Friday, 13 November 2015

Cerpen "Dua Buah Mangga" Karya : Andika


DUA BUAH MANGGA
Karya : ANDIKA

            “Toookk….”
Ketuk palu dihentakkan keras pada meja hijau itu. Semua orang terhentak tak percaya. Air mata mulai bercucuran menghambur di hampir setiap yang menyaksikan itu.
            Ya, hakim telah mengetukkan palu. Persidangan telah selesai dilangsungkan dengan keputusan yang memberatkan Tarsiem. Enam bulan sepuluh hari, itulah hukuman yang dibacakan oleh hakim. Semua orang tersentak, benar-benar tak percaya akan hal itu.
            Dalam sidang itu Tarsiem hanya terdiam, kata seolah sulit sekali mengalir dari mulutnya. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti membasahi kerutan-kerutan diwajahnya. Hatinya membeku, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kini hanya hukuman penjara yang sedang membias dalam pikirannya. Hukuman enam bulan penjara itu memenuhi isi otaknya.
            ”Hakim gobloook...!! Tolol... Tidak tahu maluuuu....... Liat! Liat!! Dia orang tua... Tega kau menghukumnya? TEGA? Berapa kau dibayar, HAH?”seseorang berdiri dan mengumpat keras.
            Seluruh orang yang menyaksikan itu merasakan kepedihan yang sama. Mereka kecewa atas keputusan hakim yang memberatkan Tursiem.
            ”INI TIDAK ADIL”salah seorang warga kembali mengumpat penuh kekesalan.
            “Obrak-abrik… buat berantakkan tempat ini. Keadilan harus ditegakkan! Harus!!”semua orang berdiri dari tempatnya. Tangan mulai dihentak-hentakkan pada meja-meja persidangan.
            Itulah suara terakhir yang didengar Tursiem sebelum dirinya jatuh pingsan dalam ruang persidangan yang memanas itu.
Hanya selang beberapa menit saja, Tursiem langsung setengah sadar dari pingsannya. Dengan sorotan matanya yang sayu, dia masih ingat kejadian beberapa menit yang lalu. Mata sayu itu sekaligus kosong dan perih, karena ingatan beberapa menit yang lalu itu mengantarkan ingatan Tursiem akan kejadian tragis seminggu yang lalu yang mengantarkan dirinya sampai di meja hijau.
Kerumunan orang-orang di sekitar tidak lagi terlihat sebagai kerumunan orang-orang dimata sayu Tursiem, melainkan yang tergambar adalah masa lalunya...
            Dalam keheningan senja yang menyalakan parade keemasan mentari, dinding-dinding rumah itu bergetar-getaran yang layaknya gempa berskala richter yang mengguncang tanah dan lautan. Ya, seorang anak kecil terlihat sedang menggigil tepat di sisi dinding geribik itu. Namanya adalah Kusniati, anak dari Tursiem. Tubuh Kusniati gemetar, kedingingan yang menerpa tubuhnya begitu amat dirasakan, terlebih perutnya kosong tanpa ada makanan yang dicerna oleh usus-usus lembutnya. 
            Tangannya ia lingkarkan pada perut itu, menahan sekuat tenaga keperihan yang sedang ia derita. Ya, sedari kemarin malam dirinya tidak memakan sesuatu apapun. Bukan tidak mau, melainkan tidak ada satupun makanan yang dapat ia makan. Hanya air sumur yang berwarna kekuningan  yang menjadi pereda rasa sakitnya, ditambah doa dan harapan yang terus mengalir dari bibir mungilnya.
            ”Sakit.., Ya Allah. Tolong berikan kami rezeki-Mu Ya Allah.”tangannya ia tengadahkan dengan sebaris doa terlantun indah dari hatinya.
            Melihat itu, Tursiem hanya bisa menangis. Batinnya teriris menjadi potongan kecil tak berbentuk. Ia miris, pedih, dan kecewa pada dirinya sendiri. Anakanya itu... sedang mengalami kesakitan. Ia tahu jelas hal itu, karena ia juga merasakannya, namun tetap saja ia tak tega melihat anak kandungnya dalam keadaan seperti itu.
            Tursiem mengambil air wudhu dan menegakkan sholat.
”Ahtori... kami kelaparan. Kusniati terlihat lapar sekali... sedari tadi ia terus memegangi perutnya, aku tahu itu menyakitkan. Apa yang harus aku lakukan? Kami merindukanmu, Ahtori. Mungkin bila kau masih ada... ini tidak akan pernah terjadi.” dalam doa selesai sholat maghrib, Tursiem menceritakan segala keluh kesahnya saat ini. Ingatannya kembali kepada almarhum suaminya. Ia rindu masa-masa bahagia dulu, bukan saat-saat seperti ini. Bukan.
            Selepas sholat itu, Tursiem beranjak keluar rumah. Ia mencoba menemukan sesuatu untuk dimakan. Untuk anaknya, Kusniati. Dalam kegelapan malam yang mulai bergulir, ia berjalan merayap. Tubuh itu memang tak lagi muda. Lekukan di bagian tulang belakangnya sudah mulai terlihat, ia bungkuk. Tiap langkah kakinya ia lakukan perlahan, itu pun masih sulit. Beruntung ada sebuah tongkat yang menegakkan langkah-langkah itu. Kerikil yang menghadang jalannya tak menjadi hambatan. Satu demi satu batuan kecil itu ia lewati dengan sangat hari-hati. Dengan kalimat istigfar yang selalu menghias bibir mudanya. Entah mengapa, bibir itu masih terhilat muda, sedikit sekali kerutan di sana. Mungkin ini karena lantunan doa yang terus ia panjatkan.
            ”Ya, Allah. Ya Rabb... Kemanakah langkah kaki ini akan mencari? Hamba sudah lelah, ingin berhenti. Tapi... Tapi anak hamba, ia sedang kelaparan di rumah. Beri hamba jalan, Ya Allah. Engakulah Penguasa Kehidupan ini. Engkaulah yang mengatur rizky, Ya Tuhan. Tolonglah.... Beri hamba jalan.”
ia menatap bulan yang sedang bersinar terang. Bulat, kuning, dan bercahaya. Doa melantun dalam parade sinar purnama. Semua masalah  ia serahkan pada-Nya.
            Tiba-tiba....
            Matanya menatap sebuah benda. Teronggok dalam semak belukar tak terurus. Ia mendekat mencoba mencari tahu apa benda itu.
”Ah... mangga.”
jeritnya kegirangan. Ia mengambil sebuah mangga yang tergeletak di tanah.
”Mangga lagi...”
kembali ia menemukan sebuah mangga lagi yang terjatuh tak jauh dari mangga yang pertama tadi.
            Dua buah mangga ia temukan. Langsung saja ia bawa pulang kerumah. Berharap ini bisa menjadi bekal pengganjal perutnya dan putrinya di rumah. Cepat ia berjalan kembali menuju putrinya yang kesakitan itu. Tapi...
            ”Tunggu! Tunggu Nek...”
dari arah belakang tiba-tiba seseorang berteriak.
            Seorang pria dewasa datang menghampiri Tursiem.
”Stop! Ini... ini mangga saya. Kenapa Nenek mengambilnya? Berikan!!”
orang itu menghentak pada Tursiem. Langsung ia merebut kedua buah mangga itu dari tangan Tursiem, sontak hal itu memuat Tursiem kaget dan tersungkur jatuh.
            ”Pak... itu saya temukan. Saya tidak mencurinya, itu sudah terjatuh di semak-semak.”
Tursiem mencoba melawan orang itu sembari berdiri dengan tongkatnya.
            ”Tapi mangga ini dari pohon saya. Sayalah pemiliknya dan Nenek mengambil tanpa izin saya. Itu mencuri namanya.”
Mengacungkan jari pada Tursiem.
“SAYA TUNTUT NANTI!!”
ancaman itu begitu menancap dihati Tursiem. Ia tak percaya, hanya karena dua buah mangga ia dituduh mencuri.
            “TIDAK! Tidak, Pak. Saya tidak mencuri, saya hanya mengambilnya. Tolong Pak, anak saya sedang kesakitan di rumah, ia sangat lapar. Tolong beri kami mangga itu...”
Tursiem mencoba memelas. Ia bersujud, tangannya memegang erat kaki besar orang itu.
            Dengan tangisan kemelasan, Tursiem terus mencoba membujuk orang itu. Namun sayang, usahanya sia-sia belaka. Orang itu tetap ngotot, malah semakin marah. Ia menuntu tindakan mencuri yang telah dilakukan Tursiem. Meja hijau... Ya, ia akan membawa perkara ini ke meja hijau.
            Seminggu berselang, Tursiem dibawa ke pengadilan negeri. Ia akan menjalani sidang terkait tindakan memungut dua buah mangga yang ia lakukan silam. Ia benar-benar tak menyangka akan berakhir seperti ini. Padahal dalam benaknya tak pernah sedikitpun terbesit niat untuk melakukan hal itu. Ia dituduh... dan tak berdaya dengan tuduhan itu!

***

Setelah mengingat kejadian piluh dengan keadaan setengah sadar, Tursiem semakin tidak kuasa untuk meneteskan air matanya, dia benar-benar tidak kuat lagi dan bingung harus berbuat apa. Kali ini Tursiem pingsan untuk yang kedua kalinya. Dua hari telah berlalu begitu saja. Begitu siuman, Tarsiem kebingungan. Ia tak tahu sedang berada di mana saat ini. Kata terakhir yang terlintas dalam kepalanya adalah saat hakim memvonis dirinya bersalah dengan hukuman enam bulan penjara.
            Ia tak bisa berkata-kata apa lagi. Mulutnya kelu untuk memprotes sikap hakim yang seakan menindas kaum bawah seperti dirinya. Tak habis pikir, ia akan dijatuhi hukuman seberat itu hanya karena dua mangga itu yang ia pungut, bukan mencurinya.
            ”Inikah keadilan yang digembar-gemborkan negeri ini? Inikah Indonesia dengan prinsip hukumnya? Memang kami tak tahu jalan aturan negeri ini. Tapi setidaknya hargai kami sebagai bagian dari negeri ini.”
            Dalam kebimbangan yang teramat sangat, ia berpasrah diri pada Allah Swt. Ia tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan. Ia telah kalah dan hakim telah memutuskan kekalahan itu. Penjara selama enam bulan sepuluh hari, itu akan menjadi rutinitas hidupnya kini.
            Itulah.... Negeri ini seakan membual dengan janji-janji keadilannya. Hakim tidak lagi memihak yang benar, tapi memihak yang beruang. Bukan lagi prinsip keadilan melainkan prinsip keuangan yang mengembang dalam jiwa-jiwa hedois masa kini. Rakyat kecil menjadi korban. Mereka menangis... mereka menjerit... dan mereka tersakiti... Teronggok dalam jurang keadilan semu. Keadilan dalam kubangan uang hitam.

No comments:

Post a Comment