Friday, 13 November 2015

Cerpen " Dibalik Layar Kesuksesan" Karya : Dewi Fatmawati


Dibalik Layar Kesuksesan
Oleh: Dewi Fatmawati
Pagi yang cerah bersama hangatnya sinar mentari seakan menjadi hal yang luar biasa ketika aku berangkat sekolah. Dari kejauhan pun terdengar kicauan burung-burung ikut serta dalam menyambut kebahagianku. Karena pagi ini adalah hari pertama aku menginjakkan masa peralihan yaitu antara masa anak-anak kemasa remaja atau biasanya orang-orang menyebutnya masa puber. Aku segera bergegas meninggalkan rumah, padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku tidak mau hari bahagia ini terlewatkan begitu saja dengan kecerobohanku karena terlambat masuk.
Dikehidupan baruku ini, aku telah diterima di perguruan tinggi favorit yang aku dambakan sejak dulu. Sepanjang jalan pikiranku melayang bersama angan-angan yang telah lama aku dambakan. Seketika itu, terbayang ketika aku belajar setiap hari, dan ketika aku bekerja keras mengumpulkan uang untuk bisa masuk perguruan tinggi favorit yang berada dalam perkotaan ini. Kutelusuri jalanan ini dengan senyuman yang tidak pernah sirna sedikitpun dari mulutku, walau kehidupan yang aku alami begitu keras. Dan sekarang saatnya aku menuai apa yang telah aku tanam.
Dari kejauhan terlihat gedung berwarna biru yang menampakkan kemegahannya. Gedung itu telah melambaikan tangan agar aku segera menghampirinya. Langkahku pun semakin cepat karena tidak sabar untuk menghampiri gedung tersebut. Tepat berada di depan tiang bendera aku berdiri, aku tertegun melihat kemegahan gedung berwarna biru. Aku tidak pernah percaya gedung yang selama ini hanya bisa ku lihat dari kejauhan, sekarang telah berada tepat dikedua mataku. Akan tetapi, perasaan takut atau minder tiba-tiba muncul dipikiranku.

Mataku memandang  jauh ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku sering melewati gedung tersebut bersama teman-teman jalanan. Kemudian tepat di depan gerbang gedung berwarna biru itu, aku sering mengkhayal seandainya aku dapat menjadi salah satu siswa di sekolah tersebut. Tiba-tiba mulutku terbuka untuk bercerita kepada teman-temanku bahwa aku ingin sekali masuk sekolah favorit di perkotaan ini. Tapi, mereka justru tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku, mereka juga mengejekku karena aku anak orang miskin, mereka beranggapan bahwa orang tuaku tidak akan sanggup membayar biaya. Untuk makan sehari-hari saja masih kurang apalagi diterima di perguruan tinggi tersebut.
“Aku ingin sekali menjadi mahasiswa di sekolah itu.” kata Arman dengan memandang gedung tersebut.
“Ha ha ha kamu ini mengigau atau mau melawak?” ejek Tono.
“Ha ha ha.” dengan serentak teman-temanku tertawa.
“Memangnya kenapa? Apakah tidak boleh aku kuliah disana?” tanya Arman.
“Bukanya tidak boleh, tapi bangunlah dari tidurmu Arman!” kata Tono.
“Aku tidak tidur!”
“Lantas mengapa kamu berkhayal setinggi itu?”
“Aku tidak berkhayal.”
“Ha ha ha, kamu ini lucu sekali. Apakah kamu tidak sadar berkata seperti tadi?”
“Aku sadar!”
“Apakah kamu yakin akan diterima di perguruan tinggi favorit itu? Kita ini hanya orang miskin tidak mungkin bisa kuliah disana. Coba saja kamu lihat yang kuliah disana, apakah ada orang miskin seperti kita?” tanya Tono.
“Iya Arman, di kampus sana itu hanya orang-orang kaya dan pintar.” sahut Adi.
“Aku yakin, aku akan berusaha untuk bisa kuliah  disana! Apakah hanya orang kaya saja yang bisa kuliah disana? Kita juga bisa, asalkan kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.” Jawab Arman.
“Ah, sudahlah Arman mimpimu itu terlalu tinggi. Memangnya orang tuamu sanggup membayar biaya kuliah disana, untuk makan sehari-hari saja masih kurang. Apalagi ini, bermimpi mendaftar perguruan tinggi favorit itu.”
“Ha ha ha.” serentak teman-teman.
“Aku akan buktikan!” gumam Arman.
Semenjak perbincangan itu, aku menjadi murung dan bahkan berpikir untuk mengurungkan impianku untuk menjadi salah satu mahasiswa di perguruan tinggitersebut. Perguruan tinggi yang sudah bertahun-tahun aku dambakan, perguruan tinggi dengan banyak prestasi yang dicapai, dan perguruan tinggi yang banyak menghasilkan mahasiswanya sukses. Aku sadar dengan kondisi keluargaku yang kurang mampu, kita bisa makan sehari saja sudah bersyukur.
Pekerjaan Ayahku yang hanya sebagai kuli bangunan, ia bekerja jika ada orang di kampungku yang membangun rumah. Bahkan di kampungku rata-rata keluarga yang kurang mampu. Sedangkan ibuku, ia hanya buruh cuci di rumah-rumah tetangga yang gajinya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Perbincangan itu selalu menghantui pikiranku, ada benarnya juga perkataan teman-temanku. Akan tetapi, disisi lain aku ingin mewujudkan impianku karena itu akan membuat orang tuaku bangga.
Sepulang sekolah aku melihat ibu sedang sibuk dengan pekerjaannya, tapi tidak ku lihat sosok ayahku. Akhirnya, aku memberanikan diri bertanya pada ibu.
“Ibu.” sapa Arman.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Ibu Arman.
“Iya Bu.”
“Iya sudah, segera lah ganti bajumu terus makan.”
“Bu, Arman boleh menanyakan sesuatu?”
“Iya boleh. Mau tanya apa, Nak?”
“Mmm, tapi ibu jawab jujur.”
“Iya, ada apa? sepertinya penting sekali.”
“Bu, boleh tidak kalau Arman melanjutkan kuliah di kota?”
Wanita itu hanya diam dan berdiri melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, Arman tidak puas karena pertayaannya belum terjawab.
“Bu, kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku? Apakah aku tidak boleh sekolah disana, Bu?” tanya Arman menghampiri ibunya.
“Bukannya tidak boleh Nak, tapi..”
“Tapi kenapa Bu? ” potong Arman.
“Tapi Ibu tidak bisa membiayainya.” Jawab Ibu Arman dengan terisak.
“Tenang saja Bu. Arman akan bekerja keras untuk mencari uang, dan Arman juga akan belajar setiap hari agar mendapatkan beasiswa.” kata Arman dengan memeluk Ibunya.
Ternyata di balik pintu ayahku mendengar perbincanganku dengan ibu. Betapa sakitnya hati orang tua jika tidak dapat mewujudkan impian anaknya untuk mencapai kesuksesan. Semua orang tua ingin anaknya menjadi sukses, tapi bagaimana perasaan orang tua jika anaknya ingin mewujudkan impiannya. Namun, sebagai orang tua tidak dapat membantu untuk mewujudkan impian tersebut.
Setelah kejadian siang tadi, sifat dan sikap ayah pun menjadi berubah. Ia menjadi seorang pendiam. Ia tidak pernah berkumpul bersama keluarga. Dan Ia juga jarang pulang ke rumah. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di luar sana. Bahkan ibuku juga tidak tahu mengapa ayah jadi seperti itu.
Suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah dari kejauhan terlihat kerumunan orang-orang pasar sedang menggunjingkan orang yang dikeroyok karena mencuri di salah satu tokoh di pasar, perasaanku tergugah mengajak aku untuk melihat ada apa disana, dan siapa orang yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang disekitar. Aku berjalan setengah berlari mendekati kerumunan orang-orang pasar itu. Hatiku bagai sebuah jarum di atas batu karang yang tiba-tiba diserbu ombak laut yang begitu dahsyat, ketika melihat sosok laki-laki setengah baya terbujur lemah dengan balutan darah disekujur tubuh. Betapa sakitnya hatiku melihat sosok laki-laki yang merupakan kepala keluarga, yang selalu terlihat kuat,  dan selalu mengayomi anak dan keluarganya. Sekarang, sosok itu berubah hanya terbujur lemah tidak sadarkan diri. Laki-laki itu adalah ayahku.
Sesampai di rumah, ibuku tidak sanggup membendung air matanya dan berkali-kali ia pingsan karena melihat suaminya lemah tidak berdaya dengan balutan darah. ibuku adalah seorang wanita yang tangguh, aku  tidak pernah melihat ibu menangis sampai tidak berdaya. Dan aku juga tidak mengerti mengapa ayahku bisa melakukan perbuatan seburuk itu.
Keesokkan harinya, ketika ibu bangun dari tidur dia kaget karena disebelahnya tidak didapati sosok lelaki yang selalu menemani malamnya. Ia hanya mendapati secarik kertas bertuliskan bahwa ayah akan pergi jauh untuk mencari pekerjaan agar dapat menyekolahkan aku dan menafkahi keluargaku. Seketika itu ibu menangis sekencang-kencangnya setelah membaca surat yang disebelahnya. Dan aku berlari menghampiri ibuku. Aku sangat terpukul ketika membaca surat tersebut. Aku merasa aku menjadi dalang dari segala kekacauan keluargaku karena ambisiku yang terlalu tinggi untuk menjadi salah satu siswa di sekolah favorit itu.
Semenjak itu, aku tidak pernah lelah untuk mengais rezeki dijalanan. Demi kehidupan aku dan ibuku sehari-hari. Siapa lagi kalau bukan aku. Setiap hari sepulang sekolah aku menjual suaraku, menjual tenagaku mengangkuti barang-barang dagangan para pembeli dan penjual, dan memunguti sampah-sampah dijalan demi mencari sesuap nasi serta untuk menunjang impianku. Entah sampai kapan aku akan menjadi seperti ini, tubuh mungil ini tidak akan kuat jikalau diforsir setiap hari. Malamnya pun aku harus belajar agar impian itu lebih sempurna. Beberapa bulan selanjutnya ternyata ayahku tidak lupa dengan janjinya, bahwa ia akan mengirimkan gajinya untuk keluarganya, walau tidak seberapa.
Bulan demi bulan aku dan ibu lalui hidup tanpa adanya lindungan dari pemimpin yang menjadi  pengayom keluarga. Dan akhirnya tahun pun berganti, hingga akhirnya aku akan melaksanakan UN (Ujian Nasional) untuk tinggkat SMA. Seperti biasa, sepulang dari les aku langsung bergegas ke perkotaan untuk mencari rezeki. Aku  bahagia ternyata penghasilanku hari ini lebih banyak dari hari biasanya karena hari ini adalah hari jadi kota Jakarta. Semua orang berbondong-bondong untuk ikut merayakan hari jadi kota tersebut. Aku hampir saja tertabrak mobil yang berplat nomor “DH 222 TU”. Ternyata rasa iba sedang bersemayam dibenak orang  yang berada dalam mobil itu, dia keluar dan hendak menolong aku. Karena lukaku tidak terlalu parah, maka orang tersebut hanya memberikanku uang dan bergegas pergi, sepertinya ada sesuatu yang lenih penting dari pada aku. Senja pun datang menghampiri aku, mengajak untuk pulang, karena sudah aku terlarut dalam keramaian ini.
Disepanjang jalan aku tersenyum, ingin segera kembali ke rumah dan memberikan kabar bahagia ini untuk ibu, tapi disisi lain luka ringanku terasa sakit. Itu semua tidak menjadi alasan untuk pulang ke rumah. Sesampai didepan rumah, aku melihat sepasang sepatu hitam mengkilap yang ukuranya pun seperti ukuran sepatu ayahku dulu. Pikiranku terbang melayang, menerka-nerka apakah yang ada di dalam rumah adalah ayahku yang sudah bertahun-tahun tidak pulang, ataukah seorang yang hendak singgah sebentar di rumahku. Namun tidak mungkin ada orang kaya singgah di gubuk yang sudah tidak layak itu. Hanya orang kaya yang mempunyai sepatu sebagus itu. Ataukah  memang ayahku sudah menjadi orang sukses.
“Ayah….” sapa Arman.
Laki-laki yang disapa Arman itu pun menengok dengan wajah sedih dan bingung.
“Ibu, mengapa ibu menangis? Anda siapa? ada keperluan apa Anda di rumah saya?” tanya Arman bingung.
“Maaf Nak, saya polisi dari Nusa Tenggara Timur. Kesini ingin mengabarkan kepada kelurga Pak Sahid bahwa Pak Sahid menjadi korban salah tembak di peperangan antar warga dan polisi disana. Kami ingin mengucapkan bela sungkawa dan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan salah satu teman kami.” Jawab lelaki yang berseragam tersebut.
“Dimana ayah saya?” Tanya Arman sambil menangis.
“Ayah adik masih di sana, dan besok akan diantarkan jenazanya ke jawa.” Jawab lelaki itu.
Kejadian itu, membuatku tergugah untuk selalu menjadi orang yang tabah dan selalu semangat tidak kemal putus asa. Kini saatnya aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi sukses demi pengorbanan mereka yaitu keluargaku.
Tet tet tet, bel sekolah pun berbunyi menandakan bahwa sekolah sudah masuk. Aku bergegas menuju kelas sambil menghapus luka lama yang selalu ada dalam hati ini. Pengorbanan orang-orang yang aku sayangi demi ambisi impianku.dan inilah saatnya aku menuai buah hasil yang sudah aku tanam bertahun-tahun yang lalu.

No comments:

Post a Comment