Friday, 13 November 2015

Cerpen " Manusia Pencabut Nyawa" Karya : Anjani


ANJANI
Manusia Pencabut Nyawa

Rumah-rumah kardus itu berjajar di sepanjang jalan setapak yang jauh dari keramaian kota Jakarta. Pemandangan kumuh di pemukiman itu terlihat dengan jelas. Banyak orang menghina dan menyebutnya pemukiman kumuh. Hampir setiap tahun kami semua mendapat ancaman bahwa pemukiman kami akan digusur. Andai kami bisa memilih, kami akan memilih tinggal di kawasan konglomerat, apartemen mewah bahkan di Istana Negara. Manusia memang memiliki nasib yang berbeda, ada yang beruntung dan ada juga yang kurang beruntung seperti kami.
Sering kali kami dikejar dan dipukuli oleh Satpol PP yang mengatasnamakan dirinya petugas ketertiban kota. Mereka berusaha membinasakan sampah-sampah kota seperti kami. Apa salahnya menjadi preman, gelandangan ataupun  pengemis toh kami juga tidak merugikan negara.
Aku termasuk warga perkampungan kumuh tersebut. Orang sering memanggilku Bejo, orang tuaku memberi nama Bejo agar aku selalu beruntung dari ancaman Satpol PP. Harapan orang tuaku benar, sampai sekarang aku belum pernah tertangkap oleh Satpol PP karena kegesitanku meloloskan diri. Aku merasa bahwa pekerjaanku ini tidak hina dan aku mencari nafkah dengan cara halal. Aku tidak menjadi pengemis, pengamen, pemulung, gelandangan bahkan preman, tapi aku menjadi pedagang asongan. Aku juga tidak mencuri dan tidak merugikan orang lain tapi pedagang asongan juga tak luput dari razia Satpol PP.
Hari ini terik matahari seakan membakar tubuh, tapi aku tetap menjajakan daganganku di dalam bis-bis di kota Jakarta. Nasib baik tidak datang padaku hari ini, semua daganganku tidak ada yang membeli. Aku berusaha tenang dan berpikir bahwa rezeki itu Allah SWT yang menentukan, mungkin aku tidak beruntung hari ini tapi aku yakin besok akan lebih baik dari hari ini.
Sampai malam menjelang daganganku belum juga ada yang laku terjual. Kini aku putus asa dan menyandarkan tubuhku yang lelah di pohon beringin. Tiba-tiba pandanganku terarah menatap laki-laki yang berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Aku merasa penasaran ketika orang ituberjalan semakin dekat ke arahku. Awalnya akumengira orang itu mabuk tapi ternyata orang itu sedang mendapat masalah. Aku mencoba mendekat dan bertanya kepadanya.
“ Selamat malam Pak, saya Bejo, apakah bapak butuh bantuan?” kataku.
“ Aku lapar karena sejak pagi belum makan apapun, begitu pula anak dan istriku di rumah.” kata orang itu.
“Sebelumnya nama bapak siapa, darimana dan bekerja apa?”
“Aku Andi rumahku Jakarta juga, aku sudah berpuluh tahun menjadi petugas Satpol PP, sebenarnya gajiku besar karena aku termasuk golongan atas tapi utangku yang banyak pada bank menyebabkan gajiku habis tak tersisa sama sekali.”
“ Lalu mengapa bapak menyerah begitu saja, apakah tidak ada jalan keluar lagi sehingga bapak menjadi seperti ini?”
“ Sekarang aku tidak memiliki apa-apa, rumah dan tanah sudah kujual,aku meminjam uang kepada rentenir untuk menutup utangku pada bank dan menggali utang lagipada rentenir sehingga kini utangku menumpuk.”
“ Sabar Pak, tentu Allah akan membantu hambanya yang dilanda musibah, rezeki sudah ada yang menentukan, tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah kita bisa bersabar atau tidak dalam menghadapinyakarena cobaan adalah cara Allah SWT untuk mengukur kesabaran hambaNya.”
“Aku ini kurang sabar apa sih Pak Bejo, berpuluh tahun terlilit utang dan dikejar rentenir sehingga aku kehilangan semua harta yang kumiliki dan sekarang ditagih pemilik kontrakan, lalu aku harus bagaimana lagi?”
“ Aku juga Pak Andi, selalu bersabar menjadi pedagang asongan yang penghasilannya tidak menentu dan sering  pula dikejar Satpol PP.”
“ Ah.. Pak Bejo bisa saja, aku merasa hina di depan anak istriku karena belum bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk mereka, setiap hari aku memaksa mereka untuk berpuasa karena keadaan perekonomian yang jauh dari kata cukup, kini aku sudah tidak tahan lagi menahan beban.”
“ Pak, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, bersabar dan tawakal kepada Allah SWT akan membantu kita dalam menyelesaikan suatu masalah.”
“Lebih baik aku bunuh diri saja, aku sudah tidak kuat menghadapi semua cobaan ini”
“Astagfirullah hal adzim, bapak ini kalau ngomong dijaga, Allah memandang nista orang yang mati dengan jalan bunuh diri.”
“Ya Pak, aku akan berusaha bersabar dan terimakasih atas nasihat bapak yang membuat saya bangkit untuk menghadapi masalah ini.”
“Bapak lapar, ini ambil saja dagangan saya, walau tidak enak tapi lumayan masih bisa mengganjal perut, ada gorengan, roti dan minuman.”
“Terimakasih, terimakasih banyak akhirnya anak istriku bisa makan, dengan apa aku akan membalas jasa bapak?”
“ Bapak jangan bersikap seperti ini, malu dilihat orang, saya senang bisa berteman dengan bapak, saya ikhlas dan tidak menuntut apa-apa dari bapak.”
“ Terimakasih Pak Bejo, saya pamit pulang agar istri dan anak saya bisa cepat makan.”
“Sama-sama Pak Andi, hati-hati di jalan.”
Malam ini aku merasa bahagia bisa membantu orang dan berteman dengan seorang Satpol PP. Aku berharap bisa bertemu  dengan Pak Andi lagi dan berbincang banyak dengannya. Daganganku sudah habis untuk beramal kepada orang yang lebih membutuhkan. Anak istriku tidak bertanya banyak tentang penghasilanku hari ini, asal mereka bisa makan sudah bersyukur. Aku merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia karena aku memiliki anak dan istri yang neriman.
Setiap kali lelah sehabis pulang berjualan, senyum isteri dan anakkulah yang menjadi obatnya. Sambutan yang hangat selalu kuterima walau aku pulang tanpa membawa uang. Kami memang tak pernah mempermasalahkan perekonomian kami yang pas-pasan. Asalkan bisa makan dan tetap hidup bersama, itu sudah cukup bagi kami. Tuhan pasti memiliki rencana terbaik bagi kami. Mungkin nanti anakku yang akan hidup bahagia bergelimang harta, dan aku akan menghabiskan sisa hidup ditemani tawa riang cucu-cucuku. Namun, mungkin semua itu hanyalah mimpi seorang pedagang asongan.
Pagi telah datang, aku bergegas mengambil peralatanku lalu menuju ke tempat penjual gorengan dan toko sembako untuk berbelanja barang dagangan. Aku berharap daganganku hari ini laku terjual semua. Aku mendapat rezeki di bis pertama yang aku naiki. bis kedua coba aku naiki tapi tiba-tiba semua pedagang asongan, pengemis, gelandangan,  pengamen, bahkan preman berhamburan menyelamatkan diri. Aku sudah mengira bahwa Satpol PP akan merazia orang-orang jalanan.
Aku mencoba berlari tapi semua sia-sia karena aku terjatuh saat turun dari bis. Aku ditangkap dan dihakimi oleh para petugas Satpol PP. Pukulan, tendangan maupun injakan kuterima secara bertubi-tubi. Mereka semua menghakimiku layaknya pencuri yang tertangkap basah.Namun apa salahnya aku mencari nafkah secara halal.
Rasa sakit di badan ini menusuk hingga ke dalam tulangku. Darah mengucur dari tubuhku yang lemah. Mereka menghajarku tanpa henti bahkan mereka belum puas melihatku sekarat. Pandanganku kini buram karena mataku sudah buta.Namun aku dapat melihat dengan jelas diantara para petugas Satpol PP itu ada orang yang tak asing bagiku. Orang itu juga memukulku tanpa rasa belas kasihan seakan orang itu lupa apa yang terjadi semalam.
Kini aku terkapar berlumur darah disekujur tubuhku. Tanah tempatku berbaring ini berubah menjadi merah karena bercampur darah segar dari tubuhku. Aku menangis bukan karena sakit yang menjalar di seluruh tubuhku tapi aku takut mati meninggalkan istri dan anakku. Masih banyak yang harus kulakukan untuk keluargaku terutama melihat anak-anakku sukses. Badanku tidak dapat bergerak lagi hanya sekali mulutku merintih sakit menunggu ajal yang akan menyudahi penderitaanku.
Aku sudah tidak bisa melihat bahkan kini tubuhku sudah mati rasa.Namun  aku dapat mendengar jelas suara langkah sepatu yang berjalan ke arahku. Suara itu berbisik kepadaku dengan hembusan napasnya yang hangat. Bisikkannya mengatakan telah menyesal melakukan ini kepadaku.
“ Maaf Pak Bejo, ini sudah menjadi tugasku.”
Suara itu terdengar lirih dan berlalu begitu saja. Aku merasa pernah mendengar suara itu dan mengingatkanku pada seseorang yang pernah kukenal.Aku tak peduli siapa yang berbisik padaku karena penyesalannya tak akan bisa mengembalikan diriku seperti semula. Bahkan penyesalan itu juga berarti kalau dia bangga karena telah menang menyingkirkan sampah perkotaan sepertiku.
Kini yang aku pikirkan hanya nasib keluargaku dan masa depan anak-anakku kelak. Mau jadi apa mereka jika hari ini aku mati dan bagaimana kehidupan mereka nanti. Aku belum memberi penghasilanku hari ini kepada istriku, anakku juga belum membayarsekolah bahkan mereka juga belum makan. Lalu senyuman hangat mereka ketika aku pulang tak kan ada lagi. Aku tidak sanggup melihat tangisan mereka untukku.
Mungkin besok aku tidak akan menjajakan daganganku lagi. Bahkan aku tidak akan lagi berada di dunia yang kejam ini. Bila aku sudah berada di alam yang kekal, aku akan bertanya pada malaikat, mengapa membiarkan manusia
mengambil nyawaku
.

No comments:

Post a Comment