Friday, 13 November 2015

Cerpen " Putih Di Atas Hitam" Karya : Putra Adi Setyawan


PUTIH DI ATAS HITAM
Karya : Putra Adi Setyawan
“Oek, oek,oek”
“Tidurlah anakku, ibumu ada disini. Cup-cup”
Malam ini lagi-lagi aku dibangunkan oleh suara tangis anakku. Aku tak mengerti, apa yang terjadi dengannya. Sudah tiga malam ini dia selalu terbangun kala malam, begitu juga dengan malam ini. Dia terbangun tanpa sebab, aku mencoba terus menyanyikan lagu untuk membuat dia kembali tertidur dan aku bisa kembali istirahat setelah semalam ini aku bekerja.
“Ros, Rosa, buka pintunya!”
“Iya, tunggu sebentar, aku sedang menidurkan Hana.”
Aku berjalan menuju pintu sambil menggendong Hana anakku. Aku merasa memang laki-laki ini tak pernah punya sopan santun. Dia adalah Guntur, seorang germo pinggir kota. Kalau aku tak berhutang padanya, sudah kutendang dia dari hidupku. Mungkin aku juga yang bodoh, karena percaya dengan laki-laki ini dulu.
Waktu itu aku sendirian ditaman kota, tanpa teman dan hanya sendirian. Hatiku hancur karena baru saja kedua orang tuaku harus terengguut nyawanya dalam sebuah kecelakaan maut. Aku tak tau harus hidup dengan siapa, maklum kehidupan kota sangat keras dan sangat sulit bagi wanita muda sepertiku bisa bekerja dengan mudah. Ketika itu Guntur menghampiri aku dengan tatapan iba dan penuh kasih.
“Adik kenapa?” tanya guntur padaku
Aku yang kala itu masih sangat polos, langsung menceritakan semua yang aku alami pada Guntur.
Dengan lembut dia mengajakku untuk pergi bersamanya. Aku merasa seperti menemukan malaikat, aku tak tau apa yang aku rasakan kala itu. Aku mengikuti dia, aku mengikuti cara hidupnya, tanpa sadar aku telah menyerahkan seluruh hidupku kepadanya. Hingga dia menjualkupun aku terima, aku tak mengerti mengapa waktu itu aku seperti itu. Hingga aku tersadar atas perbuatanku kala aku mengandung Hana. Entah siapa ayah dari Hana, karena memang sudah tak terhitung lagi laki-laki yang tidur denganku.
“Mengapa lama sekali?”
“Sudah kubilang kan aku sedang menidurkan Hana.”
“Harusnya dulu kau buang saja bayi itu, kenapa juga kau dulu tidak mau untuk menggugurkannya?”
Aku hanya diam lalu meletakkan Hana pada tempat tidurnya. Ini memang kebiasaannya, datang menjelang pagi, dalam keadaan mabuk, lalu marah-marah tidak jelas padaku atau bayiku ini. Tapi aku tak mengerti juga dengannya, beberapa kali dia bilang aku ini bukan lagi wanita yang dia inginkan, namun masih saja dia pulang ke rumah kecilku ini.
“Ros, beri aku minum, jangan hanya diam saja disana!” bentaknya kepadaku.
“Bukankah kau itu habis minum, aku sudah kehabisan minuman.” Jawabku.
“Jangan membohongiku, wanita jalang!”
“Bukankah kau sendiri yang kemarin menghabiskan sisa dua botol minumanku, aku sedang sepi, aku sedang tak ada pelanggan, aku belum sanggup membeli minuman lagi.” kataku menjelaskan.
“Makanya, buang saja orok tak bergunamu itu, dia itu memang pembawa sial buatmu”
“Teruskan saja ocehanmu tentang Hana, harusnya kau juga mengerti, salah satu calon ayahnya itu juga kau, kau harusnya juga ikut mengurusnya, bukan menghinanya.”
“Maka dari itu, dia hanya penghalang buatku dan kamu, apa aku bunuh saja bayimu itu sekarang.”
“Apa-apaan kau! Sudahlah kau itu diam dan tidurlah, masih banyak yang harus ku kerjakan besok.”
Pertengkaran ini memang selalu terjadi setiap malam, aku bahkan tak mengerti lagi, apa yang harus aku lakukan kepada laki-laki di depanku ini. Ingin rasanya aku tikam dia dengan pisau, agar dia tak ada lagi dalam kehidupanku.
***
Seperti biasa, pagi hari aku harus segera bergegas menuju tempat kerjaku yang lain. aku bekerja di toko Roti seberang jalan, disana aku sebagai pelayan saja.
Seperti pagi yang sudah-sudah, para lelaki memandangku dengan tatapan nakalnya. Mungkin karena banyak diantara mereka mengetahui pekerjaan malamku. Tapi entah mengapa ada satu laki-laki yang selalu bersikap sopan denganku, walau aku tau dia sudah mengetahui profesiku sebagai wanita malam. Dia tak sekalipun pernah menggodaku dalam setiap pertemuan kami. Bahkan dia selalu menghormati dan seakan memperhatikanku layaknya seorang kekasih. Hal itulah yang membuatku cukup dekat dengannya, dia bernama Hasyim, seorang penjaga kasir yang tugasnya hanya bersebelahan denganku. Tak jarang aku selalu berbagi cerita dengan Hasyim, dari sanalah aku mengetahui bahwa dia baru saja bercerai karena istrinya tak betah untuk hidup dalam kesusahan. Karena gaji Hasyim dan aku memang tidaklah besar, itu pula yang membuatku belum bisa meninggalkan dunia malamku. Dia sendiri tahu banyak tentang diriku dan hubunganku dengan Guntur dan segala permasalahn yang membelitku.
“Datang telat, Mbak?” sapa Hasyim kepadaku.
“Iya ni, semalam padahal sepi, tapi Hana nangis terus, jadi aku harus mengurusinya semalam.”
“Nampaknya Mbak memang harus segera mencari orang yang bisa mengurus Hana ya, jadi tidak selalu dititipkan ketetangga terus.”
Aku hanya diam mendengar perkataan Hasyim ini, bagiku memang itu ada benarnya, namun aku sendiri masih takut untuk menikah. Siapa yang mau menerima wanita seperti aku, yang setiap malam menjadi barang pemuas nafsu seorang lelaki.
Waktu berjalan cukup cepat, waktu pulangpun tiba. Aku hendak berjalan menuju tempat aku biasa menunggu angkot. Namun Hasyim mencegahku.
“Mbak, boleh main kerumah mbak? Aku ingin melihat Hana, sudah lama aku tak menggendongnya.”
Kata Hasyim ini membuatku terdiam dan kaget, tak biasanya dia bilang seperti ini. Biasanya juga dia bertemu Hana hanya saat aku membawanya ke toko, karena tetanggaku tidak bisa mengurusi anakku itu.
“Lo Mbak, kok malah diam, boleh atau tidak ini?” kata Hasyim yang menyadarkan aku dari lamunan.
“Oh ya, maaf, boleh Syim boleh, aku malah sangat senang jika kamu mau mampir.”
Entah darimana aku menemukan kata-kata itu, aku seperti linglung, aku terkaget dan kagum pada laki-laki ini. Dia sopan dan tidak sedikitpun merasa jijik dengan pekerjaanku.
Kami akhirnya berangkat menuju rumahku, yang kurang lebih lima belas menit dari tempat kami bekerja.
“Rumah kau enak juga ya, sepi dan nyaman.”
“Ah, ini mungkin tak semewah rumahmu.”
“Tidak, rumahmu lebih nyaman dari rumahku.”
“Sudahlah, ayo masuk, kau tunggu didalam, aku akan menjemput Hana sebentar.”
Aku lalu bergegas menuju tempat Hana aku titipkan. Saat aku kembali, aku cukup kaget mendengar percekcokan yang ramai dirumahku. Aku berlari dan dugaanku benar, Guntur pulang.
“Siapa dia Ros, pelanggan baru, atau pacar baru, kurang cukup kamu denganku.”
“Guntur, apa-apaan kamu, dia itu sahabatku ditoko.”
“Alah, jangan membantah deh, aku tau dia itu pasti selingkuhanmu bukan, makan itu laki-laki, aku udah gak butuh kamu lagi!” bentak Guntur kepadaku yang diikuti tangisan Hana dan tanpa sadar juga tangisanku.
Guntur lalu pergi entah kemana, sedang Hasyim hanya diam yang lalu memelukku dengan kesabaranya. Hatiku entah mengapa merasa dekat dan nyaman sekali dalam pelukannya. Aku seakan kembali pada kehidupan damaiku dulu, aku seakan menemukan lagi kebahagiaanku lagi.
“Maaf ya mbak Ros, aku membuat kacau semuanya.” Kata Hasyim lembut.
“Tidak apa-apa Syim, dia memang seperti itu, harusnya juga dia tidak ada dalam kehidupanku.” Kataku menjelaskan.
Kami lalu duduk lagi dan suasana sepertinya sudah mulai tenang lagi, Hasyim sibuk bermain dengan Hana, sementara aku hanya memandang mereka.
Tak terasa sudah hampir tengah malam, Hana sudah tertidur pulas. Tinggal aku dan Hasyim saja yang duduk berdua saja.
“Mbak, apa Mbak benar-benar tidak mau berpikir untuk menikah?” tanya Hasyim lembut.
“Aku tidak tahu, aku seakan belum siap dengan.”
“Apa yang membuat mbak merasa belum siap, Mbak itu dewasa iya, Mbak juga butuh perlindungan.”
“Aku itu takut Syim dengan duniaku sekarang, kau tau kan aku ini hanya wanita jalang dan liar, apa ada seorang lelaki yang mau menikahi seorang pelacur sepertiku.”
“Ada mbak, aku mau menikahi mbak, aku itu mencintaimu Mbak.”
Aku kaget dengan ucapan Hasyim tersebut, aku tak pernah menyangka dia akan berani mengatakan hal tersebut kepadaku. Aku terdiam dan berpikir, apa yang harus aku katakan padanya, jujur aku juga mencintainya, namun aku juga tak bisa mnegorbankan dirinya dalam kehidupanku. Aku sudah terlalu dalam menuju kegelapan, rasanya tak pantas jika aku harus menikah dengan laki-laki yang sangat baik ini.
“Kenapa kau hanya terdiam, Mbak.” tanya Hasyim yang mengagetkan aku dari lamunan.
“Apa kau yakin dengan ucapanmu itu Syim, aku tidak mau melibatkanmu dalam kehidupan gelap ini, kau sudah terlalu banyak membantu, kau tak pantas untuk ikut dalam kehidupan gelapku.”
Dia hanya diam, lalu dengan pandangan mata yang membuat jantungku berdetak, dia hanya berkata satu kalimat.
“Cium aku.” Hanya itu yang dia katakan.
Aku gugup dan tak bisa bergerak, tanpa sadar bibir kami telah berpagut mesra. Aku merasakan kehangatan yang berbeda dari biasanya. Cara dia mencium juga berbeda dengan laki-laki lain yang biasa tidur denganku, Hasyim lebih kepada ciuman kasih sayang. Aku benar-benar mabuk asmara sekarang, keraguanku seperti hilang, aku benar-benar mencintainya sekarang.
Hasyim secara perlahan melepaskan pelukan dan menghentikan ciuman. Dia hanya tersenyum, aku tak tahu apa maksudnya, namun aku merasa gugup dan malu.
“Mengapa kau tersenyum seperti itu, kau membuatku malu.” kataku sambil tersipu.
“Caramu menciumku, pertanda kau juga mencintaiku, jangan bohongi perasaanmu, ayo kita bangun keluarga bersama, kita tinggalkan kota ini, kita tinggalkan masa lalu, kita tatap masa depan kita.”
“Aku memang mencintaimu, tapi aku masih takut dengan duniaku, kau akan sulit pergi jika kau sudah bergabung disini, kita tidak akan semudah itu pergi meninggalkan kota, semua orang terlanjur mengenalku sebagai langganan mereka setiap malam.”
“Percayalah padaku, aku pasti bawa kamu pergi dari sini, aku akan melindungimu, aku berjanji dengan itu, percayalah.”
Aku sekali lagi tak mampu berkata, dia benar-benar seperti malaikat keduaku sekarang. Denganpelan dia kembali memelukku, dia mulai mencoba kembali menciumku, namun aku tahan. Aku masih meragu dengan keputusanku.
“Mbak Ros, apa Mbak masih ragu denganku, apa tatapan mata serta kata-kataku ini belum membuat Mbak yakin?”
“Aku masih bingung dengan pilihan ini sekarang, aku juga masih berpikir tentang masa depan, harusnya kau tak merusak masa depanmu itu dengan menikahiku, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih muda, lebih bisa memperhatikanmu, lebih pantas untuk mendampingimu.”
“Tapi aku mencintaimu Mbak, aku tidak butuh wanita lain.” Hasyim mencoba meyakinkan aku.
Aku memang terlalu sulit untuk menerimanya, dia terlalu sempurna untukku. Namun aku juga tak bisa menampik bahwa dalam hati nuraniku aku ingin menikah dengannya.
“Apa kamu mau berjanji padaku, untuk terus menjaga Hana, jika iya aku akan menikah denganmu.”
“Aku janji Mbak, aku sangat berjanji untuk melindungi Mbak dan Hana, aku akan anggap Hana itu anak kandungku, aku berjanji dengan itu.” jawabnya tegas.
Malam ini seperti menjadi milikku dan Hasyim, kami memadu kasih berdua hingga pagi menjelang.
***
Kami sepakat untuk meninggalkan kota seminggu lagi, selama itu aku dan Hasyim akan melakukan aktivitas seperti biasa lalu malamnya kita mempersiapkan semua hal yang harus disiapkan untuk meninggalkan kota.
Malam ini adalah malam terkhir kami di kota ini, semua sudah sangat rapi. Kami sudah akan bergegas dalam pelarian kami. Aku menggunakan jaket dan tudung yang besar serta Hana kami naikkan diatas kereta bayi, Hasyim dengan pakaian rapi bak orang kantoran. Baru saja kami membuka pintu.
Brak! Pintu didorong oleh seseorang, hasyim tersungkur. Guntur datang tepat waktu pikirku, dan nampaknya lengkap sekali dia dalam mengganggu hidupku.
“Mau kemana kalian?” tanya Guntur.
“Kami hanya mau liburan sebentar keluar kota.”jelasku padanya.
“Jangan berbohong kamu, mengapa liburan pakaian kalian seakan mau kabur seperti itu?”
“Sudahlah, kau tak berhak mengatur hidupnya lagi, aku yang berhak mengatur hidup Rosa!” bentak Hasyim pada Guntur.
Mendengar teguran itu, Guntur naik pitam. Dia lalu memukul Hasyim dengan keras.
“Aku yang menemukan wanita ini, jadi aku yang berhak mengatur hidupnya!”
bantah Guntur.
“Tapi kamu itu sekarang sama sekali tidak berhak untuk mengaturnya, kau hanya menjadi penghalang kebahagiaan bagi Rosa!” bentak Hasyim.
Keduanya terlibat perkelahian, aku dan Hana hanya bisa bersembunyi di kamar. Aku kembali pada penyesalanku, harusnya aku tidak membiarkan perasaan ini meluas. Hingga aku tidak membuat perkelahian ini terjadi. Aku menagis dan terus menangis, aku hanya bisa memandang wajah lugu bayi mungilku ini. Sedang diluar kami terus mendengar cacian dan makian serta suara pukulan.
Dor! Dor! Dor!
Ada suara tembakan, aku kaget dan aku beranjak, berlari menuju ruang dimana mereka berkelahi.
Aku terkaget kala aku melihat Hasyim bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya, sedangkan Guntur terlihat bergemetaran sambil memegang sebuah pistol. Aku tak bisa berkata apa-apa kini, aku hanya bisa menghampiri Hasyim yang tergeletak, aku menangis tanpa arah. Aku berteriak, dan aku lihat Guntur melemparkan pistolnya ketempatku. Dia lalu berlari meninggalkan kami.
Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat, orang yang harusnya menjadi malaikat hidupku yang sebenarnya, harus direnggut nyawanya oleh malaikat yang satunya. Apa lagi ini, apa aku memang ditakdirkan untuk hidup dalam dunia malamku. Aku mencoba kuat, namun pandanganku menuju pistol didepanku, aku seperti tidak mempunyai lagi masa depan. Satu-satunya masa depanku telah terenggut didepanku ini, aku ingin mati saja.
Aku ambil pistolnya, tanganku bergetar aku seakan tak sanggup untuk melakukannya. Aku tak bisa melakukanya. Aku kembali menangis, hingga aku tidak tau dari mana mereka berasal. Semua sudah didepanku dan memakiku.
“Dasar kau pelacur, pembunuh juga, seret dia, bakar rumahnya!” Terdengar suara gaduh yang aku sendiri tidak mengerti, ada apa lagi ini.
Tiba-tiba seorang lelaki menyeretku, dan kurasakan sebuah hantaman pada wajahku. Aku diseret oleh banyak orang, ditikam, ditendang bahkan ada yang mencoba memukulku dengan benda keras. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa, aku hanya bisa meronta, menangis dan berteriak. Aku tidak tau mengapa harus begini pada akhirnya.
“Sudah, seret dia, gelandang dia, biar semua tau bahwa dia itu seorang pembunuh!” suara seorang yang ikut menyeretku.
“Aku bukan pembunuh, lepaskan!” aku mencoba melawan.
“Kau tak bisa menyangkal, kami telah melihatnya, kau yang membawa pistol itu, jadi kau pembunuh!” makian seorang yang menyeretku.
Kembali mereka menyeretku dengan berteriak “Kami membawa wanita lajang yang juga pembunuh” Terus dan terus mereka berteriak seperti itu sambil menyeretku. Aku tidak bisa apa-apa aku kini semakin tidak berdaya, mungkin ini sudah menjadi jalanku. Aku terus menangis dengan iringan cacian, makian dan pukulan dari mereka. Aku diseret hingga keluar dari rumah kecilku, suara tangis Hana membuatku semakin remuk, aku tidak tau mengapa harus seperti ini. Apa tidak ada keadilan didunia ini, mengapa hidupku tidak pernah merasakan keadilan.
“Bakar rumahnya, cepat bersihkan semuanya!” teriakan yang menyadarkan aku dari lamunanku.
“Tidak jangan! Di sana ada anakku, jangan!” teriakku pada mereka.
“Itu anak haram, biarkan saja, cepat bakar!”
Aku tidak tau harus bagaimana, aku meronta mencoba untuk berlari memeluk Hana, mataku mulai sayu kala melihat api itu mulai memakan sedikit demi sedikit bangunan rumahku. Gadis kecilku itu hanya menangis, dan perih rasanya melihat ini. Mereka kembali menyeretku, menjauh dan menjauh, suara tangis Hana semakin hilang dan hilang tertelan kobaran api yang semakin membesar. Aku diam, untuk menikmati siksaan ini, mungkin aku lebih baik mati, menyusul para malaikat yang telah lebih dulu, meninggalkan aku.

TAMAT


No comments:

Post a Comment