Dibalik Layar Kesuksesan
Oleh: Dewi Fatmawati
Pagi yang cerah bersama hangatnya sinar mentari seakan
menjadi hal yang luar biasa ketika aku berangkat sekolah. Dari kejauhan pun
terdengar kicauan burung-burung ikut serta dalam menyambut kebahagianku. Karena
pagi ini adalah hari pertama aku menginjakkan masa peralihan yaitu antara masa
anak-anak kemasa remaja atau biasanya orang-orang menyebutnya masa puber. Aku
segera bergegas meninggalkan rumah, padahal jam dinding masih menunjukkan pukul
06.00 WIB. Aku tidak mau hari bahagia ini terlewatkan begitu saja dengan
kecerobohanku karena terlambat masuk.
Dikehidupan baruku ini, aku telah diterima di perguruan
tinggi favorit yang aku dambakan sejak dulu. Sepanjang jalan pikiranku melayang
bersama angan-angan yang telah lama aku dambakan. Seketika itu, terbayang
ketika aku belajar setiap hari, dan ketika aku bekerja keras mengumpulkan uang
untuk bisa masuk perguruan tinggi favorit yang berada dalam perkotaan ini.
Kutelusuri jalanan ini dengan senyuman yang tidak pernah sirna sedikitpun dari
mulutku, walau kehidupan yang aku alami begitu keras. Dan sekarang saatnya aku
menuai apa yang telah aku tanam.
Dari kejauhan terlihat gedung berwarna biru yang
menampakkan kemegahannya. Gedung itu telah melambaikan tangan agar aku segera
menghampirinya. Langkahku pun semakin cepat karena tidak sabar untuk
menghampiri gedung tersebut. Tepat berada di depan tiang bendera aku berdiri,
aku tertegun melihat kemegahan gedung berwarna biru. Aku tidak pernah percaya
gedung yang selama ini hanya bisa ku lihat dari kejauhan, sekarang telah berada
tepat dikedua mataku. Akan tetapi, perasaan takut atau minder tiba-tiba muncul
dipikiranku.
Mataku memandang
jauh ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku sering melewati gedung
tersebut bersama teman-teman jalanan. Kemudian tepat di depan gerbang gedung
berwarna biru itu, aku sering mengkhayal seandainya aku dapat menjadi salah
satu siswa di sekolah tersebut. Tiba-tiba mulutku terbuka untuk bercerita
kepada teman-temanku bahwa aku ingin sekali masuk sekolah favorit di perkotaan ini.
Tapi, mereka justru tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku, mereka juga
mengejekku karena aku anak orang miskin, mereka beranggapan bahwa orang tuaku
tidak akan sanggup membayar biaya. Untuk makan sehari-hari saja masih kurang
apalagi diterima di perguruan tinggi tersebut.
“Aku ingin sekali menjadi mahasiswa di sekolah itu.”
kata Arman dengan memandang gedung tersebut.
“Ha ha ha kamu ini mengigau atau mau melawak?” ejek
Tono.
“Ha ha ha.” dengan serentak teman-temanku tertawa.
“Memangnya kenapa? Apakah tidak boleh aku kuliah
disana?” tanya Arman.
“Bukanya tidak boleh, tapi bangunlah dari tidurmu
Arman!” kata Tono.
“Aku tidak tidur!”
“Lantas mengapa kamu berkhayal setinggi itu?”
“Aku tidak berkhayal.”
“Ha ha ha, kamu ini lucu sekali. Apakah kamu tidak sadar
berkata seperti tadi?”
“Aku sadar!”
“Apakah kamu yakin akan diterima di perguruan tinggi
favorit itu? Kita ini hanya orang miskin tidak mungkin bisa kuliah disana. Coba
saja kamu lihat yang kuliah disana, apakah ada orang miskin seperti kita?”
tanya Tono.
“Iya Arman, di kampus sana itu hanya orang-orang kaya
dan pintar.” sahut Adi.
“Aku yakin, aku akan berusaha untuk bisa kuliah disana! Apakah hanya orang kaya saja yang bisa
kuliah disana? Kita juga bisa, asalkan kita mau berusaha dengan
sungguh-sungguh.” Jawab Arman.
“Ah, sudahlah Arman mimpimu itu terlalu tinggi.
Memangnya orang tuamu sanggup membayar biaya kuliah disana, untuk makan
sehari-hari saja masih kurang. Apalagi ini, bermimpi mendaftar perguruan tinggi
favorit itu.”
“Ha ha ha.” serentak teman-teman.
“Aku akan buktikan!” gumam Arman.
Semenjak perbincangan itu, aku menjadi murung dan bahkan
berpikir untuk mengurungkan impianku untuk menjadi salah satu mahasiswa di perguruan
tinggitersebut. Perguruan tinggi yang sudah bertahun-tahun aku dambakan,
perguruan tinggi dengan banyak prestasi yang dicapai, dan perguruan tinggi yang
banyak menghasilkan mahasiswanya sukses. Aku sadar dengan kondisi keluargaku
yang kurang mampu, kita bisa makan sehari saja sudah bersyukur.
Pekerjaan Ayahku yang hanya sebagai kuli bangunan, ia
bekerja jika ada orang di kampungku yang membangun rumah. Bahkan di kampungku
rata-rata keluarga yang kurang mampu. Sedangkan ibuku, ia hanya buruh cuci di
rumah-rumah tetangga yang gajinya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan
sehari-hari. Perbincangan itu selalu menghantui pikiranku, ada benarnya juga
perkataan teman-temanku. Akan tetapi, disisi lain aku ingin mewujudkan impianku
karena itu akan membuat orang tuaku bangga.
Sepulang sekolah aku melihat ibu sedang sibuk dengan
pekerjaannya, tapi tidak ku lihat sosok ayahku. Akhirnya, aku memberanikan diri
bertanya pada ibu.
“Ibu.” sapa Arman.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Ibu Arman.
“Iya Bu.”
“Iya sudah, segera lah ganti bajumu terus makan.”
“Bu, Arman boleh menanyakan sesuatu?”
“Iya boleh. Mau tanya apa, Nak?”
“Mmm, tapi ibu jawab jujur.”
“Iya, ada apa? sepertinya penting sekali.”
“Bu, boleh tidak kalau Arman melanjutkan kuliah di
kota?”
Wanita itu hanya diam dan berdiri melanjutkan
pekerjaannya. Akan tetapi, Arman tidak puas karena pertayaannya belum terjawab.
“Bu, kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku? Apakah aku
tidak boleh sekolah disana, Bu?” tanya Arman menghampiri ibunya.
“Bukannya tidak boleh Nak, tapi..”
“Tapi kenapa Bu? ” potong Arman.
“Tapi Ibu tidak bisa membiayainya.” Jawab Ibu Arman
dengan terisak.
“Tenang saja Bu. Arman akan bekerja keras untuk mencari
uang, dan Arman juga akan belajar setiap hari agar mendapatkan beasiswa.” kata
Arman dengan memeluk Ibunya.
Ternyata di balik pintu ayahku mendengar perbincanganku
dengan ibu. Betapa sakitnya hati orang tua jika tidak dapat mewujudkan impian
anaknya untuk mencapai kesuksesan. Semua orang tua ingin anaknya menjadi
sukses, tapi bagaimana perasaan orang tua jika anaknya ingin mewujudkan
impiannya. Namun, sebagai orang tua tidak dapat membantu untuk mewujudkan
impian tersebut.
Setelah kejadian siang tadi, sifat dan sikap ayah pun
menjadi berubah. Ia menjadi seorang pendiam. Ia tidak pernah berkumpul bersama
keluarga. Dan Ia juga jarang pulang ke rumah. Aku tidak tahu apa yang ia
lakukan di luar sana. Bahkan ibuku juga tidak tahu mengapa ayah jadi seperti
itu.
Suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah dari
kejauhan terlihat kerumunan orang-orang pasar sedang menggunjingkan orang yang
dikeroyok karena mencuri di salah satu tokoh di pasar, perasaanku tergugah
mengajak aku untuk melihat ada apa disana, dan siapa orang yang menjadi bahan
pembicaraan orang-orang disekitar. Aku berjalan setengah berlari mendekati
kerumunan orang-orang pasar itu. Hatiku bagai sebuah jarum di atas batu karang
yang tiba-tiba diserbu ombak laut yang begitu dahsyat, ketika melihat sosok
laki-laki setengah baya terbujur lemah dengan balutan darah disekujur tubuh.
Betapa sakitnya hatiku melihat sosok laki-laki yang merupakan kepala keluarga,
yang selalu terlihat kuat, dan selalu
mengayomi anak dan keluarganya. Sekarang, sosok itu berubah hanya terbujur
lemah tidak sadarkan diri. Laki-laki itu adalah ayahku.
Sesampai di rumah, ibuku tidak sanggup membendung air
matanya dan berkali-kali ia pingsan karena melihat suaminya lemah tidak berdaya
dengan balutan darah. ibuku adalah seorang wanita yang tangguh, aku tidak pernah melihat ibu menangis sampai
tidak berdaya. Dan aku juga tidak mengerti mengapa ayahku bisa melakukan
perbuatan seburuk itu.
Keesokkan harinya, ketika ibu bangun dari tidur dia
kaget karena disebelahnya tidak didapati sosok lelaki yang selalu menemani
malamnya. Ia hanya mendapati secarik kertas bertuliskan bahwa ayah akan pergi
jauh untuk mencari pekerjaan agar dapat menyekolahkan aku dan menafkahi
keluargaku. Seketika itu ibu menangis sekencang-kencangnya setelah membaca
surat yang disebelahnya. Dan aku berlari menghampiri ibuku. Aku sangat terpukul
ketika membaca surat tersebut. Aku merasa aku menjadi dalang dari segala
kekacauan keluargaku karena ambisiku yang terlalu tinggi untuk menjadi salah
satu siswa di sekolah favorit itu.
Semenjak itu, aku tidak pernah lelah untuk mengais
rezeki dijalanan. Demi kehidupan aku dan ibuku sehari-hari. Siapa lagi kalau
bukan aku. Setiap hari sepulang sekolah aku menjual suaraku, menjual tenagaku
mengangkuti barang-barang dagangan para pembeli dan penjual, dan memunguti
sampah-sampah dijalan demi mencari sesuap nasi serta untuk menunjang impianku.
Entah sampai kapan aku akan menjadi seperti ini, tubuh mungil ini tidak akan
kuat jikalau diforsir setiap hari. Malamnya pun aku harus belajar agar impian
itu lebih sempurna. Beberapa bulan selanjutnya ternyata ayahku tidak lupa
dengan janjinya, bahwa ia akan mengirimkan gajinya untuk keluarganya, walau
tidak seberapa.
Bulan demi bulan aku dan ibu lalui hidup tanpa adanya
lindungan dari pemimpin yang menjadi
pengayom keluarga. Dan akhirnya tahun pun berganti, hingga akhirnya aku
akan melaksanakan UN (Ujian Nasional) untuk tinggkat SMA. Seperti biasa,
sepulang dari les aku langsung bergegas ke perkotaan untuk mencari rezeki.
Aku bahagia ternyata penghasilanku hari
ini lebih banyak dari hari biasanya karena hari ini adalah hari jadi kota
Jakarta. Semua orang berbondong-bondong untuk ikut merayakan hari jadi kota
tersebut. Aku hampir saja tertabrak mobil yang berplat nomor “DH 222 TU”. Ternyata rasa iba sedang
bersemayam dibenak orang yang berada
dalam mobil itu, dia keluar dan hendak menolong aku. Karena lukaku tidak
terlalu parah, maka orang tersebut hanya memberikanku uang dan bergegas pergi,
sepertinya ada sesuatu yang lenih penting dari pada aku. Senja pun datang
menghampiri aku, mengajak untuk pulang, karena sudah aku terlarut dalam
keramaian ini.
Disepanjang jalan aku tersenyum, ingin segera kembali ke
rumah dan memberikan kabar bahagia ini untuk ibu, tapi disisi lain luka
ringanku terasa sakit. Itu semua tidak menjadi alasan untuk pulang ke rumah. Sesampai
didepan rumah, aku melihat sepasang sepatu hitam mengkilap yang ukuranya pun
seperti ukuran sepatu ayahku dulu. Pikiranku terbang melayang, menerka-nerka
apakah yang ada di dalam rumah adalah ayahku yang sudah bertahun-tahun tidak
pulang, ataukah seorang yang hendak singgah sebentar di rumahku. Namun tidak
mungkin ada orang kaya singgah di gubuk yang sudah tidak layak itu. Hanya orang
kaya yang mempunyai sepatu sebagus itu. Ataukah
memang ayahku sudah menjadi orang sukses.
“Ayah….” sapa Arman.
Laki-laki yang disapa Arman itu pun menengok dengan
wajah sedih dan bingung.
“Ibu, mengapa ibu menangis? Anda siapa? ada keperluan
apa Anda di rumah saya?” tanya Arman bingung.
“Maaf Nak, saya polisi dari Nusa Tenggara Timur. Kesini
ingin mengabarkan kepada kelurga Pak Sahid bahwa Pak Sahid menjadi korban salah
tembak di peperangan antar warga dan polisi disana. Kami ingin mengucapkan bela
sungkawa dan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan salah satu teman kami.”
Jawab lelaki yang berseragam tersebut.
“Dimana ayah saya?” Tanya Arman sambil menangis.
“Ayah adik masih di sana, dan besok akan diantarkan
jenazanya ke jawa.” Jawab lelaki itu.
Kejadian itu, membuatku tergugah untuk selalu menjadi
orang yang tabah dan selalu semangat tidak kemal putus asa. Kini saatnya aku
membuktikan bahwa aku bisa menjadi sukses demi pengorbanan mereka yaitu keluargaku.
Tet tet tet, bel sekolah pun berbunyi menandakan bahwa
sekolah sudah masuk. Aku bergegas menuju kelas sambil menghapus luka lama yang
selalu ada dalam hati ini. Pengorbanan orang-orang yang aku sayangi demi ambisi
impianku.dan inilah saatnya aku menuai buah hasil yang sudah aku tanam
bertahun-tahun yang lalu.