Friday, 13 November 2015

Cerpen "Segala Untuknya" Karya: M.Jefri Pradewa


SEGALA UNTUKNYA
Karya : Muhammad Jefri Pradewa

Hari yang cerah mengiringi Minggu yang indah dalam kelarga Joni. Bersama dengan isteri dan anaknya yang masih berusia 5 tahun, ia menikmati sarapan dengan penuh rasa kebersamaan. Joni sibuk bermain dengan putranya, Agus. Sedangkan isterinya, Lara sibuk menyiapkan makanan penutup untuk suami dan putranya. Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia kemudian melanjutkan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga untuk mencuci pakaian. Pada saat memilah pakaian yang akan dicucinya, Lara tanpa sengaja mengetahui kalau jaket yang ia kenakan di malam hari ia bekerja terdapat bercak darah. Dengan segera ia kemudian membersihkan bercak darah tersebut. Joni yang mengetahui isterinya yang terlihat sibut membersihkan jaketnya langsung menghampiri Lara.
“Lho.. Itu jaketmu kenapa, Lara?” tanya Joni.
“Ahh, tidak apa-apa kok, Mas. Cuma terkena sedikit kotoran,” jawab Lara.
“Tidak apa-apa bagaimana, lha nyatanya jaketmu sampai kotor begitu,” tegas Joni.
“Sudahlah, Mas. Tidak apa-apa kok. Ini sudah saya bersihkan,” jawab Lara meyakinkan suaminya.
“O.. Ya sudah lah. Saya cuma khawatir kalau terjadi apa-apa,” Joni menambahkan.
            Setelah berbincang dengan isterinya, Joni kemudian melanjutkan kegiatannya untuk mengajak bermain Agus. Sedangkan Lara melanjutkan kegiatannya untuk mencuci pakaian milik keluarganya.
Disaat Joni sedang bermain dengan Agus, terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras dari depan rumah. Joni pun langsung bergegas beranjak untuk membukakan pintu tersebut. Ia sangatlah terkejut ketika mengetahui tamu yang datang ke rumahnya adalah polisi yang berjumlah 5 orang.
“Selamat pagi, Pak. Kami dari kepolisian akan menangkap isteri Anda, Lara. Ini surat perintah penangkapannya dan termasuk surat penggeledahannya,” kata seorang polisi.
“Lhoo, ada apa ini, Pak? Penangkapan atas apa?” tanya Joni dengan terkejut.
“Isteri Anda ditangkap atas pembunuhan rekan kerjanya, Winda.” jelas polisi.
“Isteri saya tidak mungkin membunuh orang, Pak.” Joni mengelak.
“Anda bisa membuktikannya nanti di pengadilan, Pak.” kata polisi.
Melihat ibunya ditangkap oleh polisi, Agus langsung menangis dan menjerit tak karuan. Sedangkan Joni hanya bisa terdiam kebingungan atas apa yang baru saja terjadi. Dia masih tidak percaya bahwa isterinya ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Namun satu yang Joni yakini adalah isterinya tidak bersalah.  
 Setelah isterinya ditahan, Joni dan Agus selalu mengunjungi Lara di setiap minggunya. Selain itu, Joni juga terus berusaha keras untuk menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa isterinya tidak bersalah. Ia terus berdiskusi dengan pengacaranya untuk membahas langkah hukum selanjutnya.
Dalam beberapa hari, akhirnya Joni menemukan bukti bahwa isterinya tidak bersalah. Ia pun menyerahkan bukti-bukti tersebut ke pengacaranya. Namun sayang, pengacaranya mengatakan bahwa pengadilan sudah menutup pengajuan bukti baru. Selain itu, pengacaranya juga menegaskan bahwa sidik jari yang terdapat di senjata pembunuhan adalah sidik jari Lara dan darahnya korban ada di jaketnya pula. Dengan kata lain, isteri Joni akan dinyatakan terbukti bersalah dalam pengadilan dan akan divonis maksimal 20 tahun penjara. Mendengar hal itu, Joni semakin terlihat frustasi.
Walaupun Joni masih bingung dengan kasus yang dialami isterinya, ia tetap menjalankan profesinya seperti biasa sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi. Ia berdiskusi dengan mahasiswanya tentang makna kebenaran. 
Setelah menemui jalan buntu dalam jalur hukum, Joni berpikiran untuk menempuh jalan lain agar isterinya bebas. Karena ia yakin isterinya tidak bersalah, Joni kemudian memiliki pemikiran yang tidak rasional untuk membawa isterinya kabur dari penjara. Untuk merencanakan pembebasan isterinya tersebut, Joni terus mencari informasi dari segala sumber. Akhirnya dia menemukan orang yang dapat dijadikan narasumber, dia adalah Roni. Roni pernah kabur dari penjara sekali, sebelum akhirnya dihukum 30 tahun kurungan. Namun, kini dia menjadi seorang penulis buku yang taat hukum.
“Langsung saja, apa yang membuatmu datang kepadaku?” tanya Roni kepada Joni.
“Mmmm.. Begini, Pak. Bagaimana Anda bisa kabur dari penjara sementara orang lain tidak?” tanya Joni.
“Bertaruh dan sedikit keberuntungan. Tidak ada penjara di dunia ini yang tidak mempunyai pintu, Nak. Masing-masing memiliki kunci, dan kau harus menemukannya.” jawab Roni.
“Bagaimana Anda bisa melakukannya?” tanya Joni penasaran.
“Setiap hari, penjaga akan selalu merasa nyaman saat melakukan hal yang sama di jam kerjanya. Di setiap rutinitas mereka, pasti akan ada sedikit celah. Dan kau harus ada disaat celah tersebut terjadi,” jelas Roni.
“Kabur itu mudah, hal yang tersulit adalah tetap bebas. Kau harus tahu kamana kau akan pergi dan bagaimana caranya,” Roni menambahkan.
“Terima kasih atas informasinya, Pak. Saya yakin akan membebaskan isteri saya,” kata Joni sambil berpamitan.
“Semoga beruntung,” balas Roni.
Setelah mengetahui informasi tentang bagaimana cara kabur dari penjara, Joni langsung menyusun rencana untuk membebaskan isterinya. Dia membuat kartu identitas palsu untuk anak, isteri dan dirinya sendiri, dengan tujuan agar memperlancar pelarian setelah isterinya kabur.
Kartu identitas palsu sudah dibuat, kini Joni berpikir tentang bagaimana caranya agar isterinya dapat kabur dari penjara tanpa harus melukai siapapun. Berminggu-minggu Joni terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas sehari-hari yang dilakukan di penjara tersebut. Dia mengamati penjaga, tahanan, dan semua orang yang melakukan aktivitas. Selain itu, ia juga mengamati dengan detil tentang keadaan lingkungan penjara tersebut, baik di dalam maupun di luar. Joni menggunakan kesempatan saat membesuk Lara untuk semakin mengetahui seluk beluk penjara. Sehingga ia dapat mengetahui celah yang dapat  dimanfaatkan untuk membebaskan isterinya.
            Gerak-gerik Joni sewaktu membesuk isterinya di penjara ternyata menimbulkan kecurigaan dari pihak LP. Oleh karena itu, pihak LP meminta bantuan kepada kepolisian untuk mengawasi dan terus mengikuti Joni dimana pun ia berada sebagai langkah antisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Lama-kelamaan, akhirnya Joni mengetahui bahwa dirinya selama ini dirinya sedang diikuti oleh polisi. Oleh karena itu, dalam menjalankan rencananya, ia lebih berhati-hati dan berusaha untuk tidak bergerak-gerik mencurigakan.
Setelah beberapa minggu mengamati segala aktivitas sehari-hari di penjara tersebut, akhirnya Joni menemukan celah. Celah tersebut adalah adanya mobil puskesmas yang setiap minggunya berkunjung ke LP tempat dimana isterinya ditahan. Mobil puskesmas tersebut merupakan kiriman dari Rumah Sakit Umum Daerah yang bertugas untuk memantau kondisi tahanan pada saat di LP. Joni kemudian menemukan ide untuk membebaskan isterinya dengan memanfaatkan kunjungan mobil puskesmas tersebut. Dengan penuh ketelitian, ia menghitung waktu yang digunakan petugas puskesmas untuk masuk ke LP dan kembali ke mobil.  Setelah mencatat waktu tersebut, Joni kemudian mencari informasi tentang bagaimana cara membuka paksa pintu sebuah mobil. Dengan informasi yang ia dapatkan dari youtube, akhirnya Joni dapat mengetahui dengan mudah bagaimana cara membobol pintu mobil. Dengan penuh kenekatan, akhirnya Joni membobol pintu mobil puskesmas tersebut dan mengambil data status kesehatan Lara. Data tersebut ia ambil karena Joni akan berniat untuk mengubah data tersebut sesuai dengan rencananya. Rencana yang akan ia laksanakan adalah dengan mengganti data kesehatan Lara yang semula dinyatakan sehat, namun ia ubah dengan status kesehatan yang abnormal.
Satu minggu berikutnya, dengan berbagai macam persiapan yang dibuat Joni selama ini, akhirnya tibalah saatnya hari untuk membebaskan isterinya. Dengan penuh ketelitian, ia membuang seluruh bukti dari apa yang direncanakannya agar tidak diketahui oleh polisi. Ia juga mengajak Agus dalam menjalankan aksi yang telah ia rencanakan.
“Papa, kita mau kemana?” tanya Agus dengan penasaran.
“Kita akan berlibur, Nak. Ke tempat yang indah dan terbebas dari keramaian,” jawab Joni.
“Apakah mama akan ikut, Pa?” tanya Agus.
“Tentu saja, Nak. Kita akan berlibur bersama-sama,” jawab Joni.
“Horeee... Akhirnya kita sekeluarga bisa berlibur bersama!” Agus berseru dengan penuh kegirangan.
Mendengar perkataan anaknya, Joni merasa sedikit terharu dan merasa bersalah karena harus melibatkan Agus dalam rencananya membebaskan isterinya.
Setelah meninggalkan rumah, mereka berdua langsung berangkat menuju bank untuk mengambil uang tabungan Joni secara tunai. Ia mengambil seluruh tabungan yang dimilikinya di bank. Pengambilan uang tunai dijadikan sebagai strategi awal untuk menghindari lacakan polisi setelah mereka kabur. Jadi setelah mereka lolos dan kabur, Joni tidak perlu lagi melakukan transaksi bank yang dapat dengan mudah dilacak oleh polisi.
            Joni dan Agus langsung menuju ke LP. Waktu keberangkatan ia atur dengan penuh presisi, karena satu-satunya jalan adalah dengan memanfaatkan mobil puskesmas yang telah ia intai selama berminggu-minggu. Tibalah mereka di LP. Joni langsung segera keluar dari mobilnya dan menyelinap masuk ke dalam mobil puskesmas setelah melihat sopir mobil puskesmas masuk ke dalam LP. Joni langsung mencari data kesehatan milik Lara dan menggantinya dengan data yang telah ia buat sebelummya. Sehingga seolah-olah Lara mengalami kesehatan yang abnormal. Agus yang melihat ayahnya masuk ke mobil puskesmas tersebut hanya termangu dan terdiam. Dia tidak mengerti apa yang  dilakukan oleh ayahnya.
            Untuk tidak terlalu melibatkan Agus dalam hal ini, Joni memutuskan untuk menitipkan anaknya ke tetangganya. Kebetulan pada saat itu pula, anak tetangganya yang seumuran dengan Agus sedang merayakan ulang tahun.
            Agus pun sudah berada di tempat yang aman. Kini Joni sudah tidak terlalu terbebani oleh adanya anaknya. Ia kemudian langsung kembali ke LP untuk mengintai mobil puskesmas sebelumnya.
            Petugas kesehatan LP yang melihat data kesehatan milik Lara sangatlah terkejut. Hal ini dikarenakan data kesehatan tersebut tergolong membahayakan nyawa Lara. Petugas LP kemudian menghubungi rumah sakit untuk segera dilakukan tindakan.
            Lara kemudian dilarikan ke rumah sakit dengan pengawalan ketat oleh petugas kepolisian, dikarenakan Lara merupakan seorang tahanan. Melihat Lara dibawa keluar dari LP, Joni langsung mengikuti mobil puskesmas yang membawa Lara.
            Mulailah Joni menjalankan rencana keduanya. Ia kemudian menyamar sebagai seorang dokter yang berpura-pura akan memeriksa Lara. Joni kemudian mengelabuhi polisi yang berjaga dengan memeriksa lara di tempat khusus tanpa penjagaan. Lara sangatlah terkejut ketika melihat suaminya ada di depan matanya.
            “Apa yang kau lakukan di sini, Mas?” tanya Lara pelan.
            “Aku akan membebaskanmu, Lara.” jawab Joni.
            “Kamu sudah gila ya, Mas? Sudahlah, hentikan semua ini, Mas! Ini tidak benar!” kata Lara dengan menangis.
            “Ayo cepatlah, Lara!” perintah Joni.
            “Tidak, Mas. Saya tidak mau!” jawab Lara.
            “Kamu tidak mau? Ya sudah, telponlah anakmu! Katakan kalau kamu tidak bisa datang,” kata Joni dengan marah.
            “Dimana Agus, Mas?” tanya Lara penasaran.
            “Dia menunggumu. Dia menunggu kita. Kau mau bilang kalau kamu tidak bisa datang? Kalau begitu katakan pula kalau saya juga tidak bisa datang!” kata Joni.
            “Ya Tuhan, Mas. Teganya kamu melakukan ini kepadaku,” jawab Lara dengan tersedu-sedu.
            Lara pun dengan terpaksa mengikuti Joni untuk kabur. Mereka kabur dari rumah sakit melalui pintu yang sudah direncanakan Joni. Polisi yang menyadari kalau tahanan yang dirawat tidak ada ditempatnya langsung memberikan laporan kepada atasannya. Mulai saat itu pula, Joni dan Lara menjadi buronan dan dicari di seluruh kota.
            Joni mengendarai mobil dengan kencangnya, karena untuk sampai diperbatasan kota, mereka butuh setidaknya 15 menit agar tidak tertangkap oleh polisi. Lara memberontak setelah menyadari kalau Joni akan meninggalkan putranya, Agus.
            “Mas, mengapa kamu malah menuju luar kota? Apakah kamu tidak menjemput Agus?” tanya Lara.
            “Lara, apabila kita kembali ke rumah, pasti polisi akan menangkap kita.” jelas Joni.
            “Tidak, Mas! Aku tidak mau kalau begini. Lebih baik saya mati saja!” teriak Lara.
            Lara terus memberontak dan mengancam akan keluar dari mobil, walaupun saat itu dalam kecepatan tinggi.
            Joni pun akhirnya terbuka pikirannya. Dia kemudian memutuskan untuk balik arah dan menjemput Agus di rumah tetangganya.
            Ternyata benar prediksi Joni, polisi sudah berjibun memenuhi rumahnya. Seluruh rumahnya digeledah. Polisi mengetahui bahwa ternyata Joni telah merencanakan semua ini jauh-jauh hari. Joni yang melihat itu dari kejauhan langsung bergegas membawa isteri dan anaknya keluar kota.
            Polisi tidak tinggal diam. Seluruh personilnya dikerahkan untuk mencari keberadaan Joni dan Lara. Seluruh jalan di blokir dan diadakan razia untuk memeriksa mobil keluarga yang terdiri atas suami, isteri, dan satu anak. Joni yang mendengar berita tersebut dari radio, langsung berpikir cepat. Ia meminta tolong kepada seorang kakek yang ada di jalan untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan begitu maka mereka terbebas dari pemeriksaan.
            Joni sekeluarga akhirnya dapat keluar kota. Ia berterima kasih kepada kakek yang telah bersedia masuk di mobilnya. Setelah keluar dari kotanya, Joni dan isterinya memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Dengan perbekalan dan uang yang cukup, mereka memutuskan untuk pergi ke luar negeri selama 1 bulan.
            Setelah mengetahui Joni dan Lara telah pergi, polisi akhirnya bersedia membukakembali penyidikan lebih lanjut tentang kronologis pembunuhan. Setelah ditelusuri lebih jauh, akhirnya polisi menemukan bukti bahwa Lara tidak bersalah. Tersangka pembunuhan yang sebenarnyaternyata adalah teman satu kantor Lara yang memfitnahnya telah membunuh bosnya. Dimalam kejadian pembunuhan tersebut ditemukan bukti bahwa sebenarnya Lara berniat menolong korban pembunuhan. Namun sialnya, tiba-tiba ada seseorang yang mempergokinya, seolah-olah dia yang membunuh korban. Pada barang bukti memang terdapat sidik jari Lara, hal ini dikarenakan Lara berusaha mengangkat tabung yang digunakan pembunuh untuk memukul korban dengan tujuan menyelamatkan korban. Sehingga di jaketnya terdapat pula bekas darah dari korban.
            Pembunuh yang sebenarnya akhirnya ditangkap dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Polisi kemudian menyatakan Lara tidak bersalah dalam kasus pembunuhan yang didakwakan dan menyuruh keluarga Joni dan Lara untuk kembali ke kotanya. Mereka akhirnya kembali ke kotanya dengan bebas dan melanjutkan kehidupannya sebelumnya.


No comments:

Post a Comment