Stillia Mubarokah Darojat
KENANGAN
Napasku
terasa sesak disaat aku berbaring di tempat tidur. Aku berusaha bangkit dan
menghela napas meringankan beban yang terasa semakin menjadi ketika udara
dingin semakin mengigit. Dengan tergopoh-gopoh aku mencari obat dan segera
meminumnya. Sesaat kemudian napas lega sudah mulai aku rasakan dan aku merasa
lebih baik. Udara di rumahku saat ini terasa dingin dengan udara berkabut di
sekeliling rumah. Aku tidak memedulikan lagi udara dingin dan sesak di dadaku
ini karena hari sudah semakin siang dan aku harus segera bangun untuk menikmati
liburan semester ganjil kali ini.
Liburan
semester kali ini aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama
ibu. Semenjak aku kuliah di luar kota, bersama ibu adalah momen yang sangat
langka. Dengan cekatan aku melipat selimut dan merapikan seprei. Baju-baju
jemuran yang tadinya terlihat mirip sekali dengan gombal sekarang sudah rapi
dan siap diletakan dalam lemari pakaian. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat
pantulan semangat wajahku di kaca pintu lemari. Terasa begitu ringan jika
semuanya ada di dekat ibu.
Aku membuka lemari kayu dan segera
meletakan tumpukan baju di tanganku. Aku diam sejenak. Ada sesuatu yang
mengganjal pengelihatanku. Pojokan sebuah buku berwarna cokelat pastel.
Mendadak dadaku terasa sesak. Entah apa yang terjadi, sepenggal masa sekolahku
aku tulis dalam larik-larik kertas di buku cokelat itu. Aku mengatur napas
mencoba menenangkan diri. Ragu-ragu aku menarik buku itu dan segera mendekapnya
di dadaku. Buku yang pernah menjadi teman semasa aku sekolah, dan buku tempatku
berbagi.
Aku masih mendekapnya. Aku masih
ragu untuk membacanya. Ada rasa kangen mengingat kelucuan-kelucuan masa
sekolah, tapi ada juga rasa gelisah untuk kembali mengingat masa-masa ABG yang
kalau dipikir hanya kekonyolan masa puber. Hmmm…aku mantapkan untuk membukanya.
Membaca tiap lembar kejadian-kejadian lucu masa sekolah. Ternyata tidak ada
salahnya aku membacanya. Lucu.
Lembar demi lembar aku renungi dan
tertawa geli. Mengingat kejadian ketika aku duduk di bangku kelas sebelas, aku
nekat loncat jendela gara-gara malas ikut pelajaran matematika, dan kejadian di
kelas sepuluh aku harus menuliskan surat pernyataan maaf pada selembar kertas
folio penuh gara-gara aku membuat kegaduhan saat upacara. Ah sungguh masa
sekolah yang sungguh indah, mengesankan, dan nakal. Aku tersenyum geli.
Aku membuka lembar berikutnya. Deg.
Dadaku terasa sesak lagi. Sebuah nama tertulis dengan huruf kapital. DENI.
Napasku tiba-tiba terasa berat. Setahun terakhir dokter memvonisku terkena
asma. Efek kelelahan dan daya tampung otakku yang terasa berat membuatku sesak
napas. Aku semakin teringat ketika awal pertemuanku dengan Deni terjadi di
pojok alun-alun kotaku. Pada waktu itu sedang berlangsung acara Book Fair yang dihadiri oleh masyarakat
kotaku dari seluruh pelosok.
Waktu itu aku datang ke acara
tersebut bersama teman semasa SMPku, tanpa diduga Deni ada di sana dan tiba-tiba menyapaku,
“ Hai… kamu Mia kan? Kalau tidak
salah kamu putrinya Ibu Irma yang jualan mie ayam di pasar dekat warung sembako
Pak Ali? Benar tidak?,” dia menatapku dengan wajah penasaran.
“ Emm, iya benar. Kok kamu bisa
tahu?.” Aku mengerutkan kening keheranan.
“ Ya jelas tahu lah, perkenalkan
namaku Deni, aku putranya Pak Ali yang punya toko sembako dekat warung ibumu.”
Dia menjabat tanganku sambil tersenyum dan mulai meyakinkan bahwa dia telah
tahu banyak tentangku dan semua tentang riwayat sekolahku. Dia mengaku bahwa
dia tahu banyak tentangku dari teman sekolahku di SMP yang tinggal satu desa
dengannya. Awal perkenalan itu menjadikan kami semakin dekat dan saling
mengenal pribadi masing-masing. Lambat laun aku mulai mengenal bagaimana
karakternya dan sikapnya terhadap seorang perempuan.
Entah karena apa, aku mulai
mengagumi pribadinya yang cerdas dalam menangani semua masalah. Dia jauh lebih
tua daripada usiaku, dan aku mulai merasa nyaman dengannya. Setelah lama saling
mengenal, kami merasa saling tertarik. Hingga suatu saat dia membawaku ke
rumahnya dan mengenalkanku kepada anggota keluarganya.
“ Mia, bagaimana perasaanmu setelah
mengenal keluargaku.” Dia menatapku dengan senyum khasnya.
“ Emm, aku penasaran kenapa secepat
ini kamu membawaku kepada keluargamu? Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu
terhadapku?.” Aku mulai berbinar saat mengucapkan hal itu.
“ Aku yakin akan hal itu, makannya
aku membawamu kepada orang tua dan keluargaku. Mia, aku sayang kamu.” Saat itu
Deni mengucapkan perasaannya dengan penuh keyakinan hingga membuatku tak bisa
menolak ajakannya untuk menjadikanku sebagai kekasihnya. Aku memutuskan hal itu
karena aku tertarik pada pribadinya yang pintar, cekatan, dan bersikap dewasa dalam
menyikapi setiap masalah. Ya, benih-benih perasaan sayangpun akhirnya tumbuh
dari lubuk hatiku.
Dua tahun sudah aku menjalani masa
pacaran ini sejak aku duduk di bangku SMA kelas X. Terlalu dini memang aku
mempunyai perasaan ini kepada seorang lelaki. Tapi tidak dapat aku pungkiri
bahwa memang perasaan tidak dapat dibohongi. Masa pacaran selama dua tahun
tidaklah singkat, di usia yang cukup lama ini sudah mulai terjadi goncangan di
dalam hubungan kami. Bumbu-bumbu cinta yang awalnya manis kini sudah bercampur
dengan perasaan pahit dari sikap dan perlakuan Deni terhadapku.
Hari-hariku saat itu merasa sangat
kesepian dan sangat membutuhkan hadirnya seorang Deni untuk membantu
meringankan beban pikiranku yang sudah sangat penat. Aku heran, kenapa akhir-akhir
ini Deni mulai sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai seorang karyawan TU
sebuah sekolah kecamatan di tempat tinggalnya. Setiap aku mengirim pesan dia
selalu menjawab bahwa dia sedang sibuk mengurus administrasi di sekolah karena
sebentar lagi ada UAS. Bahkan jika aku telepon sudah jarang dia hiraukan. Aku
hanya berpikir bahwa dia memang sedang sibuk dan aku harus bersabar serta harus
selalu berpikiran positif.
Suatu hari, ibuku menanyakan akan
suatu hal tentang Deni,
‘” Mia, ibu sama bapak koksering
melihat Deni membonceng seorang perempuan. Itu teman kantor atau siapa Mia?.”
Aku tersentak mendengar pertanyaan ibu.
“ Masa sihBu, mungkin dia teman
kantornya. Paling Deni mengantarkan pulang temannya itu. Jangan berpikiran
negatif Bu ah.” Aku berusaha meyakinkan ibu.
“ Teman masa cara boncengannya ga
enak banget dilihat mi, seperti sama pacarnya sendiri.” Aku semakin merasa
penasaran dengan kalimat ibu. Aku terus berusaha untuk meyakinkan ibu tentang
Deni.
“ Ibu, sepertinya dia memang teman
kantornya, Deni pernah cerita tentang teman kerjanya yang sering diantarkannya
pulang. Temannya itu usiannya jauh di atas Deni kok Bu. Dia diminta jadi
pacarnya juga tidak mau. “
“ Ya, kalau begitu masalanya, kenapa
Deni setiap hari mengantar perempuan itu pergi? Kalau tidak ada urusan perasaan
kenapa juga Deni melakukan hal itu.” Ibuku terus-terusan kekeh dengan
pendapatnya. Aku hanya terdiam dan hatiku mulai terjadi gejolak penasaran ada
masalah apa sebenarnya dengan Deni. Hal apa yang membuatnya semakin menjauhiku.
Rasa penasaran yang bergejolak dalam
lubuk hatiku, membuatku memunyai sebuah pemikiran. Pada waktu itu selama lima
hari aku sengaja untuk pergi ke sekolah dengan tidak mengendarai sepeda
motorku, aku selalu meminta bapak mengantarku sekolah. Saat pulang sekolah
tiba, aku mengirim pesan kepada Deni untuk menjemputku pulang dari sekolah
seperti biasanya yang aku lakukan. Jawaban yang sama selama seminggu selalu
keluar bahwa dia tidak bisa menjempuktu di sekolah karena tugas di sekolahnya sangat banyak, sehingga
tidak ada waktu luang untuk menjemputku. Sejak saat itu aku mulai timbul tanda
tanya besar. Tidak seperti biasanya Deni menolak setiap ajakanku kepadanya.
Entahlah, kenapa dia menjadi seperti sekarang, berubah dan jauh dengan yang
awal kukenal.
Malam itu, udara begitu dingin dan
begitu menusuk tulang-tulang dalam tubuhku yang kurus ini. Aku dan adikku
sedang makan malam di dalam rumah, tiba-tiba teleponku berbunyi dan kulihat
sebuah pesan dari nomor baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Perlahan-lahan dan penuh penasaran, aku membuka isi pesan itu.
“Aku
sudah mengambil keputusan tentang hubungan kita. Apa kamu bersedia
menerimanya?.” Melihat pesan tersebut, aku mulai berpikir bahwa pesan itu
datang dari Deni. dengan sekejap, nafsu makanku seketika lenyap dan rasa
laparku berubah menjadi penasaran dan mulai dirundung kesedihan. Jantungku
berdegup kencang, dengan tangan gemetar aku mulai menuliskan pesan balasan
untuk Deni.
“
Keputusan tentang apa? Ada masalah apa kita, kenapa tiba-tiba kamu mengatakan
hal itu?.” Air mataku perlahan mulai berjatuhan.
“
Aku sudah mengambil keputusan yang telah aku pikirkan dengan baik. Mia, aku
ingin sendiri dulu. Tersrah kamu mau menungguku atau kamu mau mencari seorang
laki-laki yang lain. Aku benar-benar ingin meraskan kesendirianku terlebih
dahulu.”
“
Ada masalah apa sebenarnya?slama ini kitaa tidak pernah ada masalah? Kenapa
tiba-tiba kamu seperti ini?.”
“
Mia, mungkin kita memang harus berpisah dahulu. Orang tuaku menginginkanku
untuk bekerja lebih giat lagi. Untuk masa depanku.”
“
Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Aku akan berusaha untuk menerimanya.”
Mendengar semua keputusan itu, aku
tak kuasa untuk menahan air mataku yang terus mengalir. Aku berlari ke kamar
dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa telah digantungkan perasaanku selama
ini. Terlalu lama dia memendam semua masalah itu. Aku terus berusaha menyeka
air mata ini dan memegang dadaku yang mulai terasa sesak. Sangat sulit untuk
menenangkan gejolak sakit hati ini. Kata-katanya terus teringat dalam
pikiranku, AKU INGIN SENDIRI.
Haru campur sakit masih sangat
terasa dalam perasaanku sejak dua munggu yang lalu Deni mengatakan keputusan
itu. Aku masih menyayanginya, sulit untuk aku lupakan karena dia cinta
pertamaku. Aku sudah terlanjur cinta, tetapi memang hanya Tuhan yang tahu jalan
hidup umat-Nya. Saat itu aku sedang merenung di luar kelasku. Aku duduk di atas
bangku kayu berwarna cokelat yang sudah mulai usang. Teleponku berbunyi,
kulihat ada sebuah pesan dari nomor baru yang sepertinya aku tahu itu milik
siapa.
Dugaanku tidak meleset, itu nomor
telepon Deni yang dua minggu yang lalu dia gunakan untuk mengirim pesan. Mataku
seketika terbelalak melihat pesan itu. Dia seolah-olah sedang bercerita kepada
temannya bahwa dia telah putus dengan kekasihnya. Yang aku sesalkan, dia
bercerita telah putus dengan seorang perempuan yang dulu pernah ia ceritakan,
tidak lain adalah saudara sepupuku yang tinggal di bawah rumahku. Ingin rasanya
aku berteriak bahwa dia laki-laki bejad yang tidak punya setitik perasaan.
Kenapa dengan sengaja dia mengirim pesan itu kepadaku. Apa sebenarnya tujuan
dari hal itu.
Ternyata
selama ini tanpa sepengetahuanku dia menyukai saudara sepupuku. Hatiku hancur
dan aku mulai merasa sakit yang begitu dalam. Aku menghiasi hari-hariku dengan
menangis dan memikirkan perkataan Deni yang mengatakan dia ingin sendiri,
ternyata itu hanyalah perkataan busuk dari seorang lelaki yang telah berpindah
hati. Sakit hati ini mulai berdampak dengan kerenggangan dengan keluarga sepupuku
itu. Aku mulai merasa benci kepadanya. Orang tuaku terus menyadarkanku untuk
tidak melakukan hal itu, tapi sakit hati ini sudah berkerak di dalam hati dan
jiwaku. Sulit untuk aku hilangkan.
Memang menyakitkan kisah cintaku
waktu sekolah dahulu. Buku diary berwarna cokelat itu telah menjadi pelampiasan
luka yang aku tuangkan melalui tulisan-tulisan yang memang tidak dapat
dikatakan sebagai karya yang indah. Salah satu pelampiasan luka itu aku
tuangkan melalui sebuah puisi,
DENI.
Aku tak pernah tau apa alasanku mencintaimu.
Menyayangimu sepenuh hati.
Memilikimu sepenuh hati.
Aku tak pernah punya alasan untukitu.
Karena aku adalah aku yang selalu
mencintaimu.
Tapi entah mengapa kamu mengartikannya lain
dengan semua cara pikirku.
Kau bilang juga sayang padaku. Mencintaiku.
Tapi apa nyatanya?! Kamu menusuk
dibelakangku.
Kamu renggut bahagiaku. Kamu khianati
seluruh cintaku dengan luka yang sangat dalam disaat aku begitu merasa bahagia.
Den, apa ini yang namanya cinta? Cinta yang
hanya dipenuhi dengan kebohongan yang dibungkus manis dengan kata-kata indahmu.
Apa ini yang dinamakan cinta?!!
DENIIIIIIII !!!!!!! AKU BENCI KAMU !
CINTA TELAH BERGANTI MENJADI BENCI YANG
MENGAKAR !
Wonokromo, 24Maret 2010
Dadaku terasa semakin sesak.
Selembar kertas membawa pikiranku melayang-layang entah kemana. Cinta yang dulu
begitu menentramkan, menjanjikan berubah menjadi cinta yang begitu menyakitkan
dan menyesakkan dada. Sisa masa SMA dahulu aku habiskan dengan menyendiri dan
menyendiri. Aku tak pernah membuka mataku untuk dunia luas. Semangatku kian
meredup dengan trauma pengkhianatan yang begitu membuat tekanan batin.
Hari-hariku terasa gelap. Masa
sekolah yang harusnya bahagia justru menjadi masa suram bagiku. Masa konvoi
usai menerima surat kelulusan SMA menjadi masa perenungan bagiku. Lulus ujian
nasional 2011 lalu menjadi sejarah keberuntungan bagiku. Aku masih sangat ingat
di kepalaku, sehari sebelum ujian nasional ibu menangis sesenggukan
mengkhawatirkan keadaanku. Daya tahan tubuhku yang semakin melemah dan daya pikir
nalarku yang kadang tak logis hanya karena hal sepele. Deni. Semenjak momen pengumuman kelulusan itulah
semangatku kembali hadir. Kembali merajut mimpi-mimpi yang tercecer dan
melewati masa sulitku. Kenangan itu akan aku jadikan sebagai pacuan untuk lebih
semangat menatap masa depan. Aku pasti bisa…
No comments:
Post a Comment