SEGALA UNTUKNYA
Karya : Muhammad Jefri Pradewa
Hari
yang cerah mengiringi Minggu yang indah dalam kelarga Joni. Bersama dengan
isteri dan anaknya yang masih berusia 5 tahun, ia menikmati sarapan dengan
penuh rasa kebersamaan. Joni sibuk bermain dengan putranya, Agus. Sedangkan
isterinya, Lara sibuk menyiapkan makanan penutup untuk suami dan putranya.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya
sebagai ibu rumah tangga untuk mencuci pakaian. Pada saat memilah pakaian yang
akan dicucinya, Lara tanpa sengaja mengetahui kalau jaket yang ia kenakan di
malam hari ia bekerja terdapat bercak darah. Dengan segera ia kemudian
membersihkan bercak darah tersebut. Joni yang mengetahui isterinya yang
terlihat sibut membersihkan jaketnya langsung menghampiri Lara.
“Lho..
Itu jaketmu kenapa, Lara?” tanya Joni.
“Ahh,
tidak apa-apa kok, Mas. Cuma terkena sedikit kotoran,” jawab Lara.
“Tidak
apa-apa bagaimana, lha nyatanya jaketmu sampai kotor begitu,” tegas Joni.
“Sudahlah,
Mas. Tidak apa-apa kok. Ini sudah saya bersihkan,” jawab Lara meyakinkan
suaminya.
“O..
Ya sudah lah. Saya cuma khawatir kalau terjadi apa-apa,” Joni menambahkan.
Setelah berbincang dengan isterinya,
Joni kemudian melanjutkan kegiatannya untuk mengajak bermain Agus. Sedangkan
Lara melanjutkan kegiatannya untuk mencuci pakaian milik keluarganya.
Disaat
Joni sedang bermain dengan Agus, terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras
dari depan rumah. Joni pun langsung bergegas beranjak untuk membukakan pintu
tersebut. Ia sangatlah terkejut ketika mengetahui tamu yang datang ke rumahnya
adalah polisi yang berjumlah 5 orang.
“Selamat
pagi, Pak. Kami dari kepolisian akan menangkap isteri Anda, Lara. Ini surat
perintah penangkapannya dan termasuk surat penggeledahannya,” kata seorang
polisi.
“Lhoo,
ada apa ini, Pak? Penangkapan atas apa?” tanya Joni dengan terkejut.
“Isteri
Anda ditangkap atas pembunuhan rekan kerjanya, Winda.” jelas polisi.
“Isteri
saya tidak mungkin membunuh orang, Pak.” Joni mengelak.
“Anda
bisa membuktikannya nanti di pengadilan, Pak.” kata polisi.
Melihat
ibunya ditangkap oleh polisi, Agus langsung menangis dan menjerit tak karuan.
Sedangkan Joni hanya bisa terdiam kebingungan atas apa yang baru saja terjadi.
Dia masih tidak percaya bahwa isterinya ditangkap atas tuduhan pembunuhan.
Namun satu yang Joni yakini adalah isterinya tidak bersalah.
Setelah isterinya ditahan, Joni dan Agus
selalu mengunjungi Lara di setiap minggunya. Selain itu, Joni juga terus
berusaha keras untuk menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa isterinya
tidak bersalah. Ia terus berdiskusi dengan pengacaranya untuk membahas langkah
hukum selanjutnya.
Dalam
beberapa hari, akhirnya Joni menemukan bukti bahwa isterinya tidak bersalah. Ia
pun menyerahkan bukti-bukti tersebut ke pengacaranya. Namun sayang,
pengacaranya mengatakan bahwa pengadilan sudah menutup pengajuan bukti baru.
Selain itu, pengacaranya juga menegaskan bahwa sidik jari yang terdapat di
senjata pembunuhan adalah sidik jari Lara dan darahnya korban ada di jaketnya
pula. Dengan kata lain, isteri Joni akan dinyatakan terbukti bersalah dalam
pengadilan dan akan divonis maksimal 20 tahun penjara. Mendengar hal itu, Joni
semakin terlihat frustasi.
Walaupun
Joni masih bingung dengan kasus yang dialami isterinya, ia tetap menjalankan
profesinya seperti biasa sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi. Ia berdiskusi
dengan mahasiswanya tentang makna kebenaran.
Setelah
menemui jalan buntu dalam jalur hukum, Joni berpikiran untuk menempuh jalan
lain agar isterinya bebas. Karena ia yakin isterinya tidak bersalah, Joni
kemudian memiliki pemikiran yang tidak rasional untuk membawa isterinya kabur
dari penjara. Untuk merencanakan pembebasan isterinya tersebut, Joni terus
mencari informasi dari segala sumber. Akhirnya dia menemukan orang yang dapat
dijadikan narasumber, dia adalah Roni. Roni pernah kabur dari penjara sekali,
sebelum akhirnya dihukum 30 tahun kurungan. Namun, kini dia menjadi seorang
penulis buku yang taat hukum.
“Langsung
saja, apa yang membuatmu datang kepadaku?” tanya Roni kepada Joni.
“Mmmm..
Begini, Pak. Bagaimana Anda bisa kabur dari penjara sementara orang lain
tidak?” tanya Joni.
“Bertaruh
dan sedikit keberuntungan. Tidak ada penjara di dunia ini yang tidak mempunyai
pintu, Nak. Masing-masing memiliki kunci, dan kau harus menemukannya.” jawab
Roni.
“Bagaimana
Anda bisa melakukannya?” tanya Joni penasaran.
“Setiap
hari, penjaga akan selalu merasa nyaman saat melakukan hal yang sama di jam
kerjanya. Di setiap rutinitas mereka, pasti akan ada sedikit celah. Dan kau
harus ada disaat celah tersebut terjadi,” jelas Roni.
“Kabur
itu mudah, hal yang tersulit adalah tetap bebas. Kau harus tahu kamana kau akan
pergi dan bagaimana caranya,” Roni menambahkan.
“Terima
kasih atas informasinya, Pak. Saya yakin akan membebaskan isteri saya,” kata
Joni sambil berpamitan.
“Semoga
beruntung,” balas Roni.
Setelah
mengetahui informasi tentang bagaimana cara kabur dari penjara, Joni langsung
menyusun rencana untuk membebaskan isterinya. Dia membuat kartu identitas palsu
untuk anak, isteri dan dirinya sendiri, dengan tujuan agar memperlancar
pelarian setelah isterinya kabur.
Kartu
identitas palsu sudah dibuat, kini Joni berpikir tentang bagaimana caranya agar
isterinya dapat kabur dari penjara tanpa harus melukai siapapun.
Berminggu-minggu Joni terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas sehari-hari
yang dilakukan di penjara tersebut. Dia mengamati penjaga, tahanan, dan semua
orang yang melakukan aktivitas. Selain itu, ia juga mengamati dengan detil
tentang keadaan lingkungan penjara tersebut, baik di dalam maupun di luar. Joni
menggunakan kesempatan saat membesuk Lara untuk semakin mengetahui seluk beluk
penjara. Sehingga ia dapat mengetahui celah yang dapat dimanfaatkan untuk membebaskan isterinya.
Gerak-gerik Joni sewaktu membesuk
isterinya di penjara ternyata menimbulkan kecurigaan dari pihak LP. Oleh karena
itu, pihak LP meminta bantuan kepada kepolisian untuk mengawasi dan terus
mengikuti Joni dimana pun ia berada sebagai langkah antisipasi dari hal-hal
yang tidak diinginkan.
Lama-kelamaan,
akhirnya Joni mengetahui bahwa dirinya selama ini dirinya sedang diikuti oleh
polisi. Oleh karena itu, dalam menjalankan rencananya, ia lebih berhati-hati
dan berusaha untuk tidak bergerak-gerik mencurigakan.
Setelah
beberapa minggu mengamati segala aktivitas sehari-hari di penjara tersebut,
akhirnya Joni menemukan celah. Celah tersebut adalah adanya mobil puskesmas
yang setiap minggunya berkunjung ke LP tempat dimana isterinya ditahan. Mobil
puskesmas tersebut merupakan kiriman dari Rumah Sakit Umum Daerah yang bertugas
untuk memantau kondisi tahanan pada saat di LP. Joni kemudian menemukan ide
untuk membebaskan isterinya dengan memanfaatkan kunjungan mobil puskesmas
tersebut. Dengan penuh ketelitian, ia menghitung waktu yang digunakan petugas
puskesmas untuk masuk ke LP dan kembali ke mobil. Setelah mencatat waktu tersebut, Joni
kemudian mencari informasi tentang bagaimana cara membuka paksa pintu sebuah
mobil. Dengan informasi yang ia dapatkan dari youtube, akhirnya Joni dapat mengetahui dengan mudah bagaimana cara
membobol pintu mobil. Dengan penuh kenekatan, akhirnya Joni membobol pintu
mobil puskesmas tersebut dan mengambil data status kesehatan Lara. Data
tersebut ia ambil karena Joni akan berniat untuk mengubah data tersebut sesuai
dengan rencananya. Rencana yang akan ia laksanakan adalah dengan mengganti data
kesehatan Lara yang semula dinyatakan sehat, namun ia ubah dengan status
kesehatan yang abnormal.
Satu
minggu berikutnya, dengan berbagai macam persiapan yang dibuat Joni selama ini,
akhirnya tibalah saatnya hari untuk membebaskan isterinya. Dengan penuh
ketelitian, ia membuang seluruh bukti dari apa yang direncanakannya agar tidak
diketahui oleh polisi. Ia juga mengajak Agus dalam menjalankan aksi yang telah
ia rencanakan.
“Papa,
kita mau kemana?” tanya Agus dengan penasaran.
“Kita
akan berlibur, Nak. Ke tempat yang indah dan terbebas dari keramaian,” jawab
Joni.
“Apakah
mama akan ikut, Pa?” tanya Agus.
“Tentu
saja, Nak. Kita akan berlibur bersama-sama,” jawab Joni.
“Horeee...
Akhirnya kita sekeluarga bisa berlibur bersama!” Agus berseru dengan penuh
kegirangan.
Mendengar
perkataan anaknya, Joni merasa sedikit terharu dan merasa bersalah karena harus
melibatkan Agus dalam rencananya membebaskan isterinya.
Setelah
meninggalkan rumah, mereka berdua langsung berangkat menuju bank untuk
mengambil uang tabungan Joni secara tunai. Ia mengambil seluruh tabungan yang
dimilikinya di bank. Pengambilan uang tunai dijadikan sebagai strategi awal
untuk menghindari lacakan polisi setelah mereka kabur. Jadi setelah mereka
lolos dan kabur, Joni tidak perlu lagi melakukan transaksi bank yang dapat
dengan mudah dilacak oleh polisi.
Joni dan Agus langsung menuju ke LP.
Waktu keberangkatan ia atur dengan penuh presisi, karena satu-satunya jalan
adalah dengan memanfaatkan mobil puskesmas yang telah ia intai selama
berminggu-minggu. Tibalah mereka di LP. Joni langsung segera keluar dari
mobilnya dan menyelinap masuk ke dalam mobil puskesmas setelah melihat sopir
mobil puskesmas masuk ke dalam LP. Joni langsung mencari data kesehatan milik
Lara dan menggantinya dengan data yang telah ia buat sebelummya. Sehingga
seolah-olah Lara mengalami kesehatan yang abnormal.
Agus yang melihat ayahnya masuk ke mobil puskesmas tersebut hanya termangu dan
terdiam. Dia tidak mengerti apa yang
dilakukan oleh ayahnya.
Untuk tidak terlalu melibatkan Agus dalam
hal ini, Joni memutuskan untuk menitipkan anaknya ke tetangganya. Kebetulan
pada saat itu pula, anak tetangganya yang seumuran dengan Agus sedang merayakan
ulang tahun.
Agus pun sudah berada di tempat yang
aman. Kini Joni sudah tidak terlalu terbebani oleh adanya anaknya. Ia kemudian
langsung kembali ke LP untuk mengintai mobil puskesmas sebelumnya.
Petugas kesehatan LP yang melihat
data kesehatan milik Lara sangatlah terkejut. Hal ini dikarenakan data
kesehatan tersebut tergolong membahayakan nyawa Lara. Petugas LP kemudian
menghubungi rumah sakit untuk segera dilakukan tindakan.
Lara kemudian dilarikan ke rumah
sakit dengan pengawalan ketat oleh petugas kepolisian, dikarenakan Lara
merupakan seorang tahanan. Melihat Lara dibawa keluar dari LP, Joni langsung
mengikuti mobil puskesmas yang membawa Lara.
Mulailah Joni menjalankan rencana
keduanya. Ia kemudian menyamar sebagai seorang dokter yang berpura-pura akan
memeriksa Lara. Joni kemudian mengelabuhi polisi yang berjaga dengan memeriksa
lara di tempat khusus tanpa penjagaan. Lara sangatlah terkejut ketika melihat
suaminya ada di depan matanya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Mas?”
tanya Lara pelan.
“Aku akan membebaskanmu, Lara.” jawab
Joni.
“Kamu sudah gila ya, Mas? Sudahlah,
hentikan semua ini, Mas! Ini tidak benar!” kata Lara dengan menangis.
“Ayo cepatlah, Lara!” perintah Joni.
“Tidak, Mas. Saya tidak mau!” jawab
Lara.
“Kamu tidak mau? Ya sudah, telponlah
anakmu! Katakan kalau kamu tidak bisa datang,” kata Joni dengan marah.
“Dimana Agus, Mas?” tanya Lara
penasaran.
“Dia menunggumu. Dia menunggu kita.
Kau mau bilang kalau kamu tidak bisa datang? Kalau begitu katakan pula kalau
saya juga tidak bisa datang!” kata Joni.
“Ya Tuhan, Mas. Teganya kamu
melakukan ini kepadaku,” jawab Lara dengan tersedu-sedu.
Lara pun dengan terpaksa mengikuti
Joni untuk kabur. Mereka kabur dari rumah sakit melalui pintu yang sudah
direncanakan Joni. Polisi yang menyadari kalau tahanan yang dirawat tidak ada
ditempatnya langsung memberikan laporan kepada atasannya. Mulai saat itu pula,
Joni dan Lara menjadi buronan dan dicari di seluruh kota.
Joni mengendarai mobil dengan
kencangnya, karena untuk sampai diperbatasan kota, mereka butuh setidaknya 15
menit agar tidak tertangkap oleh polisi. Lara memberontak setelah menyadari
kalau Joni akan meninggalkan putranya, Agus.
“Mas, mengapa kamu malah menuju luar
kota? Apakah kamu tidak menjemput Agus?” tanya Lara.
“Lara, apabila kita kembali ke
rumah, pasti polisi akan menangkap kita.” jelas Joni.
“Tidak, Mas! Aku tidak mau kalau
begini. Lebih baik saya mati saja!” teriak Lara.
Lara terus memberontak dan mengancam
akan keluar dari mobil, walaupun saat itu dalam kecepatan tinggi.
Joni pun akhirnya terbuka
pikirannya. Dia kemudian memutuskan untuk balik arah dan menjemput Agus di
rumah tetangganya.
Ternyata benar prediksi Joni, polisi
sudah berjibun memenuhi rumahnya. Seluruh rumahnya digeledah. Polisi mengetahui
bahwa ternyata Joni telah merencanakan semua ini jauh-jauh hari. Joni yang
melihat itu dari kejauhan langsung bergegas membawa isteri dan anaknya keluar
kota.
Polisi tidak tinggal diam. Seluruh
personilnya dikerahkan untuk mencari keberadaan Joni dan Lara. Seluruh jalan di
blokir dan diadakan razia untuk memeriksa mobil keluarga yang terdiri atas
suami, isteri, dan satu anak. Joni yang mendengar berita tersebut dari radio,
langsung berpikir cepat. Ia meminta tolong kepada seorang kakek yang ada di
jalan untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan begitu maka mereka terbebas dari
pemeriksaan.
Joni sekeluarga akhirnya dapat
keluar kota. Ia berterima kasih kepada kakek yang telah bersedia masuk di
mobilnya. Setelah keluar dari kotanya, Joni dan isterinya memutuskan untuk
pergi ke luar negeri. Dengan perbekalan dan uang yang cukup, mereka memutuskan
untuk pergi ke luar negeri selama 1 bulan.
Setelah mengetahui Joni dan Lara
telah pergi, polisi akhirnya bersedia membukakembali penyidikan lebih lanjut
tentang kronologis pembunuhan. Setelah ditelusuri lebih jauh, akhirnya polisi menemukan
bukti bahwa Lara tidak bersalah. Tersangka pembunuhan yang sebenarnyaternyata
adalah teman satu kantor Lara yang memfitnahnya telah membunuh bosnya. Dimalam
kejadian pembunuhan tersebut ditemukan bukti bahwa sebenarnya Lara berniat
menolong korban pembunuhan. Namun sialnya, tiba-tiba ada seseorang yang
mempergokinya, seolah-olah dia yang membunuh korban. Pada barang bukti memang terdapat
sidik jari Lara, hal ini dikarenakan Lara berusaha mengangkat tabung yang
digunakan pembunuh untuk memukul korban dengan tujuan menyelamatkan korban. Sehingga
di jaketnya terdapat pula bekas darah dari korban.
Pembunuh yang sebenarnya akhirnya
ditangkap dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Polisi kemudian
menyatakan Lara tidak bersalah dalam kasus pembunuhan yang didakwakan dan
menyuruh keluarga Joni dan Lara untuk kembali ke kotanya. Mereka akhirnya
kembali ke kotanya dengan bebas dan melanjutkan kehidupannya sebelumnya.
No comments:
Post a Comment