DUA BUAH MANGGA
Karya : ANDIKA
“Toookk….”
Ketuk palu dihentakkan keras pada meja
hijau itu. Semua
orang terhentak tak percaya. Air mata mulai bercucuran menghambur di hampir
setiap yang menyaksikan itu.
Ya, hakim telah mengetukkan palu.
Persidangan telah selesai dilangsungkan dengan keputusan yang memberatkan
Tarsiem. Enam bulan sepuluh hari, itulah hukuman yang dibacakan oleh hakim.
Semua orang tersentak, benar-benar tak percaya akan hal itu.
Dalam
sidang itu Tarsiem hanya terdiam, kata seolah sulit sekali mengalir dari
mulutnya. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti membasahi
kerutan-kerutan diwajahnya. Hatinya membeku, ia tak tahu apa yang harus ia
lakukan. Kini hanya hukuman penjara yang sedang membias dalam pikirannya.
Hukuman enam bulan penjara itu memenuhi isi otaknya.
”Hakim gobloook...!! Tolol... Tidak tahu
maluuuu....... Liat! Liat!! Dia orang tua... Tega kau menghukumnya? TEGA?
Berapa kau dibayar, HAH?”seseorang berdiri dan mengumpat keras.
Seluruh
orang yang menyaksikan itu merasakan kepedihan yang sama. Mereka kecewa atas
keputusan hakim yang memberatkan Tursiem.
”INI
TIDAK ADIL”salah seorang warga kembali mengumpat penuh kekesalan.
“Obrak-abrik… buat berantakkan tempat ini.
Keadilan harus ditegakkan! Harus!!”semua orang berdiri dari tempatnya. Tangan
mulai dihentak-hentakkan pada meja-meja persidangan.
Itulah
suara terakhir yang didengar Tursiem sebelum dirinya jatuh pingsan dalam ruang
persidangan yang memanas itu.
Hanya selang beberapa menit saja, Tursiem
langsung setengah sadar dari pingsannya. Dengan sorotan matanya yang sayu, dia
masih ingat kejadian beberapa menit yang lalu. Mata sayu itu sekaligus kosong
dan perih, karena ingatan beberapa menit yang lalu itu mengantarkan ingatan
Tursiem akan kejadian tragis seminggu yang lalu yang mengantarkan dirinya
sampai di meja hijau.
Kerumunan orang-orang di sekitar tidak
lagi terlihat sebagai kerumunan orang-orang dimata sayu Tursiem, melainkan yang
tergambar adalah masa lalunya...
Dalam
keheningan senja yang menyalakan parade keemasan mentari, dinding-dinding rumah
itu bergetar-getaran yang layaknya gempa berskala richter yang mengguncang tanah dan
lautan. Ya, seorang anak kecil terlihat sedang menggigil tepat di sisi dinding
geribik itu. Namanya adalah Kusniati, anak dari Tursiem. Tubuh Kusniati
gemetar, kedingingan yang menerpa tubuhnya begitu amat dirasakan, terlebih
perutnya kosong tanpa ada makanan yang dicerna oleh usus-usus lembutnya.
Tangannya
ia lingkarkan pada perut itu, menahan sekuat tenaga keperihan yang sedang ia
derita. Ya, sedari kemarin malam dirinya tidak memakan sesuatu apapun. Bukan
tidak mau, melainkan tidak ada satupun makanan yang dapat ia makan. Hanya air
sumur yang berwarna kekuningan yang
menjadi pereda rasa sakitnya, ditambah doa dan harapan yang terus mengalir dari
bibir mungilnya.
”Sakit.., Ya Allah. Tolong berikan kami
rezeki-Mu Ya Allah.”tangannya ia tengadahkan dengan sebaris doa terlantun indah
dari hatinya.
Melihat
itu, Tursiem hanya bisa menangis. Batinnya teriris menjadi potongan kecil tak
berbentuk. Ia miris, pedih, dan kecewa pada dirinya sendiri. Anakanya itu...
sedang mengalami kesakitan. Ia tahu jelas hal itu, karena ia juga merasakannya,
namun tetap saja ia tak tega melihat anak kandungnya dalam keadaan seperti itu.
Tursiem
mengambil air wudhu dan menegakkan sholat.
”Ahtori... kami kelaparan. Kusniati terlihat lapar
sekali... sedari tadi ia terus memegangi perutnya, aku tahu itu menyakitkan.
Apa yang harus aku lakukan? Kami merindukanmu, Ahtori. Mungkin bila kau masih
ada... ini tidak akan pernah terjadi.” dalam doa selesai sholat maghrib,
Tursiem menceritakan segala keluh kesahnya saat ini.
Ingatannya kembali kepada almarhum suaminya. Ia rindu masa-masa bahagia dulu,
bukan saat-saat seperti ini. Bukan.
Selepas
sholat itu, Tursiem beranjak keluar rumah. Ia mencoba menemukan sesuatu untuk dimakan. Untuk anaknya, Kusniati. Dalam
kegelapan malam yang mulai bergulir, ia berjalan merayap. Tubuh itu memang tak
lagi muda. Lekukan di bagian tulang belakangnya sudah mulai terlihat, ia bungkuk.
Tiap langkah kakinya ia lakukan perlahan, itu pun masih sulit. Beruntung ada
sebuah tongkat yang menegakkan langkah-langkah itu. Kerikil yang menghadang
jalannya tak menjadi hambatan. Satu demi satu batuan kecil itu ia lewati dengan
sangat hari-hati. Dengan kalimat istigfar yang selalu menghias bibir mudanya.
Entah mengapa, bibir itu masih terhilat muda, sedikit sekali kerutan di sana.
Mungkin ini karena lantunan doa yang terus ia panjatkan.
”Ya,
Allah. Ya Rabb... Kemanakah langkah kaki ini akan mencari? Hamba sudah lelah,
ingin berhenti. Tapi... Tapi anak hamba, ia sedang kelaparan di rumah. Beri
hamba jalan, Ya Allah. Engakulah Penguasa Kehidupan ini. Engkaulah yang
mengatur rizky, Ya Tuhan. Tolonglah.... Beri hamba jalan.”
ia menatap bulan yang sedang bersinar terang.
Bulat, kuning, dan bercahaya. Doa melantun dalam parade sinar purnama. Semua
masalah ia serahkan pada-Nya.
Tiba-tiba....
Matanya
menatap sebuah benda. Teronggok dalam semak belukar tak terurus. Ia mendekat
mencoba mencari tahu apa benda itu.
”Ah... mangga.”
jeritnya kegirangan. Ia mengambil sebuah mangga
yang tergeletak di tanah.
”Mangga lagi...”
kembali ia menemukan sebuah mangga lagi yang
terjatuh tak jauh dari mangga yang pertama tadi.
Dua
buah mangga ia temukan. Langsung saja ia bawa pulang kerumah. Berharap ini bisa
menjadi bekal pengganjal perutnya dan putrinya di rumah. Cepat ia berjalan
kembali menuju putrinya yang kesakitan itu. Tapi...
”Tunggu!
Tunggu Nek...”
dari arah belakang tiba-tiba seseorang berteriak.
Seorang
pria dewasa datang menghampiri Tursiem.
”Stop! Ini... ini mangga saya. Kenapa Nenek
mengambilnya? Berikan!!”
orang itu menghentak pada Tursiem. Langsung ia
merebut kedua buah mangga itu dari tangan Tursiem, sontak hal itu memuat
Tursiem kaget dan tersungkur jatuh.
”Pak...
itu saya temukan. Saya tidak mencurinya, itu sudah terjatuh di semak-semak.”
Tursiem mencoba melawan orang itu sembari berdiri
dengan tongkatnya.
”Tapi mangga ini dari pohon saya. Sayalah
pemiliknya dan Nenek mengambil tanpa izin saya. Itu mencuri namanya.”
Mengacungkan jari pada Tursiem.
“SAYA TUNTUT NANTI!!”
ancaman itu begitu menancap dihati Tursiem. Ia tak
percaya, hanya karena dua buah mangga ia dituduh mencuri.
“TIDAK!
Tidak, Pak. Saya tidak mencuri, saya hanya mengambilnya. Tolong Pak, anak saya
sedang kesakitan di rumah, ia sangat lapar. Tolong beri kami mangga itu...”
Tursiem mencoba memelas. Ia bersujud, tangannya
memegang erat kaki besar orang itu.
Dengan tangisan kemelasan, Tursiem terus
mencoba membujuk orang itu. Namun sayang, usahanya sia-sia belaka. Orang itu
tetap ngotot, malah semakin marah. Ia menuntu tindakan mencuri yang telah
dilakukan Tursiem. Meja hijau... Ya, ia akan membawa perkara ini ke meja hijau.
Seminggu
berselang, Tursiem dibawa ke pengadilan negeri. Ia akan menjalani sidang
terkait tindakan memungut dua buah mangga yang ia lakukan silam. Ia benar-benar
tak menyangka akan berakhir seperti ini. Padahal dalam benaknya tak pernah
sedikitpun terbesit niat untuk melakukan hal itu. Ia dituduh... dan tak berdaya
dengan tuduhan itu!
***
Setelah mengingat kejadian piluh dengan
keadaan setengah sadar, Tursiem semakin tidak kuasa untuk meneteskan air
matanya, dia benar-benar tidak kuat lagi dan bingung harus berbuat apa. Kali
ini Tursiem pingsan untuk yang kedua kalinya. Dua hari telah berlalu begitu
saja. Begitu siuman, Tarsiem
kebingungan. Ia tak tahu sedang berada di mana saat ini. Kata terakhir yang
terlintas dalam kepalanya adalah saat hakim memvonis dirinya bersalah dengan
hukuman enam bulan penjara.
Ia tak bisa berkata-kata apa lagi.
Mulutnya kelu untuk memprotes sikap hakim yang seakan menindas kaum bawah
seperti dirinya. Tak habis pikir, ia akan dijatuhi hukuman seberat itu hanya
karena dua mangga itu yang ia pungut, bukan mencurinya.
”Inikah
keadilan yang digembar-gemborkan negeri ini? Inikah Indonesia dengan prinsip
hukumnya? Memang kami tak tahu jalan aturan negeri ini. Tapi setidaknya hargai
kami sebagai bagian dari negeri ini.”
Dalam
kebimbangan yang teramat sangat, ia berpasrah diri pada Allah Swt. Ia tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan. Ia telah kalah dan hakim telah
memutuskan kekalahan itu. Penjara selama enam bulan sepuluh hari, itu akan
menjadi rutinitas hidupnya kini.
Itulah....
Negeri ini seakan membual dengan janji-janji keadilannya. Hakim tidak lagi
memihak yang benar, tapi memihak yang beruang. Bukan lagi prinsip keadilan
melainkan prinsip keuangan yang mengembang dalam jiwa-jiwa hedois masa kini.
Rakyat kecil menjadi korban. Mereka menangis... mereka menjerit... dan mereka tersakiti...
Teronggok dalam jurang keadilan semu. Keadilan dalam kubangan uang hitam.
No comments:
Post a Comment