Wednesday, 9 December 2015

Cerpen " Kejutan Istimewa dari Ayah " Karya: Okvia Fera Prawesti


Okvia Fera Prawesti

Kejutan istimewa dari ayah
Hujan deras mengguyur desa jetis, Kabupaten Sragen. Kesunyian menyelimuti desa itu. Melihat kelayuan bunga-bunga di taman, tak ada kumbang yang menghisap madu. Bunga yang tengah berubah warna menjadi coklat kekuningan itu telah gugur dan beterbangan karena tiupan angin. Kemurungan telah menempel dalam raut wajah gadis itu. Bahkan rasa ketakutan itu mendenyutkan nadinya. Seolah darah itu beku, seluruh badan terasa kaku. Dia adalah seorang gadis yang terlahir dalam janin sang ibu, dari keluarga yang harmonis. Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, ia bernama Olivia Sanjaya usianya 18 tahun. Olivia telah menuntut ilmu di Universitas Indonesia. Olivia mengambil jurusan Pendidikan Akuntansi dan Ekonomi. Olivia mempuyai sahabat yang bernama Melani. Kehidupan yang terlihat, membuat hati teman-teman sebayanya iri. Masa kecil Olivia tak pernah lepas dari belaian orang tuanya. Kasih sayang itu sangatlah melekat dalam senyum manisnya. Keceriaan yang termiliki begitu natural. Itulah yang terlihat dalam kaca mata orang lain. Mereka melihat keindahan kehidupan dari apa yang ada saat itu.
Kebahagiaan itu adalah rasa ketika semua umat manusia bertanya pada sanubari mereka. Akan terasa dan terlihat begitu jelas. Canda tawa bukanlah bukti dari kebahagiaan. Tingkah laku, raut wajah, senyum dan tawa itu adalah sebuah kepalsuan. Semua umat manusia telah memiliki masing-masing cara dalam menghadapi karakter kehidupan. Hidup dapat dikatakan sebuah drama. Dari perilaku Olivia selama ini teman-teman, saudara, dan kekasihnya tak pernah tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Semua orang tak kan pernah menyangka dengan apa yang telah dihadapinya. Semua yang terlihat adalah kebohongan. Dia menggunakan topengnya untuk menyihir orang-orang yang mengenal dirinya. Ia tak ingin orang lain tahu yang sesungguhnya dengan keadaan yang telah menyudutkan Olivia pada keegoisan. Olivia bukanlah gadis yang manja, seperti gadis-gadis lain. Dia dapat berdiri sendiri, walau yang terasa sangatlah lemah dan rapuh. Olivia menguatkan hatinya hanya karena Sang Ibu. Tekanan dan kekangan dari sang ayah yang menyebabkan perubahan dalam keluarga kecil itu terasa.
Selain itu, mulai banyak masalah dalam keluarga yang membuat Olivia tak merasa nyaman. Keterpaksaanlah yang menyelimuti hati Olivia. Olivia selalu bercerita tentang masalah yang dihadapinya kepada Melani. Namun, Melani hanya dapat menenangkan hati Olivia. Semenjak kuliah Olivia hampir tidak pernah pulang ke rumah. Olivia lebih menyukai tinggal bersama teman-temannya. Olivia dapat lebih bebas mengembangkan bakatnya.
Sore hari sepulang kuliah, Olivia dan Melani pergi ke toko buku. Olivia dan Melani berbincang-bincang. Tak sengaja, Melani keceplosan menanyakan ayah Olivia. Raut wajah Olivia berubah memucat. Melani merasa sangat bersalah. Kemudian Melani mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya. Namun, Olivia memotong perkataan Melani.
“Mel, tak usah mencoba untuk mengalihkan pembicaraan itu.”
“Pembicaraan yang mungkin aku tak menyukainya” Kata Olivia.
“Maafkan aku Liv, aku keceplosan.”
“Aku tak ada maksud untuk membuatmu sedih, Liv”
“Apakah kamu sangat membenci Ayahmu?” tanya Melani kepada Olivia.
“Aku tidak membencinya.”
“Aku merasa tidak ada ketidakadilan pada Ibuku.”
“Ibuku adalah korban dari kekerasan ayahku.”
“Aku merasa tidak tega” jawab Olivia.
“Ya aku mengerti.”
“Kalau aku boleh tahu, kekerasan yang bagaimana?” tanya Melani.
“Kekerasan yang membuat aku muak melihatnya.”
“Bukan hanya kekerasan dari batin, yang sangat membuatku muram adalah kekerasan pada tubuh Ibuku.”
“Kekerasan itu tidak hanya satu dua kali dilakukan.”
“Ibuku dihajar hingga memar pada pipi dan matanya.”
“Apakah itu masih layak dikatakan seorang ayah untuk istri dan anak-anaknya”
“Aku tak menyangka kehidupan keluargaku menjadi seperti ini” Jawabku pada Melani.
“Liv, kehidupan itu seperti roda berputar.”
“kita tak tahu, entah sampai kapan roda itu berhenti.”
“Kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah pada Tuhan” Jawab Melani.
“Ya, Mel” Jawabku singkat.
“Liv, janganlah bersedih.”
“kasih sayang itu masih ada untukmu.”
“Sahabat dan orang-orang terdekatmu pasti menyayangimu.”
“Semua sayang kamu, Liv” Nasehat Melani untuk Olivia.
“Mel, aku sangat bangga punya sahabat sepertimu” jawab Olivia sambil memeluk Melani.
“hahahaha, ya Liv” Jawab singkat Melani.
“Mel, kadang aku ingin pergi dari dunia ini.”
“Ingin bebas melepaskan semua penat didada” Ungkap Olivia.
“Memang kenapa, Liv? Tanya Melani.
“Aku bosan seperti ini.”
“Aku ingin tidak pernah melihat apa yang aku lihat.”
“Sebisa mungkin untuk melupakan kepahitan yang ada dalam keluargaku” Jawab Olivia.
“Liv, jangan merasa seperti itu.”
“Sabar itu yang hanya bisa kita lakukan.”
“Liv, kenapa di toko buku kita malah berbincang-bincang masalah ini?”
“Ayo, kita baca buku!” Ajak Melani.
“oke” Jawabku singkat.
“Saat memilih buku, tiba-tiba Handphoneku berdering keras.”
“Ayahku meneleponku, dengan rasa panik aku mengangkatnya.”
“Hallo Ayah, ada apa?”
“Liv, kamu dimana!” dengan nada keras dan menghentak.
“Olivia baru ke toko buku, Ayah.”
“Oh, sampai kapan kamu berbohong terus menerus?” Tanya Ayah Olivia.
“Olivia tidak berbohong, Ayah” Jawab Olivia dengan rasa ketakutan.
“Kamu bersama siapa?” Tanya Ayah Olivia.
“Olivia bersama Melani, ayah” Jawab Olivia.
“Main saja terus, Liv.”
“Kamu mau ikut-ikutan ibumu?” Tanya Ayah
“Ayah, Olivia tidak mengerti apa yang ayah maksud.”
“Ayah hanya bisa menyalahkan ibu dan memukuli ibu.”
“Olivia kesal, Ayah” Jawab Olivia pada ayahnya.
“Kalau begitu, apa ayah cerai saja dengan ibumu?” Tanya Ayah Olivia.
“Oh, jadi itu yang diinginkan ayah?”
“Biar ayah bisa bebas dan mencari wanita lain?”
“Hanya ibu yang sabar, menerima aib yang ayah lakukan!” Jawab Olivia dengan marah.
“Dasar anak tak tahu diri” Jawab ayah Olivia dengan mematikan Handphonenya.
Percakapan itu membuat Olivia menangis dengan keras, ia merasakan sakitnya. Ia mengelus dada dan menggumam. Akhirnya Melani membawa Olivia keluar dari toko buku itu.
“Olivia, ayo kita keluar dulu” Ajak Melani.
“Liv, sabar.”
“Janganlah menangis seperti ini.” Nasehat Melani kepada Olivia.
“Aku tidak tahan, Mel.”
“Melihat perlakuan ayahku.”
“Ayahku tak pernah percaya dengan apa yang aku lakukan.”
“Semua yang aku lakukan selalu salah.” Ungkap Olivia.
“Ya aku tahu, Liv.”
“Tenanglah dahulu, inilah hidup.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu” Jawab Melani.
“ini hanya ujian untukmu, Liv.”
“Kamu adalah wanita yang kuat.”
“Ambillah hikmah dari masalah ini.”
Akhirnya aku dan Melani pulang. Tiba-tiba dimeja tempat belajarku ada kado. Aku sempat bingung, darimana asal bungkusan kotak ini. Ketika aku buka didalamnya ada gaun berwarna merah jambu yang  cantik untukku dan secarik surat. Surat itu berisi minta maaf. Tiba-tiba Handphone Olivia berdering kembali. Belum sembuh dari luka dan tangisan itu, ia harus mendapatkan telephone dari ayahnya kembali.
“Iya, Ayah kenapa?” Tanya Olivia kepada ayahnya.
“Nak, kadonya sudah sampaikah?” Tanya Ayah kepada Olivia.
“Maksudnya, Ayah?” Jawab Olivia dengan nada kebingungan.
“Ayah, mengirimkan gaun merah jambu untukmu dan secarik surat.” Jawab Ayahnya.
“Oh, ini dari ayah?”
“Makasih ayah” Jawab Olivia dengan nada tidak percaya.
“Ya, nak.”
“Maafkan ayah nak, sudah keterlaluan.”
“Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, tambah pintar, dan berbakti pada orang tua” Ungkap ayahnya.
“Ya ayah, ini adalah kado yang sangat istimewa” Jawab Olivia.
“Nak, hati-hati ya” pesan ayah Olivia.
“Ya ayah” Jawabku singkat.
Dari masalah ini, ternyata ini adalah hikmah yang aku dapatkan.  Aku mendapatkan kado yang istimewa dari ayah. Terima Kasih Tuhan.

Cerpen " LASTRI " Karya: Uliyahwati


ULIYAHWATI
LASTRI
Ingar-bingar kehidupan jalan raya menambah panas cuaca saat matahari berada tepat di atas kepala Lastri. Tapi Lasti masih saja sibuk dengan mik di tangannya untuk menyanyikan lagu yang dialunkan oleh tape yang dia panggul sendiri. Dia masih belum merasa lelah dengan keringat yang menetes begitu derasnya, padahal dia baru saja keliling jalan dan beroperasi dari elep satu ke elep lain untuk mengharapkan beberapa koin dari mereka pengguna kendaraan setelah memberikan sedikit hiburan lagu tarling. Jalanan di siang hari memang sangat ramai, seperti saat ini yang membuat Lastri memanfaatkannya sebaik mungkin, dia tak mau ketinggalan dengan teman-teman satu komunitasnya yang juga mengamen. Dia ingat, dia punya satu lagi tempat langganan yang sudah biasa memintanya untuk menghibur, dia masih tetap semangat melewati keramaian lalu lintas untuk mendekati langganannya yang berada di tepi jalan seberang. Dia bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Lampu merah menyala, semua kendaraan berhenti, trik, mobil, dan motorpun berhenti. Mata Lastri menangkap satu potret.
Lastri masih terpaku dengan pemandangan di depan matanya. Dia masih melihat bagaimana kehangatan sebuah keluarga yang sedang menaiki motor hijau seperti motornya yang dia beli meski dengan sistem kredit, murni dari hasil keringatnya sendiri. Keringat yang terus menetes membasahi pipinya yang tebal oleh bedak. Pemandangan itu seakan membuat konsentrasi menyanyi Lastri menjadi buyar, lagu tarling yang biasa dia nyanyikan dengan sedikit goyangan itu menjadi tak jelas didengar oleh orang-orang proyek langganannya yang biasa dia hibur setelah mereka bekerja.
            Dia masih ingat betul pertama kali dia membeli motor itu, suaminya belum pandai menggunakan motor sehingga dialah yang lebih sering duduk di depan. Namun lama kelamaan, Sultoni suaminya bisa juga memboncenginya bersama dua orang anaknya yang masih kecil, Mawar dan Danu, buah cinta mereka yang masih duduk di Sekolah Dasar.
            Hati Lastri berkecambuk begitu hebatnya. Dia begitu merindukan Mawar dan Danu yang sebentar lagi akan masuk sekolah dari libur semester ganjil. Dia juga seorang ibu yang berhati nurani, meski dia telah pergi hampir tiga bulan lamanya. Kepergian Lastri bukan tanpa alasan. Sultoni, suaminyalah yang dia jadikan tersangka.
            Lastri sudah begitu muak dengan lelaki pengangguran itu. Sultoni tak pernah memberikan nafkah kepadanya sejak mereka menikah. Sultoni sudah sakit-sakitan, fisiknya lemah, dia mudah capek dan tidak diperbolehkan untuk bekerja berat. Dukun di desanya bilang, Sultoni dirasuki oleh jin perempuan yang menyukainya, sehingga jin itupun takkan rela jika Sultoni kelelahan. Tentu saja Lastri sudah tahu akan kelemahan fisik Sultoni yang mungkin berimbas pada masa depannya sebagai istri. Tapi Lastri takkan bisa lari dari kekasihnya kala itu. Hubungan mereka sudah ditentang oleh orang tua Lastri yang hendak menjodohkan Lastri dengan lelaki yang lebih baik dari Sultoni. Sayangnya, lelaki itu tak mau gadis yang sudah tak perawan lagi, karena Sultoni telah berhasil mendapatkan kesucian Lastri dengan cara yang begitu keji, dia merayu Lastri untuk melepaskan keperawanannya demi mendapatkan restu untuk menikah. Hingga sepuluh tahun telah berlalu, Lastri masih berandai : “Jika saja malam itu aku tak menginap di rumah Mas Sultoni.”.
            Sultoni begitu pencemburu. Dia selalu menanyakan pada Lastri akan kebenaran cerita orang-orang desa yang mengatakan bahwa Lastri telah jual diri. Tentu saja Lastri selalu menyangkalnya. Tapi Lastri adalah Lastri yang sudah terlalu bosan dengan pertanyaan Sultoni.
            Kekasih yang dulu dia bela-bela di depan keluarganya itu telah menjadi bajingan kakap. Sultoni bahkan tak pernah memberikannya uang sepeserpun. Sultoni hanya memberikannya uang sebesar dua puluh ribu rupiah, itupun sebagai mas kawin saat pernikahan mereka. Lastrilah yang selama ini menjadi seorang ibu dan ayah bagi keluarga kecilnya. Sebelumnya, Lastri bekerja sebagai tukang cuci di rumah ibu Retno, seseorang yang dipandang bijaksana di matanya, karena Ibu Retnolah yang selalu memberikan pekerjaan untuknya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya barang makan sehari-hari, namun lama kelamaan anak-anaknya membutuhkan biaya untuk sekolah sehingga Lastri harus mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan uangnya. Lastri hanyalah wanita desa yang tak punya keterampilan apapun, tapi dia punya suara emas saat mengaji bersama teman-temannya sewaktu kecil, dialah yang sering disuruh membaca al-Quran dengan nada yang indah saat ada acara pengajian di desanya. Tapi suara itu tak lagi mengumandangkan ayat suci. Suaranya sudah telaten dengan lagu-lagu tarling untuk menghibur orang di jalanan, dia telah menjadi pengamen dengan suara yang merdu dan wajah yang cantik yang membuatnya banyak mendapatkan saweran dibanding teman-teman satu komunitasnya. Awalnya Sultoni tak mengizinkan Lastri melakoni pekerjaannya itu, tapi lama kelamaan justru Sultonilah yang lebih menikmati hasil kerja keras Lastri.
Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin saat ini dia, suaminya, dan kedua anaknya masih tinggal di satu kamar dalam rumah orang tua Sultoni yang berisikan tiga keluarga kecil karena kedua kakak Sultoni yang sudah berkeluargapun masih tinggal di rumah orang tuanya. Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin Lastri akan terus bertengkar dengan kakak perempuan Sultoni karena tak pernah ikut iuran membeli beras untuk makan. Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin Lastri masih diintip oleh kakak laki-laki Sultoni saat mandi yang bila Lastri mengadu pada Sultoni, maka Sultoni akan menghajar habis-habisan kakak laki-lakinya itu dan keributan itu akan didengar oleh orang-orang di desanya. Kalau Lastri tak mengamen, mungkin dia masih terus dilihat dengan mata genit kakak laki-laki  ipar Sultoni yang hampir saja memperkosanya saat dia sedang tidur. Kemolekan Lastri begitu membawa keserakahan yang melihatnya.
            Tapi saat ini Lastri telah menjadi pengamen hebat di mata orang-orang. Dia sudah bisa membuat sepetak rumah dari sisa tanah milik orang tua Sultoni. Rumah itu hanya memiliki dinding depan dan belakang, karena dinding samping kanan sudah menempel dengan rumah orang tua Sultoni dan dinding samping kiri sudah menempel dengan rumah tetangganya yang lain. Rumah itu memiliki tiga sekat, sekat paling belakang untuk kamarnya dan suaminya, sekat berikutnya untuk kamar anak-anaknya, dan sekat depan untuk menaruh tv dan motor. Lastri memang belum bisa membuat dapur dan kamar mandi sendiri, dia masih menumpang di rumah orang tua Sultoni untuk urusan MCK. Tapi Lastri telah berhasil membangun kamar mandi yang ditutup oleh dinding mengganti bambu yang sudah bercelah, membeli pintu seng kemar mandi menggantikan kain penutup yang sudah robek, dan membeli kakus, sehingga tak perlu lagi ke sungai untuk buang air besar. Semuanya dia bangun di rumah orang tua Sultoni. Semuanya dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya. Kerja keras yang tak jauh dari bisikan-bisikan mulut para tukang gosip di desanya. Dia tak jarang menjadi bahan gunjingan orang-orang :”Hebat benergajihnya ngalahin PNS, masa jadi pengamen udah bisa buat rumah, beli motor, sama beli tipi ? Apa lagi kalau bukan karna jual diri ?”, “Tadi waktu saya lagi pergi ke kota buat blanja bulanan, saya lihat si Lastri ngamen depan banyak laki-laki di alun-alun. Goyangannya ituloh, waduuuuuh, ngalahin Trio Macan !”.
            Sehebat apapun Lastri dalam bekerja, nyatanya mulut orang-orang desa itu lebih hebat darinya. Kabar itu begitu santer berkembang di desa. Bahkan Mak Lastri yang tinggal di desa sebelah pernah bertandang ke rumah Lastri yang awalnya tak sudi untuk menemui Lastri sejak menikah dengan Sultoni. Dia menanyakan kebenaran berita itu, dan Lastri berhasil meyakinkan bahwa kabar itu hanya keluar dari mulut orang-orang yang iri terhadapnya. Dia juga berhasil membohongi ibunya bahwa keadannya baik-baik saja dalam tekanan batin yang dia rasakan.
            Saat ini Lastri telah tinggal di kontrakan kecil di kota seberang yang sebenarnya tak terlalu jauh dari kotanya itu, karena tempat itulah area Lastri menghibur orang-orang. Tapi Sultoni tak pernah tahu keberadaan Lastri, karena Sultoni hanya mengantar Lastri dengan motornya sampai perempatan saja, seterusnya dia menggunakan elep dan Sultoni tak tahu lagi ke mana arah Lastri pergi. Yang dia tahu, pukul lima sore dia menjemput kepulangan Lastri di perempatan dengan membawa banyak uang recehan yang nantinya akan ditukar dengan uang lembaran di warung Ibu Retno. Mulut-mulut orang desa memang begitu telaten dan lincah saat berbicara. Baru saja uang recehan itu dibawa Mawar untuk ditukar ke warung Ibu Retno, maka semua mata orang-orang desa yang sedang berbelanja di warung Ibu Retno akan memandang kaget dan dilanjutkan dengan pertanyaan selidik :”itu uang hasil ngamen Mak mu War ? Jumlahnya berapa ? Banyak bener ? Ngamennya di mana si ?”.
            Mawar sudah bukan anak kecil yang tak tahu apa-apa lagi, Mawar sudah cukup besar untuk tahu omongan orang-orang desa. Dia bahkan pernah memberanikan diri untuk melarang Maknya berangkat kerja. Namun tangan Mawar yang saat itu mengganduli kaki Lastri langsung ditendangnya sambil berkata :” kalau Mak gak kerja, kamu mau makan apa ? kamu gak akan sekolah kaya temen-temenmu War. Bapakmu juga tak kan pernah minum susu setiap hari. Kamukan tahu sendiri, sehabis sarapan saja harus minum susu tak mau minum air putih sekalipun seperti kita. Kalau kamu berani, silahkan ngomong sama Bapakmu yang bisanya cuma main dara terus sama temen-temennya itu, suruh kerja barang ke sawah cari rumput untuk dijual buat makan kambing. Jangan cuma ngabisin uang. Kamu pikir bapakmu itu orang yang bertanggungjawab ? Kalau menuduh yang bukan-bukan, bilangnya aku ini selingkuh, tapi justru dia yang tiap malam minta jatah di selangkangan tanpa peduli kalau aku ini pegel seharian manggul tip.”. Lastri bahkan tak perduli dengan siapa dia bicara.
            Sesekali Lastri menelpon Ibu Retno untuk menanyakan kabar anak-anaknya. Memang Ibu Retnolah yang dia anggap bisa menjaga rahasianya, dia selalu bercerita keluh kesah kehidupannya. Bahkan Ibu Retnolah satu-satunya orang yang dia pamiti saat akan minggat. Pagi itu, dia berdandan seperti biasanya. Cantik seperti biasanya, mengenakan kaos oblong, celana jeans, sepatu kets, dan tas pinggang tempat uang, juga tak lupa tape besar sebagai pengiring musik untuk menyanyinya. Dandananya yang tampak seperti biasanya itulah yang membuat Sultoni tak curiga, meskipun di waktu malam sebelumnya, Sultoni lagi-lagi membuat emosi Lastri naik dan terjadilah pertengkaran terhebat dari pertengkaran-pertengkaran sebelumnya.
            Pukul lima sore, Sultoni menjemput Lastri di perempatan. Dia tak juga melihat batang hidung Lastri hingga azan maghrib berkumandang. Dia menunggunya bahkan hingga pukul sembilan malam. Dia pulang dengan tanpa seorangpun diboncengannya. Malam itu kedua anaknya sudah tidur. Sultoni khawatir akan keadaan Lastri, dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan olehnya. Sudah puluhan kali dia menelpon istrinya dengan hp china yang dibelikan oleh Lastri, tapi nomor hp Lastri tak aktif. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Saat ini kekhawatirannya bercampur dengan rasa curiga seperti membenarkan omongan orang desa yang mengatakan bahwa Lastri punya selingkuhan orang kaya yang memberinya banyak uang, dan uang yang selama ini Lastri dapatkan adalah hasil jual diri bersama orang tersebut, atau Lastri nyasar, atau Lastri kecelakaan, atau Lastri bunuh diri. Berbagai macam pikiran buruk muncul dalam lamunan Sultoni hingga pagipun datang.
            Paginya Sultoni memberanikan diri untuk pergi ke kota mencari Lastri. Tapi Sultoni tak berhasil menemukan keberadaan Lastri, dia bahkan harus ditilang oleh polisi karena tak paham betul dengan rambu-rambu lalulintas, dia ditilang oleh polisi karena dia tak punya SIM. Polisi yang liar itu meminta uang pada Sultoni jika mau motornya tak disita sebagai tebusan kesalahannya. Sultoni tak bisa melakukan apapun, dia menjual hp satu-satunya yang dia punya untuk menghubungi Lastri untuk menebus pelanggarannya. Polisi itu benar-benar memanfaatkan keadaan Sultoni yang tak tahu apapun mengenai lalu lintas dengan menyuruhnya membayar uang sebesar tiga ratus ribu rupiah setara dengan harga hp yang dia jual.
            Tak tahan dengan kerinduan begitu mendalam yang dirasakan Lastri terhadap Mawar dan Danu, dia menghubungi Ibu Retno.
            “Bu, ini Lastri,” kata Lasti.
            “Iya Las, ada apa ?” jawab Ibu Retno di seberang sana.
            “Kabar anak-anak saya bagaimana Bu ?”
            “Anak-anakmu baik-baik saja Las, kamu kangen sama anakmu ? Anak-anakmu juga pasti kangen denganmu Las, sebentar lagi merekakan juga masuk sekolahnya. Oh ya, kemaren Mawar nanya tentang kamu. Kayaknya dia sudah tahu kalau kamu suka telpon saya Las,”
            “Tapi Ibu tak pernah bercerita dengan siapapunkan tentang saya Bu ?”
            “Insya Allah tak jaga rahasiamu Las. Tapi mungkin, Sultoni curiga karena saya suka kasih uang dan makanan ke Mawar sama Danu Las, mungkin Sultoni sudah mulai berpikir kalau uang itu adalah uang titipanmu buat Mawar sama Danu,”
            “Memangnya mas Sultoni nanya ke Ibu ?”
            “Sampai saat ini Sultoni sih gak nanya tentang kamu, tapi mungkin dia yang menyuruh Mawar untuk nanya ke saya, kamu suka telpon gak ke saya. Sultonikan sudah tahu kalau kamu suka cerita hal apapun sama saya,”
            “Lalu sekarang saya harus gimana Bu ? Jujur saya sangat rindu dengan anak-anak saya,”
            “Saya rasa kamu harus pulang Las, kasihan anak-anakmu itu. Mereka juga butuh kamu. Lagian uang persediaan di rumah kamu juga sepertinya sudah mulai habis, soalnya kalau Mawar beli apa-apa di sini, sudah pake uang ratusan ribu Las, pasti itu uang simpanan kan, dia gak pake uang recehan lagi,”
            “Iya Bu, terus terang saya juga pengen pulang, pengen ngajak anak-anak saya kumpul sama saya, tanpa mas Sultoni. Rasanya sudah tidak pengen lagi dekat-dekat dia. Nyatanya selama ini saya bisa cari uang. Jadi saya rasa saya tidak butuh dia Bu. Tapi...”
            “Tapi apa ? kamu masih cinta sama Sultoni ?”
            “Bukan bu, saya sudah benci sama dia. Saya cuma takut.”
            “Takut apa ?”
            “Akhir-akhir ini saya sering kecapean Bu, saya sering muntah-muntah, dan saya sudah tidak mens lagi Bu, sudah empat bulan tak mens Bu. Badan saya kurus, tapi perut saya besar.”
            “Apa ? kamu hamil ?”
            “Sepertinya begitu Bu, saya juga tidak mau anak saya lahir tanpa Bapak.”
            “Tapi Las, sebenarnya ada hal yang belum pernah saya ceritakan ke kamu. Tapi sekarang, sepertinya sudah saatnya kamu tahu,”
            “Apa Bu ?”
            “Semenjak kepergian kamu, anak-anakmu tak terurus Las, Sultoni sibuk cari-cari kamu. Habis itu dia ngelamun terus. Kamu tahukan anaknya Pak Samir juragan sapi itu?”
            “Rahma maksud Ibu ? dia itukan mantan pacarnya mas Sultoni.”
            “Iya Las, Rahma sering main ke rumahmu. Dia yang suka ngurusin anak-anakmu. Dia juga yang sering buatin sarapan dan bersihin rumahmu. Tetangga sudah pada ngegosipin Las. Katanya mereka berbuat zina. Habisnya, dari pagi sampe malem di rumahmu terus si Rahma. Pak Samir lama kelamaan juga gak tahan dengan kabar itu. Dia akhirnya meminta Sultoni benar-benar menikahinya Las. Sepertinya anak-anakmu yang sudah terlanjur dekat dengan Rahma juga kelihatan senang. Sebenarnya saya pengen ngasih tahu ini ke kamu dari dulu. Tapi saya bingung bagaimana cara mengatakannya. Dua hari lagi mereka mau ke KUA, dan gosipnya lagi, Sultonilah yang akan membantu Pak Samir buat ngurusin sapi-sapinya. Maaf Las, maafin saya,”
            Hati Lastri begitu hancur mendengar kabar itu. Sebesar apapun kebencian Lastri terhadap Sultoni, nyatanya masih ada setetes rasa yang dia harapkan dari aksi kepergiannya selama ini. Setidaknya dia berharap, Sultoni harus bisa yakin bahwa sebenarnya Lastri bisa minggat kapanpun yang Lastri mau, tapi dia baru melakukannya sekarang karena dia tak bisa meninggalkan Sultoni dalam kelemahannya, dan itu karena cinta.
            Matanya menerawang jauh kembali ke masa satu dekade sebelumya. Bagaimana dialah yang menjadi orang ketiga hubungan Sultoni dan Rahma, kecantikannyalah yang membuat Sultoni lebih memilih Lastri dibanding kekayaan keluarga Rahma. Bagaimana keduanya mengukuhkan hubungan hingga akhirnya sampai di gerbang penikahan. Bertahan dari sikap keluarga Sultoni yang tak menyukai Lastri yang telah menggagalkan pernikahan Sultoni dengan anak orang kaya seperti Rahma. Bertahan dari sikap keluarga Lastri yang tak menyukai laki-laki selemah Sultoni yang tak yakin bisa menjadi suami yang bertanggungjawab.
Dua hari kemudian....
            “Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Sularma binti Muhammad Samir dengan mas kawin uang sebesar Dua ratus ribu rupiah dibayar tunai”
            Kata sah begitu gegap gempita di kantor KUA. Senyum mengembang di bibir orang tua dan kakak-kakak Sultoni yang telah berhasil membohongi Mawar dan Danu bahwa maknya telah meninggal karena sudah tak ada kabar.
            Namun kebohongan itu sudah menjadi sebuah kebenaran saat kamar kontrakan Lastri sudah berbau busuk.
Setelah didobrak oleh orang-orang yang curiga karena penghuninyapun tak pernah keluar rumah, terlihatlah seorang tergantung dari atap kamar.  

Cerpen " Pecundang Bahagia " Karya : Badrudin


PECUNDANG BAHAGIA
Karya: Ahmad Badrudin

Tidak ada usaha yang sia-sia.Itulah salah satu pelajaran berharga yang dapat aku petik dalam pengembaraan kumenemukan jati diri. Bukan jati diri nama stadion di kota ini. Namun jati diri dalam menjalani hidup yang terkadang membosankan dan kadang kala terasa sangat mengharukan. Seandainya dipikir secara nalar, sekarang akulah yang menjadi seorang pecundang dan selamanya akan tetap menjadi pecundang. Namun yang pasti aku berharap akan menjadi pecundang yang selalu merasa bahagia meskipun hati ini kadangtersayat-sayat dan terasa perih.
Kenangan itu muncul lagimanakalasecarataksengajafotogadismanisituterpampangsecarajelasdilayarlaptop-kuketikaakusedangisengmembukafile-filelamakusaatmengerjakanskripsi yang tak juga kunjungselesai. Sakitmemang.Namunterasamenyenangkandapatmengenalcewekmoodyitu.
Wanita yang pernahmengguncangkanhatikuitu kini telahpergimeninggalkanhirukpikukduniaperkuliahansetelahdinyatakan lulus darisalahsatuuniversitasnegeri di kota Lawang Sewu ini. Setelahwisudatigatahun yang lalu, kabarterakhir yang akudengariasekarangsudahberkeluargadandikaruniaiseorangperimungil nan amat cantik bernamaBevhy Wulandari. Sekarangiajugatelahmenjadipegawainegeridanmengajar di salahsatu SMP di kotakelahirannya. RidaOktaviani, namagadis yang wangirambutnyamasihbiasaku rasakan jikaanginberhembus.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Sekarang aku telah sampai pada batas akhir pengembaraanku di kampus tersayang ini. Kembali kepada filosofi sederhana dunia perkuliahan. Aku dikeluarkan secara tidak terhormat atau aku keluar sendiri dengan menyandang gelar sarjana sastraku. Aku kembali menengok foto kedua orang tuaku yang penuh harap agar aku segera lulus dan mencari penghidupan sendiri yang layak. Kehidupan mandiri yang tidak menggantungkan diri pada orang tua lagi. Kini saatnya aku mengambil pilihan menjadi dewasa. Ya, kini aku telah dewasa.
“Tit... tit.. tit... tit... tiiittttt... tit... tit... tit...... tit... tit.. tit... tit... tiiittttt... tit... tit... tit.” nada jadul sms dari telepon genggam yang juga jadul milikku mengagetkan lamunanku.
“Bro, ayo ke kampus sekarang. Kamu gak mau DO kan. Ayo kita songsong masa depan dengan gemilang, bro, hehe. Langkah awal kita adalah konsultasi sama dosen pembimbing kita tercinta. Pak Samsul. Cepet bro, aku tunggu di depan B1.” begitu bunyi SMS yang terpampang di layar telepon genggamku yang kadang redup danmati sendiri.
Itulah bentuk keunikan dari isi hati dan pikiran sahabatku. Tetapi hal itu yang selalu menginspirasiku. Dasar salah satu pecundang bahagia yang selalu bermimpi tinggi. Sering juga disebut pemimpi kelas wahid. Olehkarenanyadiaseringmenghayaldalamdunia yang diciptakannyasendiritanpamenghiraukandunianyata yang tidakdapatdiajakkompromiuntukdiputarkembalikewaktulampau.Setalitigauang, akutidakjauhberbedadaridirinya.
Setengah jam kemudianakusampai di tempatperjanjianantaraakudantemankuitu. Pemandanganyang tergambartentangkehidupankampussianginitidakjauhberbedadarihari-harisebelumnya. Suasana lingkungan kampusku ini begitu asri. Banyakmahasiswahilirmudikdenganaktivitasmerekamasing-masing.Ada mahasiswa yang sedangbergerombolmembicarakan agenda kegiatanmereka yang menurutsebagiandarianggotagerombolantersebutkonyol.Ada pula mahasiswa yang tengahmenggodatemannya yang sedangbelajar. Ada pula yang baruselesaikuliah. Nampak pula wajahpenuhkemurungan yang entahapapermasalahan yang sedangdihadapiolehnya.
“Duh, manasihtuh orang.Katanyanungguakudi depan B1.” keluhkusambilmengedarkanpandangankesegalapenjuru.
Akhirnyapencariankumembuahkanhasil ketikaaku melihatwujudmanusiajadi-jadian yang sedangmenggodamahasiswi labil yang sedangduduk di bawahpohonrindangdepankantorjurusan.
“Dasarmanusiaaneh, nggaknyadarumurtuhanak.Udah semester tuaajamasihkegatelannggodainmahasiswi semester labil.” keluhku.
Sejuruskemudianakumenghampirisahabatkuitu.SidikDwiNugrohonamalengkapsahabatkaribkuitu. Bisadisebutkaribkarenasejak semester awalsampaisekarangnasibkitaselalu selaras dan sinkron. Bisadibilangnasib yang mempertemukankitadannasib pula yang membuatakudandiamengendapsepertiampas kopi lelet di kampusini hampir tujuhtahunlamanya.
Akan tetapi dibalik namaSidiqDwiNugroho itu tersimpan rahasia umum yang sebenarnya penting dan tidak penting. Nama SidiqDwiNugrohotabuuntukdiucapkan orang yang memilikitarafbiasadalam ukuran dia. Hanya dosen yang boleh menyebut nama itu. Di kalangan mahasiswa dia biasa dipanggil Sidik Copra. Copra berarti cowok pecinta rambutan. Ada satu lagi teman yang juga bernasib sama. Namanya Juki Andar Prasongko. Namun dia sudah menghadap Yang Mahakuasa duluan karena faktor obat alias over dosis.
“Bro, masih aja gak berubah kamu. Masih aja doyan nggodain mahasiswi yang lagi galau.” celetukku yang serta-merta mengagetkan Sidik.
“Hehe… Itung-itung usaha, Dan. Gak kayak kamu dari masuk kuliah sampai seusia dosen muda masih aja galau mikirin satu cewek. Sadar bro, cewek di dunia ini masih banyak. Kamu tuh cowok yang baik. Terlalu baik malahan. Seharusnya kamu bisa dapat cewek yang bisa menyayangi kamu apaa danya. Bukan ada apanya. Dani… Dani. Dengan kamu terus-terusan stagnan dengan orang yang sama terus, kamu gak bakalan bisa maju-maju. Gak akan bisa move on and always on.” ceramah Sidik kepadaku dengan gaya retorik kelas wahidnya.
“Eh, emang mas-nya berdua semester berapa?” tanya cewek yang sedari tadi ikut mendengarkan ceramah Ustad Sidik Copra.
“Dia udah semester limit, Mbak.” kataku.
“Alah, kayak kamumasih semester unyu-unyu aja.” balas Sidik.
“Jangan panggil Mbak donk, Mas. Khan aku masih semester awal. Mas berdua angkatan berapa?” tanya mahasiswi labil itu lagi.
“Iya-iya. Kami angkatan dua ribu. Aku pergi dulu ya. Pengen nemuin Pak Samsul.” sahutku lagi sambil beranjak mencari keberadaan dosen pembimbing skripsiku.
“Udah dulu ya, Sinta. Eh… Santi. Sinta apa Santi tadi?” tanya Sidik kepada gadis yang lumayan manis itu.
“Santi, Mas. Iya.. semangat ya nyelesein skripsinya. Moga bisa diwisuda tahun ini.” jawabnya dengan senyuman tulus yang begitu manis.
“Amin. Kamu juga semangat kuliahnya. Jangan sering bolos.” balas Sidik.
“Yuhu.”
Sidik beranjak meninggalkan Santi dan menyusulku untuk menemui dosen pembimbing skripsinya. Setelah mencari keberadaanku, dia menemukanku yang sedang asyik konsultasi dengan Pak Samsul. Dia juga ikut nimbrung. Dengan sopan ia menyalami Pak Samsul. Dan terjadi sedikit obrolan singkat tentang kegiatan yang kami lakukan akhir-akhir ini. Selain itu kami juga asyik ngobrol tentang harga BBM yang naik terus tiada henti. Satu jam penuh kami ngobrol bareng dosen yang sangat ramah itu sambil konsultasi skripsi yang sudah hampir kelar. Tinggal bab akhir saja. Sambil ngerevisi bab sebelumnya. Akhirnya kami minta diri pada Pak Samsul.
“Akhirnya kelar juga ya Bro. Nggak kerasa skripsi kita hampir selesai nih. Alhamdulillah.” kata Sidik kepadaku.
Sambil nyeruput kopi dihadapannya dia menyalakan rokok murahannya dan menghisapnya dengan nikmat. Dia memang paling suka dengan rokok. Lebih-lebih rokok yang dapat diajak kerjasama dengan kantongnya. Pernah suatu ketika dia nyeletuk tentang perbedaan antara rokok dan cewek. Dalam kamusnya, cewek itu nomor dua puluh tujuh. Nomor satu sampai dua puluh enamnya adalah rokok. Jadi, rokok itu dua puluh enam kali lebih penting daripada cewek. Begitu gurauannya dulu di kala senja ketika kami pulang bersama setelah mengikuti perkuliahan sore.
“Iya, Alhamdulillah” jawabku atas perkataannya tadi.
Sebenarnya perhatianku tidak fokus terhadap rangkaian kata demi kata yang diucapkan sahabatku itu. Perhatianku malahan dengan asyiknya teralihkan kepada seorang cewek yang duduk sendiri di pojokkan kantin yang sedang asyik membaca buku. Bukannya aku naksir atau apa. Namun ingatanku meluncur kepada memori ketika masih semester empat dulu. Di tempat yang sama dan di saat momen yang sama pula. Pada waktu itu saat dimana untuk pertama kalinya aku melihat Rida. Tiba-tiba saja gambaran suasana pada saat pertama kali aku bertemu dengan Rida muncul kembali.
Dulu pada saat semerter dua sampai empat, aku dan Rida cukup dekat. Memang benar aku ada rasa terhadap dirinya. Namun aku sadar dia sudah memiliki seseorang yang dia harapkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Aku sendiri hanya dianggap sebagai teman biasa. Bukan seseorang yang diharapkan olehnya. Alasan dia sederhana. Aku lebih enak dijadikan teman. Namun tidak ada yang sia-sia. Sedikit demi sedikit sebenarnya dia luluh juga terhadap perjuanganku untuk mendapatkan cinta darinya. Semakin hari kami semakin dekat. Malahan teman-teman yang lain menganggap kami pacaran. Namun entah apa yang dirasakan dia sebenarnya. Semuanya terlihat aneh dan misterius. Entah aku hanya mendapat harapan palsu. Atau aku saja yang terlalu percaya diri terus-terusan mengejarnya. Sampai-sampai kata sahabatnya, aku hanya membuat Rida sebel karena orang yang tidak suka dikejar-kejar namun terus saja dikejar ya pasti akan sebel juga.
Pernah suatu ketika saat aku berangkat kuliah Pendidikan Agama Islam di Fakultas Ekonomi, aku melihat seseorang hendak bunuh diri. Dia berdiri di atas atap gedung serba guna. Tempat dimana tulisan besar universitas kami tertulis. Sejurus kemudian aku menghampirinya hendak menolong. Setelah menaiki lantai demi lantai akhirnya aku sampai di lantai paling atas gedung tersebut. Aku kaget ternyata Rida yang hendak bunuh diri. Dalam sekejap tubuhku gemetaran. Bingung apa yang harus aku perbuat selanjutnya.
“apa yang sedang kamu lakukan, Rida?” tanyaku. 
Awalnya dia kaget. Dia tidak menjawab. Hanya menangis tersedu. Bahkan hendak meloncat turun. Aku tambah bingung dengan kelakuan Rida pada saat itu. Rida yang dalam bayanganku adalah sosok cewek yang selalu semangat dan mudah bergaul dengan siapa saja. Nyatanya juga mempunyai beban hidup yang aku sendiri pun tidak tahu.
“Masa depan kamu masih panjang, Rida. Apa yang kamu lakukan sekarang adalah tindakan yang tidak diridhoi oleh Allah. Neraka, Rida. Neraka yang siap menyambut kamu jika kamu bunuh diri. Apa kamu siap jika di akhirat nanti kamu masuk di neraka dan dibenci oleh Allah karena tindakanmu yang zalim terhadap diri kamu. Seandainya ada masalah, mungkin aku bisa membantu meringankan beban masalah tersebut.” bujukku panjang lebar.
Rida Nampak agak tenang namun dia masih terlihat sesenggukan karena tangisnya. Dalam diamnya, ia mulai beranjak dari pagar pembatas. Saat melihat kejadian itu ada secercah kebahagiaan yang muncul dalam diriku. Saat itu juga aku memeluk sahabatku yang hingga saat ini masih aku cintai tersebut dengan erat. Langit yang sedari tadi mendung akhirnya mulai menumpahkan tangisnya. Tubuh kami berdua basah kuyup karena guyuran air hujan. Dalam pelukanku itu, tangis Rida semakin menjadi. Aku ikut sedih dengan apa yang ia rasakan pada saat itu. Walau pun hingga saat ini aku tidak tahu beban apa yang ia pikul pada saat itu.
“Begitulah, Nak. Kadang kita tidak harus tahu untuk bisa merasakan. Begitu pula cintaku pada dirinya. Nikmati saja masa mudamu dan jangan lupa gunakan hatimu dalam menikmati hidupmu. Orang yang sukses adalah orang yang bisa menikmati hidupnya. Tidak ada usaha yang sia-sia dalam hidup ini.” panjang lebar aku bercerita kepada anakku tentang masa muda yang pernah aku alami.