PUTIH DI ATAS HITAM
Karya : Putra Adi Setyawan
“Oek,
oek,oek”
“Tidurlah
anakku, ibumu ada disini. Cup-cup”
Malam
ini lagi-lagi aku dibangunkan oleh suara tangis anakku. Aku tak mengerti, apa
yang terjadi dengannya. Sudah tiga malam ini dia selalu terbangun kala malam,
begitu juga dengan malam ini. Dia terbangun tanpa sebab, aku mencoba terus
menyanyikan lagu untuk membuat dia kembali tertidur dan aku bisa kembali
istirahat setelah semalam ini aku bekerja.
“Ros,
Rosa, buka pintunya!”
“Iya,
tunggu sebentar, aku sedang menidurkan Hana.”
Aku
berjalan menuju pintu sambil menggendong Hana anakku. Aku merasa memang
laki-laki ini tak pernah punya sopan santun. Dia adalah Guntur, seorang germo
pinggir kota. Kalau aku tak berhutang padanya, sudah kutendang dia dari
hidupku. Mungkin aku juga yang bodoh, karena percaya dengan laki-laki ini dulu.
Waktu
itu aku sendirian ditaman kota, tanpa teman dan hanya sendirian. Hatiku hancur
karena baru saja kedua orang tuaku harus terengguut nyawanya dalam sebuah
kecelakaan maut. Aku tak tau harus hidup dengan siapa, maklum kehidupan kota
sangat keras dan sangat sulit bagi wanita muda sepertiku bisa bekerja dengan
mudah. Ketika itu Guntur menghampiri aku dengan tatapan iba dan penuh kasih.
“Adik
kenapa?” tanya guntur padaku
Aku
yang kala itu masih sangat polos, langsung menceritakan semua yang aku alami
pada Guntur.
Dengan
lembut dia mengajakku untuk pergi bersamanya. Aku merasa seperti menemukan
malaikat, aku tak tau apa yang aku rasakan kala itu. Aku mengikuti dia, aku
mengikuti cara hidupnya, tanpa sadar aku telah menyerahkan seluruh hidupku
kepadanya. Hingga dia menjualkupun aku terima, aku tak mengerti mengapa waktu
itu aku seperti itu. Hingga aku tersadar atas perbuatanku kala aku mengandung
Hana. Entah siapa ayah dari Hana, karena memang sudah tak terhitung lagi
laki-laki yang tidur denganku.
“Mengapa
lama sekali?”
“Sudah
kubilang kan aku sedang menidurkan Hana.”
“Harusnya
dulu kau buang saja bayi itu, kenapa juga kau dulu tidak mau untuk
menggugurkannya?”
Aku
hanya diam lalu meletakkan Hana pada tempat tidurnya. Ini memang kebiasaannya,
datang menjelang pagi, dalam keadaan mabuk, lalu marah-marah tidak jelas padaku
atau bayiku ini. Tapi aku tak mengerti juga dengannya, beberapa kali dia bilang
aku ini bukan lagi wanita yang dia inginkan, namun masih saja dia pulang ke
rumah kecilku ini.
“Ros,
beri aku minum, jangan hanya diam saja disana!” bentaknya kepadaku.
“Bukankah
kau itu habis minum, aku sudah kehabisan minuman.” Jawabku.
“Jangan
membohongiku, wanita jalang!”
“Bukankah
kau sendiri yang kemarin menghabiskan sisa dua botol minumanku, aku sedang
sepi, aku sedang tak ada pelanggan, aku belum sanggup membeli minuman lagi.” kataku
menjelaskan.
“Makanya,
buang saja orok tak bergunamu itu, dia itu memang pembawa sial buatmu”
“Teruskan
saja ocehanmu tentang Hana, harusnya kau juga mengerti, salah satu calon
ayahnya itu juga kau, kau harusnya juga ikut mengurusnya, bukan menghinanya.”
“Maka
dari itu, dia hanya penghalang buatku dan kamu, apa aku bunuh saja bayimu itu
sekarang.”
“Apa-apaan
kau! Sudahlah kau itu diam dan tidurlah, masih banyak yang harus ku kerjakan
besok.”
Pertengkaran
ini memang selalu terjadi setiap malam, aku bahkan tak mengerti lagi, apa yang
harus aku lakukan kepada laki-laki di depanku ini. Ingin rasanya aku tikam dia
dengan pisau, agar dia tak ada lagi dalam kehidupanku.
***
Seperti
biasa, pagi hari aku harus segera bergegas menuju tempat kerjaku yang lain. aku
bekerja di toko Roti seberang jalan, disana aku sebagai pelayan saja.
Seperti pagi yang
sudah-sudah, para lelaki memandangku dengan tatapan nakalnya. Mungkin karena
banyak diantara mereka mengetahui pekerjaan malamku. Tapi entah mengapa ada
satu laki-laki yang selalu bersikap sopan denganku, walau aku tau dia sudah
mengetahui profesiku sebagai wanita malam. Dia tak sekalipun pernah menggodaku
dalam setiap pertemuan kami. Bahkan dia selalu menghormati dan seakan memperhatikanku
layaknya seorang kekasih. Hal itulah yang membuatku cukup dekat dengannya, dia
bernama Hasyim, seorang penjaga kasir yang tugasnya hanya bersebelahan
denganku. Tak jarang aku selalu berbagi cerita dengan Hasyim, dari sanalah aku
mengetahui bahwa dia baru saja bercerai karena istrinya tak betah untuk hidup
dalam kesusahan. Karena gaji Hasyim dan aku memang tidaklah besar, itu pula
yang membuatku belum bisa meninggalkan dunia malamku. Dia sendiri tahu banyak
tentang diriku dan hubunganku dengan Guntur dan segala permasalahn yang
membelitku.
“Datang
telat, Mbak?” sapa Hasyim kepadaku.
“Iya
ni, semalam padahal sepi, tapi Hana nangis terus, jadi aku harus mengurusinya
semalam.”
“Nampaknya
Mbak memang harus segera mencari orang yang bisa mengurus Hana ya, jadi tidak
selalu dititipkan ketetangga terus.”
Aku
hanya diam mendengar perkataan Hasyim ini, bagiku memang itu ada benarnya,
namun aku sendiri masih takut untuk menikah. Siapa yang mau menerima wanita
seperti aku, yang setiap malam menjadi barang pemuas nafsu seorang lelaki.
Waktu
berjalan cukup cepat, waktu pulangpun tiba. Aku hendak berjalan menuju tempat
aku biasa menunggu angkot. Namun Hasyim mencegahku.
“Mbak,
boleh main kerumah mbak? Aku ingin melihat Hana, sudah lama aku tak
menggendongnya.”
Kata
Hasyim ini membuatku terdiam dan kaget, tak biasanya dia bilang seperti ini.
Biasanya juga dia bertemu Hana hanya saat aku membawanya ke toko, karena
tetanggaku tidak bisa mengurusi anakku itu.
“Lo
Mbak, kok malah diam, boleh atau tidak ini?” kata Hasyim yang menyadarkan aku
dari lamunan.
“Oh
ya, maaf, boleh Syim boleh, aku malah sangat senang jika kamu mau mampir.”
Entah
darimana aku menemukan kata-kata itu, aku seperti linglung, aku terkaget dan
kagum pada laki-laki ini. Dia sopan dan tidak sedikitpun merasa jijik dengan
pekerjaanku.
Kami
akhirnya berangkat menuju rumahku, yang kurang lebih lima belas menit dari
tempat kami bekerja.
“Rumah
kau enak juga ya, sepi dan nyaman.”
“Ah,
ini mungkin tak semewah rumahmu.”
“Tidak,
rumahmu lebih nyaman dari rumahku.”
“Sudahlah,
ayo masuk, kau tunggu didalam, aku akan menjemput Hana sebentar.”
Aku
lalu bergegas menuju tempat Hana aku titipkan. Saat aku kembali, aku cukup
kaget mendengar percekcokan yang ramai dirumahku. Aku berlari dan dugaanku
benar, Guntur pulang.
“Siapa
dia Ros, pelanggan baru, atau pacar baru, kurang cukup kamu denganku.”
“Guntur,
apa-apaan kamu, dia itu sahabatku ditoko.”
“Alah,
jangan membantah deh, aku tau dia itu pasti selingkuhanmu bukan, makan itu
laki-laki, aku udah gak butuh kamu lagi!” bentak Guntur kepadaku yang diikuti
tangisan Hana dan tanpa sadar juga tangisanku.
Guntur
lalu pergi entah kemana, sedang Hasyim hanya diam yang lalu memelukku dengan
kesabaranya. Hatiku entah mengapa merasa dekat dan nyaman sekali dalam
pelukannya. Aku seakan kembali pada kehidupan damaiku dulu, aku seakan
menemukan lagi kebahagiaanku lagi.
“Maaf
ya mbak Ros, aku membuat kacau semuanya.” Kata Hasyim lembut.
“Tidak
apa-apa Syim, dia memang seperti itu, harusnya juga dia tidak ada dalam
kehidupanku.” Kataku menjelaskan.
Kami
lalu duduk lagi dan suasana sepertinya sudah mulai tenang lagi, Hasyim sibuk
bermain dengan Hana, sementara aku hanya memandang mereka.
Tak
terasa sudah hampir tengah malam, Hana sudah tertidur pulas. Tinggal aku dan
Hasyim saja yang duduk berdua saja.
“Mbak,
apa Mbak benar-benar tidak mau berpikir untuk menikah?” tanya Hasyim lembut.
“Aku
tidak tahu, aku seakan belum siap dengan.”
“Apa
yang membuat mbak merasa belum siap, Mbak itu dewasa iya, Mbak juga butuh
perlindungan.”
“Aku
itu takut Syim dengan duniaku sekarang, kau tau kan aku ini hanya wanita jalang
dan liar, apa ada seorang lelaki yang mau menikahi seorang pelacur sepertiku.”
“Ada
mbak, aku mau menikahi mbak, aku itu mencintaimu Mbak.”
Aku
kaget dengan ucapan Hasyim tersebut, aku tak pernah menyangka dia akan berani
mengatakan hal tersebut kepadaku. Aku terdiam dan berpikir, apa yang harus aku
katakan padanya, jujur aku juga mencintainya, namun aku juga tak bisa
mnegorbankan dirinya dalam kehidupanku. Aku sudah terlalu dalam menuju kegelapan,
rasanya tak pantas jika aku harus menikah dengan laki-laki yang sangat baik
ini.
“Kenapa
kau hanya terdiam, Mbak.” tanya Hasyim yang mengagetkan aku dari lamunan.
“Apa
kau yakin dengan ucapanmu itu Syim, aku tidak mau melibatkanmu dalam kehidupan
gelap ini, kau sudah terlalu banyak membantu, kau tak pantas untuk ikut dalam
kehidupan gelapku.”
Dia
hanya diam, lalu dengan pandangan mata yang membuat jantungku berdetak, dia
hanya berkata satu kalimat.
“Cium
aku.” Hanya itu yang dia katakan.
Aku
gugup dan tak bisa bergerak, tanpa sadar bibir kami telah berpagut mesra. Aku
merasakan kehangatan yang berbeda dari biasanya. Cara dia mencium juga berbeda
dengan laki-laki lain yang biasa tidur denganku, Hasyim lebih kepada ciuman
kasih sayang. Aku benar-benar mabuk asmara sekarang, keraguanku seperti hilang,
aku benar-benar mencintainya sekarang.
Hasyim
secara perlahan melepaskan pelukan dan menghentikan ciuman. Dia hanya
tersenyum, aku tak tahu apa maksudnya, namun aku merasa gugup dan malu.
“Mengapa
kau tersenyum seperti itu, kau membuatku malu.” kataku sambil tersipu.
“Caramu
menciumku, pertanda kau juga mencintaiku, jangan bohongi perasaanmu, ayo kita
bangun keluarga bersama, kita tinggalkan kota ini, kita tinggalkan masa lalu,
kita tatap masa depan kita.”
“Aku
memang mencintaimu, tapi aku masih takut dengan duniaku, kau akan sulit pergi
jika kau sudah bergabung disini, kita tidak akan semudah itu pergi meninggalkan
kota, semua orang terlanjur mengenalku sebagai langganan mereka setiap malam.”
“Percayalah
padaku, aku pasti bawa kamu pergi dari sini, aku akan melindungimu, aku
berjanji dengan itu, percayalah.”
Aku
sekali lagi tak mampu berkata, dia benar-benar seperti malaikat keduaku
sekarang. Denganpelan dia kembali memelukku, dia mulai mencoba kembali menciumku,
namun aku tahan. Aku masih meragu dengan keputusanku.
“Mbak
Ros, apa Mbak masih ragu denganku, apa tatapan mata serta kata-kataku ini belum
membuat Mbak yakin?”
“Aku
masih bingung dengan pilihan ini sekarang, aku juga masih berpikir tentang masa
depan, harusnya kau tak merusak masa depanmu itu dengan menikahiku, kau bisa
mendapatkan wanita yang lebih muda, lebih bisa memperhatikanmu, lebih pantas
untuk mendampingimu.”
“Tapi
aku mencintaimu Mbak, aku tidak butuh wanita lain.” Hasyim mencoba meyakinkan
aku.
Aku
memang terlalu sulit untuk menerimanya, dia terlalu sempurna untukku. Namun aku
juga tak bisa menampik bahwa dalam hati nuraniku aku ingin menikah dengannya.
“Apa
kamu mau berjanji padaku, untuk terus menjaga Hana, jika iya aku akan menikah denganmu.”
“Aku
janji Mbak, aku sangat berjanji untuk melindungi Mbak dan Hana, aku akan anggap
Hana itu anak kandungku, aku berjanji dengan itu.” jawabnya tegas.
Malam ini seperti
menjadi milikku dan Hasyim, kami memadu kasih berdua hingga pagi menjelang.
***
Kami
sepakat untuk meninggalkan kota seminggu lagi, selama itu aku dan Hasyim akan
melakukan aktivitas seperti biasa lalu malamnya kita mempersiapkan semua hal
yang harus disiapkan untuk meninggalkan kota.
Malam
ini adalah malam terkhir kami di kota ini, semua sudah sangat rapi. Kami sudah
akan bergegas dalam pelarian kami. Aku menggunakan jaket dan tudung yang besar
serta Hana kami naikkan diatas kereta bayi, Hasyim dengan pakaian rapi bak
orang kantoran. Baru saja kami membuka pintu.
Brak!
Pintu didorong oleh seseorang, hasyim tersungkur. Guntur datang tepat waktu
pikirku, dan nampaknya lengkap sekali dia dalam mengganggu hidupku.
“Mau
kemana kalian?” tanya Guntur.
“Kami
hanya mau liburan sebentar keluar kota.”jelasku padanya.
“Jangan
berbohong kamu, mengapa liburan pakaian kalian seakan mau kabur seperti itu?”
“Sudahlah,
kau tak berhak mengatur hidupnya lagi, aku yang berhak mengatur hidup Rosa!”
bentak Hasyim pada Guntur.
Mendengar
teguran itu, Guntur naik pitam. Dia lalu memukul Hasyim dengan keras.
“Aku
yang menemukan wanita ini, jadi aku yang berhak mengatur hidupnya!”
bantah Guntur.
“Tapi
kamu itu sekarang sama sekali tidak berhak untuk mengaturnya, kau hanya menjadi
penghalang kebahagiaan bagi Rosa!” bentak Hasyim.
Keduanya
terlibat perkelahian, aku dan Hana hanya bisa bersembunyi di kamar. Aku kembali
pada penyesalanku, harusnya aku tidak membiarkan perasaan ini meluas. Hingga
aku tidak membuat perkelahian ini terjadi. Aku menagis dan terus menangis, aku
hanya bisa memandang wajah lugu bayi mungilku ini. Sedang diluar kami terus
mendengar cacian dan makian serta suara pukulan.
Dor!
Dor! Dor!
Ada
suara tembakan, aku kaget dan aku beranjak, berlari menuju ruang dimana mereka
berkelahi.
Aku
terkaget kala aku melihat Hasyim bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya,
sedangkan Guntur terlihat bergemetaran sambil memegang sebuah pistol. Aku tak
bisa berkata apa-apa kini, aku hanya bisa menghampiri Hasyim yang tergeletak,
aku menangis tanpa arah. Aku berteriak, dan aku lihat Guntur melemparkan pistolnya
ketempatku. Dia lalu berlari meninggalkan kami.
Aku
masih tak percaya dengan apa yang aku lihat, orang yang harusnya menjadi
malaikat hidupku yang sebenarnya, harus direnggut nyawanya oleh malaikat yang
satunya. Apa lagi ini, apa aku memang ditakdirkan untuk hidup dalam dunia
malamku. Aku mencoba kuat, namun pandanganku menuju pistol didepanku, aku
seperti tidak mempunyai lagi masa depan. Satu-satunya masa depanku telah terenggut
didepanku ini, aku ingin mati saja.
Aku
ambil pistolnya, tanganku bergetar aku seakan tak sanggup untuk melakukannya.
Aku tak bisa melakukanya. Aku kembali menangis, hingga aku tidak tau dari mana
mereka berasal. Semua sudah didepanku dan memakiku.
“Dasar
kau pelacur, pembunuh juga, seret dia, bakar rumahnya!” Terdengar suara gaduh
yang aku sendiri tidak mengerti, ada apa lagi ini.
Tiba-tiba
seorang lelaki menyeretku, dan kurasakan sebuah hantaman pada wajahku. Aku
diseret oleh banyak orang, ditikam, ditendang bahkan ada yang mencoba memukulku
dengan benda keras. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa, aku hanya bisa
meronta, menangis dan berteriak. Aku tidak tau mengapa harus begini pada
akhirnya.
“Sudah,
seret dia, gelandang dia, biar semua tau bahwa dia itu seorang pembunuh!” suara
seorang yang ikut menyeretku.
“Aku
bukan pembunuh, lepaskan!” aku mencoba melawan.
“Kau
tak bisa menyangkal, kami telah melihatnya, kau yang membawa pistol itu, jadi
kau pembunuh!” makian seorang yang menyeretku.
Kembali
mereka menyeretku dengan berteriak “Kami membawa wanita lajang yang juga
pembunuh” Terus dan terus mereka berteriak seperti itu sambil menyeretku. Aku
tidak bisa apa-apa aku kini semakin tidak berdaya, mungkin ini sudah menjadi
jalanku. Aku terus menangis dengan iringan cacian, makian dan pukulan dari
mereka. Aku diseret hingga keluar dari rumah kecilku, suara tangis Hana
membuatku semakin remuk, aku tidak tau mengapa harus seperti ini. Apa tidak ada
keadilan didunia ini, mengapa hidupku tidak pernah merasakan keadilan.
“Bakar
rumahnya, cepat bersihkan semuanya!” teriakan yang menyadarkan aku dari
lamunanku.
“Tidak
jangan! Di sana ada anakku, jangan!” teriakku pada mereka.
“Itu
anak haram, biarkan saja, cepat bakar!”
Aku
tidak tau harus bagaimana, aku meronta mencoba untuk berlari memeluk Hana,
mataku mulai sayu kala melihat api itu mulai memakan sedikit demi sedikit
bangunan rumahku. Gadis kecilku itu hanya menangis, dan perih rasanya melihat
ini. Mereka kembali menyeretku, menjauh dan menjauh, suara tangis Hana semakin
hilang dan hilang tertelan kobaran api yang semakin membesar. Aku diam, untuk
menikmati siksaan ini, mungkin aku lebih baik mati, menyusul para malaikat yang
telah lebih dulu, meninggalkan aku.
TAMAT
No comments:
Post a Comment