ULIYAHWATI
LASTRI
Ingar-bingar
kehidupan jalan raya menambah panas cuaca saat matahari berada tepat di atas
kepala Lastri. Tapi Lasti masih saja sibuk dengan mik di tangannya untuk
menyanyikan lagu yang dialunkan oleh tape
yang dia panggul sendiri. Dia masih belum merasa lelah dengan keringat yang
menetes begitu derasnya, padahal dia baru saja keliling jalan dan beroperasi
dari elep satu ke elep lain untuk mengharapkan beberapa
koin dari mereka pengguna kendaraan setelah memberikan sedikit hiburan lagu
tarling. Jalanan di siang hari memang sangat ramai, seperti saat ini yang
membuat Lastri memanfaatkannya sebaik mungkin, dia tak mau ketinggalan dengan
teman-teman satu komunitasnya yang juga mengamen. Dia ingat, dia punya satu
lagi tempat langganan yang sudah biasa memintanya untuk menghibur, dia masih
tetap semangat melewati keramaian lalu lintas untuk mendekati langganannya yang
berada di tepi jalan seberang. Dia bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Lampu
merah menyala, semua kendaraan berhenti, trik, mobil, dan motorpun berhenti.
Mata Lastri menangkap satu potret.
Lastri
masih terpaku dengan pemandangan di depan matanya. Dia masih melihat bagaimana
kehangatan sebuah keluarga yang sedang menaiki motor hijau seperti motornya
yang dia beli meski dengan sistem kredit, murni dari hasil keringatnya sendiri.
Keringat yang terus menetes membasahi pipinya yang tebal oleh bedak.
Pemandangan itu seakan membuat konsentrasi menyanyi Lastri menjadi buyar, lagu
tarling yang biasa dia nyanyikan dengan sedikit goyangan itu menjadi tak jelas
didengar oleh orang-orang proyek langganannya yang biasa dia hibur setelah
mereka bekerja.
Dia masih ingat betul pertama kali
dia membeli motor itu, suaminya belum pandai menggunakan motor sehingga dialah
yang lebih sering duduk di depan. Namun lama kelamaan, Sultoni suaminya bisa
juga memboncenginya bersama dua orang anaknya yang masih kecil, Mawar dan Danu,
buah cinta mereka yang masih duduk di Sekolah Dasar.
Hati Lastri berkecambuk begitu
hebatnya. Dia begitu merindukan Mawar dan Danu yang sebentar lagi akan masuk
sekolah dari libur semester ganjil. Dia juga seorang ibu yang berhati nurani,
meski dia telah pergi hampir tiga bulan lamanya. Kepergian Lastri bukan tanpa
alasan. Sultoni, suaminyalah yang dia jadikan tersangka.
Lastri sudah begitu muak dengan
lelaki pengangguran itu. Sultoni tak pernah memberikan nafkah kepadanya sejak
mereka menikah. Sultoni sudah sakit-sakitan, fisiknya lemah, dia mudah capek
dan tidak diperbolehkan untuk bekerja berat. Dukun di desanya bilang, Sultoni
dirasuki oleh jin perempuan yang menyukainya, sehingga jin itupun takkan rela
jika Sultoni kelelahan. Tentu saja Lastri sudah tahu akan kelemahan fisik
Sultoni yang mungkin berimbas pada masa depannya sebagai istri. Tapi Lastri
takkan bisa lari dari kekasihnya kala itu. Hubungan mereka sudah ditentang oleh
orang tua Lastri yang hendak menjodohkan Lastri dengan lelaki yang lebih baik
dari Sultoni. Sayangnya, lelaki itu tak mau gadis yang sudah tak perawan lagi,
karena Sultoni telah berhasil mendapatkan kesucian Lastri dengan cara yang
begitu keji, dia merayu Lastri untuk melepaskan keperawanannya demi mendapatkan
restu untuk menikah. Hingga sepuluh tahun telah berlalu, Lastri masih berandai
: “Jika saja malam itu aku tak menginap
di rumah Mas Sultoni.”.
Sultoni begitu pencemburu. Dia
selalu menanyakan pada Lastri akan kebenaran cerita orang-orang desa yang mengatakan
bahwa Lastri telah jual diri. Tentu saja Lastri selalu menyangkalnya. Tapi
Lastri adalah Lastri yang sudah terlalu bosan dengan pertanyaan Sultoni.
Kekasih yang dulu dia bela-bela di
depan keluarganya itu telah menjadi bajingan kakap. Sultoni bahkan tak pernah
memberikannya uang sepeserpun. Sultoni hanya memberikannya uang sebesar dua
puluh ribu rupiah, itupun sebagai mas kawin saat pernikahan mereka. Lastrilah
yang selama ini menjadi seorang ibu dan ayah bagi keluarga kecilnya.
Sebelumnya, Lastri bekerja sebagai tukang cuci di rumah ibu Retno, seseorang
yang dipandang bijaksana di matanya, karena Ibu Retnolah yang selalu memberikan
pekerjaan untuknya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya barang makan
sehari-hari, namun lama kelamaan anak-anaknya membutuhkan biaya untuk sekolah
sehingga Lastri harus mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan uangnya.
Lastri hanyalah wanita desa yang tak punya keterampilan apapun, tapi dia punya
suara emas saat mengaji bersama teman-temannya sewaktu kecil, dialah yang
sering disuruh membaca al-Quran dengan nada yang indah saat ada acara pengajian
di desanya. Tapi suara itu tak lagi mengumandangkan ayat suci. Suaranya sudah
telaten dengan lagu-lagu tarling untuk menghibur orang di jalanan, dia telah
menjadi pengamen dengan suara yang merdu dan wajah yang cantik yang membuatnya
banyak mendapatkan saweran dibanding teman-teman satu komunitasnya. Awalnya
Sultoni tak mengizinkan Lastri melakoni pekerjaannya itu, tapi lama kelamaan
justru Sultonilah yang lebih menikmati hasil kerja keras Lastri.
Kalau
saja Lastri tak mengamen, mungkin saat ini dia, suaminya, dan kedua anaknya
masih tinggal di satu kamar dalam rumah orang tua Sultoni yang berisikan tiga
keluarga kecil karena kedua kakak Sultoni yang sudah berkeluargapun masih
tinggal di rumah orang tuanya. Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin Lastri
akan terus bertengkar dengan kakak perempuan Sultoni karena tak pernah ikut
iuran membeli beras untuk makan. Kalau saja Lastri tak mengamen, mungkin Lastri
masih diintip oleh kakak laki-laki Sultoni saat mandi yang bila Lastri mengadu
pada Sultoni, maka Sultoni akan menghajar habis-habisan kakak laki-lakinya itu
dan keributan itu akan didengar oleh orang-orang di desanya. Kalau Lastri tak
mengamen, mungkin dia masih terus dilihat dengan mata genit kakak
laki-laki ipar Sultoni yang hampir saja
memperkosanya saat dia sedang tidur. Kemolekan Lastri begitu membawa
keserakahan yang melihatnya.
Tapi saat ini Lastri telah menjadi
pengamen hebat di mata orang-orang. Dia sudah bisa membuat sepetak rumah dari
sisa tanah milik orang tua Sultoni. Rumah itu hanya memiliki dinding depan dan
belakang, karena dinding samping kanan sudah menempel dengan rumah orang tua
Sultoni dan dinding samping kiri sudah menempel dengan rumah tetangganya yang
lain. Rumah itu memiliki tiga sekat, sekat paling belakang untuk kamarnya dan
suaminya, sekat berikutnya untuk kamar anak-anaknya, dan sekat depan untuk
menaruh tv dan motor. Lastri memang belum bisa membuat dapur dan kamar mandi
sendiri, dia masih menumpang di rumah orang tua Sultoni untuk urusan MCK. Tapi
Lastri telah berhasil membangun kamar mandi yang ditutup oleh dinding mengganti
bambu yang sudah bercelah, membeli pintu seng kemar mandi menggantikan kain
penutup yang sudah robek, dan membeli kakus, sehingga tak perlu lagi ke sungai
untuk buang air besar. Semuanya dia bangun di rumah orang tua Sultoni. Semuanya
dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya. Kerja keras yang tak jauh dari
bisikan-bisikan mulut para tukang gosip di desanya. Dia tak jarang menjadi
bahan gunjingan orang-orang :”Hebat benergajihnya
ngalahin PNS, masa jadi pengamen udah bisa buat rumah, beli motor, sama beli
tipi ? Apa lagi kalau bukan karna jual diri ?”, “Tadi waktu saya lagi pergi ke kota buat blanja bulanan, saya lihat si
Lastri ngamen depan banyak laki-laki di alun-alun. Goyangannya ituloh,
waduuuuuh, ngalahin Trio Macan !”.
Sehebat apapun Lastri dalam bekerja,
nyatanya mulut orang-orang desa itu lebih hebat darinya. Kabar itu begitu
santer berkembang di desa. Bahkan Mak Lastri yang tinggal di
desa sebelah pernah bertandang ke rumah Lastri yang awalnya tak sudi untuk
menemui Lastri sejak menikah dengan Sultoni. Dia menanyakan kebenaran berita
itu, dan Lastri berhasil meyakinkan bahwa kabar itu hanya keluar dari mulut
orang-orang yang iri terhadapnya. Dia juga berhasil membohongi ibunya bahwa
keadannya baik-baik saja dalam tekanan batin yang dia rasakan.
Saat ini Lastri telah tinggal di
kontrakan kecil di kota seberang yang sebenarnya tak terlalu jauh dari kotanya
itu, karena tempat itulah area Lastri menghibur orang-orang. Tapi Sultoni tak
pernah tahu keberadaan Lastri, karena Sultoni hanya mengantar Lastri dengan
motornya sampai perempatan saja, seterusnya dia menggunakan elep dan Sultoni tak tahu lagi ke mana
arah Lastri pergi. Yang dia tahu, pukul lima sore dia menjemput kepulangan
Lastri di perempatan dengan membawa banyak uang recehan yang nantinya akan
ditukar dengan uang lembaran di warung Ibu Retno. Mulut-mulut orang desa memang
begitu telaten dan lincah saat berbicara. Baru saja uang recehan itu dibawa
Mawar untuk ditukar ke warung Ibu Retno, maka semua mata orang-orang desa yang
sedang berbelanja di warung Ibu Retno akan memandang kaget dan dilanjutkan
dengan pertanyaan selidik :”itu uang
hasil ngamen Mak mu War ? Jumlahnya berapa ? Banyak bener ? Ngamennya di mana
si ?”.
Mawar sudah bukan anak kecil yang
tak tahu apa-apa lagi, Mawar sudah cukup besar untuk tahu omongan orang-orang
desa. Dia bahkan pernah memberanikan diri untuk melarang Maknya berangkat
kerja. Namun tangan Mawar yang saat itu mengganduli kaki Lastri langsung
ditendangnya sambil berkata :” kalau Mak
gak kerja, kamu mau makan apa ? kamu gak akan sekolah kaya temen-temenmu War.
Bapakmu juga tak kan pernah minum susu setiap hari. Kamukan tahu sendiri,
sehabis sarapan saja harus minum susu tak mau minum air putih sekalipun seperti
kita. Kalau kamu berani, silahkan ngomong sama Bapakmu yang bisanya cuma main
dara terus sama temen-temennya itu, suruh kerja barang ke sawah cari rumput
untuk dijual buat makan kambing. Jangan cuma ngabisin uang. Kamu pikir bapakmu
itu orang yang bertanggungjawab ? Kalau menuduh yang bukan-bukan, bilangnya aku
ini selingkuh, tapi justru dia yang tiap malam minta jatah di selangkangan
tanpa peduli kalau aku ini pegel seharian manggul tip.”. Lastri bahkan tak
perduli dengan siapa dia bicara.
Sesekali Lastri menelpon Ibu Retno
untuk menanyakan kabar anak-anaknya. Memang Ibu Retnolah yang dia anggap bisa
menjaga rahasianya, dia selalu bercerita keluh kesah kehidupannya. Bahkan Ibu
Retnolah satu-satunya orang yang dia pamiti saat akan minggat. Pagi itu, dia
berdandan seperti biasanya. Cantik seperti biasanya, mengenakan kaos oblong,
celana jeans, sepatu kets, dan tas pinggang tempat uang, juga tak lupa tape besar sebagai pengiring musik untuk
menyanyinya. Dandananya yang tampak seperti biasanya itulah yang membuat
Sultoni tak curiga, meskipun di waktu malam sebelumnya, Sultoni lagi-lagi
membuat emosi Lastri naik dan terjadilah pertengkaran terhebat dari
pertengkaran-pertengkaran sebelumnya.
Pukul lima sore, Sultoni menjemput
Lastri di perempatan. Dia tak juga melihat batang hidung Lastri hingga azan
maghrib berkumandang. Dia menunggunya bahkan hingga pukul sembilan malam. Dia
pulang dengan tanpa seorangpun diboncengannya. Malam itu kedua anaknya sudah
tidur. Sultoni khawatir akan keadaan Lastri, dia takut terjadi hal yang tidak
diinginkan olehnya. Sudah puluhan kali dia menelpon istrinya dengan hp china
yang dibelikan oleh Lastri, tapi nomor hp Lastri tak aktif. Kekhawatirannya
semakin menjadi-jadi. Saat ini kekhawatirannya bercampur dengan rasa curiga
seperti membenarkan omongan orang desa yang mengatakan bahwa Lastri punya
selingkuhan orang kaya yang memberinya banyak uang, dan uang yang selama ini
Lastri dapatkan adalah hasil jual diri bersama orang tersebut, atau Lastri
nyasar, atau Lastri kecelakaan, atau Lastri bunuh diri. Berbagai macam pikiran
buruk muncul dalam lamunan Sultoni hingga pagipun datang.
Paginya Sultoni memberanikan diri
untuk pergi ke kota mencari Lastri. Tapi Sultoni tak berhasil menemukan
keberadaan Lastri, dia bahkan harus ditilang oleh polisi karena tak paham betul
dengan rambu-rambu lalulintas, dia ditilang oleh polisi karena dia tak punya
SIM. Polisi yang liar itu meminta uang pada Sultoni jika mau motornya tak disita
sebagai tebusan kesalahannya. Sultoni tak bisa melakukan apapun, dia menjual hp
satu-satunya yang dia punya untuk menghubungi Lastri untuk menebus
pelanggarannya. Polisi itu benar-benar memanfaatkan keadaan Sultoni yang tak
tahu apapun mengenai lalu lintas dengan menyuruhnya membayar uang sebesar tiga
ratus ribu rupiah setara dengan harga hp yang dia jual.
Tak tahan dengan kerinduan begitu
mendalam yang dirasakan Lastri terhadap Mawar dan Danu, dia menghubungi Ibu
Retno.
“Bu, ini Lastri,” kata Lasti.
“Iya Las, ada apa ?” jawab Ibu Retno
di seberang sana.
“Kabar anak-anak saya bagaimana Bu
?”
“Anak-anakmu baik-baik saja Las,
kamu kangen sama anakmu ? Anak-anakmu juga pasti kangen denganmu Las, sebentar
lagi merekakan juga masuk sekolahnya. Oh ya, kemaren Mawar nanya tentang kamu.
Kayaknya dia sudah tahu kalau kamu suka telpon saya Las,”
“Tapi Ibu tak pernah bercerita
dengan siapapunkan tentang saya Bu ?”
“Insya Allah tak jaga rahasiamu Las.
Tapi mungkin, Sultoni curiga karena saya suka kasih uang dan makanan ke Mawar
sama Danu Las, mungkin Sultoni sudah mulai berpikir kalau uang itu adalah uang
titipanmu buat Mawar sama Danu,”
“Memangnya
mas Sultoni nanya ke Ibu ?”
“Sampai saat ini Sultoni sih gak
nanya tentang kamu, tapi mungkin dia yang menyuruh Mawar untuk nanya ke saya,
kamu suka telpon gak ke saya. Sultonikan sudah tahu kalau kamu suka cerita hal
apapun sama saya,”
“Lalu sekarang saya harus gimana Bu
? Jujur saya sangat rindu dengan anak-anak saya,”
“Saya rasa kamu harus pulang Las,
kasihan anak-anakmu itu. Mereka juga butuh kamu. Lagian uang persediaan di
rumah kamu juga sepertinya sudah mulai habis, soalnya kalau Mawar beli apa-apa
di sini, sudah pake uang ratusan ribu Las, pasti itu uang simpanan kan, dia gak
pake uang recehan lagi,”
“Iya Bu, terus terang saya juga
pengen pulang, pengen ngajak anak-anak saya kumpul sama saya, tanpa mas
Sultoni. Rasanya sudah tidak pengen lagi dekat-dekat dia. Nyatanya selama ini
saya bisa cari uang. Jadi saya rasa saya tidak butuh dia Bu. Tapi...”
“Tapi
apa ? kamu masih cinta sama Sultoni ?”
“Bukan
bu, saya sudah benci sama dia. Saya cuma takut.”
“Takut
apa ?”
“Akhir-akhir ini saya sering
kecapean Bu, saya sering muntah-muntah, dan saya sudah tidak mens lagi Bu,
sudah empat bulan tak mens Bu. Badan saya kurus, tapi perut saya besar.”
“Apa
? kamu hamil ?”
“Sepertinya
begitu Bu, saya juga tidak mau anak saya lahir tanpa Bapak.”
“Tapi Las, sebenarnya ada hal yang
belum pernah saya ceritakan ke kamu. Tapi sekarang, sepertinya sudah saatnya
kamu tahu,”
“Apa
Bu ?”
“Semenjak kepergian kamu,
anak-anakmu tak terurus Las, Sultoni sibuk cari-cari kamu. Habis itu dia
ngelamun terus. Kamu tahukan anaknya Pak Samir juragan sapi itu?”
“Rahma
maksud Ibu ? dia itukan mantan pacarnya mas Sultoni.”
“Iya Las, Rahma sering main ke
rumahmu. Dia yang suka ngurusin anak-anakmu. Dia juga yang sering buatin
sarapan dan bersihin rumahmu. Tetangga sudah pada ngegosipin Las. Katanya
mereka berbuat zina. Habisnya, dari pagi sampe malem di rumahmu terus si Rahma.
Pak Samir lama kelamaan juga gak tahan dengan kabar itu. Dia akhirnya meminta
Sultoni benar-benar menikahinya Las. Sepertinya anak-anakmu yang sudah
terlanjur dekat dengan Rahma juga kelihatan senang. Sebenarnya saya pengen
ngasih tahu ini ke kamu dari dulu. Tapi saya bingung bagaimana cara
mengatakannya. Dua hari lagi mereka mau ke KUA, dan gosipnya lagi, Sultonilah
yang akan membantu Pak Samir buat ngurusin sapi-sapinya. Maaf Las, maafin
saya,”
Hati Lastri begitu hancur mendengar
kabar itu. Sebesar apapun kebencian Lastri terhadap Sultoni, nyatanya masih ada
setetes rasa yang dia harapkan dari aksi kepergiannya selama ini. Setidaknya
dia berharap, Sultoni harus bisa yakin bahwa sebenarnya Lastri bisa minggat
kapanpun yang Lastri mau, tapi dia baru melakukannya sekarang karena dia tak
bisa meninggalkan Sultoni dalam kelemahannya, dan itu karena cinta.
Matanya menerawang jauh kembali ke
masa satu dekade sebelumya. Bagaimana dialah yang menjadi orang ketiga hubungan
Sultoni dan Rahma, kecantikannyalah yang membuat Sultoni lebih memilih Lastri
dibanding kekayaan keluarga Rahma. Bagaimana keduanya mengukuhkan hubungan
hingga akhirnya sampai di gerbang penikahan. Bertahan dari sikap keluarga
Sultoni yang tak menyukai Lastri yang telah menggagalkan pernikahan Sultoni
dengan anak orang kaya seperti Rahma. Bertahan dari sikap keluarga Lastri yang
tak menyukai laki-laki selemah Sultoni yang tak yakin bisa menjadi suami yang
bertanggungjawab.
Dua hari kemudian....
“Saya terima nikah dan kawinnya
Rahma Sularma binti Muhammad Samir dengan mas kawin uang sebesar Dua ratus ribu
rupiah dibayar tunai”
Kata sah begitu gegap gempita di
kantor KUA. Senyum mengembang di bibir orang tua dan kakak-kakak Sultoni yang
telah berhasil membohongi Mawar dan Danu bahwa maknya telah meninggal karena
sudah tak ada kabar.
Namun kebohongan itu sudah menjadi
sebuah kebenaran saat kamar kontrakan Lastri sudah berbau busuk.
Setelah
didobrak oleh orang-orang yang curiga karena penghuninyapun tak pernah keluar
rumah, terlihatlah seorang tergantung dari atap kamar.