ANJANI
Manusia Pencabut Nyawa
Rumah-rumah
kardus itu berjajar di sepanjang jalan setapak yang jauh dari keramaian kota
Jakarta. Pemandangan kumuh di pemukiman itu terlihat dengan jelas. Banyak orang
menghina dan menyebutnya pemukiman kumuh. Hampir setiap tahun kami semua
mendapat ancaman bahwa pemukiman kami akan digusur. Andai kami bisa memilih,
kami akan memilih tinggal di kawasan konglomerat, apartemen mewah bahkan di
Istana Negara. Manusia memang memiliki nasib yang berbeda, ada yang beruntung
dan ada juga yang kurang beruntung seperti kami.
Sering
kali kami dikejar dan dipukuli oleh Satpol PP yang mengatasnamakan dirinya
petugas ketertiban kota. Mereka berusaha membinasakan sampah-sampah kota
seperti kami. Apa salahnya menjadi preman, gelandangan ataupun pengemis toh kami juga tidak merugikan
negara.
Aku
termasuk warga perkampungan kumuh tersebut. Orang sering memanggilku Bejo,
orang tuaku memberi nama Bejo agar aku selalu beruntung dari ancaman Satpol PP.
Harapan orang tuaku benar, sampai sekarang aku belum pernah tertangkap oleh
Satpol PP karena kegesitanku meloloskan diri. Aku merasa bahwa pekerjaanku ini
tidak hina dan aku mencari nafkah dengan cara halal. Aku tidak menjadi
pengemis, pengamen, pemulung, gelandangan bahkan preman, tapi aku menjadi
pedagang asongan. Aku juga tidak mencuri dan tidak merugikan orang lain tapi
pedagang asongan juga tak luput dari razia Satpol PP.
Hari
ini terik matahari seakan membakar tubuh, tapi aku tetap menjajakan daganganku
di dalam bis-bis di kota Jakarta. Nasib baik tidak datang padaku hari ini,
semua daganganku tidak ada yang membeli. Aku berusaha tenang dan berpikir bahwa
rezeki itu Allah SWT yang menentukan, mungkin aku tidak beruntung hari ini tapi
aku yakin besok akan lebih baik dari hari ini.
Sampai
malam menjelang daganganku belum juga ada yang laku terjual. Kini aku putus asa
dan menyandarkan tubuhku yang lelah di pohon beringin. Tiba-tiba pandanganku
terarah menatap laki-laki yang berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Aku
merasa penasaran ketika orang ituberjalan semakin dekat ke arahku. Awalnya
akumengira orang itu mabuk tapi ternyata orang itu sedang mendapat masalah. Aku
mencoba mendekat dan bertanya kepadanya.
“
Selamat malam Pak, saya Bejo, apakah bapak butuh bantuan?” kataku.
“
Aku lapar karena sejak pagi belum makan apapun, begitu pula anak dan istriku di
rumah.” kata orang itu.
“Sebelumnya
nama bapak siapa, darimana dan bekerja apa?”
“Aku
Andi rumahku Jakarta juga, aku sudah berpuluh tahun menjadi petugas Satpol PP,
sebenarnya gajiku besar karena aku termasuk golongan atas tapi utangku yang
banyak pada bank menyebabkan gajiku habis tak tersisa sama sekali.”
“
Lalu mengapa bapak menyerah begitu saja, apakah tidak ada jalan keluar lagi
sehingga bapak menjadi seperti ini?”
“
Sekarang aku tidak memiliki apa-apa, rumah dan tanah sudah kujual,aku meminjam
uang kepada rentenir untuk menutup utangku pada bank dan menggali utang
lagipada rentenir sehingga kini utangku menumpuk.”
“
Sabar Pak, tentu Allah akan membantu hambanya yang dilanda musibah, rezeki
sudah ada yang menentukan, tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah kita
bisa bersabar atau tidak dalam menghadapinyakarena cobaan adalah cara Allah SWT
untuk mengukur kesabaran hambaNya.”
“Aku
ini kurang sabar apa sih Pak Bejo, berpuluh tahun terlilit utang dan dikejar
rentenir sehingga aku kehilangan semua harta yang kumiliki dan sekarang ditagih
pemilik kontrakan, lalu aku harus bagaimana lagi?”
“
Aku juga Pak Andi, selalu bersabar menjadi pedagang asongan yang penghasilannya
tidak menentu dan sering pula dikejar
Satpol PP.”
“
Ah.. Pak Bejo bisa saja, aku merasa hina di depan anak istriku karena belum
bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk mereka, setiap hari aku memaksa
mereka untuk berpuasa karena keadaan perekonomian yang jauh dari kata cukup,
kini aku sudah tidak tahan lagi menahan beban.”
“
Pak, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, bersabar dan tawakal kepada Allah
SWT akan membantu kita dalam menyelesaikan suatu masalah.”
“Lebih
baik aku bunuh diri saja, aku sudah tidak kuat menghadapi semua cobaan ini”
“Astagfirullah
hal adzim, bapak ini kalau ngomong dijaga, Allah memandang nista orang yang
mati dengan jalan bunuh diri.”
“Ya
Pak, aku akan berusaha bersabar dan terimakasih atas nasihat bapak yang membuat
saya bangkit untuk menghadapi masalah ini.”
“Bapak
lapar, ini ambil saja dagangan saya, walau tidak enak tapi lumayan masih bisa
mengganjal perut, ada gorengan, roti dan minuman.”
“Terimakasih,
terimakasih banyak akhirnya anak istriku bisa makan, dengan apa aku akan
membalas jasa bapak?”
“
Bapak jangan bersikap seperti ini, malu dilihat orang, saya senang bisa
berteman dengan bapak, saya ikhlas dan tidak menuntut apa-apa dari bapak.”
“
Terimakasih Pak Bejo, saya pamit pulang agar istri dan anak saya bisa cepat
makan.”
“Sama-sama
Pak Andi, hati-hati di jalan.”
Malam
ini aku merasa bahagia bisa membantu orang dan berteman dengan seorang Satpol
PP. Aku berharap bisa bertemu dengan Pak
Andi lagi dan berbincang banyak dengannya. Daganganku sudah habis untuk beramal
kepada orang yang lebih membutuhkan. Anak istriku tidak bertanya banyak tentang
penghasilanku hari ini, asal mereka bisa makan sudah bersyukur. Aku merasa
menjadi manusia paling beruntung di dunia karena aku memiliki anak dan istri
yang neriman.
Setiap
kali lelah sehabis pulang berjualan, senyum isteri dan anakkulah yang menjadi
obatnya. Sambutan yang hangat selalu kuterima walau aku pulang tanpa membawa
uang. Kami memang tak pernah mempermasalahkan perekonomian kami yang pas-pasan.
Asalkan bisa makan dan tetap hidup bersama, itu sudah cukup bagi kami. Tuhan
pasti memiliki rencana terbaik bagi kami. Mungkin nanti anakku yang akan hidup
bahagia bergelimang harta, dan aku akan menghabiskan sisa hidup ditemani tawa
riang cucu-cucuku. Namun, mungkin semua itu hanyalah mimpi seorang pedagang
asongan.
Pagi
telah datang, aku bergegas mengambil peralatanku lalu menuju ke tempat penjual
gorengan dan toko sembako untuk berbelanja barang dagangan. Aku berharap
daganganku hari ini laku terjual semua. Aku mendapat rezeki di bis pertama yang
aku naiki. bis kedua coba aku naiki tapi tiba-tiba semua pedagang asongan,
pengemis, gelandangan, pengamen, bahkan
preman berhamburan menyelamatkan diri. Aku sudah mengira bahwa Satpol PP akan
merazia orang-orang jalanan.
Aku
mencoba berlari tapi semua sia-sia karena aku terjatuh saat turun dari bis. Aku
ditangkap dan dihakimi oleh para petugas Satpol PP. Pukulan, tendangan maupun
injakan kuterima secara bertubi-tubi. Mereka semua menghakimiku layaknya
pencuri yang tertangkap basah.Namun apa salahnya aku mencari nafkah secara
halal.
Rasa
sakit di badan ini menusuk hingga ke dalam tulangku. Darah mengucur dari
tubuhku yang lemah. Mereka menghajarku tanpa henti bahkan mereka belum puas
melihatku sekarat. Pandanganku kini buram karena mataku sudah buta.Namun aku
dapat melihat dengan jelas diantara para petugas Satpol PP itu ada orang yang
tak asing bagiku. Orang itu juga memukulku tanpa rasa belas kasihan seakan
orang itu lupa apa yang terjadi semalam.
Kini
aku terkapar berlumur darah disekujur tubuhku. Tanah tempatku berbaring ini
berubah menjadi merah karena bercampur darah segar dari tubuhku. Aku menangis
bukan karena sakit yang menjalar di seluruh tubuhku tapi aku takut mati
meninggalkan istri dan anakku. Masih banyak yang harus kulakukan untuk
keluargaku terutama melihat anak-anakku sukses. Badanku tidak dapat bergerak
lagi hanya sekali mulutku merintih sakit menunggu ajal yang akan menyudahi
penderitaanku.
Aku
sudah tidak bisa melihat bahkan kini tubuhku sudah mati rasa.Namun aku dapat mendengar jelas suara langkah
sepatu yang berjalan ke arahku. Suara itu berbisik kepadaku dengan hembusan
napasnya yang hangat. Bisikkannya mengatakan telah menyesal melakukan ini
kepadaku.
“
Maaf Pak Bejo, ini sudah menjadi tugasku.”
Suara
itu terdengar lirih dan berlalu begitu saja. Aku merasa pernah mendengar suara
itu dan mengingatkanku pada seseorang yang pernah kukenal.Aku tak peduli siapa
yang berbisik padaku karena penyesalannya tak akan bisa mengembalikan diriku
seperti semula. Bahkan penyesalan itu juga berarti kalau dia bangga karena
telah menang menyingkirkan sampah perkotaan sepertiku.
Kini
yang aku pikirkan hanya nasib keluargaku dan masa depan anak-anakku kelak. Mau
jadi apa mereka jika hari ini aku mati dan bagaimana kehidupan mereka nanti.
Aku belum memberi penghasilanku hari ini kepada istriku, anakku juga belum
membayarsekolah bahkan mereka juga belum makan. Lalu senyuman hangat mereka
ketika aku pulang tak kan ada lagi. Aku tidak sanggup melihat tangisan mereka
untukku.
Mungkin
besok aku tidak akan menjajakan daganganku lagi. Bahkan aku tidak akan lagi
berada di dunia yang kejam ini. Bila aku sudah berada di alam yang kekal, aku
akan bertanya pada malaikat, mengapa membiarkan manusia
mengambil nyawaku
.
No comments:
Post a Comment