Friday, 13 November 2015

Cerpen " Dibalik Layar Kesuksesan" Karya : Dewi Fatmawati


Dibalik Layar Kesuksesan
Oleh: Dewi Fatmawati
Pagi yang cerah bersama hangatnya sinar mentari seakan menjadi hal yang luar biasa ketika aku berangkat sekolah. Dari kejauhan pun terdengar kicauan burung-burung ikut serta dalam menyambut kebahagianku. Karena pagi ini adalah hari pertama aku menginjakkan masa peralihan yaitu antara masa anak-anak kemasa remaja atau biasanya orang-orang menyebutnya masa puber. Aku segera bergegas meninggalkan rumah, padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku tidak mau hari bahagia ini terlewatkan begitu saja dengan kecerobohanku karena terlambat masuk.
Dikehidupan baruku ini, aku telah diterima di perguruan tinggi favorit yang aku dambakan sejak dulu. Sepanjang jalan pikiranku melayang bersama angan-angan yang telah lama aku dambakan. Seketika itu, terbayang ketika aku belajar setiap hari, dan ketika aku bekerja keras mengumpulkan uang untuk bisa masuk perguruan tinggi favorit yang berada dalam perkotaan ini. Kutelusuri jalanan ini dengan senyuman yang tidak pernah sirna sedikitpun dari mulutku, walau kehidupan yang aku alami begitu keras. Dan sekarang saatnya aku menuai apa yang telah aku tanam.
Dari kejauhan terlihat gedung berwarna biru yang menampakkan kemegahannya. Gedung itu telah melambaikan tangan agar aku segera menghampirinya. Langkahku pun semakin cepat karena tidak sabar untuk menghampiri gedung tersebut. Tepat berada di depan tiang bendera aku berdiri, aku tertegun melihat kemegahan gedung berwarna biru. Aku tidak pernah percaya gedung yang selama ini hanya bisa ku lihat dari kejauhan, sekarang telah berada tepat dikedua mataku. Akan tetapi, perasaan takut atau minder tiba-tiba muncul dipikiranku.

Mataku memandang  jauh ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku sering melewati gedung tersebut bersama teman-teman jalanan. Kemudian tepat di depan gerbang gedung berwarna biru itu, aku sering mengkhayal seandainya aku dapat menjadi salah satu siswa di sekolah tersebut. Tiba-tiba mulutku terbuka untuk bercerita kepada teman-temanku bahwa aku ingin sekali masuk sekolah favorit di perkotaan ini. Tapi, mereka justru tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku, mereka juga mengejekku karena aku anak orang miskin, mereka beranggapan bahwa orang tuaku tidak akan sanggup membayar biaya. Untuk makan sehari-hari saja masih kurang apalagi diterima di perguruan tinggi tersebut.
“Aku ingin sekali menjadi mahasiswa di sekolah itu.” kata Arman dengan memandang gedung tersebut.
“Ha ha ha kamu ini mengigau atau mau melawak?” ejek Tono.
“Ha ha ha.” dengan serentak teman-temanku tertawa.
“Memangnya kenapa? Apakah tidak boleh aku kuliah disana?” tanya Arman.
“Bukanya tidak boleh, tapi bangunlah dari tidurmu Arman!” kata Tono.
“Aku tidak tidur!”
“Lantas mengapa kamu berkhayal setinggi itu?”
“Aku tidak berkhayal.”
“Ha ha ha, kamu ini lucu sekali. Apakah kamu tidak sadar berkata seperti tadi?”
“Aku sadar!”
“Apakah kamu yakin akan diterima di perguruan tinggi favorit itu? Kita ini hanya orang miskin tidak mungkin bisa kuliah disana. Coba saja kamu lihat yang kuliah disana, apakah ada orang miskin seperti kita?” tanya Tono.
“Iya Arman, di kampus sana itu hanya orang-orang kaya dan pintar.” sahut Adi.
“Aku yakin, aku akan berusaha untuk bisa kuliah  disana! Apakah hanya orang kaya saja yang bisa kuliah disana? Kita juga bisa, asalkan kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.” Jawab Arman.
“Ah, sudahlah Arman mimpimu itu terlalu tinggi. Memangnya orang tuamu sanggup membayar biaya kuliah disana, untuk makan sehari-hari saja masih kurang. Apalagi ini, bermimpi mendaftar perguruan tinggi favorit itu.”
“Ha ha ha.” serentak teman-teman.
“Aku akan buktikan!” gumam Arman.
Semenjak perbincangan itu, aku menjadi murung dan bahkan berpikir untuk mengurungkan impianku untuk menjadi salah satu mahasiswa di perguruan tinggitersebut. Perguruan tinggi yang sudah bertahun-tahun aku dambakan, perguruan tinggi dengan banyak prestasi yang dicapai, dan perguruan tinggi yang banyak menghasilkan mahasiswanya sukses. Aku sadar dengan kondisi keluargaku yang kurang mampu, kita bisa makan sehari saja sudah bersyukur.
Pekerjaan Ayahku yang hanya sebagai kuli bangunan, ia bekerja jika ada orang di kampungku yang membangun rumah. Bahkan di kampungku rata-rata keluarga yang kurang mampu. Sedangkan ibuku, ia hanya buruh cuci di rumah-rumah tetangga yang gajinya tidak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Perbincangan itu selalu menghantui pikiranku, ada benarnya juga perkataan teman-temanku. Akan tetapi, disisi lain aku ingin mewujudkan impianku karena itu akan membuat orang tuaku bangga.
Sepulang sekolah aku melihat ibu sedang sibuk dengan pekerjaannya, tapi tidak ku lihat sosok ayahku. Akhirnya, aku memberanikan diri bertanya pada ibu.
“Ibu.” sapa Arman.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Ibu Arman.
“Iya Bu.”
“Iya sudah, segera lah ganti bajumu terus makan.”
“Bu, Arman boleh menanyakan sesuatu?”
“Iya boleh. Mau tanya apa, Nak?”
“Mmm, tapi ibu jawab jujur.”
“Iya, ada apa? sepertinya penting sekali.”
“Bu, boleh tidak kalau Arman melanjutkan kuliah di kota?”
Wanita itu hanya diam dan berdiri melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, Arman tidak puas karena pertayaannya belum terjawab.
“Bu, kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku? Apakah aku tidak boleh sekolah disana, Bu?” tanya Arman menghampiri ibunya.
“Bukannya tidak boleh Nak, tapi..”
“Tapi kenapa Bu? ” potong Arman.
“Tapi Ibu tidak bisa membiayainya.” Jawab Ibu Arman dengan terisak.
“Tenang saja Bu. Arman akan bekerja keras untuk mencari uang, dan Arman juga akan belajar setiap hari agar mendapatkan beasiswa.” kata Arman dengan memeluk Ibunya.
Ternyata di balik pintu ayahku mendengar perbincanganku dengan ibu. Betapa sakitnya hati orang tua jika tidak dapat mewujudkan impian anaknya untuk mencapai kesuksesan. Semua orang tua ingin anaknya menjadi sukses, tapi bagaimana perasaan orang tua jika anaknya ingin mewujudkan impiannya. Namun, sebagai orang tua tidak dapat membantu untuk mewujudkan impian tersebut.
Setelah kejadian siang tadi, sifat dan sikap ayah pun menjadi berubah. Ia menjadi seorang pendiam. Ia tidak pernah berkumpul bersama keluarga. Dan Ia juga jarang pulang ke rumah. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di luar sana. Bahkan ibuku juga tidak tahu mengapa ayah jadi seperti itu.
Suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah dari kejauhan terlihat kerumunan orang-orang pasar sedang menggunjingkan orang yang dikeroyok karena mencuri di salah satu tokoh di pasar, perasaanku tergugah mengajak aku untuk melihat ada apa disana, dan siapa orang yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang disekitar. Aku berjalan setengah berlari mendekati kerumunan orang-orang pasar itu. Hatiku bagai sebuah jarum di atas batu karang yang tiba-tiba diserbu ombak laut yang begitu dahsyat, ketika melihat sosok laki-laki setengah baya terbujur lemah dengan balutan darah disekujur tubuh. Betapa sakitnya hatiku melihat sosok laki-laki yang merupakan kepala keluarga, yang selalu terlihat kuat,  dan selalu mengayomi anak dan keluarganya. Sekarang, sosok itu berubah hanya terbujur lemah tidak sadarkan diri. Laki-laki itu adalah ayahku.
Sesampai di rumah, ibuku tidak sanggup membendung air matanya dan berkali-kali ia pingsan karena melihat suaminya lemah tidak berdaya dengan balutan darah. ibuku adalah seorang wanita yang tangguh, aku  tidak pernah melihat ibu menangis sampai tidak berdaya. Dan aku juga tidak mengerti mengapa ayahku bisa melakukan perbuatan seburuk itu.
Keesokkan harinya, ketika ibu bangun dari tidur dia kaget karena disebelahnya tidak didapati sosok lelaki yang selalu menemani malamnya. Ia hanya mendapati secarik kertas bertuliskan bahwa ayah akan pergi jauh untuk mencari pekerjaan agar dapat menyekolahkan aku dan menafkahi keluargaku. Seketika itu ibu menangis sekencang-kencangnya setelah membaca surat yang disebelahnya. Dan aku berlari menghampiri ibuku. Aku sangat terpukul ketika membaca surat tersebut. Aku merasa aku menjadi dalang dari segala kekacauan keluargaku karena ambisiku yang terlalu tinggi untuk menjadi salah satu siswa di sekolah favorit itu.
Semenjak itu, aku tidak pernah lelah untuk mengais rezeki dijalanan. Demi kehidupan aku dan ibuku sehari-hari. Siapa lagi kalau bukan aku. Setiap hari sepulang sekolah aku menjual suaraku, menjual tenagaku mengangkuti barang-barang dagangan para pembeli dan penjual, dan memunguti sampah-sampah dijalan demi mencari sesuap nasi serta untuk menunjang impianku. Entah sampai kapan aku akan menjadi seperti ini, tubuh mungil ini tidak akan kuat jikalau diforsir setiap hari. Malamnya pun aku harus belajar agar impian itu lebih sempurna. Beberapa bulan selanjutnya ternyata ayahku tidak lupa dengan janjinya, bahwa ia akan mengirimkan gajinya untuk keluarganya, walau tidak seberapa.
Bulan demi bulan aku dan ibu lalui hidup tanpa adanya lindungan dari pemimpin yang menjadi  pengayom keluarga. Dan akhirnya tahun pun berganti, hingga akhirnya aku akan melaksanakan UN (Ujian Nasional) untuk tinggkat SMA. Seperti biasa, sepulang dari les aku langsung bergegas ke perkotaan untuk mencari rezeki. Aku  bahagia ternyata penghasilanku hari ini lebih banyak dari hari biasanya karena hari ini adalah hari jadi kota Jakarta. Semua orang berbondong-bondong untuk ikut merayakan hari jadi kota tersebut. Aku hampir saja tertabrak mobil yang berplat nomor “DH 222 TU”. Ternyata rasa iba sedang bersemayam dibenak orang  yang berada dalam mobil itu, dia keluar dan hendak menolong aku. Karena lukaku tidak terlalu parah, maka orang tersebut hanya memberikanku uang dan bergegas pergi, sepertinya ada sesuatu yang lenih penting dari pada aku. Senja pun datang menghampiri aku, mengajak untuk pulang, karena sudah aku terlarut dalam keramaian ini.
Disepanjang jalan aku tersenyum, ingin segera kembali ke rumah dan memberikan kabar bahagia ini untuk ibu, tapi disisi lain luka ringanku terasa sakit. Itu semua tidak menjadi alasan untuk pulang ke rumah. Sesampai didepan rumah, aku melihat sepasang sepatu hitam mengkilap yang ukuranya pun seperti ukuran sepatu ayahku dulu. Pikiranku terbang melayang, menerka-nerka apakah yang ada di dalam rumah adalah ayahku yang sudah bertahun-tahun tidak pulang, ataukah seorang yang hendak singgah sebentar di rumahku. Namun tidak mungkin ada orang kaya singgah di gubuk yang sudah tidak layak itu. Hanya orang kaya yang mempunyai sepatu sebagus itu. Ataukah  memang ayahku sudah menjadi orang sukses.
“Ayah….” sapa Arman.
Laki-laki yang disapa Arman itu pun menengok dengan wajah sedih dan bingung.
“Ibu, mengapa ibu menangis? Anda siapa? ada keperluan apa Anda di rumah saya?” tanya Arman bingung.
“Maaf Nak, saya polisi dari Nusa Tenggara Timur. Kesini ingin mengabarkan kepada kelurga Pak Sahid bahwa Pak Sahid menjadi korban salah tembak di peperangan antar warga dan polisi disana. Kami ingin mengucapkan bela sungkawa dan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan salah satu teman kami.” Jawab lelaki yang berseragam tersebut.
“Dimana ayah saya?” Tanya Arman sambil menangis.
“Ayah adik masih di sana, dan besok akan diantarkan jenazanya ke jawa.” Jawab lelaki itu.
Kejadian itu, membuatku tergugah untuk selalu menjadi orang yang tabah dan selalu semangat tidak kemal putus asa. Kini saatnya aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi sukses demi pengorbanan mereka yaitu keluargaku.
Tet tet tet, bel sekolah pun berbunyi menandakan bahwa sekolah sudah masuk. Aku bergegas menuju kelas sambil menghapus luka lama yang selalu ada dalam hati ini. Pengorbanan orang-orang yang aku sayangi demi ambisi impianku.dan inilah saatnya aku menuai buah hasil yang sudah aku tanam bertahun-tahun yang lalu.

Cerpen "Putri" Karya Bevi Yulisa"


Bevi Yulisa
PUTRI
Malam makin larut. Suasana sepi menyelubungi kamar empat segi itu. Yang kedengaran, hanya bunyi kipas. Di suatu sudut, seorang lelaki terduduk lesu. Badannya diikatdi sebuah kursi kayu.

“Kenapa kau buat aku begini Putri?”  suara garau itu kedengaran lemah sekali.

Tiada jawapan. Sunyi dan sepi seperti tadi. yang kedengaran hanya bunyi kipas siling berpusing perlahan. Berkeriut bunyinya, juga seperti tadi. Angin deras menderu membanting tingkap kayu yang tadinya ternganga lebar. Lelaki itu tersentak. Wajahnya dinaikkan. Dalam cahaya samar, dia dapat melihat seraut wajah yang dahulunya dia kenal amat. Dahulu, wajah itu yang dia puja dan belai.

“Bodoh!” pemilik seraut wajah itu bersuara keras lantas mendekati tingkap kayu lalu dikunci dan kemudian dia kembali duduk bersandar di tiang rumah.

“Kau lapar?” Diam tiada jawapan. Lelaki itu masih di posisi tadi.

“Hey jantan aku tanya ni! Kau lapar tidak?!”

“Lepaskan aku,” lirih suaranya sambil menghantar pandang ke arah perempuan yang duduk di hadapannya.

“Kau tak faham bahasa kah? Lain aku tanya, lain yang kau jawab!.
Fadhil memalingkan wajahnya.

“Pandang muka aku!” amarah perempuan itu. Rambut Fadhil ditarik.

“Aku sudah lama menderita! Dan selama itu juga aku simpan dendam aku pada kau. Kau ingat lagi tidak jantan keparat?”

Putri.. Aku cintakan kau. Kau sudah jadi isteri aku Putri,”

Cuih ! ludah putih berbuih kecil-kecil tepat mengenai wajah Fadhil.

“Isteri?” tawa perempuan itu meledak, nyaring dan panjang. Seraya itu besi panjang tadi dibuang ke lantai. Gemerincing bunyinya bergema. Perempuan itu mencapai sebilah pisau di hujung meja, dan dilayang-layangkan di depan mata Fadhil.

“Kau sudah musnahkan hidupku. Kau musnahkan hidup aku! Kau ingat lagi Fadhil, apa yang jantan keparat itu lakukan pada aku? Kau ingat lagi tidak?” bentaknya. Fadhil tunduk tidak berkutik sedikit pun. Pisau pemotong daging yang tajam didekatkan ke leher Fadhil.

“Siapa jantan keparat itu? Kau kenal bukan? Jawab Fadhil. Jawab!”

“Cukup! Anak siapa yang kau kandung hah?!” amarah Pak Tahar tak dapat di tahankan lagi. Diterajangnya tubuh kecil Putri. Mengerekot anaknya menahan sakit. Putri coba bangkit, tapi tubuhnya sudah terlalu lemah. Tangannya meraba-raba mencari kaki milik Abah. Dia sendiri tahu, sujud dan cium kaki abah juga tidak mampu meredakan amarah abah. Tapi hanya itu yang dia mampu.

“Aku besarkan kau dengan sempurna, aku didik kau dengan ilmu dunia akhirat, tapi ini yang kau balas. Anak tak berguna! Kau panggil Ehsan datang sekarang. Aku nikahkan kau dengan Ehsan malam ini juga!”

“Ampunkan Putri abah. Ini bukan anak Ehsan,” kaki abahnya di peluk erat. Isaknya makin deras.

“Abah, ampunkan Putri,” serunya lagi. Terhenjut-henjut bahunya seiring dengan isak tangis. Sejurus itu badannya terasa melambung lagi diterajang Pak Tahar. Bibirnya sudah pecah berdarah. Badannya lebam akibat diterajang dan dipukul Pak Tahar.
Amarah Pak Tahar semakin menggila bila mendengarkan bahawa anak yang dikandung itu bukan dari benih Ehsan. Nafas Pak Tahar sudah tidak tentu. Sesak dadanya.

“Anak tak tahu diuntung. Mengulit lelaki bagai pelacur. Tak pernah ada dalam keturunan aku ini, tarafnya pelacur seperti kau. Kau bukan anakku lagi. Kau bukan anakku,” ujarnya sambil memegang dada yang terasa ketat.

“Abah.. Putri bukan seperti apa yang abah sangka. Putri diperkosa abah. Putri diperkosa,” ujarnya dalam lirih. Perlahan-lahan dia mendekati abahnya yang hampir jatuh terjelepuk ke lantai. Dia ambil tangan abahnya lalu digenggam erat.

Putri tidak berniat untuk memalukan abah,”

“Jangan sentuh aku.  Aku malu punya anak seperti kau. Kau bukan anak aku,”

“Abah.. Putri tidak ada siapa-siapa lagi dalam dunia ini selain abah. Tolong jangan buang Putri abah,” raungnya.

“Siapa laki-laki itu Putri?”

Fadhil,” ujarnya perlahan.

“Rogol apanya sedang Fadhil itu kau kenal sejak kecil!” amarah abahnya memuncak kembali. Kali ini tiada lagi pukulan keras abah di atas badan lansingnya. Orang tua itu meluru masuk ke kamar Putri seketika kemudian keluar kembali dengan timbunan pakaian serta sebuah kain lalu dilemparkan di hadapan muka Putri.

“Nah! Kau ambil ini, kau bungkus dan keluar dari rumahku. Mulai hari ini, aku haramkan kau jejakkan kaki di rumah ini.

“Abah.. jangan buat Putriseperti ini abah. Putri minta ampun,” rayunya dalam isak tangis yang semakin kuat. Dia peluk kaki abah lalu dicium kaki abah  dan seperti tadi kaki abah keras menyepak sekujur tubuh yang dilihat kotor berpalit lumpur.

Isak tangis Putri berlagu panjang lalu tenggelam dalam dinginnya malam.

Fadhil bin Jupri, aku nikahkan dikau dengan Putri Cahyaning binti Abdullah berwakil walikan hakim dengan mas kahwinnya lapan puluh tinggit tunai,”
Lafaz akad tuan kadi disambut dengan sekali dalam satu helaan nafas, dan pada saat, jua detik itu, Putri Cahyaning sah bergelar isteri kepada seorang lelaki bernama Fadhil. Fadhil yang pernah mewarnai hidup zaman kanak-kanaknya satu ketika dahulu, Fadhil yang menyimpan rasa cintanya pada Putri sejak mereka sama-sama belum kenal apa arti cinta. Lelaki yang telah sah menjadi suaminya sedetik tadi adalah Fadhil. Fadhil yang telah memporak perandakan seluruh impian dan mimpi.
Saat itu air matanya menitis laju membasahi pipinya yang hanya beralaskan bedak tipis. Saat itu juga tangisnya sendiri, tiada bahu untuk dia dakap. Saat itu dia sendiri. Saat itu dia tidak punya siapa-siapa melainkan hati yang parah luka dihiris serpihan kaca angan yang berderai.

Putri berjalan pantas di hadapan, meninggalkan Fadhil yang sedang mengekori langkahnya di belakang. Dia berdiri di tepi motokar berwarna merah saga sementara menanti suaminya membuka kunci untuk membolehkan dia menempatkan diri di dalam perut motokar itu. Ya motokar itu. Motokar ini lah yang memalitkan sejarah hitam di dalam kamus hidupnya. Motokar ini lah. Motokar ini dan malam yang penuh celaka itu.

Fadhil aku tidur dulu. Sampai nanti kau kejutkan aku ya,” ujarnya dalam nada lemah. Suaranya perlahan. Mungkin kesan dari ubatan yang diambilnya seketika tadi. Ehsan, tunangannya memberi sepenuh rasa percaya kepada teman baiknya Fadhil untuk menolong membawanya ke klinik.

Sesaat dua selepas itu, dia hilang. Sedar-sedar saja, baju entah ke mana, kainnya pula tersingkap lebar. Dia mau menjerit, tapi dipekup rapat oleh tangan gagah milik lelaki durjana yang sangat dia percaya. Pada malam celaka itu, segalanya jadi kabur. Angannya melebur jadi dongeng yang tidak akan dapat dia raih sampai kapanpun.

Putri, kita sudah sampai,” suara suaminya bergema. Suami? Pergi jahanam dengan sebaris nama ‘suami’ itu.

Menonong Putri melangkah masuk ke rumah kayu yang tersergam dengan tangga batu berukir indah. Dia sudah biasa benar dengan persekitaran rumah itu. Masakan tidak, rumah ini menjadi saksi persahabatan yang terjalin antara dia dan suaminya.

“Siapa suruh kau datang?”  malantun suara mak Nah masuk ke corong deria dengarnya. Dia diam tanpa sepatah bicara. Hanya matanya sahaja mencerlung tajam, memerhatikan sekujur tubuh Mak Nah yang tampak garang benar seolah-olah mahu menerkamnya. Tanpa rasa peduli, terus sahaja dia menghilang ke kamar. Jiwanya kosong. Tak kuasa mahu berbicara apa-apa pun.

Sejak dari saat dia menjejakan kaki sebagai menantu di rumah itu, herdik dan caci maki sudah sebati dengan diri. Segala yang menerjah telinga, dia simpan kemas dalam hati. Akan tiba jua suatu hari yang pasti nanti.
Mak Nah rebah menggelupur di atas lantai. Dibiarkan sahaja tubuh tua itu menggeletar bergelut dengan derita. Badannya mengejang, mulutnya sudah senget dan berbuih.
“Kau tahu, Rosnah dengan Karim bercerai, bukan kerana Karim bermain mata dengan aku. Bukan Karim yang gatal Mak Nah. Sebenarnya aku yang goda Karim, kami tidur bersama adalah dalam lima kali dan Karim lebih cintakan aku daripada si Rosnah hitam melegam itu,”
Mak Nah terus menggelupur, menggelitik badannya seperti cacing yang dibiarkan di tengah-tengah terik matahari.
“Kau tahu Mak Nah, aku dulu diperkosa oleh Fadhil. Kalau bukan kerana memikirkan nama kau, dah tentu berita aku diperkosa akan menghiasi dada akhbar. Kau berhutang dengan aku Mak. Kau sepatutnya layak aku bagaikan puteri,”

“Assalamualaikum,” suara parau Fadhil bergema di muka pintu.

“Ya Allah.. mak. Macam mana boleh jadi begini mak,” ujar Putri dalam isak tangis yang sengaja dibuat-buat.

“Abang, tengok mak abang. Putri tak tahu macam mana mak buat. Selamatkan mak abang,”

Dan malam itu, suara jemaah masjid bergema, melagukan bacaan surah Yassin dan bertahlil. Malam itu juga, Fadhil mencari sekujur tubuh miliknya untuk didakap, untuk buang segala isak tangis. Pada malam itu juga, untuk kali pertama dia menyungging senyum bahagia. Bahagian pertama dan kedua telah tamat dengan jayanya. Karim telah dihalau keluar dari rumah kerana dituduh menggoda kakak iparnya sendiri. Mak Nah diserang strok, lalu terbujur kaku di tengan rumah. tiada lagi lantunan suaranya menghina dan mencaci akan kewujudan dirinya di rumah ini.

Putri, aku ingin buang air,” suara garau itu tidak lagi segagah dulu. Putri tersenyum sinis, puas dengan apa yang telah dia lakukan.

“Kau kencing saja lah di situ,” ujar Putri ringkas.

“Aku ingin  berak lah. Kau buka lah ikatan aku ni,”

“Kau jangan bodohkan aku Fadhil,”

“Kau bunuh aku Putri, kalau itu yang boleh puaskan hati kau,”

Putri diam. Kata-kata Fadhil bergema dan berulang di dalam kepalanya. Dia tidak terfikir mau bunuh Fadhil. Fadhil itu teman sepermainannya sejak kecil. Ia  itu teman yang sering ada, setia mendengar segala keluh kesah dan esak tangisnya. Tapi Fadhil juga telah merengut seluruh kehidupannya. Kasih sayang abah, cinta Ehsan, rumahtangga yang dia idam malah segalanya.

Putri mengangkat wajah, mengalihkan pandangannya meratah serau Fadhil. Fadhil yang berhati binatang itu suaminya. Fadhil lelaki bajingan itu suaminya. Dia berjalan perlahan menghampiri sesusuk tubuh yang terikat di kursi berhadapan dengannya.

“Kau mau aku lepaskan ikatan kau? Benar kau mau itu?” soalnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Fadhil.

“Kau ceraikan aku sekarang,” sambungnya lagi. Fadhil terkesima. Alaaaah apa pula yang sedang dimainkan, dia tidak tahu.

“Aku sayang kau Putri,”

“Kalau sayang aku, ceraikan aku. Atau.. kau mau lihat aku mati di hadapan kau?” ujar Putri sambil cobaa menghunuskan pisau ke perutnya sendiri.

“Jangan Putri. Jangan !”

“Baiklah, aku ceraikan kau,”

Sejurus itu tawa Putri Cahyaning bergema. Dia membuka ikatan yang menjerut batang tubuh sasa milik Fadhil. Terlerai sahaja ikatan, Fadhil coba mendekati Putri. Dia mau dakap tubuh itu. Dia mau Putri jadi seperti Putri yang dulu. Dengan tak semena-mena, badannya tiba-tiba kaku. Sebilah pisau terhunus di perut dan akhirnya dia rebah. Sayup-sayup di hujung telinga dia dengar hilai tawa Putri.

Cerpen " Manusia Pencabut Nyawa" Karya : Anjani


ANJANI
Manusia Pencabut Nyawa

Rumah-rumah kardus itu berjajar di sepanjang jalan setapak yang jauh dari keramaian kota Jakarta. Pemandangan kumuh di pemukiman itu terlihat dengan jelas. Banyak orang menghina dan menyebutnya pemukiman kumuh. Hampir setiap tahun kami semua mendapat ancaman bahwa pemukiman kami akan digusur. Andai kami bisa memilih, kami akan memilih tinggal di kawasan konglomerat, apartemen mewah bahkan di Istana Negara. Manusia memang memiliki nasib yang berbeda, ada yang beruntung dan ada juga yang kurang beruntung seperti kami.
Sering kali kami dikejar dan dipukuli oleh Satpol PP yang mengatasnamakan dirinya petugas ketertiban kota. Mereka berusaha membinasakan sampah-sampah kota seperti kami. Apa salahnya menjadi preman, gelandangan ataupun  pengemis toh kami juga tidak merugikan negara.
Aku termasuk warga perkampungan kumuh tersebut. Orang sering memanggilku Bejo, orang tuaku memberi nama Bejo agar aku selalu beruntung dari ancaman Satpol PP. Harapan orang tuaku benar, sampai sekarang aku belum pernah tertangkap oleh Satpol PP karena kegesitanku meloloskan diri. Aku merasa bahwa pekerjaanku ini tidak hina dan aku mencari nafkah dengan cara halal. Aku tidak menjadi pengemis, pengamen, pemulung, gelandangan bahkan preman, tapi aku menjadi pedagang asongan. Aku juga tidak mencuri dan tidak merugikan orang lain tapi pedagang asongan juga tak luput dari razia Satpol PP.
Hari ini terik matahari seakan membakar tubuh, tapi aku tetap menjajakan daganganku di dalam bis-bis di kota Jakarta. Nasib baik tidak datang padaku hari ini, semua daganganku tidak ada yang membeli. Aku berusaha tenang dan berpikir bahwa rezeki itu Allah SWT yang menentukan, mungkin aku tidak beruntung hari ini tapi aku yakin besok akan lebih baik dari hari ini.
Sampai malam menjelang daganganku belum juga ada yang laku terjual. Kini aku putus asa dan menyandarkan tubuhku yang lelah di pohon beringin. Tiba-tiba pandanganku terarah menatap laki-laki yang berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Aku merasa penasaran ketika orang ituberjalan semakin dekat ke arahku. Awalnya akumengira orang itu mabuk tapi ternyata orang itu sedang mendapat masalah. Aku mencoba mendekat dan bertanya kepadanya.
“ Selamat malam Pak, saya Bejo, apakah bapak butuh bantuan?” kataku.
“ Aku lapar karena sejak pagi belum makan apapun, begitu pula anak dan istriku di rumah.” kata orang itu.
“Sebelumnya nama bapak siapa, darimana dan bekerja apa?”
“Aku Andi rumahku Jakarta juga, aku sudah berpuluh tahun menjadi petugas Satpol PP, sebenarnya gajiku besar karena aku termasuk golongan atas tapi utangku yang banyak pada bank menyebabkan gajiku habis tak tersisa sama sekali.”
“ Lalu mengapa bapak menyerah begitu saja, apakah tidak ada jalan keluar lagi sehingga bapak menjadi seperti ini?”
“ Sekarang aku tidak memiliki apa-apa, rumah dan tanah sudah kujual,aku meminjam uang kepada rentenir untuk menutup utangku pada bank dan menggali utang lagipada rentenir sehingga kini utangku menumpuk.”
“ Sabar Pak, tentu Allah akan membantu hambanya yang dilanda musibah, rezeki sudah ada yang menentukan, tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah kita bisa bersabar atau tidak dalam menghadapinyakarena cobaan adalah cara Allah SWT untuk mengukur kesabaran hambaNya.”
“Aku ini kurang sabar apa sih Pak Bejo, berpuluh tahun terlilit utang dan dikejar rentenir sehingga aku kehilangan semua harta yang kumiliki dan sekarang ditagih pemilik kontrakan, lalu aku harus bagaimana lagi?”
“ Aku juga Pak Andi, selalu bersabar menjadi pedagang asongan yang penghasilannya tidak menentu dan sering  pula dikejar Satpol PP.”
“ Ah.. Pak Bejo bisa saja, aku merasa hina di depan anak istriku karena belum bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk mereka, setiap hari aku memaksa mereka untuk berpuasa karena keadaan perekonomian yang jauh dari kata cukup, kini aku sudah tidak tahan lagi menahan beban.”
“ Pak, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, bersabar dan tawakal kepada Allah SWT akan membantu kita dalam menyelesaikan suatu masalah.”
“Lebih baik aku bunuh diri saja, aku sudah tidak kuat menghadapi semua cobaan ini”
“Astagfirullah hal adzim, bapak ini kalau ngomong dijaga, Allah memandang nista orang yang mati dengan jalan bunuh diri.”
“Ya Pak, aku akan berusaha bersabar dan terimakasih atas nasihat bapak yang membuat saya bangkit untuk menghadapi masalah ini.”
“Bapak lapar, ini ambil saja dagangan saya, walau tidak enak tapi lumayan masih bisa mengganjal perut, ada gorengan, roti dan minuman.”
“Terimakasih, terimakasih banyak akhirnya anak istriku bisa makan, dengan apa aku akan membalas jasa bapak?”
“ Bapak jangan bersikap seperti ini, malu dilihat orang, saya senang bisa berteman dengan bapak, saya ikhlas dan tidak menuntut apa-apa dari bapak.”
“ Terimakasih Pak Bejo, saya pamit pulang agar istri dan anak saya bisa cepat makan.”
“Sama-sama Pak Andi, hati-hati di jalan.”
Malam ini aku merasa bahagia bisa membantu orang dan berteman dengan seorang Satpol PP. Aku berharap bisa bertemu  dengan Pak Andi lagi dan berbincang banyak dengannya. Daganganku sudah habis untuk beramal kepada orang yang lebih membutuhkan. Anak istriku tidak bertanya banyak tentang penghasilanku hari ini, asal mereka bisa makan sudah bersyukur. Aku merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia karena aku memiliki anak dan istri yang neriman.
Setiap kali lelah sehabis pulang berjualan, senyum isteri dan anakkulah yang menjadi obatnya. Sambutan yang hangat selalu kuterima walau aku pulang tanpa membawa uang. Kami memang tak pernah mempermasalahkan perekonomian kami yang pas-pasan. Asalkan bisa makan dan tetap hidup bersama, itu sudah cukup bagi kami. Tuhan pasti memiliki rencana terbaik bagi kami. Mungkin nanti anakku yang akan hidup bahagia bergelimang harta, dan aku akan menghabiskan sisa hidup ditemani tawa riang cucu-cucuku. Namun, mungkin semua itu hanyalah mimpi seorang pedagang asongan.
Pagi telah datang, aku bergegas mengambil peralatanku lalu menuju ke tempat penjual gorengan dan toko sembako untuk berbelanja barang dagangan. Aku berharap daganganku hari ini laku terjual semua. Aku mendapat rezeki di bis pertama yang aku naiki. bis kedua coba aku naiki tapi tiba-tiba semua pedagang asongan, pengemis, gelandangan,  pengamen, bahkan preman berhamburan menyelamatkan diri. Aku sudah mengira bahwa Satpol PP akan merazia orang-orang jalanan.
Aku mencoba berlari tapi semua sia-sia karena aku terjatuh saat turun dari bis. Aku ditangkap dan dihakimi oleh para petugas Satpol PP. Pukulan, tendangan maupun injakan kuterima secara bertubi-tubi. Mereka semua menghakimiku layaknya pencuri yang tertangkap basah.Namun apa salahnya aku mencari nafkah secara halal.
Rasa sakit di badan ini menusuk hingga ke dalam tulangku. Darah mengucur dari tubuhku yang lemah. Mereka menghajarku tanpa henti bahkan mereka belum puas melihatku sekarat. Pandanganku kini buram karena mataku sudah buta.Namun aku dapat melihat dengan jelas diantara para petugas Satpol PP itu ada orang yang tak asing bagiku. Orang itu juga memukulku tanpa rasa belas kasihan seakan orang itu lupa apa yang terjadi semalam.
Kini aku terkapar berlumur darah disekujur tubuhku. Tanah tempatku berbaring ini berubah menjadi merah karena bercampur darah segar dari tubuhku. Aku menangis bukan karena sakit yang menjalar di seluruh tubuhku tapi aku takut mati meninggalkan istri dan anakku. Masih banyak yang harus kulakukan untuk keluargaku terutama melihat anak-anakku sukses. Badanku tidak dapat bergerak lagi hanya sekali mulutku merintih sakit menunggu ajal yang akan menyudahi penderitaanku.
Aku sudah tidak bisa melihat bahkan kini tubuhku sudah mati rasa.Namun  aku dapat mendengar jelas suara langkah sepatu yang berjalan ke arahku. Suara itu berbisik kepadaku dengan hembusan napasnya yang hangat. Bisikkannya mengatakan telah menyesal melakukan ini kepadaku.
“ Maaf Pak Bejo, ini sudah menjadi tugasku.”
Suara itu terdengar lirih dan berlalu begitu saja. Aku merasa pernah mendengar suara itu dan mengingatkanku pada seseorang yang pernah kukenal.Aku tak peduli siapa yang berbisik padaku karena penyesalannya tak akan bisa mengembalikan diriku seperti semula. Bahkan penyesalan itu juga berarti kalau dia bangga karena telah menang menyingkirkan sampah perkotaan sepertiku.
Kini yang aku pikirkan hanya nasib keluargaku dan masa depan anak-anakku kelak. Mau jadi apa mereka jika hari ini aku mati dan bagaimana kehidupan mereka nanti. Aku belum memberi penghasilanku hari ini kepada istriku, anakku juga belum membayarsekolah bahkan mereka juga belum makan. Lalu senyuman hangat mereka ketika aku pulang tak kan ada lagi. Aku tidak sanggup melihat tangisan mereka untukku.
Mungkin besok aku tidak akan menjajakan daganganku lagi. Bahkan aku tidak akan lagi berada di dunia yang kejam ini. Bila aku sudah berada di alam yang kekal, aku akan bertanya pada malaikat, mengapa membiarkan manusia
mengambil nyawaku
.