah terlanjur cinta, tetapi memang hanya Tuhan yang tahu jalan hidup umat-Nya. Saat itu aku sedang merenung di luar kelasku. Aku duduk di atas bangku kayu berwarna cokelat yang sudah mulai usang. Teleponku berbunyi, kulihat ada sebuah pesan dari nomor baru yang sepertinya aku tahu itu milik siapa.
            Dugaanku tidak meleset, itu nomor telepon Deni yang dua minggu yang lalu dia gunakan untuk mengirim pesan. Mataku seketika terbelalak melihat pesan itu. Dia seolah-olah sedang bercerita kepada temannya bahwa dia telah putus dengan kekasihnya. Yang aku sesalkan, dia bercerita telah putus dengan seorang perempuan yang dulu pernah ia ceritakan, tidak lain adalah saudara sepupuku yang tinggal di bawah rumahku. Ingin rasanya aku berteriak bahwa dia laki-laki bejad yang tidak punya setitik perasaan. Kenapa dengan sengaja dia mengirim pesan itu kepadaku. Apa sebenarnya tujuan dari hal itu.
Ternyata selama ini tanpa sepengetahuanku dia menyukai saudara sepupuku. Hatiku hancur dan aku mulai merasa sakit yang begitu dalam. Aku menghiasi hari-hariku dengan menangis dan memikirkan perkataan Deni yang mengatakan dia ingin sendiri, ternyata itu hanyalah perkataan busuk dari seorang lelaki yang telah berpindah hati. Sakit hati ini mulai berdampak dengan kerenggangan dengan keluarga sepupuku itu. Aku mulai merasa benci kepadanya. Orang tuaku terus menyadarkanku untuk tidak melakukan hal itu, tapi sakit hati ini sudah berkerak di dalam hati dan jiwaku. Sulit untuk aku hilangkan.
            Memang menyakitkan kisah cintaku waktu sekolah dahulu. Buku diary berwarna cokelat itu telah menjadi pelampiasan luka yang aku tuangkan melalui tulisan-tulisan yang memang tidak dapat dikatakan sebagai karya yang indah. Salah satu pelampiasan luka itu aku tuangkan melalui sebuah puisi,
DENI.
Aku tak pernah tau apa alasanku mencintaimu.
Menyayangimu sepenuh hati.
Memilikimu sepenuh hati.
Aku tak pernah punya alasan untukitu.
Karena aku adalah aku yang selalu mencintaimu.
Tapi entah mengapa kamu mengartikannya lain dengan semua cara pikirku.
Kau bilang juga sayang padaku. Mencintaiku.
Tapi apa nyatanya?! Kamu menusuk dibelakangku.
Kamu renggut bahagiaku. Kamu khianati seluruh cintaku dengan luka yang sangat dalam disaat aku begitu merasa bahagia.


Den, apa ini yang namanya cinta? Cinta yang hanya dipenuhi dengan kebohongan yang dibungkus manis dengan kata-kata indahmu.
Apa ini yang dinamakan cinta?!!
DENIIIIIIII !!!!!!! AKU BENCI KAMU !
CINTA TELAH BERGANTI MENJADI BENCI YANG MENGAKAR !
Wonokromo, 24Maret 2010

            Dadaku terasa semakin sesak. Selembar kertas membawa pikiranku melayang-layang entah kemana. Cinta yang dulu begitu menentramkan, menjanjikan berubah menjadi cinta yang begitu menyakitkan dan menyesakkan dada. Sisa masa SMA dahulu aku habiskan dengan menyendiri dan menyendiri. Aku tak pernah membuka mataku untuk dunia luas. Semangatku kian meredup dengan trauma pengkhianatan yang begitu membuat tekanan batin.
            Hari-hariku terasa gelap. Masa sekolah yang harusnya bahagia justru menjadi masa suram bagiku. Masa konvoi usai menerima surat kelulusan SMA menjadi masa perenungan bagiku. Lulus ujian nasional 2011 lalu menjadi sejarah keberuntungan bagiku. Aku masih sangat ingat di kepalaku, sehari sebelum ujian nasional ibu menangis sesenggukan mengkhawatirkan keadaanku. Daya tahan tubuhku yang semakin melemah dan daya pikir nalarku yang kadang tak logis hanya karena hal sepele. Deni. Semenjak momen pengumuman kelulusan itulah semangatku kembali hadir. Kembali merajut mimpi-mimpi yang tercecer dan melewati masa sulitku. Kenangan itu akan aku jadikan sebagai pacuan untuk lebih semangat menatap masa depan. Aku pasti bisa…

No comments:

Post a Comment